Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Alhamdulillahiabbil alamin wabihi
- nastain waa umurid dunya waddin wasalatu
- wasalam ala asrofil iyaai wal mursalin
- wa ala alihi wasohbihi ajmain. Ashadu
- alla ilahaillallah wa ashadu anna
- muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma
- sholli wasallim wabarik ala nabina
- muhammadin waa alihi wasohbihi ajmain.
- Qallahu taala fil quranil karim.
- Aubillahiminasyaitanirjim.
- Innallaha wa malaikatahu yushalluna alan
- nabi. Ya ayyuhalladzina amanu shu alaihi
- wasallimu taslima. Sadaqallahulim.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Masih
- dipancarkan dari Jalan Masjid
- Silaturahim nomor 36 Cibubur Bekasi.
- Inilah Radio Silaturahim dan Rasil TV
- untuk Islam yang satu. Ikhwan akhwat
- yang dimuliakan Allah Subhanahu wa
- taala, bagaimana kabar Anda di Jumat
- sore ini? Semoga selalu dalam keadaan
- sehat walafiat. Senang sekali saya Fauzi
- Ridwanul Haq ditemani oleh Fajar Hidayat
- dan juga Yusuf Subangkit dapat kembali
- menemani ikhwan akhwat dalam program
- tausiah sore edisi Jumat 2 Jumadal Ula
- 1447
- Hijriah dan juga bertepatan dengan
- tanggal 24 Oktober 2025 bersama guru
- kita almukaram Ustaz Ahmad Shoh MA.
- Alhamdulillah beliau sudah hadir bersama
- kita. Kita sapa guru kita terlebih
- dahulu. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Sehat, Ustaz?
- Alhamdulillah sehat walafiat atas doa
- dari semua ikhwan dan akhwat.
- Alhamdulillah. Alhamdulillah. Baik,
- Ikhwan Ahwat. Semoga kesehatan juga
- dirasakan oleh Ikhwan akhwat di mana pun
- Anda berada. Kami doakan semoga selalu
- dalam keadaan sehat walafiat. Semoga
- kajian tausiah sore bersama Ustaz Ahmad
- SH dapat
- menemani ikhwan akhwat di segala
- aktivitas yang sudah berkumpul di rumah
- bersama keluarga.
- Kami ucapkan barakallah bagi ikhwan
- Ahmad yang masih dalam perjalanan
- ataupun masih di tempat kerja kami
- ucapkan
- fi amanillah dan semoga Allah senantiasa
- memberkahi kegiatan ikhwan akhwat
- sekalian di mana pun Anda berada. Baik
- ikhwan Ahmad. Insyaallah pada Jumat kali
- ini Ustaz Ahmad Saleh akan membahas
- tentang masih melanjutkan kajian kitab
- larangan yaitu haram Menggunjing dan
- perintah menjaga lidah hadis yang ke-10
- insyaallah.
- Namam. Ee namun sebelumnya bagi ikhwan
- awat yang ingin berpartisipasi dalam
- kajian ini dapat mengirimkan pertanyaan
- di nomor WhatsApp Rasil 0811999720.
- Dan bagi Anda yang ingin berinteraksi
- langsung dengan ustaz dapat menghubungi
- di 02184515122.
- Baik ikhwanot, mari kita
- mari kita berikan waktu kepada Ustaz
- Ahmad Saleh untuk memberikan kita ilmu
- semua tentang
- haram mengunjing dan perintah menjaga
- lidah. Tafadul Ustaz.
- Alhamdulillahi
- hamdan katsiran thyiban mubarokan fih
- kama yuhibuna waard. Ashadu alla
- ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa
- ashadu anna muhammadan abduhu wa
- rasuluhu wa innahu la nabiya ba'da.
- Allahumma sholli wasallim wabarik ala
- nabiina Muhammadin waa alihi wa ashabihi
- waman tabiahum bisanin yaumilqiamah.
- Amma ba.
