Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:05 Brail TV. 0:12 Bismillahirrahmanirrahim. 0:14 Asalamualaikum warahmatullahi 0:16 wabarakatuh. 0:17 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:19 wabarakatuh. 0:21 Ustaz Husein, Ustaz Abu Bakar, Ikhwan 0:24 Akhwat rahimakumullah. Alhamdulillah ya 0:27 kita di bulan yang berlimpah berkah di 0:31 Ramadan ini bersamai kembali di acara 0:35 psikologi keluarga yang mudah-mudahan 0:38 akan mempersuasi kita, menjadikan kita 0:42 lebih paham akan banyak hal terkait 0:44 dengan kasus yang dibahas. 0:48 di bulan Ramadan, bulan di mana kita 0:51 dilatih untuk bisa menahan diri. Bukan 0:54 cuma dari lapar dan haus dari subuh 0:56 sampai magrib, tetapi juga biasanya 0:59 terkait dengan emosi. Itu 1:02 pembelajarannya luar biasa. Dan kasus 1:04 hari ini juga terkait dengan emosi. 1:06 Tidak lupa salam selawat kita lantunkan 1:08 untuk junjungan umat kekasih kita 1:10 Muhammad Rasulullah sallallahu alaihi 1:13 wasallam. Semoga kelak kita mendapatkan 1:16 syafaat beliau. dan dipertemukan dengan 1:19 beliau di saat yang sangat kita rindukan 1:21 di yaumil akhir. 1:24 Terima kasih sekali untuk bersama 1:26 psikologi keluarga Radio Silaturahim, 1:29 Ustaz Husein, Ustaz Abu Bakar siap untuk 1:32 membersamai kita. Tapi sebelumnya kita 1:35 awali dengan umul kitab. 1:40 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 1:45 Bismillahirrahmanirrahim. 1:50 Alhamdulillahiabbil 1:53 alamin 1:55 arrahmanirrahim 1:59 maiki yaumiddin 2:02 iyyaka na'budu wa iyyaka nasta' 2:08 ihdinasirathal 2:10 mustaqimathalladzina 2:15 an'amta alaihimil 2:24 in. 2:27 Amin. 2:29 Jadi, Ustaz dan Ikhwan akhwat, ada dua 2:32 kasus yang akan dibahas hari ini. Yang 2:36 pertama dari seorang istri menikah 4 2:39 tahun, punya anak 3 bulan kemudian 2:42 meninggal. Kebetulan kedua orang tuanya 2:45 hanya menginginkan anak ee laki-laki, 2:50 cucu laki-laki. Sementara dia dengan 2:53 saudara laki-lakinya yang sering 2:55 mendapatkan perhatian adalah saudara 2:57 laki-lakinya. itu dari ayah keluarga 3:00 kami. Sementara dari 3:05 kondisi itu, di dalam kondisi keluarga 3:08 saya yang seperti itu, sejak kecil saya 3:10 juga sudah dipukul dan dimarahin. 3:14 Sampai kemudian saya berjuang untuk bisa 3:16 kuliah, saya dibantu dibiayai oleh dosen 3:20 saya. Dan ketika menikah itu kebetulan 3:25 pemisanan dengan orang tua yang ibunya 3:28 adalah ee seorang TNI yang bikin saya 3:32 kaget itu mau melecehkan saya juga. 3:35 Kemudian akhirnya kami tinggalkan rumah 3:38 itu. Di kehidupan yang berikutnya ketika 3:42 di luar rumah, pernikahan saya yang 3:44 sebetulnya kurang disetuju oleh papa itu 3:47 meskipun akhirnya dinikahkan punya anak 3:49 hamil ee 3 bulan kemudian terlihat suami 3:53 saya itu selalu marah dan KDRT. Meskipun 3:58 dia baik sekali ketika anak saya lahir, 4:00 tetapi ketika meninggal bukan main. Ya 4:03 Allah, Ustaz KDRT dan suka marahnya luar 4:07 biasa. Saya tidak tahu harus bagaimana, 4:09 Ustaz. Apa yang harus saya lakukan? Saya 4:11 sering putus asa dan 4:14 saya rasanya tapi saya tidak mau 4:17 menyerah, Ustaz. Tolong saya. Itu yang 4:19 pertama, Ustaz. Kemudian yang kedua dari 4:22 Ibu Ati di Bogor. 4:25 Sekarang ini banyak sekali kasus anak 4:28 yang tidak berbakti kepada orang tua. 4:30 Anak enggak takut sama orang tua malah 4:32 kebalik orang tua yang takut sama anak. 4:35 Bagaimana, Ustaz, sebagai orang tua 4:37 bagaimana kita harus bersikap? 4:39 Kalau kita yang sebagai anak juga 4:40 bagaimana agar bisa tetap berbakti 4:43 kepada orang tua? 4:45 Itu kasus kita, Ustaz. 4:48 Bismillahirrahmanirrahim. 4:51 Alhamdulillahi rabbil alamin. Allahumma 4:54 sholli ala Muhammadin wa ali Muhammad. 5:01 Allahumma atina minika rahmah waimna 5:04 minadunka ilman nafiana bimaamtana. 5:08 Rbanaidna ilmanika 5:13 ya rasullaham. Assalamualaina wa ala 5:16 ibadillahi shihin. Wasalamualaikum 5:18 warahmatullahi wabarakatuh. 5:20 Waalaikumsalam warahmatullah. 5:25 Ikhwan akhwat, 5:29 pendengar 5:31 pemirsa 5:33 umatan wahidah yang dirahmati Allah. 5:36 Begitu pula pendengar pemirsa radio 5:39 silaturahmi 5:41 yang diberkahi dirahmati Allah. 5:46 Banyak 5:48 orang tua lebih peduli terhadap anak 5:51 laki-laki daripada terhadap anak-anak 5:54 wanita. 6:02 Dan ini 6:03 terjadi hampir di setiap bangsa, di 6:07 setiap suku. 6:11 Di tengah-tengah bangsa Arab juga kita 6:13 jumpai bagaimana orang-orang tua lebih 6:16 peduli, lebih perhatian terhadap anak 6:18 laki-laki daripada terhadap anak 6:20 perempuan mereka. 6:23 Ini merupakan sisa-sisa jahiliah 6:27 dengan anggapan bahwasanya perempuan 6:29 akan pergi bersama suaminya. Perempuan 6:32 tidak akan menjadi tulang punggung bagi 6:34 keluarganya. Beda dengan anak laki-laki 6:36 yang dibanggakan. 6:40 Berbeda dengan sikap Nabi kita Muhammad 6:43 sallallahu alaihi wa alihi wasallam yang 6:45 hidup dengan tuntunan wahyu. 6:50 Bila putrinya Sayidah Fatimah 6:52 alaihialatu wasalam datang, beliau 6:55 bangun 6:56 mengecup keningnya kemudian dipeluknya 6:59 ditempatkan di tempat duduknya. 7:05 Dan dia selalu mengatakan, "Fatimah 7:07 bidatun minni 7:10 yasurun." 