Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillahiabbil alamin wabihi
- nastain waa umur dunya waddin wasalatu
- wasalam ala asrofil iyaai wal mursalin
- waa alihi wasohbihi ajmain. Ashadu alla
- ilahaillallah wa ashadu anna muhammadan
- abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli
- wasallim wabarik ala nabiyana muhammadin
- wa ala alihi wasohbihi ajmain. Qallahu
- taala fil quranil karim.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Innallaha wa malaikatahu yushalluna alan
- nabi. Ya ayyuhalladzina amanu shlu
- alaihi wasallimu taslima.
- Sadaqallahuladzim. Alhamdulillahi rabbil
- alamin. Masih dipancarkan dari jalan
- Masjid Silaturahim nomor 36 Cibubur
- Bekasi, Radio Silaturahim dan Rasil TV
- untuk Islam yang satu. Ikhwan akhwat
- yang dimuliakan Allah Subhanahu wa
- taala. Bagaimana kabar Anda di Jumat
- sore ini? Semoga Allah selalu senantiasa
- memberikan kesehatan [berdehem]
- dan keistikamahan
- kepada ikhwan akhwat dalam ketaatan
- kepada Allah Subhanahu wa taala. Senang
- sekali saya Fauzi Ridwanul Hak ditemani
- oleh Neza dan juga Yusuf Subangkit dapat
- kembali menemani ikhwan akhwat dalam
- program tausiah sore edisi Jumat 18
- Syakban 1447
- Hijriah dan juga bertepatan dengan
- tanggal
- 6 Februari 2026 bersama guru kita
- almukaram Ustaz Ahmad Shoh.
- Alhamdulillah beliau sudah hadir bersama
- kita. Kita sapa guru kita terlebih
- dahulu. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Kabarnya sehat, Ustaz?
- Alhamdulillah lebih baikan.
- Alhamdulillah. Masyaallah. Segala puji
- bagi Allah.
- Alhamdulillah. Semakin baik insyaallah.
- Alhamdulillah. Alhamdulillah. [tertawa]
- Insyaallah ke depannya semakin baik,
- Ustaz.
- Amin. Amin. Amin. Masyaallah.
- Baik ikhwan awat. Semoga kesehatan juga
- dirasakan oleh ikhwan akhwat di mana pun
- Anda berada. Kami doakan semoga Allah
- selalu senantiasa memberikan kesehatan.
- Semoga kajian dapat menemani ikhwan
- akhwat di Jumat sore sambil
- menunggu magrib dan ini adalah salah
- satu waktu mustajab untuk berdoa.
- Silakan digunakan waktunya dengan sebaik
- mungkin sambil mendengarkan ceramah
- Ustaz Ahmad Saleh.
- Dan semoga kajian ini menemani ikhwan
- akhwat di segala aktivitas yang masih
- dalam perjalanan pulang. Semoga ini bisa
- menemani kaji dapat menemani dalam
- perjalanan dan yang sudah di rumah
- semoga dapat menemani juga. Insyaallah
- pada Jumat sore ini Ustaz Ahmad Saleh
- akan membahas tentang kejelekan orang
- yang bermuka dua dari syarah kitab
- Riyadus Shihin karya Syekh Dub Albugo
- dan kawan-kawan.
- Sebelumnya bagi ikhwan akhwat yang ingin
- berpartisipasi dapat mengirimkan
- pertanyaan Anda di 0811
- 999720.
- Dan bagi Anda yang ingin berinteraksi
- langsung dengan ustaz dapat menghubungi
- di 0218451512.
- Mari kita simak dan dengarkan ilmu yang
- akan disampaikan oleh Ustaz Ahmad Saleh
- tentang kejelekan orang yang bermuka
- dua. Tafadol Ustaz.
- Alhamdulillahi
- hamdan katsiran thyiban mubarokan fih
- kama yuhibuna
- wa yard.
- Ashadu alla ilahaillallah wahdahu la
- syarikalah wa ashadu anna muhammadan
- abduhu wa rasuluhu wa innahu la nabiya
- ba'dah. Allahumma sholli wasallim
- wabarik ala nabiyina Muhammadin waa
- alihi wa ashabihi waman tabiahum
- biihsanin ila yaumilqiamah. Amma ba'd.
- Ikhwan kaum muslimin, akhwat kaum
- muslimat yang sama-sama mengharapkan
- rida Allah subhanahu wa taala.
- Ee segala puji bagi Allah yang masih
- memberi kesempatan kepada kita untuk
- melanjutkan kajian kita, kajian kitab
- syaruh syarhu kitab riyadus shihin.
- Mudah-mudahan dengan pertemuan ini
- meskipun lewat dunia maya Allah
- tambahkan keberkahan, Allah tambahkan
- manfaat, Allah tambahkan ilmu. Dan
- dengan itu pula kita semakin dekat
- kepada Allah, semakin bersaudara kita
- [mendengus] sem kebencian-kebencian di
- antara kita semakin terkikis habis dan
- semoga kita dipersatukan oleh Allah
- bukan hanya lewat radio ini, tetapi juga
- mudah-mudahan kita disatukan di dalam
- surganya Allah Subhanahu wa taala. Amin.
- Jika saja para pendengar, ikhwan dan
- akhwat nanti masuk surga duluan
- kemudian dicari surga. Kok enggak ada
- Ustaz Ahmad Saleh, enggak ada Ahmad
- Saleh. Adukan fala Allah. Ya Allah, aku
- mencari sahabatku, aku mencari temanku.
- Ahmad Saleh kau enggak kelihatan.
- Adukan. Mohonkan kepada Allah
- mudah-mudahan kita berjumpa di dalam
- surganya Allah azza wa jalla. Amin.
- Ikhwan dan akhwat, setiap kajian kita
- hendaknya
- semakin mempersempit perbedaan,
- semakin mengurangi perdebatan,
- semakin menghilangkan
- tafaruk dan ikhtilaf.
- Semakin kita mengkaji kitab Allah,
- semakin kita mengkaji sunah-sunah
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam,
- kita semakin disatukan. Hati kita
- semakin dilembutkan,
- disatukan.
- Apalagi kita sama-sama umat Nabi
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
- Kita benar-benar disatukan karena kasih
- sayang Allah.
- Tidak ada gap, tidak ada kebencian,
- tidak ada hal-hal yang bisa merusak
- hubungan.
- Maka oleh sebab itu hendaknya kita
- senantiasa berdoa memulainya dengan
- memohon kepada Allah ilmu yang
- bermanfaat,
- yaitu ilmu yang demi sedikit, sedikit
- demi sedikit kita gali, kita hayati,
- kita pahami. Waalika bersama dengan itu
- hati kita semakin luas. semakin bisa
- menerima perbedaan-perbedaan,
- saling menjadi menyatu,
- menyatu dalam perbedaan gitu loh. Memang
- kita diciptakan itu fitrahnya berbeda
- gitu loh ya. Tetapi kita harus punya
- karakter yang sama. Sama-sama
- mengibadahi Allah Subhanahu wa taala,
- sama-sama meneladani Rasulillah Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam. Apalagi kita
- sebentar lagi mau masuk syahrur Ramadan.
- Syahrul Ramadan.
- Nah, mau masuk syahrur rahmah.
- Mau masuk universitas
- ee pembentukan karakter jiwa,
- universitas
- pembentukan jiwa.
- di mana kita perlu konsentrasi, perlu
- kebersihan agar kita bisa menangkap mata
- kuliah-mata kuliahnya di dalam syahr
- Ramadan itu.
- Masyaallah. Makanya betulus dibersihkan,
- dimohonkan kepada Allah dibersihkan.
- Kalau masih ada orang yang kita benci,
- ya Allah
- gugurkan kebencian itu. Ganti dengan
- mahabbah, [tertawa]
- ganti dengan kasih sayang. ganti dengan
- menginginkan kebersamaan di dalam rida
- Allah Subhanahu wa taala.
- Jangan [mendengus] kita merasa atau
- jangan kita berharap lebih baik dari
- saudara-saudara kita. Tapi berharaplah
- kepada Allah agar kita lebih baik dari
- hari kemarin, lebih baik, lebih baik
- dari masa-masa yang lalu. Bandingannya
- kita dengan kita, jangan dibandingkan
- dengan orang lain. Kalau nanti kita
- merasakan lebih baik dari orang lain,
- khawatir jatuh kepada perkataan seperti
- di dalam Al-Qur'an dinyatakan perkataan
- iblis. Ana khairum minhu. Saya lebih
- baik daripada dia. Nauzubillah.