- Ikhwan dan akhwat, pendengar Radio
- Silaturahim, serta pemirsa Rasil Virtual
- di mana pun berada. Alhamdulillah pada
- kesempatan ini kita masih diberikan ee
- fursah ya, diberikan peluang oleh Allah
- azza wa jalla untuk melanjutkan kajian
- kita, kajian kitab Syarhu Riyadus
- Shihin. Syarah Riyadus Shihin. Ee
- kemarin kita sudah membahas sampai hadis
- ke9, haram mengguncing dan perintah
- menjaga lidah. Wal hadir selam. Dan
- sekarang kita akan membicarakan atau
- melanjutkan hadis ke-10 di dalam bab ini
- atau hadis 1521
- dalam kitab Riyadus Shihin. Tayib. Ee
- kita langsung saja. An Uqbah bin Amir
- radhiallahu anh qal.
- Q ya rasulallah manajah
- qala amsik alika lisanak
- baituk wabatik
- rawahuidziu
- waqala haditun hasanun
- aku bertanya ee qulu aku berkata
- maksudnya aku bertanya siapa bin Amir
- kepada Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam.
- Ya Rasulullah, wahai utusan Allah,
- manajah.
- Apa itu keberuntungan? Itu awalnya. Tapi
- dimaknai mannajah, apa yang menyebabkan
- keselamatan
- gitu ya. Heeh. Qala e Nabi sallallahu
- alaihi wasallam menjawab
- ee kekanglah lidahmu, tetaplah dalam
- rumahmu dan tangisilah dosamu. Hadis
- riwayat at-Tirmidzi dan menurutnya,
- yaitu menurut Imam at-Tirmidzi, status
- hadis ini hadis hasan. Berarti
- kategorinya hadis maqbul, hadis yang
- bisa diterima gitu ya. Di sini dapat
- kita perhatikan yang pertama kekanglah
- lidahmu.
- Kendalikan
- qul kiron aasmut. Itu hadis lain.
- Berkata yang baik atau kalau tidak bisa
- berkata baik diam. Berkata baik afdolu
- wa ahsanu.
- Berkata baik lebih baik dan lebih utama
- daripada diam.
- Tapi diam menjadi lebih utama jika harus
- berkata buruk gitu loh ya. Jadi
- tingkatan tiknya oh diam itu emas ya.
- Diam itu emas. Tapi berkata baik itu
- adalah berlian.
- Berlian.
- Nah gitu. Berkata baik berlian. Diam
- emas gitu loh ya. Diam itu disebut emas
- karena kalau bicara jadi mendatangkan
- keburukan, maka nilainya seperti emas
- diam itu. Tapi kalau kita bisa berkata
- baik maka berkata baiklah. Karena
- berkata baik itu adalah berlian gitu ya.
- Itu masyaallah itu yang pertama. Jadi
- maka oleh sebab itu yang pertama ee kata
- Nabi sallallahu alaihi wasallam, "Amsik
- alika lisanak."
- Wajib bagi kamu untuk menjaga lidahmu,
- lisanak, lisanmu, lidahmu, gitu ya. Oke.
- Kemudian, walasaka baituk. Dan hendaknya
- engkau tinggal diam di rumah. Maksudnya
- fokus ibadah di rumah. Kalau kamu keluar
- keluyuran ngomongin orang, nyari
- permasalahan orang lain,
- ngungkip-ngunkip keburukan orang lain,
- sudah diam di rumah saja.
- He
- zikir saja gitu loh, istigfar saja, baca
- Quran saja. Kecuali kalau kamu keluar
- itu berjamaah,
- tadarusan, berjamaah atau masing-masing
- di masjid, maka itu afdal. Tapi kalau
- tidak bisa di luar berbuat baik, maka
- jagalah dirimu, jagalah rumahmu.
- Tentu yang dimaksud bukan rumahnya yang
- ini, tapi kita hendaknya tinggal di
- rumah, gitu. Itu yang dimaksud dengan
- apa? Ee
- walas walas baituk gitu ya. Oke. Baik,
- ya. Kemudian wabki ala ktiatak.
- Kemudian tangisilah gitu ya. ee
- dosa-dosamu, khatiata
- kesalahan-kesalahanmu.
