Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Hamdan katon
- thyiban baran fih kama yuhibuna waard.
- Allahumma shalli wasallim wabarik ala
- sayyidina Muhammadin wa ala ali
- sayyidina Muhammad. Masih dipancarkan
- dari jalan Masjid Silaturahim nomor 36,
- Kalimanggis, Cibubur, Bekasi. Radio
- Silaturahim dan juga Rasil TV untuk
- Islam yang satu. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh. Ikhwan
- akhwat yang dirahmati Allah. Senang
- sekali di Kamis pagi hari ini kami bisa
- kembali menjumpai ikhwan akhwat dalam
- program acara renungan di bawah naungan
- Al-Qur'an. Seperti biasa bersama guru
- kita Ustaz Husein Al Atas. Ya, hari ini
- kita sudah masuki hari ke-18 ya di bulan
- September 2025. Batubatan juga dengan 25
- ya Rabiul Awal 1447
- Hijriah. Ikhwan akhwat. Di kesempatan
- ini insyaallah kita akan ee melanjutkan
- kajiannya yang akan disampaikan oleh
- guru kita Ustaz Husin Alatas. Dan juga
- kami persersilakan bagi ikhwanat yang
- mungkin ingin menyampaikan pertanyaannya
- seperti biasa di 0811999720.
- Kita sapa terlebih dahulu guru kita yang
- sudah hadir di studio. Asalamualaikum
- warahmatullahi Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Kabar baik dan sehat, Ustaz? Ya,
- alhamdulillah.
- Alhamdulillah.
- Alhamdulillah. Alhamdulillah.
- Baik, sebelum dibuka saya coba bacakan
- dulu satu pertanyaan
- ini dari Pak Khairudin
- di mana nih? Tidak disebutkan.
- Asalamualaikum warahmatullah
- wabarakatuh, Ustaz. Al-Qur'an seringki
- menggunakan metafora
- alegori dan bahasa simbolik untuk
- menjelaskan realitas transcenden.
- [berdehem][batuk]
- Bagaimana kita dapat membedakan antara
- makna literal dan makna simbolis.
- terutama dalam ayat-ayat yang
- menggambarkan surga dan neraka tanpa
- terjebak dalam interpretasi yang dangkal
- atau melenceng dari esensi teologisnya.
- Demikian Ustaz pertanyaannya. [berdehem]
- Silakan untuk dibuka dilanjutkan.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- [berdehem][batuk]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin. Allahumma
- sholli ala sayyidina wa nabina
- Muhammadin
- almab'i rahmatan lil alamin
- wa ala alihi wasohbihi
- waman ihtada bihadihi ila yaumiddin.
- Asalamu alaika ya rasulullah.
- Wasalamu alaina wa ala ibadillahi
- shihin.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- [berdehem]
- Allahumma atina minika rahmah waimna min
- ladunka ilman nasiafna bimaamtana.
- Allahumma inna naudubika
- anadilla nudol
- au nazilla nuzal au nadlima nudlama
- najhala yujala
- rbana zidna ilman walhikna
- amma ba'du ikhwan akhwat pendengar
- pemirsa radio TV silaturahmi yang
- dirahmati Allah
- pagi hari ini bersama-sama insyaallah
- Insyaallah kita akan kembali merenungkan
- ayat-ayat azzikril hakim sambil menjawab
- pertanyaan yang masuk
- ke [berdehem] studio pada pagi hari ini.
- Mari bersama-sama kita mulai dengan
- membaca ummul Qur'an.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil
- alamin
- arrahmanirrahim
- maiki yaumiddin
- iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'
- ihdinasirathal
- mustaqimatal
- anamtaai
- giril magdubi alaihimadin.
- Amin. [berdehem]
- [mendengus]
- Ikhwan akhwat yang dirahmati Allah.
- Kitab suci Al-Qur'an
- yang diturunkan Allah Subhanahu wa taala
- kepada rasul-Nya
- Muhammad sallallahu alaihi wa alihi
- wasallam
- adalah kitab yang berisikan
- firman-firman Allah.
- Bukan hanya maknanya, tapi juga huruf
- dan kata-katanya.
- Semua disusun oleh Allah Subhanahu wa
- taala.
- Sebelum tersusun
- di tengah-tengah
- kehidupan manusia ini pada masa Rasul,
- kitab suci Al-Qur'an telah tersusun
- dalam kitab Maknun
- atau dalam Lauh Mahfuz.
- Sebagaimana firman Allah, fala uqsimu
- bimawaqiin nujum wa innahu laqasamun lau
- tlamuna
- innahu laquranun karim fi kitabim
- maknun. Jadi Quran ini ya yang
- diantarkan dan disampaikan kepada Rasul
- sallallahu alaihi wa alihi wasallam oleh
- duta Allah dari kalangan malaikat Jibril
- alaihialatu wasalam
- sebelum sampai kepada Rasul, sebelum
- disusun pada masa Rasul, dia telah
- berada dalam lauh Mahfuz.
- Sebagaimana dalam suratul Buruj, bal hua
- quranum majid fi lauhim mahfuz. Jadi
- susunan kata-kata kalimat, demikian pula
- surah-surahnya
- yang dikumpulkan dan disusun pada masa
- Rasul sebelumnya telah tersusun dan
- berada dalam kitab yang terjaga dan
- terpelihara.
- Cuma kita harus betul-betul memahami
- bahwa kitab suci Al-Qur'an ini
- diturunkan dalam bahasa Arab.
- Bahasa yang dipergunakan di antara
- bangsa Arab satu dan lainnya sebagai
- wasilah komunikasi.
- Oleh karena itu, bahasa ini penuh dengan
- batasan-batasan
- yang sesuai dengan batasan [berdehem]
- kehidupan apa? Kehidupan
- bangsa Arab dan manusia secara umum.
- Maka pada saat Allah Subhanahu wa taala
- berbicara tentang dirinya meminjam
- bahasa manusia atau bahasa Arab dengan
- sendirinya, bahasa tersebut tidak akan
- mampu mengungkapkan, menggambarkan
- kebesaran keag keagungan Allah Subhanahu
- wa taala sebagaimana mestinya. Bukan
- hanya tidak mampu untuk menggambarkan,
- mengungkapkan kebesaran keagungan Allah,
- tapi juga apa?
- hal-hal yang berhubungan dengan makhluk
- yang berhubungan dengan manusia mau
- tidak mau apa tercakup dalam kata-kata
- tersebut. Allah meminjam kata-kata dan
- bahasa manusia untuk menggambarkan
- dirinya atau menggambarkan kehidupan
- yang jauh dari apa? Dari jangkauan
- kemampuan akal dan pikiran manusia.
- Dengan sendirinya
- kata-kata atau bahasa yang digunakan
- merupakan bahasa kiasan. Bahasa kiasan.
- Kiasan.
- Karena tidak mungkin bahasa tersebut
- dapat mengungkapkan hakikat kebesaran
- keagungan Allah sebagaimana mestinya.
- Oleh karena itu
- Allah berfirman dalam surah Luqman.
- Walau anama fil ard minajaratin aklam
- wal bahru yamudduhu min ba'di sabatu
- abur mafidat kalimatullah.
- Seandainya
- seluruh pohon yang terdapat di muka bumi
- ini,
- seluruh pohon yang terdapat di hutan
- Asia, hutan Afrika,
- begitu pula hutan Amerikanya,
- semua dijadikan sebagai pena.
- Wal bahru yamuduhu dan lautan sebagai
- tintanya. Ba'dihi sabatu abur ditambah
- lagi tujuh kali lautan yang ada. Mana
- fidat kalimatullah?
- Untuk mencatat menulis kalimat Allah
- niscaya semuanya akan berakhir pena-pena
- akan berakhir. Lautan akan kering.