- Nauzubillah. Maka oleh sebab itu
- semuanya kita berdoa kepada Allah ilmu
- yang bermanfaat.
- Semakin dikaji, semakin nambah
- ketakwaan, keimanan,
- semakin dipersaudarakan,
- semakin lapang gitu ya. Sekali lagi,
- sekali lagi. Karena perbedaan itu
- sebuah kemestian,
- maka oleh sebab itu kita harus
- menghadapinya dengan lapang dada. gitu
- ya. Masyaallah. Nanti kita akan ee kaji,
- kita akan sedikit demi sedikit
- membahasnya ya. Baik, kita akan membahas
- pada kesempatan ini tentang kejelekan
- orang yang berbuka doa. Namam, mari kita
- mulai saja kepada firman Allah Subhanahu
- wa taala dalam Quran surah An-Nisa ayat
- 108.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- minallahi wahua maahum
- wahua maahum id yubayyituna ma la yard
- minal
- wanahu bimaa ya'maluna muhit
- yastakhfuna
- minanisa
- mereka dapat bersembunyi dari manusia.
- Mereka dapat bersembunyi dari pandangan
- manusia. Wala
- yastakfuna minallah. Akan tetapi mereka
- tidak dapat bersembunyi dari Allah. jadi
- pelaku kejahatan. Meskipun dia menuduh
- orang lain yang melakukannya,
- seakan-akan dia di atas angin. Tapi
- Allah maha mengetahui. Dia bisa
- bersembunyi di hadapan manusia, bahkan
- bisa mempraktikkan dia sebagai
- sutradara. Seakan-akan dialah pelaku
- kebenaran.
- Dia seakan-akan terbebas dari kejahatan.
- Nah, ini seperti kita lihat hari ini ya,
- orang-orang kafir itu begitu nyeruh
- kepada apa pertamaan hak, persamaan itu.
- Tapi kemudian ee masyaallah mereka
- sendiri yang melanggarnya. Mereka ngajak
- damai, mereka sendiri yang
- menghancurkannya. Mereka genjatan minta
- genjatan senjata mereka sendiri yang
- memporak-porandakan.
- Ini memang masyaallah maha benar Allah
- dengan segala firmannya sudah tidak bisa
- dijadi aksioma yang tidak bisa dibantah
- tuh ya sudah tidak bisa karena mereka
- makanya sesungguhnya [mendengus] jadi
- mereka itu hanya nipu aja ngajak damai
- ngajak genjatan senjata itu akal-akalan
- saja tetapi lagi-lagi kita mendahulukan
- komitmah
- ee prasangka kepada Allah yang baik gitu
- ya. Heeh.
- Ee id yubayituna la yard minal quul. Ah
- jadi id yubayitu ketika yubayyituna.
- Jadi ketika pada suatu malam. Ah di pada
- suatu malam ini hadf ya tidak
- dimunculkan.
- Tapi maksudnya kepada suatu malam mereka
- menetapkan keputusan rahasia. La yard ma
- yard minal keputusan ul di situ adalah
- keputusan rahasia yang tidak diridainya
- wallahu dan Allah maha e bima yaluna
- muhit terhadap apa-apa yang mereka kerja
- yang mereka amalkan muhit maha meliputi.
- Maha mengetahui. Ya. Jadi meliputi di
- situ maksudnya mengetahui. mengetahui
- perbuatan,
- mengetahui perkataan, dan lain
- sebagainya.
- Kemudian kita lanjutkan kepada hadis ee
- apa? Hadis yang pertama yang berhubungan
- dengan ini. An Abi Hurairat radhiallahu
- anhu qala Rasulullahi sallallahu alaihi
- wasallam,
- tajidunasa
- mainaaruhum
- jahiliyatium
- islam.
- faqihu
- tajidunanas
- kalian akan mendapati manusia
- maadina seperti barang-barang tambang
- khiaruhum sebaik-baik mereka fil
- jahiliyati di zaman jahiliah hiaruhum
- fil islam adalah mereka sebaik-baik di
- dalam Islam faqihu apabila mereka ngerti
- mendalam syariat-syariat
- Dan kamu akan mendapati sebagai
- sebaik-baik manusiaan
- biin.
- Jadi kalian mendapati sebaik manusia
- dalam perkara ini adalah orang yang
- tadinya sangat benci terhadap Islam dan
- kalian
- ee mendapati sejelek-jelek manusia
- adalah orang dza wajhain
- yang memiliki double wajah.
- Dua wajah wajhain dua wajah double
- wajah. Alladziati yang dia datang haulai
- datang kepada suatu kaum kepada ke sana
- dengan satu wajah wahaulai biwajhin.
- Adapun datang ke tempat yang lain ke
- kaum lain dengan wajah yang berbeda
- gitulah ya. Nah ini paling apa? Syaron
- nas sejelek-jelek manusia. Nah, ee
- mutiara mutiara yang dapat kita lihat,
- orang-orang yang memiliki prinsip yang
- baik di masa jahiliah
- itu semakin terhormat ketika mereka
- telah masuk Islam asalkan mereka
- mengetahui hukum-hukum syariat. Jadi,
- orang yang dermawan di masa jahiliahnya
- itu dermawan pula mesti di zaman
- Islamnya gitu loh. Karena dia punya
- prinsip gitu loh ya. Kalau dia ee baik
- kemudian suka tolongmenolong, suka
- menolong, suka meringan bawaan orang,
- setelah masuk Islam apalagi gitu loh ya.
- Jadi ee orang yang baik di zaman
- jahiliah nanti di Islam juga semakin
- semakin baik.
- [berdehem] Sebaik-baik orang untuk
- diberi kekuasaan adalah yang bersikap
- zuhud, orang tidak antusias terhadap
- kekuasaan.
- Karena apabila ia diberi kewenangan,
- maka ia mengikuti batasan-batasan Allah
- dan berusaha keras untuk
- melaksanakannya.
- Tiib. Jadi yang dimaksud tadi dengan
- yang syaronasi dza wajhain,
- sejelek-jelek manusia itu orang yang
- memiliki dua wajah. Ee artinya bukan
- begini.
- datang kepada kaum tersebut memiliki
- kebiasaan
- yang ee berbeda dengan kebiasaan di kaum
- yang lain. Nah, ketika datang kepada
- kaum itu dia mengikuti kebiasaannya.
- Tapi ketika ikut ke kaum ini, dia ikuti
- kebiasaan yang lain. Nah, ini bukan
- tidak termasuk yang ee dalal wajhain,
- tidak termasuk bermuka dua. Maksud
- bermuka dua itu karena apa? ee ingin
- memecah belah, datang ke sini mengatakan
- begini, datang ke sini beda lagi. Atau
- datang ke sini apa namanya? Berkata a
- gituah sehingga disepakati oleh kaum
- tersebut a gitu ya. Sehingga kemudian
- diangkat, dipuji gitulah datang ke si B
- dengan perkataan berbeda lagi sehingga
- dia diangkat ini akibatnya A dan B ribut
- ya.
- Itu yang dimaksud dengan zal wajhain.
- Adapun kalau ke kelompok A dia baca
- bismillahnya sir, ke kelompok B dia baca
- bismillahnya jahar. Itu tidak termasuk
- itu. Itu loh. Karena kalau dia datang
- kepada orang biasanya jahar, dia sir.
- Kepada yang biasanya sir dia jahat jadi
- masalah gitu loh. Nah, maka itu lain
- lagi. Makanya gitu ya. Ah, yang kemudian
- yang kedua,
- sebaik-baik orang untuk diberi kekuasan
- adalah yang bersikap zuhud.
- Ini di zaman normal.
- jika zamannya belum penuh dengan ee
- fitnah,
- tapi ada
- menginginkan jadi penguasa ketika
- zamannya
- e orang-orang yang jadi penguasa
- orang-orang durhaka, yang jadi
- penguasanya orang-orang kafir gitu loh.
- Maka tadi sekali lagi meskipun dia
- dengan penuh rasa takut kepada Allah,
- dia tampil sebagaimana dia meminta
- sepertimana Nabi Yusuf meminta agar
- dijadikan apa? Dijadikan pengurus
- logistik tuh gitu karena dia punya
- keahlian. Nah, yang tidak boleh itu dia
- ambisi tapi tidak mampu mimpin.
