Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 muncul tokoh namanya Anis Baswedan yang 0:03 kemudian ya apa yang dibicarakan oleh 0:05 Pak Prabowo mesti ramai, apa yang 0:06 dibicarakan oleh Anis mesti ramai. 0:08 [tertawa] Kalau ini sering bicara ya 0:10 maka akan mengkerut Prabowo 0:14 [musik] 0:15 TV. 0:20 Asalamualaikum warahmatullahi 0:22 wabarakatuh. Apa kabar, Bang? 0:24 Waalaikumsalam warahmatullah 0:26 wabarakatuh. 0:27 Masyaallah. Jakarta atau di luar kota 0:30 nih Mas Toni? di Jakarta ini Pak mendung 0:33 ya. 0:34 Jakarta mantap. Iya mendung sedap ya. 0:36 Dinginnya kadang-kadang wah luar biasa 0:38 ya. Tapi ya begitulah cuaca lagi luar 0:41 biasa ya. Sebagaimana cuaca perekonomian 0:44 kita juga menjadi sorotan akhir-akhir 0:46 ini ya. Ada orang namanya Perry Wargio 0:50 sudah 7 tahun di BI. Kiris itu di 0:52 antaranya buah tangan beliau. tampaknya 0:56 akan menjadi sebuah cerita di balik 0:58 cerita mungkin Mas Toni tahu apa di 1:00 balik cerita ini pengunduran beliau yang 1:03 rentetan dari pengunduran 1:04 pejabat-pejabat keuangan sebelumnya juga 1:07 ada KPK yang membuat statement tersangka 1:11 kasus korupsi dana CS BI OJK ndak ndak 1:14 ndak bantah feri bukan tersangka 1:17 demikian kisah yang baru saja baru saja 1:20 sama saya bacakan juga republik ini dulu 1:22 pernah punya produksi Pesawat luar biasa 1:25 Tetuko. Tapi kok saya kaget lihat si 1:28 Mork ini tahu-tahu Iran meluncurkan 1:31 pesawat ini luar biasa negeri yang satu 1:33 ini di tengah kesederhanaan para 1:35 pejabatnya dan pemerintah ingin terapkan 1:39 aturan kewarganegaraan. Nah, Mas Toni 1:42 minat enggak nih? Tapi katanya sih untuk 1:45 pemain bola dan lain-lain. Dan pendengar 1:47 kita ada nih yang di Kanada, di New 1:49 Zealand dengarnya nih mesem-mesem saja 1:51 tapi harus punya nilai lebih nampaknya. 1:53 Sementara ada pejabat yang mengatakan, 1:56 "Kalau gak senang di sini pergi aja 1:58 dulu." Dan Anda lihat sebuah ee keadilan 2:02 sedang dipertontonkan ketika Febri ee 2:06 tokoh yang satu ini tidak mengenakan 2:08 rompi tersangka pada saat penahanan 2:11 baru-baru ini. Dan di sebuah pertemuan 2:15 MUI koruptor dihukum mati menjadi sebuah 2:19 catatan banyak ini kalau mau dikerjakan 2:21 ini tentang hukuman mati ini. apa yang 2:24 ingin Mas Toni ee sampaikan dari 2:27 berbagai kisah, berita-berita yang 2:29 berseliwuran. Silakan, Mas Toni, kami 2:32 berikan kesempatan ber kurang lebih 25 2:35 menit ke depan. Tafadal, Mas T Rasyid. 2:38 Baik, Pak Iksan dan seluruh pendengar 2:40 Rasil di mana pun berada. Ee kita awali 2:43 dari MUI dulu sajalah. 2:47 ee 2:50 MOI 2:51 sudah memberikan fatwa didukung oleh NU 2:55 bahwa koruptor itu dihukum mati. Mas, e 2:59 kalau kemudian Moe tidak hanya ngajak NU 3:03 tetapi juga ngajak Muhammadiyah, lalu 3:05 dibahas secara serius, 3:08 kemudian ada rekomendasi secara tertulis 3:12 yang lebih komprehensif dan detail 3:15 disampaikan terus kemudian dipublish ya 3:19 kemudian melalui sebuah pressure yang 3:21 kuat. ini bisa terjadi. Misal ya ee 3:26 korupsi di atas 1 M hukumannya seumur 3:30 hidup, 3:31 korupsi di atas 5 M hukuman mati. Nah, 3:35 triliunan sekarang, Bang. 3:38 Ya kan batasannya gitu gitu kan. Iya. 3:40 Nah, misal itu misal ya kalau cuman 3:45 fatwa sambil [berdehem] lalu, dukungan 3:47 sambil lalu ya itu yang bersifat retoris 3:51 dan ee tidak menjadi sebuah pressure 3:54 yang kuat terhadap pemerintah dalam 3:57 konteks ini juga tidak ee tidak kuat 4:00 juga kepada DPR. minta ketemu NU 4:03 Muhammadiyah dan juga ee apa Mo ya minta 4:09 audiensi kepada pimpinan DPR gitu kan 4:12 untuk menyampaikan ini secara tertulis 4:15 komprehensif