Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:01 [musik] 0:08 [musik] 0:14 [musik] 0:18 Bismillahirrahmanirrahim. 0:21 Asalamualaikum warahmatullahi 0:22 wabarakatuh, ikhwan akhwat 0:24 rahimakumullah. 0:25 Alhamdulillah, senang sekali kita dapat 0:28 bersama-sama kembali di acara ruang 0:31 kesehatan dari Radio Silaturahim. 0:35 Mudah-mudahan bahasan kali ini juga akan 0:38 mempersuasi kita, membuat kita lebih 0:41 tahu banyak terkait dengan kesehatan. 0:43 Bukan hanya fisik tetapi juga nonfisik 0:46 ya. Semua sehat ya? Mudah-mudahan dan 0:49 tidak lupa tentu saja salam untuk 0:51 junjungan umat kekasih kita Muhammad 0:54 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. 0:57 Semoga kelak kita mendapatkan syafaat 0:59 beliau dan dipertemukan dengan beliau di 1:02 yaumil akhir. Amin. Allahumma amin. 1:05 Untuk hari ini narasumber kita sudah 1:08 lama banget kita enggak pernah dengar 1:10 beliau ee hadir ya, yaitu Dr. Dr. 1:14 Fidiansyah spesial kesehatan jiwa ini 1:16 dan sudah ada di sini beliau kita sapa. 1:19 Asalamualaikum warahmatullahi 1:20 wabarakatuh. 1:21 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:23 wabarakatuh. Alhamdulillah bugar banget 1:26 nih. 1:26 Alhamdulillah. 1:28 Iya. Mudah-mudahan bugarnya bukan cuman 1:31 fisik doang. [berdehem] 1:32 Insyaallah 1:32 ada bahagia dan ee syukur yang berlimpah 1:36 ya, Dok. Ee ngomong-ngomong 1:39 tadi di off air bicara tentang waktu itu 1:42 penting banget karena ada kaitannya 1:45 dengan kesehatan, 1:48 kecemasan, depresi dan segala macam ya. 1:50 Iya, Mbak Nuning. Ini yang mungkin 1:54 masyarakat Abay ya. Kaitan antara waktu 1:58 dengan kesehatan jiwa itu seperti 2:00 tinggi banget ya. 2:02 Dua sisi mata uang. 2:03 Iya. Ya, sebelahnya harus ada. 2:05 Iya, harus ada. 2:06 Bisa jadi di antara yang sedang 2:07 mendengar, "Iya, aku juga cemas nih, 2:09 kapan aku dipanggil padahal belum siap." 2:11 Misalnya seperti itu. 2:13 Oke, Dok. Kita mulai saja. Jadi, ikhwan 2:16 akhwat di samping Anda bisa menyimak 2:20 sekarang kalau enggak sempat ada juga di 2:22 Rasil TV ya, Dr. Dr. Fidyansyah yang 2:27 membahas terkait dengan waktu, kaitannya 2:30 dengan cemas dan depresi. Silakan. 2:33 Iya. Ee pemirsa Rasil yang dirahmati 2:36 Allah, 2:38 ada dua dimensi yang menyebabkan 2:40 kehidupan ini bisa berlangsung. Yang 2:43 pertama dimensi waktu dan dimensi ruang. 2:47 He. 2:47 Nah, Mbak Nuning berada di ruang rasil 2:51 ini bisa berulang enggak? Hari ini ada 2:55 di sini, besok ada di sini. 2:58 Jawabannya ada di sini. 2:59 Insyaallah. Insyaallah. 3:00 Sebab enggak yakin siapa tahu keluar 3:02 dari sini terus bye. 3:04 Nah, tapi kalau dimensi waktu bisa 3:07 enggak kembali ke SMP, 3:10 ke SD, ke TK 3:14 karena 3:14 untuk mengisi waktu yang pernah terjadi 3:16 pada masa lalu? 3:18 Nah, jawabannya bimbang. Jadi kita 3:20 dengar apa kata drtera. Jadi memang 3:24 dimensi waktu kita bisa membagi pada 3:26 tiga. 3:27 He 3:28 yaitu dimensi waktu masa lalu, 3:31 dimensi waktu saat ini, dan dimensi 3:34 waktu saat akan datang. 3:36 Heeh. He. 3:37 Nah, 3:38 kebanyakan orang melewati itu, namun 3:42 mengelolanya keliru. 3:45 Jadi, kalau ditanya mana dari tiga 3:48 dimensi yang tadi ada 3:50 yang kita miliki untuk bisa dikelola itu 3:53 dimensi yang mana? 3:55 Yang lalu, yang sekarang, atau yang akan 3:57 datang? 3:59 Nah, ini dia nih. Karena yang akan 4:02 datang kita enggak tahu 4:03 seperti apa dikelolanya ya. 4:06 yang lalu bisa mundur 4:07 enggak bisa 4:08 enggak bisa. Jadi hakikatnya 4:11 kepemilikan waktu yang Allah amanahkan 4:13 dalam dimensi manusia adalah dimensi 4:15 waktu sekarang. 4:17 Nah, ini yang mungkin kita mulai dengan 4:19 sebuah ee ayat ya yang Allah juga tentu 4:23 sudah sangat lengkap dan sempurna 4:26 mencoba untuk mengingatkan tentang 4:28 kaitan dimensi waktu dengan kesehatan 4:31 jiwa 4:32 yang salah satunya bisa kita kutip yaitu 4:34 surah Fusilat ayat 30 4:37 dan 31 ya. 4:39 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 4:41 Bismillahirrahmanirrahim. 4:44 Innalladzina qolu rbunallahu 4:46 tumastaqomu. 4:48 Sesungguhnya orang-orang yang 4:51 mengikrarkan ya bahwa dia menyatakan 4:55 Allah sebagai Rabbnya, sebagai Tuhannya. 4:58 He 4:58 lalu dia istikamah terus-menerus 5:01 konsisten. 5:02 Enggak ada tempat bergantung kecuali 5:04 oleh Allah. 5:06 Tatanazzalu alaihimul malaikah. Kata 5:08 Allah. Maka orang-orang seperti ini itu 5:13 bukan hanya Hansip yang jaga, bukan 5:16 hanya intel yang jaga, bukan hanya 5:18 tentara yang jaga. Kata Allah, "Aku akan 5:21 kirimkan malaikat." 5:23 Untuk apa yang dijaga pada orang-orang 5:26 yang memang harus istikamah dengan 5:28 pernyataan 5:30 daripada ketuhanan, ketauhidannya. 5:34 Alla takofu wala tahzanu. Kata Allah, 5:37 "Orang-orang ini harus aku jaga. 5:39 karena akan mengalami potensi cemas dan 5:43 depresi, 5:45 khauf dan hazan. 5:48 Nah, dalam dimensi kesehatan jiwa 5:49 ternyata 5:51 orang yang kemudian cemas adalah orang 5:53 yang sudah memprediksi yang akan datang 5:56 dengan ketakutan. 5:59 Jadi orang cemas adalah karakternya 6:02 belum melewati masa yang dia tentu punya 6:05 waktu apa tidak dibayangi oleh hal yang 6:09 mencemaskan, menggalaukan, menakutkan. 6:13 Itu khauf. [menghela napas] 6:15 Maka disebut cemas dalam bahasa 6:18 kerennya kedokteran itu anxiety. 6:21 Nah, 6:22 apa yang terjadi kalau kemudian dia 6:24 terjebak dengan pengeluaran masa lalu 6:26 yang enggak efektif? itu depresi. H 6:29 sedih. Orang sedih, orang depresi adalah 6:33 orang yang tidak pernah bisa move on 6:36 dari pengalaman waktu masa lalu yang dia 6:39 pengin enggak boleh terjadi itu. Mesinya 6:41 waktu kecil tuh aku enggak begini ya. 6:43 Waktu-waktu SMP aku enggak begini ya, 6:45 SMA enggak begini ya. 6:47 Enggak bisa move on dia dengan masa lalu 6:48 yang sudah dia tinggalkan, yang enggak 6:50 pernah bisa dia balik. Nah, inilah yang 6:52 disebut kemudian dalam dunia kesehatan 6:54 jiwa disebut orang seperti ini adalah 6:57 orang-orang yang berpotensi akan jatuh 6:59 di dalam perasaan sedih yang 7:02 berkepanjangan karena tidak bisa mencoba 7:05 untuk melakukan 7:07 perpindahan waktu untuk berada pada 7:10 kondisi saat ini. bisa ada gabungan. 7:14 Pemirsa Rasil yang dirahmati Allah, bisa 7:16 terjadi dalam kondisi orang itu 7:18 dua-duanya dia dibelit. 7:20 Ketakutan masa depan dia juga alami. 7:24 Kesedihan masa lalu juga membelenggu 7:26 dia. Maka mix kalau orang sebenarnya 7:29 bisa cemas dan depresi. Begitulah 7:32 sebetulnya Islam mencoba memberikan 7:35 perhatian. I. 7:36 Ayo kalian orang yang tahu Allah itu 7:40 segalanya, Maha Besar, Maha Kasih, masa 7:42 sayang. 7:43 Tidak perlu ada yang sudah akan membuat 7:46 kalian cemas di masa masa depan dan 7:49 tidak perlu kalian jatuh pada kesedihan 7:51 yang berkepanjangan karena masa lalu 7:52 yang tidak pernah bisa kalian 7:54 putar kembali. Jadikan kata Nabi, hari 7:58 ini harus lebih baik dari hari kemarin. 