Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillahiabbil alamin wabihi
- nastain waa umurid dunya waddin wasalatu
- wasalamu ala asrofil iyaai wal mursalin
- waa alihi wasohbihi ajmain. Ashadu alla
- ilahaillallah wa ashadu anna muhammadan
- abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli
- wasallim wabarik ala nabina muhammadin
- wa ala alihi wasohbihi ajmain. Qallahu
- taala fil quranil karim.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Qolu subhanaka la ilma lana illa ma
- alamtana.
- Ya ayyuhalladina amanu sh alaihi
- wasallimuaslim.
- Sadaqallahulim. Alhamdulillahiabbil
- alamin. Masih dipancarkan dari jalan
- Masjid Silaturahim nomor 36 Cibubur
- Bekasi. Inilah radio silaturahim dan
- Rasil TV untuk Islam yang satu. Ikhwan
- akhwat yang muliakan Allah Subhanahu wa
- taala. Bagaimana kabar Anda di Jumat
- sore ini? Semoga selalu dalam keadaan
- sehat walafiat. Senang sekali saya Fauzi
- Ridanul Ha ditemani oleh Neza dan juga
- Yusuf Subangkit dapat kembali menemani
- ikhwan akhwat dalam program tausiah sore
- edisi Jumat 17 Zulhijah 1446
- Hijriah dan juga bertepatan dengan
- tanggal 13 Juni 2025 bersama guru kita
- almukaram Ustaz Ahmad Shoh.
- Alhamdulillah beliau sudah hadir bersama
- kita. Kita sapa guru kita terlebih
- dahulu. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Kabarnya sehat, Ustaz?
- Alhamdulillah sehat walafiat atas doa
- dari semuanya. Alhamdulillah.
- Alhamdulillah. Semoga kesehatan juga
- dirasakan oleh ikhwan akhwat di mana pun
- Anda berada
- dalam keadaan sehat walafiat. Baik
- ikhwan akhwat. Semoga kajian ini dapat
- menemani ikhwan akhwat di segala
- aktivitas tentunya di Jumat sore.
- Tentunya Jumat sore adalah waktu
- mustajab untuk berdoa sebelum menjelang
- magrib.
- di mana pun Anda berada yang masih dalam
- perjalanan, yang sudah sampai di rumah,
- semoga Allah bisa semoga bisa
- mendengarkan radio silaturahim dan
- siaran setelah live bersama Ustaz Ahmad
- Saleh. Bagi Anda yang ingin
- berpartisipasi dapat mengirimkan di
- WhatsApp 0811999720.
- Dan bagi Anda yang ingin berinteraksi
- langsung dengan ustaz dapat menghubungi
- di 0218451512.
- Mari kita persilakan kepada Ustaz untuk
- menyampaikan ilmu mm ilmu tentang
- insyaallah pada Jumat kali ini Ustaz
- akan membahas tentang kemuliaan dan
- keutamaan para wali Allah. Kajian kitab
- syarah Riyadus Shihin karya Syekh Dib
- Albukha. Mari kita simak dan dengarkan
- ilmu yang akan disampaikan oleh Ustaz
- tentang kemuliaan dan keutamaan para
- wali Allah. Tafadul Ustaz.
- Alhamdulillahi
- hamdan katsiran thyiban mubarokan fih
- kama yuhibuna waard. Ashadu alla
- ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa
- ashadu anna muhammadan abduhu wa
- rasuluhu wa innahu la nabiya ba'da.
- Allahumma sholli wasallim wabarik ala
- nabiina Muhammadin waa alihi wa ashabihi
- waman tabiahum bisihsanin yaumilqiamah.
- Amma ba'.
- Ikhwan dan akhwat pendengar radio
- silaturahim serta pemirsa Rasil Visual
- di mana pun berada.
- Alhamdulillah, segala puji bagi Allah
- yang masih mempertemukan kita dalam
- upaya mengkaji taujih-taujih,
- arahan-arahan dari Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam melalui kitab Syarhu
- Riyadus Shihin, syarah Riyadus Shihin
- wal hadir yakni e wanabu
- akan membahas atau sanataqallamu akan
- berbicara ee tentang kemuliaan dan
- keutamaan para wali. waliullah, para
- wali Allah.
- Di dalam ee mukadimah bab ini, Imam
- an-Nawawi mengutip beberapa ayat
- Al-Qur'an. Di antaranya adalah surah
- Yunus ayat 62 sampai 64 yang ee kita
- baca. Ala
- inna
- auliyaallahi
- la khaufun alaihim.
- La khaufun alaihim wala hum yahzanun.
- Alladzina amanu waanu yattaquun.
- Wanu yattaquuna lahumul busro fil
- hayatid dunya wafil akhirah.
- Laab la tabdila likalimatillah
- dzalika huwal fauzul adzim.
- Ala ingatlah inna auliya Allah.
- Sesungguhnya
- wali-wali Allah saya ee terjemahkannya
- terjemahkan masih dalam bahasa Arab ya,
- wali-wali Allah. Ah, seringki
- diterjemahkan juga penolong-penolong
- Allah. Nah, tetapi nanti ada
- penjelasannya di ayat berikutnya. Maka
- saya menggunakan ingatlah atau ee ee ya
- ingatlah inna auliya Allah. Sesungguhnya
- wali-wali Allah itu la khaufun alaihim.
- Mereka tidaklah takut. Walahum yahzanun.
- Dan mereka tidaklah bersedih hati.
- Siapa? Nah, ini yang disebut aulia
- Allah. Alladzina amanu. Mereka adalah
- orang-orang yang telah beriman. Saya
- gunakan amanu menjadi telah beriman
- karena ada amanu, ada yukminun gitu.
- Amanu yukminu. Nah, amanu telah beriman.
- Wu dan adalah mereka yattaquun
- senantiasa bertakwa.
- Jadi iman dan takwa. Nah, maka dia wajar
- dapat gelar apa? Waliullah atau
- auliyaullah. Min auliyaillah.
- Bagian dari wali-wali Allah. Lahumul
- busro. Bagi mereka dapat kabar gembira
- fil hayati dunia. dalam tentang
- kehidupan dunia ini. Dalam kehidupan
- dunia ini wil akhirah. Begitu juga di
- akhirat la tabdila likalimatillah. Tidak
- ada badal, tidak ada pengganti, tidak
- ada perubahan. Likalimatillah
- bagi kalimat-kalimat Allah. A
- kalimatillah bimakna wa'd. Bisa dipahami
- bahwa kalimatillah itu adalah
- janji-janji Allah gitu. Ah, ini
- kalimatnya bisa janji-janji Allah, bisa
- ketetapan-ketetapan Allah. Tetapi karena
- konteksnya dengan waliullah
- laufun alim walahum yanzanun. Kenapa dia
- tidak takut ya, tidak bersedih hati
- karena yakin betul kepada janji Allah.
- Baik janji Allah di dunia maupun janji
- Allah di akhirat. Maka di sini
- dinyatakan la tabdila likalimatilak
- likalimat. Maka pengertiannya bisa
- dimaknai janji-janji Allah.
- Tidak ada keberubahan.
- Senantiasa Allah penuhi janjinya gitu.
- Dalika hual fauzul adzim. Yang demikian
- itu adalah dia alfa kemenangan al-adzim
- yang agung. Nah, jadi waliullah itu ciri
- utamanya iman dengan penjabarannya dan
- bertakwa dengan penjabarannya. Kalau
- disimpulkan cuma dua syarat jadi
- waliullah itu beriman dan bertakwa.
- Hanya ah uraiannya hal yang mengikutinya
- itu yang kemudian. Tetapi Allah
- masyaallah menarik sekali. Kenapa Allah
- cuma nyebutkan dua? Padahal maknanya
- banyak. Bertahap tadaruj.
- agak di oh ciri waliall itu dua nanti
- kemudian yang beriman itu apa mulai dari
- Albaqarah mulai dari e alfatihah sampai
- annas cari ciri-ciri orang beriman eh
- banyak juga ternyata
- orang yang bertakwa oh bertakwa awalnya
- yattaquun tapi setelah ditu banyak juga
- tetapi itu semua meskipun banyak sulit
- kita katakan tapi bukan berarti tidak
- mungkin tercapai bisa saja tercapai
- pertama tadarus terus bertahap Allah
- mensyariatkannya tidak sekaligus ee agar
- membentuk karakter dulu, menjadi
- kebiasaan dulu, istiqamah baru kemudian
- ciri yang lain diturunkan.