dan detail ini. 4:19 Ini sudah darurat negara ini. Ini 4:21 dalilnya semua ada. 4:23 Saya yakin rakyat semuanya memberikan 4:26 dukungan kepada MOUI ee Muhammadiyah dan 4:29 NU. Kalau tiga ini sudah kemudian kompak 4:33 dan serius ya enggak ada itu penolakan 4:37 oleh pemerintah maupun oleh DPR 4:40 ya. sejauh mana kemudian kesirusan MUI, 4:43 NU, kemudian juga e kalau kalau bisa 4:47 Muhammadiyah untuk menekan pemerintah, 4:51 menekan DPR ya, kemudian ee memasukkan 4:56 tema ini menjadi bagian daripada 4:59 Prolegnas revisi terhadap Undang-Undang 5:02 Hukum Pidana atau Undang-Undang Tipikor 5:05 itu, Pak, baru sesuatu. Iya. Jadi ee 5:09 tidak hanya bicara tentang konten, 5:11 tentang materi gitu ya. Kemudian apalagi 5:15 kamu itu hanya bungkusan wacana, tapi 5:17 bicara tentang bagaimana politik hukum 5:20 itu terjadi. 5:21 Harusnya gitu ya. 5:23 Gitu. Kalau enggak ya itu hanya menjadi 5:27 sebuah diskusi saya sama Pak Ihsan aja 5:30 itu. 5:30 Oh wacana, wacana wacana terus wacana 5:33 wacana. Padahal MI M kalau Muhammadiyah 5:37 itu punya kekuatan yang pressure yang 5:40 luar biasa. NU Muhammadiah 5:43 ya kalau mau NU Muhammadiyah dan MOI itu 5:48 bisa menjadi sebuah alternatif untuk 5:51 memperbaiki bangsa ini merepresentasikan 5:54 suara rakyat. 5:55 Hm. 5:56 Kenapa? Mayoritas memang sering ee toh 5:58 kemuningan ini kalau disampaikan juga 6:00 tidak bertentangan dengan agama yang 6:02 lain, 6:03 dengan keyakinan yang lain, dengan iman 6:05 yang lain. Semua rakyat lintas daerah, 6:07 lintas agama, lintas mazhab rakyat ya 6:10 dalam tanda kutip rakyat bukan elit ya. 6:12 Ya, ini sepakat ya Civil Society sepakat 6:16 apa yang di ee fatwakan oleh Moi. 6:20 Tinggal bagaimana fatwa ini betul-betul 6:23 bisa dieksekusi ya oleh DPR melalui 6:27 proses e dibuatnya RUU kemudian menjadi 6:31 undang-undang untuk merevisi 6:33 Undang-Undang Hukum Pidana maupun 6:35 Undang-Undang ee khususnya Undang-Undang 6:37 Tipik Cor. Begitu Pak Ihsan. Tanggung, 6:39 Bang. Masih masih MUI, Bang. Masih MUI 6:42 ini MUI juga buat terobosan masalah 6:44 pajak. Jangan jadi tax deduction dong, 6:47 jadi tax kredit. Ini biar adillah. 6:50 Karena kan orang Islam ini jadi dua 6:52 pajaknya. Saya rasa wajar kayak di 6:54 negeri jiran Malaysia gitu. Apa apa yang 6:57 menyebabkan ini supaya kebocoran itu 7:00 lebih kuranglah yang diakui kan 30% tapi 7:03 kenyataan entah berapa. Silakan Mas 7:05 Tani. 7:07 Iya. ee 7:09 ee teras publik ya, teras rakyat ya 7:13 kepada lembaga-lembaga resmi negara 7:16 seperti Basnas, Basis itu lebih tinggi 7:19 daripada kepada pajak. 7:22 Kenapa ya? ya ee kasus apa ee kasus eh 7:28 ACT dulu 7:30 ya itu kan laki-laki ini lasnas bukannas 7:34 ya swasta dan itu pun di tingkat elit 7:37 itu masih debatableel ya debatableel 7:39 karena itu hanya hitungan hitungan 7:42 proporsional saja gaji kepada 7:45 pimpinannya kan gitu kan dan keterbatan 7:47 pimpinan bukan kemudian pimpinan ngambil 7:49 dana dari dari wasnas itu. He. 7:52 Ee tetapi kalau soal kemudian pajak 7:55 dikelola lalu proses pajak ini kan luar 7:59 biasa ngemplang pajaknya triliunan kerja 8:02 sama dengan oknum-oknum di pajak. 8:04 Oknumnya banyak sekali sehingga susah 8:06 ngitungnya kita gitu kan. Ee dan itu 8:09 terus-menerus belum lagi sudah terkumpul 8:11 dirampok lagi dan sebagainya yang 8:13 kemudian trustnya menjadi turun 8:16 ya. Ah, oleh karena itu bisa 8:18 diminimalisir ya ee itu satu hal dengan 8:22 melalui ee ee pembayaran terhadap 8:26 lembaga resmi e atau filantropi seperti 8:30 Basnas ya atau Basnas Basis gitu kan, 8:33 Basnas daerah maupun Basnas itu satu 8:35 hal. 8:35 Kemudian yang kedua 8:38 ee ini juga ee sebagaimana Pak Ihsan 8:42 katakan dan juga MUI katakan ada rasa 8:45 keadilan. He. 8:46 Jangan kemudian sudah bayar zakat 8:49 kemudian bayar pajak ya tanpa 8:51 pengurangan secara ee secara lebih pasti 8:54 [berdehem] gitu ya, lebih [mendengus] 8:55 proporsional. Karena itu semangat orang 8:58 berzakat itu seringka lebih tinggi. 