- Sedangkan
- apa yang ditulis tidak mampu untuk
- mencakup meliputi kalimat Allah. Ini
- bicara mengenai kalimat Allah
- apalagi berbicara mengenai Allah
- subhanahu wa taala. Innallaha azizun
- hakim. Sungguh Allah maha perkasa lagi
- maha bijaksana. Oleh karena itu, coba
- renungkan mungkin tidak kata-kata bahasa
- yang dipergunakan oleh manusia untuk
- dapat mengungkapkan kebesaran keagungan
- Allah? Banyak
- realitas di tengah-tengah kehidupan kita
- tidak mampu diungkapkan dengan
- kata-kata.
- Mereka menggunakan bahasa-bahasa kiasan,
- tapi tidak mengungkapkan hakikat yang
- sebenarnya. [mendengus] Nah, mari
- bersama-sama kita dengarkan firman Allah
- dalam surah Al Imran pada ayat 7.
- Allah berfirman,
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Hualladzi anzala alaikal kitab.
- Dialah yaitu Allah yang telah menurunkan
- Alkitab.
- lafon wa makna baik lafaznya,
- kalimatnya, demikian pula maknanya.
- Minh ayatun muhkamat.
- Di antara ayat-ayat Al-Qur'an yang
- diturunkan Allah Subhanahu wa taala
- terdapat ayat-ayat muhkamat.
- Artinya ayat ya yang menunjukkan kepada
- makna dengan jelas, tidak mengandung
- apa?
- Multitafsir atau ambigitas.
- Ambu ambiguitas.
- Hunna ummul kitab. Lalu Allah tegaskan
- ayat-ayat muhkamat ini dialah yang
- berperan sebagai induk Al-Qur'an.
- Artinya apa, Mas Rizal? Artinya
- ayat-ayat yang lain dikembalikan kepada
- induknya dalam memahami makna, maksud
- dan tujuannya.
- [berdehem]
- Wa ukhoru mutasyabihat. Tapi di samping
- ayat-ayat muhkamat ya
- terdapat juga ayat mutasyabihat.
- terdapat ayat mutasyabihat
- di mana ayat-ayat tersebut ya
- berisikan apa? Berisikan
- ungkapan-ungkapan
- yang mengandung apa? Mengandung
- pemahaman yang yang
- bisa saja berbeda hingga melahirkan
- kesamaran.
- Lalu pertanyaannya, Kang Riza, apakah
- Allah enggak kuasa untuk membuat semua
- ayatnya ini muhkamat? Sebenarnya seluruh
- ayat Al-Qur'an muhkamat,
- tetapi manusianya ya manusianya itu
- sendiri dengan keterbatasannya ya.
- Kemudian bahasa manusia yang digunakan
- Allah untuk menggambarkan tentang
- dirinya, tentang alam dan kehidupan yang
- di luar jangkauannya membuat
- keterbatasan manusia mau tidak mau apa?
- Pada saat memahami ayat-ayat tersebut
- melahirkan kesamaran.
- Melahirkan
- kesamaran.
- Kesamaran.
- Jadi wa ukharu mutasyabihat. Di samping
- ayat muhkamat yang dipahami dengan
- jelas, tidak mengandung multifsir,
- terdapat ayat mutasyabihat.
- Disebabkan keterbatasan manusia
- bukan karena Allah Subhanahu wa taala
- tidak mampu untuk menjelaskan secara
- sempurna, tapi keterbatasan manusia
- dalam memahaminya
- dan bahasa manusia sebagaimana manusia
- juga amat terbatas.
- Oleh karena itu, di saat kita
- mendengarkan ayat-ayat mutasyabihat,
- bagaimana kita memahaminya?
- Memahaminya dengan benar dan kita
- memiliki argumen dan alasan yang kuat.
- Memahaminya sebagaimana yang Allah telah
- terangkan, yaitu mengembalikannya kepada
- ayat muhkamat sebagai induk Al-Qur'an.
- Wa ukharu mutasyabihat. untuk memahami
- ayat-ayat mutasyabihat ya disebabkan
- keterbatasan kita, ketidakmampuan kita
- untuk memahami hakikat yang sebenarnya,
- maka kembalikan ayat-ayat ini kepada
- ayat muhkamat sebagai induk.
- Allah Subhanahu wa taala dalam ayat
- muhkamat menyebutkan, "Laisa kamitlihi
- saiun wahu samiul basir."
- Kemudian la tuduh absor wahua yudriul
- absar wahual latiful khabir. Begitu juga
- Allah menjelaskan qul huallahu ahad.
- Ahad artinya lain dari yang lain. Dia
- tunggal, tiada sekutu baginya dan dia
- berbeda dengan yang lain. Oleh karena
- itu tidak ada persamaannya sama sekali.
- Allahusad kalau segala sesuatu ya kalau
- seai dia menjadi pegangan sandaran bagi
- sebahagian yang lain ya tapi tetap dia
- juga bersandar kepada yang lain seperti
- kita makhluk kita mengurus anak-anak
- kita, keluarga kita, memberikan bantuan
- pada seseorang itu pun tak lepas dari
- apa? Dari ketergantungan kita kepada
- Allah Subhanahu wa taala dan izinnya.
- [mendengus]
- Tapi kalau Allah assamad,
- dia menjadi tonggak [berdehem] yang
- menyanggah seluruh alam semesta, seluruh
- kehidupan yang terdapat di dalamnya,
- sedangkan dia tidak bersandar, tidak
- butuh kepada sesuatu. Maka kalau kita
- langsung datang kepada Allah yang maha
- kuasa, yang maha kaya, yang menyanggah,
- menopang seluruh kehidupan di alam raya
- ini, Allah akan mencukupi kita. Waman
- yatawakal alallah fahu hasb lam yalid.
- dia tidak melahirkan.
- Jadi jangan samakan Allah dengan kita.
- Kalau dia melahirkan, kekuasaannya akan
- diwarisi oleh anak cucunya.
- Walam yulad. Dan dia tidak dilahirkan.
- Kekuasaannya bukan warisan dari Tuhan
- sebelumnya.
- Dia merupakan al-ahad asamad. Lam yalid
- walam yulad
- walam yakun lahu kufuwan ahad. Dan tidak
- ada ya satu pun seorang pun ya yang
- bagaimana yang apa menyerupai Allah dan
- Allah juga tidak menyerupai sesuatu. J
- bagaimana kita mau menggambarkan Allah?
- Kita manusia di saat menggambarkan
- sesuatu itu ya kita berumpamakan dengan
- sesuatu yang kita kenal atau dikenal
- manusia. Sedangkan Allah
- merupakan zat yang maha suci, yang maha
- agung, yang maha mulia, yang maha indah.
- keindahannya tak mungkin dapat kita
- berikan. Karena keindahan yang kita
- kenal walaupun pada puncaknya keindahan
- yang amat terbatas,
- ilmu juga yang amat terbatas. Begitu
- pula kekuasaan.
- Kekuatan semua terbatas. Bumi kita
- dibandingkan alam raya ini lebih halus
- daripada sebutir debu. Bagaimana mungkin
- yang rendah ya mampu untuk menggambarkan
- yang tak terbatas?
- Kalau seorang datang ke tepi pantai
- mengambil segayung air, segung air itu
- bukan lautan, hanya sebagian kecil dari
- lautan. Padahal perbandingan antara
- segayung air dan lautan itu masih dapat
- apa? Masih dapat kita perhitungkan.
- Sedangkan perbandingan antara kita, ilmu
- kita, pengetahuan kita dengan alam
- semesta, kita tidak mampu untuk
- mengukurnya. Apalagi bicara mengenai
- penciptanya. Jadi saat seluruh
- pohon-pohon di bumi, lautan yang ada
- dijadikan sebagai tinta, ditambah lagi
- tujuh kali tidak akan mampu untuk
- menulis dan mencatat kalimat Allah
- apalagi bicara mengenai Allah. Jadi
- [mendengus] kita harus tahu diri,
- memahami kerendahan kita, kekurangan
- kita, ketidakmampuan kita, baru kita
- akan mengenal Allah.
- Sebagaimana ucapan Abu Bakar Assiddiq
- radhiallahu anhu, aljzu andarkil idraki.
- Kalau kita sudah tidak mampu lagi
- membayangkan mengkhayalkan ya kebesaran
- keagungan Allah, keindahannya, pada saat
- itu baru kita apa? Baru kita memahami
- betul-betul dan mengenal Allah.