8:01 Sabdanya enggak dibalik. Jadikan hari 8:03 esok lebih baik dari hari ini. 8:07 Sabdanya adalah jadikan hari ini lebih 8:11 baik dari hari kemarin. Karena yang kita 8:13 miliki adalah saat ini, hari ini. 8:16 Iya. 8:21 Yang dimiliki cuma sekarang. 8:24 Sekarang. 8:24 Jadi kalau cemas untuk waktu yang akan 8:27 datang, 8:28 mari kita simak lebih lanjut. Karena 8:31 banyak di antara kita tanpa sadar 8:34 beberapa waktu juga kita sering dengar 8:37 nanti aku gimana di sana maksudnya di 8:40 alam barsah. [tertawa] 8:44 Iya Dok lanjut. 8:46 Baik. Nah sekarang misalnya kita tentu 8:49 bersimpati ya dengan apa yang terjadi 8:52 dari musibah 8:54 Aceh 8:54 yang terjadi di Aceh, Sumatera dan 8:56 sekitarnya. 8:57 Makanya ada sebuah kondisi yang disebut 8:59 dengan post traumatic disorder, 9:03 yaitu gangguan dari trauma yang begitu 9:06 mencekam dari suatu kejadian 9:09 yang kemudian berimbas pada waktu-waktu 9:11 berikutnya. 9:12 He. 9:13 Dia jadi trauma terus ya. Bagaimana air 9:16 dia lihat itu akan mencekam. 9:19 Bagaimana kayu yang mungkin 9:21 menggelinding akan menjadi suat ingatan 9:24 ketika dia saat ini melihat kayu itu 9:26 sudah menjadi 9:27 menakutkan. 9:29 Nah, itulah yang disebut tadi. Ada 9:31 orang-orang yang memang akhirnya tidak 9:33 bisa melepaskan diri trauma maka disebut 9:35 post trraumatik. Sangat traumatik ya. 9:38 Stres itu di luar kapasitas yang lazim. 9:42 Nah, ini pemulihannya panjang. Makanya 9:44 sekarang pemerintah dan semua 9:46 bagian-bagian daripada lembaga 9:49 masyarakat berbondong-bondong. yang 9:52 mereka butuhkan itu healing. 9:54 Ayo lakukan sebuah upaya refresh ulang, 9:58 format ulang bahwa kejadian sudah 10:00 terjadi. Ya, ayo bangkit saat ini masih 10:03 punya kesempatan Allah memberikan 10:06 kehidupan dan tentu ini sebuah 10:08 kesempatan untuk mereformat ulang 10:12 melakukan upaya-upaya perbaikan, 10:14 pemulihan dengan segala dinamaikanya. 10:16 Memang dinamika tentang rumahnya yang 10:18 hilang, dinamika mungkin orang 10:21 terkasihnya 10:22 yang juga sudah meninggalkan 10:25 semua dinamika itu sudah masa lalu. 10:27 Namun Allah masih memberikan kalian 10:30 punya masa kini ayo bangkit bangun lagi. 10:34 Lakukan lagi upaya-upaya untuk keluar 10:36 dari situasi yang membulu kalian. Jangan 10:38 sampai menjadi trauma yang 10:40 berkepanjangan. Kasus seperti ini waktu 10:42 kasus tsunami lebih dahsyat lagi, Mbak 10:43 Nuning. 10:44 He. 10:45 Ya, bagaimana itu gelombang dahsyat 10:48 daripada tsunami dan ternyata banyak 10:51 orang yang survive ya, hilang semuanya 10:55 tapi dia tidak terbelenggu dengan masa 10:57 lalu. Dia bangkit lagi. 10:59 Dan sekarang menjadi orang sukses yang 11:01 bisa memaknai adanya hikmah di balik 11:04 musibah. Nah, itu kata kunci yang 11:06 kemudian pada orang depresi tidak 11:07 terjebak. 11:09 Jadi banyak kasus-kasus yang 11:10 menggambarkan orang yang kemudian masih 11:13 terbelenggu ini yang paling sering itu 11:16 bucin. 11:18 Tidak bisa melepaskan sebuah ikatan 11:21 kasih sayang dari suatu hubungan 11:23 tiba-tiba putus. 11:25 Waduh. Kemudian mempengaruhi itu. Enggak 11:29 bisa hiduplah tanpa dia. Aku mendingan 11:31 mati aja deh. Wah sampai sebegitu 11:34 melonownya ya saking sudah bucinnya. 11:37 Nah, itulah bentuk-bentuk 11:38 turunan-turunan dari pengeluaran waktu 11:41 yang keliru bahwa mereka harus tetap 11:45 bangkit lagi, move on lagi. Dalam bahasa 11:49 nanti yang mungkin kita akan angkat 11:51 disebut dengan mindfulness, 11:53 yaitu fokus pada kondisi saat ini. Apa 11:57 yang masih Allah anugerahi dari kondisi 11:59 yang bisa dimanfaatkan. bangkit lagi dan 12:02 hadapi lagi. Itu dari satu sisi yang 12:05 kita sebut orang yang harus melepaskan 12:07 diri dari trauma trauma masa lalu. 12:11 Sebaliknya pada yang kecemasan, Pak 12:13 Nuning. 12:13 He. 12:14 Nah, kalau kecemasan, pemirsa Risal yang 12:17 berbahagia dan Allah, ini belum terjadi 12:20 nih. Aduh, 12:23 ini nanti penerimaan mahasiswa gimana 12:25 ya? Aku bisa masuk enggak ya? belum 12:27 terjadi ini dengan kegalauannya nanti 12:30 bisa diterima enggak ya? Aku bisa lulus 12:33 enggak ya? Udah air qadarullah Allah 12:36 memberikan ikhtiar jalan lulus. 12:40 Sudah lulus kuliah kan? 12:41 He 12:42 aduh kuliah gimana nih ya nanti ee apa 12:46 nih skripsinya ada aja. 12:48 Maka disebut dalam dunia kesehatan tuh 12:50 penyakit jangan-jangan. 12:51 Janganjangan. Oh, ada ya [tertawa] parno 12:53 itu 12:54 jangan-jangan nanti gini, jangan belum 12:56 terjadi nih. Jangan-jangan 12:58 kalau kalau jangan asem, jangan sop lain 13:01 ya. [tertawa] 13:03 Jadi penyakit jangan-jangan itu biasanya 13:05 nanti mampirnya ke IGD, ke gawat 13:08 darurat. Karena yang akan memicu 13:11 kecemasan itu adalah respon kesiagaan. 13:15 Jantung berdetak kencang, 13:17 nafas jadi terengah-engah, pencernaan 13:20 jadi seperti perut melilit. He. 13:22 Nah, orang-orang yang penyakit 13:24 jangan-jangan ini lupa dengan sumber 13:27 stresornya, yaitu lingkup eksternal dia. 13:30 Dia terjebak dengan manifestasi ciptaan 13:33 Allah yang begitu canggih yang sudah 13:35 menyiapkan memang ketika orang cemas 13:37 Allah siapkan kesiagaan yaitu jantung 13:39 berdetak, paru-paru mengembangkan 13:42 oksigen agar bisa mengantarkan sumber 13:45 energi dan rangka kesiagaan menghadapi 13:48 sumber yang memang 13:49 dirasakan suatu stres. Nah, cuma kalau 13:52 ini terus-menerus masuknya gig terus tuh 13:55 dicek jantungnya normal 13:57 dirons paru-parunya normal diperiksa 14:00 dengan semua teknologi sanggi USG MRI 14:02 City scan semua yang diasarkan poinya 14:04 normal selama dia tidak mencoba untuk 14:08 menginternalisasi mengkoreksi pada 14:10 sumber stresornya penyakit ini akan 14:12 terus namanya penyakit cemas menyeluruh 14:17 ada lagi jenis kecemasan itu yang 14:20 disebut dengan obsesif kompulsif. 14:23 H 14:23 dia ngulang-ngulang suatu tindakan, eh 14:26 ini pintu sudah dikunci belum ya? Balik 14:29 lagi dia cek. [tertawa] 14:31 Sudah balik eh sudah dikunci belum ya? 14:33 Dicek lagi. Itu bisa 5 sampai 10 kali. 14:36 Hanya sekedar kecemasan ini kunci sudah 14:38 di 14:39 udah di kunci belum? 14:42 Nah, pada ritual-ritual keagamaan itu 14:45 bisa terjadi pada wudu berulang. 14:48 Heeh. Iya. Iya. 14:49 Wudu enggak bisa sekali. 14:51 Ya, berulang. Aduh, enggak sah. Ulang 14:54 lagi enggak sah. Akhirnya masuklah 14:57 kemudian mau salat. 