- Nah, begitu. Jadi, makanya kemudian
- hikmah
- diturunkannya Al-Qur'an dengan dua
- metode.
- Ee pertama metode mubasyaratan langsung
- min lauhil mahfid ila samaid dunya.
- ila baitil izzah mubasyaratan langsung
- tuh
- wakin akan tetapi minasamaid dunya
- langit dunia diturunkan kepada nabi
- muhammadnya bertahap sesuai dengan
- khitabnya sesuai dengan kondisi Nabi
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam
- gitu loh ya. Nah, kenapa bertahap tadi?
- Salah satu di antaranya agar mendapatkan
- kekokohan dalam pemahaman dan
- pengamalan.
- Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam pun
- mengajarkannya enggak banyak-banyak
- sekali pertemuan paling paling banyak
- itu 10 ayat.
- Dan itu banyak riwayat yang menyatakan
- seperti itu di antara para sahabat gitu
- loh sampai kenapa 10 ayat? Supaya
- gampang dihafalnya.
- gampang dipahaminya,
- gampang diaplikasikannya.
- Jika ini semua sudah diaplikasikan baru
- ditambah lagi.
- Jadi enggak numpuk ilmu.
- Oh, ilmu gak apa yang perlu diamalkan
- dicek, diamalkan dulu. Lanjut lagi. Tapi
- rata-rata para sahabat karena masyaallah
- pemahaman para sahabat itu apa yang
- datang dari Nabi? Kalau itu perintah,
- mau hukumnya wajib maupun sunah
- diamalkan.
- Itu karakter para sahabat.
- Kalau Nabi melarang, Nabi melarang mau
- hukumnya haram maupun makruh
- ditinggalkan.
- Zaman sekarang nanya dulu ini hukumnya
- apa? Wajib apa? Sunah ini perintah.
- [tertawa]
- Oh, ini sunah. Ah, kalau sunah mah atuh
- enggak apa-apa kan enggak diamalkan
- kayak gitu. Nah, maka ya namanya di satu
- sisi kita bersyukur dengan pemahaman
- yang diukan, ditemukan para ulama,
- tapi di sisi lain kadang kemerosotan ee
- apa tamasuknya, berpegang teguhnya
- kepada Islam menjadi ee mulai apa
- namanya ya? Mulai longgar.
- Nah, bahwa kemudian berpegang teguh pada
- akidah. Jelas di zaman Nabi, zaman
- sahabat, di zaman tabiin itu kokoh.
- Tapi nanti setelah mulai ushul fikih
- ditemukan, diteliti, gitu kan, maka di
- satu sisi sekali lagi kita bersyukur
- ditemukannya itu, tapi di sisi lain
- nanti orang milih.
- H
- kok ada lima hukum jadinya kan. Kalau
- dulu di zaman Nabi perintah laksanakan,
- larangan jauhi cuma itu.
- Tapi kemudian mulai banyak
- penelitian-penelitian terhadap tidak apa
- tidak semuanya ayat memerintah dan tidak
- semua ayat melarang.
- Kan gitu. ee kaidah misalnya mengatakan
- dalam ee salah satu ayatnya Nabi
- mengatakan, "Ambillah
- yang aku berikan dan hindarilah yang
- tidak aku berikan atau lakukan apa yang
- diperintahkan dan jauhi apa yang
- dilarang." Nah, sekarang ada pernyataan
- baik di Quran, di sunah bukan larangan,
- bukan juga perintah
- apa? Khabari khabar.
- Heeh. Mulailah muncul tuh ilmu tafsir. E
- kan tafsir di zaman Nabi itu
- yaitu Quran sendiri di zaman Nabi itu ee
- ya ketika Nabi masih hidup itu ya Quran
- dan Nabi gitu ya. Nah, nanti di zaman
- sahabat ee apa eh Quran Nabi kadang
- kemudian para sahabat juga melihat ee
- mereka berijtihad sekemampuannya kalau
- tidak nanya kepada Nabi berijtihad
- sekemampuannya dan mm dari ahli kitab
- Nasrani Yahudi dan Nasrani itu sebagai
- apa namanya? pembanding. Nah, namun
- kemudian di zaman para sahabat Quran itu
- sebenarnya tafsir Quran itu Quran itu
- sendiri hadis Nabi. Karena Nabi sudah
- wafat maka sekarang bukan lagi Nabi,
- tapi hadisnya ya sunahnya. Ketiga ee apa
- namanya? Ijtihad dan bahasa Arab serta
- apa tadi? Ee bertanya kepada apa?
- Ahliahli kitab. Karena hadisu bani
- israila wala haraja. Tidak mengapa kamu
- membicarakan membahas tentang ahli kitab
- gitu ya. Yang penting la yukadzibun
- la yukadzibuhu wala yusoddiqu. Jangan
- kamu dustakan, jangan kamu
- percaya.
- Heeh. Kamu benarkan. Kalau tidak tidak
- kalau analisanya tidak sejalan dengan
- Quran atau tidak bertentangan dengan
- Quran. Kalau menurut analisa
- bertentangan dengan Quran, jauhi.
- Kalau analisanya terhadap apa yang
- datang dari ahli kitab itu sejalan
- dengan Quran, boleh diambil. Nah, tapi
- Nabi mengatakan untuk menetralisir
- ee karena pengetahuan para sahabat itu
- berbeda.
- Jadi jangan dianggap pengetahuan para
- sahabat itu sama, beda, gitu. Nah, maka
- Nabi mengatakan eh haditsu bani israila
- wama haraja atau wala haraja.
- Hadisu ceritakanlah tentang Bani Israil
- walahar dan tidak apa-apa. Ada yang
- menyatakan hadditsu itu ceritakan.
- Haddisu juga bercakap-cakaplah
- gitu loh. Menarik sekali dalam [tertawa]
- kajian-kajian itu ya. Tapi yang jelas
- tetap kembalinya kepada utamanya kepada
- Quran dan Asunah. Ketika Quran dan
- Asunah belum ditemukan penjelasan
- terhadap beberapa ayat. Nah, ini
- menunjukkan bahwa para sahabat perlu
- tafsir ya. Jangan menyangka bahwa para
- sahabat kemudian ngerti karena ngerti
- bahasa Arab. Enggak juga.
- Umar sendiri pernah pernah bertanya
- terhadap ayat Quran ya apa ini maksudnya
- ya gitu loh ya sahabat yang lain juga
- sama itu ya maka karena ada belakangan
- kita ketahui ternyata di Quran itu ada
- ayat mujmal
- dan ada ayat bayan atau mubayyin ya ada
- ayat yang menjelaskan, ada ayat yang
- global umum. Nah, ini mereka kadang
- nanya ke Nabi untuk penjelasannya gitu.
- Nah, oke kembali ya.
- Sementara para waliullah
- itu dengan pemahaman yang diterimanya
- ya yang akidahnya mengakibatkan kokoh.
- Sekali lagi akidahnya kokoh. Jadi sekali
- lagi karakter apalagi di karakter para
- sahabat dengan karakter pasca tabiin itu
- ee ada beberapa perbedaan ya. Karakter
- para sahabat itu seakan-akan
- syariat apapun seakan-akan seperti
- akidah.
- Makanya bawa mimbar ke lapangan
- ya di waktu Idul Fitri atau Idul Adha
- ributnya minta ampun.
- Eh ini enggak pernah dilakukan Nabi ini.
- Padahal cuma apa? Mimbar.
- Pertanyaannya apa pengaruhnya sih
- mimbar dibawa ke lapangan dengan mimbar
- tidak dipakai di masjid gitu? Apa
- apa pengaruhnya [tertawa] gitu?
- Tidak ada pengaruh.
- Nah, tapi kemudian para sahabat itu
- karena Nabi tidak pernah melakukan
- dianggap kalau kita lakukan adalah
- penyimpangan.
