Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:05 Brail TV. 0:12 Bismillahirrahmanirrahim. 0:14 Asalamualaikum warahmatullahi 0:16 wabarakatuh. 0:17 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:19 wabarakatuh. 0:19 Ikhwan akhwat rahimakumullah. 0:22 Syukur alhamdulillah kita dikaruniai 0:24 kesempatan berada bersama-sama di 0:27 psikologi keluarga bersama Ustaz Husein 0:30 Alatas dan Ustaz Abu Bakar Barasa yang 0:33 insyaallah bahasannya akan membuat kita 0:37 terpersuasi, 0:39 mampu menjaga diri dan hati melangkah 0:42 lebih baik menuju rida Allah Subhanahu 0:45 wa taala. Tidak lupa tentu saja salam 0:48 selawat kita lantunkan kepada junjungan 0:50 umat kekasih kita Muhammad Rasulullah 0:53 sallallahu alaihi wasallam. Semoga kelak 0:56 kita dipertemukan dengan beliau di saat 0:59 yang sangat kita rindukan di yaumil 1:02 akhir. 1:04 Untuk pagi ini Ustaz Husein dan Ustaz 1:08 Abu Bakar Baraja sudah siap untuk kita 1:10 semuanya. Tetapi 1:13 sebelumnya kita bersama-sama 1:16 membaca ummul kitab. 1:20 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 1:26 Bismillahirrahmanirrahim. 1:31 Alhamdulillahirabbil 1:35 alamin 1:38 arrahmanirrahim 1:43 maiki yaumiddin 1:47 iyyaka na'budu wa iyyaka nasta' 1:53 ihdinasirathal 1:55 mustaqimathalladzi 2:04 giril magdubi alaihimadin. 2:11 [Musik] 2:12 [Tertawa] 2:14 Amin. Allahumma amin. Jadi, Ustaz, ada 2:18 dua kasus tapi sewarna karena dua-duanya 2:23 terkait dengan 2:25 rumah jompo. 2:28 Yang pertama, ikhwan akhwat, berita yang 2:30 sedang viral nih tentang anak yang 2:33 mengirimkan orang tuanya ke Rumah Jompo 2:37 terus membuat surat perjanjian. Kalau 2:40 orang tuanya meninggal, enggak usah atau 2:43 jangan memberi kabar. 2:46 Pakai surat perjanjian ini, Ustaz. Salah 2:49 orang tua jugaah anak menjadi seperti 2:52 ini? Bukankah buah jatuh tak jauh dari 2:54 pohonnya? atau mohon pencerahannya. 2:58 Kemudian yang satunya lagi, Ustaz, saya 3:01 punya sahabat setelah anak-anaknya 3:03 menikah dan pisah rumah, waktu suaminya 3:07 meninggal, sahabat saya ini diminta 3:09 tinggal sama anaknya. Ya ampun, Ustaz. 3:13 Bayangan bahagia berkumpul dengan anak 3:15 cucu berantakan. 3:18 Anak kerja, menantu kerja, cucu sudah 3:22 terkontaminasi dengan gadget, semua 3:26 semaunya sendiri, susah dinasehati. 3:29 Sahabat saya jujur, Ustaz, merasa tidak 3:31 nyaman. Pertanyaannya, apakah sebaiknya 3:34 dia tinggal saja di panti jompo? Itu 3:37 yang dia tanyakan. 3:38 Iya. 3:39 Bismillahirrahmanirrahim. 3:41 Alhamdulillahiabbil 3:43 alamin 3:45 hamdan katsiran thyiban. 3:49 yuhibbuna 3:52 ya rabbana lakal hamdu kama yambagalali 3:55 wajhikalim waliadimi sultanik 3:59 subhanaka la nuhsi tsanaan alaika anta 4:03 kamaita ala nafsik falakal hamdu hatta 4:07 tard wakal hamdu idza rit wakal hamdu ba 4:15 allahumma sholli ala muhammadin 4:17 Muhammadamuika 4:19 ya rasullaham 4:22 ibadahin wasalamualaikum 4:25 ayyuhal ikhwa wal akhwat warahmatullah 4:28 wabarakatuh. 4:29 Waalaikumsalam 4:31 atina minika rahmah waimna minadunka 4:34 ilman nafi bimaam. 4:39 Allahumdina subulasalam wa akrijna 4:42 minadulumatian nur wahdina ilaatikal 4:46 mustaqim. 4:51 Amma ba'du. Ikhwan akhwat 4:54 pendengar pemirsa, 4:58 umatan wahidah begitu pula radio TV 5:01 silaturahmi yang dirahmati Allah 5:03 subhanahu wa taala. 5:05 Kehidupan 5:08 umat Islam pada saat ini 5:12 amat amat jauh dari nilai-nilai Islam. 5:16 Di mana kebanyakan kita beragama 5:21 mempelajari 5:23 hukum-hukum agama, tapi hati kita tidak 5:26 terhubung dengan Allah. 5:30 hati kita 5:32 tidak diingatkan kepada hari akhir 5:35 seolah-olah kita hidup hanya untuk 5:37 kehidupan dunia ini. 5:40 Ini bukan hanya di tengah-tengah 5:42 masyarakat awam, bahkan di tengah-tengah 5:45 lingkungan orang-orang yang beragama. 5:48 Walaupun mereka belajar agama, 5:50 menyampaikan agama, tapi perhatian 5:53 mereka tertuju pada kehidupan dunia dan 5:57 kesenangan. 5:58 Sehingga seolah-olah agama itu hanya 6:00 merupakan kendaraan 6:03 untuk mendapatkan 6:06 hiasan dan kepingan dunia. 6:10 Padahal mereka seharusnya di barisan 6:12 terdepan dalam memberikan bimbingan dan 6:15 pendidikan kepada umat agar mereka 6:18 mengenal Tuhan mereka. 6:21 Agar mereka menyadari betapa besarnya 6:24 nikmat yang Allah anugerahkan atas 6:26 mereka. 6:28 Telah menciptakan mereka sebagai manusia 6:30 yang mulia. Menerima nikmat karunia yang 6:33 tak terhingga. Menempatkan mereka di 6:35 muka bumi sebagai khalifah. 6:38 di mana makhluk-makhluk yang lain Allah 6:41 Subhanahu wa taala kerahkan untuk 6:43 melayani dirinya. 6:46 Begitu juga pemandangan alam yang begitu 6:48 indah Allah sediakan bagi siapa kalau 6:51 bukan bagi umat manusia agar mereka 6:53 bersyukur kepada Allah subhanahu wa 6:55 taala. 6:57 Allah anugerahkan mereka 7:00 akal. 7:02 Allah utus rasul-Nya. Turunkan kitabnya. 7:05 Janjikan bagi mereka kehidupan yang 7:08 lebih indah, lebih mulia di hari akhir 7:10 nanti. 7:11 Tapi semua ini ternyata tidak menjadi 7:14 perhatian kita. 7:17 Beramai-ramai kita mengejar kehidupan 7:20 dunia, mengoleksi hiasan-hiasannya. 7:25 Sehingga agama hanya sekedar apa? 7:27 basa-basi. 7:29 Bukan lagi sebagai pedoman hidup yang 7:31 mendidik kita. 7:33 Hingga akhirnya banyak orang tua 7:37 tidak lagi mendidik anak mereka untuk 7:39 menjadi anak-anak yang saleh 7:42 yang dapat betul-betul menjalankan 7:44 amanat Allah, berbakti kepada kedua 7:47 orang tua mereka. 7:49 Dan anak-anak juga hidup ya sesuai 7:52 dengan pendidikan yang mereka terima, 7:55 lingkungan tempat mereka berkumpul 7:59 masing-masing disibukkan dengan 8:01 kehidupan dunia. perhatian mereka 8:03 tertuju ke sana hingga mereka tidak 8:06 merasa sama sekali memiliki rasa 8:09 tanggung jawab untuk berbuat baik kepada 8:13 kedua orang tuanya sebagai ungkapan 8:15 syukur mereka kepada orang tua yang 8:18 telah melahirkan, membesarkan, dan 8:20 mendidik mereka. 8:24 Ini merupakan betul-betul tanda-tanda 8:27 yang tidak sehat 8:30 yang bisa menimbulkan petaka. 8:33 dan membuat umat di tengah-tengah cobaan 8:36 yang semakin sulit pada saat ini akan 8:40 terpuruk dan terjerumus dalam kondisi 8:42 keadaan yang lebih mengerikan. 8:45 Oleh karena itu seharusnya orang-orang 8:47 tua juga mereka yang bertanggung jawab 8:50 dalam mendidik, mereka berupaya untuk 8:53 betul-betul memperhatikan pendidikan 8:55 anak-anak mereka, 8:57 jemaah dan lingkungan mereka agar 8:59 pertama-tama yang mereka kenal adalah 9:01 Allah Subhanahu wa taala. 9:05 Maka Imam Ali mengatakan, "Awwaluddin 9:07 makrifatu." 9:09 Langkah pertama orang masuk ke dalam 9:11 agama tu bukan mempelajari hukum-hukum 9:14 yang bermacam-macam, 9:16 yang berbelit-belit, ya. 9:19 Kemudian mulai ya membanggakan dirinya, 9:22 membanggakan kelompoknya menyerang ke 9:24 sana dan kemari. Ini bukan merupakan 9:26 tuntunan agama. 