14:59 Takbir itu enggak bisa sekali. Takbir 15:02 salah lagi. Takbir salah lagi. Ini yang 15:05 disebut dengan kecemasan dari sesuatu 15:08 kondisi yang menyebabkan dia obsesif, 15:10 terjebak oleh pikiran dia yang enggak 15:13 nyaman kalau itu enggak dilakukan 15:14 sehingga menimbulkan kecemasan. Jadi 15:16 turunannya banyak dari depresi dengan 15:19 cemas ini ketika nanti pada setiap 15:21 individu tidak memahami adanya sumber 15:25 dari tadi kelola waktu yang tidak 15:27 efektif akibat terjebak masa lalu yang 15:30 tidak pernah biasa dia move on atau 15:32 terjebak dengan masa depan yang selalu 15:35 sudah dengan angan-angan kecemasan 15:37 jangan-jangannya 15:40 gitu Pak Nuning dan 15:42 Masyaallah. 15:44 Jadi ada post traumatic disorder. Tapi 15:49 yang barusan kita dengar terkait dengan 15:51 obsesif yang ini kayaknya banyak nih 15:54 yang merasa kayaknya gue banget gitu. 15:56 [tertawa] 15:58 Ee itu baru dua sisi ya. Ada yang lain 16:02 yang mungkin lebih umum terjadi. 16:05 Nah, ini dia yang lebih umum terjadi 16:08 adalah 16:09 kondisi yang kemudian dia merasa 16:12 memiliki. 16:14 Heeh. 16:14 Nah, kehidupan ini sering menjadi 16:18 depresi dan cemas karena saking kuatnya 16:21 merasa memiliki. 16:23 Padahal makhluk hidup hanya dikasih hak 16:27 amanah dipinjamkan. 16:29 Iya. Enggak ada yang punya sendiri. 16:30 Enggak ada yang punya sendiri. [tertawa] 16:32 Makanya dalam banyak ayat itu lillahi ma 16:35 kepunyaan Allahlah 16:36 segala yang ada di langit dan bumi. 16:38 Banyak ayat-ayat menegaskan itu semua 16:40 ini punya Allah. Kalian cuma dipinjamin 16:43 lalu kemudian dimintai 16:44 pertanggungjawaban dari pinjaman tadi. 16:45 Mungkin dikasih tadi jabatan, 16:48 dikasih titipan harta, 16:50 dikasih titipan keluarga. 16:52 Berat nih. [tertawa] 16:53 Cuma nitip sebetulnya. 16:55 Iya. Iya. 16:55 Tapi begitu kemudian secara umum itu 16:57 melekat menjadi kepemilikan, tiba-tiba 17:00 hilang. 17:01 Ini misalnya pada kasus jabatan Paking. 17:04 He pejabatan nih eslon 4, eslon 3, 17:10 eselon 2, eson 1 dah katakan gitu ya kan 17:14 ada masanya. 17:15 Iya 17:16 dia harus mengakhiri jabatan itu ada 17:18 masanya diaebut pensiun. Iya. 17:21 Kalau enggak siap yang disebut dengan 17:22 post power syndrom [tertawa] 17:25 kehilangan kekuasaan membuatnya tadinya 17:27 ada sopir, ada mobil, ada semua sarana, 17:31 sekarang enggak ada. Karena terus 17:33 memiliki kilang itu semua jadi stres. 17:37 Nah, ini enggak disadari banyak kemudian 17:39 terjadi karena tadi post syndrome. 17:41 He. 17:42 Kepemilikan lain juga begitu ya. Merasa 17:45 mungkin mencintai terlalu berlebihan 17:47 pasangan hidupnya tadi. 17:49 Heeh. Heeh. 17:50 Qadarullah. Salah satu harus dicabut dan 17:53 dipanggil. Aku ikut aja dah [tertawa] 17:56 atau aku duluan aja. 18:00 Nah, itu itu hal yang umum yang kemudian 18:02 terjadilah depresi yang berkepanjangan 18:04 dan ujung yang paling menakutkan dari 18:07 dua kondisi itulah bunuh diri. 18:10 Rasa tidak berdaya dari suatu kehidupan 18:13 yang dia tidak bisa hadapi. Ah, udah 18:15 buat apaagi sih hidup? 18:18 Bermula dari ide saja. Cuma ide doang, 18:20 cuma ungkupan. 18:22 Ah, hidup sudah enggak enggak [tertawa] 18:25 asik 18:26 ya. Ide lama-lama 18:31 harm, safe harm, menyakiti. 18:35 Lama-lama lebih ekstem lagi. Bukan lagi 18:38 hanya tindakan-tindakan yang mungkin 18:40 merasakan suatu rasa sakit ya. Tapi 18:43 mulai tuh mungkin 18:45 ya menjatuhkan diri pada sesuatu kondisi 18:48 lompatlah. 18:50 Kalau memang belum waktunya paling kan 18:51 cuma patah [tertawa] 18:54 benjol 18:55 kemudian harus bangkit lagi. Nah, itu 18:57 terjebak terus dengan kesalahan langkah 19:00 yang dia seolah-olah bisa menentukan 19:02 ajalnya. Tidak. Karena ajal sendiri 19:04 dalam konteks waktu itu hak prerogatif 19:06 Allah. 19:07 Iya. 19:08 Sebaliknya orang ada yang pengin enggak 19:10 mau mati nih, cemas dengan kematian. 19:14 Semua alat melekat. 19:16 Ada alat defibrillator, ada alat buat 19:19 kejutnya. Ya, kalau udah waktunya 19:21 malaikat izrail datang, enggak bisa 19:23 semua alat itu. Ja ajalhum la 19:25 yastakiruna saatan wala yastaqdimun. 19:28 Kalau ajal yang sudah datang, enggak 19:30 bisa minta dipercepat, enggak bisa minta 19:31 ditunda. Duitlah waktu yang memang tadi 19:35 manusia karena itu waspada terus. Karena 19:37 kita punya waktu saat ini sudah waspada 19:39 terus, jaga terus waktu ini dengan semua 19:42 hal yang tentu bisa kita jadikan. Karena 19:44 khairunas anfahum linas. Sebaik manusia 19:47 adalah orang yang bermanfaat. Bermanfaat 19:49 dalam sisi yang kemudian sederhana Allah 19:51 contohkan dan Rasul menyingkirkan duri, 19:55 menyingkirkan sesuatu yang berbahaya 19:57 pada suatu aktivitas lalu lintas itu 19:59 sudah 20:00 berbuat baik. Apalagi punya ilmu, 20:03 apalagi punya harta, punya kekuasaan dan 20:06 sebagainya. Jadikanlah semua amanah itu 20:08 untuk menebar manfaat bagi kehidupan. 20:14 Ya, 20:16 gimana ya kalau mikir soal waktu dan 20:19 kesempatan sementara hak prerogatif 20:21 Allah enggak bisa diapa-apain untuk 20:23 kapan kita pulang itu memang luar biasa 20:26 sekali. 20:28 Oke, Dok. Masih ada tentu yang lain 20:30 ditunggu nih di samping pensiun yang 20:33 jadi momok. [tertawa] 20:37 Apalagi kira-kira 20:38 i ketika kita juga secara umum 20:41 berhadapan dengan suatu keinginan 20:44 he 20:45 harapan cita-cita 20:48 dalam realita yang kemudian terjadi bisa 20:52 miss. 20:54 Aduh saya pengin jadi ini. Saya pengin 20:57 punya ini. Saya pengin pengin pengin 21:00 pengin pengin 21:01 dalam rata kehidupan ternyata 21:03 qadarullahnya enggak matching nih. 21:05 Hm. 21:06 antara yang diinginkan dengan yang 21:07 kemudian Allah tetapkan. Nah, di sini 21:10 banyak kesalahan daripada persepsi 21:13 manusia adalah dia negative thinking. 21:19 Berpikir negatif. 21:20 Iya. 21:21 Kok enggak terkabul sih? Udah berdoa, 21:25 udah berikhtiar, 21:26 udah jungkir balik. 21:28 Kok enggak Allah enggak kabulkan sih? 21:31 Nyalah 21:31 bahkan menghujat nih 21:32 nyalahin Allah. 21:33 Nyalahin Allah gitu. Allah kejam, Allah 21:36 enggak sayang dan sebagainya. 21:39 Nah, ini tentu situasi yang harus tetap 21:41 dimaknai. He 21:43 bahwa 21:45 maha besarnya Allah paling tahu tentang 21:48 apa yang makhluknya harus lalui 21:51 dan itu harus diuji dengan gap antara 21:55 tadi harapan dan kenyataan menjadi 21:57 ukuran 21:59 tetap positif thinking apa enggak. Coba 22:01 kita lihat semua risalah kenabian. 22:03 Iya. 22:04 Enggak dikasih gampang-gampang. 22:06 Heeh. 22:07 Nabi Musa dipojokin dengan kejaran 22:09 Firaun enggak tahu kalau laut bisa 22:11 dibelah. 22:13 Harus dibikin stres dulu. 22:16 Kaum yang mengikuti. Coba kalau kita 22:17 pada saat itu mau ikut Firaun atau 22:20 mengikut aku. Firaun punya kekuasaan. 22:23 Firaun punya segalanya. 22:25 Aku enggak punya apa-apa. Dan kalian 22:27 tinggal di pinggir laut. 22:29 Di belakang Firaun dengan bala 22:31 tentaranya di depan laut. 22:33 Pilih mana? 22:33 Pilih mana? Coba kalau pakai logika saat 22:36 itu bukan iman, banyak orang yang 22:38 kemudian akhirnya balik lagi. Iya. Musa 22:41 enggak bawa apa-apa mau nyelamatin kita 22:43 pakai apa. Sengaja tuh dibikin antara 22:46 harapan dengan kenyataan harus 22:48 berhadapan dengan sebuah gap. Tapi Allah 22:50 tentu dengan turunan kemukjizatannya 22:53 selalu pertolongan. 