- Maka ini karakter ya karakter pemahaman
- para sahabat. Nah, maka seakan-akan
- sekali lagi seakan-akan
- di kalangan para sahabat sekaligus e apa
- saya jelaskan juga tidak semua sahabat
- ya tidak semua sahabat hanya ee
- aglabuhum
- aglab itu aksaruhum kebanyakan mereka
- memahami syariat itu seperti memahami
- akidah
- tuh ya orang baca doa qunut saja
- diperdebatkannya minta ampun
- H
- bawa apa namanya? Mimbar ke lapangan
- diperdebatkannya minta ampun. Ha ah
- sahabah thirrus sahabah. Itu periode
- sahabat memang begitu
- gitu ya. Nah makanya juga kemudian tidak
- dikenal salat tarawih bakda isya gitu
- gitu ya. Nabi kemudian Umar. Nah saya
- maksudkan tidak semua sahabat itu ada
- sosok-sosok seperti Abu Bakar, seperti
- Umar. seperti Ali bin Abi Thalib yang
- out of the box. Out of apa? Out of the
- box itu ya keluar dari kebiasaan dari
- mainstream pemahaman.
- Kenapa? Karena mereka menemukan baik
- dalalah maupun ilat maupun hikam,
- hukum-hukum hikmah-hikmah.
- Dalalah itu adalah kajian terhadap nas,
- terhadap teks yang seperti saya sering
- contohkan. Nah, itu Umar. Ah,
- sesungguhnya
- ee sesungguhnya pemahaman itu tidak
- dicontohkan oleh Umar. Sesungguhnya
- peristiwa apa namanya ee salat asar di
- di ee Bani Quraidah
- itu menjadi cikalbakal pemahaman
- kontekstual gitu. Oke. Baik. Jadi,
- makanya memahami Quran itu aduh
- masyaallah. Pokoknya siapapun yang
- menafsirkan semuanya jika merujuknya
- kepada Quran lagi, merujuk lagi kepada
- sunah nah benar gitu loh. Sehingga kata
- Ali bin Abi Thalib, tidak mengapa Quran
- itu ditafsirkan yang penting menuju
- ketakwaan.
- Kalau ditafsirkannya
- mengutip riwayat-riwayat yang sahih,
- tapi dimaksudkan untuk melenceng dari
- ketakwaan, berarti mardud. Gitu
- kesimpulannya.
- Jadi, oh kalau begitu seakan-akan
- seakan-akan siapapun boleh menafsirkan
- sekali lagi ini kalimat ininya dulu
- selama tadi apa? Menuju kepada
- ketakwaan. Namun para ulama tetap
- berhati-hati jangan sampai gegabah.
- Dibuatlah aturan-aturan penafsir itu
- harus begini begini gitulah. Paling
- tidak memahami nahwu soro bahasa Arab,
- balagah, badi, bayan, mantik.
- Masyaallah.
- Ah, masya. Oke. Baik, gitu ya. Nah, di
- sini juga ada analisa alladzina amanu.
- Kenapa tidak? Alladzina yukminu.
- Alladzina yukminuna
- yattaquun gitu misalnya. Ini mesti ada
- tafsirannya beda. Alladzina amanu dengan
- alladzina yukminu beda meskipun bahasa
- kita menterjemahkannya yaitu orang-orang
- yang beriman. Mesti beda maksudnya. Ya,
- satu menggunakan fi'il madhi, yang satu
- menggunakan fi'il mud mudhori gitu loh.
- Oke, ya. Terlepas dari tafsirnya
- nantilah kajian tafsir itu gitu.
- [tertawa]
- Masyaallah. La haula wala quwwata illa
- billahim. Heeh.
- Kemudian di dalam surat Maryam ayat 2526
- ilaika
- rutban jani
- fauli wasrobi dan seterusnya.
- Wahuzzi. Dan goyangkanlah ilaika
- pangkal pohon kurma itu ke arahmu.
- Niscaya pohon itu akan menggugurkan buah
- kurma yang masak kepadamu.
- Maka makan, minum, dan bersenang hatilah
- engkau. Ah, ini ketika kita memahami
- apa?
- memahami teks. Berarti Maryam disuruh
- mengapakan menggoyangkan pangkal pohon
- kurma gitu ya.
- Ya. Niscaya pohon itu akan menggugurkan
- buah kurma yang masuk ke yang masak
- kepadamu.
- Maka makan, minum, dan bersenang hatilah
- kalian. Itu kalau memahami ini memahami
- teks.
- Iya,
- teks itu begitu.
- Tapi kalau memahaminya di luar tek ini
- bisa menarik lagi. Maksudnya di luar
- teks itu
- tetap berpegang kepada teks ya,
- berisyaratnya kepada tek tapi
- pemahamannya konteks
- gitu loh. Seperti seperti janganlah
- kalian salat salah seorang salat asar
- kecuali di Bani Quraidah. Kan jelas tuh
- teksnya.
- Jadi dilarang salat asar kecuali di Bani
- Quraidah. Tapi ada yang memahami bukan
- begitu.
- [tertawa]
- Maksudnya Nabi menyuruh kita bersegera
- pergi berangkat.
- Adapun nanti waktu asar sudah mau habis
- ya salat aja di jalan. Kalau pun belum
- sampai ke Bani Qura Quraidah. Tuh pemnya
- begitu. Begitu juga Quran. Quran itu
- bisa dipahami dengan makna qorib, makna
- dekat, tapi juga bisa dimaknai makna
- baid.
- Makanya saya ah ya udah enggak usah
- ribut lah.
- Anda tafsirnya begini tafsir siapa?
- Pakai udah Anda tafsir siapa? Tafsir
- saya sendiri berdasarkan pakai kan
- begitu. Yang penting tadi mengabdi
- kepada Allah dengan benar gitu loh.
- Selama dipahami apa? Ketakwaan laisa
- hunaka musykilah.
- Masyaallah. La haula wala quwwata illa
- billah. Nah, jadi pertama tafsir itu kan
- ada yang pendekatan apa namanya bahasa
- language approach, pendekatan bahasa
- yaitu ditafsir di awal-awal itu misalnya
- dzalika ae hadza
- dalalikal kitabu itulah yang dimaksud
- itu adalah ini. Nah, itu apa namanya?
- Itu tafsir pendekatan e apa namanya?
- Language approach,
- pendekatan apa? Bahasa.
- Nanti kemudian ada sociosiological atau
- sociosiologi approach, pendekatan
- sosiologi beda lagi
- falasifah atau eh filosofi
- approach, pendekatan filsafat.
- B lagi cara ih masyaallah maka wajar
- pakar apapun masuk Islam
- pas pakar sosiologi baca ayat masuk
- Islam oh kok ini Muhammad kok bisa tahu
- ya begini ilmu sosiologi
- ada kedokteran
- dia baca di rumah sakit ada ayat yang
- dimuat tentang ee tiga fase kegelapan
- itu. Terus si dokter tadi, dokter kafir
- saya sebut dokter kafir atau dokter
- nonmuslim. Nanya ini dari mana ini? Oh,
- tuan itu dari Quran. Quran
- bisa enggak saya dapat Quran? Bisa. Tuan
- pergi aja ke toko, beli aja Quran sama
- transitnya English translate atau
- ArabicAbik. Oh, ada ya? Ada [tertawa]
- mau beli ternyata benar ketubuh masuk
- Islam. dokter itu pekat psikologi
- misalnya
- ee apa namanya
- ee apa
- e enggak pasar apa e pakar psikologi itu
- eh B
- sama equal behavior equal gitu kan eh
- konstanta faktor faktor kali environment
- P
- dia bilang dari mana ini gitu. Apa
- namanya e eh eh behavior. Behavior itu
- berarti apa? Kebiasaan.
- Kebiasaan
- atau pengertian kita akhlak itu
- perbandingan terbalik antara ee faktor
- kali environment lingkungan sama
- personality.
- Karena hadis mengatakan
- ee apa namanya
- ee apa itu yang ee Yahudi e Nasrani.
- Nah, ee innama ya e
- innama yuladu alal ah astagfirullah ya
- apa itu maudin
- kullu mauludin ya dalam satu riwayat itu
- kullu mauludin yuladu alal fitroti
- fawahu yuhaiunironi
- yumajisani
- kata pakar fisiologi ini Muhammad tahu
- dari mana
- bahwa kebiasaan seseorang itu
- dipengaruhi oleh lingkungan
- Dan Muhammad menyebut lingkungan
- terdekat yaitu ibu bapak. Pa abawahu
- yuhawidanihi yunasironi a yubajisanihi.
- Kami di psikologi itu mengkaji lama
- mencari rumusan itu. Eh kok Muhammad ini
- sudah [tertawa]
- gitu loh. Maka orang pakar psikologi
- masuk Islam tanpa didakwahi gitu ya.