- Tapi kalau kita masih mengkhayalkan
- dalam benak kita, maka yang kita
- khayalkan tu bukan Allah, tapi produk
- dari imajinasi kita. Dia keindahan yang
- tak terperikan, keagungan yang tak
- terbatas, ilmu yang amat luas.
- Jadi untuk memahami ayat mutasyabihat
- kita harus mengikuti petunjuk Allah.
- Naruddul mutasyabihat ila almuhakamat.
- Kita mengembalikan ayat mutasyabihat
- bagi kita. mutasyabiat bagi
- bagi kita
- ke dalam ayat muhkamat agar kita tidak
- tersesat jalan itu merupakan pedoman
- yang Allah ajarkan hunna ummul kitab.
- [mendengus]
- Nah, di sini terjadi
- penyimpangan.
- Dari penyimpangan lahirlah kesesatan di
- mana mereka menggambarkan Allah
- Subhanahu wa taala dalam gambaran
- makhluknya. Maka Allah yang mereka
- sembah, yang mereka kenal bukan Allah
- yang sebenarnya, tapi merupakan
- Tuhan-tuhan palsu hasil rekayasa dari
- imajinasi mereka. Dalam ungkapan yang
- lain, Imam Ali mengatakan, "Atauhid alla
- tatawahama."
- Tauhid yang sebenarnya itu pada saat
- kamu tidak mampu lagi mengkhayalkan
- membayangkan dalam benak kamu. Yang ada
- hanya kebesaran, keagungan, keindahan
- yang tak terbatas. Kalau masih kamu
- membayangkan mengkhayalkan itu bukan
- Tuhan yang sebenarnya, tapi Tuhan hasil
- ciptaan kamu.
- [mendengus]
- Nah, faammalladzina fi qulubihim zaigun
- fattabiuna ma tasabah.
- Adapun orang-orang yang hatinya
- nyeleweng, menyimpang, mereka bukan
- mengembalikan ayat mutasyabihat kepada
- ayat muhkamat, tapi apa? Sengaja mereka
- apa?
- Bu, bukan kembali kepada ayat muhkamat,
- tapi mereka lebih banyak fokus untuk
- berbicara mengenai ayat mutasyabihat.
- Ibtigal al fitnah untuk menimbulkan
- fitnah, menimbulkan pertentangan,
- perselisihan, kegaduhan seperti yang
- kita saat ini
- ibtial fitnati wab takwili. Begitu juga
- ya mereka berupaya untuk mentakwilkannya
- dengan tidak mengembalikan kepada ayat
- muhkamat sebagaimana yang Allah ajarkan
- kepada kita. Jadi mereka mentakwil
- ayat-ayat mutasyabihat secara terpisah
- dari ayat muhkamat.
- ibtid fitnati wam
- fitn
- wamuallah
- ketahuilah tidak ada seorang pun
- bagaimana luas ilmunya mampu untuk
- memahami takwilnya secara hakiki ya
- kecuali hanya Allah
- arti kita manusia Ya, makhluknya
- bagaimanapun luas ilmunya,
- pengetahuannya, mustahil untuk dapat
- mengetahui meliputi hakikat Allah
- Subhanahu wa taala.
- Oleh karena itu Allah berfirman dalam
- ayatul kursi, wala yuhituna bisyaaiim
- min ilmihi illa bima.
- Mereka tidak akan menguasai sesuatu
- tentang ilmunya kecuali yang Allah
- kehendaki. Dan pengetahuan yang kita
- pahami ini kita harus tahu batasannya.
- Batasannya amat betul-betul sempit.
- Alimna saian wagat anna asya wabat anna
- asya. Kita tahu sesuatu dan banyak
- bahkan lebih banyak hal yang tidak kita
- ketahui.
- Semakin dalam seorang berpengetahuan
- semakin merasakan betul-betul betapa
- sempitnya, kerdelnya ilmu pengetahuan.
- Tapi orang yang bodoh merasa menguasai
- segala-galanya. [mendengus]
- Jadi eh faamalladzina fi qulubihim
- zaigun fayattabiuna ma tasyabaha
- minhubtigal fitnati wab takwili. Adapun
- orang-orang yang hatinya menyeleweng dan
- menyimpang,
- mereka bukan fokus memahami ayat-ayat
- muhkamat lalu mengembalikan ayat
- mutasyabihat kepada ayat muhkamat, tapi
- mereka lebih banyak perhatiannya kepada
- ayat mutasyabihat untuk menimbulkan
- fitnah di tengah-tengah umat dan juga
- untuk mentakwilkannya sesuka hati mereka
- tanpa mengikuti petunjuk Allah. ini
- menjawab pertanyaan tadi supaya tidak
- menyimpang menyeleweng, bagaimana kita
- memahami ayat-ayat semacam ini?
- Mengembalikannya kepada ayat
- mutasyabihat eh ayat muhkamat.
- Wama ya'lamu takwilahu illallah. Dan
- tidak ada seorang pun yang memahami
- takwilnya dengan sebenar-benarnya
- kecuali hanya Allah.
- Artinya memahaminya secara hakiki.
- Kemudian
- warikuna fil ilmi yaquuluna amanna bihi
- kullum minibina. Adapun orang-orang yang
- mendalam dalam ilmu pengetahuan yang
- memahami batasan diri mereka yang tidak
- melampaui batas mereka berkata apa?
- Mereka berkata,
- "Amanna bihi." Kami beriman kepadanya.
- Kulum minibina. Seluruhnya berasal dari
- sisi Tuhan kami. Beriman kepada Allah,
- beriman kepada kitab Allah, kepada ayat
- muhkamatnya kemudian ayat
- mutasyabihatnya.
- Mereka memahami ayat tersebut di
- hadapannya menjadi mutasyabihat karena
- ketidakmampuan,
- kekurangan, pengetahuan, dan
- batasan-batasan yang membatasi dirinya.
- W yadzakaru illa ulul albab. Dan tidak
- menyadari, memahami pelajaran ini
- kecuali orang-orang yang berakal.
- Semakin mereka berakal dan
- berpengetahuan, semakin mereka menyadari
- dirinya.
- Bukan serba tahu mengetahui
- segala-galanya.
- Dia pada apa yang dia tidak tahu, dia
- mengatakan wallahuam.
- Lalu ayat berikutnya, Kang Rizal, Allah
- mengajarkan kita berdoa ya agar kita
- tidak tergelincir dan menyeleweng karena
- mengikuti hawa nafsu kita atau berbicara
- tanpa dasar ilmu. Rbana innaka jamiunasi
- liyaumin laba f. Wahai Tuhan kami rbana
- lazubana
- baitana.
- Wahai Tuhan kami, jangan Engkau
- membiarkan hati kami menyeleweng setelah
- Engkau memberikan petunjuk kepada kami.
- Yang membuat hati menyeleweng ini karena
- mengikuti hawa nafsu, kesombongan dan
- kebanggaan atau berbicara tanpa dasar
- ilmu.
- Wahablana minadunka rahma. Anugerahkan
- bagi kami rahmat-Mu ya Allah. Innaka
- antal wahab. Sesungguhnya Engkau
- alwahab. satu-satunya
- yang kuasa untuk melimpahkan anugerah
- karunia ya
- yang sebenarnya yang kami dambakan, yang
- kami harapkan. Hanya Engkau satu-satunya
- yang kuasa untuk menganugerahkan hidayah
- bagi kami, menjaga hati kami, menerangi
- hidup kami. Segala-galanya semua berada
- di tangan-Mu ya Allah. Engkaulah ya sang
- maha pemberi karunia.
- Kalau Allah menahan, tak ada seorang pun
- yang kuasa untuk menutup.
- Lalu berikutnya, Rabbana innaka
- jamiunasi liyaumin laba fi. Ya Allah,
- Engkaulah yang akan mengumpulkan manusia
- di hari yang tidak terdapat keraguan
- padanya. Innallaha la yukhliful miad.
- Sesungguhnya Allah tidak akan menyalahi
- janjinya.
