Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Brail เฮ
- [musik]
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi
- rabbil alamin. Allahumma sholli wasallim
- wabarik ala sayyidina Muhammadin wa ala
- ali sayyidina Muhammad. Masih
- dipancarkan dari jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Kalimangis Subur
- Bekasi. Radio Silaturahim dan juga Rasil
- TV untuk Islam yang satu. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh. Ikhwan
- akhwat yang dirahmati Allah. Senang
- sekali di Kamis pagi hari ini kami
- kembali menyapa, kembali hadir dalam
- program acara renungan di bawah naungan
- Al-Qur'an bersama guru kita Ustaz Husein
- Alatas untuk edisi 24 Rabiul Akhir 1447
- Hijriah bertepatan juga dengan 16
- Oktober
- 2025. Semoga ikhwan akhwat di kesempatan
- pagi hari ini dalam keadaan baik, dalam
- keadaan sehat dan selalu dalam lindungan
- Allah Subhanahu wa taala. Amin. Amin ya
- rabbal alamin. Dan juga Iwan akhwat yang
- mungkin tengah diuji sakit ee begitupun
- mungkin keluarganya yang saat ini tengah
- berbaring diuji sakit semoga diberikan
- kesembuhan yang sempurna oleh Allah
- subhanahu wa taala. Amin. Amin ya rabbal
- alamin. Ikhwan akhwat, di kesempatan ini
- alhamdulillah guru kita Ustaz Husein
- sudah hadir di studio. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Baik, kita awali pertemuan ini
- [berdehem] dengan baca Quran surah
- Al-Fatihah yang akan dibimbing langsung
- oleh Ustaz Husin. Kami persilakan,
- Ustaz.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- arrahmanirrahim
- maiki yaumiddin.
- Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'
- ihdinasirathal
- mustaqim.
- Adina anamta alaihim
- ghairil magdubi alaihim waladin.
- Amin.
- Amin. Amin ya rabbal alamin. Baik ikhwan
- akhwat. Kita mulai dengan pembacaan
- al-Fatihah. Semoga kita semua
- mendapatkan curahan rahmat dari Allah
- subhanahu wa taala. Amin. Amin ya rabbal
- alamin. Ikhwan akhwat, kita awali di
- kesempatan ini dan nanti ikhwan akhwat
- silakan yang ingin menyampaikan
- pertanyaannya bisa mengirimkan ee
- seperti biasa ke nomor WhatsApp kami di
- 08
- 111999720
- ya. Insyaallah, Ikhwan Nawat, hari ini
- kita akan e membacakan mungkin beberapa
- pertanyaan dari Ikhwan Nawat dan akan
- dibahas oleh Ustaz Husein. Yang pertama,
- Ustaz ini pertanyaannya terkait yang
- sedang ya ramailah beberapa hari ini
- sorotan mengenai emm pesantren ya,
- pesantren cukup terkenal yang diliput
- oleh salah satu media swasta sampai ada
- tagar ini media sosial boikot Trans TU,
- Ustaz. Sebentar saya bacakan dulu, Ustaz
- ya singkatnya. Eh, tagar boikot Trans 7
- muncul dan menjadi viral setelah
- penayangan program Expos Unsensored e
- pada tanggal 13 Oktober 2025 yang
- menayangkan liputan salah satu pondok
- pesantren terkenal ya, Ustaz ya di Jawa
- yaitu pesantren Lirboyo. Tayangan
- tersebut itu menuai kecaman keras dari
- kalangan santri, alumni, dan juga tokoh
- masyarakat pesantren yang dinilai yang
- pertama itu melecehkan atau menghina
- kiai dan pesantren. Yang kedua
- menggunakan judul dan narasi yang
- provokatif dan sensasional. Seperti ee
- santrinya minum susu aja kudu jongkok.
- Emang gini kehidupan pondok kiainya yang
- kaya raya tapi umatnya yang kasih
- amplop. Nah, yang ketiga dinilai
- menggambarkan tradisi dan adab pesantren
- seperti penghormatan kepada kiai,
- pengabdian santri dengan sudut pandang
- negatif yang dianggap salah menafsirkan
- disiplin dan penghormatan sebagai
- penindasan perbudakan atau feodalisme.
- Nah, ini pihak Trans Tujuh sendiri juga
- sudah menyampaikan permohonan maaf dan
- mengakui kelalaian dalam melakukan
- sensor mendalam terhadap materi tayangan
- tersebut. Namun tuntutan boikot dan
- kecaman terus meluas. Nah, ini bagaimana
- Islam ee Rasul mengajarkan kita takzim
- tawadu atau penghormatan kepada kiai,
- kepada ustaz, kepada ulama yang juga
- mungkin dicontohkan oleh para sahabat
- bagaimana penghormatan terhadap Nabi. Ee
- sedangkan tradisi di kita seperti
- menunduk, merangkak di hadapan kiai ee
- sebetulnya adabnya seperti apa sih,
- Ustaz? Ee Islam mengajarkan. Terima
- kasih.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin.
- Hamdan katsiran thayyiban mubarokan fi
- kama yuhibbu rabbuna waardu.
- Allahumma sholli ala sayyidina wa nabina
- Muhammadin wa alihi wasahbihi wasallim.
- Asalamualaika. Ya Rasulullah.
- Assalamuala
- ibadillah shihin. Wasalamualaikum
- warahmatullah wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.
- Allahumma atina minika rahmah
- waimna min ladunka ilman nafi wunfa
- bimaamana.
- Rabbana zidna ilman waikna bisolihin.
- Berbagai macam
- fenomena
- di tengah-tengah kita
- yang mengundang pertanyaan
- yang menimbulkan juga
- perdebatan, pertentangan.
- Di antaranya
- apa yang kita jumpai di sebagian
- pesantren. Tidak semuanya di sebagian
- pesantren.
- Dan saya juga pernah menyaksikan dengan
- mata kepala saya sendiri. Bukan kata
- orang.
- Bagaimana sebagian orang di hadapan
- kiai, di hadapan ustaz, di hadapan
- habib.
- Tapi ini tidak semuanya.
- Bagaimana mereka
- berjalan dengan menunduk-nunduk.
- Pada saat mereka juga akan keluar,
- mereka berjalan mundur ya sampai
- terlepas dari pandangan baru mereka
- berjalan dengan lurus.
- Mereka duduk di hadapan kiai
- atau di hadapan Habib ya atau ustaz.
- Terkadang kita jumpai sikap mereka lebih
- daripada sahabat Nabi di hadapan
- Rasulullah sallallahu alaihi wa alihi
- wasallam.
- Fenomena semacam ini
- merupakan penyimpangan
- dari
- petunjuk
- sunah dan ajaran Nabi kita Muhammad
- sallallahu alaihi wa alihi wasallam.