- Nah, jadi ini apa tadi? Tiga penyebab
- mengantarkan kepada kebahagiaan. Tiga
- penyebab akan mengantarkan kepada
- keselamatan.
- Tuh, masyaallah. La haula wala quwwata
- illallah. Jadi, sekali lagi, Nabi sudah
- menjelaskan kepada kita gitu ya sebagai
- ee apa namanya? intisari ajalan-ajalan
- Quran
- sebagai tafsiran dari beberapa ayat ya.
- Loh, ini ayat apa dan ah ini kita ee
- misalnya maqasid Quran saja. Maqasid
- Quran itu adalah untuk keselamatan umat
- manusia di dunia dan di akhirat. Salah
- satu upaya untuk mencapai keselamatan
- dunia akhirat kan begitu ya. Jadi
- maqasid Al-Qur'an itu di antaranya
- selain untuk mentauhidkan Allah agar
- umat manusia selamat dunia dan akhirat.
- Dijelaskan oleh Nabi tiga langkah tadi
- agar selamat, agar annajah
- agar bahagia gitu kan. Di antaranya apa
- tadi? Kendalikan lisanmu. Kemudian apa?
- Tinggallah di rumahmu gitu kan. Kemudian
- tangisilah dosamu atau kesalahanmu.
- Tentu tangisi kesalahanmu itu juga apa?
- Satu kalimat yang mencakup. Bukan hanya
- nangis, "Aduh kemarin saya habis
- maksiat." Bukan, bukan hanya sampai di
- situ. Tbat
- itu maksudnya tangisi di situ tuh
- ditangisi itu disadari bahwa itu sebuah
- kesalahan kemudian tobat, perbaiki gitu
- loh. Itulah sebabnya kenapa hadis harus
- diterjemahkan dengan hadis lain atau
- Quran, ayat Quran harus ditafsirkan oleh
- Quran, oleh ayat Quran lain. Sebagaimana
- juga Al-Qur'an bisa ditafsirkan atau
- dapat ditafsirkan oleh penjelasan
- Rasulullah Muhammad sallallahu alaihi
- wasallam. Nah, jadi Oh, gitu ya. Jadi
- mana ininya ya? Jelas kalau yang
- tekstual kadang kita tidak menemukan.
- Wong yang umum saja orang-orang awam
- enggak ngerti. Nah, baru Ahlul Maqasid
- yang bisa menjelaskan. Oh, ini ayat
- mana? Ah, tidak harus dicari ayat mana,
- ayat mana. Tapi secara keseluruhan
- maqasid Al-Qur'an itu agar manusia
- mengibadahi Allah, mengesakan Allah,
- kemudian agar mereka selamat dunia dan
- akhirat. Maka kemudian pertanyaan
- sahabat, manajah ya Rasulullah, apa yang
- dapat menyebabkan kebahagiaan,
- menyebabkan keselamatan?
- Gitu. Maka tadi dalam hadis ini tiga.
- Nah, nanti jadi banyak ketika digabung
- dijamak ee hadis yang lain
- dikumpulkan
- digabung. Ya, betul apa e hadis ini
- menjelaskan begini, hadis ini menjelas.
- Kenapa dipisah-pisah begitu? Kenapa Nabi
- tidak menjelaskan sekaligus saja?
- Misalnya katakanlah ada 20 poin, kenapa
- tidak 20 poin? 20 poinnya. Eh,
- kalau sekaligus kamu muntah gitu loh.
- Maka Nabi tadaruj bertahap nyampaikannya
- tiga dulu.
- Masyaallah
- sudah mantap matang diamalkan para
- sahabat tambah lagi. Itu metodologi
- terhebat, terbagus. Metodologi
- pengajaran terbagus.
- Masyaallah.
- Betul. Maka oleh sebab itu orang Oh iya
- ya. Muhammad kok dapat dari mana ilmu
- metodologi pengajaran gitu sekarang itu
- metodologi pengajaran Rasul itu
- dibimbing wahyu. Nah, makanya kenapa?