9:29 Tapi bagaimana ya Rasul mendidik 9:32 sahabat-sahabatnya untuk memulai dengan 9:34 mengenal Allah, kebesarannya, 9:36 keagungannya. Ayat Al-Qur'an yang turun 9:39 pada periode Makkah selama 13 tahun 9:42 merupakan pendidikan yang amat indah. 9:46 Di mana sebelumnya mereka 9:49 didominasi oleh nilai-nilai jahiliah. 9:52 Secara perlahan-lahan nilai-nilai 9:54 jahiliah digantikan dengan nilai-nilai 9:57 Islam yang begitu indah. 9:59 Mereka dikeluarkan dari wawasan dunia 10:02 yang sempit menuju dunia dan akhiratnya. 10:04 Ya, dunia untuk kehidupan akhirat. 10:08 Kemudian bagaimana Nabi menumbuhkan 10:10 kecintaan di antara sesama mereka. 10:14 Bagaimana kecintaan ya seorang terhadap 10:19 sahabatnya yang beriman apalagi terhadap 10:22 orang tuanya. Bahkan Quran memerintahkan 10:25 anak-anak manusia untuk bersikap baik 10:28 pada ayah ibunya walaupun kedua orang 10:30 tuanya dalam keadaan musyrik. 10:32 diperintahkan memperlakukan mereka 10:34 dengan baik dan mulia kecuali kalau 10:36 mereka memerintahkan perintah yang tidak 10:39 benar dan tidak tidak sesuai dengan 10:42 tuntunan Allah. 10:44 Orang tua juga diperintahkan untuk 10:46 memperlakukan anak mereka dengan mulia. 10:48 Begitu pula pasangan-pasangan hidup 10:51 mereka menjadi contoh di tengah-tengah 10:53 mereka. mengingatkan mereka agar mereka 10:57 melindungi keluarga mereka dari azab api 11:00 neraka dengan cara hidup yang Allah 11:03 tunjukkan, 11:05 dengan cara hidup yang akan mensucikan 11:07 jiwa mereka dan mendidik anak-anak 11:09 mereka untuk betul-betul 11:13 menghormati Allah dan mendambahkan 11:15 kehidupan akhirat. Ya ayyuhalladzina 11:17 amanu 11:19 anfusakum wa ahlikum. 11:22 Wahai orang yang beriman, lindungi diri 11:24 kalian dan keluarga kalian dari azab api 11:27 neraka. 11:29 Perhatikan bagaimana Nabi Allah Nuh 11:32 yang hidup selama 950 tahun 11:36 tak jemu-jemunya untuk memberikan 11:39 peringatan kepada umat siang malam baik 11:42 secara terang-terangan atau pendekatan 11:45 ya yang sifatnya pribadi. 11:49 Tak pernah jemu memberikan peringatan 11:51 kepada kaumnya. Begitu pula pada anaknya 11:54 sampai saat-saat terakhir ketika azab ya 11:58 telah datang. Nuh memanggil anaknya 12:01 mengatakan, "Ya bunarkam wum maal 12:04 kafirin." Wahai anakku, bergabung naik 12:06 ke dalam bahtera bersama kami. Jangan 12:08 kau bergabung dengan orang yang kafir. 12:11 Arti bagaimana perhatian orang tua untuk 12:13 memberikan peringatan pendidikan 12:16 terhadap anaknya? Dan kata ya bunai Mbak 12:19 Nuning dalam bahasa Arab itu panggilan 12:21 orang tua yang mesra pada anaknya. 12:23 Padahal anaknya kafir, 12:26 istrinya pun dalam kekafiran. Tapi 12:28 bagaimana Nuh bersabar menghadapi 12:34 penyimpangan dari anaknya dengan tetap 12:37 hangat mengatakan, "Wahai anakku sayang, 12:40 naik ke dalam bahtera. Jangan kalian 12:41 bergabung bersama orang kafir." Si anak 12:44 mengatakan, "Saawi jabalimallah. 12:49 Saya akan naik ke puncak gunung yang 12:50 melindungi saya dari air." Mengatakan, 12:53 "Laimal 12:55 min amrillahi illa man rahim." 12:57 Tidak ada yang bisa menyelamatkan kamu 12:59 dari ketentuan Allah kecuali kalau kamu 13:01 masuk dalam rahmatnya. 13:04 Di depan mata si ayah, anak dipisahkan 13:07 dengan gelombang yang menelan dirinya. 13:09 Wahala bainahumal mauju. 13:13 Nuh bersedih, berduka bukan untuk 13:16 dirinya. 13:17 Bersedih menyaksikan anaknya binasa dan 13:21 di hari akhir nanti dia akan tergolong 13:23 orang-orang. 13:25 Artinya orang tua dalam mendidik anaknya 13:28 betul-betul harus mengutamakan 13:31 kelurusan anaknya, 13:34 cara hidupnya yang benar, diperlakukan 13:37 dengan kasih sayang, tidak menggunakan 13:39 kata-kata yang kasar untuk menumbuhkan 13:41 rasa cinta di hati mereka. 13:45 Tapi kalau orang tua tidak 13:46 memperkenalkan anaknya kepada Allah, 13:48 walaupun sekolahnya tinggi, sukses 13:51 setiap tahun kembali kepada orang tua 13:54 membawa angka yang terbaik tapi tidak 13:56 pernah diperkenalkan kepada Allah. Ini 13:58 akan menjadi bom waktu. Satu hari nanti 14:01 si anak akan lupa kepada orang tuanya 14:04 sebagaimana anak lupa untuk mendidik 14:06 anaknya agar mengenal Tuhan. 14:09 Dan ini yang terjadi. Ini yang terjadi. 14:13 Satu hari 14:16 seorang ayah yang punya beberapa anak 14:18 yang semuanya sukses. 14:21 Salah satunya belajar di Jerman. 14:25 Akhirnya si ayah bilang sama anaknya, 14:27 "Saya akan berangkat menggunakan pesawat 14:30 luftansa, 14:32 penerbangan nomor sekian. Tolong jemput 14:34 saya di airport." 14:37 Si ayah terbang 14:39 sebelum dia bercerita mengenai 14:41 anak-anaknya semua yang sukses. Di 14:44 antaranya yang belajar di Jerman. 14:46 Berangkat tiba di Frankfurt, di airport. 14:50 Dia nengok ke sana kemari tidak 14:52 menjumpai anaknya. 14:54 Dia telepon si anak mengatakan, "Ya, 14:58 saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan." 15:00 Jadi ayah masuk ke hotel. Saya sudah 15:03 siap booking hotelnya. Nanti selesai 15:05 kerja saya datang. Si ayah pikir benar. 15:09 Oh, ini anaknya enggak bisa meninggalkan 15:12 pekerjaannya. 15:14 Dia berangkat menuju hotel. Tinggal di 15:16 hotel dengan penuh kerinduan menantikan 15:18 anaknya kembali dari pekerjaan. 15:21 Akhirnya 15:23 si anak 15:25 selesai kerja menuju ke hotel tempat 15:28 kediaman sang ayah. Si ayah merangkul 15:31 anaknya dengan penuh kerinduan. 15:34 Sedangkan si anak tidak merasakan 15:36 kehangatan biasa. 15:39 Lalu si ayah mengatakan apa? Kapan saya 15:41 bisa ke rumah kamu? Dia mengatakan 15:44 tunggu. Pada saat weekend 15:47 karena dia menikah dengan seorang wanita 15:48 dari Jerman. 15:51 Saya enggak bisa bawa ayah apa namanya 15:53 tinggal di sana karena saya sudah 15:55 berumah tangga. Jadi ayah tetap tinggal 15:57 di hotel. Pada saat weekend mampir ke 15:59 rumah. 16:03 Si ayah langsung terpaku pada saat itu. 16:07 Dia bilang, "Saya ini datang bukan untuk 16:10 apa? 16:12 Sekedar datang ke Jerman, tapi ingin 16:14 melihat kamu karena merindukan kamu." Si 16:17 anak langsung membuka buku cek dulu 16:19 berapa biaya yang ayah keluarkan untuk 16:21 saya? 16:23 Astag. 16:26 Akhirnya 16:28 Siaya mengatakan 16:30 dalam keadaan terpukul yang luar biasa, 16:33 yang salah selama ini saya bukan kamu. 16:37 Saya hanya perhatikan pendidikan kamu 16:40 agar kamu sukses. Saya banggakan 16:41 bercerita di tengah teman-teman, tapi 16:44 saya lupa untuk memperkenalkan kamu 16:47 kepada Tuhan, 16:49 mengajarkan kamu apa yang sewajibnya 16:52 kamu lakukan. Ini kesalahan saya. 16:56 Dia pesan langsung sama anaknya booking 16:57 tiket untuk penerbangan yang pertama 17:00 menuju Jakarta. 17:03 Dia kembali terbang menuju Jakarta. 17:06 Siarak enggak memahami kenapa orang 17:07 tuanya seperti ini. Menurut dia tindakan 17:10 dia benar. 17:12 Begitu pulang ke Indonesia 17:15 dia bertemu dengan teman-temannya. 17:18 Dia mengatakan, "Kalian belajar dari 17:21 pengalaman saya. Jangan sekali-kali 17:23 kalian mengulang. 