- Mengapa?
- Karena diutusnya Nabi kita Muhammad
- sallallahu alaihi wa alihi wasallam
- sebagai rahmatan lil alamin.
- Tujuannya untuk mengajak manusia kembali
- kepada Allah Subhanahu wa taala
- beribadah,
- rukuk sujud di hadapannya
- dan memerdekakan umat manusia
- dari segala macam penjajahan.
- Kita dapat memahami [berdehem] hal ini
- dari kesimpulan ringkasan yang
- disampaikan oleh Rabi bin Amir
- di hadapan Kisra ketika raja Persia
- [berdehem]
- ingin mengetahui tujuan kaum muslimin
- datang ke berbatasan negerinya dengan
- membawa pasukan, maka dia mengirim
- utusan meminta
- kaum muslimin mengutus
- utusan mereka untuk datang ke
- hadapannya.
- Pimpinan kaum muslimin pada saat itu
- atau panglima kaum muslimin mengutus
- salah seorang biasa bukan dari kalangan
- yang menonjol yang bernama Rabi' bin
- Amir. Yang bernama
- Rabi
- Rabi' bin Amir radhiallahu anhu.
- ketika masuk ke dalam istana Kisra,
- istana yang megah mewah dengan
- permadaninya,
- dengan hiasan-hiasan emasnya ya
- yang menunjukkan betul-betul puncak
- kemewahan.
- Rabi bin Amir mengendarai seekor kuda
- yang kecil
- dengan berpakaian sederhana masuk ke
- dalam istana
- tanpa menunjukkan sedikit pun rasa
- minder.
- Dengan tegap datang ke hadapan Kisra
- lalu mengucapkan salam.
- Lalu Kisra bertanya
- melalui penterjemahnya,
- "Kenapa orang ini tidak sujud di
- hadapan?
- Dijawab oleh Rabi bin Amir, "Nahnu la
- nasjudu illa lillah." Kami tidak akan
- sujud kecuali hanya kepada Allah
- Subhanahu wa taala.
- [berdehem]
- Lalu Kisra bertanya kepada Rabi bin Amir
- melalui penterjemahnya,
- "Apa yang menjadi motif kalian datang
- kepada kami membawa pasukan kalian?
- Apabila kalian membutuhkan
- pangan? sandang
- dan lain-lainnya kami akan kirimkan bawa
- pasukan kalian kembali. Itu yang
- terlintas dalam benak Kisra.
- Karena
- dahulu pada masa jahiliah orang datang
- ke hadapan Kisra dengan menunduk
- mengharapkan pemberiannya.
- Hm.
- Jadi dalam pandangan Kisra yang
- mendorong mereka datang membawa
- pasukannya disebabkan tujuan-tujuan
- bendawi.
- Maka Rabi bin Amir mengatakan apa? Laisa
- lihadza wala lidzaka
- jaka ayyuhal malik. Bukan untuk ini atau
- itu yang kau sebutkan, kami datang ke
- hadapanmu wahai Paduka Raja.
- Lalu beliau menyampaikan tujuannya.
- Allahubatana
- linukhrija Allahtaatana linukhrija
- min ibadati ibadahi
- Allahu ibtaatana
- linukhrija
- ibadahu min ibadati ibadatihi ila
- ibadatillahil
- wahidil ahad. [berdehem]
- [mendengus]
- Allah mengutus kami
- untuk mengeluarkan hamba-hamba-Nya
- dari penyembahan perbudakan terhadap
- sesama hamba-Nya menuju penyembahan
- terhadap Allah alwahid al-ahad.
- Sebagaimana yang selalu kita baca dalam
- suratul fatihah. Iyaka na'budu wa iyaka
- nastain.
- Yang mengucapkan hal ini Rabi bin Amir,
- bukan Rasulullah.
- Sebagaimana Rasul diutus untuk
- mengeluarkan umat manusia dari
- penyembahan terhadap sesama makhluk
- menuju penyembahan terhadap Allah,
- sahabat Nabi seluruhnya juga melakukan
- hal yang sama.
- [mendengus]
- Mereka [berdehem] mengikuti Rasulullah.
- Sebagaimana Rasul diutus oleh Allah,
- mereka-mereka yang melanjutkan risalah
- Rasul juga melakukan hal yang sama. Maka
- termasuk kiai, Ustaz, Habib ya yang
- betul-betul mengikuti Rasul melakukan
- hal yang sama. Mereka berjuang
- dengan misi mengeluarkan umat manusia
- dari penyembahan terhadap sesama manusia
- menuju penyembahan terhadap Allah Tuhan
- yang Maha Esa la syarikah. [berdehem]
- Lalu yang kedua, wam biqid dunya ila
- saatil akhirah. Dan kami juga diutus
- untuk mengeluarkan manusia dari wawasan
- duniawi yang sempit.
- menuju dunia dan akhirat.
- Arti hidup di dunia bukan tujuan, hanya
- merupakan ladang ujian, tapi tujuan
- utamanya di hari akhirat. Ini
- betul-betul
- menyentak kisra. Yang terakhir, wamin
- jaurilani ila adlil islam. Dan kami
- diutus mengeluarkan manusia dari
- kezaliman,
- penganiayaan,
- eksploitasi yang dilakukan oleh agama
- yang bermacam-macam
- menuju keadilan Islam. [batuk]
- Apabila di abad [berdehem] ke-13, 14
- hingga abad ke-16
- Eropa mengalami [berdehem] renaisense,
- perubahan
- dari era-era
- perbudakan,
- eksploitasi yang dilakukan oleh
- raja-raja yang berkolaborasi dengan
- pimpinan-pimpinan gereja membodoh-bodohi
- masyarakat pada saat tersebut.
- [berdehem]
- bagaimana mereka berontak menolak
- dan
- mereka betul-betul mengalami satu
- perubahan yang amat luar biasa. Ini
- merupakan awal dari kemajuan
- bangsa Eropa, terutama [berdehem] sekali
- Prancis pada saat tersebut. Dan
- kebangkitan bangsa Eropa ini diilhami
- oleh apa? oleh kemajuan, kebebasan dan
- ilmu pengetahuan yang datang dari
- saudara-saudara mereka bangsa Arab yang
- berada di Kordoba. [berdehem]
- Dahulu mereka hidup dalam khurafat,
- dalam mistik, dalam pembodohan. Ketika
- mereka menyaksikan saudara-saudara
- mereka yang berasal dari kaum muslimin
- ya
- beragama, [berdehem]
- tapi tidak menghalangi mereka untuk
- mengembangkan ilmu pengetahuan. Dan kita
- saksikan bagaimana kebebasan kemerdekaan
- pada saat itu mereka saksikan depan mata
- mereka. Ini mengilhami lahirnya Renisen
- dimulai dari abad ke-13, 14, 15, 16
- hingga puncaknya pada abad ke-18
- merupakan kebangkitan dari apa? Dari
- bangsa-bangsa di barat.