7:14 Fatimah bahagia dari hatiku, bahagian 7:16 dari diriku. Apa yang membahagiakan 7:18 dirinya membahagiakan aku. Apa yang 7:20 menyakiti dirinya menyakiti aku. 7:25 Dan makanan yang paling disukai, makanan 7:28 yang dihidangkan oleh putrinya. 7:31 Kalau dia ingin pergi 7:35 dalam satu perjalanan umpamanya 7:37 berperang, 7:39 maka rumah Sayidah Fatimah itu merupakan 7:42 rumah yang terakhir yang dikunjungi. 7:46 Setelah dari masjid, ya dia datangi 7:49 Fatimah. 7:51 Kemudian dari sana baru dia berangkat. 7:54 Pada saat pulang dari perjalanan setelah 7:57 masuk ke masjid salat, rumah pertama 7:59 yang dikunjungi rumah Asayidaah Fatimah. 8:03 Hingga Ummul Mukmin Asayidah Aisyah 8:05 radhiallahu anha cemburu melihat 8:07 bagaimana perhatian Rasul kepada 8:09 putrinya Fatimah. Betul-betul gambaran 8:13 yang amat hangat mesra dari seorang ayah 8:16 bersama putrinya. Ini berbeda dengan 8:17 tataran jahiliah. 8:23 Waktu Rasulullah sallallahu alaihi 8:25 wasallam akan meninggalkan dunia, dia 8:27 berbisik di telinga Sayidah Fatimah. 8:31 Oh, aku siap untuk memenuhi panggilan 8:34 Tuhanku. Beliau menangis. Sayidah 8:36 Fatimah menang. Kemudian beliau kembali 8:38 berbisik, "Dan kamu orang yang pertama 8:40 yang akan menyusul aku dari keluargaku." 8:42 Langsung beliau tertawa. 8:44 Coba lihat, dia memiliki suami, memiliki 8:47 juga anak-anak, tapi ternyata hubungan 8:51 kecintaan antara anak dan orang tua, 8:53 orang tua dan anak begitu luar biasa. 8:57 Tidak lama beberapa bulan kemudian, 8:59 Sayidah Fatimah menyusul sang ayah 9:01 meninggalkan dunia 9:03 dengan penuh kerinduan untuk berkumpul 9:05 bersama sang ayah. 9:08 Kenapa ini tidak menjadi contoh di 9:10 tengah-tengah kita semuanya? 9:13 Dan Rasul mengatakan apabila seorang 9:16 memiliki tiga putri dijaga, dirawat, 9:19 dibesarkan dengan baik dalam keridaan 9:21 Allah. 9:24 Bila 9:27 bila apa? Datang hari akhir nanti 9:31 ketiga putrinya ini yang akan membuka 9:33 pintu rahmat dan keberkahan dari Allah. 9:37 Sahabat bertanya, "Bagaimana kalau dua 9:39 wahai Rasulullah?" Walaupun dua, 9:40 bagaimana satu? Walaupun satu 9:44 dan kalau anak laki-laki keluar ke dunia 9:47 ini, sebagaimana yang kita saksikan dari 9:50 seorang saleh alim yang sedang mengajar 9:53 di tengah-tengah muridnya atau datang 9:55 pembantunya mengatakan, "Ya Fulan 9:57 Absyir, 10:01 bergembiralah kamu istri kamu melahirkan 10:03 anak." Ditanya oleh orang alim tersebut, 10:04 "Dakar am unsa laki atau perempuan?" 10:07 Dia mengatakan zakar 10:10 diberikan kepadanya satu syiling. 10:16 Dia terus melanjutkan mengajar. 10:19 Tahu-tahu berapa tahun kemudian kembali 10:22 datang memberikan kabar gembira. Ya 10:24 fulan absyir 10:26 ditanya zakar unta. Dia bilang unsa. 10:28 Langsung dia bangun. Ketika disebutkan 10:30 perempuan langsung dia bangun. Dia 10:32 pulang dia berikan hadiah dua kali lipat 10:34 buat pembantunya. Dia pulang langsung ke 10:37 rumahnya baru melanjutkan mengajar. 10:40 Si pembantu bertanya, "Kok 10:43 waktu kamu dikabarkan dengan anak 10:45 laki-laki, kamu berikan hadiah saya cuma 10:47 satu syiri. 10:49 Tapi begitu dikabarkan anak perempuan, 10:50 kamu berikan hadiah dua kali lipat dan 10:52 kamu langsung bangun meninggalkan 10:54 majelis kamu. Dia mengatakan, "Tahu 10:56 tidak kamu apabila anak laki-laki 10:59 keluar, Allah berkata kepadanya, ukhruj 11:03 wa anta aun li abik." Keluar kamu jadi 11:05 pembantu orang tua kamu. Tapi kalau anak 11:08 perempuan keluar, ukhruji wa ana aun di 11:11 abik keluar kamu, saya yang akan bantu 11:13 orang tua kamu. 11:15 Lebih enak mah dibantu sama Allah. Apa 11:17 siapa? Iya. Iya. 11:20 Dan perempuan ini sering dipandang 11:21 remeh. Padahal pada saat ini kita lihat 11:24 berapa banyak perempuan yang lebih 11:26 peduli pada orang tua daripada anak 11:29 laki-lakinya yang dibawa lari sama 11:31 istrinya. 11:35 Ada kisah yang terjadi pada masa-masa 11:39 ee lalu di tengah-tengah bangsa Arab. 11:43 Ini true story yang diceritakan. 11:48 Seorang ayah menantikan kelahiran 11:51 anaknya. Istrinya sudah berada pada 11:53 saat-saat ya mau melahirkan anak. 11:58 Begitu 12:00 anaknya lahir ternyata perempuan. 12:03 Akhirnya waktu dikabarkan, "Ya Fulan, 12:07 istri kamu telah melahirkan anak." 12:09 Laki-laki atau perempuan? Dia mengatakan 12:11 perempuan langsung dia menjerit, "Ya 12:13 lailatus sauda, betapa buruknya malamku 12:16 ini yang hitam dan gelap gulita." 12:19 Jadi bukan bilang alhamdulillah, bukan 12:22 gembira, tapi dia mengatakan ya lailatis 12:24 sauda. 12:27 Akhirnya anak tersebut besar, anak 12:31 laki-lakinya dapat perhatian yang luar 12:33 biasa. Yang perempuan disepelekan. 12:36 Subhanallah. Di hari tua si ayah buta 12:39 matanya. 12:41 Si ya Bu. 12:43 Anak laki-lakinya yang dibanggakan semua 12:45 sibuk dengan urusan mereka masing-masing 12:47 dengan istri sama anak-anaknya. 12:50 Yang membersihkan badan si bapak ini 12:52 perempuan 12:54 yang memberikan makan. Perempuan yang 12:56 peduli anak perempuannya 12:58 tapi karena dia buta dia enggak tahu 13:00 siapa ini. Ditanya mana anti? Ya binti 13:03 siapa kamu? Dia mengatakan ana lailatuk 13:06 sauda. Saya malam kamu yang gelap 13:09 gulita. 