17:25 Jangan pernah lupakan Allah 17:28 dalam setiap langkah dan perjalanan 17:31 hidup Anda. Baik terhadap diri Anda, 17:34 anak Anda, keluarga Anda. Kalau tidak, 17:36 Anda akan menyesal sebagaimana Anda 17:38 meninggalkan Allah. Anda akan 17:40 ditinggalkan Allah. 17:43 Jadi kejadian yang kita jumpai dari 17:46 cerita Mbak Nuning tadi, dua orang anak 17:50 ya membawa ibunya ke tempat penampungan 17:53 orang tua. 17:55 Karena kedua anak ini anak perempuan 17:57 lagi, tidak mau merawat anaknya, orang 18:00 tuanya. 18:02 Akhirnya pihak atau pemimpin 18:06 dari 18:09 tempat tersebut, 18:11 Panti Jompo mengatakan kalau Anda 18:13 serahkan orang tua Anda, maka Anda harus 18:16 ikhlas rela bahwa Anda tidak akan 18:18 dihubungi pada saat 18:21 orang tua Anda meninggal. 18:24 Saya perhatikan di YouTube, ternyata 18:27 anak perempuannya tertawa senang. 18:29 katanya 18:30 tertawa dan tersenyum. 18:32 Tidak sendiri. Tidak. 18:34 Waktu diminta tanda tangan mereka setuju 18:36 dan saya lihat yang kedua mukanya 18:39 berbunga-bunga 18:40 sumringah ketika diminta untuk 18:43 menandatangani hal tersebut. 18:46 Padahal menggunakan jilbab. 18:48 Saya lihat. Lalu di mana letak 18:51 kesalahannya? Karena saya jumpai 18:53 biasanya 18:54 anak laki-laki 18:56 banyak yang begitu sudah menikah 19:00 kurang perhatian semua orang tuanya. 19:02 Tapi anak-anak perempuan saya jumpai dia 19:05 yang memandikan orang tuanya yang 19:07 memberikan perhatian secara penuh pada 19:09 orang tuanya. Tapi kejadian ini ya 19:13 terjadi di tengah-tengah kita. Dan 19:15 mungkin bukan hanya kasus yang ganjil, 19:18 banyak kejadian semacam ini. Saya lihat 19:21 orang tuanya juga bersedih ya. 19:24 Dia juga menggunakan jilbab. 19:27 Saya bertanya-tanya 19:29 apakah kesalahan dari orang tua yang 19:32 tidak mendidik anaknya 19:35 untuk betul-betul mengenal Allah, 19:37 mengenal Tuhannya, mengenal kehidupan 19:39 dunia, mengenal juga kehidupan akhir? 19:43 Apakah dari pengaruh lingkungan 19:46 atau karena pribadi anak tersebut ya 19:49 yang memang tidak baik karena pengaruh 19:51 pendidikan lingkungannya atau setelah 19:52 dia berumah tangga dia tidak ingin 19:54 terganggu padahal merawat orang tua itu 19:58 betul-betul membawa keberkahan yang tak 20:00 terhingga. Tidak ada seorang anak yang 20:03 berbakti pada orang tuanya, 20:05 merawatnya, membesarkannya, kecuali 20:08 Allah akan buka pintu rahmatnya di dunia 20:11 maupun di akhirat. Bila dia panjang 20:13 umur, Allah akan buka pintu 20:15 keberkahannya 20:17 di dunia. Bila tidak di hari akhirat 20:19 nanti Allah Subhanahu wa taala masukkan 20:22 dirinya ke dalam golongan orang-orang 20:23 yang dimuliakan Allah. 20:26 Ada tiga orang 20:29 bersahabat dan ketiga-tiganya ini orang 20:32 yang berbakti pada ibunya. 20:36 Ketiga-tiganya ini bukan dari latar 20:38 belakang orang 20:41 yang dekat dengan agama. Dia salat ya 20:44 sebagai seorang muslim ya, tapi bukan 20:47 orang yang termasuk dalam lingkungan 20:50 yang agamis. 20:54 Ketiga-tiganya berawal dari orang tidak 20:56 punya. 20:58 Orang tidak bu punya. Saya enggak 21:00 sebutkan jenis pekerjaannya 21:06 agar orang tidak tahu ya siapa mereka. 21:09 Tapi saya ceritakan bagaimana berawal 21:11 dari orang tidak punya. Tapi 21:14 kebaktiannya terhadap ibunya luar biasa. 21:19 Perlahan-lahan. Nasibnya apa? Nasibnya 21:22 berubah dari orang yang tidak punya 21:24 mulai menjadi orang yang punya. 21:28 Si ibu selalu ingatkan anak-anak ini 21:31 untuk perhatian pada siapa? Pada 21:33 adik-adiknya 21:35 yang perempuan. 21:37 Begitu juga adik-adiknya yang laki-laki. 21:40 Subhanallah. 21:42 Ketiga-tiganya ini betul-betul mentaati 21:45 ibunya. 21:47 apa yang ibunya inginkan diutamakan 21:49 melebihi 21:51 apapun juga. 21:54 Bahkan ketika dia menikah, 21:56 dia wanti-wanti pesan pada istrinya, 21:59 "Kamu 22:01 bantu saya untuk betul-betul menjadi 22:04 orang yang bakti pada orang tua. Saya 22:06 bisa maafkan kesalahan kamu dalam urusan 22:08 lain, tapi menyangkut ibu, ya saya tidak 22:12 akan toleransi." 22:15 Suaminya betul-betul sayang sama 22:16 istrinya, 22:18 tapi dia ingatkan istrinya bahwa masalah 22:21 yang berhubungan dengan orang tuanya ini 22:24 di mana merupakan khat ahmar, garis 22:27 merah yang tidak boleh sama sekali 22:28 dilangkahi. 22:30 Jadi si istri juga karena orang karena 22:31 suaminya berbakti pada ibunya dan dia 22:36 jaga perasaan ibunya dihormati si istri 22:38 juga apa demi mendapatkan kecintaan 22:40 suami ya dia juga menunjukkan perhatian 22:44 pada ibunya tapi kalau suaminya kurang 22:46 ajar pada orang tuanya si istri akan 22:48 lebih kurang ajar lagi. Jadi si istri 22:51 bagaimanapun keras tetap dia apa menjaga 22:54 dirinya di saat berhubungan dengan orang 22:56 tua suaminya. 23:00 Allah kasih subhanallah nasibnya 23:02 berkembang dengan pesat. 23:05 Berkembang dengan 23:06 besar. Allah kasih hartanya melimpah. 23:09 Kalau si ibu mengatakan belikan adik 23:11 kamu rumah langsung diberikan. Bahkan 23:14 adik-adiknya semua pekerjaan mereka dia 23:17 yang berikan. 23:21 Malah salah satu dari mereka ini kalau 23:24 malam mabuk, 23:27 kalau pagi tidur, siang baru bangun. 23:30 Tapi yang aneh orang berkumpul di 23:32 rumahnya. 23:34 Ada yang menawarkan tanah, menawarkan 23:36 bangunan, ada yang mau beli tempat dia. 23:39 Jadi, seolah dia tuh bukan orang yang 23:41 bekerja dengan serius, tapi Allah 23:43 kirimkan yang menawarkan barang, yang 23:46 mau beli barang dia. 23:50 Tapi kalau kita lihat ke belakang, arang 23:52 ini, 23:54 begitu bangun buka matanya pertama 23:56 dilihat ibunya. Dia datangi rumah 23:58 ibunya, dia lihat kebutuhan ibunya baru 24:01 beli kendaraan mewah. 24:04 Meri yang pada saat itu baru keluar 24:06 dengan tipe yang terbaik. Sibuk bilang 24:08 kasih saudara kamu diberikan pada 24:11 saudara. 24:15 Sedangkan saudara laki-laki ini bangun 24:19 malam 24:21 puasa. Kalau siang 24:24 dia sudah lebih maju daripada saudaranya 24:26 sebelumnya. Dia bangun rumah 24:29 bertahun-tahun enggak laku-laku. 24:31 Sedangkan ini bangun rumah baru sebentar 24:34 sudah ada yang beli. Sampai sudah 24:35 laki-lakinya bilang sama 24:38 saudaranya ini yang tangannya dingin, 24:41 "Kamu beli rumah saya, kamu bayar harga 24:42 modalnya." Dia bilang, "Baik, saya beli 24:45 dengan harga modalnya. Nanti kalau saya 24:47 jual ada untung, kita bagi dua." Baru 24:50 dipegang beberapa hari, orang sudah 24:52 tawar rumah. 24:56 Padahal orang ini kalau malam mabuk 24:59 berjudi, 25:01 kalau siang tidur, 25:03 tapi Allah kasih di akhir umurnya dia 25:05 bertobat. 25:07 Sedangkan saudaranya yang siang puasa 25:09 malam bangun bilang, "Ya Allah, saudara 25:13 saya yang mabuk kamu luaskan rezeki. 