- Nah, kalau kita kembali kepada masa-masa
- jahiliah sebelum Nabi kita Muhammad
- sallallahu alaihi wa alihi wasallam
- diutus, kita saksikan bagaimana manusia
- terbagi ke dalam kasta-kasta.
- Ada kasta yang mulia di atas, ada kasta
- menengah, ada kasta yang pekerjaan
- mereka hanya mengerjakan
- pekerjaan-pekerjaan kotor, yaitu kaum
- budak.
- Dan perbedaan begitu mencolok mata.
- Tidak mungkin pada saat itu orang
- menyaksikan kaum budak duduk bersama
- tuan mereka, makan bersama-sama.
- Tapi datang Nabi kita Muhammad
- sallallahu alaihi wa alihi wasallam
- membacakan firman Allah di tengah
- mereka. Ya ayyuhanas
- innaqnakum
- minakarin wa'alnakumuban
- waqilau
- inna akromakumallahiq.
- Rasulullah menyeru di tengah-tengah
- mereka menyampaikan firman Allah
- bukan hanya ucapan Rasul tapi firman
- Allah pencipta kita semua. Wahai umat
- manusia sesungguhnya Kami telah
- menciptakan kalian dari pasangan pria
- dan wanita. itu kakek dan nenek kita
- Adam dan Hawa. Kami jadikan kalian
- berbangsa-bangsa,
- bersuku-suku
- dengan tujuan ditarofu bukan untuk
- saling membanggakan diri atau mengangkat
- sebahagian yang lain, merendahkan
- sebahagian yang lain untuk saling
- berkenalan
- agar dapat apa? menumbuhkan kecintaan,
- kebersamaan dalam menjalankan amanat
- besar di atas muka bumi. Lalu Allah
- terangkan kemuliaan bukan dari kekayaan,
- dari kedudukan atau kebesaran-kebesaran
- dunia. Tidak. Inna akramakum
- indallahiqakum.
- Yang termulia di antara kalian adalah
- orang yang paling bertakwa. Kisra
- beranggapan dengan kemegahan istananya
- ketika menyambut utusan kaum muslimin,
- dia akan mampu untuk menteror
- dan membuat minder utusan tersebut. Tapi
- ternyata si utusan dengan penuh
- kebanggaan mengatakan, "Kami bukan
- datang untuk itu yang kamu sebutkan,
- Ayyuhal Malik. Kami datang
- karena diutus oleh Allah untuk
- mengeluarkan manusia dari penyembahan
- terhadap sesama hamba menuju penyembahan
- terhadap Allah.
- dan mengeluarkan manusia dari wawasan
- duniawi yang sempit menuju wawasan dunia
- dan akhirat. Dunia untuk kita beramal,
- akhirat sebagai tempat kita menerima
- balasan. Dan dari kezaliman agama yang
- bermacam-macam yang menganiaya para
- pengikut, yang mengintimidasi mereka,
- yang membully mereka, yang
- mengeksploitasi mereka menuju keadilan
- Islam. Jadi Islam mengajak kepada ajaran
- tauhid.
- Kemudian mentauhidkan kalimah sebagai
- keluarga besar umat manusia dan
- menetapkan landasan dan ukuran mulia itu
- bukan harta atau kedudukan, tapi
- keimanan dan perjuangannya di jalan
- Allah Subhanahu wa taala dan menegakkan
- pilar keadilan,
- persamaan kesetaraan di antara manusia.
- Oleh karena itu, begitu Rasulullah
- diutus, bagaimana Rasul mendidik para
- sahabatnya yang tadinya berasal dari
- kalangan mulia yang bersikap angkuh
- terhadap yang rendah. Begitu mereka
- beriman, ketajaman mereka hilang,
- duri mereka hilang. Berubah menjadi
- orang-orang yang rukuk sujud merendahkan
- di hadapan Allah dan memperlakukan
- sesama saudara mereka, apapun latar
- belakang mereka dengan perlakuan yang
- mulia. Sebalik yang tadinya berasal dari
- kalangan yang rendah, kalangan yang hina
- pada masa jahiliah, Islam memuliakan
- mereka dengan iman. seperti Bilal,
- Salman, Ammar bin Yasir, Yasir,
- Sumayyah, Khabbab bin Arad. Kita lihat
- mereka duduk bersama-sama dan mereka
- diberikan nama gelar ashabu Rasulillah,
- sahabat-sahabat Rasulullah.
- Kemudian mereka bagaimana memanggil
- sesama mereka?
- Mereka di kala memanggil Imam Ali,
- memanggilnya ya ab turab. Karena
- kegemaran beliau berbaring di tanah
- atau memanggilnya, "Ya Abal Hasan karena
- anaknya yang bernama Hasan."
- Begitu juga mereka memanggil Abu Bakar
- dengan panggilannya, "Ya Abu Bakr,
- bagaimana juga kepada Sayidina Umar.
- Mereka tidak memanggilnya dengan
- gelar-gelar yang besar. memanggilnya
- dengan memberikan kuniah.
- Ya Aba Fulan, ya Aba Abdillah, ya Aba
- Muhammad, ya Aba Abdurrahman, ya Aba
- Abdillah. Ya, kita lihat bagaimana
- mereka dipanggil dengan nama-nama ya
- yang tidak membuat saling berjauhan tapi
- mendekatkan hati mereka. Karena
- panggilan kuniah ini panggilan yang amat
- indah.
- Jadi mereka tidak memanggilnya Habib Ali
- atau Sayid Ali ya. atau memanggilnya
- katakan umpamanya ya Habib Hasan atau
- Habib Husein, tapi mereka memanggilnya
- Aba turab, Abal Hasan kemudian memanggil
- Sayidina Husein juga ya Aba Abdillah.
- Panggilan yang begitu hangat mesra
- [berdehem] mendekatkan mereka satu
- dengan baik.
- Kalau dalam bahasa Indonesia ayahnya
- ayahnya Fulan.
- Iya.
- Itu panggilan seperti ini panggilan
- penghormatan dan juga kecintaan.
- H
- menunjukkan kedekatan. Karena panggilan
- kuniah itu panggilan yang mendekatkan
- betul-betul hati satu sama lain. Seorang
- bila dipanggil abahnya fulan
- itu merupakan apa? Hal yang menyentuh
- hatinya.
- Iya. Iya.
- Nah, wanitanya dipanggil dengan kata um.