- H
- nanti udah saya aja yang padahal dia
- tidak punya kemampuan. Nah, itu nanti
- banyak tuh dah hadis-hadis bahwa apa?
- Tunggulah kehancurannya. Jika suatu
- persoalan diserahkan kepada yang bukan
- ahlinya gitu loh. Kan bukan ahlinya
- ngotot. Saya aja, saya aja, saya aja.
- Ternyata dikasih berantakan. Nah, jadi
- kalau kita punya skill, punya kemampuan,
- kemudian orang-orang durhaka sudah
- ngintip,
- nah boleh dia mengajukan gitu loh ya.
- Jadi tidak haram mutlak, tidak juga
- didorong mutlak gitu loh ya. Oh enggak
- boleh kita berambisi kepada kekuasaan
- kalau semua orang-orang semuanya jujur.
- Bahkan di zaman sahabat jadi penguasa
- tuh nolak Abu Bakar. Ya, Bilal,
- bantulah aku. Kata Abu Bakar, tidak ya
- Abu Bakar [tertawa]
- dijadikan
- gubernur kalau bahasa kita. Tidak, ya
- Abu Bakri.
- Apa kau enggak akan menyerahkan umat
- urusan umat Muhammad ini kepadaku saja?
- Aku tanggung sendiri. Tidak ya Abu
- Bakrin. Apa karena engkau dulu pernah
- membebaskan aku dari perbudakan sehingga
- engkau seenaknya nunjuk aku. Wis coba
- ditunjuknya gubernur aja ribut gitu.
- Masyaallah. Kenapa? Karena dia takut.
- Takut. Tapi kalau kemudian sudah zaman
- fitnah ah jelas kedudukannya beda gitu
- loh. Seperti zaman Utsman bin Affan.
- Kenapa Utsman bin Affan itu dituduh
- nepvotisme
- karena ada di antara saudara-saudara
- Utsman yang jadi pejabat.
- Karena pada sahabat itu pada enggak mau
- ya maka muncullah saudara-saudara
- Utsman. Ya udah Utsman kalau gitu aku
- bantulah gitu loh. Meskipun tidak banyak
- hanya beberapa aja tapi kemudian dari
- situ timbul fitnah. nepotisme lah,
- kontruisme lah gitu loh. Maka kemudian
- masyaallah itulah kehidupan. Kalau cara
- membacanya tidak tekstual, baca ee
- membacanya dengan sosiokultural, kita
- bisa paham di zaman Abu Bakar saja para
- sahabat itu sudah gak mau.
- Ah, maka puncaknya di zaman Utsman gitu.
- Maka kerabat-kerabatnya yang menawarkan.
- Sudah kalau gitu Utsman karena
- sahabat-sahabat pun banyak yang tidak
- mau gitu loh. Ya udah akulah sebagai
- saudaramu, karib kerabatmu
- aku bantu.
- Tuh. Maka kemudian dalam sejarah dalam
- tarikh cara membacanya beda. E karena ya
- karena ee cara apa? cara memandangnya
- Utsmanul Mujrimin,
- bukan dengan cara melihatnya Utsmanul
- Muslimin
- gitu loh. Maka kan fitnah itu di zaman
- Utsman kan terjadi gitu loh ya. Oke.
- Baik. Jadi sekali lagi kalau kemudian ee
- kita
- sudah melihat orang-orang kafir,
- orang-orang munafik
- sudah mau menguasai kehidupan, maka kita
- boleh gitu loh ya. Tapi secara tidak
- mutlak ya boleh gitu kalau kita punya ke
- keahlian gitu. Kemudian yang ketiga,
- yang dimaksud dengan orang yang bermuka
- dua adalah seseorang yang bertemu dengan
- dengan suatu kelompok orang dengan
- memperlihatkan sikap bahwa ia adalah
- bagian dari mereka dan berseteru dengan
- kelompok lain. Nah, ia termasuk manusia
- paling jahat. Sedangkan orang yang
- mendatangi setiap kelompok dan
- mengkumayakan perbaikan itulah yang
- terpuji. Jadi yang tidak termasuk itu
- ketika dia bersikap dengan sesuatu
- dengan kelompok lain tapi tidak tidak
- menyatakan berseteru dengan kelompok
- lain. Nah, kalau yang dianggap bermuka
- dua itu menyatakan berseteru dengan
- orang lain, dengan kelompok lain. Nah,
- itu yang kemudian bermuka dua. Tapi
- kalau tadi dengan kelompok yang baca
- bismalahnya sir, sir basmalahnya tidak
- mengatakan anti kepada yang basmalahnya
- jahar. Nah, ketika gabung dengan
- basmalah jahar, jahar dia pun tidak
- mengatakan anti kepada orang yang bacaan
- basmalahnya sir. Nah, kalau itu tidak
- termasuk apa namanya ee apa dua muka
- atau double muka. Tiib.
- Kita lanjutkan pada hadis berikutnya. Wa
- Muhammad ibni zaidin anna nasan qaddihi
- Abdullah bin Amr radhiallahu anhuma
- inkulufi
- natakamu khjna minihim qna naudu nifaq
- ahdi rasulillahu alaihi wasallam
- dari Muhammad bin Zaid manusia bahwa ada
- beberapa orang berkata
- kepada kakeknya Abdullah bin Amr, semoga
- Allah rida kepada keduanya yaitu kepada
- ke Abdullah dan kepada Amr bin Ash. Inna
- nadkhulu sesungguhnya kami datang masuk
- ke hadapan ala salatina. Nah, ke hadapan
- para penguasa salainina.
- Ini jemak dari sultanina
- sultan-sultan kami.
- Dan kami berkata kepada mereka bikilafi
- natakam
- indihim yaitu kami berkata berbeda
- dengan apa yang mengatakan ketika kami e
- khjna keluar dari sisi mereka. Jadi
- kalau di hadapan mereka kami mengatakan
- begini begini beres tuan beres tuan. Pas
- keluar, aduh masalah ni gimana gitu loh.
- Jadi padahal ada masalah tapi di hadapan
- para kuasa mengat enggak ada masalah ya
- itu kan asal asal babeh senang gitu ABS
- gitu ya. Nah makanya ABS itu dicela
- dalam hal selah ini gitu loh. Qala maka
- ia berkata kunna naud naudu h nifaqon.
- Kemudian Abdullah bin Umar berkata pada
- masa e kunna naudu h nifaqon al
- rasulillah sallallahu alaihi wasallam
- pada masa Rasul sahu alaihi wasallam
- kami menganggap hal yang demikian itu
- termasuk perbuatan nifak perbuatan
- munafik rahu muslim nah maka oleh sebab
- itu di zaman Nabi itu masyaallah jadi
- lurus-lurus saja jadi tidak ada yang
- bersilat lidah
- e bersila itu apa? Berargumentasi beda
- dalam satu pertemuan dengan pertemuan
- lainnya gitu ya. Oke. Mutiara-mutiara
- yang dapat kita ambil dari hadis kedua
- ini yang pertama jujur saat di depan
- seseorang dan di belakangnya adalah
- perilaku orang-orang mukmin yang jujur
- gitu ya. Adapun memuji di depannya dan
- mencaci di belakangnya adalah perilaku
- para pengecut yang munafik.
- Kalau di belakangnya dia mencaci, pas di
- hadapannya, ohje nje enge enge gitu
- [terkesiap] ya. Ya, saya setuju, saya
- setuju. Pas di belakang, Iya, saya
- enggak setuju tuh. Nah, gitu loh. Jadi
- tidak ada yang penting babai senang yang
- penting ya ini ternyata memang sudah
- diisyaratkan.
- Jadi kita dididik harus punya prinsip
- gitu loh ya. He. Kemudian yang kedua,
- seorang muslim memberikan nasihat kepada
- penguasa dan tidak tunduk kepadanya
- untuk mengharapkan manfaat yang semu.
- Maka oleh sebab itu ada di antara kita
- ustaz-ustaz,
- alim-alim, ulama-ulama yang tidak mau
- dekat dengan para penguasa.
- Ya sudah, tuan
- tuan jangan undang saya ke istana biar
- saya jadi guru ngaji saja gitu kan.