13:12 Si bapak matanya berlinang-linang. Dia 13:13 mengatakan, "Ya laita layali kullaha 13:16 sauda." Coba seluruh malamku, maksudnya 13:19 seluruh anak-anaknya apa? 13:20 Perempuan. 13:20 Perempuan. 13:22 Dan ini subhanallah kalau ini terjadi di 13:25 masa lampau, ini terjadi baru-baru ini 13:27 belum lama. Artinya yang ibunya saya 13:29 jumpai hidup. 13:31 Bagaimana seorang bapak yang tadinya 13:34 kalau disebutkan anak laki-lakinya w 13:35 naim w naim disebutkan perempuan hmm 13:41 anak laki-laki diberikan modal anak 13:43 perempuannya tidak dapat perhatian. Eh 13:45 subhanallah si bapak stroke keluar air 13:48 liurnya enggak bisa apa-apa. Si anak 13:51 yang mandikan, bersihkan, berikan juga 13:54 pengharum ya yang berikan makan. 13:57 Si ibu langsung berkata pada bapaknya, 13:59 Pak, lihat tuh, siapa yang peduli anak 14:03 laki-laki apa perempuan? Si bapaknya 14:05 bisa meneteskan air mata. 14:08 Orang kalau peduli terhadap anak 14:10 perempuannya, menggauli mereka dengan 14:12 cara yang baik, memperlakukan ibunya 14:15 dengan cara yang baik, Allah bakal buka 14:17 pintu rahmatnya. Tapi di saat dia 14:20 meremehkan wanita, putri-putrinya dan 14:23 menganggap bahwa ini pembawa kesialan, 14:25 Allah akan angkat rahmat dari dirinya. 14:28 Jadi sayang sungguh sayang kita tidak 14:30 menghargai nikmat 14:32 yang Allah berikan. Di rumah ni kalau 14:33 ada laki-laki enggak ada perempuan, 14:35 enggak ceria. 14:38 Yang bikin terang rumah itu perempuan, 14:40 istri dan anak perempuan. Sedekah anak 14:42 laki-laki kan di luar. 14:44 Betul gak? 14:47 Begitu juga ada anak perempuan, enggak 14:48 ada laki-laki juga kurang apa? Kurang 14:50 sempurna. Tapi kehadiran perempuan itu 14:53 yang membuat rumah itu bercahaya. 14:57 Makanya Rasulullah contoh yang 14:59 sebaik-baiknya memperlakukan wanita 15:01 dengan mulia. Nah, apa yang dialami oleh 15:04 penanya? Dia diperlakukan dengan pilih 15:07 kasih oleh orang tuanya. Hanya anak 15:09 laki-laki yang diperhatikan. Sedangkan 15:11 dia selalu menerima pukulan. 15:16 dan KDRT. 15:19 Kemudian dia keluar dari rumah karena 15:21 dilecehkan. Kemudian dia menikah. 15:25 Pertama tidak disetujui orang tuanya. 15:26 Kemudian orang tuanya menikahkan dia. 15:30 Ketika dia melahirkan anak, suaminya 15:32 begitu peduli. Tapi begitu anaknya 15:34 meninggal dunia kembali, dia disakiti 15:36 dan dianiaya. 15:37 Dia putus asa dalam kondisi seperti ini. 15:41 Sebetulnya Allah tidak memaksa kamu 15:44 untuk melanjutkan hidup seperti ini. 15:47 Mungkin ibu memilih pasangan juga 15:51 mungkin tidak memilih-milih 15:54 atau mungkin hanya lihat penampilan. 15:56 Coba ibu kalau memilih pasangan minta 15:58 sama Allah petunjuknya. Istikharah. 16:01 Kemudian juga kita bertanya-tanya 16:03 bagaimana pribadinya. Jangan lihat 16:05 tongkrongannya dulu. 16:07 Jangan lihat juga uangnya. Akhirnya ibu 16:10 dijadikan sebagai apa? Sebagai komoditas 16:14 yang disepelekan. Tapi pilih pria-pria 16:17 yang mulia yang menghargai pasangannya, 16:19 yang menyadari bahwa hidup ini merupakan 16:22 amanat dan tanggung jawab. Jadi kalau 16:25 memang suami ibu KDRT 16:28 tidak memperlakukan ibu dengan mulia, 16:30 ibu bisa berpisah sama dia dengan sikap 16:34 perbuatannya. Ibu punya alasan untuk 16:35 mengajukan gugatan. Kemudian setelah itu 16:38 kalau ibu ingin berumah tangga lagi, 16:41 coba ibu minta kepada orang-orang yang 16:44 bijak untuk mencarikan buat ibu. Saya 16:48 pernah satu hari satu kali ya ee seorang 16:51 wanita datang ke tempat saya. Namanya 16:54 juga cukup bagus Khadijah. Dia 16:56 mengatakan, "Ustaz, saya sudah ingin 16:58 berumah tangga tapi tolong pilihkan buat 17:00 saya." 17:02 Berti dia terserah. 17:04 Kebetulan pada saat pengajian 17:07 ketemu satu orang kebetulan baru 17:10 ditinggalkan istrinya. Istrinya 17:12 meninggalkan dia. Mungkin karena status 17:14 ekonominya tidak mencukupi atau 17:16 katakanlah kurang menjanjikan. Karena 17:19 perempuan sekarang bukan kebutuhan 17:20 pokok. Dia mau bersaing dengan 17:22 teman-teman bisa punya ini, punya itu. 17:24 Betul gak? Selalu banding-bandingkan 17:26 suaminya dan membodoh-bodohkannya 17:28 dibandingkan suami orang lain. Tuh sudah 17:30 punya ini, sudah punya itu, dan lain 17:32 sebagainya. 17:34 Kalau suami bilang, "Ya, mereka kan 17:36 jalannya enggak bagus. Saya kan usaha 17:38 yang halal. Kamu sok tahu ah. Sok alim." 17:41 Betul enggak? Banyak yang seperti ini. 17:44 Subhanallah. Saya panggil, "Ya Fulan, 17:46 kamu mau nikah kan?" Tib coba kamu temui 17:49 dia bagaimana? Cocok enggak? Ni 17:51 perempuan minta saya carikan suami 17:53 ngobrol cuma setengah jam. T dua-duanya 17:56 bilang, "Cocok, Ustaz. 17:59 Cocok langsung kita nikahkan. 18:03 Allah kasih. Alhamdulillah. Setelah itu 18:05 dia apa? Bekerja maju usahanya 18:08 dengan rahmat Allah. Punya beberapa 18:11 anak, anak-anaknya juga pendidikannya 18:13 juga cukup bagus. 