- Kita lihat di sini ya, bagaimana dia
- berharap pada saat dia dikumpulkan di
- hari kemudian nanti. Dikumpulkan dalam
- kebenaran bersama orang-orang yang
- berkumpul dalam kebenaran. Artinya doa
- ini menggambarkan sensitivitas hatinya.
- Pertama dia berharap agar Allah menjaga
- hatinya agar tidak dibiarkan tersesat
- dan menyimpang
- mengharapkan karunia. Dan di hari
- kemudian nanti di saat dikumpulkan, dia
- berkumpul bersama orang-orang yang
- berjalan di atas kebenaran. Ini kesan
- yang kita rasakan pada doa yang Allah
- ajarkan ini. Ini yang seharusnya
- selalu kita baca dan kita juga selalu
- harus menyadari keterbatasan diri kita.
- Nah, ini merupakan ayat-ayat yang
- berbicara ya tentang tentang
- Allah Subhanahu wa taala dengan batasan
- kata-kata bahasa yang amat terbatas yang
- tidak mungkin dapat mengungkapkan
- hakikat kebesaran keagungan Allah
- Subhanahu wa taala. Oleh karena itu,
- ayat ini menjadi ayat mutasyabihat
- disebabkan kelemahan bahasa,
- keterbatasan kita. Maka untuk
- memahaminya, mari kita mengembalikan
- kepada apa? Kepada ayat muhakamat. Oleh
- karena itu, pada saat kita mendengarkan
- firman Allah, Kang Rizal, Arrahmanu alal
- arsyistawa,
- kita harus tahu bahwa jumlah kalimat ini
- merupakan kalimat dan jumlah yang
- berasal dari bahasa manusia yang Allah
- pinjam untuk menggambarkan kebesaran
- keagungannya. Kita beriman kepada arasy
- kebesaran keagungan Allah sebagaimana
- yang Al-Qur'an sebutkan yang
- melambangkan menyimbulkan keagungan
- kebesaran Allah dan malaikat juga
- berkeliling di sekitarnya.
- Bertasbih, mengagungkan Allah subhanahu
- wa taala. Tetapi gambaran Allah duduk di
- atas Arasy ini merupakan gambaran apa?
- Gambaran yang tidak layak bagi Allah.
- Karena Allah maha kaya dari segala
- sesuatu.
- Seperti Imam Ali mengatakan Allah
- menciptakan Arasy bukan sebagai tempat
- bagi zatnya tapi untuk melambangkan
- kebesaran dan keagungannya.
- Jadi arrahmanu alal arsyistawa
- menggambarkan
- hegemoni dan dominasi Allah serta apa?
- Pemerintahan yang memerintah mengelola
- seluruh alam raya dan istrinya. Termasuk
- kita bahagian yang berada di bawah
- pemerintahan Allah. Cuma Allah
- memberikan kita kebebasan pilihan yang
- kita akan pertanggungjawabkan di hari
- kemudian nanti yang begitu panjang di
- mata kita. Tapi di mata Allah merupakan
- kehidupan yang singkat. Begitu kita
- dibangkitkan kita menyadari ternyata
- kita hanya hidup beberapa saat di waktu
- siang.
- Oleh karena itu, jangan biarkan diri
- kita terpedaya dengan kehidupan dunia
- yang singkat, yang kerdil, yang tidak
- berarti dibandingkan kehidupan akhirat
- yang Allah janjikan yang akan membuat
- orang-orang yang beriman rida dengan
- segala apa yang Allah berikan. Dan
- mereka dalam kehidupan dunia, walaupun
- hidup di dunia sebetulnya hati mereka
- sedang menatap kehidupan akhirat.
- Sedangkan dunia sebagai ladang dan jalan
- menuju ke sana. Mereka selalu ingat
- kepada Allah Subhanahu wa taala. Nah,
- kita ambil contoh yang lain, Kang Rizal.
- Wasia kursiyuhus samawati wal ard. Kursi
- kebesaran, keagungan Allah meliputi
- langit dan bumi. Kalau kursi seorang
- raja hanya berada di salah satu bahagian
- dari istana.
- Kekuasaannya pun terbatas kan pada
- wilayah kekuasaannya dan dia juga tidak
- mengetahui segala sesuatu yang berada di
- daerah kekuasaannya.
- Bahkan menterinya berkhianat, istrinya
- berkhianat seperti raja Romawi. Ya, kita
- lihat ya. Dia tidak mengetahui
- segala-galanya. Tapi kalau kursi
- kebesaran Allah meliputi langit dan bumi
- semuanya tidak ada satuun ya satuun atom
- ya ya yang masuk ke dalam perut bumi
- atau naik ke langit kecuali semuanya
- diketahui oleh Allah sampai bisikan hati
- kita. Seluruh kejadian di alam raya ini
- semua dalam wawasan pengetahuan dan
- kekuasaan Allah. Jadi kata was kursiuhus
- samawati wal ard menggambarkan kursi
- kebesaran keagungannya meliputi langit
- dan bumi.
- Bukan kursi seperti yang kita pahami dan
- seorang raja duduk di atas kursinya.
- Yang paling unik sebagian orang
- menakwilkan menafsirkan kursi ini
- kepada riway bersandar pada riwayat yang
- palsu. Mengatakan bahwa kursi tempat
- apa? meletakkan kedua kaki Allah
- subhanahu wa taala amma yasifun
- subhanahu wa taala amma yusriun bisa
- dibuka pada terjemahan ayatul kursi ya
- yang beredar dan diterjemahkan oleh apa
- oleh pemerintah Saudi Arabia lihat ada
- footnot di bawah menjelaskan bagaimana
- kursi sebagai tempat keberadaan dari
- kaki Allah
- jadi Allah butuh juga kepada kursi untuk
- menyadarkan kakinya ini makhluk apa
- Allah. H.
- Kemudian kita mendengar juga ceramah
- sebagian orang. Kita doakan Allah
- memberikan hidayah kepada mereka. Bahwa
- ketika Allah berkata kepada api neraka
- jahanam di hari kemudian nanti yauma
- naquulu jahanama.
- Ketika kami berkata kepada api neraka
- jahanam, "Apa kamu sudah penuh?
- Masih ada tempat lagi?" Watqu mim mazid.
- Dia berkata, "Apakah masih [berdehem]
- ada tambahan lagi ya Allah?"
- T diselipkan riwayat di
- tengah-tengahnya. Ini riwayat
- israiliyat.
- Karena api neraka jahanam masih apa?
- Masih
- bergolak ya meminta tambahan dan tidak
- berhenti. Akhirnya Allah mengangkat
- pakaian dari betisnya kemudian
- memasukkan betisnya ke dalam api neraka
- jahanam. Api neraka jahanam langsung
- mengatakan, "Quatu ya Rabbi cukupcukup
- ya Allah cukup.
- Riwayat ini riwayat israiliyat
- diselipkan di antara ayat-ayat Allah
- Subhanahu wa taala. Ini kebohongan atas
- nama Allah, atas nama Rasulnya. Karena
- ayat Allah jelas watqu mim mazid
- menggambarkan bagaimana neraka tuh masih
- meminta tambahan kalau memang ada dari
- orang-orang yang memusuhi Allah. Bahkan
- neraka dari geramnya terhadap
- orang-orang yang durhaka sampai dia mau
- melompat ke bibir api neraka jahanam.
- dari murkanya geramnya api neraka sampai
- dia mau menyongsong melompat apa untuk
- menjemput penghuni api neraka yang belum
- jatuh ke bawah. Ini sebagai gambaran
- yang mengerikan ya dari api neraka yang
- begitu geram terhadap orang-orang yang
- kafir dan durhaka. Jadi, Kang Rizal
- kalau kita lihat ungkapan-ungkapan
- semacam ini ya, [mendengus] apalagi
- menggambarkan Allah memiliki betis ya,
- kemudian dimasukkan ke dalam api neraka
- jahanam untuk membuat api berdiam. Ini
- gambaran-gambaran yang tidak layak bagi
- Allah. Terkadang mereka mengutip firman
- Allah, yauma yuksyaqinud
- sujudi fala yastatiun.