25:15 Sedangkan saya ini yang puasa di waktu 25:18 siang, bangun di waktu malam. Kenapa kau 25:20 biarkan saya seperti ini?" Ternyata apa? 25:25 Yang kakak ini yang maju tadi. Kalau 25:27 ibunya tanya, "Kamu punya uang?" Lagi 25:29 enggak ada umi, lagi begini, lagi 25:32 begitu. Sedangkan yang satu ini kalau 25:35 ibunya butuh sesuatu ada walaupun enggak 25:37 punya dia pinjam-pinjam. 25:40 Jadi kita lihat bagaimana kebaktian 25:42 terhadap orang tua itu akan membuka 25:45 pintu rahmat dan keberkahan. Sampai Nabi 25:47 mengatakan, "Sungguh rugi seorang anak 25:51 dia menjumpai orang tuanya dalam keadaan 25:54 lanjut usia tapi tidak bisa masuk surga 25:56 dengan sebab orang tuanya. 25:59 Karena kalau dia berbakti pada orang 26:00 tuanya itu merupakan jalan yang paling 26:03 pintas menuju surga." 26:07 Cuma sayang orang sekarang memperhatikan 26:10 kesenangan dirinya, ketenangannya, rumah 26:12 tangganya enggak mau terganggu. 26:14 Padahal keberadaan ibu jadi cahaya dalam 26:16 rumah. Memberikan kehangatan. Kalau anak 26:19 kita sakit, ada ibu kita perasaan 26:23 dia meringankan beban kita. Terkadang 26:26 cuma diolesin bawang sama minyak 26:29 itu anak sembuh. 26:31 Dan subhanallah adanya orang tua dalam 26:33 rumah itu baru kita rasakan begitu dia 26:36 meninggal dunia. 26:39 Nah, yang saya jumpai dari orang-orang 26:41 yang berbakti ini Allah murahkan 26:43 rezekinya sampai orang berpikir ini 26:46 orang kerja biasa-biasa aja, tapi kok 26:49 kenapa rezekinya? 26:51 Ada orang banting tulang siang malam 26:54 bekerja, 26:56 ternyata apa? Rezekinya bukan hanya 26:59 pas-pasan, bahkan tidak cukup. 27:02 Jadi bukan hanya bergantung pada usaha 27:05 ya secara langsung berhubungan dengan 27:07 materi kita. Siapa yang ingin diberkahi, 27:10 dilapangkan rezekinya, dipanjangkan 27:12 umurnya, 27:13 berbakti pada orang tuanya. 27:16 Dan langsung sebelum di akhirat Allah 27:19 berikan balasan baginya. Kalau dia non 27:21 muslim, di dunia Allah berikan 27:23 keberkahan yang tak terhingga. Dan kita 27:26 temukan banyak pengusaha-pengusaha 27:29 Cina di Indonesia. 27:31 Allah murahkan rezeki mereka. Waktu 27:33 diteliti ternyata mereka betul-betul 27:35 perhatian terhadap orang tua mereka. 27:39 Sedangkan sekarang banyak orang Islam 27:42 katanya ingin diberkahi hidupnya, ingin 27:45 diluaskan rezekinya, ingin disehatkan 27:47 badannya. 27:48 [Musik] 27:49 Tapi ternyata harapan mereka setelah 27:51 mereka berusaha siang malam segitu-gitu 27:55 aja. Padahal ada orang tua di 27:57 sampingnya. Kalau dia ambil keridaannya, 28:00 berbakti padanya, insyaallah Allah 28:02 bukakan pintu rezekinya. Ada contoh yang 28:05 lain, Mbak Ruli. 28:07 Seorang perempuan datang kepada saya, 28:10 dia menikah dengan seorang. 28:13 Kebetulan dia janda, dia menikah dengan 28:15 seorang ya 28:18 yang cukup terpandang. 28:22 Lalu suaminya mengajak dia berinvestasi 28:26 di Nekel. 28:28 Istrinya kebetulan orang yang beruang. 28:31 Dia masukkan uangnya mungkin puluhan 28:33 miliar masuk. 28:35 Setelah investasi 28:38 ternyata 28:39 tidak kunjung sama sekali apa 28:43 keuntungan datang padanya. Malah dia 28:45 khawatir kalau duitnya tidak kembali. 28:49 Allah kasih subhanallah datang ke tempat 28:51 saya diceritakan keadaannya bahwa dia 28:54 investasi bersama suaminya. Suaminya 28:56 juga anggota TNI ya 28:59 yang cukup tinggi jabatannya. 29:02 Dia enggak sebutkan siapa namanya. 29:04 Kemudian dia bilang, "Saya ingin, Ustaz, 29:08 uang saya kembali walaupun enggak ada 29:09 keuntungan." 29:12 Dia mulai khawatir, kan? 29:13 He. 29:14 Apalagi status dia sebagai istri. Dan 29:17 investasi ini atas dasar suka sama suka 29:20 bukan menggunakan apa? Menggunakan 29:24 artinya bukti tertulis. Tapi karena 29:26 istri cinta pada suaminya, 29:29 diinvestasikan uang. 29:31 Saya bilang, "Mau enggak kamu jalan 29:33 keluar? Kalau saya paling cuma bisa 29:36 berdoa sama kamu. 29:39 Tapi hati orang kan di tangan Allah. 29:41 Kamu punya orang tua enggak? Punya, di 29:43 mana tinggal di Purwokerto?" "Baik, kamu 29:45 pulang sekarang ke Purwokerto." 29:47 "Berapa lama kamu sudah enggak menemukan 29:49 orang tua?" Kamu sudah cukup lama, 29:50 Ustaz. Nah, sekarang kamu pulang ke 29:52 Purwokerto, 29:53 kamu senangkan orang tua kamu, ibu kamu 29:55 nih. Perhatikan dia, berikan apa-apa 29:59 yang menyenangkan dia. Kemudian kalau 30:02 perlu kamu berikan sesuatu agar orang 30:04 tua kamu juga berbagi terhadap orang di 30:06 sekitar supaya orang-orang di sekitarnya 30:08 apa? 30:09 Dan orang tua kamu juga merasa bahagia 30:11 dengan apa yang dilakukan. 30:13 Duduk sama-sama dia sementara waktu. 30:17 J kalau enggak salah duduk sama ibunya 30:18 seminggu atau 2 minggu. 30:20 Setelah itu dia pulang ke Jakarta, minta 30:22 doa dari ibunya. Pulang ke Jakarta. 30:25 Tidak lama kemudian si perempuan telepon 30:26 saya mengatakan, "Ustadz, alhamdulillah 30:29 sebagian uang yang diinvestasikan 30:32 sudah dikembalikan dan dia akan apa 30:35 namanya mengembalikan dengan harapan 30:37 juga ada keuntungannya. 30:39 Jadi terkadang rezeki kita ini seret, 30:42 kita mengalami cobaan karena kita 30:44 mengabaikan orang yang seharusnya 30:46 mendapatkan perhatian terbesar dari 30:48 kita, orang tua kita. Begitu juga 30:50 saudara-saudari kita. Apalagi kalau 30:52 saudari perempuan kita, ibu kita sudah 30:55 meninggal, ada saudari perempuan kita 30:57 atau saudari laki-laki kita susah. 30:59 Kita tidak berikan perhatian buat mereka 31:01 pada saat mereka susah. Itu bisa menjadi 31:05 kendala bagi kita untuk mengalami cobaan 31:08 demi cobaan. Bahkan sempitnya rezeki 31:11 kita juga susahnya hidup kita. 31:14 Tapi kalau kita memperbaiki hubungan 31:17 rahim kita dengan keluarga kita, apalagi 31:21 saudara perempuan kita, saudara kita, di 31:24 saat mereka butuh kita mampu berikan 31:25 bantuan untuk mereka. Itu langsung ya 31:29 lebih ampuh daripada doa yang kita 31:31 panjatkan ya 31:34 tanpa kita melakukan tawasul kepada 31:36 Allah dengan amal-amal saleh. Allah 31:38 perintahkan kita untuk bertawasul kepada 31:40 Allah. Ya ayyuhalladzina amanutaqulah 31:42 wabagu ilaihil wasah. Nah, bertawasul 31:45 kepada Allah dengan amal yang Allah 31:47 cintai. 31:49 Berdoa merupakan tawasul. Sebelum berdoa 31:51 coba sedekah ya, silaturahmi. 31:54 Datang semua orang tua kita senangkan 31:57 hati. Itu namanya tawasul dengan amal 31:58 yang Allah ridai. Begitu juga kita 32:01 membaca Al-Qur'an, berselawat pada 32:03 Rasul, bersikap baik pada tamu, 32:06 tetangga, kita menguji orang yang sakit 32:08 itu merupakan amalamal saleh yang bisa 32:11 menjadi wasilah kita untuk membuka pintu 32:14 rahmat Allah. Jadi, kesimpulannya dua 32:17 kasus yang kita dengar tadi 32:21 sebetulnya kembali kepada pengabaian 32:23 kita. Yang pertama ibu yang dibuang ke 32:26 rumah jompo. 32:28 Kedua anak ini seharusnya diingatkan. 