18:15 Jadi kalau kita lihat rahmat keberkahan 18:18 tu turun pada pasangan yang betul-betul 18:21 memilih atas dasar apa? Keridaan Allah. 18:24 Saya waktu menikah 18:27 saya memilih beberapa orang tanpa 18:30 sebelumnya kenal tapi istikharah. Ya 18:31 Allah kalau cocok mudahkan, kalau tidak 18:33 jauhkan. Melamar satu ditolak, melamar 18:36 dua ditolak. Jadi jangan dianggap ustaz 18:38 nih apa namanya gampang-gampang menikah. 18:42 Apalagi pada saat itu ustaz itu namanya 18:44 kurang bagus. 18:46 Dianggap ustaz tukang kawin entar nguruk 18:49 istrinya, ustaz kurang tanggung jawab. 18:52 Ini kejadian kurang lebih hampir 40 18:53 tahun yang lampau kan. 18:56 Anak saya yang paling besar sudah hampir 18:57 40 tahun. 38 tahun 39. 19:01 Allah kasih 19:03 melamar yang terakhir tanpa melihat sama 19:06 sekali mukanya. Cuma orang ceritakan 19:07 kebaikannya ya diterima. 19:10 Pada saat itu satu peser pun saya enggak 19:12 punya uang. Mau naik mikrolet masih 19:14 belum punya uang. Jadi kalau ngajar itu 19:16 terkadang kita enggak punya ongkos. 19:19 Allah kasih alhamdulillah. 19:22 Begitu kita diterima datang rezekinya 19:24 dengan murah. Karena kita nikah dengan 19:27 istikharah minta sama Allah. Jadi coba 19:30 istikharah jangan tergesa-gesa 19:32 pacar-pacaran dengan alasan untuk lebih 19:35 mengenal. Bukan saling mengenal malah 19:36 makin tidak tahu. Karena dua-duanya 19:39 menutupi apa? 19:40 Menutupi hakikat dirinya. Yang suka 19:42 ngomong kasar kalau ngomong alus 19:44 gemulai. Ternyata begitu berumah tangga. 19:48 Waliyadubillah. Ucapannya bagikan 19:50 sembilu. 19:52 Jadi mohon petunjuk dari Allah Subhanahu 19:56 wa taala. Tinggalkan suami-suami yang 19:59 betul-betul tidak bertanggung jawab 20:01 memperlakukan istri dengan cara yang 20:02 kasar. Suami semacam ini tidak ada 20:06 harganya. Ora anarkone katanya. 20:10 Adapun kasus yang kedua, 20:14 banyak anak-anak zaman sekarang 20:17 membuat takut orang tuanya. Apalagi 20:19 kalau sudah punya pekerjaan mapan, punya 20:22 usaha, dia yang memberikan nafkah buat 20:25 orang tuanya. Kalau orang tua dulu 20:27 memberikan nafkah buat anaknya, ngalah 20:29 sama anak. Anak nakal sabar, anak bantah 20:33 sabar. Betul gak? Malah orang tua bilang 20:36 lucu. Betul gak? Iya. Tapi begitu si 20:40 anak mulai kuat, mulai dewasa, mulai 20:44 mampu, mulai menindas orang tuanya, 20:46 bahkan sampai-sampai ibunya dijadikan 20:49 pembantu rumah tangga untuk mengurus 20:52 anak-anaknya. 20:55 Nah, ini sering kita jumpai kasus 20:57 seperti ini. 20:59 Anak menjadikan ibu sebagai pembantu 21:02 rumah tangga, mending digaji. 21:06 Jadi, seharusnya dia perintahkan anaknya 21:08 untuk menghormati neneknya, tapi 21:10 sebaliknya dia sepelekan ibunya. 21:12 Akhirnya anak-anaknya juga kurang ajar 21:14 terhadap ibunya. Ini kedurhakaan tiada 21:17 tara yang bisa menjerumuskan orang kekal 21:19 dalam azab api neraka. 21:22 Karena setelah hak Allah kita 21:25 menyembahnya, tidak mempersekutukannya 21:26 dengan sesuatu, 21:28 yang kedua adalah hak orang tua. Waqbuka 21:32 alla tabudu illa iyah wabil walida 21:35 ihsana. Sampai dalam bicara kita 21:37 diperintahkan lemah lembut, bahkan 21:39 merendahkan sayap kita. Wagfir lahuma 21:41 jana minarahmah. agar kita mengenang 21:45 kebaikan dia. Terutama ibu hamil 9 21:48 bulan, menyusui 2 tahun, ternyata sudah 21:51 bapak-bapak pun ibu masih khawatir kalau 21:54 anaknya sedih atau susah. Kenapa, Nak? 21:57 Ada apa, Nak? Kita lihat bagaimana ibu 21:59 tuh perhatian sama anaknya walaupun 22:01 sudah lanjut usia. 22:03 Kalau dia susah gara-gara istrinya, si 22:05 ibu lebih sedih hatinya. Tapi bahagia 22:09 bahagia yang didapatkan lebih banyak ke 22:10 istrinya daripada ke ibunya. Kalau 22:12 ngasih ibu kok terus-terusan Mi. Baru 22:15 kemarin anak kasih. Tapi kalau sama 22:18 istrinya, sama anaknya tiap pagi belanja 22:22 sekian. Dikurangi belanjanya 22:23 ngamuk-ngamuk. Betul gak? Tapi kalau Ibu 22:27 coba lihat sudah ngasih senyum lagi 22:30 penuh kepedulian. Jadi kalau 22:32 sampai-sampai 22:34 anak-anak seperti ini ya ada sebabnya. 22:38 Mungkin tidak idik agamanya dengan baik 22:40 untuk takut pada Allah. untuk mengenal 22:43 kewajiban dia hanya disenangkan, 22:46 dimanjakan, diberikan macam-macam, tapi 22:48 enggak diingatkan kepada Tuhannya. 22:51 Atau akibat dari pergaulan di luar. 22:53 Biasanya kalau anak-anak kena narkoba, 22:56 kena minuman keras, kena pergaulan sama 22:58 perempuan enggak karuan, itu sikapnya 23:00 berubah. 23:02 Jadi pendidikan agama itu merupakan hal 23:05 yang pertama kita berikan buat anak kita 23:08 sebelum belajar di SD, di SMP, SMA atau 23:11 perguruan tinggi. Kalau itu anak tahu 23:14 agama, takut kepada Allah, hormat 23:17 padanya, walaupun enggak tamat SD bisa 23:19 jadi anak yang saleh. Masyaallah. 23:22 Ilmu menyempurnakan dia. Tapi walaupun 23:25 pendidikannya tinggi, 23:27 tamat dari Harfat, tapi kalau tidak 23:30 kenal Allah dan takut padanya, dia bisa 23:33 kurang ajar terhadap orang tuanya. 23:34 Memandang remeh dianggap ibunya dari 23:36 kampung, bapaknya petani. Kalau datang 23:39 ke rumahnya bawa ayam, bawa apa? Bawa 23:42 ayamnya hidup-hidup sama bawa singkong. 