- Ketika betis disingkap,
- mereka diminta untuk sujud, mereka tak
- mampu untuk sujud. Padahal ayat tersebut
- menggambarkan hari ketakutan sampai
- orang ingin mengangkat pakaian dari
- betisnya melarikan diri.
- H.
- Tapi mereka mengatakan ketika betis
- Allah disingkap, ini jelas-jelasan
- menyelewengkan ayat Allah. Berbohong
- atas nama Allah, berbohong atas nama
- Rasul. Oleh karena itu, Syekh Abu Bakar
- Aljaizi mengatakan Abu Bakar Jazai
- sebetulnya
- ayat ini ya menggambarkan saat yang
- mengerikan, menakutkan. Tetapi karena
- ada riwayat yang menggambarkan Allah
- mengangkat pakaian dari betisnya maka
- kita mengikuti riwayat tersebut.
- Nah, dalam Al-Qur'an banyak
- ungkapan-ungkapan
- majaz atau metafora. Contoh di antaranya
- wamanana fi hadi ama fahua fil akirati
- a'ma wail. Siapa yang dalam kehidupan
- dunia ini buta di hari akhirat mereka
- akan lebih buta lagi dan lebih tersesat
- jalannya. Kita memahami dari ungkapan
- ini, buta yang sebenarnya bukan buta
- mata ini. Karena banyak orang yang lahir
- dalam keadaan buta tapi jiwa mereka
- bersih, amal mereka dalam keadaan baik.
- Contoh Ibnu Um Maktum. Betul gak?
- Betul.
- Lalu untuk memahami ayat ini, dengarkan
- firman Allah. Fainnaha la tamal absar
- wakin tamal qulubati. Yang
- sebenar-benarnya buta itu bukan mata
- lahir kita, tapi kalbu ya yang ada dalam
- dada di saat dibutakan oleh hawa nafsu
- kesombongan. Dia yang buta walaupun mata
- dalam keada apa? Dalam keadaan melihat.
- Jadi banyak ungkapan-ungkapan dalam
- Al-Qur'an ya. yang menggunakan bahasa
- manusia sebagai ungkapan majaz. Karena
- Allah berbicara kepada kita menggunakan
- bahasa kita yang penuh keterbatasan.
- Maka lahirlah ayat-ayat mutasyabihat.
- Begitu juga Allah subhanahu wa taala
- menggunakan ungkapan majaz
- sebagaimana yang dipergunakan bangsa
- Arab dalam ungkapan mereka. Contoh yang
- lain
- dalam suratun Nur Allah berfirman,
- "Walaqad anzalna ilaikum ayatin
- mubayyinat." Sesungguhnya kami telah
- menurunkan bagi kalian ayat-ayat yang
- memberikan penjelasan yang
- sejelas-jelasnya.
- Walaqad
- anzalna ilaikum ayatin mubayinatin
- minalladina minqlikumin.
- Dan perumpamaan-perumpamaan tentang
- orang-orang sebelum kalian.
- Dan nasihat petuah
- bagi orang-orang yang bertakwa.
- Wqad anzalnaikumina
- minikuman.
- sekarang banyak lupa ini.
- Ayat 34 surat ya. Wq anzalna
- ilaikuminatum.
- Sesungguhnya kami telah menurunkan bagi
- kalian ayat-ayat yang memberikan
- penjelasan yang sejelas-jelasnya.
- Begitu pula perumpamaan tentang
- orang-orang sebelum kalian agar menjadi
- pelajaran dan nasihat petua bagi
- orang-orang yang bertakwa.
- Lalu setelah itu Allah memberikan
- perumpamaan gambaran bagi kita tentang
- ayat-ayat tersebut. Allahuus
- samawati wal ard. Allah adalah nur yang
- menerangi langit dan bumi yang menjadi
- pembimbingnya, petunjuknya. Semua
- diarahkan dengan hidayah dan nur Allah
- Subhanahu wa taala. Bahkan bayi yang
- bayi sebelum menjadi bayi ketika sperma
- ya
- bertemu dengan ovum itu juga dengan
- bimbingan Allah
- melintasi tu bafalovi telurnya kemudian
- sperma juga ya masuk ke dalam rahim
- kemudian bertemu dengan ovum terjadi
- pembuahan kemudian pembentukan semua itu
- di bawah nur dan petunjuk all
- Allah subhanahu wa taala
- bukan jalan sendiri
- jadi Allah yang menjadi nur yang
- menerangi langit dan bumi. Lalu Allah
- gambarkan tentang cahayanya,
- nur Allah. Nah, Al-Qur'an ini merupakan
- nur kan. Q jaakum ilallahi nurun wa
- kitabum mubin.
- Jadi Allah nurus samawati. Allah
- menggambarkan nurnya ini yang terang
- benderang
- yang mengikutinya berarti dalam cahaya
- dan tidak akan menjumpai kegelapan.
- Matalu nurihi perumpamaan dari
- cahayanya.
- Kamiskatin fiha misbah bagikan sebuah
- lubang di dinding
- atau lubang di atas kayak downloadnya
- fiha misbah terdapat miska pelita
- e kamiskatin fiha misbah sebuah lubang
- yang kecil di dalamnya terdapat pelitaan
- kamishkatin fiha misbah kemudian
- almisbahu fi zuj Jajah. Pelita tersebut
- dibungkus oleh apa? Oleh ee gelas.
- Azzujajatu kaanaha kaukabun duli. Gelas
- itu sendiri yang menutupi belita.
- Laksana bintang kejora yang terang
- benerang.
- Almisbahu fi zujaja zujajatu kaanaha
- kaukabun durriyun yuqadu min syajaratin
- mubarakatin zaitunatin
- la syarqiyatin wala garbiyah. Sedangkan
- minyak bagi pelita tersebut diambil dari
- minyak zaitun yang pohonnya tumbuh ya di
- tempat yang tinggi yang tidak berada di
- barat maupun di timur hingga pada saat
- matahari terbit ya menerangi pohon
- tersebut. Pada saat menuju saat terbenam
- pun dia mendapatkan cahaya matahari
- hingga melahirkan minyak yang jernih dan
- bersih. Yakadu zaitu wam tamasunar.
- Sampai-sampai minyaknya sebelum
- tersentuh oleh api dia sudah menyala
- terang benerang.
- Di dalam sebuah lubang yang kecil
- terdapat pelita yang terbungkus oleh
- gelas laksana bintang kejora. Kemudian
- minyaknya pun sudah menyala. Sebelum
- terkena api lahirlah nurun ala nur.
- Cahaya di atas cahaya. Betul gak?
- Nur adalah nur. Cahaya di atas cahaya.
- Nah, kalau seandainya lubang tersebut
- menggambarkan hati manusia,
- lalu cahaya tersebut yang terang
- benenderan dalam hatinya, adakah
- kegelapan? Itu menggambarkan kitab
- sucinya.
- Wadribullahul amalanas. Allah memberikan
- perumpamaan ini bagi manusia. Wallahu
- bikulliin alim. Allah maha mengetahui
- segala sesuatu.
- Jadi perumpamaan ini sebetulnya
- menggambarkan cahaya Allah itu kitabnya
- yang merupakan nur yang terang
- benenderang. Apabila hati kita diterangi
- oleh cahaya Allah, kita bisa bayangkan
- bagaimana kira-kira. Oleh karena itu,
- orang yang mengikuti petunjuk kitab
- tidak akan tersesat. Tapi yang berpaling
- daripadanya digantikan dengan yang lain.
- Maka walaupun seluruh ilmu pengetahuan
- dikumpulkan untuk memberikan hidayah
- kepadanya, tidak akan mampu untuk
- memberikan petunjuk sebagaimana petunjuk
- yang diberikan oleh Al-Qur'an. Kalla
- innaha tazkir fansyaakar
- fi suhufin mukarromah marfuatin
- mutaharah biidi safarah kiram bararah.