22:55 Ketok terbelah laut. 22:59 Siti Hajar dengan Nabi Ismail. He 23:01 he 23:03 sudah kehabisan nih semua bahan yang 23:05 ditinggalkan oleh ee Nabi Ibrahim kepada 23:07 anak istrinya. Apa Allah langsung 23:10 nurunin tuh makanan? Enggak begitu. 23:14 Harus sai namanya. Berlari dari Bukit 23:17 Safa ke Marwah yang menunjukkan harus 23:20 berikhtiar, 23:21 berjuang. 23:21 Berjuang bukan [tertawa] hanya ya Allah 23:23 suamiku sudah enggak enggak ngirim ATM 23:25 nih deposit sudah habis. Eh sekarang 23:29 semua enggak ada. Cukup berdoa enggak 23:31 harus berusaha. He. 23:33 Berusahalah yang menunjukkan tadi 23:35 ujungnya pada situasi yang sudah 23:38 genting, Allah pasti tahu momen yang 23:41 tepat. Di situlah kemudian Nabi Ismail 23:44 nangis menghentakkan kakinya. Keluarlah 23:46 sekarang yang kita kenal dengan air 23:48 zamzam. Mukjizat [berdehem] sepanjang 23:50 kehidupan manusia dari dua tokoh manusia 23:53 yang ketika ada kenyataan hidup yang 23:56 tidak sesuai tapi tetap istikamah. 23:59 Makanya tadi ayat tadi ketika menyatakan 24:02 Allah Rabbnya, dia pasti menjadi jalan 24:04 keluar pada setiap solusi, maka 24:07 istikamah 24:09 terus-menerus jaga, pertahankan dengan 24:11 konsisten. Maka Allah katakan, "Aku 24:14 turunkan malaikat 24:15 he 24:16 dalam rangka menjaga kalian agar 24:18 terhindar dari cemas dan depresi." 24:21 Nah, inilah kemudian yang menjadikan 24:23 tadi bahwa harapan dengan kenyataan 24:27 memang sebuah cara Allah menguji. 24:30 Nah, kata kunci terhadap menghadapi 24:32 kenyataan yang tidak sesuai dengan 24:34 harapan adalah positive thinking. 24:36 Hm. 24:37 Begitu kita sudah negative thinking, 24:39 energi dan aura itu pasti jadi negatif. 24:42 Karena Allah katakan, "Aku sesuai 24:43 persangkaan hambaku." He. 24:45 Apalagi sudah sampai menghujat, sudah 24:47 sampai kemudian menyalahkan dengan 24:49 segala macam kekecewaannya. Nah, itu 24:52 yang terjadi justru adalah aura negatif 24:54 pasti. Nah, mudah-mudahan kita terhindar 24:57 dan ketika ada antara kenyataan dengan 25:00 harapan yang enggak sesuai, langkah 25:03 pertama adalah tetap positif. Allah yang 25:05 maha tahu. Oh, memang qadarullahnya saat 25:08 ini belum apa yang saya inginkan. Allah 25:11 kabulkan. Tapi yakinlah kalau Allah 25:13 katakan uduni astajib lakum. 25:17 Berdoalah padaku, mintalah padaku, aku 25:19 kabulkan. Loh, berarti hukum itu kok 25:22 enggak jadi kenyataan. Nah, ini yang 25:24 kemudian harus kita paham. Mengabulkan 25:27 Allah itu bisa pada tiga situasi. 25:31 Dikabulkan sebagaimana doa yang memang 25:33 dia panjatkan, dia minta mungkin tadi 25:37 ada karir yang meningkat dikasih. 25:40 Hm. ada jabatan yang kemudian makin 25:42 meningkat Allah kasih. Itu namanya 25:44 linier antara harapan kenyataan. Namun 25:48 Allah ketika maha tahu ini enggak baik. 25:51 Eh Fidiansyah saat ini enggak enggak 25:53 bagus kamu untuk memang melanjutkan 25:55 menjadi eslon 1. Cukup eslon 2 aja. H 25:58 ya sudah ya berusaha sudah dengan segala 26:01 macam ikhtiarnya berarti Allah akan 26:04 ganti 26:05 anak saya lulus dengan kumlot pekerjaan 26:09 mudah 26:11 rezekinya kemudian Allah mudahkan jadi 26:13 Allah ganti 26:14 harapan-harapan yang kemudian tidak sama 26:17 Allah gantikan dengan bentuk-bentuk lain 26:19 yang memberikan juga rasa syukur. Nah, 26:22 yang ketiga ini nih memang nih 26:24 kadang-kadang yang enggak kita sabar 26:27 belum tentu langsung dikabulin dan 26:29 enggak merasakan ada pengganti bentuknya 26:31 apa. He. 26:32 Tapi Allah berikan nanti di akhirat. 26:35 Allah tangguhkan nanti kebahagiaan itu 26:37 surga. 26:37 Iya. 26:39 Inilah yang kemudian terjadi pada Nabi 26:40 Ibrahim. Coba 26:41 kalau Nabi Ibrahim waktu itu, "Wahai 26:43 Nabi Ibrahim, bangunlah ee rumahku lalu 26:46 serulah orang untuk datang ke tempat 26:49 yang kamu bangun ini dari segala 26:50 penjuru." Saat itu kalau kita berpikir 26:53 sebagai Nabi Iam, gila, 26:55 enggak ada alat transportasi, 26:58 tanah tandus, tapi suruh manggil. 27:02 Apakah Nabi Ibrahim merasakan doanya 27:04 dikabulkan? 27:05 Iya. 27:06 Saat itu tidak. Ya, 27:07 sekarang orang berduyun-duyun ngantri 27:09 mau pergi haji, 27:11 mau umrah berjuta-juta. 27:13 He he. 27:14 Doanya dikabulkan menjelang waktu tepat. 27:17 Bahkan tadi ada yang sampai akhirat 27:19 nanti yaitu surga yang tentu Allah la 27:21 yukhluful miat. Allah tidak pernah 27:23 ingkar janji ketika tadi doa-doa itu 27:25 dikabulkan. Namun penundaan waktu momen 27:28 itu yang kemudian Allah maha tahu. 27:31 Namudahan kalau tiga situasi itu bisa 27:32 kita sikapi, gap antara kenyataan dengan 27:36 harapan 27:37 kita sikapi tadi dekat positive 27:39 thinking. 27:40 Kita bersangka baik memang momennya 27:41 Allah yang maha tahu dan Allah pasti 27:44 akan menggantikan dengan sebuah situasi 27:46 yang lain. Allah tadi akan menunda waktu 27:48 yang tidak saat ini, tapi Allah ganti 27:50 pada waktu yang atau nanti memang kekal 27:53 di dalamnya nanti di akhirat masuk ke 27:55 surga. kholidina fiha abada. 27:59 Masyaallah. Tiga poin yang kalau tadi 28:02 kita kaitkan dengan perjalanan kita yang 28:06 mana nih ikhwan akhwat yang terasa 28:08 banget gue banget. Tapi baik sebelum 28:11 kita ke pertanyaan boleh ee 28:14 ada informasi terkait dengan untuk 28:17 sahabat Rasil di seluruh jemaah dan juga 28:20 seluruh jemah tahsin 28:23 insyaallah ada kopdar. 28:26 tawakufan 28:27 temu jemaah tahsin ajang silaturahmi 28:31 belajar dan menambah semangat di dalam 28:33 perjalanan tahsin bersama waktunya itu 28:36 Minggu 11 Januari 28:40 lusa 28:41 2026 tentu saja ya tempatnya di Masjid 28:44 Silaturahim Cibubur dimulai jam pagi 28:49 istimewanya itu akan diisi langsung oleh 28:53 seluruh narasumber bertahsin yang selama 28:57 ini membersamai sahabat-sahabat Rasil di 28:59 dalam belajar Al-Qur'an. Jangan sampai 29:03 terlewat momentum kebersamaan yang penuh 29:06 berkah ini dan insyaallah kita akan 29:10 merasakan hangatnya silaturahmi sesama 29:16 penuntut ilmu Al-Qur'an. Baik, nanti 29:19 ditunggu ee kita boleh langsung ke 29:21 pertanyaan ya. Ee Dok, 29:23 ini dari tunggu sebentar. Mana tadi, 29:28 Dok? Saya pernah saat masak lupa sampai 29:32 yang direbus asad dan panci terbakar, 29:36 apinya menjulang ke atas sangat besar, 29:38 menjilat-jilat. Untung atapnya yang di 29:42 atas dapur itu bukan papan, tapi dak 29:45 semen. Jadi, tidak apa-apa. yang terjadi 29:49 adalah setelah itu kemudian dimatikan 29:52 oleh orang lain. Tentu saja yang ketika 29:55 saya berteriak itu teratasi sampai 29:58 sekarang saya tidak berani ke dapur. Apa 30:01 yang harus saya lakukan? Padahal 30:03 emak-emak itu kan urusannya dapur ya, 30:06 Dok. Terima kasih. 