- Seperti Umm Abdillah. Sayidah Aisyah
- tidak punya anak, tapi punya kemenakan
- yang bernama Abdullah. Maka dipanggil ya
- Umma Abdillah.
- Jadi, betapa indahnya hubungan antara
- sahabat Nabi. Kemudian bagaimana sikap
- mereka di hadapan Nabi. Sahabat-sahabat
- Nabi begitu menghormati Nabi,
- mencintainya. Bahkan mereka berkata, "Bi
- abi wa ummi anta ya Rasulullah. Kami
- rela menebus dirimu dengan ayah ibu
- kami.
- Kalau seorang rela menebus seseorang
- dengan ayah ibunya yang dimuliakan,
- menggambarkan bagaimana kecintaan
- mereka, hormat mereka pada Rasulullah.
- Tapi walaupun mereka begitu hormat
- menjunjung Nabi, tapi sikap mereka di
- hadapan Nabi, sikap seseorang di hadapan
- manusia.
- tidak ruku, tidak sujud di hadapannya,
- tidak juga ngesot, tidak berjalan
- mundur. Bahkan Nabi ketika datang di
- satu kaum, mereka berdiri bersama-sama.
- Nabi mengatakan, "La taquumu kama
- yaquumunasul." Jangan kalian berdiri
- seperti orang ber di hadapan Kisra
- atau di sebagian kalangan di negeri kita
- nih, kalau pemimpin mereka lewat
- beramai-ramai mereka menundukkan kepala
- mereka dalam keadaan rukuk.
- Allah ingin kita semua rukuk sujud di
- hadapan kebesarannya, di hadapan sesama
- kita saling menghormati. Sebagaimana
- Rasul mengatakan, "Wakunu ibadallahi
- ikhwana." Jadilah sebagai hamba-hamba
- Allah yang saling menyayangi, yang
- saling membantu. Innamal mukminuna
- ikhwan. Jadi fenomena yang kita jumpai
- di sebagian pesantren, di sebahagian
- majelis-majelis ya tidak kita jumpai
- pada masa Nabi. Justru kebalikannya
- beliau kedatangannya, kemunculannya
- untuk memproklamirkan kemerdekaan umat
- manusia, mencerdaskan mereka,
- mengingatkan mereka untuk tidak
- mengikuti sesuatu tanpa dasar ilmu.
- Lalu pertanyaannya di sini juga, apakah
- semua pesantren seperti itu? Tidak.
- Pada zaman Wali Songo, pada zaman
- keemasan dulu, berbeda sekali
- orang-orang yang mendapatkan pendidikan
- dari Wali Songo dengan semangat
- keimanan mereka, perjuangan mereka,
- begitu juga akhlak mereka di hadapan
- guru-guru mereka. Mereka menghormati
- guru mereka.
- Mereka menghargai betul-betul peran guru
- mereka dalam memberikan pencerahan. Tapi
- mereka sama sekali tidak melakukan apa?
- Sikap-sikap yang merendahkan bagaikan
- seorang budak di hadapan tuannya sama
- sekali tidak. Dan mereka juga tidak
- memperlakukan
- he
- murid-murid mereka, pengikut mereka
- dengan perlakuan seperti ini.
- Ini justru yang tidak disukai oleh
- masyarakat Jawa pada saat itu yang masih
- apa? Menganut agama Hindu.
- Hm.
- Tradisi ini bukan tradisi yang datang
- dari Islam.
- datangnya
- pembawa Islam termasuk di antaranya
- berdirinya negara Islam di Jawa pertama
- kali yaitu kerajaan Demak di bawah
- pimpinan Raden Fattah. Raden Fath ini
- bukan orang lain. Dia merupakan anak
- dari Raja Brawijaya terakhir, Raja
- Majapahit.
- Dia bukan menggulingkan ayahnya, tapi
- dia berdakwah di tengah-tengah mereka
- memerdekakan umat masyarakat dari
- perbudakan.
- Hingga akhirnya rakyat sampai
- adipati-adipati
- sampai pembesar-pembesar negeri tersebut
- berpihak kepada Fath karena mereka
- merasa apa? Dimuliakan.
- Brawijaya tidak tahan menyaksikan
- keadaan
- para pembesar kerajaannya.
- yang tadinya begitu setia terhadapnya,
- ternyata mulai mereka menunjukkan
- sikapnya.
- Bukan tidak hormat, tapi mereka
- menunjukkan sikap yang betul-betul lain
- dari sebelumnya. Yang tadinya menunduk,
- merendah, rukuk di hadapannya. Tahu-tahu
- setelah mereka beriman ternyata mereka
- berbalik haluan. Hanya rukuk sujud di
- hadapan Allah Subhanahu wa taala. Ini
- yang menarik mereka.
- Akhirnya Brawijaya meninggalkan
- negerinya,
- berangkat menuju ke Jawa Timur, tiba di
- Banyuwangi. Ya, Raden Fatah masih
- mengajak sang ayah dengan baik. Jadi
- bukan menggulingkan kerajaan, tapi
- meneruskan kerajaan tapi dengan apa?
- Manhaj cara hidup yang berbeda.
- Cuma sayang sungguh sayang kisah Wali
- Songo, kisah juga keluarga besar Raden
- Fattah ternyata banyak disimpangkan.
- Sejarah asli ya diangkut oleh Belanda
- menuju Lidan. Sedangkan sejarah opini
- yang dibuat oleh Belanda menggambarkan
- bagaimana para Wali Songo mereka
- melakukan perbuatan-perbuatan biadab,
- merampas istri orang seperti yang mereka
- nisbatkan kepada Sunan Kudus dan
- lain-lainnya. Semua ini sebetulnya
- merupakan sejarah opini yang dibuat oleh
- Belanda. Lalu mereka mengangkut sejarah
- yang asli. Ini yang kita sayangkan
- betul-betul sungguh sayang. Jadi pada
- masa dahulu kala pesantren-pesantren
- itu betul-betul mendidik manusia untuk
- menjadi manusia yang merdeka, mulia,
- tapi tanpa meninggalkan adab di hadapan
- pemimpin mereka, di hadapan kiai-kiai
- mereka, di hadapan juga tokoh-tokoh
- mereka. Adab yang amat indah bukan
- karena kerendahan atau karena rasa
- minder, tapi adab yang betul-betul
- menunjukkan penghormatan.
- Sebagai contoh, Kang Rizal. Saya ini
- bukan jebolan sekolah umum.
- Saya hanya tamat sekolah SD. Setelah itu
- masuk pesantren.