- Seperti yang dikumakan oleh Ustaz Abdul
- Somad. [tertawa] Masyaallah. Biar saya
- mah apa ngurus anak ngaji saja. Karena
- memang ibu saya dulu mengatakan semua
- orang boleh jadi kecuali saya mah ngaji
- aja ngurusan ngaji gitu. Tetapi
- masyaallah ya begitulah kehidupan ya
- sehingga kemudian ee ada saja ee
- celah-celah yang akan dimanfaatkan oleh
- orang lain untuk menjatuhkannya. Jadi
- sesungguhnya ya tidak semua penguasa itu
- jelek sebagaimana juga tidak semua
- penguasa itu baik. Jadi ini sifatnya apa
- namanya ee tidak mutlak jadah ya. Jadi
- karena ada juga sultan sultan Allah.
- Nah, sultan Allah ada juga sultanut
- thagut. Sultan thaut.
- Heeh. Iya. Ada khalifatullah
- al ada juga selainnya.
- Ada khalifah Allah, ada juga khalifah
- iblis. Kan gitu pemahamannya. Nah,
- begitu juga hukum. Ada dinullah, ada
- dinul malik.
- Dinul malik. Dinu Malik apa aturan
- kerajaan
- gitu loh. Itu dalam surat Yusuf itu.
- Nah, maka oleh sebab itu kita dituntut
- berpegang kepada dinullah maka kita
- menjadi sultanallah.
- Kalau kita kemudian mengikuti ee ajaran
- selain ajaran Allah, maka kita menjadi
- pengikut ahlul batil. Maka kan gini, di
- dalam Quran itu ada dua term.
- Ada ilah, ada alihah.
- Ilah itu mufrad, aliha itu jamak. Nah,
- yang dimaksud lailaha tidak ada
- sesembahan
- itu ada yang mahduf, ada tidak ada
- sesembahan yang hak gitu loh. Karena
- sesembahan itu banyak ya.
- Lailahaillallah. Tidak ada sesembahan
- yang hak. Nah, harus kata ada hak,
- haknya dihapus.
- Heeh. Nah, maka kalau kemudian para
- ulama mempersoalkan tuh tidak ada
- sesembahan kecuali Allah. Oh, berarti
- setiap yang disembah Allah. Ah, gitu
- loh. Maka dijelaskan la ilaha maknanya
- la ma'buda bihaqqin. Tidak ada ses atau
- la ma'buda haqqin. Tidak ada sesembahan
- yang hak illallah. Nah, selain Allah ada
- juga sesembahannya. Wakinna akan tetapi
- ilahul batil.
- batil. Pengikut ilah yang hak disebut
- ahlul haq.
- Pengikut ilahul batil disebut ahlil
- batil. Gitulah ya. Maka oleh sebab itu,
- maka ee ketika kita membahas tauhid,
- maka ketika memahami lailahaillallah itu
- lailaha itu bisa bermakna tidak ada
- sesembahan yang hak. Tapi juga kemudian
- dibandingkan dengan alihah selain Allah,
- tidak ada sesembahan yang maha kuasa.
- [mendengus] Anda saya juga nyembah tapi
- tidak kuasa. I
- gitulah ya. Tidak kuasa. Tidak kuasa
- nyiptakan langit dan bumi. Tidak kuasa
- menurunkan hujan. Tidak gitu. Maka bisa
- dimaknai juga
- tidak kuasa.
- Heeh. Apa? Tidak ada sesembahan yang
- maha kuasa.
- Tidak ada sesembahan yang maha kuasa.
- Tidak ada kekuasaan yang maha pandai.
- Tidak ada kekuasaan. Makanya
- kesimpulannya tidak ada sesembahan yang
- maha sempurna.
- Tidak ada sesembahan yang
- apa yang e ya yang tidak memiliki cacat
- illallah kecuali Allah. Tuh gitulah.
- Maka oleh sebab oh bisa dipahami. Jadi
- lailahaillallah ilaha juga menjadi multi
- multifsir.
- Multsir
- multitafsir. Tapi maksudnya intinya
- tidak ada Tuhan yang sempurna kecuali
- Allah. Adapun Tuhan selain Allah ya
- tidak sempurna.
- Tidak ada ee Tuhan yang maha kuasa
- kecuali Allah. ada sesembahan juga tapi
- tidak berkuasa
- gitu loh ya. Jadi oleh sebab itu, maka
- oleh sebab itu tidak ada yang
- ee tidak memiliki apa tidak ada yang ee
- ya tidak ada yang sempurna ee kecuali
- yang sempurna itu Allah gitu ya. Nah,
- itu pengertian daripada lailahaillallah.
- Apakah oleh sebab itu para ulama
- membahasnya lama gitu mengurai sehingga
- penafsiran-penafsirannya
- ada yang hanya mengatakan la ma'buda haq
- illallah. Tidak ada sesembahan yang hak
- kecuali Allah. Namun kemudian tadi
- ketika dibandingkan di mananya Allah
- maha maha kuasa, sesembahan lain mah
- tidak kuasa. Allah maha maha ilmu, maha
- mengetahui. Kalau ini mah enggak
- akhirnya oh akhirnya lailaha itu
- maksudnya tidak ada Tuhan yang sempurna
- kecuali Allah. Tidak ada yang maha
- pengampun kecuali Allah. Tidak ada yang
- maha menerima tobat kecuali Allah.
- Adapun sesembahan lain tidak bisa
- menerima tobat, tidak bisa memberikan
- tobat, gitu. Makanya hanya Allah.
- Demikian saya kira sebagai pengantar
- kajian kita pada sore hari ini.
- Wasallallahu ala nabiyina Muhammadin.
- Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bisawab. Alhamdulillahirabbil
- alamin. Jazakumullah khairan kasiran
- khairan kasiran Ustaz.
- Oh iya.
- Alhamdulillah kita dapat ilmu baru ya
- tentang lailahaillallahnya. Dapat ilmu
- baru ustaz.
- Nah. Masyaallah.
- Alhamdulillah. Baik, Ikhwan Akhwat,
- silakan kirimkan pertanyaan Anda di
- 0811999720.
- Tetap di Radio Silaturahim. Kami akan
- segera kembali. Terima kasih.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Terima kasih
- Iwanawat masih bersama Radio
- Silaturahim. Saat ini Anda sedang
- menyiarkan
- siaran langsung tausiah sore bersama
- Ustaz Ahmad Saleh dengan tema
- kejelekan orang yang bermuka dua. Tadi
- sudah disampaikan oleh Ustaz Ahmad Saleh
- dua hadis.
- Saat ini kita akan membacakan
- pertanyaan-pertanyaan yang sudah masuk.
- Sebelumnya kita akan menyapa pendengar
- dulu yang sudah masuk. Pertama dari Ibu
- Hani Hufaidah.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah hadir menyimak tausiah
- sore insyaallah Ustaz Ahmad Saleh dan
- pejuang Rasil selalu sehat walafiat.
- Barakallahu fikum. Amin.
- Kemudian dari Ibu Retno. Alhamdulillah
- Ustaz bisa menyimak tausiah sore Ustaz
- Ahmad Saleh. Syukron pencerahannya
- Ustaz.
- Alhamdulillah. Barakallahu fikum.
- Kemudian ada Ibu Nani.
- Kemudian kita akan bacakan pertanyaan
- pertama dari Ibu Fani. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz, alhamdulillah menyimak masih
- dalam perjalanan menuju pulang ke rumah.
- Masyaallah, barakallah fikum.
- Semoga Ustaz selalu dalam sehat dan
- lindungan Allah Subhanahu wa taala.
- Amin. Allahum amin.
- Ustaz, izin bertanya
- tentang puasa Syakban, Ustaz.
- Namam. Ustazkah benarkah tidak boleh
- berpuasa sesudah tanggal 15 Syaakban dan
- bagaimana dengan puasa sunah yang sudah
- biasa dilakukan? Apakah masih boleh
- dilakukan hingga penghujung Syakban,
- Ustaz? Jazakumullah khairan kiram.
- Masyaallah. Sesungguhnya larangan itu
- atau kemakruhan puasa
- setelah nisfu Syakban
- itu untuk menghindari dugaan
- bahwa nanti dia puasa Ramadannya 45 hari
- [tertawa]
- atau 40 hari atau 35 hari.
- Itu semua menjadi hilang kemakruhan dan
- keharamannya
- jika memang dia sudah terbiasa puasa.