- Demikianlah hidayah. Oke kembali kepada
- persoalannya. Jadi pengertiannya ya saya
- mengambil pemahaman dekat saja ya,
- tafsiran dekat. Jadi goyangkanlah
- pangkal pohon kurma itu ke arahmu,
- niscaya pohon itu akan menggugurkan buah
- kurma yang masak kepadamu. Maka makan,
- minum, dan bersenang hatilah engkau.
- Gitu ya. Dan lagi ditambahkan lagi oleh
- ee Syekh siapa?
- oleh Imam an-Nawawi itu dalam surah
- Al-Imran ayat 37 dan Al-Kahfi ayat 16
- sampai 17 ya yang apa namanya ee seperti
- begini.
- Zakaria kan ee setiap kali Zakaria masuk
- menemuinya maksudnya menemui siapa?
- Menemui Maryam di mihrab. Mihrab itu
- kamar khusus ibadah. Itu menurut ee ee
- pemahaman mihrab itu bisa memang ada
- kamar khusus.
- Kamar khusus tapi mihrab juga bisa
- bermakna masjid itu sendiri. Masjid itu
- bisa disebut mihrab gitu ya. Itu di
- zaman Nabi Sulaiman itu ya maharib
- Sulaiman. Bahkan di maknai maharib itu
- adalah istana.
- Maharib itu zaman dari mihrab
- gitu. Jadi bisa dimaknai di zaman Nabi
- Sulaiman sudah ada masjid. Bisa juga
- begitu pemahamannya. [tertawa]
- Iya gitu loh. Nah jadi para nabi itu
- meskipun Nabi Sulaiman itu apa namanya?
- Punya kerajaan ya ini antara pemahaman
- tafsir dengan pemahaman ee historical
- story atau sejarah.
- Ah bukan sejarah ya. Ya, ya story lah.
- Tetapi kan sejarahnya ee
- perlu apa? Valid validasi ya kan. Oke.
- Baik. Nabi Sulaiman seorang raja. Tentu
- gambarannya kalau raja punya istana.
- Nabi Muhammad juga raja diraja.
- Nah, betul enggak? Betul.
- Raja diraja kalau kita mau pahami.
- Meskipun tidak mengatakan bahwa nabi itu
- raja, tetapi mihrabnya, maharibnya,
- istananya apa? Masjid.
- Tuh, gitu. Jadi pemahaman-pemahaman
- yang namanya juga distorsi, pemahaman
- itu bisa
- ya bisa istana. Memang fakta ee faktanya
- istana gitu. Tapi bisa dimaknai juga
- bahwa yang dimaksud itu bukan istana,
- tapi masjid. Karena para nabi tidak
- mungkin menghiasi dunia,
- tidak mungkin dia membangun istana lebih
- megah dibanding masjid.
- Kan di makanya di ajaran di ajaran umat
- Nabi Muhammad paling tidak itu ee tidak
- boleh itu masjidnya lebih buruk
- dibanding rumah-rumahnya
- tuh. Jadi masjidnya harus yang terbagus.
- Di sisi lain akhir zaman itu masjid itu
- akan megah-megah tapi kosong dari
- hidayah. Tuh. [tertawa]
- Ini intinya apa? Intinya pertama masjid
- harus diperhatikan, harus dirawat, harus
- diperbagus dan harus diisi dan
- dimakmurkan. Itu intinya.
- Nabi mengingatkan di akhir zaman itu
- akan banyak orang berlomba-lomba
- memperbagus apa? Mas masjid tetapi
- kosong dari hida hidayah. Oke. Baik.
- Saya kira itu ya.
- Nah, ee kemudian ee Nabi Zakaria
- berkata, "Ya Maryam, dari mana ini
- engkau peroleh?" Dia Maryam menjawab,
- "Itu dari Allah. Sesungguhnya Allah
- memberi rezeki kepada siapa yang dia
- kehendaki tanpa perhitungan." Jika
- pendekatannya pendekatan ee tekstual dan
- akidah menyetujuinya seperti itu, khas
- intahal amr urusan selesai pokoknya dari
- Allah.
- Kenapa kamu ee apa namanya? Ee tidak
- kerja di perusahaan. Alah
- kerja di perusahaan seberapa gajinya?
- Nah, terus kamu ngasih makan istri dari
- Allah aja saya. Nah, itu ada
- perdebatan-perdebatan.
- Ada yang menganggap bahwa sifat dan
- sikap semacam itu salah.
- ngutip pendapat Umar bin Khattab
- yang menegur salah seorang yang
- sepanjang hari salat tah. Kemudian Umar
- nanya, "Sedang apa kamu?"
- "Saya sedang ibadah ya Amirul Mukminin.
- Jam segini masih ibadah tuh? Coba ibadah
- aja ini salah." Siapa yang ngasih makan
- kamu? Adik saya. Kalau begitu adikmu
- lebih mulia dibanding kamu. Tuh, itu
- satu tuh. Ya, tapi memang ada juga
- pendekatan yang memang ya memang kenapa
- memang saya kalau ini saya kan tidak
- nyusahkan Anda. Saya dikasih makan sama
- adik saya, adik saya juga ikhlas kan
- gitu.
- Ada yang kayak gitu
- gitu kan. Kan enggak ada masalah kalau
- tidak ada masalah. Jadi masalah itu
- ketika adiknya menggerutu,
- ketika istri adiknya protes,
- "Mas, kamu kok ngasih makan dengan
- gratis kepada abangmu yang tidak
- bekerja?" Nah, itu jadi masalah. Maka
- cari solusinya. Tapi kalau tidak ada
- masalah, ya tidak harus dipermasalahkan.
- Lah gitu loh. Syariat itu.
- Syariat itu begitu.
- Jadi kalau kan begini
- iktikaf 10 hari
- gitu ya, iktikaf
- kalau tidak ada masalah penghasilan
- ngasir terus yang di rumah dapat
- kebagian makan gitu kan maka iktikaf 10
- hari.
- Tapi kalau kemudian disebabkan kamu
- iktikaf di masjid, kamu tidak cari
- nafkah, istri dan anakmu 10 hari tidak
- makan gitu kan, maka jadi masalah. Maka
- sekali lagi iktikaf menjadi sesuatu yang
- tidak disukai.
- Madurat
- tuh jadi madarat kan begitu loh. Masa
- sunah? Aduh kembali kembali kembali
- kembali. Syariat
- sunah Nabi itu ada yang hukumnya haram.
- Ah kan begitu.
- [tertawa]
- Jadi sunah Nabi itu kan sering kita
- pahami itu hukumnya wajib sama mandub
- atau mustahab
- tuh. Tapi setelah diteliti ada sunah
- Nabi yang hukumnya makruh
- bahkan ada yang hukumnya haram.
- Satu saja penjelasan para ulama, sunah
- Nabi yang hukumnya haram adalah nikah
- dengan maksud menyakiti perempuan.
- Masa nikah kok haram? Ya, tapi kan
- niatnya mau menyakiti. Oh, berarti
- karena niat menyakitinya
- gitu loh, maka itu yang menjadikan ha
- haram.
- Nah, kemudian istri lebih dari sembilan.
- Nah, sekarang mohon maaf ya, saya
- mengambilnya tidak di ee tidak di grey
- area, tidak di area abu-abu.
- Karena tentang batas ee batas maksimal
- istri itu paling tidak di ahlusunah
- atau paling tidak ada yang berpendapat
- maksimal empat,
- tapi ada lagi yang berpendapat dengan
- tafsirnya itu maksimal sembilan.
- yaitu penafsiran kata wa masna wa tulasa
- wa rubaa yang menyatakan maksimal empat
- wnya dipahami au
- masna au sulata au rubaa dua atau tiga
- atau empat tapi kalau wnya dimaknai dan
- berarti masna dua dan tiga jadi lima dan
- empat jadi lah.
- Ah, intinya mah begini yang penting ah
- kan jadinya begitu nanti bila perdebatan
- lagi ramai lagi gitu loh. Yang penting
- mah nikahnya akur dan istrinya sah. Para
- istri-istrinya akur saling mencintai
- karena Allah. Anak-anaknya juga
- tersantuni. Kan begitu intinya.
- Iya
- daripada istrinya satu tapi enggak adil.
- Satu
- terbengkalai lagi kan begitu. Nah, oke
- oke oke. Tapi sekali lagi kalau kita
- mengambilnya pemahamannya pemahaman
- fikih ya harus dituntaskan itu gak boleh
- itu ee mentolelerir 4 dan gitu. Harus
- ada satu pemahaman yang dipegang.