30:07 Heeh. 30:08 Baik. Nah, inilah salah satu bentuk yang 30:10 dikatakannya trauma kan. 30:11 Trauma. He 30:12 meledak api, dapur. Efeknya apa? Takut 30:16 ke dapur. Heeh. karena menyimpan tadi 30:19 sebuah masa lalu tentang rekaman bakaran 30:23 meledak dan dapur menjadi siklus yang 30:26 sudah membelenggu dia namanya. 30:28 Jadi jaringan saraf kalau sudah bicara 30:31 dapur 30:32 yang aktif cuma itu. 30:34 Yang lain enggak muncul ya. 30:35 Yang lain enggak muncul. 30:36 He. 30:36 Kemudian bicara api juga begitu. Bicara 30:39 kebakaran, bicara meledak. Nah, ini yang 30:41 memang tadi kita sebut ada sirkuit di 30:44 dalam jalinan saraf itu yang sudah 30:47 membelenggu dia dan menimbulkan tadi 30:49 fobia namanya 30:51 ketakutan dari sesuatu bentuk yang tidak 30:54 realistis. Sebetulnya kan 30:56 sekarang dapur pasti sudah dibetulin ee 30:59 kompornya juga bagus lagi ya. semua 31:02 sistem pengamanan mungkin juga sudah 31:03 ditambah ketika ada asap mungkin sudah 31:05 ditambah lagi sebuah sistem ada air itu 31:07 kan sprinkel-sprinkel yang bisa menjadi 31:09 bagian dari pengalaman itu. Nah, apa 31:12 yang terjadi pada ee ibu ini kita sebut 31:15 adalah fobia dari suatu trauma. 31:18 Banyak bentuk-bentuk fobia yang ee 31:21 terjadi Mbak Nuning. 31:22 He. 31:23 Ada fobia ruang gelap. 31:25 Iya. 31:26 Kenapa? Karena masa kecil 31:28 pernah [tertawa] 31:29 ketika dia kemudian salah dimasukin ke 31:31 kamar mandi dikunci mati lampu. 31:34 Oh hukuman dulu ya. 31:35 Hukuman. 31:36 He. 31:37 Sehingga dalam dia gelap itu adalah 31:39 sesuatu yang sangat traumatik. 31:41 He. 31:42 Dia enggak paham tentang maksud daripada 31:44 kedisiplinan tadi sebetulnya. Tapi cara 31:47 itu merekam seperti ibu tadi. 31:48 Iya. 31:49 Menjadikan itu suatu traumatik. Nah, 31:51 pada batas tertentu ketika memang ini 31:54 sudah tadi Ibu ungkapkan itu kita harus 31:57 melakukan yang disebut dengan cognitive 31:59 behavior therapy. 32:00 He. 32:01 Mengubah cara pandang ibu, mengubah 32:03 perilaku ibu tentang situasi tadi yang 32:07 kita kaitkan dengan masa lalu lalu 32:09 sekarang berhadapan dengan masa kini. 32:11 itu dilakukannya bertahap manuning. He. 32:15 Jadi kalau contoh pada konteks yang 32:16 kemudian ee sederhana ya, 32:21 mulai ngelihat dapur itu suasana yang 32:25 menyenangkan, enggak perlu masuk dulu 32:26 ya. Di situ mungkin ada bunga, 32:29 ada sesuatu yang menyenangkan kita 32:32 disertai juga mungkin dengan anak-anak 32:34 cucu main di daerah dapur itu. Jadi kita 32:37 hanya melihat dulu tahapannya. He. 32:39 Jadi, kognitif biar terapi kita tentang 32:43 ingatan dapur yang pernah menakutkan 32:45 harus diubah dulu. Ada ingatan-ingatan 32:47 baru yang akan memunculkan tadi jalinan 32:50 saraf. 32:51 He. 32:51 Nah, metode ini memang ketika memang 32:54 tadi cukup kooperatif, cukup bisa 32:57 memberikan ketenangan, itu bisa 32:59 berhasil. 33:01 Tapi ketika memang sudah sangat 33:03 traumatik 33:04 itu ada sesi yang disebut dengan 33:05 hipnoterapi, Mbak Nuning. 33:07 Oke. 33:08 Karena alam bawah sadar dia itu yang 33:11 kemudian belum bisa memberikan suatu ee 33:15 keserasian dengan realitas sekarang 33:18 sehingga alam bawas ketakutan itu terus 33:20 yang membuat dia terjebak dengan situasi 33:23 tadi. Nah, itu pengobatannya pada 33:26 batasan itu perlu di ungkap kedalaman 33:29 bahwasanya dalam bentuk hipnoterapi. 33:31 He he. 33:32 Nah, pada batas tertentu hipnoterapi 33:34 gagal 33:36 karena tidak semua orang bisa di 33:38 hipnoterapi. 33:39 Iya. 33:40 Orang yang tidak sugesif tidak bisa 33:41 dihipnoterapi. 33:43 Sudah pakai behavior terapi juga enggak 33:45 mempan. [berdehem] 33:46 Nah, inilah kemudian teknologi membantu 33:49 seseorang dengan farmakoterapi namanya. 33:52 Jalinan sarafnya itu perlu diblok. 33:54 Jadi dia sudah terbentuk semacam sebuah 33:56 refleks. Nah, refleks ini dalam dunia 33:59 kedokteran itu ada 34:00 neuro-neurotransmitter, 34:02 cairan-cairan yang membelenggu dia 34:05 menjadi aktif terus. 34:07 Heeh. Nah, cairan-cairan yang aktif ini 34:10 ada teknologi yang bisa membantu diblok 34:13 itu. He. 34:14 Sehingga dia menjadi tidak aktif ketika 34:16 mengalami situasi tadi. Dan kemudian 34:19 dilakukanlah tadi teknik-teknik yang non 34:21 obatnya, 34:22 kognitif bioterapinya, hipnoterapinya. 34:25 Jadi pada tahap yang memang tadi sudah 34:27 dilakukan yang non obat pada kasus-kasus 34:29 tertentu itu memang harus dibantu dengan 34:33 pemberian obat dan itu tentu harus 34:35 berhadapan dengan ee konsultasi kepada 34:38 psikiater 34:39 untuk nanti memilih jenis-jenis obat 34:41 mana yang memang cocok pada setiap 34:42 orang. Jenisnya banyak sekali. 34:45 Nah, keserasian tadi karakter orang 34:48 akan menentukan nanti pilihan psikiater 34:51 memberikan obat tadi. Jadi, traumanya 34:53 kelihatan kan cuma sekali kan 34:54 kejadiannya kan. 34:55 Iya. 34:56 Tapi trauma ini tentu tidak bisa 34:58 dilepaskan dari pengalaman sebelumnya. 35:01 Nah, inilah yang tadi nanti akan digali. 35:03 Banyak kasus-kasus yang Ibu sampaikan 35:05 tadi bentuknya beda-beda. Takut kucing 35:07 aja. 35:08 Iya. Emang kucing kenapa sih? 35:09 Nah, emang kucing kenapa gitu kan. 35:11 [tertawa] Jangan kucang kecoa nih 35:14 sampai lari naik atas 35:15 sampai lari naik at. [tertawa] 35:17 Nah, itulah yang disebut tadi ada 35:19 trauma-trauma persepsi yang keliru 35:21 tentang suatu kejadian menyebabkan dia 35:23 fobia, ketinggian. Enggak berani naik 35:25 pesawat, duitnya berlimpah mau ke mana 35:28 aja. Tapi enggak berani kalau naik 35:29 pesawat. Pokoknya kalau pergi jalan 35:31 darat karena enggak berani pada 35:33 ketinggian. Jadi mudah-mudahan Ibu tadi 35:36 menyadari ini disebut fobia. 35:38 He. 35:39 Akibat traumatik satu kejadian. 35:41 Dan proses untuk melakukan perbaikannya 35:44 bisa dimulai tanpa obat dulu. 35:46 Datang ke seorang terapis, bisa ke 35:48 konselor, bisa ke hipnoterapis, bisa ke 35:51 orang psikiater, bisa seorang psikolog. 35:52 Nanti Ibu diajarkan bagaimana memulai 35:55 untuk mengubah ee pikiran dan perilaku 35:57 dari trauma tadi. Nah, mudah-mudahan ee 36:00 ikhtiar non obat bisa berhasil. Kalaupun 36:03 tadi ikhtiar tadi seperti tadi Siti 36:05 Hajar tujuh kali bolak-balik itu begitu, 36:08 enggak berhasil juga. maka farmakoterapi 36:10 memang perlu Ibu dapatkan untuk 36:12 mendapatkan perubahan dari siklus 36:15 neurotransmitter memang sudah mengganggu 36:17 ee fobianya tadi. 36:20 Iya. Jadi kalau soal waktu enggak 36:22 ketahuan ya, Dok. Berapa lama baru 36:24 sembuh? 36:25 Tidak sangat individual 36:25 tergantung bagaimana masing-masing. 36:27 Sekarang umur Ibu berapa misalkan, 36:29 kejadiannya kapan itu berpengaruh. 