9:01 Orang berzakat itu kan selama ini bukan 9:03 karena terpaksa tapi karena keikhlasan. 9:06 Karena kemauan 9:09 iya karena investasi gitu kan. ada ada e 9:12 kesadaran spiritual, ada kesadaran 9:14 sosial yang begitu kuat di situ. 9:17 Sementara bayar pajak itu, itu kan lebih 9:19 banyak ke kalau memang bisa diakali, 9:21 kenapa tidak? H 9:23 iya. 9:23 Kenapa? Karena ee apa monitornya itu 9:27 adalah monitor yang juga ee sebagian 9:29 menjadi pemain 9:31 ya yang bisa di dinegosiasi. Tapi kalau 9:33 zakat kan ee yang monitor itu tidak bisa 9:36 dinegosiasi 9:37 [tertawa] 9:37 meskipun abstrak gitu kan. 9:39 Iya. 9:39 Tidak bisa dinegosiasi. mau negosiasi 9:41 sama malaikat [tertawa] 9:43 mutlak itu ya. He. 9:46 Jadi ya itu juga akan menimbulkan sebuah 9:48 kesadaran sosial yang lebih tinggi 9:51 ketika zakat itu bisa betul-betul ee 9:54 secara mudah dan proporsional mengurangi 9:57 ee atau bahkan meniadakan teks ya pajak 10:00 itu. Itu kesadaran sosial masyarakat 10:04 bahkan ini juga menjadi kesadaran 10:05 kebangsaan ee masyarakat itu akan makin 10:08 makin kuat makin tinggi 10:10 dan kemudian juga akan makin naik 10:13 begitu. Tinggal kolaborasi aja. Ee jadi 10:16 ada pekerjaan-pekerjaan negara yang 10:19 tidak di tidak mampu tersentuh oleh 10:21 negara atau tidak cukup negara untuk 10:23 menyentuhnya. Biarlah kemudian ee 10:26 lembaga-lembaga zakat yang makin kuat 10:28 ini menyentuhnya. Begitu Pak. 10:30 Mantap. Lanjut. [mendengus] 10:32 Kemudian soal 10:35 Febri. 10:36 Hm. Ini luar biasa maling maling ayam di 10:41 Bali aja koid ya. Mati. Tapi ini cerita 10:44 iya tidak tidak pakai baju e rompi KPK 10:49 atau rompi tsangka kemudian tidak pakai 10:52 ee borgol gitu kan. H 10:55 ya kan sudah biasa Pak Ihsan. 10:57 Oh [tertawa] 10:59 sudah biasa kalau pokoknya kalau elit 11:02 nanti terus kemudian diupayakan untuk 11:04 rekayasa harta ini nanti milik A, harta 11:06 ini titipan B, harta ini titipan C. Ya 11:09 itu memang di rumahku. rumah rumahku 11:11 tapi itu kan bukan pemilikku A B C D Pak 11:15 Ihsan saya perlu buka sedikit sedikit 11:17 sedikit juga boleh bang 11:19 ya [tertawa] 2 minggu sekitar waktu itu 11:21 kan ee di digeledah kemudian Jumat 11:24 malamnya itu ada pasukan yang luar biasa 11:28 di semua titik wilayah-wilayah vital di 11:31 Jakarta. 11:32 Heeh. Gitu. 11:34 Gitu. itu kalau Pak Pak Kapolri 11:37 barangkali tidak ke apa namanya tidak ee 11:42 sowan ke tidak silaturahmi ke kejaksaan, 11:44 tidak silaturahmi ke 11:46 ee Panglima TNI, 11:48 Heeh. 11:48 Itu banyak orang yang kemudian 11:50 memprediksi bisa menjadi perang kota. H 11:53 sampai dibocor alus sedikit diungkap 11:55 gitu kan. Kalian mau kudita saya ya 11:59 mau ini saya ya itu kan konsentrasi 12:02 pasukan sudah dan itu pasukan-pasukan 12:04 elit. 12:05 H 12:06 elit dari mana ya kita enggak tahulah 12:07 pokoknya pasukan elit lah itu sudah 12:09 mengepung Jakarta dan itu bisa menjadi 12:11 ee menjadi perang ke kota antara dua 12:14 institusi yang dan itu ee bisa menjadi 12:17 trigger terhadap ee ledakan-ledakan yang 12:21 lebih dahsyat daripada Agustus tahun 12:22 lalu gitu kan. He. 12:24 Ee tetapi Pakistan kalau lihat polanya 12:27 seperti ini, saya lagi-lagi menggunakan 12:31 berdekatan teori konflik ya. Kalau 12:32 pola-polanya seperti ini, ini pada 12:35 akhirnya kalau tidak ada perubahan 12:36 terhadap pola ini akan meledak. 