- Padahal ee masing-masing ilmu itu memang
- punya konsekuensi.
- Ilmu fikih begini konsekuensinya,
- tapi ilmu tafsir juga ada
- konsekuensinya. Nah, orang yang
- bijaksana itu memadukan seluruh ilmu
- yang ada,
- tidak e mengkhususkan satu bagian gitu
- loh. Ya, maka ditinjau maka
- istilah-istilah aja juga tergantung
- ulamanya ee ulama apa dulu berpendapat.
- Menurut ulama ushul maksudnya ushul
- fikih sunah itu begini begini begini.
- Menurut ulama, menurut ulama hadis
- sunah itu adalah begini begini sudah
- beda
- tuh. Nah, maka oleh sebab itu maka aduh
- iya ya, kenapa mesti ribut ya? Saya
- bilang gitu tinggal duduk bersama aja
- dibahas gitu. Oke. Baik. Nah, ini saya
- kira sebagai pengantar ya. Jadi, mm jadi
- ketika Maryam ditanya dari mana? Dari
- sisi Allah. dari sisi Allah itu bisa
- memang Allah memberi rezeki dengan jalan
- yang tidak disangka-sangka turun dari
- langit gitu loh atau melalui syariat
- lain. Misalnya Maryam ada yang ngasih
- hadiah. Kalau Maryam ya kalau
- kategorinya boleh memakan apa? Sodqah
- berarti ada yang sodqah. Tapi kalau oh
- Maryam enggak boleh makan sodqah. Oh
- berarti hadiah gitu loh. Nah jadi mana
- kamu? Dari Allah sebagaimana saya
- gajihan.
- Gajian dapat R10 juta.
- Orang tua saya nanya, "Kamu punya duit
- segitu dari mana?" Saya jawab, "Dari
- Allah."
- Salah enggak tuh? Enggak. Padahal itu
- hasil ker hasil kerja. Tapi hakikatnya
- minallah. Maka saya katakan dari Allah,
- Pak, atas doa dari Ibu dan Bapak,
- alhamdulillah saya dapat gaji dari Allah
- tuh. Padahal dari bosnya gitu loh, ya.
- Nah, begitu juga pernyataan. Maka ada
- pengertian dekat, ada pengertian jauh.
- Semuanya jika ditafsirkan untuk
- ketakwaan kepada Allah azza wa jalla
- berarti laisa hunaka musykilah, tidak
- ada persoalan. Oke. Baik. Kemudian ee
- penjelasan ee ayat yang diambil kembali
- oleh Imam an-Nawawi dalam bab ini adalah
- surat Al-Kahfi ayat 16-17.
- Nah, saya kira ee apa namanya ee sebagai
- pengantar dalam kajian kita ini cukup
- membahas ayat-ayat sebagai keutamaan
- kemuliaan dan keutamaan para wali Allah.
- Adapun hadisnya panjang-panjang ya,
- panjang-panjang sehingga kemudian
- insyaallah di pertemuan berikutnyaalah
- kita akan bahas ya. Heeh. Baik, saya
- kira itu saja sebagai pengantar dalam
- kajian ee kajian kita pada sore hari
- ini. Wasallallahu ala nabiina Muhammadin
- walhamdulillahi rabbil alamin. Wallahu
- aam bisawab.
- Alhamdulillahirabbil alamin. Wallahuam
- bawab. Jazakumullah khairan kir ustaz.
- Sudah satu hadis ya, Ustaz ya?
- Ee belum, belum, masih ini. Heeh. Masih
- pengantar ayat pengantar.
- Pengantar. Masyaallah baru pengantar
- sudah banyak yang sudah disampaikan oleh
- Ustazh. Masyaallah.
- Masyaallah. Masyaallah.
- Baik, Ikhwan Ahmad. Ee kita masih
- [mendengus]
- dalam tema kemuliaan dan keutamaan para
- wali Allah. Baru pengantarnya saja.
- Baik, silakan bagi one out yang ingin
- berpartisipasi dapat mengirimkan
- pertanyaan Anda di 0811999720.
- Dan bagi Anda yang ingin berinteraksi
- dapat menghubungi di 0218451512.
- Tetap di radio silaturahim. Kami akan
- segera kembali. Terima kasih.
- [musik]
- Alhamdulillahi rabbil alamin. Terima
- kasih Iwan Awat masih bersama Radio
- Silaturahim. Alhamdulillah kita berada
- di sesi dua
- masih dalam tausiah sore bersama Ustaz
- Ahmad Saleh tentang kemuliaan dan
- keutamaan para wali Allah.
- Sebelum kita bacakan
- pertanyaan-pertanyaan
- ee kita bacakan komentar dari
- ikhwan-akhwat yang sudah masuk. Terutama
- dari Ibu Anihani. Alhamdulillah hadir
- menyimak tausiah Ustaz Ahmad Shih.
- Semoga sehat walafiat, Ustaz.
- Amin. Barakallahu fikum.
- Pak Baron Betawi. Alhamdulillah di
- kamar dan di radio ada radio.
- Barakallahu fikum. Masyaallah.
- Ibu Darni. dari Niwati.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah. Terima kasih Ustaz
- ilmunya dan infonya.
- Barakallahu fikum.
- Kemudian Pak Edwin Saleh menyimak di
- dalam perjalanan pulang.
- Masyaallah. Maakumullah jamian.
- Wasalamah.
- H.
- Kemudian Pak Naro,
- Pak Dodi di Cilangkap. Pak Dodi di
- Cilangkap. Ini pertanyaan Ustaz.
- Oke. Baik.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz, izin bertanya ee sebagaimana
- dalam hadis Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam
- namam
- bahwa Islam itu nanti akan ada 73
- golongan dan hanya ada satu golongan
- yang
- selamat.
- Namam. Yang dimaksudkan dengan satu
- golongan yang selamat itu apakah umat
- Islam yang dalam persatuan Islam atau
- yang hanya satu aliran atau satu mazhab?
- Ustaz,
- Masyaallah. La haula wala quwwata illa
- billah. Tayib. Jadi orang yang selamat
- itu yang mengikuti
- Rasulullah dan para sahabatnya. Ma ana
- alaihi wa ashabi. Di mana aku dan para
- sahabatku ada di atasnya. Siapa yang
- mentubuh jalan di mana Nabi dan para
- sahabatnya, maka dialah yang akan
- selamat. Gitu loh. Gitu ya. Itu
- teoritisnya. Itu yang harus diyakini.
- Iya kan? Nah, kan jelas itu sudah
- selesai. Ah gitu. Namun kemudian kita
- evaluasi diri
- apakah kita termasuk orang yang di atas
- manhaj Nabi dan para sahabatnya
- atau sebatas pengakuan saja. Ini ee
- tertuju juga kepada ee narasumber ya
- untuk evaluasi diri gitu loh ya. Tidak
- bisa diklaim gitu ya. Diyakini iya
- diyakini bahwa ini jalan kebenaran yang
- tempuh. Ah, gitu loh. Diyakininya
- begitu. Tapi diklaim
- satu-satunya jalan yang benar itu, yang
- selamat itu hanya jalan yang ditempuh
- oleh aku.
- Kan Imam Syafi'i juga pernah mengatakan,
- "Ini yang aku yakini kebenarannya, tapi
- bisa jadi juga aku salah atau kamu
- salah, tapi bisa jadi juga memiliki
- peluang benar gitu loh. Nah, maka oleh
- sebab itu semuanya diserahkan kepada
- Allah Subhanahu wa taala. Maka saya
- menggunakan ee apa namanya? Pendekatan
- yang sederhana saja.
- Manqala la ilahaillallah dakalal jannah.
- Siapa yang mengucapkan lailahaillallah
- masuk surga.
- Itu yang saya pakai gitu loh ya. Nah,
- bahwa kemudian ada berbagai macam
- pemahaman diurai satu persatu.
- Ada di akidahnya
- apa nam mantap tapi ribut melulu.
- Tapi ada dalam akidah fikihnya ya
- normatiflah aku bersatu padu gitu kan.
- Tetapi lagi-lagi punya
- kelemahan-kelemahan
- gitu loh. Maka oleh sebab itu saling
- mendoakan saja kepada orang yang
- mengucapkan lailahaillallah
- muhammadur rasulullah. Ya Allah.
- sayangi dia karena dia umat Nabi
- Muhammad.
- Satukan dia dengan diriku.