- Bagaimana kesucian Alkitab tersebut,
- ketinggiannya, keagungannya yang dibawa
- oleh duta-duta yang amat amanat
- menyampaikan apa adanya duta dari
- malaikat maupun duta dari kalangan
- manusia. Al-Qur'an terpelihara dalam Lau
- Mahfuz. Begitu pula pada saat
- diturunkan, pada saat diterima Rasul,
- begitu pula setelah wafatnya Rasul,
- Quran dalam keadaan terjaga,
- terpelihara. La yatihil batilu min baini
- yadaihi w min khalfi tanzilu min hakimil
- hakim. Begitu juga di saat Al-Qur'an
- berbicara mengenai surga neraka. Tidak
- mungkin Allah menggambarkan surga neraka
- alah hakikatnya dengan menggunakan
- bahasa manusia. Iya.
- Tapi bahasa yang sifatnya apa?
- Perumpamaan. Wau bihi mutasyabiha.
- Walaupun buahnya sama tapi rasanya
- hakikatnya berbeda. Hanya serupa dalam
- nama tapi tidak mungkin hakikatnya sama.
- Jadi yang digambarkan mengenai kehidupan
- surga merupakan gambaran yang sifatnya
- pendekatan, bukan menggambarkan hakikat.
- Begitu juga neraka. Menggambarkan neraka
- ya yang digambarkan dalam Al-Qur'an
- bukan menggambarkan hakikat yang
- sebenarnya. Hakikatnya jauh lebih
- dahsyat, lebih mengerikan daripada
- gambaran yang kita pahami dengan
- pengantar bahasa manusia yang amat-amat
- terbatas.
- [mendengus]
- Oleh karena itu, Nabi mengatakan,"
- subhanaksian
- alika antaik.
- Kami tak mungkin sama sekali memuji
- Engkau, mengagungkan engkau sebagaimana
- mestinya karena keterbatasan kita. Oleh
- karena itu, banyak-banyaklah kita
- bersyukur pada Allah, bertasbih kepada
- Allah dan juga menyadari batasan
- kemampuan kita. Mudah-mudahan ini bisa
- jelas dan Iya, silakan.
- Baik, Ustaz. [berdehem] Masyaallah
- komprehensif sekali jawabannya dari
- pertanyaan tadi
- dari Pak Khairudin. Ustaz, ini ada dua
- pertanyaan saya gabungkan, Ustaz, ya.
- Iya. Masih terkait sebetulnya dengan
- penjelasan ini
- ee dari siapa ini Bu Zahra di Depok.
- dalam masyarakat modern semakin
- individualistis banyak orang termasuk ee
- kita ee umat Islam merasa kesepian dan
- kehilangan arah. Nah, bagaimana Islam
- dapat memberikan solusi nyata terhadap
- krisis mental ini, Ustaz? Bukan hanya
- sebagai ritual, tetapi sebagai sistem
- nilai yang bisa membangun kembali
- koneksi sosial dan spiritual yang
- hilang. sayaungkan dari 0812
- 98 sekian-sekian. Ustaz, banyak pemuda
- di hari ini zaman ini merasa bahwa agama
- itu terlalu kaku dan tidak dapat
- menjawab tantangan hidup ee tidak
- menjawab tantangan hidup mereka yang
- dinamis seperti hubungan, karir, dan
- identitas diri. Nah, bagaimana seorang
- ustaz ee kita dapat menyampaikan ajaran
- Islam yang hakiki dengan cara yang lebih
- relevan dan menarik bagi mereka tanpa
- mengorbankan prinsip-prinsip dasarnya.
- Terima kasih.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Rabbana zidna ilman wa alhikna biolihin.
- [mendengus]
- Islam
- adalah
- agama
- ajaran pedoman hidup yang datang dari
- pencipta alam semesta dan pencipta
- seluruh manusia termasuk jin.
- Oleh karena itu, kita harus memahami
- bahwa Allah adalah Rabbul alamin
- dan rasul yang diutus oleh Allah
- Subhanahu wa taala adalah rahmat bagi
- semesta alam. Bukan hanya bagi bangsa
- Arab,
- bukan juga hanya bagi keluarganya,
- tapi rahmat semesta. Beliau bukan
- pembawa rahmat, tapi beliau itu sendiri
- merupakan rahmat.
- Kita dapat melihat bagaimana realitas
- ini dalam kehidupan Rasul, dalam
- pergaulannya bersama para sahabatnya,
- bersama keluarganya. Pernahkah Nabi
- membeda-bedakan di antara para
- sahabatnya? Yang satu berkulit hitam,
- satu berkulit putih, yang satu kalangan
- ee bangsawan, yang satu kalangan budak.
- Justru perbedaan ini dengan kehadiran
- Rasul dan dakwah yang beliau sampaikan
- hilang.
- Mereka merasakan betul-betul keakraban,
- persatuan, dan kecintaan.
- Oleh karena itu, dalam sebuah hadis Nabi
- mengatakan yadullah maal jamaah. Tangan
- Allah bersama suasana berjamaah. Itu
- bukan menggambarkan Allah bertangan. He.
- Tapi apa? Rahmat Allah, dukungan Allah
- bagi suasana berjamaah.
- Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa
- taala dalam suratul fath ini juga
- merupakan bahasa majas dan metafora.
- Innalladina yubiunaka innama yubiunallah
- yadullah fauq aidihim. Sesungguhnya
- orang yang membaiat kamu sama dengan
- berbaiat pada Allah. Tangan Allah di
- atas tangan mereka. Orang kalau berbaiat
- kan berpegangan tangan. Allah bilang
- tangan Allah di atas tangan mereka. Itu
- bukan berarti Allah bertangan.
- Maksud dari ayat ini Allah meridai dan
- mendukung baiat mereka. serta
- menerimanya. Oleh karena itu, berapa
- ayat berikutnya? Laqad rallahu alil
- mmininadina yubunaka
- radhiallahu alil mminin yubunaka
- tahtjarah. Allah telah rida kepada orang
- yang beriman yang membaiat kamu di bawah
- pohon. Jadi yadullah fauqa aidihim
- diterangkan artinya rida dan mendukung
- serta menerima baiat mereka.
- Karena mereka sama dengan berbaiat
- kepada Allah di saat membaiat Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam. Nah,
- kita melihat di sini bahwa apa?
- Unsur berjamaah ini tidak terpisah dari
- kalimat tauhid.
- Tidak terpisah.
- Dia merupakan bahagian dari apa? Kalimat
- tauhid. Karena dari kalimat tauhid
- lahirlah tauhid kalimah.
- Kalimat tauhid ya mengajak kita untuk
- mentauhidkan kalimah kita. Dan pada saat
- kita mentauhidkan kalimah kita untuk
- merealisasikannya dibutuhkan kesatuan
- hati. Oleh karena itu, Al-Qur'an Rasul
- selalu mengajak menganjurkan kita untuk
- apa? Untuk betul-betul apa? Untuk
- bekerja sama, bersatu dalam kebaikan,
- mengajak pada kebaikan. menjauhkan dari
- kemungkaran dan mencegah dari perbuatan
- mungkar. Oleh karena itu Allah gambarkan
- dalam surah ee At-Taubah, wal mukminun
- wal mukminat ba'duhum auliya ba'bin
- orang yang beriman. Sebahagian mereka
- menjadi wali sebagian yang lain. Kalau
- ini dipraktikkan,
- niscaya umat Islam akan menjadi kuat.
- Yang kuat menjadi wali yang lemah. Yang
- kaya menjadi wali yang miskin. Yang
- berilmu menjadi wali yang bodoh. Yang
- menjabat menjadi wali.
- menjadi wali apa? Bagi orang-orang yang
- berada di bawah naungannya. Tapi yang
- terjadi saat ini yang menjabat lupa
- diri.
- Tapi orang yang beriman ciri-cirinya wal
- mukminun wal mukminat ba'duhum auliya
- ba'din. Begitu juga innamal mukminuna
- ikhwah. Orang-orang yang beriman
- hanyalah mereka yang bersaudara.
- Persaudaranya dibangun di atas iman.