12:38 Hm. 12:40 Ini prediksi ilmiah ya. Bisa salah bisa 12:43 macam di Hongkong gitu ya dulu. 12:46 Iya. [berdehem] Bukan provokasi ya. Ini 12:48 prediksi ilmiah. Saya bisa jelaskan 12:50 kalau kemudian pola di mana ada sebuah 12:53 kekuatan yang selalu bersaing kemudian 12:55 mencari trigger-triggernya dan ee ee 12:59 saling tikam, saling serang satu dengan 13:02 yang lain gitu kan ya. ee kalau itu 13:04 tidak digentikan, kalau itu tidak 13:06 diakhiri, kalau itu kemudian 13:09 terus-menerus berjalan, sementara 13:11 situasi negara ini sedang tidak 13:14 baik-baik saja, terutama soal ekonomi, 13:16 kita bisa lihatlah variabelnya, 13:18 variabelnya secara ekonomi surveinya SMC 13:22 gitu ya. terakhir 13:24 ya salah sendiri ada pihak yang nyerang 13:27 SMRC [tertawa] 13:29 Siful Muzani ya dia punya dia bisa 13:31 ungkap ya ya yang menarik ini Pak Isan 13:34 yang tidak dibaca oleh banyak orang itu 13:36 dia ungkapkan tingkat kepuasan publik 13:40 itu kepada Prabowo itu tinggal 51 13:44 dia ungkapkan bahwa perasaan ekonomi 13:47 yang makin buruk dan buruk itu kan 13:50 sekitar 47 sekian persen. kan 13:53 ya yang kemudian tidak menjawab sekian 13:56 persen ya 13:57 artinya apa ya yang kemudian menganggap 14:00 stak itu juga banyak 14:02 artinya kemudian kalau ditotal ya itu 14:05 lebih dari 50% kan 14:07 ekonomi soal ekonomi, soal trust, soal 14:11 kepuasan semua turun dari kepuasan itu 14:15 dari bulan November itu 80-an bulan 14:18 Maret 2025 2026 ee ee bulan Maret itu 14:23 tinggal 77% atau berapa. Kemudian ee 14:27 sekarang tinggal 51%. 14:29 Berdasarkan pengalaman yang ee dilakukan 14:32 oleh para lembaga-lembaga survei ketika 14:34 orang ada di atas panggung kemudian tren 14:37 ee tren kepuasannya turun itu akan 14:39 cenderung turun terus. 14:41 Dan saya pernah bilang sama Pak Ihsan di 14:43 sini juga di Rasul juga itu trennya 14:46 elektabilitas dulu kan saya bilang akan 14:48 turun kan gitu. Betul. 14:49 Nah, kalau saya pertanyaannya yang 14:51 paling mendasar, kenapa SMC tidak 14:54 mengungkapkan elektabilitas? 14:56 Oh, karena karena [berdehem] 15:00 Iya. Iya, 15:01 Pak, Pak. Apakah SMR resik itu tidak 15:04 men-survei elektabilitas? 15:06 Pasti survei. Enggak mungkinlah sekalian 15:08 kerja kok. 15:11 Tetapi kenapa kok tidak diungkap? 15:14 Apa tuh, Bang? E siapa elektibilitas di 15:18 samar-samar, Pak? 15:20 Kalau kemudian diungkap, Pak, Pak Ihsan 15:24 diungkap kemudian ternyata ada yang 15:26 lebih tinggi daripada presiden ya ini 15:29 petaka. 15:30 Oh gitu. 15:32 Ini petaka 15:34 gitu kan ya? Kalau ya kalau diungkap 15:38 kalau ini kan kalau kalau gitu kan 15:41 maksud saya seingga ada cerita bikin 15:43 begituang bikin jembatan 5.000 jembatan 15:46 per tahun gitu kan. 15:48 Iya [berdehem] 15:49 ya. [tertawa] ini diungkap dan kemudian 15:51 ketika itu diungkapkan diungkap dan 15:54 ternyata betul ada yang lebih tinggi 15:56 dari ini secara teoritis ee begini Pak 16:00 Ehsan itu kan ada 16:03 teori Vilfrido Pareto itu namanya 16:06 circulation of elite. elit selalu akan 16:08 digeser dengan ketika elit berkuasa yang 16:11 punya otoritas itu tingkat kepuasan 16:14 publiknya rendah, ekspektasinya makin 16:17 rendah, maka akan muncul tokoh lain yang 16:20 menjadi ekspektasi berikutnya. 