- Pesantren saya kebetulan berada di
- daerah Jawa Barat,
- Sukabumi,
- menuju Sukaraja, kemudian menuju ke
- daerah Cirenghas. Sebelum sampai
- Cirenghas
- namanya Lio, kita masuk ke daerah
- pedalaman. Berada di sebuah lembah
- pesantren sederhana,
- belum ada listrik, masih menggunakan
- semprong. Kalau kita belajar di malam
- hari, hidung kita penuh dengan apa?
- Penuh dengan asap
- yang kita makan sehari-hari. Ikan
- mujair,
- ikan tawes,
- asin.
- Enggak
- di apa ditambak ikan tawes,
- atau kita makan belut. Pada saat kita
- malam hari bisa ngobor belut itu satu
- kotak a sawah kita bisa menjumpai
- puluhan belut masih dalam keadaan alami.
- Kemudian kita sekolah juga di sekolah
- sederhana. Guru-guru kita guru-guru yang
- mulia.
- Di antara guru yang mengajar saya satu
- yang mengajarkan Al-Qur'an
- dan mengajarkan anak-anak.
- Kalau tengah malam mereka bangun malam
- ya memasak untuk santri yang jumlahnya
- cukup banyak
- sambil qiyamulail
- kemudian pagi-pagi ya memimpin anak-anak
- di masjid setelah itu keluar
- mengatur urusan dapur makan juga guru
- yang turun tangan
- kemudian setelah itu anak-anak mandi
- masuk ke sekolah guru-guru yang menawar
- yang yang mengawasi Mereka semua
- sore hari kalau tidak ada kayu untuk
- memasak, dia berangkat ke gunung untuk
- mikul kayu. H
- ini guru yang mengajarkan Quran. Begitu
- juga guru yang banyak berpengaruh
- terhadap saya. Saya di pesantren orang
- tua. Nah, guru ini yang mengajar saya
- yang dipanggil dengan Ustaz Syahruddin
- almarhum. Usianya masih muda. Dia
- membimbing saya kalau dia lagi mengajar
- air matanya berlinang-linang.
- sambil tersedu-sedu.
- Dia juga demikian.
- Kalau malam hari ya bersama temannya
- tadi dia bergadang pukul 12.00 malam
- sudah siap untuk memasak. Bergidir-gidir
- di qiyamulail di samping gidir sambil
- menunggu masakan.
- Dari mulai pagi hingga malam hari
- pekerjaan dia hanya mengurus santri.
- Sedangkan imbalan yang diterima pada
- saat itu hanya Rp1.500.
- untuk beli odol, beli sabun. Kalau makan
- dia bersama istrinya, makan di
- pesantren. Istrinya di bagian dapur
- perempuan yang laki-laki urusan dia.
- Bertahun-tahun kita belajar.
- Sedangkan apa? Sedangkan sebahagian
- santri bisa lebih dari separuh tidak
- membayar karena tidak mampu.
- He.
- Jadi saya punya orang tua keliling ke
- sana kemari untuk mencari dana demi
- menghidupkan santri.
- Dan kita tidak punya apa-apa. Jangankan
- kita punya mobil, tidak punya mobil,
- tidak punya ini, tidak punya itu, dalam
- keadaan sederhana.
- Kita belajar di sana dengan segala
- kesederhanaan menjadi bekal buat kita
- untuk bisa melanjutkan kita ke luar
- negeri, belajar di Alazhar. Ustaz Hamzah
- juga teman sekamar saya di pesantren.
- He.
- Hidup juga dalam kondisi yang amat
- sederhana. Dan pesantren seperti ini
- bukan sedikit, banyak di mana-mana
- tempat kiai-kiai itu betul-betul
- mengabdikan dirinya untuk mengajar
- murid-murid mereka.
- Dulu kalau ada pesantren terima bantuan
- dari pemerintah, ditinggalkan oleh
- muridnya, oleh masyarakatnya.
- Hm.
- Dianggap
- dana bantuan pemerintah najis karena
- bersumber dari sumber yang enggak benar.
- Itu kira-kira pada tahun 0-an.
- Jadi pesantren-pesantren kiai-kiainya
- betul-betul masih makan yang halal,
- bersumber dari yang halal mendidik murid
- mereka hingga menghasilkan orang-orang
- yang luar biasa cemerlang.
- Zuhud dan wara, Ustaz ya.
- Zuhud wara. Oleh karena itu di pesantren
- kita tidak ada bantuan dari pemerintah.
- Bahkan saya punya orang tua juga
- termasuk yang menekankan kebersihan
- makanan pada saat itu. Jadi di
- tempat-tempat majelis-majelisnya
- begitu pula bersama murid-muridnya
- hampir dikatakan tidak ada yang
- berdekatan dengan pemerintah pada saat
- itu.
- Baru mulai bantuan pemerintah masuk ke
- sekolah-sekolah,
- ke pesantren-pesantren.
- mulai kiai-kiainya atau anak-anak
- kiainya yang dulu orang tuanya,
- orang-orang tua yang bersih, anak-anak
- kiainya mulai mencintai dunia, mulai
- mereka memperkaya diri. Makan yang harap
- merusak akhlak mereka.
- Akhirnya mulai hubbud dunia, mulai
- ajaran yang diajarkan oleh orang tua
- mereka, mereka tinggalkan.
- Nah, ini
- merembak di sebagian pesantren. Jadi,
- fenomena yang menyimpang saat ini kita
- jumpai itu fenomena yang terjadi
- semenjak era ya di mana orang-orang
- mulai tidak menjaga kebersihan makanan
- mereka. Saya ingin bercerita ya,
- bagaimana
- ee katakan pesantren-pesantren besar
- yang menghasilkan murid-murid yang
- cemerlang termasuk di antaranya Gontor,
- pesantren yang punya peran yang cukup
- besar.
- menelorkan juga pelajar-pelajar yang
- baik ya. Bukan hanya pelajaran umum,
- mereka bisa melanjutkan juga ke
- sekolah-sekolah umum. Ada satu pesantren
- besar di Palu yang namanya Alkhairat.
- Guru sepu atau guru tua itu sebelum
- meninggal tidak kurang dari 600 sekolah
- dan dia bukan hidup dari apa? Dari dari
- apa? Dari dakwahnya. Tapi dia
- berkeliling naik gerobak masuk ke
- pedalaman-pedalaman
- dari mulai Palu, Poso masuk bahkan
- sampai ke Ternate Tidore Halmahera.
- Dia berdakwah berkeliling berbulan-bulan
- dan murid-muridnya
- yang berhasil luar biasa
- yang meraih gelar PhD ya bukan hanya
- cucu dan anaknya tapi murid-muridnya
- yang belajar ke Mesir, belajar ke Saudi
- Arabia, belajar juga ke Iran, belajar ke
- berbagai macam negara
- murid-muridnya dan diperlakukan dengan
- mulia.