32:32 Ada ulama atau ustaz setempat memberikan 32:34 peringatan, "Kamu sudah mengalami 32:36 kerugian besar. Kerugian yang luar 32:38 biasa. Di mana ibu kamu akan menjadi 32:42 pembuka pintu rahmat, ampunan, dan 32:44 kemurahan dari Allah. Tapi kau buang 32:46 kunci tersebut. Berikan peringatan 32:48 padanya. Jangan kita biarkan ya. 32:51 Kemudian juga Pak pemilik atau pengusaha 32:54 jompo tersebut ya juga diingatkan kalau 32:57 anaknya ingin kembali bertobat mengambil 32:59 ibunya kembali diberikan agar mereka 33:01 tidak menjadi anak yang durhaka. Adapun 33:04 yang kedua, Mbak Nuning, 33:06 ibu yang suaminya meninggal dunia diajak 33:10 oleh anaknya tinggal di rumah. 33:13 Kemudian menghadapi cucu yang 33:16 kocar-kacir, masing-masing membawa 33:18 dirinya yang jejet dan lain sebagainya. 33:21 membuat ibu tidak merasa nyaman dalam 33:24 rumah. Di sini dengan sendirinya 33:28 anak dan mantunya salah. Seharusnya ya 33:32 mereka memberikan perhatian yang 33:34 betul-betul apa besar buat ibunya, 33:36 memberikan nasihat buat anak-anaknya. 33:39 Tapi karena suami istri sibuk bekerja 33:41 untuk membuat anak betah di rumah, 33:44 mereka berikan jejet tanpa kendali. 33:47 Tidak diingatkan juga akan kewajiban 33:49 untuk hormat pada orang tuanya. atau 33:51 orang tua, ayah maupun ibunya akhirnya 33:53 seperti ini. Ini semua akibat dari 33:57 pengabaian 33:59 dan kita rasakan betul-betul ya kita 34:03 mengenal kebaktian pada orang tua juga 34:05 karena pendidikan orang tua dengan 34:07 cerita-cerita yang baik, perlakuan baik 34:10 dari orang tua. Kita ini anak idola kita 34:13 pertama orang yang dalam rumah, 34:16 bukan orang lain. Kita selalu 34:17 beranggapan orang tua kita atau nenek 34:20 kita merupakan orang yang terbaik. 34:22 Walaupun belum tentu mereka terbaik 34:24 dalam arti sebenarnya, tapi buat kita 34:26 merupakan orang yang terbaik. Jadi apa 34:27 yang mereka ucapkan kita percaya, apa 34:30 yang mereka ceritakan langsung masuk ke 34:32 dalam hati kita. 34:34 Nah, kalau orang tua bersikap baik, 34:36 lemah lembut ya dalam berbicara, 34:39 memberikan perhatian itu subhanallah 34:43 apa yang diucapkan orang tua akan betul 34:46 menjadi perhatian kita. Oleh karena itu, 34:49 Rasul dalam mendidik anaknya maupun 34:51 cucunya mendidik mereka dengan penuh 34:53 kecintaan. 34:55 Dan kita harus ingat bahwa rahmatrahmat 34:58 yang kita taburkan 35:01 semuanya akan kembali pada kita. Hingga 35:03 Allah Rasulullah bersabda, "Irhamu man 35:06 fil ardhi yarhamkum man fisama." 35:09 Innallaha yarhamu min ibadihir ruhama. 35:13 Man la yarham la yurham. Kasihi sayangi 35:16 yang di bumi, yang di langit akan 35:18 mengasihi, menyayangi kalian. Allah 35:20 merahmati, mengasihi, menyayangi 35:22 hamba-hambanya yang pengasih dan 35:23 penyayang. yang tidak punya rasa rahmat. 35:26 Orang yang jauh dari rahmat Allah. Dalam 35:29 sebuah riwayat hadis walaupun sanadnya 35:32 lemah, arahmatu maubatin illaatu. Rahmat 35:37 ini kalau diletakkan pada sesuatu 35:39 walaupun sesuatu tersebut merupakan hal 35:41 yang tidak menarik berubah menjadi 35:42 indah. 35:44 Wama nuziat min. Tapi kalau rahmat 35:46 dicabut dari sesuatu walaupun dia cantik 35:49 tampan, hilang keindahan. 35:52 Seekor harimau menyeramkan. Tapi pada 35:54 saat dia berburu 35:56 kemudian membuka beru aja dihidangkan 35:58 pada anaknya si anak makan sambil 36:01 dijilati itu suasana yang mengharukan. 36:05 Padahal harimau itu merupakan binatang 36:07 yang menyeramkan. Betul gak? 36:09 Tapi kalau seekor kambing katakan 36:12 anaknya mau mendekatus ditendang, diusir 36:14 ya katakan umpamanya langsung pandangan 36:18 kita kambing tersebut apa? 36:20 langsung 36:21 perasaan antipati muncul di hati kita. 36:24 Jadi, rahmat ini sebetulnya dicintai, 36:27 disukai, disambut oleh setiap orang. 36:30 Walaupun dia seorang kafir. Walaupun 36:32 seorang kafir, tapi sikap kasar yang 36:36 tidak baik, tidak disukai oleh setiap 36:39 orang, walaupun oleh pasangan kita 36:42 maupun apa anak kita sendiri. Maka gauli 36:45 anak-anak kita dengan penuh rahmat. 36:48 Allah subhanahu wa taala akan 36:50 menumbuhkan rasa rahmat di hati mereka. 36:52 Inna rahmatallah qoribun minal muhsinin. 36:56 Nah, di tengah-tengah pendidikan yang 36:58 begitu maju, Mbak Nuning, zaman dulu 37:00 kita tuh kalau memegang alat elektronik 37:02 takut. Takut rusak, takut salah, takut 37:04 ini. Sekarang anak kecil kita lebih 37:07 canggih dibandingkan kita. Betul gak? 37:10 Kemajuan yang begitu pesat tapi dengan 37:14 jiwa yang rapuh akan menjadi ancaman dan 37:17 bahaya. 37:18 Oleh karena itu yang sekarang dibutuhkan 37:20 di tengah-tengah umat nasihat, 37:22 bimbingan, kelembutan yang menyembut 37:24 menyentuh hati ini yang akan menjadi 37:27 benteng yang kuat bagi mereka. Jadi 37:29 bukan hanya kecerdasan mereka, 37:31 pengetahuan mereka luas, tapi jiwa 37:33 mereka penuh dengan rasa rahmat, 37:36 kelembutan, kemudian juga bekal 37:39 keyakinan akan kebenarannya, dan selalu 37:42 melihat hari akhirat hingga tidak 37:44 menjadi orang yang culas, egois, dan 37:47 arogan. Wallahuam. 37:49 Ikhwan akhwat, ternyata agar terbuka 37:52 pintu rahmat itu tidak bisa tidak satu. 37:55 Yang pasti adalah berbakti kepada ayah 37:57 dan bunda. Semoga kita semua belum 38:00 terlambat ya. Insyaallah. 38:02 Insyaallah. 38:03 Tanpa pula yang akan disampaikan oleh 38:05 psikolog kita. Mari kita simak. 38:11 Bismillahirrahmanirrahim. 38:13 Asalamualaikum 38:15 warahmatullahi 38:16 wabarakatuh. 38:17 Waalaikumsalam warahmatullahi 38:20 wabarakatuh. 38:22 Alhamdulillah, 38:25 segala puji yang mempunyai rahmat yang 38:27 besar. Segala puji yang berbagai macam 38:33 rahmatnya datang 38:36 kepada kehidupan kita, kepada 38:39 kebahagiaan kita, kepada ketentraman 38:43 kita. Rahmat itulah yang akan mencerna 38:48 dalam kehidupan. 38:51 Ketika rahmat itu datang kepada kita, 38:54 kita akan senang, kita akan bahagia. 38:58 Seperti yang tadi dikatakan 39:01 ketika rahmat itu ada yang jelek, yang 39:05 tidak menarik akan menjadi menarik. 39:10 Dia akan menjadi menarik dan menarik 39:13 menjadikan kehidupan yang menyenangkan. 39:16 Tapi ketika rahmat itu dicabut, yang 39:20 cantik, yang manis akan menjadikan jenuh 39:24 dan kita malas melihatnya 39:27 karena rahmatnya Allah. 39:30 Ketika kita melihat kasus yang terjadi, 39:36 seorang ibu 39:40 dengan 39:42 tenang, dengan diam, dan tidak 39:45 memberontak, 39:47 tidak marah, 39:49 dia diam saja. 39:52 Ketika dia dititipkan di panti jompo 39:57 oleh dua orang anaknya, 40:01 bukan tetangganya, 40:04 bukan temannya, bukan tetapi anaknya. 40:11 anaknya yang menyerahkan kepada panti 40:15 jompo. 40:19 Sesuatu yang luar biasa yang kita tidak 40:21 masuk di akal. 40:24 Seorang ibu 40:26 yang dengan sendirinya dia sudah harus 40:28 dipanti jompo. 40:31 Sebaiknya kalau ibu itu mengatakan, 40:34 "Saya mau dipanti jompo, itu akan lebih 40:36 baik daripada diantarkan oleh 40:39 anak-anaknya ke panti jombo." 40:44 Dan anak-anak itu mentandatang 40:46 mentandatangani 40:49 bahwa kalau meninggal 40:52 dia tidak perlu dikabari. 