- Oleh karena itu Allah Subhanahu wa taala
- ketika memerintahkan salat bukan
- memerintahkan salat sendiri-sendiri tapi
- berjamaah. wa aqimusah untuk menumbuhkan
- apa? Semangat berjamaah
- dalam doa-doa Al-Qur'an. Perhatikan
- yang diajarkan Allah. Sebagian besar doa
- yang Allah ajarkan menggunakan bentuk
- jemah. Rabbana atina, rabbana hablana,
- Rabbana la tuzzi qulubana. Betul gak?
- Kita berdoa bukan hanya untuk diri, tapi
- juga untuk apa? Saudara kita. Baik kita
- sendiri berdoa tetap kita menggunakan
- rabbana atina kan.
- Iya. Nah, begitu juga di masjid ya atau
- di majelis kita menggunakan doa ini
- untuk semuanya.
- Ini merupakan hal yang dianjurkan untuk
- berjamaah yang paling ditakuti oleh
- setan dan musuh-musuh Islam semangat
- berjamaah ini. Oleh karena itu, mulai
- muncul fitnah doa berjamaah itu bidah
- ini. Padahal Quran merupakan dasar yang
- paling utama.
- Betul gak?
- Betul.
- Di saat umat Islam bersatu berjamaah,
- hati mereka saling mencinta menyayangi.
- Ini merupakan pertanda kehancuran setan
- dan kaki tangannya. ba itu Zionis maupun
- orang-orang munafik. Oleh karena itu,
- fitnah-fitnah yang disebarkan untuk
- memecah belah hati umat Islam di
- antaranya isu bidah yang disebarkan
- tanpa pada tempatnya. H
- sebagian orang mengatakan ini bidah,
- sebagian lagi mengatakan tidak.
- Seharusnya bidah yang diperangi, yang
- disepakati kebidahnya, bukan perbedaan
- pendapat.
- Jadi kalau seandainya kita masuk dalam
- ranah semacam ini membidahkan hal-hal
- yang tidak disepakati, pasti akan timbul
- fitnah di antara umat Islam. Tapi apa
- yang disepakati sebagai hal yang mungkar
- itu yang kita perangi
- dengan cara yang bijak.
- Apa yang disepakati sebagai hal yang
- makruf itu yang kita perjuangkan. Jangan
- kita bicara mengenai hal tetek bengek ya
- yang tidak memajukan kita, tidak
- membangunkan kita, malah membuat kita
- berpecah belah dan saling bermusuhan.
- Tapi semua itu disampaikan dengan cara
- yang tidak.
- Oleh karena itu, firman Allah
- mengingatkan kita semua watawanu alal
- birri wat taqwa. Bekerjamalah dalam
- perbuatan bir dan takwa di antara sesama
- kita. Jangan lihat golongan itu, bukan
- golongan kita. Kita enggak mau kerja
- sama mereka.
- Ketika Iran memerangi Zionis Israel,
- sebagian kalangan mengatakan, "Haram
- kita membantu Iran." Siapa yang bilang
- membantu Iran? kita bekerja sama
- memerangi musuh Allah.
- Jadi kalau kita perhatikan ini semua
- merupakan hembusan-hembusan fitnah yang
- disebarkan oleh musuh-musuh Allah. Dan
- kita lihat negara Arab punya peran yang
- cukup besar termasuk Saudi Arabia yang
- berbungkuskan Islam tapi dalamnya
- waliyadubillah
- adalah
- kemunafikan.
- Saya melihat Maladewa negara kecil di
- Samudra India itu lebih islami
- dibandingkan dengan negara-negara Arab.
- Walaupun wisatawan asing masuk ke dalam
- negeri mereka, tapi betul-betul terarah.
- Tidak dibolehkan mereka menggunakan
- bikin di tepi pantai
- dan 100% penduduknya beragama Islam.
- Tapi bisa betul-betul apa? bisa
- berhadapan dengan situasi kondisi yang
- bermacam-macam dengan cara yang bijak
- dan dinamis tanpa mengorbankan prinsip
- Islam. Oleh karena itu Allah berikan
- keberkahan sampai hasil pendapatan
- negaranya yang kecil ini yang negaranya
- cuma hanya beberapa ratus kilometer
- hampir mendekati pendapatan Indonesia
- yang jumlah penduduknya
- jauh berkali-kali lipat. Pendapatan kuli
- di sana di Malawa paling rendah sekitar
- Rp1.500.000
- 1 bulan
- pendapatan per bulannya. Bayangkan 13,5
- juta pendapatan yang paling rendah bisa
- mencapai R juta, R5 juta, R0 juta. Jadi
- kalau kita perhatikan bersama-sama
- bagaimana negara kecil ini bisa menjaga
- aturan hukum Allah, kemudian bisa
- menerima kehadiran wisatawan yang
- membawa keuntungan bagi mereka, tapi
- tanpa mengorbankan prinsip Islam.
- Kalau ada yang berani keluar menggunakan
- bikin ini dikenakan hukuman penjara yang
- cukup berat.
- Mereka tidak perlu mau datang ke negeri
- mereka ahlan wasahlan. Tapi kalau mau
- merusak sistem mereka tolak.
- Jadi kita lihat bagaimana kita ini baru
- menjadi kuat kalau kita bersatu. Bersatu
- dalam iman. Bukan bersatu dalam ras.
- Bukan bersatu dalam kelompok dalam
- golongan, dalam mazhab sekta. Ini
- merupakan nama-nama yang menjijikkan.
- Tapi hendaknya setiap orang yang berasal
- dari kelompok apapun semua mengajak para
- pengikutnya untuk bersatu dalam Islam.
- Warga NU bisa mencintai warga
- Muhammadiyah. Warga Muhammadiyah pun
- demikian. Jangan menaburkan kebencian.
- Jadi
- semangat berjamaah ini semangat yang tak
- terpisah dari ajaran tauhid. Jadi
- kalimat tauhid dan tauhid kalimat
- merupakan inti dari ajaran Islam. Kalau
- seandainya orang mengaku beriman tidak
- mau bersatu di jalan Allah, maka
- dilagukan keimanan mereka. Nah, kembali
- kepada pertanyaan kedua tadi. Sebetulnya
- sudah terjawab sebagiannya bahwa yang
- menyebabkan kita
- kaku, sempit karena kita tidak kembali
- kepada sumber agama yang sebenarnya itu
- Al-Qur'an alkarim.
- Kita lebih banyak ee fokus ya atau
- menjadikan fikih-fikih pendapat manusia
- sebagai rujukan.
- [berdehem]
- dan fikih berbeda-beda. Akhirnya
- menimbulkan
- keraguan dan ketidakpercayaan di hati
- umat Islam.
- Nah, khususnya ini untuk pemuda, Ustaz.
- Termasuk pemuda, orang tua kan Islam
- bukan hanya untuk kal pemuda, kan? Kalau
- kita kembali kepada Al-Qur'an sebagai
- rujukan,
- kita merujuk kepada Al-Qur'an
- menjadikannya sebagai neraca kehidupan
- kita,
- hati kita akan betul-betul merasakan
- keluasan yang luar biasa. Di samping
- kita harus mengingat hidup kita di dunia
- ini bukan tujuan,
- tapi tempat kita diuji sebagai ladang
- bagi kita untuk bercocok tanam, meraih
- kemuliaan di hari akhir. Itu harus
- selalu kita ingat bahwa tujuan kita
- bukan kehidupan dunia ini. Oleh karena
- itu, dalam hidup ini kita harus
- mengikuti aturan Allah, bukan aturan
- disesuaikan dengan hawa nafsu manusia.
- Jadi, Islam yang mengajak menuju
- kehidupan yang begitu indah, sempurna.
- mengajak kita untuk hidup betul-betul
- apa? Memandang manusia seluruhnya
- sebagai saudara kita. Bukan hanya orang
- yang beriman. Orang yang beriman saudara
- kita seiman, saudara kita juga seayah
- seibu. Sedangkan di luar orang yang
- beriman saudara kita, saudari kita
- seayah dan seibu walaupun tidak seiman.
- Kewajiban kita mengajak bukan memberagi
- mereka.