- Dan dia tidak membeda-bedakan
- antara seseorang dengan yang lain. Baik
- itu habibnya, non habibnya, penduduk
- pribuminya, tidak dibeda-bedakan. semua
- punya kesempatan yang sama hingga beliau
- dicintai. Jadi kalau orang berangkat
- menuju Gorontalo,
- Manado, berangkat menuju [berdehem] ke
- Poso,
- di Palu, masuk juga ke wilayah Ternate,
- orang akan jumpai foto guru tua dikenang
- bukan karena kebesaran dunia yang
- dibangun,
- tapi karena pengorbanan dan
- pengabdiannya. Dan perlu diketahui
- kemerdekaan negeri kita ini ya tidak
- lepas dari peran para pejuang yang
- berasal dari pesantren. Tapi pesantren
- dulu memang mendidik mereka untuk
- berjuang berjihad bukan untuk
- mengeksploitasi masyarakat. Nah,
- kesalahan Trans Tuju ini dia membangun
- image opini yang sakit dan tidak sehat
- mengenai pesantren.
- Heeh.
- seharusnya dia
- ketika
- ee berbicara mengenai pesantren yang
- menyimpang ini dia harus menjelaskan
- ini yang negatif yang tidak benar dengan
- bukti-bukti.
- Sedangkan pesantren tidak seluruhnya
- seperti yang ditayangkan oleh Transuju.
- Tapi yang ditayangkan seolah semua
- pesantren seperti itu.
- Merendahkan para kiainya, para
- pejuangnya. Nirboyo terkenal pesantren
- ini didirikan oleh siapa? Oleh Sulaiman
- Basyeban. Ini orang yang punya hubungan
- dengan Wali Songo di atas yang berjuang
- mengabdikan hidupnya dari masa ke masa
- melahirkan murid-murid yang cemerlang.
- Kalau ada penyimpangan dari sebagian
- oknum, jangan Lirbyonya yang diserang.
- Hm.
- Jangan apa? Lirboyonya yang diserang.
- Tapi hendaknya dia memberikan nasihat
- kepada oknumnya. Ya, bahkan kalau dia
- melakukan pelanggaran yang tidak sesuai
- dengan apa? Tuntunan agama, melanggar
- juga hukum, orang tersebut perlu apa?
- Perlu dihukum. Sebagai contoh, ada anak
- kiai melakukan pencabulan.
- Heeh.
- Tapi karena dia anak kiai dibela oleh
- murid-muridnya. Dikatakan bahwa ini
- fitrah. Ya, melindungi dirinya.
- Kalau memang dia benar berbuat seperti
- itu, tidak ada wewenang bagi pesantren,
- bagi murid pesantren atau kiainya untuk
- melindungi orang tersebut. Hukum dalam
- Islam itu bagaikan air. Walaupun
- dalamnya berbeda, permukaannya sama
- seperti yang diumumkan Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam ketika
- menghadapi
- kabilah Bani Makhum meminta agar wanita
- yang mencuri dibebaskan dari hukuman
- mereka akan berikan ganti rugi.
- Rasulullah marah luar biasa. [berdehem]
- Kalian masih belum meninggalkan tradisi
- jahiliah. Kalau orang lemah mencuri,
- kalian hukum seberat-beratnya. Kalau
- orang yang
- terpandang, kalian bebaskan dan
- ringankan hukumannya. Demi yang jiwa,
- aku di tangannya. Kalau putriku Fatimah
- mencuri, aku takkan ragu-ragu untuk
- memotong tangan.
- Putrinya yang suci dan mulia dijadikan
- sebagai perumpamaan. Artinya apa? Dalam
- Islam hukum sama.
- Nah, saya ee kenal pesantren-pesantren
- yang mendidik murid-muridnya dengan
- pendidikan yang baik, bahkan menekankan
- kepada akhlak yang mulia. Murid-muridnya
- di hadapan gurunya beradab, tapi apa?
- Berani untuk bertanya, berani berdialog
- bersama gurunya. He.
- Di antaranya saya jumpai pesantren ee
- Kiai Ihya Ulumuddin yang terdapat di
- mana?
- Malang ya?
- Yang terdapat di Malang. Di Pujon.
- Pujon. Murid-muridnya beradab di hadapan
- gurunya. Mereka memanggil gurunya dengan
- panggilan Abuyah, orang tua. Tapi
- gurunya berikan kesempatan mereka
- berdialog. Tidak ngesot di hadapan guru,
- tidak merendah. Artinya terbuka,
- berdialog dengan apa? Keterbukaan dan
- saling menghargai.
- Ayah mencintai anak-anaknya, anak juga
- memandang gurunya apa? Dengan pandangan
- penuh kecintaan.
- Iya. Jadi jangan sembarangan menjadi
- pesantren, mengecilkan perannya.
- Ketahuilah kemerdekaan bangsa ini,
- kemuliaannya,
- dan perjuangan juga ketika berhadapan
- dengan Portugis dulu, siapa yang
- melakukan
- peran-peran dari para wali? Kan begitu
- juga Pangeran Jayakarta berperang
- berhadapan dengan Belanda.
- Peperangan-peperangan zaman dahulu kalah
- berhadapan dengan Belanda, dengan
- Inggris. Ini peran dari para para
- pejuang yang berasal juga dari
- pesantren.
- Jenderal Sudirman pun konon
- Jenderal Sudirman juga termasuk orang
- pesantren. Jadi ingat jangan kalian
- mengecilkan peran pesantren,
- tapi jangan juga melakukan pembelaan
- terhadap oknum pesantren yang melakukan
- kesalahan akhirnya menodai pesantren itu
- sendiri. Maka kita ingin kiai, ustaz,
- para habaib ini mendidik murid mereka
- untuk menjadi manusia merdeka, yang
- mulia dan mereka hanya rukuk sujud di
- hadapan Allah tapi beradab mulia di
- hadapan guru mereka dan di hadapan orang
- lain. Sampai Nabi mengatakan, "Laisa
- minna man lam yuaqqir kabirana warhamir
- bukan dari kami yang tidak menghormati
- yang tua
- tapi tidak mengasihi yang yang kecil. Di
- hadapan yang tua hormat, di hadapan yang
- kecil penuh kasih sayang. Ini yang kita
- inginkan dari pendidikan pesantren.
- Jangan keluar dari manhaj Nabi dan
- manhaj dari para wali yang dulu berjuang
- di negeri kita. Wallahuam.
- Baik, terima kasih Ustaz atas
- penjelasannya ya mengenai tadi hubungan
- kiai dan santri Ustaz ya.
- Iya.