40:57 Luar biasa 41:00 itu tanda tangannya itu merupakan suatu 41:04 hal yang tidak baik. 41:09 Ibunya itu dia dengan tenang, dengan 41:11 senang, dengan diam, dengan tiap enggak 41:14 ada air mata, tidak ada gerakan apapun. 41:20 Dan kedua anak itu tersenyum 41:24 seakan-akan 41:26 permasalahannya dia sudah selesai. 41:29 Apa permasalahan dirinya? 41:33 Kita lihat seorang anak ketika ibunya 41:37 sudah dititipkan, 41:40 dia merasa nyaman, merasa senang, merasa 41:45 bahagia. 41:48 Apakah dia senang dan bahagia? Kita 41:51 tidak tahu 41:55 ketika dia titipkan dia sudah lepas 41:57 seakan-akan sudah bebas dari penderitaan 42:02 yang diterima dirinya. Siapa itu yang 42:06 diterima? Seorang ibu. 42:10 seorang ibu yang masih 42:14 ya masih semangat untuk hidup 42:18 tapi sudah dipisahkan di panti jompo dan 42:21 tidak diketahui. 42:25 Nah, kita ketahui sekarang apa yang 42:28 terjadi. 42:31 Apa yang terjadi ketika itu dia bisa 42:34 menitipkan? Apa yang terjadi ketika dia 42:37 bisa menitipkan? 42:40 Mungkin pertama kali mungkin 42:45 ibunya di rumah 42:49 cerewet 42:51 minta ini, minta itu, minta itu. 42:54 Akhirnya anak itu enggak mampu menerima. 42:59 sudah dikasih minum minta minuman yang 43:02 lain, dikasih makan minta makan yang 43:05 lain. 43:07 Mungkin cerewet pada saat itu. 43:13 Nah, kecerewetan ini yang membuat 43:17 anak-anak itu enggak sanggup. Mungkin 43:22 bisa juga karena ibunya suka 43:26 marah-marah. 43:29 momel, enggak benar, 43:32 dan selalu tiap pulang dari mana ke 43:35 mana, ngapain aja dan sebagainya. 43:40 Itu yang membuat dirinya menjadi susah. 43:46 Kalau kita mendengarkan semua ini, 43:50 bagaimana hati kita? 43:53 Kalau kita sebagai seorang yang ibu itu 43:59 apa yang kita pikirkan? 44:04 Mungkin juga karena si ibu 44:08 selalu mengganggu 44:11 apa yang dilakukan anaknya. Ketika anak 44:14 lagi melakukan sesuatu, ibu tu datang 44:17 langsung mengikut sertakan. Dan itulah 44:20 akibatnya. 44:23 Ini kita lihat kejadian yang terjadi 44:26 mungkin. 44:28 Tapi yang kita lihat ke belakang 44:33 ketika dia masih kecil, ibunya itu yang 44:36 selalu ramai ke sana kemari memberikan 44:39 makan, menyuapin. Masih kecil kita 44:43 disuapin, disusui, 44:50 pergi ke sana bekerja lari ke sini 44:52 mendengarkan suaminya datang langsung 44:55 berkata berk. Mungkin saja si ibu itu 45:00 sambil marah-marah, "Ayo makan yang 45:02 benar, ayo." Tujuannya adalah untuk 45:06 makan. 45:08 Tujuannya adalah kebaikan. Mungkin saja 45:11 caranya yang tidak baik, 45:17 mungkin caranya masih kecil, tidak 45:19 menyenangkan. 45:24 Sampai sudah mulai SMP, SMA dia selalu 45:28 ribut. 45:32 Jadi keributan-keributan itu bisa saja 45:37 itu yang terjadi si ibunya langsung ke 45:39 sana kemari meninggalkan pergi bekerja 45:43 terus balik lagi dan anak-anaknya tidak 45:47 diketahui 45:51 karena bebas. 45:54 tidak dikenalkan Allah, tidak dikenalkan 45:58 kebaikan, tidak dikenalkan sesuatu yang 46:01 menarik, tetapi keduanya menggunakan 46:05 hijab. 46:10 Mereka mempunyai ketentuan yang baik. 46:16 Dari sini kita akan lihat. Bisa juga si 46:20 ibu itu dengan diam enggak pernah 46:23 memberikan sesuatu, hanya menyampaikan. 46:26 Oh ya, ini ada anak itu pergi ke sana, 46:30 pergi berusaha sendiri. Masih SMP, dia 46:33 pergi ke sana. Ibu itu cuman bilang, "Ya 46:36 sudah, mau sekolah ya oke diberikan." 46:40 Hanya sebatas sebatas yang ringan. 46:46 Dan anak itu bekerja sendiri, melakukan 46:50 sendiri, melakukan ambil ini, mengambil, 46:52 makan-makan sendiri semuanya sendiri 46:55 mandiri. 46:58 Dan ibu itu memberikan makan cukup tapi 47:02 untuk yang lain-lainnya anak itu 47:05 mandiri. 47:08 Sampai sudah besar pun dia mandiri 47:12 sendiri. 47:13 Nah, kalau kita melihat semua ini karena 47:18 tidak adanya interaksi 47:22 antara ibu dan anak. 47:27 Karena tidak ada interaksi ibu dan anak 47:31 yang menyebabkan kedekatan, kelekatan 47:34 itu hilang. 47:39 Apakah dia mendekat kepada ibunya, 47:41 sayang, merangkul, memegangkan 47:45 terus membuat dia bahagia? Apakah itu 47:49 yang terjadi? 47:52 Itu tidak pernah terlihat. 47:56 Kita tidak melihat gambaran-gambaran itu 47:58 yang sebenarnya, tapi kita melihat 48:01 bagaimana ibu itu dititipkan di panti 48:04 jompo 48:08 untuk di panti jompo 48:11 dan ditinggal. Setelah itu dia tidak 48:14 pernah tahu siapa orangnya, anaknya 48:17 siapa, 48:19 siapa dirinya. 48:21 Apakah dia punya saudara, apakah dia 48:23 punya keluarga, sepupu dan sebagainya 48:28 itu tidak pernah terlihat. Dia di panti 48:31 jombo. 48:35 Ini yang kita harus perhatikan. 48:39 Kalau si ibu datang misalnya mendidiknya 48:43 dengan mengarahkan begitu anak lahir dia 48:47 gendong, dia susui, kemudian dia mau 48:50 berjalan, dikatakan, "Yo hati-hati. 48:55 Coba lihat itu Allah, itu punyanya 48:58 Allah. 49:00 Kenangkan Allah 49:03 mulai bicara Allah. Coba lihat, 49:07 hati-hati di situ ada air. Oh, ada air. 49:14 Anak itu akan bahagia 49:18 ketika dia lagi jalan megang sesuatu. 49:22 Nah, itu gelas. Oh, iya. Gelas sampai 49:27 besar. Sampai sudah besar. Anak itu 49:31 mengenal semuanya dengan baik. 49:38 Ketika lagi pergi sekolah ditungguin, 49:42 pulang sekolah disambut dengan baik. Itu 49:46 seorang ibu 49:49 diberikan makan, minum, dimandikan, 49:54 terus semuanya itu seorang ibu. 49:57 Tiba-tiba dia sudah mulai besar kembali 50:01 si ibu itu lelah. 50:05 Siapa yang menggantikannya? Anaknya. 50:11 Ketika anak yang sudah besar, dia 50:13 perawat ibunya, dia tungguin makan, dia 50:17 tungguin, dia bekerja, dia balik, dia 50:20 tungguin, dia lihat ibunya yang 50:22 menyenangkan. 50:24 Itu hasil 50:27 pendidikan yang terbaik. 50:31 Tapi apa jadinya ketika itu dia 50:34 dititipkan? 50:37 Subhanallah. 50:39 Dari berbagai macam peristiwa yang 50:41 terjadi, kita akan lihat bahwa 50:47 ketentuan 50:49 pendidikan, 50:51 arahan itulah yang paling terpenting 50:56 ketika dia mendidik, mengarahkan itu 50:59 yang baik 51:02 insyaallah. 51:04 Dan yang kedua, yang kedua unik, dia 51:10 pergi ke tempat anak-anaknya, 51:13 ternyata 51:15 anak dan istrinya memantunya pergi 51:18 bekerja. Anak-anaknya sekolah, pulang 51:21 sekolah main gadget, enggak ada 51:24 interaksi, enggak ada komunikasi. 51:26 Ditanyain, "Nak, mau makan?" 51:29 Entar 51:31 jawabannya entar ya. Sebentar lagi. Oke. 51:35 Boleh ambilin makan. Lagi ngambilin 51:37 makan. Kita taruhkan makanan di meja. 51:42 Udah ditaruh aja di meja. Oke. Taruh di 51:45 sini. Sini. Sini. Saya lagi main. Lagi 51:47 main gadget. 51:50 Bagaimana kita menghadapinya? Nah, 51:54 ketika itu bukan kita menyerah. 51:59 Ini merupakan perjuangan diri kita. 52:04 Ketika anak itu mengatakan, 52:07 "Taruh di meja, oke, taruh di meja." Dia 52:11 makan, dia tidak makan. Kita enggak 52:14 perlu mikirin 52:18 anak itu bergerak. 52:20 bergerak masuk mengambil makanan. Hei, 52:23 kamu makan. Kita kenalkan bukan kita 52:28 diamkan. 