16:22 Hm. 16:23 Kan teorinya begitu, 16:25 gitu. 16:25 Gitu. Jadi ketika Pak Ihsan misalnya ya 16:28 ee memimpin organisasi ya ada teman Pak 16:32 Ihsan lah, si A mimpin organisasi kok 16:35 banyak keluhan di bawah RT lah 16:37 katakanlah kok banyak keluhan banyak 16:39 keluhan begini begitu begini maka akan 16:42 ada protes gitu baik silent protes atau 16:45 vulgar protes ya tapi kemudian di sisi 16:48 lain akan memunculkan mendingan si ini, 16:50 mendingan si akan proses untuk mencari 16:53 alternatif kan begitu Pak Isan. He he. 16:56 Apalagi kalau kemudian ini diungkap 16:58 dalam sebuah ee lektabilitas, ternyata 17:00 ini lebih besar daripada si A gitu. 17:03 H 17:04 wah itu menjadi sebuah sebuah pemeran ee 17:07 ini berkaitan juga soal kenapa menjadi 17:10 turun dan sebagainya soal komunikasi 17:13 politik. He. 17:14 Jadi, Pak ketika bicara tentang londo 17:16 ireng. 17:17 Oh, 17:18 ya. Danat sudahlah cukup londok kalau 17:20 saya menjadi penasihat. 17:22 Itu by 17:23 setting atau memang di luar kendali atau 17:26 gimana, Pak? 17:27 Enggak spontan. Spontan. 17:28 Oh, spontan. He. 17:30 Tadi spontan ya seperti Pak Esan bilang 17:33 pergi ke Yaman itu spontan kan. 17:35 [tertawa] 17:37 Iya. Iya. Jadi ee ada alam bawah sadar 17:40 itu ada di dalam memori yang kemudian e 17:43 disimpan satu ketika ketika dia 17:46 mendapatkan triggernya, mendapatkan 17:47 kesempatannya akan terungkap. 17:49 He 17:49 deng gitu kan. Itu menyebutkan wartawan, 17:53 menyebutkan LSM. Ah itu sebenarnya cukup 17:56 londok ireng gitu kan. Ada beberapa 17:58 londo ireng yang berada di berbagai 18:00 profesi dan ini ah itu bagus komunikasi 18:03 ya. Terus kemudian juga ee apa namanya? 18:08 Kalau lembaga survei seperti Muzani ya 18:12 kemudian berada di luar dan 18:14 konfrontatif. Terus kemudian media ee 18:18 LSM konfrontatif ya pengamat kalau 18:22 pengamat masih anda konfrontatif ini kan 18:25 justru ya akan menciptakan sebuah 18:28 rivalitas ya sementara mereka memiliki 18:30 narasi yang cukup kuat ya. mereka bisa 18:33 mengambil sebuah data yang kemudian bisa 18:35 menjadi sebuah narasi konfrontatif yang 18:37 cukup kuat. Ini enggak taktis menurut 18:39 saya ya secara politiso melakukan itu 18:42 enggak taktis. Apalagi kalau kemudian 18:44 bicara kalau mau kabur kabur aja ke 18:46 Yaman kayak kenapaanya disebut Yaman? 18:49 Iya 18:50 ya. [tertawa] Ya ka kenapa tidak 18:51 Thailand misalnya ya? Kenapa e mau ke 18:55 Singapura sana? Kenapa tidak? Kenapa 18:57 yang muncul itu itu Yaman? 18:59 Ini masalah elektibilitas berarti ya. 19:01 [tertawa] 19:03 Iya. Itu kan e artinya apa ya? Akhirnya 19:07 kemudian muncul saling sindir ee 19:12 muncul tokoh namanya Anis Baswedan yang 19:14 kemudian 19:15 ya apa yang dibicarakan oleh Pak Prabowo 19:17 mesti ramai. Apa yang dibicarakan oleh 19:18 Anis mesti ramai. [tertawa] Kalau ini 19:20 sering bicara ya maka akan mengkerut 19:22 Anis Prabowo gitu. [tertawa] 19:26 Iya. Makanya ini ini semoga juga 19:27 didengarkan oleh timnya Anis itu 19:29 [tertawa] lebih bagus seperti itu supaya 19:31 namanya Anis naik [berdehem] gitu kan. 19:33 Kemudian di timnya Prabowo sebaik supaya 19:35 enggak ada tokoh yang muncul rivalitas 19:37 antara Anis dengan Prabowo s sindir soal 19:39 jembatan gitu kan ramai gitu kan 19:43 yang 300.000. 19:45 Nah, narasi-narasi 19:47 ya yang kemudian menjadi bagian daripada 19:50 komunikasi politik Pak Prabowo ya karena 19:53 memang tipenya orangnya spontan. tipe 19:55 beliau itu orangnya apa adanya gitu kan. 19:58 Di dalam politik itu ee 20:01 apa tidak bisa kemudian apa yang ada di 20:03 otak kita kita sampaikan. Tidak semua 20:05 fakta harus kita bongkar. 