23:45 Si anak malu. Ditanya sama tamunya, 23:47 "Siapa itu?" Pembantu saya. 23:50 Astagfirullah. Padahal orang tua terus 23:52 ti dia merasa malu ibunya dari kampung 23:55 ya sama bapaknya penuh kecintaan datang 23:57 bawa ayam bawa hasil sayur-mayur masuk 24:00 ke rumahnya disuruh jalan belakang 24:03 dia enggak sambut sama sekali orang tua 24:07 kita lihat ya bagaimana perbedaan orang 24:10 tua yang tidak berhitung dengan anak 24:12 yang selalu dalam tindak tanduknya 24:14 memperhitungkan kehormatan dia, nama 24:17 baik dia. Kalau Bapak, Ibu semua itu 24:20 dikorbankan untuk anak-anaknya. Maka 24:23 anak-anak yang durhaka semacam ini 24:25 walyadillah. 24:27 Bahkan kita lihat anak-anak perempuan 24:30 memasukkan ibunya ke rumah jombo. Sampai 24:33 akhirnya kepala rumah jompo mengatakan, 24:35 "Kalau kamu serahkan, kamu jangan ambil 24:36 kembali. 24:38 Senang ketawa lagi. Bukan nangis malah 24:41 guyuh. Kan aneh luar biasa kan? Jadi ke 24:44 mana rasa rahmat saat ini? Begitu juga 24:46 kalau enggak tahu agama, tamat dari 24:48 Harvard, tamat dari apa? Oxford, 24:52 berdasi, berilmu, korupsi. 24:55 Kalau mau jadi korupsi enggak harus 24:57 belajar di Harvard. Betul gak? 24:59 Belajar sama kalangan-kalangan bawah 25:02 bisa lebih ahli. 25:04 Tapi sayang semua itu ternyata tidak 25:06 berguna. Kecuali kalau hati seseorang 25:09 takut kepada Allah, hormat padanya, baik 25:11 dalam kesendirian maupun dalam 25:13 keramaian. Maka untuk orang-orang tua 25:14 sekarang, bagaimana bisa menjadi anak 25:17 yang saleh? Didik dari mulai kecil untuk 25:19 takut pada Allah. Utamakan Allah 25:21 daripada yang lain. 25:23 Kalau dia salatnya tidak perhatian, 25:25 marahin boleh. 25:28 Lebih utamakan hal ini. Nah, baru nanti 25:30 dengan sendiri dari hatinya muncul rasa 25:32 peduli, takut pada orang, takut pada 25:34 Allah, sayang pada orang tuanya. Bahkan 25:37 ada anak-anak yang keras, luar biasa 25:40 keras. Tetapi kalau dapat penghasilan 25:43 semua diserahkan pada ibunya. Ibunya 25:45 yang bagi, 25:47 istrinya 25:48 terima bahagiaan dari ibunya. Si ibu 25:50 kebetulan orang bijak, cuma 25:53 menggambarkan bagaimana hormat anak pada 25:55 ibunya dan dibilang sama istri, "Saya 25:57 bisa maafkan kamu kalau menyangkut 25:59 urusan saya. Tapi kalau terhadap ibu 26:02 saya kamu main-main, saya tidak akan 26:05 lagi pedulikan kamu." Kita lihat. 26:07 Akhirnya karena si anak hormat pada 26:09 orang tuanya, istrinya juga apa? Untuk 26:11 mendapatkan kecintaan dari suami dia 26:13 ambil hati mertuanya. 26:15 Jangan kalau orang tua datang enggak 26:17 disambut, enggak dihormatin, bahkan suka 26:19 ngerutu, "Ibu nih, ibu nih, bapak nih, 26:21 bapak nih." Nah, istri kita belajar 26:23 kurang ajar. 26:25 Belajar kurang ajar terhadap orang tua 26:28 kita. Jadi, didik anak kita untuk 26:31 hormat, takut kepada Allah. Insyaallah 26:33 mereka akan hormati kamu, akan sayang 26:36 kepada kamu, akan mempedulikan kamu, 26:38 mengutamakan kamu dari yang lain. 26:41 Wallahuam. 26:42 Masyaallah. 26:45 Waktu yang kita miliki, yang memberikan 26:48 pengingat ini sungguh sangat luar biasa. 26:51 Jadi mudah-mudahan kita semakin mampu 26:54 mengoptimalkan bakti kita kepada ayah 26:57 bunda. Sementara sebagai ayah bunda kita 27:00 juga semakin mampu menjadikan anak-anak 27:03 kita mengenal Allah lebih dekat. 27:07 Dan 27:09 susah banget mau ngomong rasanya. 27:11 Bagaimana yang akan disampaikan oleh 27:13 Ustaz Abu Bakar terkait dengan perilaku 27:16 pria yang sedemikian rupa terhadap 27:19 istrinya. tinggalin aja kali ya atau ee 27:23 bagaimana anak-anak terhadap orang tua 27:25 dan sebaliknya. Yuk kita simak dengan 27:27 telinga jiwa kita. Silakan. 27:31 Bismillahirrahmanirrahim. 27:33 Asalamualaikum warahmatullahi 27:36 wabarakatuh. 27:37 Waalaikumsalam warahmatullahi 27:39 wabarakatuh. 27:41 Alhamdulillah. Segala puji dan syukur 27:45 kepada Allah. 27:47 Ketika kita mendapatkan 27:51 pujian 27:52 dari orang-orang, 27:55 kita akan merasa senang. Tapi ketika 27:58 kita tidak mendapatkan pujian, kita 28:01 merasa jenuh. 28:04 Nah, ini tandanya bahwa pujian-pujian 28:09 dari Allah dia tidak pernah dapatkan. 28:12 karena dia membutuhkan orang lain. Maka 28:15 dari itu ketika kita mendapatkan pujian 28:19 dari Allah, ketentuan dari Allah, 28:23 semua-semua yang dapatnya dari Allah, 28:26 kita ucapkan alhamdulillah. 28:30 Ketika kita mengucapkan alhamdulillah, 28:33 kita bersyukur kepada Allah. 28:36 Ketika kita bersyukur kepada Allah, di 28:39 situ rahmatnya Allah penuh dengan 28:42 berbagai macam. 28:44 Ketika kita melakukan sesuatu, kita 28:47 mendapatkan kita bersyukur kepada Allah. 28:53 Ini yang pertama kita lihat 28:57 seorang yang berjuang. 29:01 berjuang dari kecil, besar, SMP, SMA, 29:07 kuliah dan kemudian dia berkeluarga. 29:14 Perjuangannya dia bukan sia-sia. 29:17 Dia berjuang terus, dia putus asa, dia 29:22 enggak bisa. Dia selalu dari SMP, dari 29:27 SD, SMP, SMA dapat marahan yang luar 29:32 biasa. Dari siapa? Dari papanya. 