52:30 Bukan aduh udah deh diam deh. Kita 52:32 langsung ke panti jompok aja deh 52:33 daripada sumpek di rumah kayak gini. 52:37 Tidak, 52:40 tidak seperti itu. Tapi bagaimana kita 52:43 hidupkan 52:45 diri kita, kita semangatkan bagaimana 52:49 kita mendidik anak ini yang dididikan 52:53 orang tuanya yang salah, kita didikan 52:56 yang benar. 52:58 Insyaallah kita enggak akan mikir ke 53:01 panti jompo. 53:05 Karena pikiran kita ke panti jompo itu 53:08 merupakan suatu hal yang 53:10 luar biasa. Enggak nyaman, enggak enak. 53:16 Jadi, bagaimana ketika kita bersama di 53:20 rumah anak 53:22 kita perhatikan satu persatu? Oh, anak 53:27 kita enggak benar, kita benarkan. Oh, 53:30 dia salah, kita benarkan. 53:33 Oh, naruh tempatnya salah, kita 53:36 benarkan. 53:38 Kita sebagai orang tua membenarkan 53:41 dirinya, 53:43 insyaallah 53:44 keluarga itu akan menjadi mak senang. 53:50 Insyaallah. 53:51 Masyaallah. Jadi, ikhwan akhwat sebagai 53:54 ayah bunda membekali anak, mengenalkan 53:57 anak dengan Allah. Jadi, PR orang tua 54:01 zaman milenial jauh lebih sulit 54:03 dibanding orang tua kita dulu. Ya, Ustaz 54:05 Husin. Kayaknya ada yang perlu 54:07 ditambahkan deh. 54:09 Kesimpulannya memang ya barang siapa 54:12 yang ingin mendidik anaknya menjadi anak 54:14 yang berbakti 54:15 he 54:17 dia harus lebih dekat kepada anaknya 54:20 dibandingkan dengan kesibukan yang lain. 54:25 Jadi kalau anaknya lebih dekat dengan 54:28 berbagai macam kesibukan yang lain, tapi 54:32 kedekatan emosi ber emosi bersama 54:36 anak-anaknya kurang dengan sendirinya 54:39 perhatian anak kepada apa? 54:41 Kepada apa yang lebih akrab bersamanya. 54:44 Nah, kalau kita kan dulu 54:47 kita merasakan kedekatan emosional 54:49 bersama orang tua dan keluarga di rumah 54:51 itu luar biasa. Kita bermain di luar 54:54 tapi kita cerita ke rumah. 54:56 Kejadian di sekolah bersama teman-teman 54:59 ya. Kita mendengarkan cerita dari nenek 55:02 kita, 55:04 dari orang tua-tua di sekelit kita. 55:07 Mereka bercerita bukan lebih banyak 55:10 ceramah. Kalau kita diceramahi itu 55:13 sebetulnya merupakan tekanan. 55:15 Iya. 55:16 Tekanan ya. Seperti orang yang diadili. 55:19 Kecuali kalau pendekatannya pendekatan 55:21 emosional dalam bentuk cerita yang 55:23 menyenangkan. 55:25 Perhatian yang diberikan oleh orang tua 55:27 itu betul-betul masuk ke dalam hatinya. 55:30 Jadi samping menanamkan nilai-nilai iman 55:32 dalam hatinya, ketauladanan 55:35 dari Rasulullah sallallahu alaihi 55:37 wasallam, orang tua di rumah harus 55:40 menjadi tauladan yang menarik. 55:43 Contohnya dia ingin anaknya menjadi anak 55:44 yang berbakti. Dia tunjukkan kebaktian 55:46 dia pada orang tuanya depan anaknya. 55:49 ikut sertakan anak-anak juga dalam apa? 55:52 Dalam melayani kakeknya supaya ini 55:55 menjadi kebiasaan bukan melalui ceramah 55:58 yang rutin, 55:59 tapi melalui pendekatan yang langsung. 56:01 Dilihat, disaksikan bagaimana orang 56:05 tuanya begitu perhatian pada kakeknya. 56:09 Kemudian 56:11 kalau bisa antara orang tua sama anak 56:14 ada transparansi pada hal-hal yang 56:17 harusnya kita transparan 56:20 karena anak terus memperhatikan orang 56:22 tuanya. 56:23 Jangan kita lebih banyak bicara dengan 56:27 tekanan dan bersifat dogmatis tanpa si 56:31 anak memahami ya 56:34 apa ya hikmah di balik apa bimbingan 56:37 petunjuk orang tuanya. Nanti orang anak 56:40 juga apa pada saat dia punya anak juga 56:42 akan berbuat seperti itu. Sehingga satu 56:45 orang tua 56:47 dia pukul anaknya dengan gasper sampai 56:49 berdarah-darah. Beliau mengatakan, "Dulu 56:52 Abah ini bisa berhasil seperti ini 56:54 karena orang tua keras." 56:57 Dia menganggap dirinya berhasil 57:00 karena apa? Karena materi yang dia 57:01 punya. Padahal di mata istrinya, di mata 57:05 anaknya dia orang gagal. 57:06 Karena istri melihat laki-laki ini sama 57:09 sekali bukan orang yang bagaimana yang 57:12 peduli terhadap anaknya pun hanya satu 57:15 arah. Tapi kalau orang tua membangun 57:17 betul-betul apa? kedekatan emosional 57:20 melalui apa? Melalui ee curhat anak. 57:25 Ketika anak curhat, anak memberikan 57:28 pendapat, kita bisa mendengarkan 57:31 bahkan kita bisa ikuti pendapatnya. Di 57:33 saat dia melakukan perbuatan yang baik, 57:35 kita berikan apresiasi. 57:38 Semoga Allah berikan keberkahan buat 57:40 kamu. Banyak ayah juga bangga dengan 57:42 kamu. Lisa dia salah, jangan kita 57:46 ulang-ulang kesalahan dia. Berikan 57:49 nasihat dengan cara yang baik ya. Bahkan 57:52 kalau bisa jangan di depan orang. 57:54 Panggil anak tersebut. Beritahukan bahwa 57:56 kamu salah dalam hal ini. Dia tidak 57:59 merasa dipermalukan. Apalagi depan 58:01 saudara-saudaranya, apalagi depan 58:02 keluarganya yang lain. 58:05 Karena anak kecil mulai tumbuh. Nah, 58:08 rasa apa? Rasa ee kehormatannya pada 58:12 saat dari mulai dini. Kalau dia biasa 58:14 dicemohkan, biasa dilecehkan, biasa 58:16 dipermalukan, lama-kelamaan dia 58:18 menganggap ini perbuatan biasa. 58:21 Tapi di saat ayahnya, ibunya menjaga 58:23 perasaan anaknya, 58:25 di saat dia memberikan pendapat, ya 58:27 didengarkan ada yang perlu 58:29 penyempurnaan, ada yang perlu 58:31 diluruskan. Jadi antara orang tua sama 58:33 anak pada usia-usia di mana anak bisa 58:36 memberikan pendapat ada hubungan apa? 58:39 Hubungan ee seorang ya dengan temannya. 58:44 Kita mencari teman di luar, Pal di rumah 58:46 kita bisa berteman dengan istri kita, 58:47 berteman dengan anak kita. Dan 58:50 subhanallah orang tua yang mengajak 58:53 anaknya untuk berdialog, berpikir, 58:56 mengajukan pendapat, anak tersebut 58:59 subhanallah dari mulai usia dini punya 59:00 rasa percaya diri, kepribadian yang 59:03 kuat. Tapi orang tua yang selalu 59:06 menakut-nakuti anak apalagi menyalahkan 59:07 pendapatnya, "Kamu tahu apa? Anak kecil 59:11 tidak merasakan perasaan orang tua, itu 59:14 akan membuat si anak hilang rasa percaya 59:17 dirinya. Di saat nanti tampil di muka 59:19 umum kalau anaknya jadi seorang yang 59:21 penakut, yang malu-malu, tidak punya 59:23 keberanian, jangan salahkan anaknya. 59:25 Itu semua sebab dia. Oleh karena itu, 59:28 kita sering jumpai orang tua masa 59:31 anaknya baru tambah SD, 59:34 si orang tua ngajak bicara anaknya 59:37 seperti orang dewasa. Betul enggak, 59:39 anak? Pendapat kamu bagaimana? 59:42 Nah, kalau salah ya diingatkan sama 59:44 orang tua itu anak Subhanallah 59:46 kecil-kecil bicaranya seperti orang 59:48 dewasa. 59:50 Nah, saya lihat di Mesir 59:53 anak-anak seusia seperti ini bicaranya 59:56 dewasa luar biasa. 59:59 Tapi begitu itu anak berada pada usia 1:00:01 dewasa karena lingkungan pendidikan yang 1:00:04 tidak baik, anak tersebut kedewasaannya 1:00:06 hilang kematangannya. 