- gitu loh. Misalnya puasa Senin Kamis
- terus Senin Kamis. Jadi tidak diduga
- mulai puasa Ramadannya sejak Syakban
- gitu loh. Jadi oh dia puasa oh itu
- setengah sudah tanggal 20 Syakban juga
- masih puasa yang terbiasa kok Senin
- Kamis
- apa namanya terbiasa dia puasa yang lain
- gitu loh. Nah, maka pengharaman itu atau
- kemakruhan itu artinya supaya tidak apa
- namanya keder orang sudah apa supaya
- tidak salah menilai. Karena kan begini,
- makanya puasa itu harus rukyat.
- Nah, jadi oh pokoknya saya mau puasa
- puasa aja. Nanti orang menduga dia sudah
- mulai puasa padahal baru besok puasanya
- gitu loh. Maka apa sumuluyatihi wairu
- liruyatihi. Nah, jadi kalau terbiasa
- dengan puasa sunah itu tidak ada
- masalah. Nah, hanya bagi mereka yang
- tidak apa tidak membiasakan puasa sunah
- tiba-tiba dia puasa aja tanggal 16
- Syakban atau 20 Syakban. Nah, itu
- dilarang supaya tadi jangan sampai ada
- pemahaman seperti karena kan orang yang
- rajin puasa itu masih belum belum merata
- apa dulu dulu itu gitu loh. Begitu juga
- sekarang gitu. Nah, maka oleh sebab itu
- supaya tidak ee dianggap mendahului
- puasanya
- ee karena kenapa? Karena puasa itu juga
- simbol persatuan. Maka diupayakan
- serentak tuh puasa tuh bahwa kemudian
- ada yang mendahului. Oke, itu adalah
- dalam upaya-upaya untuk penyeragaman
- tapi ada pembelajaran-pembelajaran dulu
- kan gitu. Oh, menurut kelompok A
- puasanya tanggal sekian.
- Menurut kelompok B puasanya mulai
- tanggal sekian. Sama-sama menentukannya
- 1 Ramadan.
- Hanya 1 Ramadannya ditentukannya tanggal
- 18. I
- menentukan tanggal
- kita serahkan dulu kepada Allah sambil
- berdoa terus perbedaan-perbedaan tu di
- mana sih sesungguhnya gitu loh ya tentu
- tidak orang awam sih tidak diajak dulu
- berpikirlah orang awam yang penting
- supaya puasa benar dulu gitu. Nah
- orang-orang alimnya orang-orang
- berilmunya gimana diskusi terus bahwa
- kemudian sampai kiamat tetap beda. Ya
- udah serahkan pada Allah kan begitu ya.
- Nah, jadi kembali lagi pada persoalan.
- Jadi memang ada larangan ya, larangannya
- untuk tidak berpuasa setelah nisfu
- Syakban.
- Nah, larangan itu ada yang memaknai
- haram, ada yang memaknai makruh. Tapi
- sekali lagi, kemakruh kemakruhan dan
- keharaman itu menjadi hilang ketika kita
- terbiasa puasa sunahnya
- sejak sebelum Syakban gitu. Jadi sebelum
- Syakban kita sudah puasa sunah terus
- terus. Demikian yang dapat saya jawab.
- Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Ibu Fan
- semoga dapat menjawab. Berikutnya
- pertanyaan yang kedua datang dari Bapak
- Abdullah. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Jazakumullah khairun kiron ilmunya,
- Ustaz. Wyakum jazakumullah khair.
- Ustaz izin bertanya.
- Namam.
- Jika seseorang bekerja
- kemudian
- mempunyai pendapat ketika
- dimusyawarahkan
- pendapatnya tidak dimufakati,
- maka ketika
- disepakati oleh pimpinan. Nah, namun
- yang tidak disepakati itu di dalam
- hatinya dia tidak tidak
- menerima.
- Hm.
- Tapi yang sudah disepakati
- ee di di depan dia bilang iya, tapi di
- dalam hati dia tidak sepakat. Itu
- bagaimana? Apakah itu termasuk bermuka
- dua, Ustaz?
- Oh, iya. Jadi kalau kemudian dalam
- sebuah argumentasi ya, ada musyawarah
- misalnya
- Iya. Kita punya pendapat, orang lain
- punya pendapat. Pendapat kita tidak
- diterima. Yang diterima pendapat orang
- lain.
- Itulah bermasyarakat. Jadi pimpinan
- punya hak mutuskan.
- Kita meskipun kita tidak suka, tidak
- nerima, maka kata samina wa'na. Nanti
- kalau ternyata argumentasi kita nih
- kuat, bisa jadi nanti di perjalanan
- pimpinan juga akan berubah gitu loh.
- Kalau ternyata pendapat kita ini yang
- benar. gitu loh. Nah, argumentasi sudah
- dikemukakan gitu. Nah, tetapi kemudian
- sama-sama kuatnya pendapat kita tidak
- diterima, pendapat orang lain diterima.
- Pendapat itu bukan kemutlakan.
- Itu dalam bermasyarakat itu begitu. Oh,
- misalnya sudah usul aja enggak diterima.
- Ya memang karena orang lain juga usul
- gitu loh ya. Jadi maka kenapa kalau
- dalam bahasa hadis itu uktum haqqohum
- berikanlah haknya kepada pimpinan,
- kepada khalifah biar di mereka yang
- memimpin. Nah, para sahabat bertugas
- memeras pemikiran ngasih
- masukan-masukan.
- Bahwa ngasih masukan itu tidak harus
- dianggap paling benar. Tuh, jadi kita
- ini ibadah. ngasih masukan tuh ibadah
- gitu loh. Diterima atau ditolak sama
- ibadah pada Allah kok gitu loh. Enggak
- diterima ya alhamdulillah. Diterima ya
- alhamdulillah juga gitu loh. Nah maka
- kebiasaan ini yang harus ditanamkan.
- Jadi Heeh. lapang dada itu jangan sampai
- nanti oh pendapat kita yang paling benar
- ya menurut kita paling benar
- gitu loh tapi menurut orang lain punya
- alasan lain. Nah, maka oleh sebab itu
- argumentasi siapkan gitu loh.
- Argumentasi-argumentasi.
- Tapi kemudian meskipun argumentasi kita
- kuat tapi sulit dilaksanakan,
- pimpinan boleh merubah. H
- tuh. Iya kan? Oh iya ini masuk akal nih.
- Tapi susah ngelaksanakannya.
- Nah, maka yang gampang dilaksanakan
- kadang yang diterima
- gitu loh. Jadi kehidupan itu tidak
- melulu berdasarkan pemikiran kita gitu
- ya. Jadi ada beberapa yang di luar
- pertimbangan kita justru oleh pimpinan
- itu dipertimbangkan
- ya itu masyaallah dalam bermasyarakat
- itu begitu apalagi dalam hidup berjamaah
- itu begitu ya operas saya dalilnya
- paling kuat ini paling ini tapi kok
- ditolak gitu. Iya, Mas. Karena itu belum
- bis belum bisa dilaksanakan.
- Nuntut saya apa namanya potong tangan
- bagi pencuri. Dalil-dalilnya kuat ini.
- Iya, saya tahu memang itu kita mengarah
- ke sana tapi sekarang mah belum bisa
- dilaksanakan. Kan begitu.
- Iya.
- Akhirnya tidak diterima tuh. Yang
- diterima tidak dilaksanakan.
- Nabi juga kan kata Quran yang pencuri
- laki-laki kan dipotong. Tapi Nabi juga
- tidak serta-ma langsung memotong. Bahkan
- Nabi pernah melarang memotong tangan
- tuh. Kenapa? Karena ilatnya enggak pas,
- belum ketemu gitu loh. Belum dong gitu
- loh. Nah, sekarang itu oh masih ini dan
- ini. Kenapa di musim paceklik itu tidak
- diterapkan?
- Ya, ya Rasulullah kan mestinya ini
- dipotong tangan. Kalau nabinya ini
- masyaallah kalau para sahabatnya enggak
- tawadu mungkin begitu gitu ya.
- Nabi kan tahu meskipun Allah
- memerintahkan tetapi ini masih musim pa
- ceklik jadi normal ee psikologi
- normalnya tidak berjalan maka tidak di
- tidak dipraktikkan. Tuh di zaman Umar
- bin Khattab juga begitu. Jadi ilatnya,
- tinjauan dari berbagai sisinya itu harus
- diperhatikan.