- Cabutlah kedengkian-kedengkian dalam
- dada-dada kami. Jangan kami menganggap
- remeh mereka
- dan jangan pula mereka merasa diremehkan
- oleh kami. Tuh begitu Ali kan begitu.
- Itu ketika apa namanya? Ketika
- pengikutnya ada yang mohon maaf ya, ada
- yang menghujat menghujat pasukan
- Muawiyah.
- Ali menegurnya, "Uskut anta, diam kamu.
- Aku khawatir kamu jadi seorang pencela.
- Kenapa tidak kau berdoa kepada Tuhanmu?"
- Kepada Allah, "Ya Allah, satukan kami
- dan mereka,
- sayangi mereka dan juga kami." Kenapa
- tidak kau katakan itu? Tuh. Padahal kan
- Ali menurut pandangan kita, Ali di atas
- kebenaran.
- Tapi bagaimana orang sepakih Ali bin Abi
- Thalib itu masih berharap ada orang lain
- bahkan dalam tanda petik rivalnya, saya
- tidak mengatakan musuhnya ya, rivalnya
- itu masih didoakan kebaikan.
- Masyaallah. Tuh
- Ali. Sekarang gini saya mau nanya, ada
- sunahnya enggak salat sebelum Idul Adha
- di lapangan?
- Enggak ada.
- Enggak ada. Terus bagi ke mana kalau
- kemudian ada orang melakukan salat
- sebelum Idul Adha dua rakaat? Apa yang
- akan kita lakukan? [tertawa]
- Tuh, tentu itu bidah, tidak ada pernah
- contohnya. Tapi Ali bin Abi Thalib
- enggak begitu. Ketika ada orang
- melakukan salat dua rakaat di lapangan,
- dibiarkan oleh Ali.
- Kemudian temannya nyolek, "Ya, Amirul
- Mukminin, kenapa engkau tidak larang dia
- salat?"
- Kenapa sahabat ini bertanya begitu?
- Karena menurut pengetahuan sahabat tidak
- ada sunahnya.
- Tapi apa kata Ali? Hah? Aku tidak mau
- mencegah dia karena aku khawatir akan
- digolongkan kepada orang-orang yang
- menghalangi orang mau salat.
- Itu kan di dalam sur dalam juz 30 itu
- apa ee apa ya ee surat Iqra apa ya?
- Ee dan menghalangi orang-orang yang
- salat.
- Aku khawatir nanti dimasukkan ke ke
- kelompok itu tuh kedalaman ilmu Ali.
- Jadi tidak semua bidah gitu loh harus
- serta-merta disikapinya apa? Disikapinya
- frontal.
- Begitu juga tadi
- Ali itu masyaallah.
- Sehingga ketika ada sahabatnya mencaci
- maki Muawiyah dan pasukannya, bahkan Ali
- mencegahnya.
- Diam kamu, Uskut anta. Masyaallah. Loh,
- saya bilang, "Akhlak dari mana beliau
- dapatkan?" Oh iya, dari Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam tuh. Bahkan
- kan Nabi ada jenazah Yahudi lewat
- berdiri Nabi. Ya Rasulullah dia kan
- Yahudi.
- Tapi kan kita tidak tahu matinya seperti
- apa. Kata Nabi kan begitu. Oh. Nah, maka
- mesti ada pendekatan selain nas.
- Jadi tidak hanya
- berpegang kepada nas saja, kepada teks
- saja. Kalau di zaman Imam Syafi'i kan
- ada ee dalalah kan begitu. Nah, jadi
- pendekatannya berargumentasinya dengan
- dalalah atau dengan pengertian ilat atau
- dengan hikam, hikmah-hikmah
- atau sekarang maqasid.
- Nah, maka oleh sebab itu saya kira ee
- apa namanya?
- ee apa ee cukup jelas lah ya. Ya. Jadi
- ee ini ee kemudian ee pertanyaan
- berikutnya apa?
- Pertanyaan berikutnya kalau misalnya
- contoh sahabat dalam melihat Rasulullah
- salat ada yang beda pendapat. Ada yang
- pakai niat dan ada yang tidak pakai
- niat. Ada yang pakai niat. Bagaimana
- dengan perbedaan ini? Apakah
- dikorelasikan dengan satu golongan yang
- selama tadi?
- Oh iya. Jadi kalau masalah itu mohon
- maaf ya, mohon maaf saya ee
- ya dua-duanya yang talafud bin niat
- dengan yang enggak selama khusyuk,
- ikhlas sesuai dengan keyakinan yang
- ngikuti sunah Rasulullah enggak ada
- masalah. Loh, memang Nabi pakai ini
- talaudiah salatnya kan gitu. Memang
- kenapa talaudun niat? Wong di luar salat
- kok. Usi farduhri arba rakaatin
- mustqbilia
- makmuman lillahi taala. Masalahnya di
- mana tuh? Wong belum salat kok.
- [tertawa] Kan salat itu mulai dari
- takbir Allahu Akbar kan begitu baru tuh
- salat.
- Kalau sebelum salat mah kan enggak ada
- masalah berarti gitu loh ya. Oke. Jadi
- saya kira talafud binniah juga punya
- dasar
- analisa dari jam' ee adillah
- mengumpulkan dalil-dalil
- haji niatnya dilafazkan talafudunah.
- Qurban juga talafuzunah.
- Oh, berarti dipahami bahwa dengan dua
- macam ibadah ini ada talafud duniah.
- Bahkan ketika Nabi mau puasa juga tidak
- ada makanan di rumahnya, beliau katakan
- inni shoim. Kalau begitu aku puasa. Oleh
- sebagian ulama dimaknai itu adalah niat
- yang dizahakan.
- Nah, pen itu maka kemudian bolehnya
- sebagian ulama sekali lagi sebagian
- ulama mazhab Syafi'i membolehkan ya
- awalnya membolehkan membolehkan
- talafuzun niah bahkan kemudian
- menganjurkan.
- Imam Syafi'i sendiri tidak tidak
- talafudun niat gitu loh. Tapi mazhabnya,
- ulama-ulamanya
- ee mengajarkan seperti itu. Wallahualam
- ya. Jadi enggak ada masalah gitu loh. L
- masalahnya nanti salatnya khusyuk apa
- enggak. Satu salatnya karena Allah apa
- karena siapa? Dua gitu. Yakin enggak
- bahwa dia ngikuti Rasulullah atau tidak?
- Kan gitu
- persoalannya. Makanya saya sekali lagi
- tidak ingin ribut tuh di situ lah.
- Kenapa ribut orang? Itu juga belum salat
- kok. Seperti begini, mohon maaf. Saya
- masuk apa? Masuk masjid
- ketemu sudah qat itu saya masuk masjid
- kemudian qat ketemu teman lama. Eh, Kang
- ke mana aja ngobrol dulu saya
- sebelum salat tuh padahal sudah qat.
- Sudah, Kang. A udah ngobrol sudah Kang
- mau salat. Pas mau salat mau takbir
- ingat pakaian hujan.
- Mohon maaf ya, saya sebut misalnya siapa
- istrinya lah ee apa ya misalnya jeng
- jeng angkatin pakaian ini hujan. Allahu
- Akbar dengan dibandingkan dengan yang
- tadi. Usholi fard zuhri arba rakaatin
- Allahu Akbar. Sama-sama sebelum takbir.
- Apa yang jadi masalah? Sekali lagi tuh.
- Kemudian pertentangan ini menajam
- karena kita menggunakan karakteristik
- pemahaman para sahabat yang nyaris
- memahami syariat itu seperti memahami
- akidah
- gitu ya. Nah, makanya kan di zaman
- sahabat itu perintah terserah mau
- hukumnya apa. Pokoknya perintah
- dikerjakan,
- dilarang oleh Nabi. Terserah hukumnya
- apa ditinggalkan. Nah, kemudian nanti
- para ulama di apa ushul fikih di
- zamannya Imam Syafi'i dimulai maka
- muncullah lima hukum. Ada wajib, ada
- mustahab, ada mubah, ada haram, ada
- makruh. Nah, dari situlah kemudian nanti
- perintah tidak selalu wajib. Kalau ada
- yang memalingkan jadi mustahab.
- Larangan yang asalnya di zaman awal-awal
- itu selalu haram.
- [tertawa]
- larangan kemudian tiba-tiba jadi makruh
- karena ada yang memalingkan tuh. Nah,
- perkembangan itu sekarang kita mau
- bersikap pakai apa dan seharus tidak
- tidak harus dipertentangkan. Yang
- berpegang kepada ee paradigma para
- sahabat dengan orang-orang pasca tabiin.