36:32 Semakin cepat saat itu terjadi ya tentu 36:35 semakin juga pendek proses untuk 36:37 memulihkannya. kejadian sudah 10 tahun 36:39 yang lalu misalnya kan. 36:40 Nah, lain lagi nih. 36:41 Sudah lain lagi tu [tertawa] ya. Jadi 36:43 momen waktu dan kemudian bagaimana 36:45 kemudian 36:46 ee variabel atau faktor-faktor lain yang 36:49 melingkupi kehidupan Ibu juga akan 36:50 berpengaruh. 36:52 Baik. Dari tidak ada namanya di sini, 36:57 Dok. 36:59 Mana tadi? 37:02 Kapan usaha boleh menyerah ketika kita 37:05 menghadapi anak yang ADHD terus terang 37:08 do know what to do kan akan 37:11 seumur-umurkah do 37:14 masyaallah 37:16 cara Allah memuliakan setiap hambanya 37:19 beda-beda. 37:19 He 37:20 ada yang seperti Nabi Sulaiman 37:22 [berdehem] 37:23 dengan semua kehebatannya 37:26 semua makhluk bisa diperintahkan. 37:29 Tapi ada yang seperti Nabi Ayub. 37:31 Ya, ada yang seperti Nabi Musa, Nabi 37:34 Isa. Jadi, karakter kenabian itu 37:36 sebenarnya ingin menggambarkan 37:38 kita sedang dalam 37:41 episode mana nih. Nah, Ibu mengatakan 37:44 tadi ada anak adhan ini amanah ya, sudah 37:48 terima sebagai suatu keniscayaan dari 37:51 enggak bisa aduh kalau bisa dimasukin ke 37:53 perut lagi gitu kan. Ee dibalikin lagi 37:55 gitu kan. Wah, udah nyesel dengan segala 37:58 macam. Itu tentu yang tidak boleh ya. 38:00 terjebak dengan belenggu waktu yang 38:01 kemudian menyebabkan kita tidak bisa 38:04 move on. Nah, realita ini, Ibu, ADHD itu 38:07 sangat create 38:10 dalam dunia kesehatan jiwa. Nah, tentu 38:13 gradasi berat ringannya yang kita tidak 38:14 tahu. 38:15 Iya. 38:15 Karena ADHD itu ada yang ringan, ada 38:17 yang sedang, ada yang berat. 38:19 Kalaupun sudah sampai yang berat, 38:21 insyaallah ya semua dengan teknologi 38:23 yang sekarang dimiliki dalam dunia 38:25 kedokteran itu bisa membantu. 38:28 Bagaimana dia namanya kan 38:31 attention deficit ya, hiperactive 38:34 disorder. Jadi gangguan hiperaktivitas 38:38 dari kondisi dia enggak bisa fokus pada 38:40 suatu kondisi maka dia pindah-pindah. 38:43 Nah, ini padahal hampir kebanyakan juga 38:46 kasus adik-adik itu jenius. anu nih 38:50 orang yang punya kemampuan pada sesuatu 38:53 fokus tertentu bahkan jenius sebetulnya 38:55 dan banyak ee tokoh-tokoh ya yang memang 38:59 kita sebut sekarang sukses itu awalnya 39:01 ADHD. 39:02 He. 39:03 Nah, tinggal tadi Ibu perlu mendapatkan 39:06 tadi ya, bagaimana derajat ADHD H 39:10 dari yang terjadi sehingga nanti ada 39:13 treatment-treatment yang disesuaikan. 39:14 Itu langkah pertama ikhtiar tadi kata 39:17 Ibu kan tadi, "Aduh sudah ikhtiar ya." 39:18 Betul tadi ikhtiar ini tadi pada konteks 39:22 yang ee ilustrasi Siti Hajar dan Nabi 39:25 Ismail tidak boleh menyerah, 39:29 pantang menyerah. Nah, itulah dikatakan 39:31 berlari-lari Bukit Safa, Bukit Marwa itu 39:34 dihitung sekarang 5 kilo dan saat itu 39:36 kerikil. Kalau sekarang enak, pakai 39:38 sepatu lagi. [tertawa] 39:40 Adem, AC. Jadi situ Ibu, langkah 39:45 keduanya betul ubah tadi harus tetap ada 39:50 ikhtiar. Nah, ikhtiar inilah yang nanti 39:53 akan membantu ibu di dalam mendapatkan 39:56 sunatullah-sunatullah terapinya. 39:58 Sama juga pada kasus yang tadi fobia 40:02 harus kadang-kadang pada batas itu harus 40:04 pakai obat 40:06 karena untuk melatih fokus dia untuk 40:09 tetap dia tidak terlalu pindah dari 40:11 suatu rangsangan ke rangsangan lain 40:14 karena hiperaktifnya 40:15 itu obat memang tidak bisa dihindari. 40:17 Lalu orang sering terjebak jadi 40:19 tergantung dong Dok. Tidak. 40:23 Tergantung itu kalau istilah daripada 40:26 sebuah pencarian didapatkannya ilegal. 40:30 Dosis yang diminumnya pun suka-suka 40:33 bahkan melampaui dari batas sebuah 40:36 kondisi yang disebut dengan e dosis 40:38 terapeetik. Selama setiap orang 40:41 mendapatkan obat dari tempat yang legal, 40:44 didapatkannya pun melalui sebuah proses 40:46 profesional 40:48 dengan dosis yang masih dalam arahan 40:50 sesuai instruksi itu enggak tergantung. 40:53 Orang kencing manis minum obat, 40:56 orang stroke dengan semua pakai minum 40:58 obat. Jadi minum obat terus-menerus 41:01 tidak otomatis 41:03 disebut ketergantungan. Bukan. Karena 41:06 ada ketika tadi tubuh tidak seimbang, 41:09 fungsi obat itu menyeimbangkan, 41:11 menstabilkan dari kondisi yang memang 41:13 tidak sama pada kondisi tadi yang kita 41:16 sebut sudah takdir baik dan buruk memang 41:19 kemudian ada ADHD dan obat itu sebagai 41:21 ikhtiar bukan tergantung. 41:22 Iya. Jadi ketergantungan itu edik itu 41:26 kalau narkoba kali ya. [tertawa] 41:28 Baik, Dok. Ini dari Pak Widodo. 41:31 Asalamualaikum. 41:32 Waalaikumsalam. Ceramah kesehatan pagi 41:34 ini sangat berkesan dan bermanfaat. 41:36 Penggabungan antara ilmu kedokteran jiwa 41:39 dengan ajaran Islam yang sangat 41:41 sempurna, agama rahmatan lil alamin. Ya, 41:44 mohon nomor kontak dokter dong kalau 41:47 ingin berkonsultasi. Oke, nanti di 41:49 penghujung akan kami berikan. I 41:52 yang jelas acara ini bisa didengerin 41:56 lagi cukup dengan klik apa Rasil TV di 42:00 YouTube ya nanti akan keluar. 42:03 Kemudian pertanyaan berikutnya tunggu 42:06 sebentar. 42:09 Oh, 42:11 anak kok tampaknya suka sesama jenis 42:15 nih. Dia sekarang sudah SMA. Ini hukuman 42:18 Allah atau apa ya, Dok? Sebagai ayah 42:20 saya harus bagaimana? 42:22 Heeh. 42:24 Astagfirullah ya. Nauzubillah minzalik. 42:26 Jadi ini kesalahpahaman 42:28 dari tiga doktrin yang menguasai media 42:32 mainstream. 42:34 He 42:34 ya. Anak-anak sekarang ini kan 42:36 rujukannya referensinya googling 42:40 ya, EI. Nah, terjebaknya mereka di dalam 42:44 pertanyaan Bapak tadi, mereka selalu 42:47 menghembuskan doktrin pertama. He 42:49 ini adalah memang dari sang kuasa 42:53 dari sononya. 42:54 Dari sononya katanya bahwa hasrat itu 42:57 muncul bukan sesuatu yang dibuat-buat 42:59 tapi memang Tuhan sudah memberikan 43:01 otaknya katanya sebagai suatu kelainan 43:03 yang hanya suka dengan sejenis. Itu 43:05 doktrin pertama. 43:06 Terus 43:07 doktrin kedua adalah ini hak azasi. 43:10 Heeh. 43:10 Ini pilihan saya. 43:13 Kami suka-suka gue enggak ngerepotin el 43:16 gitu. 43:17 Itu doktrin kedua. sehingga mereka 43:19 hembuskan ketika ini menjadi sesuatu 43:21 yang akan diubah melanggar hak azasi. 43:23 He. 43:23 Nah, doktrin ketiga sudah tadi memang 43:25 ini dari sononya kemudian hak azasi 43:28 enggak bisa dirubah, tidak bisa 43:29 diperbaiki. 43:32 Ya, ini tiga doktrin yang menguasai 43:35 generasi milenial terjebak tuh tadi 43:37 dengan apa yang mereka hembuskan dan itu 43:40 mereka lakukan secara terstruktur, 43:42 sistematik dan masif 43:45 masuk pada semulah relung-lelung 43:47 kehidupan termasuk lelung keagamaan. 43:50 jangan kira 43:51 ee banyak hal pengabaian penyusupan 43:55 mereka itu karena terstruktur nasib 43:57 masuk ke tempat-tempat strategis 43:59 he 44:00 ke sekolah boarding yang bernuansa agama 44:02 dan sebagainya. Jadi Bapak ee tentu anak 44:06 Bapak perlu dicerahkan untuk mengcounter 44:10 tiga doktrin tadi. Ini bukan fitrah. 