1:00:09 Jadi pada saat anak tersebut kecil 1:00:11 sampai orang bilang jenius anak tersebut 1:00:13 bicara sama orang tuanya apa. Tapi 1:00:15 lingkungan pendidikan di sekolah itu 1:00:17 pada saat saya di Mesir ya saya enggak 1:00:19 tahu sekarang ini itu anak lebih banyak 1:00:21 punya kecenderungan menghafal 1:00:24 daripada memahami sesuatu. Dia menguasai 1:00:26 materi dia tapi urusan yang lain dia 1:00:28 tidak kuasai. J kalau kita tanya tahu 1:00:31 enggak di mana Indonesia? Dia berpikir 1:00:33 di wilayah negerinya. Sampai kalau kita 1:00:36 bilang Indonesia tuh di samping Tonto, 1:00:38 Tonto itu merupakan kota yang kurang 1:00:40 lebih sekitar 1 jam dari Kairo. Dia 1:00:43 percaya. 1:00:45 Jadi pengetahuan umum tidak dikuasai 1:00:47 karena fokus pada pelajaran sekolah. dia 1:00:50 harus mendapatkan pelajaran yang e angka 1:00:52 tertinggi untuk bisa masuk ke sekolah 1:00:54 yang yang dia pilih. 1:00:58 J rata-rata orang-orang Mesir begitu 1:01:00 masuk usia dewasa ya kita saksikan 1:01:03 kecerdasan yang tumbuh pada masa-masa 1:01:06 katakan SD, SMP itu lama-kelamaan bukan 1:01:09 berkembang malah menurun karena 1:01:13 karena apa? Karena pendidikan dan 1:01:15 lingkungan serta sistem yang salah. 1:01:17 Anehnya begitu dia tamat katakan dari S1 1:01:22 dia melanjutkan ke luar negeri katakan 1:01:24 ke Amerika ke Eropa itu anak berubah 1:01:27 menjadi orang yang cemerlang kalau dia 1:01:29 belajar ya kenapa di sana terbuka. 1:01:33 Jadi ternyata pendidikan yang tidak 1:01:36 mengajak orang berpikir 1:01:39 yang tidak mengasah itu bakal membuat 1:01:42 orang betul-betul stakna dan tidak akan 1:01:45 berkembang sama sekali. Nah, pendidikan 1:01:48 yang terbaik orang tuanya. Bagaimana 1:01:50 orang tua bisa mengajak anaknya 1:01:51 berkembang? Bukan bangga anaknya bisa 1:01:54 meraih matematik dengan angka katakan 1:01:56 10, fisika 10. Ya, dia banggakan. Tapi 1:02:01 anaknya yang tumbuh dalam kedewasaan, 1:02:04 kebijakan itu yang betul-betul harus 1:02:06 mendapatkan perhatian. Dari mulai 1:02:08 hubungan dia dengan Allah, hubungan 1:02:10 dengan orang tuanya, hubungan dengan 1:02:12 orang di sekitarnya. Karena ini yang 1:02:14 akan menjadikan dia sebagai seorang 1:02:15 leader 1:02:17 dan akan disambut. Begitu orang melihat 1:02:19 kedewasaan 1:02:21 dan kepercayaan kejujuran itu akan 1:02:23 menjadi orang yang dibutuhkan di mana 1:02:25 pun dia berada. 1:02:27 Jadi kita harapkan betul-betul apa orang 1:02:30 tua nih 1:02:31 dalam mendidik anaknya jangan seperti 1:02:33 masa lampau. 1:02:35 Menggunakan cara yang kasar dianggap ini 1:02:37 merupakan perbuatan yang benar kemudian 1:02:40 tidak berikan kesempatan buat anaknya 1:02:42 untuk berdialog karena dianggap nanti 1:02:44 anak jadi kurang ajar. Akhirnya banyak 1:02:47 orang tua yang jaim. Begitu anaknya 1:02:49 tumbuh dewasa, anaknya jauh dari orang 1:02:50 tua. 1:02:52 Betul-betul tapi orang tua yang dekat 1:02:54 sama anaknya menjadi pendamping orang 1:02:57 tuanya. Kita jumpai pada saat 1:02:58 acara-acara pergi ke mana-mana, si anak 1:03:00 selalu mendampingi orang tuanya. Dan 1:03:03 saya lihat sendiri bagaimana orang tua, 1:03:05 Bapak Ibu bicara sama anaknya, 1:03:08 pendapat kamu gimana nih? Coba kamu 1:03:11 berikan masukan. Dia lebih banyak 1:03:13 menerima masukan anaknya bukan karena 1:03:15 apa? Bukankah dia tidak tahu, tapi ingin 1:03:18 membuat anaknya apa? Percaya diri. Dari 1:03:20 mulai kecil dipupuk sampai ketika dewasa 1:03:23 jadi orang yang betul-betul berbakti 1:03:25 pada ayah ibunya dan semua permintaan 1:03:28 orang tuanya untuk saudara-saudaranya 1:03:30 mendapatkan perhatian yang besar. 1:03:33 Jadi sebetulnya anak tumbuh tergantung 1:03:35 bagaimana pendidikan dan lingkungan. 1:03:38 Nah, saya kebetulan pada saat masa 1:03:40 kanak-kanak nih hidup dalam lingkungan 1:03:43 yang saya anggap agak semeraut sedikit. 1:03:49 Agak semeraut ya. Kemudian juga ya 1:03:52 banyak kontradiksilah kita hadapi itu 1:03:56 membuat kita terlambat dewasa. 1:03:59 Membuat kita apa? Terlambat dewasa. 1:04:02 Waktu saya berangkat ke Mesir, Mbak 1:04:04 Runing itu kita punya jiwa masih dalam 1:04:07 keadaan apa? Kontradiksi. 1:04:11 Karena apa? Yang ini maunya begini, yang 1:04:13 ini maunya begini. Kita tidak punya 1:04:16 kepribadian yang solid, kuat untuk bisa 1:04:19 mengambil keputusan. Baru setelah kita 1:04:21 ke Mesir menghadapi cobaan yang 1:04:23 bermacam-macam, 1:04:25 kita yang menyenangkan orang di sini, 1:04:27 ya. Mengecewakan yang di sini, akhirnya 1:04:29 hati kita enggak pernah nyaman sama 1:04:30 sekali. 1:04:32 Subhanallah. Begitu kita dekat dengan 1:04:33 Al-Qur'an, meresapi ayat Allah, di sana 1:04:37 terbangun kepribadian kita. Saya pikir 1:04:40 daripada kita cari kesenangan manusia 1:04:43 yang tidak akan sama sekali bisa 1:04:46 dipuaskan, mendingan kita cari keridaan 1:04:48 Allah. Walaupun orang enggak suka, no 1:04:50 problem. Dan mulai saat itu Allah kasih 1:04:53 subhanallah kita tidak lagi terganggu 1:04:56 dengan pendapat orang, 1:04:58 bahkan pendapat keluarga. Selagi kita 1:05:00 yakin di benar, orang boleh memberikan 1:05:03 penilaian 1:05:05 tapi tidak berpengaruh terhadap sikap 1:05:07 kita. Selagi kita mengambil sesuatu atas 1:05:09 dasar kebenaran, diiringi dengan 1:05:10 bukti-bukti yang jelas. Nah, setelah itu 1:05:13 justru apa? Sikap kita bukan lagi 1:05:16 mencari keribuan manusia, 1:05:18 tapi kita berusaha mencari keridaan 1:05:20 Allah dan memperlakukan manusia juga 1:05:22 dengan perlakuan yang sama dan baik. 1:05:24 Jadi saya merasa saya mengalami 1:05:26 keterlambatan dewasa karena berada pada 1:05:30 lingkungan juga keadaan yang 1:05:32 kontradiksi. Ini merupakan fakta yang 1:05:35 kita enggak bisa ingkari. Tapi kalau 1:05:37 kita bisa membentuk mendidik anak kita 1:05:39 untuk tumbuh kepercayaannya, kedekatan 1:05:41 bersama orang tua, insyaallah 1:05:44 mudah-mudahan 1:05:46 orang tua tidak bersusah paya mendidik 1:05:48 anaknya, tapi dia akan petik buahnya 1:05:50 setiap saat. Inilah yang diajarkan Nabi 1:05:52 kita Muhammad sallallahu alaihi wa alihi 1:05:54 wasallam. Wallahuam. 1:05:57 Masyaallah. Ikhwan akhwat, bahasan hari 1:06:01 ini enggak tahu deh apa kita kecubit apa 1:06:05 seperti apa. Yang jelas bahwa berbakti 1:06:08 kepada ayah bunda membuka pintu rahmat 1:06:10 dari Allah Subhanahu wa taala dan PR 1:06:13 kita, kita harus bekali anak-anak kita 1:06:16 agar mampu menjadi sosok sebagaimana 1:06:19 yang tadi digambarkan oleh Ustaz Husein 1:06:22 dan juga Ustaz Abu Bakar. Oh ya, kalau 1:06:24 ada di antara 1:06:26 ikhwan akhwat yang ingin menyampaikan 1:06:29 sesuatu boleh kirim ke WA. Mungkin 1:06:32 minggu depan bisa dibahas karena siaran 1:06:36 kali ini rekaman ya. Ke 0811 1:06:42 999720. 1:06:45 Terima kasih Ustaz Husein, Ustaz Abu 1:06:47 Bakar dan semua yang bersama-sama acara 1:06:50 psikologi keluarga. Billahi taufik wal 1:06:52 hidayah. Wasalamualaikum warahmatullah 1:06:55 wabarakatuh. Alhamdulillah.