- Karena sejalan dengan Quran. Quran juga
- diturunkannya
- dari apa namanya? dari Baitul Izzah
- kepada beliau itu tadaruj bertahap
- tuh gitu loh. Meskipun Nabi sallallahu
- alaihi wasallam diberikan pemahaman
- seluruhnya seutuhnya
- tapi tetap mengajarkan kepada umat itu
- bertahap.
- Bahkan awalnya ini syariat sesungguhnya
- mensyariatkan, tapi di awal-awal Nabi
- melarangnya.
- Atau ketika mau dilarang, ketika dalam
- syariat itu terlarang, Nabi tetap masih
- membiarkannya.
- Masih biarkan.
- Masih membiarkannya. Contohnya apa?
- Minum khamer kan enggak langsung
- diharamkan.
- Iya. Bertahap jauhi dulu. Ah, jadi dari
- apa? Diberi peringatan, dihukumi makruh,
- kemudian pada akhirnya diharamkan.
- Heeh.
- Tuh. Ayo para sahabat itu masyaallah
- arak terhebat, terbagus,
- kualitasnya tinggi ditumpahkan. Sehingga
- kemudian digambarkan oleh perawi makan
- jalan-jalan Madinah itu apa? Seperti
- banjir.
- Banjir
- karena arak-araknya. Aduh, Mas. Tuh, itu
- karena ketaatan para sahabat. Coba mana
- ada di zaman kita begitu langsung, "Oh,
- oh enggak boleh ya. Oh, langsung
- ditumpahkan." Gak. Kalau di zaman kita
- paling nanya nawar ketika datang
- larangan ini hukumnya haram apa makruh?
- [tertawa]
- Kan ternyata dijawab haram. Oh haram ya.
- Gimana sih caranya supaya jadi duit?
- Kita tidak mengkonsumsi tapi jadi duit.
- Kan begitu kita ini orientasinya bukan
- akhirat
- dunia.
- Beda dengan para sahabat yang senantiasa
- samina wa atna
- tuh. Maka oleh sebab itu wajar bertahap
- gitu ya. Ya, di antara kita ada yang
- masih senang judi, masih senang ini
- bertahap.
- Maksudnya bertahap itu apa? Kita orang
- yang sudah diberikan pemahaman utuh,
- katakanlah seluruh syariat Islam telah
- kita pahami, tapi tetap saja menghukumi
- mad'u itu harus tadaruj, bertahap.
- Kan saya sering ngasih contoh. Ada orang
- bertanya, "Ustaz, saya ini sudah usia
- balig tapi masih belum bisa melaksanakan
- salat lima waktu." Satu.
- Satu lagi bertanya. Persis pertanyaan
- seperti itu, "Ustaz, saya ini ee apa
- namanya? Sudah ee usia balig tapi
- alhamdu apa? Tetapi saya belum bisa
- melaksanakan perintah salat lima waktu.
- Li waktu sama
- kepada penanya pertama saya katakan
- sudah gak apa-apa.
- Enggak apa-apa kepada penanya-pertanya
- tapi kepada pertanyaan kedua enggak
- boleh. Kamu harus salat.
- Beda jawaban
- beda pertanyaan padahal sama.
- Yang satu bela memeluk belum memeluk
- Islam baru ikut-ikutan kajian
- ikut mendengarkan ceramah. Ustaz, saya
- sudah balik tapi saya belum salat.
- Karena dia belum memeluk Islam ya sudah
- gak apa-apa kan begitu.
- Kalau yang sono sudah syahadat
- muslim.
- Muslim yang memisahkan antara muslim dan
- kafir adalah tarqu salat. Meninggalkan
- salat. Masa ditolelir gitu loh. Gitu ya.
- Ah, maka kemudian enggak enggak boleh
- kamu. Kamu sudah harus melaksanakan kamu
- sudah syahadat. Kalau kamu ee
- meninggalkan salat maka syahadatmu
- batal.
- Begitu kan jawabannya, persoalannya kan
- sama, tapi latar belakangnya berbeda.
- Nah, latar belakang itulah yang
- mengakibatkan bedanya memberi hukum,
- muktadal halnya yang membedakan gitu ya.