29:37 Dia dimarahin, 29:39 dipukul, 29:41 dia enggak mau menyerah. Dia berjuang 29:44 dapat nilai, "Ha kamu apaan sih? 29:48 Dikatakan apaan sih? 29:53 Dia masih berjuang, dia sedih, dia 29:56 nangis, dia enggak tahu apa yang dia 29:59 harus lakukan. Dia menyerah. 30:02 Tapi panggilan, perjuangan dia 30:05 terus-menerus 30:10 lagi berjalan, lagi melakukan sesuatu, 30:13 dia pukul, tidak boleh pergi, tidak 30:15 boleh main. 30:17 Bagaimana kehidupan seperti itu? 30:21 Mamanya diam saja, tidak berkutik 30:26 terhadap papanya. 30:30 Tapi kalau sama adiknya luar biasa. 30:34 Kalau ngomong lembut, sayang, memberikan 30:38 sesuatu. Tapi kalau sama anak perempuan 30:41 ini dia minta tidak pernah ada. Paling 30:45 seadanya. Seadanya. 30:50 Makan pun seperti itu baru mau 30:53 mengambil. Eh, jangan dihabisin tuh. 30:56 Hati-hati. 30:58 Lihat adikmu kasihan tuh belum makan. 31:01 sampai seperti itu 31:05 dia tidak pernah merasakan 31:09 rasa senang, rasa bahagia dan dia tidak 31:13 pernah bisa menikmati, tapi dia 31:16 menikmati apa yang Allah berikan. 31:20 Dia berjuang terus. Dia berjuang terus. 31:24 Dia berjuang terus. Dia sampai ke 31:27 sekolah SMP, mukanya ditabuk sampai 31:32 merah, tangannya sudah penuh dengan 31:34 berbagai macam perlakuan dari papanya. 31:39 Tapi dia tetap teman-temannya 31:41 mengatakan, "Kenapa kamu?" "Oh, saya 31:44 jatuh." Dia tidak pernah bilang dari 31:48 papanya 31:50 dan dia tidak pernah mengadu sama 31:52 siapapun. 31:56 sampai kuliah. Sampai kuliah dia diam, 32:00 dia menangis sama salah satu dosen. Dia 32:04 menangis, dia merintih, "Saya sudah 32:07 tidak sanggup." Kemudian dosen tersebut 32:11 memberikan dia untuk kuliah 32:16 sampai selesai. 32:19 ketika selesai sebelum lagi asik kuliah 32:23 karena jauh rumahnya. Maka ketika kuliah 32:26 dia tinggal bersama di misanan dari 32:30 ibunya. Dia tinggal di sana. 32:35 Belum seminggu 32:37 laki-laki itu mulai menggerayangi 32:41 dirinya. Dia tolak. Dia langsung pergi 32:47 baik banget. 32:49 Tapi dia tidak pernah. Ini adalah ujian. 32:53 Setelah selesai dia akan berusaha bahwa 32:57 saya ingin keluar dari rumah ini. Saya 32:59 ingin keluar dari rumah ini. Bagaimana 33:03 saya harus menikah? 33:06 Ketika ketemu seorang laki-laki, dia 33:08 lihat bahwa udah yuk kamu nikah. Tidak 33:11 terjadi beberapa bulan dia sudah 33:13 menikah. 33:17 Ketika dia menikah dengan senang 33:19 walaupun papanya tidak suka, 33:24 papanya tidak menyenangkan, 33:28 papanya tidak suka, 33:31 papanya tidak bermarah-marah, 33:35 dia kesal, dia yakinkan sama dirinya. 33:40 bahwa saya harus keluar. 33:43 Dia keluar, dia menikah. 33:45 Ketika dia menikah, dia senang. Dia 33:48 bersenang, bergembira, dia bangga, dia 33:52 bahagia karena suaminya baik banget. 33:58 Ketika hamil dia senang. 34:02 Dan ketika itu berbagai macam peristiwa 34:05 yang terjadi pada dirinya. 34:07 Walaupun dalam kehamilan, orang tuanya 34:10 tidak mensetujui, tidak suka dengan 34:13 kehamilannya. Dia 34:16 suaminya suka dan tidak suka, apa yang 34:21 terjadi kita enggak tahu. 34:24 Dia menangis, dia berjuang terus sampai 34:28 akhirnya melahirkan. Waktu melahirkan 34:32 sebulan, 2 bulan, 3 bulan Allah uji lagi 34:37 diambillah anak itu. 34:40 Dia sedih, dia enggak bisa berbuat 34:43 apa-apa. Dia baru bisa berbahagia tapi 34:46 kemudian dia ambil. Kemudian suaminya 34:50 tidak bisa diam. Dia marah, dia kesal, 34:55 dia KDRT. Tapi sayang. Tapi sayang. Tapi 34:59 dia marah. 35:03 Apa yang terjadi pada saat itu? 35:07 Kalau kita perhatikan 35:10 seorang anak yang sedang berjuang, yang 35:15 tidak tahu bagaimana hidupnya di 35:18 kemudian hari, dia tidak pernah 35:21 merasakan 35:24 karena orang tuanya, 35:27 tapi dia berjuang, dia ber dia tidak 35:31 pernah bisa menolak 35:34 perbuatan-perbuatan itu. itu. Tapi apa 35:37 yang terjadi? Dia terus terima terima 35:40 terima terima, terima, terima. Dia 35:43 enggak pedulikan 35:47 apa yang terjadi. 35:49 Yang terjadi ketika suaminya berbicara, 35:53 dia mulai menunjukkan 35:56 tidak suka. 35:58 Tidak suka. Suaminya berbicara sedikit, 36:02 dia menunjukkan tidak suka. Ini seperti 36:05 papa. 36:07 Akhirnya diperlakukan seperti papa. 36:10 Ketika ngelihat papanya dia akan 36:12 dilakukan sama seperti papa. Pada 36:14 misanannya pun akhirnya dia dilecehkan 36:17 dan semuanya yang terjadi 36:22 karena bayangan pikirannya dia adalah 36:26 papanya. 36:29 Bayangan-bayangan yang terjadi adalah 36:32 papanya. Dia enggak tahu bagaimana dia 36:35 bisa bertemu dengan seorang laki-laki 36:37 yang baik. 36:40 Tiap dia melihat laki-laki pasti ini 36:43 papanya. Pasti terbayang adalah papanya. 36:47 Dan dia tidak suka 36:49 tapi dia pengin berkeluarga. 36:53 Karena bukan berkeluarga yang 36:55 diinginkan. bukan berkeluarga yang 36:58 diinginkan dia keluar dari rumah itu 37:04 yang diinginkan dia keluar dari rumah 37:06 itu dan dia bisa bersama seorang suami. 37:10 Ternyata apa yang terjadi? 37:14 Tersiksa. Dan yang paling 37:18 penting di sini bagaimana 37:21 dirinya bisa bersih dari papanya. 37:26 Papanya yang harus kita bersihkan. 