20:08 Ya, contohlah misalnya waktu kemarin ada 20:11 anggota DPR bilang, "Ya, Anda dari 20:14 mana?" "Dari UIN ya" ya. Kalau dari UIN 20:16 ini waktu pelatihan 20:17 ya ada apa intermediate training gitu 20:20 ya. 20:22 Heeh. Dia bilang orang komisi dua itu. 20:25 Eh eh kalau Anda itu kan dari UNIN ya. 20:28 Kalau dari UNIN itu apa namanya? Ee Anda 20:31 kalau enggak bodoh atau Pak miskin Anda 20:34 enggak kuliah di UIN gitu ya. Satu sisi 20:37 kalau dalam konteks ee susah ya saya 20:39 lulusan UIN juga susah. Iya sih kami 20:41 rata-rata dulu ya masih IAIN itu kami 20:44 rata-rata orang susah. Tapi sekarang 20:46 orang yang di kedokteran, orang yang di 20:47 saintech, orang di psikologi ya, orang 20:49 yang di ekonomi itu orang-orang yang 20:52 kalangan menengah ke ataslah gitu. Ini 20:55 sama artinya seandainya itu menjadi 20:57 bagian ada fakta-fakta seperti itu 20:59 enggak mudah ke Pak Ihsan ketemu sama 21:01 orang miskin, Pak bilang, "Eh, dasar 21:03 miskin sakit hati enggak?" Memang betul 21:04 faktanya miskin dia, tapi kalau kemudian 21:07 diingkapkan kan marah gitu. Ah, dalam 21:09 dunia politik lebih kompleks lagi ee apa 21:13 ee efeknya. Jadi ketika ee mungkin ada 21:17 ya oknum-oknum gitu kan ya kan enggak 21:20 ada orang yang di Indonesia itu berani 21:22 kemudian mengatakan bahwa institusi ini 21:24 korup kan enggak bisa enggak berani juga 21:26 ee kena hukum tapi kalau oknum gitu kan 21:29 oknum di situ itu korup ya dari 90 di 21:35 satu institusi dari 90 orang yang korup 21:37 95 ya enggak apa-apa institusinya akan 21:40 disebut gitu loh [tertawa] 21:43 Kan begitu banyak institusi di Indonesia 21:46 yang kemudian yang apa oknum korupnya 21:49 itu padahal orangnya 90 yang korup 95an 21:52 banyak juga Pakan gitu kan 21:56 ya meskipun bahasa bahasa bahasa oknum 21:59 itu adalah bahasa yuridis bahasa hukum 22:02 ee bukan bahasa sosial ee gitu kan jadi 22:06 oknum itu adalah bahasa yuridis bahasa 22:08 hukum bukan bahasa sosial dan bukan 22:10 bahasa politik itu yang kemudian menjadi 22:12 sebuah ee sebuah persoalan ya. E terus 22:15 kemudian kita memasuki soal PI yang 22:18 mundur itu kok terus ada CSR-nya pula 22:22 ada buntutnya sik itu. Nah, ini kan 22:24 jadi ketika beliau mundur 22:28 saya coba cek kanan kiri atas bawah 22:31 biasalah ya komunikasi dengan 22:33 teman-teman lah. Ini gimana 22:35 apakah asumsi kita semuulah ada 22:37 tekanan-tekanan? Ya, mungkin bisa jadi. 22:40 Iya. Kemudian ee ada yang jawab dari 22:43 dari informasi yang saya dapat ini ee ee 22:48 extraordinary. 22:50 Hm. 22:51 Gitu loh. Heeh. Kenapa ya ada masalah 22:54 hukum eh satu hari kemudian muncul kan 22:57 KPK bicara. 22:59 Oh dia bukan belum e tidak menjadi 23:01 tersangka. Iya tidak menjadi tersangka 23:03 kan ee semua ee kenapa kenapa KPK mau 23:07 bicara soal itu 23:09 ya? Ya, KPK kan enggak mungkin ngomongin 23:12 Pak Ehsan gitu loh. Tahu-tahu ngomongin 23:14 Pak Ehsan. Kalau Pak Ihsan tidak ada 23:15 masalah hukum terkait dengan korupsi 23:17 kan. 23:18 Betul. 23:18 Kenapa enggak ngomongin? Ya karena 23:20 enggak ada. 23:21 Kenapa ngomongin gitu kan ya? Ya bisa 23:24 diduga-duga kan. 23:25 Betul 23:26 gitu kan ya. Apa urusannya KPK ngomongin 23:29 itu? 23:30 Betul. H 23:31 kan kan sederhana gitu kan sederhana 23:35 gitu kan. Tidak semua orang kemudian 23:36 langsung jadi tersangka. Ah, saya dari 23:39 sini saya mencoba untuk membuat analisis 23:42 kalau sampai ya kalau ya lagi-lagi kalau 23:45 kalau sampai kemudian nanti 23:48 ee ee Gubernur BI itu jadi tersangka 23:52 kita betapa ekonomi kita makin terpuruk. 