44:12 Tidak mungkin 44:14 Allah mengatakan fitrah itu sebagai 44:16 suatu yang bertentangan. Apa yang 44:18 kemudian bisa kita ee bantah? Pertama, 44:22 penciptaan manusia apa? Adam sama 44:24 George. 44:26 Penciptanya Nabi Adam dengan Siti Hawa. 44:29 [tertawa] 44:30 Dan terus berabad-abad bertahun baru 44:32 keman Nabi Luth. 44:34 Jadi jelas sejarah itu menggambarkan ini 44:37 penyimpangan ya yang memang dilakukan 44:40 oleh segelintir manusia yang saat itu 44:43 sudah Allah berikan 44:44 peringatan-peringatannya. 44:47 Nah, cuma memang karena tadi dunia 44:49 kedokteran sendiri, Mbak Nuning, 44:51 itu mengalami degradasi, keputusan 44:54 kesimpulan 44:56 sampai tahun 2000 seluruh dunia 44:59 menyatakan ini penyimpangan. 45:01 Seluruh dunia letasi manapun sampai 45:04 tahun 2000 itu bahwa inilah 45:06 penyimpangan. 45:07 Tapi ketika penguasa dikuasai oleh 45:10 orang-orang yang memang punya orientasi 45:12 seksual menyimpang, itu sejarah 45:14 perjalanan LGBT bisa kita buka. 45:17 Jadi diagnosis yang di Amerika yang 45:19 dikatakan tadi itu bukan penyimpangan 45:21 itu dimulai karena penentu kebijakannya 45:24 homoseksual. 45:26 Heeh. Oke. 45:27 Jadi memang ini yang dikatakan 45:28 tersusimatik dan masif yang menyebabkan 45:31 literasi 45:32 referensi yang kemudian dunia milenial 45:35 itu seolah oh iya menerima ini ini hak 45:38 ajasi ini kodrat Tuhan dan ini enggak 45:40 perlu disembuhkan. Ketika kita melakukan 45:42 upaya itu dianggap pelanggar hakasi dan 45:45 melanggar juga kodrat Tuhan. Padahal 45:47 sekali lagi kita banyak bukti yang telah 45:52 memberikan hasil ketika dia tahu bahwa 45:55 posisi ini sebetulnya adalah 45:57 penyimpangan. He. 45:59 Dan sama seperti perilaku tadi fobia, 46:01 perilaku tadi postraumatik bisa semua 46:04 dilakukan upaya untuk perbaikan dan 46:07 pemulihan dan tentu kepada ahlinya 46:11 karena dunia kedokteran dan psikologi 46:14 juga dua cabang. He 46:16 ada yang berarrian udah tadi memenuhi 46:19 tiga doktrin tadi udah emang itu udah 46:20 begitu lanjutin aja sudah makin subur 46:23 kalau ketemu terapis yang memang 46:25 alirannya aliran seperti itu. 46:26 Iya 46:27 tapi jangan khawatir tetap masih banyak 46:30 ya tokoh-tokoh cendikiawan yang memang 46:33 tetap mempertahankan 46:36 nilai-nilai ajasi yang betul ajasi. Jadi 46:40 kesalahan ajasi itu lupa bukan pada hak. 46:44 ada kewajiban adasi. Nah, ini yang 46:47 mereka tidak ungkap ya sebagai sesuatu 46:50 bagian keseimbangan. Kita tidak bisa 46:52 hanya bicara hak azasi, ada kewajiban 46:56 azasi. Apa itu kewajiban azasi? adalah 46:59 apa yang tentu sang pencipta telah garis 47:02 bawahi melalui tuntutan-tuntutan 47:04 kenabiannya terhadap kehidupan 47:07 masyarakat itu seperti apa. Tidak ada 47:08 kitab suci di manaun di dunia ini yang 47:12 sampai sekarang menjadikan rujukan itu 47:14 sebagai suatu penyimpangan dianggap 47:16 adalah hak hajasi dan kodrat. 47:19 Jadi sebetulnya itu bisa ditanggulangi 47:24 dengan cara-cara yang memang tidak mudah 47:26 ya Dok. 47:27 Betul. E ini kebetulan sekali mirip 47:30 dengan yang sedang kita bahas. Mendengar 47:32 ini, Mbak Nuning, saya jadi ingat ada 47:35 tetangga saya itu punya anak lima 47:38 perempuan semua pengin banget punya anak 47:41 laki-laki sampai sedemikian rupa. Dan 47:44 ketika kemudian Allah memberikannya, 47:48 anak itu setelah dia remaja ternyata 47:51 jadi ee suka dengan sesama jenis. Keluar 47:55 laki-laki sih. Eh, keluarnya tapi 47:58 perempuan. Salah-salah. Keluarnya 47:59 perempuan lagi tapi dia ber pikir, 48:03 bersikap, berperasaan seperti laki-laki. 48:07 Apakah ini kesalahan orang tua yang 48:10 ngotot banget pengin punya anak 48:12 laki-laki sementara dalam kandungannya 48:14 perempuan jadi seperti anak laki-laki? 48:17 Mohon penjelasan, Dok. Terima kasih. 48:19 Iya. dinamika setiap kasus beda-beda. 48:22 He. 48:22 Itu contoh yang juga sering terjadi. 48:25 Keinginan orang tua lalu berbeda 48:31 pengin perempuan gitu kan 48:35 tiba-tiba laki-laki. Ini pengin 48:36 laki-laki tiba-tiba perempuan gitu kan. 48:39 Sehingga semua perangkat sudah terbola 48:43 bajunya warna ini gitu kan. He 48:46 tiba-tiba berbeda 48:48 sehingga bisa jadi bagian yang kemudian 48:52 dia tidak terima tadi masih melekat 48:55 dan si anak kebetulan kelakuan kayak 48:58 gitu 48:59 jadi korban sebetulnya. Jadi tapi tidak 49:01 selalu tidak selalu 49:02 ee modus atau motifnya seperti itu 49:05 semua. 49:05 He 49:06 ya. Tapi yang jelas ini bukan kodrat. 49:11 tadi kan tadi kan pengin laki berarti di 49:13 kehamilannya gitu kan mempengaruhi semua 49:16 struktur yang kemudian ada pada si anak 49:17 bukan 49:18 he 49:19 ya penelitian sudah membuktikan ee 49:22 secara 49:23 jelas tentang bagaimana bedah otak yang 49:26 kemudian dikatakan antara otak 49:29 penyimpang seksual dengan otak 49:30 heteroseksual itu beda. 49:32 Itu berbedanya bukan dari lahir. 49:35 Berbeda setelah dia melakukan 49:36 penyimpangan. 49:37 Iya. Iya. 49:38 Jadi mudah-mudahan ee jangan bermula 49:41 dengan saling menyalahkan. Tadi kan ini 49:45 apa kesalahan? 49:46 Iya. Merasa dia karena berpikir pengin 49:48 banget terus anaknya jadi kayak gitu. 49:49 Tidak. Lakukanlah tetap cara-cara 49:51 praktis yang tentu Allah maha pengampun, 49:54 Allah maha pengasih dan penyayang. Ya, 49:56 lakukan perbaikan, lakukan ikhtiar. 49:59 Insyaallah langkah-langkah pemulihannya 50:02 masih terbuka untuk bisa diperbaiki. 50:04 Amin. Insyaallah. Em, ini satu lagi bisa 50:07 yang terakhir dari Ibu Junior. 50:10 Asalamualaikum, Dok. 50:11 Waalaikumsalam. 50:12 Saya pernah difitnah oleh anak sambung 50:15 saya laki-laki dua orang. Tuduhannya 50:17 mencuri perhiasan almarhum ibunya yang 50:20 sampai sekarang enggak terbukti. Dan 50:22 memang saya tidak melakukan itu. Sampai 50:24 sekarang ada rasa yang saya jadi tidak 50:27 mau berkumpul dengan anak-anak ini, 50:29 dengan anak-anak suami saya ini. Enggak 50:31 dendam sih, Dok. Tapi saya merasa enggak 50:34 ah enggak ah [terkesiap] enggak mau 50:36 sering ketemu apalagi dengan anak 50:38 sambung saya tersebut. Dok, apakah ini 50:41 bisa disebut penyakit? Saya punya rasa 50:45 enggak nyaman terhadap anak-anak itu, 50:47 Dok. Terima kasih penjelasannya. 50:49 Ya, Ibu yang disayangi Allah. Ya, tentu 50:52 dinamika itu kita bisa rasakan ya, 50:54 bagaimana sebuah kondisi kebenaran 50:58 dengan apa yang dituduhkan menjadi 51:00 sesuatu yang berimbas pada fitnah. He. 51:03 Nah, tentu langkah yang tetap harus kita 51:06 lakukan bagaimana Islam mencoba untuk 51:09 menempatkan situasi ini ya. Kita dituduh 51:12 ya. Lalu kemudian tentu berimbas pada 51:15 hubungan relasi. 51:17 Ee silakan nanti Ibu buka surat Al Imran 51:19 130. 