37:29 Pikiran dari papanya itu yang harus 37:31 dihilangkan baru dia bisa bertemu 37:34 seorang laki-laki yang baik. 37:39 Jadi apa yang terjadi? Karena 37:41 pikiran-pikiran, perbuatan-perbuatan 37:44 papanya itu yang membuat dirinya 37:47 tersiksa. 37:50 Jadi yang perlu diperhatikan adalah 37:52 bagaimana dia menghilangkan pikiran 37:54 papanya. Katakan dia papaku bukan aku. 38:00 Dia jahat dia itu dulu bukan sekarang. 38:05 Saya harus berjuang. Teruskan 38:08 kata-katakan itu papaku bukan aku. Itu 38:13 tekankan apa-apa yang terjadi pada 38:16 dirinya dia bahwa itu tidak pernah 38:19 terjadi. Itu dia tidak inginkan. Dia 38:22 katakan tidak pernah terjadi. Lakukan 38:25 sesuatu. Biarkan saja pikiran itu 38:28 mengejar mengejar dia, dia tinggalkan. 38:32 Yang dia pikirkan adalah kebaikan. 38:37 Yang diperhatikan adalah kebaikan. 38:40 Bagaimana papanya bisa memberikan 38:42 kebaikan? Ada. Walaupun 38:45 sejahat-sejahatnya 38:47 pasti ada kebaikan. Sedikit. Sedikit. 5% 38:52 atau 2% atau 1% 38:56 pasti ada kebaikan yang terjadi pada 38:59 papanya. 39:02 Itu yang kita lihat. 39:05 Itu yang kita perhatikan. Yang kita 39:08 perhatikan kebaikannya. 39:10 Kalau kebaikan itu yang kita perhatikan, 39:13 kita sayangin, kita tentukan, pasti kita 39:17 akan mendapatkan kebaikan. 39:21 Karena kebaikan itu akan mendatangkan 39:24 kebaikan-kebaikan. 39:29 Jadi yang paling penting di sini adalah 39:32 bagaimana dia menghilangkan 39:34 perbuatan-perbuatan yang negatif, yang 39:37 menyakitkan dirinya, yang dia tidak 39:39 sukain. Dia hapuskan. Hapuskan. 39:44 dia bisa menghapuskan, melepaskan, 39:50 dia bisa melepaskan, maka dia akan 39:53 menjadi yang terbaik. 39:56 Lakukan satu hal yang terbaik. Jangan 40:01 rasakan penyakit ini adalah dirinya. 40:06 Katakan itu tidak pernah terjadi. 40:09 Itu tidak pernah terjadi. Yakinkan bahwa 40:13 perbuatan-perbuatan yang dia terima, 40:15 yang dia lakukan, yang dari papanya 40:18 menjadikan kepada suaminya, pada 40:20 teman-temannya yang seorang laki-laki 40:23 yang dianggap dia itu papanya, dia akan 40:26 hilang. 40:28 Perhatikan, kalau kita lakukan perbuatan 40:32 baik, 40:33 insyaallah perbuatan baik itu yang 40:35 terjadi. 40:38 Perbuatan baik yang seperti mana? 40:40 Seperti yang tadi kita dengarkan dari 40:42 Ustaz Husin, bagaimana seorang bapak 40:46 terhadap anak putrinya, 40:49 pada anak putranya kita harus bisa 40:51 bedakan. Itu yang penting. 40:56 Kalau kita bisa lakukan, insyaallah 40:59 bisa. Namun ini yang terjadi pada 41:03 dirinya seorang putri. Lepaskan 41:06 perbuatan-perbuatan negatif, katakan itu 41:09 tidak pernah terjadi. Yakinkan. Lakukan 41:12 perbuatan yang baik, perbuatan yang 41:14 baik. Perbuatan yang baik. Insyaallah 41:17 dia akan menjadi yang baik. 41:21 Satu lagi 41:21 insyaallah. Oke. Satu lagi. 41:25 Yang satu lagi 41:27 bahwa bagaimana merasa merawat anak-anak 41:32 kita agar supaya dia bisa benar-benar 41:38 menjadi orang-orang yang terbaik. 41:42 Jadi, ada tiga poin atau tiga ee tahapan 41:46 yang kita harus lakukan ya. 7 tahun 41:49 pertama, 7 tahun kedua, 7 tahun ketiga. 41:55 7 tahun pertama kita ketahui anak itu 42:00 masih berkeinginan, masih mau ke sana, 42:03 mau ke sini, lari ke sana, lari ke sini, 42:07 kita biarkan. 42:11 Jadi anak-anak 7 tahun pertama itu 42:14 bagaikan seorang raja, bagaikan seorang 42:17 yang penuh dengan berbagai macam. Dia 42:20 semangatkan, dia lari. Bukan langsung 42:22 salat dulu umur 4 tahun, ayo salat, ayo 42:25 salat. Bukan. 42:29 Jadi berikan kebebasan. Dia bermain, dia 42:32 lari ke sana, dia lari ini. Bebaskan 42:35 dirinya. 42:37 Nah, itu yang akan kita dapatkan setelah 42:42 7 tahun dia sudah merdeka, dia sudah 42:45 bebas, dia sudah melakukan segala 42:48 sesuatunya, maka dia senang. 42:52 Masuk pada 7 tahun berikan pengertian. 42:59 Jadi 7 tahun dengan sampai 14 tahun 43:02 berikan pengertian-pengertian 43:04 dirinya. 43:07 kita berikan mulai sedikit demi sedikit 43:10 kenalkan di usia 7 tahun mulai 43:13 dikenalkan 43:14 apa itu salat. Sebelumnya kita kenalkan 43:18 Allah, kenalkan Allah semuanya kita 43:21 perhatikan di 7 tahun sampai 14 tahun 43:25 kita berikan pengertian 43:30 mulai memberikan informasi. Oh, Nak, 43:33 kalau kamu melakukan itu nanti bahaya. 43:38 Oh, iya. Nah, itu 7 tahun kedua. 7 tahun 43:42 pertama enggak perlu gitu. Nanti bahaya 43:45 nanti bahag 43:47 nanti. Jangan kita ambil, kita taruh 43:51 yang baik, kita terahkan kepada yang 43:54 baik. Ketika dia memegang gelas yang 43:58 besar, kita pegang gelas yang besar, 44:01 kita tunjukkan dia gelas yang kecil agar 44:03 supaya megang. 44:06 Anak itu lari lari lari ke sana. Kita 44:08 bilang, "Yuk, kita lari ke sini. 44:10 Lari-lari di rumah. Eh, coba kita main 44:13 di luar yuk." Jadi jangan kita marah 44:18 ketika dia seperti itu. 44:22 Jadi, kita enggak perlu marah. 44:26 Yang kedua adalah memberikan pengertian. 44:29 Yang pertama berikan dia kebebasan. 44:32 Berikan tidak ada larangan. Yang kedua 44:36 adalah memberikan pengertian. Ketika 44:39 pertama kali dia belum bisa memahami, 44:42 belum mampu mengerti, kita berikan 44:46 pengertian sekali, dua kali, tiga kali, 44:50 teruskan sampai dia masuk. 