23:55 kepercayaan 23:57 kepercayaan dunia usaha terutama orang 24:01 terutama luar 24:02 ya itu makin kecil ketika ya ee beliau a 24:09 mundur ya H tajam Pak turun 24:11 langsung 24:13 dolar naik 18 turun itu terus kemudian 24:16 dolar naik sampai 18100 24:20 lebih 24:21 itu [berdehem] artinya apa ee ee bahwa 24:24 mundurnya BI itu adalah sesuatu yang 24:28 dianggap tidak sehat dan itu membuat ee 24:32 apa teras publik itu, teras dunia usaha 24:34 itu turun. Apalagi kalau kemudian 24:36 tersangka lah kalau semuanya itu ee apa 24:40 dikorup ya termasuk 24:42 terkoruplah istilahnya keuangan semua 24:44 seperti ini ya. ekonomi mau sehat 24:46 gimana, investor mau mau ini mana justru 24:50 aksi apa namanya sel ya dia jual itu 24:53 akan lebih besar dan semakin itu semakin 24:57 ee nanti SMRC survei lagi dia. 25:00 Hm. [tertawa] 25:02 Berakir lagi bahwa tingkat ini di eh 25:04 tingkat apa ekonomi yang mengalami 25:06 ekonomi buruk di atas 50% gitu kan. 25:09 Kemudian tingkat kepuasan itu 30-an wah 25:13 makin parah lagi gitu. sampai itu 25:15 terjadi. 25:17 Nah, inilah yang kemudian ee perlu di 25:21 ada orkestrasi mengelola negara ini. 25:25 Tidak semata-mata hukum adalah hukum ya. 25:28 Ee kalau itu kemudian memiliki efek ya 25:32 terhadap nasib rakyat, memiliki efek 25:35 terhadap ee ee perputaran ekonomi, nasib 25:39 ekonomi, ya, maka perlu sikap yang 25:42 bijak. Pak Ehsan, ee seorang pemimpin 25:45 itu akan dihadapkan kepada berbagai 25:48 dilema. 25:50 Iya. 25:50 Ya, tidak ada pemimpin itu hanya punya 25:53 pilihan satu, pilihannya banyak. Di 25:56 situlah maka para filosuf ya, 25:59 Teman-teman, termasuk juga para ee apa 26:03 ee para ahli tasawuf gitu ya, para sufi 26:06 seperti Alghazali bilang ya, seorang 26:08 pemimpin itu mesti ahli hikmah, orang 26:11 yang bijak melihat segala sesuatunya itu 26:14 secara komprehensif dan juga holistik 26:17 sehingga kemudian bisa mengambil sebuah 26:19 keputusan yang darul mafasid ya 26:21 muqaddamun ala jalbil masaleh 26:24 mengutamakan mitiga ASI supaya tidak 26:27 memiliki efek ya yang ee lebih berat ya, 26:31 lebih sulit ya bagi rakyat Indonesia dan 26:34 bagi bangsa ini. Begitu Pak Is. 26:36 Masyaallah luar biasa. Tambo cie Pak 26:39 Iran swada ya pesawat yang saya kok 26:43 lihat kayak mirip tuko itu ya. 26:45 Kemandirian Iran macam mana, 26:46 Bangihatnya? 26:48 Iya luar biasa Iran dalam konteks ini 26:51 ya. Tapi Indonesia itu pertanyaannya kan 26:53 mau belajar apa enggak? Iran itu ditekan 26:56 kan dia sudah hitung. Kalau saya ditekan 26:59 A B C D saya bisa ngembangin AB C. 27:01 Indonesia itu punya HB ya. 27:03 Hm. 27:03 Dan dulu punya PPDI. 27:05 H. 27:06 Saya pernah ke Seatle tempat Boeing itu 27:09 banyak ratusan orang Indonesia yang ada 27:10 di sana. Itu di Boeing itu kerja di 27:12 Boeing. Orang-orang dari PTDI dan itu 27:14 adalah orang-orang yang hebat. Saya 27:16 tanya dari mana aja dulu. Dari daerah 27:18 Airbus di Jerman. Banyak orang Indonesia 27:20 di Jerman. Banyak sekali yang di Jerman, 27:23 di Airbus itu, 27:24 di Boeing, di Airbas, orang-orang 27:26 Indonesia itu 27:27 ee apa namanya? Hebat-hebat. Kenapa 27:31 Indonesia dengan kebutuhan pesawat yang 27:33 lebih besar, 27:35 lebih banyak kan? Bandara Indonesia itu 27:37 kan lebih banyak daripada Iran. Penduduk 27:40 Indonesia lebih banyak daripada ee Iran. 27:42 Ee [berdehem] sumber sumber daya 27:45 manusianya ya itu juga lebih banyak ya. 27:48 Soal berkualitas itu banyak yang pergi 27:50 ya kan. 27:53 Terus kemudian sumber daya alam kita 27:55 punya tanah jarang yang dipakai untuk 27:57 bikin pesawat dan untuk bikin senjata 28:00 itu timah Pak Ihsan gitu kan timah ee 28:04 apa namanya 28:05 itu isinya tanah jarang itu Pak Ihsan 28:07 yang kemudian dijual seludupan ke China 28:11 itu Cina kemudian dia bisa ekspor ke 28:13 Amerika itu tanah jarang dari Bangka 28:16 Belitung rupanya itu. He 28:18 gitu kan. Iya. 28:19 Jadi tima itu isinya itu tanah jarang, 28:22 Paksan gitu kan. Di Indonesia ada pabrik 28:25 satu-satunya pabrik tanah jarang di 28:28 kampung saya itu. Tetapi itu dari dulu 28:31 tidak karena tidak ada regulasi sehingga 28:33 tidak dikeluar disimpan aja untuk 28:34 pribadi. 