- Jadi seakan-akan kalau gitu Nabi tidak
- ngamalkan ya
- h
- tidak ngamalkan Quran. Memang berani
- kita ngomong begitu. [tertawa]
- Nah rupanya oh Nabi itu justru ngajarkan
- oh ini loh ilmu yang harus kita kuasai
- ini dan ini gitu ya. Baik saya kira itu
- saja. Jadi sekali lagi tidak ber apa ee
- boleh saja kita mengguru tu ah pokoknya
- tapi tetap harus taat kepada keputusan
- gitu ya. Meskipun sekali lagi keputusan
- kita yang tidak diambil boleh menggerutu
- awal-awal mah gitu loh. Tapi tidak boleh
- menghalangi penerapan atas keputusan
- pimpinan gitu ya. Demikian yang dapat
- saya jelaskan. Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak
- Abdullah semoga dapat menjawab.
- Berikutnya pertanyaan ketiga dari Bapak
- Arwin. Bismillahirrahmanirrahim.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Terima kasih Ustaz atas tausiah dan
- nasihatnya. Semoga Ustaz dan pejuang
- dakwah serta pendengar hasil selalu
- dalam keadaan sehat.
- dan dalam lindungan Allah subhanahu wa
- taala.
- Amin. Amin. Allahum amin. Barakallahu
- fikum.
- Ustaz, izin bertanya ee di luar tema,
- Ustaz. Apakah hukumnya orang Islam yang
- tidak mengikuti salah satu mazhab dalam
- beribadah? Ustaz, terima kasih atas
- jawabannya.
- Naam. Saya akan kasih jawaban dua.
- Pertama, tidak boleh.
- Jadi, artinya harus bermazhab.
- Iya.
- Tapi yang kedua tidak harus bermazhab.
- Terus gimana jawabannya, Ustaz? Kok
- begini, kalau kita kategorinya awam
- ngikuti pendapat ulama. Kata ulama
- begini begini, "Oh, ya sudah ikut gitu
- kan. Antum atau kita semua belum ngerti
- ilmu hadis, belum ilmu tafsir, belum
- ngerti ushul fikih, belum ah jadi
- bingung kalau Nah, kal tapi bagi mereka
- yang sudah bisa nyaring, bisa ee bisa
- komparasi mengadakan
- perbandingan-perbandingan
- gitu loh, maka bagi mereka sekali lagi
- bagi mereka apalagi sudah kategori
- muztahid tidak harus ber apa? tidak
- harus mengekod bermazhab. Meskipun juga
- rata-rata orang ulama saja masih
- bermazhab.
- Kadang begitu ya, kadang.
- Nah, bagi mereka ee apa namanya yang
- sekali lagi seperti kita orang-orang
- awam ya sebaiknya ikut ulama lah. Yang
- dikategorikan mazhab itu adalah ikut
- ulama gitu loh ya. Sebagaimana kita
- berobat.
- Kan kita enggak pernah nanya ini kenapa
- 3* 1, kenapa ini satu sendok
- atau apa sih di dalam obat ini isinya?
- Pokoknya udah makan makan aja di minum
- aja.
- Nah kita ini seperti orang awam berobat.
- Iya
- ikut aja apa kata dokter gitu loh. Tidak
- pernah membantah kita 3* 1 3* sat bagi
- mereka yang berobat pasien orang awam.
- Tapi kalau pasiennya apoteker, [tertawa]
- e kalau pasiennya juga dokter ya tidak
- harus nanya gitu loh ya. Tidak harus
- nanya kenapa ini begini? Karena dia
- sendiri yang bikin, "Oh, ini obat ini,
- obat ini, obat ini," gitu ya. Nah,
- begitu juga dalam beragama ya. Kita
- kalau orang awam tidak ngerti tentang
- ilmu apoteker, gitu, maka kita ikut
- ulama yang terpercaya.
- Ah, kalau kita kan bisa belajar sendiri.
- Iya, belajar aja, belajar dulu yang
- benar. Nanti kalau sudah kategorinya
- mujtahid, baru tuh bikin obat sendiri
- gitu loh. Tapi kalau belum kategori
- mujtahid ya ngikut aja pendapat ulama
- gitu ya. Demikian ya yang dapat saya
- jelaskan. Wallahu aam bisawab. Ah perlu
- saya tambahkan karena begini ya. Tapi
- sesungguhnya meskipun jawabannya boleh
- atau tidak boleh tetap aja fleksibel.
- Jarang orang yang komitmen satu mazhab.
- Jarang. [berdehem]
- Misalnya kita mazhab Syafi'i
- kalau mau naik haji kan bidah dulu
- mazhab. [tertawa]
- Karena aduh mazhab Syafi'i batal nih,
- Pak. Ini apa wudunya? Kalau lagi tawaf
- lagi aduh batal lagi ya. Akhirnya suruh
- kata ustaznya sudah pindah dulu aja
- mazhabnya. Tuh. Jadi pada akhirnya mau
- diributkan bagaimana? Pada faktanya
- begitu. gitu loh ya. Sudah pada intinya
- adalah fleksibel tapi sekali lagi kita
- tetap berpegang teguh kepada pendapat
- ulama dan rata-rata sependapat-pendapat
- yang kita temukan itu sudah ada di
- pendapat-pendapat ulama terdahulu gitu
- loh ya. Nah, hanya kita mengembangkan
- saja gitu ya. Demikian wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bawab. Demikian Bapak Arwin
- semoga dapat menjawab. Jadi intinya
- semua mazhab satu agama, agama Islam.
- Betul. Jadi begini, kenapa di Indonesia
- lebih cocok mazhab Syafi'i?
- Iya.
- Nah, karena memang lebih membuminya di
- Indonesia.
- Iya, lebih cocok.
- Tapi kalau di Afrika, mazhab Syafi'i
- bahkan tidak cocok.
- Iya. Nah, di Saudi misalnya lebih
- cocoknya mazhab Ahmad bin Hambal gitu
- loh. Jadi tidak bisa ditetapkan ini ini
- gak. Kadang juga Imam Syafi'i kan ada
- kaul qadim, ada kaul jadid juga gitu
- loh. Maka oleh sebab itu menarik
- perkembangan fikih itu gitu. Nah, nanti
- kemudian fikih itu menjadi lintas
- mazhab. bisa jadi lintas mazhab karena
- dia misalnya sekian tahun hidup di
- Indonesia tugas ke Afrika. Ah, saya maan
- mazhab Syafi'i. Saya pertahankan mazhab
- Syafi'i di sana. Di Afrika susah air
- misalnya kalang ini harus wudu, harus
- bersentuhan kulit harus wudu. Susah
- akhirnya. Maka mau tidak mau tadi sekali
- lagi maka apalagi zaman sekarang zaman
- yang bisa berubah-rubah
- ya. bisa berubah-rubah tuh karena ada
- tugas ee apa ada ee tugas gitu dari
- perusahaan atau tugas negara atau dan
- lain sebagainya. Maka kemudian kita bisa
- berubah-rubah mazhab gitu ya. Demikian
- ada kajiannya ustaz ee fikih lintas
- mazhab ada kajiannya. Oh iya betul. Ada
- muqaranah a jadi mazahibul arbaah ya
- mazhab-mazhab yang empat ya atau ada
- muqaranah perbandingan ya perbandingan
- mazhab itu ada juga ya demikian.
- Wallahuam bawab.
- Wallahuam bawab. Demikian baik kami akan
- rehat sejenak tetap di nada takwa.
- Setelah nada takwa berikut kami akan
- segera kembali. Terima kasih.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Terima kasih Iwan Awat masih bersama
- Radio Silaturahim. Saat ini Anda sedang
- menyaksikan siaran siaran live tausiah
- sore bersama Ustaz Ahmad Saleh dengan
- tema kejelekan orang yang bermuka dua.
- Yang bergabung
- Ibu Sri. Alhamdulillah, Ustaz
- Kiai, Ustaz Ahmad Saleh selalu sehat
- selalu.
- Amin. Allahum amin.
- Kemudian
- Ibu Nani, alhamdulillah menyimak.
- Kemudian Bapak Rohili
- di Bantar Gerbang. Alhamdulillah
- menyimak, Ustaz.
- Kemudian pertanyaan dari
- Ibu Siti, Ustaz.
- Naam.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Terima kasih Ustaz atas tausiahnya.
- Semoga Ustaz selalu ditambahkan
- kesehatannya.
- Amin. Allahum amin.
- Sampai pulih seperti sediakala.
- Amin. Amin. Amin. Masyaallah. Barakallah
- fik.
- Ustaz, izin bertanya.
- Naon?