- Oh, enggak. Kita harus kepada Nabi. Oke,
- kepada Nabi.
- Kalau kepada Nabi berarti terlalu banyak
- hal yang harus kita rubah dalam ibadah.
- Bukan hanya dalam dalam beragama gitu
- kan.
- Nanti kan jadi masalah gini,
- haji
- Nabi hajinya pakai apa? Kan yang ada itu
- jalan kaki sama naik unta naik kuda kan
- gitu. Iya
- lah. Saya kan naik kapal.
- Kalau mau dipersoalkan nih kalau mau
- dipersoalkan.
- Ah ganti pakai unta. Nah, saya kan naik
- ee kapal laut ganti pakai kuda
- sekali lagi tuh. Nah, tetapi kemudian
- kan Islam tidak
- menghalangi perkembangan
- gitu loh. Nah, maka Islam itu menjadi
- menjawab Quran saja shihun likulli zaman
- wa makan.
- Jadi kalau
- merujuk kepada tafsiran mutlak satu
- tafsir, tafsir Nabi sallallahu alaihi
- wasallam, pertama tidak semua ayat
- ditafsirkan oleh Nabi.
- Kedua, aduh berarti kita harus kembali
- ke abad 7 Masehi nih, gitu loh. Jadi
- abad sekarang [tertawa] abad ke-21 harus
- kembali ke abad 7 lagi. Tuh, apa begitu
- gak?
- Quran punya karakter
- shihun likulli zaman wa makan.
- Para ulama mengatakan anususu mutanahiah
- wa hawadisu ibadi eh wadisu ibadillah
- giru mutanahiah.
- Nas-nas itu terbatas ada akhirnya.
- Sementara persoalan
- hawadisul ibad ibadillah,
- persoalan-persoalan hamba yaitu hamba
- Allah senantiasa berkembang sesuai
- dengan perkembangan zaman. Nah, maka ini
- sesungguhnya Ibnu Qayyim ingin
- menegaskan tentang fungsi qias.
- Nah, digunakan oleh ulama lain asalnya
- bukan annusus, asalnya ee al-usul.
- Ah ya usul maksudnya usuluddin.
- Eah usuluddin itu terbatas. Tapi
- kemudian di apa saya tidak tahu persis,
- saya belum meneliti bagaimana
- perkembangan dari usuluddin menjadi
- annusus, menjadi nas-nas, menjadi
- teks-teks. Nah, maka oleh sebab itu Ibnu
- Qayyim ingin mengajak bahwa Islam ini
- selalu bisa menjawab persoalan.
- Kalau Imam Syafi'i itu tadi nas dengan
- dalalah, jadi tidak menggunakan nas,
- tapi menggunakan dalalah gitu. Tah
- kemudian dan itu juga sudah terjadi di
- zaman sejak zaman Nabi.
- Orang yang mencuri menurut Quran itu
- harus diapain?
- Dipotong tangan.
- Dipotong tangan. Wasariquuna wasariqati.
- Orang laki-laki pencuri dan perempuan
- pencuri hendaknya dipotong aid di hima
- kedua tangan keduanya tangan laki dan
- perempuan itu. Tapi Nabi kemudian
- mengatakan jangan potong tangan orang
- yang mencuri saat berperang. Ini bisa
- dipahami taksis dikhususkan
- kecuali dalam perang tidak boleh
- dipotong tangan. Bisa begitu. Tapi di
- sisi lain dicari ilatnya kenapa Nabi
- melarang. Oh.
- Kalau ada gitu loh hikmah lain yang
- lebih besar, lebih manfaat, maka itu
- yang diambil. Karena ketika perang orang
- mencuri dipotong tangannya maka dia bisa
- berbelot
- gabung ke musuh.
- Di musuh dia ceritakan
- kelemahan-kelemahan, strategi-strategi
- umat Islam. Oh, ini bahaya. Maka diduga
- keras Nabi melarangnya
- supaya apa? supaya tidak
- belot
- tidak belot gitu loh ya. Maka ee
- pemahaman ini menarik menarik sekali.
- Bahkan ah iya ya ngapain ribut-ribut
- gitu loh. Nah maka oleh seb tapi tetap
- kita harus berpegang tebuh berpegang
- teguh kepada nas-nas
- ya. Pertama nas-nas ee tekstual ya
- normatif dulu ya tekstual dulu. Nah,
- nanti kemudian boleh saja setelah itu
- mensosialisasikan
- ee kontekstual
- atau dalalah atau ilat atau hikam atau
- maqasidus syariah atau maqasidul Quran.
- Nah, saya kira seperti itu dulu yang
- bisa saya jawab. Jadi, tidak ada masalah
- ya yang talafudun niat dengan yang tidak
- ya. Ee karena memang yang talafudun niat
- belum memulai salat gitu ya.
- Ee kemudian yang dak juga mudah-mudahan
- bisa khusyuk ya. Jadi intinya bahasa
- yang harus kita kejar adalah khusyuk
- dalam salat dan mengaplikasikan
- pesan-pesan salat dalam kehidupan
- sehari-hari. Itu intinya maqasid yang
- pentingnya itu gitu ya. Demikian yang
- bisa saya jelaskan. Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Pak Dodi
- semoga dapat menjawab. Berikutnya
- pertanyaan dari Pak Khairuddin, Ustaz.
- Nam.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Izin bertanya, Ustaz. Apakah waliullah
- itu petunjuk Allah atau qadarullah?
- Ustaz? [tertawa]
- Masyaallah, ya Allah. Oke, saya jawab
- dulu, ya.
- Petunjuk Allah atau qadarullah
- [berdehem]
- dalam prosesnya itu adalah petunjuk
- Allah.
- Tapi dalam faktanya itu adalah
- qadarullah.
- Jadi dua pemahaman qadariah jabariah
- saya gabung gitu loh ya. Maka oleh sebab
- itu tidak ada yang ditonjolkan disebut
- ee apa nama qadarullah. Karena memang
- siapa yang bisa mengubah dirinya? Siapa
- yang bisa mencapai derajat mulia kecuali
- Allah yang menetapkan. Tetapi sekali
- lagi Allah menghargai upaya-upaya.
- Nah, gitu loh ya. Jadi kalau kalau
- qadarullah gitu kan ee apa apa tadi
- qadarullah dan apa istilahnya?
- Petunjuk Allah.
- Hah? Petunjuk Allah. Nah, petunjuk Allah
- berarti kita mengikuti petunjuk-petunjuk
- Allah sehingga kita sampai waliullah.
- Nah, ketika kita mengikuti
- petunjuk-petunjuk Allah berarti itu
- kategorinya petunjuk. Ketika kita sampai
- dan menjadi waliullah itu qadarullahnya.
- Qadarullahnya sampai kepada makam yang
- tinggi yaitu apa? Waliullah. Tapi
- sebelum jadi waliullah prosesnya ah maka
- prosesnya itu juga memang ee harus kita
- pahami. Maka oleh sebab itu petunjuk
- Allah itu proses gitu. Ketika sampai itu
- adalah qadarullah.
- Kalau kita mau membagi, tapi kalau mau
- saklek-sakeklan
- ya saya lebih memilih qadarullah kalau
- mau saklek-saklekan gitu loh. Tapi kan
- harus dipahami gitu loh. Nah, maka
- dipahaminya tadi oh upaya-upaya
- upaya-upaya itu berarti proses-proses
- itu adalah memes
- petunjuk Allah gitu kan. Maka setelah
- sampai adalah qadar qadarullah dan saya
- menurut saya itu yang paling selamat
- gitu ya. Demikian yang dapat saya jawab.
- Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian. Ee kemudian
- selanjutnya, apakah syarat menjadi wali
- berat atau tidak? Apakah bisa pribadi
- [berdehem]
- menyatakan bahwa saya sudah menjadi
- wali? [tertawa]
- Baik. Pertama, syaratnya jadi wallah itu
- berat. Nah, berat itu bagi kita.
- Bagi kita itu berat, tapi bagi orang
- yang dikehendaki Allah tidak berat. Gitu
- loh. Kan tadi sudah disebutkan cirinya
- apa? Amanu. Amanu itu uraiannya banyak.
- Tidak mungkin digapai semuanya.