- Dan dicontohkan oleh para sahabat
- bagaimana memuliakan Nabi. Kemudian
- Ustaz ada dua ee pertanyaan ini dari
- siapa? Ummu Fatimah di Bogor.
- Iya,
- Ustaz. Usia saya sudah tua. Saya tidak
- tahu seberapa siap saya akan menghadapi
- kematian. Dan perubahan apa yang perlu
- saya lakukan hari ini jika saya tahu
- besok adalah hari terakhir saya. Dan
- Ustaz, bagaimana ee cara membantu untuk
- mengelola stres, kecemasan, atau rasa
- takut akan masa depan? Demikian ustaz.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin.
- Allahumma sholli ala Muhammad wa ali
- Muhammad. Allahumma ahdina subur salam
- wa akrijna minadulumatian nur wahdina
- ilaatikal mustaqim.
- Ibu merasa sudah berusia tua.
- Saya juga sama seperti ibu.
- Usia saya ini
- dalam hitungan tahun hijriah sudah 67.
- Nabi hanya berusia 63 tahun. Tapi hidup
- beliau penuh keberkahan, kemuliaan.
- Sedangkan hidup saya ini penuh dengan
- kekurangan, penuh dengan cacat, penuh
- dengan juga kelalaian dan noda.
- Tapi Tuhan kita maha pengasih lagi maha
- penyayang,
- maha pengampun. Selagi kita masih hidup
- dalam kehidupan dunia ini, pintu taubat
- terbuka.
- Allah berfirman, "Qul ya ibadialladzina
- asrofu ala anfusihim la taqnatu
- rahmatin."
- Katakan, "Wahai hamba-hambaku yang
- melampaui batas,
- yang bergelimangan dosa, yang berlumuran
- noda, jangan kalian berputus asa dari
- rahmat Allah." Inallahafun
- jam. Allah berjanji untuk mengampuni
- seluruh dosa. Kalau kalian datang
- memohon ampun, bertobat kembali padanya,
- memperbaiki diri, Allah akan ampuni
- semua dosa. Innahu huwal ghafurur rahim.
- Sungguh Dia Maha Pengampun lagi Maha
- Penyayang.
- Jadi ibu di hari tua, perbanyaklah ibu
- membaca istigfar.
- Nabi satu harinya mengatakan, "Aku
- memohon ampun kepada Allah satu hari
- lebih daripada 70 kali."
- Maksudnya beliau banyak-banyak
- beristigfar. Inni la astagfirullaha fil
- yaumi wa atubu ilaihi aksar min sabina
- mar.
- Banyak-banyak beristigfar.
- Kemudian jadikan zikir tasbih, bertahmid
- ya, bertahlil dan bertakbir sebagai
- zikir yang membasahi lidah. Ibu
- Subhanallah
- alhamdulillah
- lailahaillallah
- Allahu Akbar
- nastagfirullahaladzim
- waubu ilai atau astagfirullahaladzim
- li waliwalidaiya
- walil mukminina wal mukminat atau
- astagfirullahaladzim li waliwalidaiya
- walihli baiti walil mukminina wal
- mukminat. Ku mohon ampun untuk diriku,
- kedua orang tuaku, keluargaku, dan
- seluruh orang-orang yang beriman.
- Berselawat pada Rasul. Kemudian banyak
- juga membaca apa? Lailahaillallah.
- Agar pada saat sakaratul maut karena
- kita sering mengucapkan lailahaillallah,
- ucapan kita terakhir yang keluar dari
- mulut kita adalah ucapan
- lailahaillallah.
- Kemudian kalau Ibu orang yang diberikan
- kemampuan untuk beramal, berinfak,
- berinfaklah untuk kerabat-kerabat yang
- membutuhkan, untuk tetangga-tetangga,
- untuk orang-orang yang susah. Biasakan
- berinfak
- dan mohon pada Allah Subhanahu wa taala
- untuk menghapuskan dosa yang lalu dengan
- istigfar dan kebaikan yang Ibu lakukan.
- Sebagaimana Nabi mengatakan, "Ittaqillah
- haitu ma kunta." Bertakwalah kalian
- kepada Allah di mana pun kalian berada.
- Hasanah. Susul keburukan kamu dengan
- kebaikan yang kamu lakukan. Mumpung ada
- kesempatan. Waliqinasuluqin
- hasan. Gauli manusia dengan cara yang
- baik. Karena akhlak yang mulia itu yang
- paling mendekatkan seorang kepada Allah,
- mendekatkan juga kepada rasulnya.
- Dan jangan pernah kita merasa ujub
- bangga dengan amal kebaikan yang kita
- lakukan. Dan jangan pernah berkecil hati
- dengan dosa yang kita lakukan. Segera
- kita bertobat. Oleh karena itu, kalau
- kita melakukan kesalahan
- sebelum apa? Sebelum kita tidur
- hendaklah kita
- melakukan salat dua rakaat bertobat pada
- Allah dan jadikan Quran sebagai sahabat
- kita. membaca kemudian merenungkan
- maknanya melalui terjemahannya. Ini akan
- menjadi cahaya buat ibu yang
- menghilangkan kecemasan. Adapun
- kecemasan untuk hari depan dunia,
- ibu dalam rahim ketika masih merupakan
- janin, ibu belum mampu bekerja apa-apa.
- Keluar juga
- sebagai bayi, tak berdaya untuk berbuat
- apa-apa. Tapi Allah sudah siapkan
- rezekinya melalui apa? dua susu orang
- tua ibu.
- Kemudian perlahan-lahan ibu tumbuh semua
- dalam asuhan rawatan Allah. Ketika orang
- tua, bapak atau ibu tertidur, siapa yang
- menjaga ibu?
- Semuanya disediakan oleh Allah Subhanahu
- wa taala. Allah telah siapkan bagi
- setiap makhluknya rezekinya. Yang
- penting dia berusaha bekerja sambil dia
- berserah diri kepada Allah. Dan betapa
- nikmatnya kalau kita ini dalam hidup
- sepenuhnya mengandalkan Allah,
- bertawakal padanya. Kita berusaha tapi
- sepenuhnya kita bertawakal pada Allah
- Subhanahu wa taala hingga kita merasa
- setiap kita butuh datang bantuan dari
- Allah. Saya biasakan ibu untuk tidak
- menyimpan.
- Untuk menyimpan bagi hari depan itu
- dalam benak saya tidak ada sama sekali.