- Kita diajarkan untuk mengajak mereka
- berdiskusi bersama mereka, berdakwah
- dengan cara yang baik. Kalau mereka
- menolak itu hak mereka. Lakumukum
- itu Allah yang berikan haknya. Dan kita
- diharamkan untuk menyakiti mereka,
- mengganggu mereka, bahkan mencaci maki
- Tuhan mereka tidak dibenarkan.
- Dan tidak boleh kita merampas harta
- mereka, menumpahkan darah mereka,
- mencemarkan kehormatan mereka, kecuali
- kalau mereka memerangi kita, melakukan
- tindakan-tindakan pengerusakan, maka
- dengan sendirinya mereka dihukum karena
- perbuatan mereka, bukan karena perbedaan
- agama. Sebagai contoh, orang Yahudi di
- Madinah hidup bersama Rasul.
- Rasul tidak ganggu mereka kecuali pada
- saat mereka berkhianat. Betul gak? Umat
- Nasrani juga hidup bersama Rasul. Bahkan
- Allah mengatakan wa ahadum minal
- musrikinaajariru
- kalamlahama.
- Kalau ada orang musyrik mohon
- perlindungan padamu, lindungi dia.
- Kemudian bacakan ayat-ayat Allah
- terserah dia mau terima atau tidak
- terima. Setelah itu antarkan dia ke
- tempat yang aman. Ini musyrik
- [mendengus]
- bukan ahli kitab. Jadi Islam mengajarkan
- kita betul-betul hidup dengan penuh
- rahmat sebagaimana yang ditaburkan oleh
- nabi kita. Tidak mengajarkan kita untuk
- bersikap aniaya,
- mencemarkan kehormatan orang lain,
- menumpahkan darah mereka atau mengambil
- harta mereka dengan alasan bahwa mereka
- berbeda agama dengan kita. Ini bukan
- ajaran Islam. Ini merupakan ajaran yang
- banyak disebarkan oleh kalangan-kalangan
- Salafi Saudi. Akhirnya sebagai akibatnya
- pada saat ini Muhammad bin Salman yang
- merasa bahwa kakinya terikat, tangannya
- terikat, dia berlepas diri dari apa?
- Dari ajaran Salafi. Bahkan dari ajaran
- Islam sebahagiannya dikorbankan demi
- membuka pintu bagi wisatawan asing masuk
- sampai daerah yang dikutuk oleh Allah
- dijadikan sebagai daerah wisata tempat
- melakukan perbuatan maksiat. Kenapa?
- karena dia merasa bahwa ajaran Salafi
- ini ajaran yang betul-betul mengekang
- dirinya.
- Bukan ajaran Islam ya, tapi ajaran
- Salafi yang penuh dengan berbagai macam
- konflik, fitnah, dan orang kehilangan
- kebebasan untuk berpikir, tidak
- tolerans. Jangankan terhadap orang di
- luar Islam, terhadap orang-orang Islam
- tidak tolerans. Tapi adanya terhadap
- Zionis mereka berangkulan. He.
- Jadi dalam hal ini kita harus memahami
- Islam merujuk kembali kepada kitab suci
- Al-Qur'an kemudian kepada sunah-sunah
- Nabi yang sebenarnya. Saya bukan bicara
- hadis dan riwayat tapi sunah Nabi.
- Praktik Nabi kita dalam kehidupannya
- bagaimana?
- Bersama orang yang beriman, bersama
- orang di luar Islam. Pernah enggak Nabi
- melakukan perbuatan aniaya? Tidak
- pernah. Sampai dalam perang pun,
- seusai perang, Nabi memuliakan tawanan.
- Memuliakan tawanan dan tidak melakukan
- pembantaian secara brutal. Bahkan
- melarang orang untuk melakukan
- pencincangan, pembakaran,
- dan melarang orang untuk mengganggu
- orang tua, anak-anak, wanita yang tidak
- terlibat dalam peperangan dilarang untuk
- mengganggu mereka. Orang-orang yang
- berada di rumah ibadah pun dilarang
- untuk mengganggu mereka. Jadi yang
- diperangi adalah yang mengangkat
- senjata, yang memerangi. Kalau orang
- bertanya, "Kenapa Nabi memulai perangan
- peperangan pada sebagian keadaan?"
- dakwah Islam harus sampai ke mana-mana.
- Perintah dari Allah Tuhan semesta alam.
- Kalau seandai kita menyampaikan dakwah
- tidak mengalami gangguan,
- kita enggak boleh mengganggu. Tapi di
- saat rakyat ditakut-takuti,
- dihalang-halangi untuk menerima dakwah
- Islam dan intimidasi, dengan sendirinya
- kita harus hentikan kewezaliman
- tersebut.
- Oleh karena itu kita tidak menerima
- kezaliman dan tidak dibolehkan melakukan
- kezaliman kepada siapapun juga. Laoroar
- walaar. Jadi kalau orang ingin memahami
- Islam yang indah, menarik, menawan,
- rahmat sebagaimana nabinya rahmat lil
- alamin, coba kembali kepada Al-Qur'an
- dan pelajari bagaimana kehidupan Rasul
- yang begitu indah. Jangan kita
- mempelajari Islam dari fikih yang
- berbeda-beda yang bertentangan satu
- dengan lainnya. Oleh karena itu, para
- ulama di saat mempelajari fikih dan
- mengajarkannya, hendaknya mereka
- mempelajarinya dengan mengembalikannya
- kepada kitab suci Al-Qur'an dan pribadi
- Nabi kita. Bukan menelan begitu saja,
- menanamkan fanatisme di hati para
- pengikutnya. Subhanakallahumma
- wabihamdik ashadu alla ilaha illa anta
- astagfiruka wa [berdehem] atubu ilaik
- wal afu minkum. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Terima kasih Ustaz Dusinas
- atas kajiannya dan juga jawaban-jawaban
- yang ee sangat jelas insyaallah cukup ee
- menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi.
- Hanya tiga Ikhwana yang bisa kita
- bacakan. Mohon maaf bagi Ikhwan Awat
- yang belum sempat kita bacakan
- pertanyaannya dari Ibu Kiswati, kemudian
- Pak Nurhadi, kemudian dari hamba Allah
- dan beberapa nomor lainnya yang belum
- saya buka ya Ikhwan Awat. Insyaallah
- kita akan bertemu daya hari Senin Ustaz
- ya. Insyaallah.
- Dan insyaallah kita akan berikan
- contoh-contoh yang banyak bagaimana
- kehidupan Islam yang indah, dinamis ya
- dan menghargai perbedaan di antara sama
- umum Islam dan menghormati juga hak
- pilih orang untuk memilih keyakinannya
- dengan syarat tidak melakukan
- tindakan-tindakan
- ee kerusakan.
- Ya, ini rahmatan lil alamin itu, Ustaz.
- Ya.
- Baik, Ikhwan Hawat. Dan insyaallah kami
- mengundang Ikhwan Hawat untuk hadir
- untuk bertemu di hari Sabtu, Ustaz. Ya,
- insyaallah. Insyaallah Ustaz Husein akan
- memberikan ee tausiahnya sapaan kepada
- Ikhwan Awat karena ini juga dalam rangka
- temu pendengar, Ustaz.
- Insyaallah di hari Sabtu kami tunggu
- Ikhwan Awat di Masjid Silaturahim ya
- Sabtu ini tanggal 20 Sabtu lusa dong ya.
- Hari ee Sabtu jam 0.00 kami tunggu Iwan
- di masjid silaturahim sekali lagi bisa
- ajak ee saudaranya, keluarganya,
- tetangga-tetangganya kita bermuwajahah
- di sana. Dan I hormat terima kasih atas
- kebersamaannya. Mohon maaf jika ada yang
- ee belum sempat kita bacakan tadi ya.
- Dan mohon maaf juga jika ada salah kata
- saya Rizal Hak dan juga teman-teman yang
- bertugas di pagi hari ini ada Kang Ondi
- dan juga Ustaz Algi Fakrji undurd
- subhanakallah wabihamdika ashadu alla
- ilaha illa anta astagfiruka ilaik.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.