131 ya Allah menegaskan ada tiga 51:26 kriteria ketika kita dianggap layak 51:28 untuk mendapatkan ampunan dan surganya 51:31 Allah 51:32 wasariu ila magfiratbikum 51:34 wa jannatin arduamawatil muttaqin apa 51:37 tiga karakternya 51:39 alladina yunfiquuna far w ibu biasakan 51:43 saat dengan problematika ini tebarkan 51:47 infak 51:48 dengan segala kemampuannya nya ya. Punya 51:51 harta infakkan ya. Punya ilmu infakkan. 51:55 Aduh enggak punya harta enggak punya 51:56 ilmu ya dengan tubuh senyum 52:01 kepada setiap aktivitas ya. Hadapi juga 52:03 tadi yang dikatakan tadi anak yang 52:05 memfitnah. Hadapi dengan senyum tetap. 52:08 Yang kedua, walkaz minal gaizo. Kita 52:10 terjebak dengan emosi. Tahan karena itu 52:14 kita akan terbawa lagi dengan apa yang 52:16 disebut unfinished emotion namanya. 52:18 Enggak berkesudahan. tahan. Nah, ini 52:20 dahsyatnya Al-Qur'an tadi. Walina aninas 52:24 forgiveness terapi. 52:26 Senyum memaafkan itu dua kata yang tidak 52:29 boleh kita tinggalkan jadinya ya. 52:31 Oke, Dok. Sayang sekali kalau ini tidak 52:33 disampaikan dari Bapak Asraf. Dok, saya 52:36 punya ponakan ngidap skizofrenia jadi 52:39 pasien di Rumah Sakit Marzuki Mahdi. 52:42 Umurnya itu sudah 50 tahun, Dok. sudah 52:44 tamat kuliah, gelarnya insinyur, tapi 52:47 sampai sekarang enggak seperti orang 52:49 dewasa, tetap seperti anak-anak. Apakah 52:52 ini akan seumur hidup, Dok, minum obat? 52:55 Tolong penjelasannya dan nanti minta 52:57 nomor teleponnya ya, Mbak Nuning. Oh, 52:58 oke. [tertawa] 52:59 Ya, 53:02 disebut pecah kepribadian. Kebian itu 53:05 terukur pada tiga, pikiran, perasaan, 53:07 perilaku. 53:08 Nah, pada orang sisnya pecah ya. Nah, 53:11 tentu ikhtiar-ikhtiar yang tadi Bapak 53:13 sudah lakukan, kami yakin itu sudah 53:15 merupakan juga cara kita menghadapi apa 53:19 yang diamanahkan seorang anak ya yang 53:21 sudah 50 tahun dengan skizofrenia. Nah, 53:24 apakah kemudian ini akan ee 53:26 berkelanjutan? Ya, tentu karena tadi ya 53:29 pecahnya kepribadian ini ee merusak 53:33 tatanan dia di dalam berperilaku 53:36 mengekspresikan, 53:38 kemudian juga melakukan 53:39 tindakan-tindakan 53:40 dan sampai ada berpikiran tadi 53:42 tergantung nih ya jenis sizofrinya 53:43 macam-macam ada sizov paranoid namanya 53:46 curigaan ya dia 53:47 dilirik Mbak Nuning dianggap sudah akan 53:50 mencelakai orang meludah dianggap 53:52 [tertawa] 53:53 pokoknya semua sikap itu diartikan 53:55 negatif makanya disebut sistemnya 53:57 paranoid. Ada yang kemudian sif kacau 54:00 sekali ya ee dia tidak bisa melihat 54:03 laeta. Nah, jadi Bapak tidak ada 54:06 penyakit yang tidak bisa dipulihkan itu 54:08 hukumnya. Tidak mungkin Allah menimpakan 54:11 suatu kondisi yang kemudian tidak juga 54:14 sudah disertai solusi. Nah, solusinya 54:17 tentu harus komprehensif. 54:20 Yang pertama bukan hanya obat, tapi 54:22 kalau Bapak katakan obat itu sebagai 54:23 suatu hal yang betul itu, tapi bukan 54:26 satu-satunya. 54:27 Faktor kedua itu tadi bagaimana potensi 54:30 yang masih dia miliki untuk terus 54:32 dibangun. Makanya di setiap rumah sakit 54:34 punya tempat rehap. Rehap itu dalam 54:37 rangka memilih dan memberikan potensi 54:40 yang tepat untuk dirinya. Nah, ketiga, 54:44 perubahan sosial. Nah, lakukan 54:46 modifikasi karena ee dia butuh suatu 54:49 nuansa yang cocok. Ini contoh 54:52 ilustrasinya. Kenapa kalau di rumah 54:54 marah-marah gitu kan dirawat di rumah 54:56 sakit kan. Kenapa di rumah sakit bisa 54:58 tenang? 55:00 Karena semua sistem mulai daripada 55:02 perawatnya, dokternya, psikiatrnya 55:04 membangun sebuah lingkungan yang itu 55:06 yang mestinya direplikasi di rumah. Jadi 55:09 perubahan sosial itu harus juga 55:11 dilakukan. Nah, yang keempat ini juga 55:12 tidak kalah penting, yaitu spiritual 55:14 religi. Jadi, sudah diobati 55:17 melakukan juga perubahan-perubahan 55:18 fungsi-fungsi psikologi dia. Melakukan 55:22 modifikasi tentang tadi aspek sosial dia 55:25 dan tetap mengarahkan dia pada aspek 55:28 spiritual religi yang tetap sesuai ya 55:31 dengan kemampuannya. Ini sudah kita tahu 55:33 orang biasa aja salat lima waktu belum 55:35 tentu bisa gitu. kita menentukan target 55:38 yang begitu tinggi dari sesuatu hal yang 55:41 harus jangan ee diberatkan karena Allah 55:44 mengatakan la yuk usaha. Allah tidak 55:47 membani hambanya kemampuannya. Jadi 55:49 orang skizofrenia itu pada batas 55:51 tertentu memang tidak lagi dihukumi 55:54 secara total. Dia harus bertahap dengan 55:56 kemampuannya di dalam konteks-konteks 55:58 yang sesuka kemampuannya. Insyaallah, 56:00 Pak, selalu ada solusi yang bisa 56:02 diterapkan. Kalau empat faktor tadi 56:04 dijalani, 56:05 insyaallah bisa. 56:06 Insyaallah. Dan nomor telepon dokter 56:09 ditunggu nih. Nomor berapa? 08 56:11 11 56:12 111 56:13 276 56:14 276 56:16 1963. 56:17 1963. 56:19 Jadi untuk yang mengajukan pertanyaan 56:22 tapi belum sempat karena waktu kita 56:24 sudah di penghujung bisa dengan nomor 56:26 ini. Tapi BA dulu karena dokter pasti 56:28 sibuk banget ya. 56:30 Baiklah. Eh, closing statement, Dok. 56:33 Ya, karena kita bicara dengan waktu, 56:35 Allah juga sangat tegas dengan surah 56:37 Al-Asr 56:38 yang artinya juga demi waktu. Wal as, 56:41 demi waktu. Allah katakan, "Innal insana 56:44 lafi khusus." Sesungguhnya orang yang 56:46 tidak mengelola waktu Allah katakan 56:48 rugi. Nah, bagaimana cara untuk 56:50 beruntung? Yang pertama illalladzina 56:53 amanu. Agar waktu itu kita kelola baik 56:56 itu yang masa lalu, masa depan, masa 56:57 kini selalu diisi dengan nilai-nilai 57:00 keimanan dan ketakwaan. Yang kedua, 57:02 waamilus shihat. Kalian harus berkarya. 57:06 Berkarya sesuai dengan kemampuannya. 57:08 Allah tidak membani sesuai tadi 57:09 kemampuan orang beda-beda. Yang ketiga, 57:13 watawaso bilhaq. Jangan pernah putus 57:16 asa. Harus terus bertawas, berwasiat di 57:18 dalam kebenaran. Dan yang keempat, wat 57:22 bisab dan sikapi itu juga dengan 57:24 kesabaran. Mudah-mudahan dengan iman, 57:27 amal saleh selalu pada nilai-nilai 57:30 kebenaran dan kesabaran pasti waktu itu 57:33 akan menjadi bermanfaat dan beruntung. 57:38 Astagfirullah atau masyaallah atau apa 57:40 nih? Yang jelas apa yang dibahas kali 57:42 ini betul-betul ee mengembalikan kita 57:45 pada kesadaran bahwa berkubang di dalam 57:48 kesedihan atas masa lalu buang aja. 57:52 Apalagi tuh yang jelas adalah tempat 57:54 bersandar kita hanya Allah semata. Dan 57:58 kalau yang kita rindukan sekarang enggak 58:00 ada nanti di sana disediakan insyaallah. 58:03 Ya begitu ya, Dok ya. Terima kasih untuk 58:05 kebersamaan ini. Sekali lagi sebelum 58:07 kita berpisah, 08112761963 58:12 adalah nomor yang ee dr. Fidiansyah 58:16 berikan tadi. Tolong dibawa dulu saja 58:18 ya. Baik, sekali lagi terima kasih. 58:21 Billahi taufik walhidayah. 58:22 Wasalamualaikum warahmatullahi 58:24 wabarakatuh.