- Oke. Baik. Masyaallah, menarik sekali.
- Jadi,
- maka oleh sebab itu ahli hukum itu ya
- memang harus teliti loh kenapa ustaz
- sama dia mah boleh sama dia tidak boleh.
- Apa harus maksa sama orang kafir? dia
- masih kafir kok belum syahadat kan
- begitu. Nah, adapun dia sudah pasrah,
- sudah meyakinan ke maka oleh sebab itu
- juga kita tidak boleh maksa. La iqraha
- fiddin. Hikmah la iqraha fiddin itu
- nanti orang mengamalkan syariatnya itu
- karena tuntutan hati,
- bukan keterpaksaan.
- Maka kalau bisa hindari apa? Mantu kita
- supaya masuk Islam karena mau menikahi
- putri kita. hindari itu
- loh. Lalu gini berarti dia biarkan aja
- menikahi anak kita dalam keadaan dia
- masih kafir. Bukan. Dakwahi dulu.
- Jelaskan Islam tu bagaimana. Tet
- sampai dia sendiri paham gitu loh. Dia
- sendiri sudah siap. Karena
- konsekuensinya kalau sudah memeluk Islam
- kemudian dia murtad lagi ada
- konsekuensinya. Di antaranya apa?
- Dibunuh. di antaranya tuh tuh lebih baik
- jangan memeluk Islam dulu sampai dia
- paham betul, siap betul gitu gitu ya.
- Oke. Baik. Nah, maka oleh sebab itu
- bukanlah kita bukan hanya karena ingin
- memperbanyak umat Nabi Muhammad gitu ya.
- Ya, itu juga itu efek saja memperbanyak
- umat Nabi Muhammad. Tapi yang paling
- penting dakwah itu bukan memaksa, tapi
- dakwah adalah menjelaskan. Dakwah
- mengakibatkan orang paham. Dakwah
- mengakibatkan orang menjadi tertarik
- dengan sendirinya kepada Islam.
- Tuh, maka itu beda dakwahnya. Ketika
- mereka n Wah, Islam itu apa? Memaksa
- anak saya supaya jadi muslimah.
- Maksa apaan kan gitu? Wong tidak ada
- konsepnya di kita. La iqraha fiddin.
- Kenapa tidak ada paksaan?
- itu artinya sungguh telah jelas yang
- lurus daripada yang bengkok. Artinya
- kita menjelaskan yang lurus.
- Oh ni misalnya dek
- emas tidak akan mengganggu keyakinan
- adik. Silakan adik agamanya agama apa.
- Hanya saja emas tidak berani menikahi
- adik karena nanti di hadapan Allah Mas
- akan ditanya.
- Ya pikir-pikir aja dulu gituah. Kalau
- memang kita harus pisah ya pisah aja
- baik-baik. Meskipun sesungguhnya kita
- boleh menikahi perempuan ahli kitab
- meskipun nanti ee terjadi perdebatan oli
- kitab sekarang sudah enggak ada.
- Iya. Ahli kitab
- gitu ya. Nah, gitu. Ahli kitab. Nah,
- oleh sebab itu paling tidak adalah
- mereka yang beragama sesuai dengan agama
- mereka. Sesuai dengan apa? Tuntutan
- tuntutan dan tuntunan kitab mereka.
- meskipun banyak penyimpangan supaya
- nanti kalaupun dinikahi didakwahinya
- dengan kitab itu.
- Makanya di salah satu hikmah kenapa kita
- tidak boleh menikahi perempuan
- musyrikah. Karena orang musyrik enggak
- punya kitab suci
- sehingga tidak punya rujukan
- gitu loh. Makanya oh kalau dia punya
- rujukan berarti artinya apa? kita bisa
- mengkaji, mempelajari kitab mereka di
- mana yang berbeda dan di mana yang
- sejalan gitu loh. Yang berbeda berarti
- diluruskan gitu loh ya dengan kitab ee
- karena Al-Qur'an itu pelurus kitab-kitab
- yang ada pada saat itu ya. Karena ada
- kitab-kitab sebelumnya diturunkan oleh
- Allah kepada para rasul. Kemudian
- sejalan dengan perkembangan waktu
- kemudian mereka melakukan tahrif.