- Wu yattaquuna. Dan adalah mereka
- senantiasa bertakwa untuk menahankan
- takwa. Jangankan menahankan apa?
- Menanamkan ketakwaan sepanjang hayat.
- Dari Ramadan ke Ramadan aja kita enggak
- sampai tuntas.
- Tanggal 15 Syawal aja sudah hilang tuh
- ciri-ciri ketakwaan. [tertawa] Padahal
- ketika Idul Fitri serasa waduh saya
- sudah sampai kepada laalakum tatun
- sampai saya menjadi orang bertakwa.
- Karena apa? Karena tahajudnya ini salat
- apa? Baca Qurannya ini masyaallah. Eh 15
- Syawal sudah maassalamah.
- sudah goodbye. Nah, apalagi ini
- mempertahankan sepanjang hayat, maka
- dinyatakan berat.
- Tapi bagi orang yang dikehendaki Allah,
- bagi orang dicintai oleh Allah, gampang
- loh. Kok jadi enggak jelas begitu? Ya
- memang begitu.
- Karena begini,
- di antara kita ada yang memiliki ilmu,
- tapi di antara kita juga tidak semuanya
- mampu mengamalkan ilmunya.
- Dia tahu betul ilmunya bahwa dia tuh
- harus begini, harus begini, begini. Tahu
- betul, tapi dia tidak mampu
- mengamalkannya.
- Dia tahu bahwa salat yang paling baik
- setelah salat fardu di sisi Allah itu
- salat tahajud.
- Tapi tidak semua orang yang memahami ini
- mengamalkan tahajud.
- Kenapa? Apa dia malas? Bisa jadi?
- Oh, enggak. Dia sadar. Sadar. Bangun jam
- .00 tapi tidak salat. Kenapa? Karena ada
- pemahaman lain.
- Karena ada keengganan, kemalasan.
- Sehingga tidak berdaya. Dia katakan la
- haula wala quwwata illa billah tapi
- tidak bergerak dia.
- Dia sadar betul bahwa salat tahajud itu
- afdolul ibadah ba'da faraid. Setelah
- apa? Ba'da fardu. Bakda fardi.
- Tapi dia tidak bergerak. Maka kemudian
- katakan la haula wala quwwata illa
- billah.
- Dia sadar ada di antara kita yang
- seperti itu. Tuh. Maka oleh sebab itu
- saya kira semuanya maka wajarlah kalau
- ya bagi mereka yang sudah sampai ke situ
- ya dia akan senantiasa mengatakan la
- haula wala quwwata illa billah. Bahkan
- dia tidak akan pernah mengaku bahwa dia
- waliullah.
- Bahkan dia kalaupun ada orang bertanya,
- "Apakah ustaz atau antum pernah ketemu
- mimpi dengan Rasulullah?" Kalaupun dia
- pernah bertemu dalam mimpinya dengan
- Rasulullah, dia katakan,
- "Saya enggak begitu yakin."
- Ee saya enggak begitu yakin, gitu. Jadi
- ambigu jawabannya.
- Karena khawatir, sekali lagi khawatir ya
- kecuali alasan-alasan tertentu. Khawatir
- ketika dia jelaskan secara tuntas,
- khawatir loh dia sudah ngaku-ngaku
- satu. Atau kedua akan orang akan ada
- yang menganggap wah dia sudah sekelas
- ketemu dengan Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam.
- Makanya ketika orang ditanya itu ya
- sebaiknya
- ya pertama kalau ah enggak saya belum
- pernah
- satu atau ambigo jawabannya.
- Nah gitu ya. Tapi ada orang juga yang
- ditanya karena mungkin ilmunya terbatas
- apakah Anda pernah ya saya pernah
- ketemu.
- Sudah gitu.
- Ayo sudah gitu ya. Sudah
- itu. Nah, lagi-lagi lagi-lagi kan
- waliullah itu adalah orang yang takut
- kepada Allah. Tidak ada ketakutan, tidak
- ada kekhawatiran, tapi paling takut
- kepada Allah. Tuh, paling takut kepada
- Allah. Takut amalan-amalnya diketahui
- oleh makhluk.
- Makanya, aduh, masyaallah ya Allah ya
- rabbal.
- K dia, "Ya Allah, cabutlah nyawaku.
- Ternyata sudah ada hambamu yang
- mengetahui aku." Tuh, padahal kan enggak
- apa-apa. Oh, diketahui kok. [tertawa]
- Tetapi masyaallah la haula wala quwwata
- illa billah. Maka oleh sebab itu, para
- ikhwan sekalian, hendaknya kita menjaga
- hati mohon kepada Allah kekhusyuan,
- keikhlasan.
- Yang paling penting, "Ah, ya Allah cuma
- ini yang bisa aku lakukan. Terima ya
- Allah."
- Kemudian kalau ditanya orang, "Ah,
- enggak tahu saya. Pokoknya itulah yang
- bisa saya lakukan." Gitu aja. Tidak
- merasa paling saleh, tidak merasa paling
- taat, tidak merasa paling ahli tahajud,
- tidak. Bahkan kemudian diingkarinya
- nilai-nilai itu, gelar-gelar itu dia
- ingkari. Tidak.
- Aduh, saya mah masih belajar tahajudnya
- juga.
- Masih ingat di pasar, masih ingat di
- kantor. Tahajud saya mah enggak pantes.
- Padahal susunya mereka, masyaallah
- mereka itu ketik baru takbir saja,
- Allahu Akbar, para malaikat berkerumun
- langsung dan dia merasakannya. Ini orang
- yang sudah merasakan katanya kalau dia
- meras kemudian tiba-tiba setjukan
- yang
- apa yang bergerak dalam jiwanya.
- seperti AC gitu. Ah, tapi dia pura-pura
- aja khusyuk baca fokus pada bacaan gitu.
- Nah, tetapi lagi-lagi masyaallah saya
- kadang iri kepada mereka tuh
- kepada mereka yang telah mendapatkan
- itu. Saya sering nanya, sering banyak
- belajar, sering banyak mendengarkan
- kisah-kisah mereka. Masyaallah. La haula
- wala quwwata illa billah. Karena saya
- belum menemukan nas yang tegas yang
- memberi penilaian-penilaian itu, maka
- saya hanya sebagai ya referensi aja.
- Didustakan enggak, dibenarkan juga
- belum, kan begitu. Tetapi
- isyarat-isyarat oh ya gitu gitu ya. Oke,
- saya kira itu saja yang dapat saya
- jelaskan. Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bawab. Demikian Pakudin semoga
- dapat menjawab.
- Mungkin sekaligus penutup, Ustaz.
- Sekaligus penutup dari Pak Rahman juga
- yang mohon diijazahkan salah satu wirid
- dari para wali biar bisa dipraktikkan
- sehari-hari.
- Masyaallah. Aduh, saya mah bukan wali
- atuh. Ya nantilah kita cari di
- kitab-kitab yang berbicara tentang itu.
- Kalau ditemukan wirid-wiridnya
- insyaallah nanti ee saya ee apa? copy
- paste gitu ya. Saya copy paste insya
- insyaallah ya. Oke, jadi kesimpulannya
- kita berharap kepada Allah, kita
- termasuk orang-orang tergorong
- auliaullah gitu ya. Dengan tidak
- menyombongkan diri ee upayakan untuk
- bisa tadi ya ee karena petunjuk Allah,
- saya menggunakan petunjuk Allah
- sekarang. Maka hendaknya kita menempuh
- nilai-nilai keimanan, ketakwaan.
- Kita senantiasa pasrah dan rida kepada
- takdir yang Allah tentukan.
- Jangan mengeluh jika ada hal-hal yang
- menimpa diri kita. Sabar gitu. Dan tidak
- takut kepada selain Allah gitu ya. Tidak
- takut kepada selain Allah. Nah, jadi
- saya kira itu saja sebagai penutup yang
- dapat saya kebukakan. Wasallallahu ala
- nabiina Muhammadin walhamdulillahi
- rabbil alamin. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Jazakumullah khair khair
- ustaz.
- Oh iya.
- Baik demikian ikhwan terima kasih banyak
- sudah menyimak tausiah sore bersama
- Ustaz Ahmad Saleh. Semoga dapat diambil
- ilmunya dari kemuliaan dan keutamaan
- para wali Allah. Baik saya Fauzi Ridwan
- mohon maaf dan mohon diri Neza dan juga
- Yusuf Subangkit. Subhanakallahum
- wabihamdika
- warahmatullahi wabarakatuh.