28:35 H 28:36 dan itu bertont-ton. Pada saat itu saya 28:39 melihat ada 50 ton itu Pak Isan. 28:41 Masyaallah. 28:41 Dan sudah disampaikan kepada Presiden ya 28:44 Presiden Tanah Jarang kaya raya. Jadi 28:47 kalau apa namanya orang ini orang Bangka 28:51 Belitung suruh pindah itu bawahnya itu 28:53 isinya tanah jarang semua dibikin itu 28:56 dibikin raya raya itu saya tanya 1 ton 28:59 itu harganya berapa paling murah itu 2 29:01 triliun 1 ton Pak Isa 29:03 innalillah 29:05 jadi saya bukan hanya melihat saya lihat 29:07 proses pembuatannya saya pegang 29:09 barangnya gitu kan itu tanah jalan kaya 29:12 raya cuma regulasi kita dan itu memang 29:14 menjadi otoritasnya Kementerian Pertahan 29:17 sampai saat ini ya belum terbit 29:19 regulasinya. 29:20 Hm. 29:21 Jadi ee maka Iran itu bisa membikin 29:24 seperti itu ya karena Iran memiliki 29:26 kemandiran yang luar biasa yang Pak 29:29 Ihsan tadi katakan hidup pejabatnya 29:31 sederhana. Ada nilai-nilai kebangsaan 29:34 yang menjadi sebuah prioritas dan itu 29:36 terjadi ketika ee apa revolusi sah tahun 29:40 ee '9 kan gitu kan ya. E memang ada 29:43 momentum itu. Ah, pertanyaannya gitu kan 29:46 gini jadinya apakah Indonesia ee perlu 29:51 sejarah seperti Iran ya terjadi sebuah 29:54 perubahan sistem gitu kan atau Indonesia 29:58 itu ya berproses memperbaiki sistem ee 30:02 dengan sistem yang ada kemudian 30:04 memperbaiki hasilnya. pertanyaan itu 30:07 tinggal pilih 30:08 perlu sejarah seperti Iran terjadi 30:11 perubahan sistem revolusi sistem atau 30:14 kemudian sistemnya bagus tapi ee 30:17 berjalan diperbaiki diperbaiki. Tapi 30:19 selama ini reformasi kan mencoba untuk 30:21 memperbaiki ya turunnya malah banyak 30:24 bukan naiknya gitu kan 30:26 gitu. sentralisasi sebentar sekarang 30:29 desentralisasi sebentar sekarang 30:31 sentralisasi jadi ee ketika apa yang 30:35 menggagas otonomi daerah itu profesor 30:37 siapa itu saya lupa 30:38 ee diskusi saya Rias Rasyid ya saya 30:41 diimbang juga untuk bicara bahwa itu 30:44 adalah ee gagasan dari pusat saya bilang 30:47 begini gitu desentralisasi gagasan dari 30:49 pusat ya terus kemudian sekarang diambil 30:52 lagi. Gini, Pak, saya bilang jangan 30:55 kemudian itu pusat itu mengakomodir apa 30:58 yang menjadi kemauan meskipun itu tidak 30:59 melalui demonstrasi. 31:01 Jadi, saya ada teori namanya ee saya 31:04 tidak mengatakan hal ini teori Marx ya. 31:07 Max itu bilang tidak ada monyet ya yang 31:10 menggergaji tempat e batang yang 31:12 didudukinya. 31:13 Artinya apa? Tidak ada orang yang punya 31:16 otoritas ya yang kemudian mengecilkan, 31:20 menghabiskan otoritasnya untuk 31:21 memberikan sesuatu kepada yang lain. 31:24 Artinya tidak ada pusat. Ini bukan soal 31:26 e monyet itu. Itu itu itu teorinya saya 31:30 tanya itu bukan analogi ya. Teorinya 31:32 Marx itu tidak analogi teorinya Marx itu 31:35 artinya apa? Orang yang elit yang punya 31:38 otoritas itu punya kekuasaan dan punya 31:40 kewenangan tidak mungkin memotong 31:42 otoritas kewenangan dan kekuasaannya itu 31:44 untuk diberikan kepada orang lain. 31:46 Hm. Iya. 31:48 Maka ada jalur sendiri untuk memotong 31:50 itu untuk bernegosiasi di situ. Di 31:52 situlah ada namanya teori pertukaran, di 31:54 situ ada bahkan ada teori kemudian 31:57 revolusi dan sebagainya. Begitu, Pak. 31:59 Masyaallah. Terima kasih, Mas Toni 32:01 Rosid. Pas 30 menit kita berbincang. 32:04 Mudah-mudahan ini menjadi pencerahan dan 32:06 ee Mas Toni diberikan kesehatan dan 32:08 keberkahan.