- Kalau saya dapat rezeki di samping untuk
- kebutuhan keluarga, saya berbagi dengan
- orang di sekeliling. Terkadang dalam
- kondisi sempit, paspasan, tahu-tahu
- datang pertolongan Allah dari jalan yang
- tak terduga, kita punya hati semakin
- apa? Semakin yakin pada janji Allah,
- penuh dengan rasa syukur padanya. Tapi
- kalau banyak yang di tangan kita, kita
- mengandalkan simpanan kita bukan
- bergantung pada rahmat Allah Subhanahu
- wa taala. Terkadang uang yang kita
- miliki berlebihan menjadi bahan bakar
- syahwat kita. mau ke sana, mau ke sini,
- mau ini, mau itu. Akhirnya kita banyak
- menghabiskan waktu untuk mengikuti
- angan-angan dan hawa nafsu kita. Jadi,
- [mendengus] ibu tidak perlu berkecil
- hati soal rezeki, soal hari depan. Tapi
- yang Ibu mesti persiapkan
- saat kita kembali pada Allah dengan
- penuh harap, tapi kita beramal, bekerja
- dengan sungguh-sungguh mengharapkan rida
- Allah. Jangan kita sepelekan bekal kita
- untuk hari akhir. Adapun dunia kita,
- kalau kita lari dunia akan ikut di
- belakang kita
- sampai apa? Berakhirnya hidup kita baru
- dunia akan berhenti. Kita berpindah
- menuju kehidupan yang lain akan
- mempertanggungjawabkan amal kita di
- hadapan Maliki yaumiddin. Kalau kita di
- dunia katakan tidak mendapatkan bekal
- hidup kita, akhirnya cuma binasa.
- Tapi di akhirat
- tidak akan ada akhir lagi. Kalau di
- dunia kita kehabisan bekal, masih ada
- orang yang mau menolong kita. Tapi kalau
- di akhirat, siapa yang akan membagi
- amalnya untuk kita? Jangankan teman,
- orang tua kita, bahkan anak kita di hari
- akhir nanti apa? Mereka akan berlepas
- tangan melarikan diri. Masing-masing
- mengatakan, "Saya sibuk dengan urusan
- saya." Yaul mar min akihi wa ummihi wa
- abhi wasibatihi
- likulhum yaumidin.
- Jadi, Ibu, mari bersama-sama di hari tua
- kita persiapkan bekal kita untuk
- menghadap ke hadapan Allah. Jaga
- pembicaraan kita, pandangan kita,
- pendengaran kita. banyak-banyak
- beristigfar, berselawat kepada Nabi.
- Jangan lupa berselawat kepada Nabi.
- Jadi, sehabis beristigfar atau sebelum
- beristigfar, kita berselawat pada
- Rasulullah dan selawat ini akan
- menerangi hati kita. Karena setiap
- selawat yang kita baca akan membawa apa?
- Akan membawa kita untuk menerima 10
- selawat dari Allah. Begitu juga 10
- selawat dari malaikat yang akan
- menerangi hati kita mengeluarkan dari
- kegelapan.
- minulumati. Allah yang berselawat untuk
- kalian. Senantiasa berselawat.
- Begitu juga malaikatnya untuk
- mengeluarkan kalian dari kegelapan yang
- bermacam-macam menuju kehidupan yang
- terang-menerang. Jadi begitu kita
- berselawat satu kali untuk Rasulullah
- dan keluarganya, Allah akan memberikan
- kita selawat 10 kali untuk kita dan
- keluarga kita. Begitu juga selawat dari
- malaikat. Maka orang yang beriman
- sebetulnya dalam seluruh perjalanan
- hidupnya bila mengikuti petunjuk Allah
- mereka akan beruntung dan bahagia. Dan
- jangan bersedih atas sesuatu yang lalu.
- Jangan juga terbawa oleh angan-angan
- melupakan nikmat yang Allah berikan
- kepada kita. Banyak-banyaklah bersyukur
- kepadanya. Wallahuam.
- Baik, Ustaz. Nampaknya sudah e di akhir
- acara, Ustaz. Baik, mungkin terakhir,
- Ustaz ada kesimpulan dari bahasan atau
- jawaban-jawaban ini dan juga mungkin
- nasihat untuk kita semua. Monggo, Ustaz.
- Rasulullah banyak menghadapi cobaan
- yang bermacam-macam. Sebagaimana yang
- Anda ketahui melalui sejarah,
- beliau berdakwah di tengah-tengah mereka
- mengajar dengan penuh kesabaran.
- Terkadang bukan hanya ditinggalkan,
- bahkan mereka melakukan berbagai macam
- tindakan yang betul-betul menyedihkan
- Nabi. Allah katakan, "Fain tawallau
- faqul
- hasbiallah la ilahailla hu alaihi
- tawakaltu wahua rbul arsyil adzim."
- Kalau mereka tidak menghiraukan engkau
- berpaling darimu, katakan hasbiallah
- cukup bagiku Allah. Seandai seluruh
- manusia meninggalkan aku, Allah
- Subhanahu wa taala cukup bagiku.
- Tiada Tuhan selain daripadanya.
- Alaihi tawakaltu hanya kepadanya aku
- bertawakal. Wahua rabbul arsyil adzim.
- Dan dialah penguasa Arasy yang maha
- agung. Kalau kita bersama sang penguasa
- Arasy yang memerintah di langit dan di
- bumi, apalagi yang kurang buat kita? Apa
- yang kita takuti? Oleh karena itu,
- banyak-banyak kita membaca hasbiallahu
- la ilahaillahu alaihi tawakaltu wahua
- rabbul arsyil adim. Insyaallah dengan
- ini yang selalu menjadi bekal kita
- resapi. Kita akan terhindar dari ancaman
- yang bermacam-macam, akan terhindar dari
- kecemasan, akan menjadikan kita orang
- yang paling kaya, paling kuat karena
- kita bersama Allah sang penguasa aras.
- Subhanakallahumma wabihamdik ashadu alla
- ilahailla anta astagfiruka [berdehem]
- wa atubu ilaik wal afu minkum.
- Wassalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Demikianlah ikhwan akhwat
- renungan di bawah naungan Al-Qur'an
- bersama guru kita Ustaz Husein tadi
- membahas beberapa hal ee
- pertanyaan-pertanyaan dari Ikhwan Ah.
- Mohon maaf seperti biasa yang belum
- sempat kita buka pertanyaannya dari Ibu
- Aminah. Alhamdulillah menyimak ya.
- Kemudian dari Pak Roni, kemudian dari
- Hamba Allah 081295
- sekian-sekian juga mengirimkan WA-nya
- ikhwan. Semoga kita semua dapat memetik
- ee pelajaran dan ibrah dari
- penjelasan-penjelasan dari Ustaz Husein.
- Insyaallah kita bertemu kembali di hari
- Senin insyaallah secara live Ustaz ya.
- Kita akhiri dengan baca doa majelis.
- Saya Rizalq dan juga teman-teman yang
- bertugas ada Bang dan juga Ustaz Alri.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.