- Apabila kita baik kepada orang yang
- saleh, H
- namun kita tidak baik kepada orang yang
- tidak baik kepada kita,
- hmm
- apakah itu termasuk bermuka dua? Atau
- misalnya kita baik baik kepada orang
- yang tidak merokok, tapi tidak baik
- kepada orang yang merokok. Bagaimana,
- Ustaz? Apakah termasuk orang yang
- bermuka dua, Ustaz? Iya. Iya.
- Masyaallah. La haula wala quwata ill.
- Nah. Tayib. Baik. Untuk tingkatan
- tertentu sebaiknya sama sikap kita
- kepada ahlut taah. Sama juga berhadapan
- dengan ahlul nasih.
- Tapi dalam tingkat yang berbeda, kadang
- kita mendudukkan persoalan sesuai dengan
- apa yang dia lakukan. Kalau dia baik,
- kita baik. Kalau dia jelek sama kita,
- kita juga jelek. Ya, itu enggak ada
- masalah. Enggak ada masalah. karena
- memang ee setimpal. Tapi sekali lagi
- makam yang paling mulia adalah kita
- menyamakan, memuliakan kedudukan baik
- orang yang taat maupun orang yang berma
- bermaksiat.
- Kepada ahlul takwa kita hormat, kita
- cinta. Kepada ahlu maksiat juga kita
- cinta meskipun tidak hormat gitu ya.
- Kenapa cintanya? Karena cinta itu
- begini.
- Kepada orang ahl dusta, kita
- mencintainya dengan cara menasehatinya.
- Kamu jangan bohong melulu. Saya juga
- tahu kamu bohong. Ya begitulah. Itu
- mencintainya juga gitu loh. Sikapnya
- beda kan dengan orang jujur. Oh,
- alhamdulillah terima kasih ya. Ee
- alhamdulillah terima kasih ya atas
- informasinya kepada orang jujur tuh.
- Adapun kepada orang pendusta kita tahu
- persis di hadapan kita kok kejadiannya.
- malah dia membuat cerita yang ada
- mengada-ngada. Nah, udah udah udah udah
- kamu jangan mengada-ngada. Bohong itu.
- Saya kan ada waktu kejadian gitu
- misalnya. Nah, itu juga menyayanginya
- dengan cara menasehatinya. Jadi sekali
- lagi kalau makam kepada ahl taah kita
- berbaik baik kepada makam ahlul maksiat
- kita juga berbuat baik. seperti tadi
- nasihati. Tapi pengertian pengertian
- yang berbeda adalah kepada ahl taah kita
- berbuat baik, kepada ahlul maksiat kita
- juga menyesuaikan dengan kejelekan dia
- gitu loh ya. Kan kalau dia mukul boleh
- mukul lagi gitu loh. Boleh mengkisos.
- Heeh. Mukul pukul lagi. Nyubit cubit
- lagi. Tapi kalau makamnya sudah tinggi
- kita dia nyubit kita maafkan. Oke.
- Bahkan kita doakan. tuh kan beda itu.
- Nah, maka oleh sebab itu kita menggapai
- tingkat yang paling tinggi. Tapi kalau
- belum bisa menggapai tingkat yang paling
- tinggi ee makam yang wajar gitu loh ya.
- Ee jadi masyaallah Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam itu tidak pernah ee apa
- namanya membenci orang yang membenci
- dirinya. Coba yang membenci Rasulullah
- tidak beliau benci.
- Tapi kalau sudah mengkhianati Allah,
- sudah mengkhianati Islam, Nabi juga
- ngasih apa? Penekatan gitu loh. Nah, ini
- yang menarik ya. Maka oleh sebab itu,
- sekali lagi kita mohon kepada Allah agar
- kita memperlakukan
- setiap manusia itu dengan kebaikan.
- Karena memang itu sikap Allah. Allah itu
- selalu apa namanya? Memberi sikap baik
- kepada siapapun, kepada orang kafir,
- dikasih harta. Kepada orang taat dikasih
- harta,
- kepada orang taat dikasih anak, kepada
- orang kafir dikasih anak, bahkan belum
- nikah juga dikasih anak kan gitu. Nah,
- maka oleh sebab itu, oh iya ya.
- Masyaallah. Nah, tuh tapi sekali lagi
- kalau kita di makam normal ya boleh
- saja. Ada orang mukul pukul lagi. Ada
- orang misalnya nyopet
- diminta lagi gitu loh. Tapi kemudian ada
- orangnya nyopet sudah kasihkan aja. Udah
- saya bawa-bawa sana. Oh dia nyopet
- ketangkap sama kita. Duitnya R5 juta
- dicopet tuh. Ya sudah bawa kasih makan
- istri dan anakmu saya rida. Bisa begitu.
- No enggak harus diurus. Nah bagi makam
- yang berbeda harus diurus. polisikan itu
- dipolisikan.
- Nah, jadi kehidupan itu begitu
- pilihan-pilihan gitu loh. Dan hukum
- tidak disamaatakan
- kalau kemudian kita rida kan enggak jadi
- masalah.
- Iya
- ya kan tidak ada problem dia nyuri yang
- penting kita rida diri biarin aja
- [tertawa]
- dia nyuri dipolisikan juga ee bisa
- tetapi jadi masalah kan gitu. Nah, maka
- bahkan bisa jadi mohon maaf ada orang
- nyuri itu bersyukur pada Allah. Ketika
- dia dicuri, alhamdulillah ternyata harta
- saya ada yang masih membutuhkan gitu loh
- ya Allah ampuni hamba. Maka malah dia
- yang minta ampun padahal dia yang
- dicuri. Nah, tapi juga ada yang
- mempersoalkan persoalan-persoalan. Tapi
- intinya adalah dunia itu supaya baik.
- Tidak ada yang mencuri gidel ya. Juga
- tidak ada dendam. Ada yang mencuri tapi
- kemudian tidak dendam yang dicuri. Udah
- enggak apa-apa
- dibawa aja ya. Jangan bilang-bilang ya
- sudah saya rida.
- Eh begitu. Maka oleh sebab itu
- sesungguhnya kalau kita lihat perspektif
- ajaran Nabi kepada petani
- itu indah sekali. Hanya saja kemudian
- kalau semuanya begitu juga masalah. Kan
- begini, kalau kita nanam padi kemudian
- dimakan burung.
- Iya,
- gitu ya. Dimakan burung karena kita
- tidak mampu menjaga sawah itu sepanjang
- masa. Tapi apa kata Nabi itu dicatat
- sedqah.
- Dimakan burung sedekah itu bahkan
- dimakan tikus sedekah.
- Tuh. Kalau pemahamannya sudah seperti
- itu, maka sudah dia boleh dibilang biar
- tapi kan semuanya tidak siap begitu.
- Iya. Iya.
- Maka bikin bebegig apa bebegig itu ya
- lambang untuk mengusir burung gitu loh.
- Itu karena makamnya itu makam makam
- makam tidak ingin dicuri. Tapi bagi
- mereka yang makamnya makam ingin
- bersedekah dibiarkan.
- Dia punya kebun pintunya enggak dikunci.
- Biar orang masuk mentik ini silakan gitu
- loh. Jadi ujian juga gitu. Kekak saya
- tuh ingat tu
- di kebunnya itu
- apa aja ada sowo hitam, sowok merah ah
- pokoknya banyaklah gitu loh. Tapi
- orang-orang enggak berani ngambil.
- Ada satu ee apa namanya? bukan anekdot
- ya, satu ee ee slogan yang beredar di
- masyarakat. Saya waktu itu masih kecil,
- masih SD, tinggal sama kakek,
- jangan ngambil ee buah di Mama Ajengan
- nanti kamu diyasinkan gitu. [tertawa]
- Diyasinkan. Jadi rupanya ada pemahaman
- kalau ada orangnya nyuri diyasinkan
- tahu-tahu perutnya bengkak gitu loh.
- Jadi makanya orang-orang pada enggak
- berani. Oh, saya bilang begitu ya gitu
- loh. P teman-teman cerita saya aja kan
- enggak tahu hanya teman-teman cerita,
- "Eh, jangan ngambil buah-buahan di kebun
- mama ajengan katanya. Nanti kalau ini
- kamu diyasinkan. Kalau diyasinkan nanti
- perutmu bisa bengkak bisa ini." Oh. Nah,
- jadi ee salah satunya mitos itu boleh
- dibilang mitos ya atau memang
- kepercayaan
- itu menjadi alat gitu loh untuk keamanan
- gitu. Padahal kakek saya kalau pan
- dibagi-bagi terutama misalnya ada orang
- yang beli beli diilayani yang beli
- dilayani. Tapi kalau di belinya ini
- untuk obat ajengan. Oh ya udah ambil aja
- enggak bayar kalau untuk obat. Tuh itu
- tuh kakek saya tuh. Masyaallah.