44:54 Kenalkan 44:57 itu salat, mama lagi salat. Bukan ayo 45:00 salat di umur 7 tahun, 8 tahun harus 45:02 salat. Tidak. 45:05 Ketika dia mau salat, biarkan salatnya 45:07 dia. Berikan kesempatan dia kita 45:10 berikan. Nah, salat itu seperti ini. 45:14 Bagaimana salat? 45:17 Kenalkan Allah. Ingatkan bahwa ini semua 45:21 dari Allah. Jadi dari 0 tahun sampai 45:24 dengan 14 tahun sampai dengan 21 tahun 45:28 kenalkan Allah pasti 45:32 dalam 14 tahun adalah berikan pengertian 45:38 di 14 sampai 21 adalah proses di mana 45:42 dia akan mengaplikasikan. 45:46 Kita hanya menunggu. 45:48 Ketika dia melakukan kesalahan, kita 45:50 sebutkan coba kamu lakukan itu yang itu 45:54 salah. 45:56 Jadi kita tegaskan 45:58 itu salah. Cuman sedikit saja kita 46:02 tegaskan itu salah. Kamu lakukan ini. 46:04 Kerjakan. Dia masih melakukan lagi 46:07 katakan itu salah. Lakukan yang baik. 46:10 Ada kata-kata yang baik dan kerjakan, 46:14 kerjakan, kerjakan yang baik, yang baik, 46:16 yang baik sampai 21 tahun. Jadi kita 46:20 ketahui 7 tahun pertama, 7 tahun kedua, 46:24 7 tahun ketiga, didiklah anakmu agar 46:28 supaya sampai dengan 21 tahun dia 46:32 menjadikan merdeka dan dia akan dan dia 46:35 akan benar-benar kepada orang tuanya dan 46:39 dia akan sayang sama orang tuanya. 46:42 Dan yang lebih penting, yang lebih 46:45 penting ketika kita melihat dari 0 tahun 46:50 sampai besar sampai 21 tahun sampai 21 46:55 tahun tidak ada yang namanya marah, 46:59 melarang 47:01 dan bertindak yang kasar tidak terjadi. 47:06 Dan yang kedua tidak menyalahkan 47:09 dirinya. 47:11 Dan yang ketiga, tidak banyak bertanya, 47:14 berikan pernyataan-pernyataan. 47:17 Kalau tiga poin ini tidak marah, tidak 47:20 memberikan penyalahan, dan tidak banyak 47:24 bertanya, insyaallah anak-anak kita akan 47:28 menjadi yang baik. 47:30 Insyaallah. Amin. 47:32 Amin. Hari ini, Ikhwan Akhwat, wahai 47:36 para pria, coba dengarin dari apa yang 47:39 Ustaz ee Husein katakan tadi dan mungkin 47:45 masih bisa closing statement, Ustaz. Ada 47:48 kalimat yang mengatakan surga di bawah 47:50 telapak kaki ibu. Luar biasa nilainya 47:53 seorang ibu. Tapi dari faktanya seperti 47:55 yang kita dengar seperti tadi. Silakan. 47:59 biasanya ya ini menjadi satu 48:03 sunah 48:05 anak-anak yang berbakti pada orang 48:07 tuanya 48:09 dengan segala kekurangan orang tuanya 48:12 di saat dia punya anak-anak yang 48:15 berbakti padanya. Dan saya saksikan 48:17 depan mata saya sendiri 48:21 seorang ayah bakti kepada ibu bapaknya 48:24 yang luar biasa, 48:26 terutama kepada ibunya. 48:28 kebaktian yang orang anggap mungkin 48:31 dianggap tidak waras karena ibunya di 48:34 atas segala-galanya. 48:37 Subhanallah. Begitu dia berumah tangga, 48:39 dia memiliki anak di terhadap 48:41 anak-anaknya keras yang luar biasa. 48:44 Mungkin kalau saya ngalami saya enggak 48:46 sanggup. 48:47 Tapi ternyata anak-anaknya itu luar 48:50 biasa cinta pada orang tuanya. Cinta 48:53 pada orang tua yang luar biasa. 48:55 Orang tua bersikap apapun si anak tidak 48:58 berubah cintanya. Penuh rasa khawatir 49:01 orang tua. Kenapa? 49:04 Karena dia 49:07 orang tuanya pada saat ibunya masih 49:10 hidup luar biasa kebaktiannya. Biru 49:12 abakum tabarukum abnaukum. Berbaktilah 49:15 pada orang-orang tua kalian. Anak-anak 49:18 kalian akan berbakti pada kalian. Jadi 49:21 kalau seandainya ada orang tua merasa 49:23 dikurang ajari oleh anak, perlu juga 49:25 ngoreksi. Mungkin dia terhadap orang 49:27 tuanya dulu 49:30 tidak memberikan perhatian. 49:33 Padahal orang tua itu betul-betul 49:35 setelah Allah hak mereka itu mesti kita 49:38 penuhi. 49:40 Kita bersyukur kepada mereka. 49:42 Sampai-sampai seandainya mereka orang 49:44 kafir pun Allah tidak rida kalau kita 49:46 sakiti mereka. 49:47 Jangan ikuti permintaan mereka, tapi 49:50 tetap kita harus menggauli mereka 49:53 sebagai orang tua kita. Inilah indahnya 49:56 ajaran Islam tidak pernah melupakan budi 49:58 kebaikan seseorang. 50:01 Demikianlah ikhwan akhwat yang dirahmati 50:03 Allah, insyaallah kita berjumpa kembali 50:05 ee di bulan Ramadan mungkin bisa tiga 50:07 kali mungkin ya. 50:09 Insyaallah dengan kehadiran Ustaz Abu 50:11 Bakar yang penuh senyum Puning juga 50:14 dengan pancaran cahayanya insyaallah 50:16 dapat memberikan solusi buat 50:17 problema-problema 50:19 mereka-mereka yang mendengarkan kajian 50:21 kita. Subhanakallahumma wabihamdik 50:24 ashadu alla ilahailla anta astagfiruka 50:26 wa atubu ilaik walu minkum. 50:29 Wasalamualaikum warahmatullahi 50:32 Waalaikumsalam warahmatullahi 50:34 wabarakatuh. Terima kasih Ustaz Husein, 50:37 Ustaz Abu Bakar Baraja dan Ikhwan 50:40 akhwat. Mudah-mudahan di Ramadan yang 50:43 berlimpah berkah ini kita dapat lebih 50:45 optimal bukan hanya melakukan hal-hal 50:49 yang akan memudahkan terbukanya pintu 50:52 surga, tetapi juga hal-hal yang membuat 50:55 kita menjadi lebih bermanfaat di dalam 50:59 menjalani hari-hari kita. Sekali lagi 51:01 terima kasih. Billahi taufik wal 51:02 hidayah. Wasalamualaikum warahmatullahi 51:05 wabarakatuh.