- Barakallahu fikih. Masyaallah ya. Nah,
- ee seperti itulah kurang lebih jawaban
- yang dapat saya kemukakan. Wallahu alam
- bisawab.
- Wallahuam bawab. Demikian Ibu Siti
- semoga dapat menjawab. Berikutnya
- pertanyaan dari Bapak Abdul Malik. Ustaz
- naam.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Jazakumullah khairan kirmunya.
- Ustaz, di Al-Qur'an banyak
- ayat yang berisi tentang
- wama yusiruna wama ylinun. Apa yang
- dirahasiakan atau disembunyikan dan apa
- yang di jelaskan. Salah satunya di surah
- Annahl. Azubillahiminasyaitanirrajim.
- La jaroma annallaha yalamu maa yusirruna
- w ylinun. Innahu la yuhibbul
- mustakbirin.
- Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya
- Allah mengetahui apa yang dirahasiakan
- dan apa yang mereka tampakkan.
- Sesungguhnya orang sesungguhnya Allah
- tidak menyukai orang-orang yang sombong.
- Nam
- pertanyaannya, Ustaz eh kata ma
- yusirruna wama yullinun. Apa yang
- dirahasiakan atau yang ditampakkan itu?
- Apakah ini ada hubungannya dengan
- bermuka dua, Ustaz? Jazakumullah khair
- nam. Masyaallah. La haula wala quwwata
- illa billah. Jadi hubungannya bisa
- dengan bermuka dua, bisa juga dengan
- riaan wasumatan.
- Riya kan susah tidak ditampak ke apa.
- Tapi itu kan diterb khof khofi gitu.
- Maka di situ Allah tidak yastagfirun
- kepada orang-orang yang sombong. Karena
- riya bagian dari kesombongan gitu loh.
- Maka berlaku apa saja dengan rian
- ingin dilihat atau sumatan ingin
- didengar tadi tu. Maka oleh sebab itu,
- kenapa harus ikhlasan lillahi tabaraka
- wa taala? Kenapa para ulama mensyaratkan
- bahwa ibadah itu jika ingin diterima?
- Pertama al-ikhlasu lillah.
- pertama ikhlas karena Allah. [mendengus]
- Yang kedua, ittiba atau masyruun
- yang disyariatkan atau ikut kepada Nabi
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
- Dalam dalam ria itu, RI itu justru yang
- ditakutkan oleh Rasulullah
- gitu loh ya. Ee apa namanya? RI ee jadi
- ee
- ri
- syirik yang yang kecil.
- Syirik kecil. Ada kan syirik itu juga
- ada tingkatannya.
- Ada syirik akbar, ada syirik asghar.
- Kenapa? Makanya neraka ada tingkatannya,
- surga ada tingkatannya. Karena syirik
- pun ada tingkatannya,
- iman juga ada tingkatannya, kan gitu.
- Nah, misalnya ee tingkatan adaful iman.
- Iman selemah-lemah iman gitu. Karena ee
- itu membenci dengan hati, membenci
- kemungkaran dengan hati itu
- selemah-lemah iman. Nanti ada iman yang
- paling kokoh, paling kuat. Syirik juga
- sama ada tingkatannya. Jadi neraka juga
- ada tingkatannya. Ada syirik asghar, ada
- syirik akbar. Syirik akbar tidak
- mengakibatkan lagi keluar dari neraka
- gitu. Kholidun fiha. Tapi kalau syirik
- asghar masuk tuh neraka. Tapi masih ada
- harapan untuk bisa kelu keluar. Nah, ee
- akhfa ya syirik asghar yaitu riya itu
- adalah yang paling ditakutkan oleh
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- Karena apa? Karena tadi saking tidak
- kelihatannya seperti ee semut hitam
- berjalan di atas ee batu hitam di
- kegelapan malam. Ah, susah mendeteksinya
- gitu. Nah, tiba tiba-tiba dirasakan.
- Orang ikhlas bisa merasakan ria, tapi
- orang yang senantiasa ria tidak bisa
- merasakan ikhlas,
- gitu ya. Jadi sekali lagi kalau orang
- ikhlas bisa merasakan ria, bisa
- merasakan sumah'ah tapi orang riya atau
- orang sumah'ah tidak bisa merasakan
- ikhlas.
- Naubillah
- gitu. Nauzubillah minzalik. Nah, gitu.
- Jadi ya ee oleh sebab itu saya kira ee
- apa yang harus kita upayakan yaitu tadi
- senantiasa mengikhlaskan ibadah karena
- Allah subhanahu wa taala dan senantiasa
- mengikuti saran arahan dari Rasulillah
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
- Demikian wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bawab. Demikian Bapak Abdul
- Malik semoga dapat menjawab.
- Alhamdulillah kita sudah di ujung waktu
- ini juga ada dari Bapak Nana Sumarna
- menyimak, Ustaz.
- Alhamdulillah terima kasih Ustaz ilmunya
- dan tausiahnya.
- Alhamdulillah.
- Baik Ustaz tafadul untuk sebagai
- kesimpulan untuk kita semua, Ustaz.
- Iya. Kesimpulan yang harus ee yang dapat
- dikemukakan bahwa double make
- bermuka dua itu hendaknya dihindari.
- hendaknya kita menanamkan mendidik untuk
- senantiasa istiqamah
- berpegang kepada keikhlasan, kejujuran
- sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk
- bermuka dua. lebih baik kita menggunakan
- kata-kata yang semakna ya, kata-kata
- kita pilih gitu ya, tetapi semakna gitu
- dengan keistikamahan daripada kita harus
- bermuka dua gitu, daripada kita harus
- berdusta gitu. Maka oleh sebab itu
- sekali lagi hendaknya kita membiasakan
- diri ya dengan zikir-zikir itu juga
- minta diberikan keistiqamahan
- ya. Kalau tidak ya tidak. Kalau iya iya
- gitu. Jadi tidak mengatakan iya di
- hadapannya tidak di belakangnya gitu
- loh. Nah maka oleh sebab itu kalau itu
- sudah terbiasa maka kita akan bebas akan
- ringan menghadapi kehidupan ini.
- Termasuk dalam bermasyarakat. termasuk
- dalam bekerja ngasih masukan kan ada
- brainstorming.
- Nah, brainstorming itu apa namanya? Eh
- eh brind itu eh storming jadi pengkajian
- gitu. Jadi masukan-masukan.
- Nah masukan aja bahwa kemudian diterima
- atau enggak terserah. Pokoknya saya
- menikmatnya ibadah lah gitu loh. Oh
- menurut saya begini begini begini. Oh,
- iya. Bagus. Terima kasih. Tapi tidak
- dipakai ya enggak apa-apa juga gitu ya.
- Nah, jadi senantiasa dalam brainstorming
- ataupun e apa namanya dalam
- istilah istilah Islamnya Ustaz
- ya. Ya. Jadi apa ya? Musyawarah.
- Heeh. Musyawarah atau muzakarah. Bahkan
- kita senantiasa mendahulukan baik sangka
- kepada Allah Subhanahu wa taala.
- Demikian. Wasallallahu ala nabiina
- Muhammadin. Walhamdulillahiabbil
- alamin. Wasalamualaikum.
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Jazakumullah khair kasiran
- ustaz
- wikum jazakumullah khair.
- Insyaallah kita bertemu di Jumat depan.
- Amin. Insyaallah. Amin. Amin.
- Amin. Baik, Ikhwan Akhwat. Demikian
- tausiah sore dari Ustaz Ahmad Saleh
- tentang kejelekan dari orang yang
- bermuka dua yang harus kita hindarkan.
- Semoga kita bisa menghindarinya. Dan ini
- juga kalau kita bisa menghindarinya
- merupakan salah satu bekal untuk
- memasuki bulan Ramadan.
- Namam naam.
- Baikot. Semoga bermanfaat. Mohon maaf
- atas segala kata. Saya Fauzi Ridwanul
- Haq. Mohon undur diri. Subhanakallahumma
- wabihamdika ashadu alla ilahailla anta
- astagfiruka wa atubu ilaik.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.