- Tahrif itu perubahan.
- Apa bedanya? Ah, tapi di kita juga
- tahrif ada apa? Iya, mentakwil itu kan
- tahrif berarti merubah. Beda, Mas. Kalau
- tahrif itu ada dalilnya.
- Kalau ee kalau eh kalau takwil itu ada
- dalilnya sehingga harus mentakwil. Tapi
- kalau tidak ada dalilnya tiba-tiba
- dipahaminya begitu, nah itu tahrif.
- Tahrif
- gitu. Nah, oke. Gitu ya. Maka oleh sebab
- itu ini dari lisan. Yang kedua,
- ee hendaknya kita ee apa namanya?
- Tinggal di rumah ya. Kalau kita
- keluyuran keluar rumah tidak bisa
- mendapatkan manfaat ya, baik mejeng,
- nongkrong gitu kan. Ah, mejeng atau
- nongkrong boleh kalau mau mendakwahi
- teman-temannya.
- Tapi kalau kamu ikut larut, nongkrong,
- mengganggu orang yang apa yang lewat,
- maka sebaiknya sudah di rumah aja lah.
- Zikir, perbanyak zikir, baca Quran.
- Memperbanyak zikir itu lebih baik.
- Masyaallah. lebih baik.
- Subhanallah.
- Subhanallah. Subhan lisanmu itu akan
- memperkuat, memperkokoh semua panca
- indra.
- Ketika lisanmu banyak menyebut nama
- Allah, maka panca indra ini pun akan
- senantiasa ingat kepada Allah. Ketika
- lisanmu terpelet, ketika lisanmu juga
- maksiat, maka panca indra ini pun bisa
- ikut terseret.
- Jadi kalau di dalam hadis lain ee yang
- menjadi komando itu hati, dalam hadis
- ini komandonya adalah lisan.
- Tuh loh kalau gitu. Nah, maksudnya
- masing-masing panca indra itu saling
- mempengaruhi.
- Maka sekarang babnya bab membahas lisan.
- Iya.
- Nah, maka lisan yang harus dijaga.
- ketika membahas hati, hati yang harus
- dijaga gitu.
- Iya
- ya. Karena tangan juga, pikiran juga,
- kaki juga mempengaruhi yang lain. Ah,
- maka oleh sebab itu masyaallah la haula
- wala quwwata illa billah. Maka kenapa?
- Kenapa Nabi ketika memp tadi bertahap
- supaya fokus?
- Oh, bahas hati. Oh, jadi hati.
- Kesimpulannya, oh hati harus senantiasa
- dijaga di jalan Allah. Bab lisan
- kesimpulannya, oh berarti kita harus
- menjaga lisan karena hati mempengaruhi
- panca indra sebagaimana juga lisan
- mempengaruhi panca atau indra-indra yang
- lain
- gitu ya. Oke. Baik. Nah, ini para ikhwan
- sekalian. Jadi mutiar yang dapat kita
- ambil ee yang tadi ya menangisi dosa.
- Jadi menangisi dosa itu bukan sekedar
- menangisi tetapi bertobat.
- Tabayat tubuh kembali ke jalan yang
- lurus ke jalan yang benar. Misalnya kita
- bertobat dari memfitnah. Berarti kita
- berhenti memfitnah menyadari bahwa itu
- sebuah kesalahan. Kemudian lisan kita
- asalnya fitnah diisi dengan kalimatul
- haqqi atau kalimatut thayibah.
- Subhanallah,
- walhamdulillah,
- walailahaillallah
- wallahu akbar.
- Nah, gitu ya. Jadi mengganti apa?
- Ghibah.
- Ah, mengganti fitnah diganti dengan
- kalimatut thayibah atau kalimatul haqqi
- gitu ya. Oke. Baik. Nah, mutiara yang
- dapat kita gali dari hadis ini ya
- anjuran menjaga lisan dan sibuk dengan
- urusan pribadi apabila ia tidak sanggup
- memberi manfaat kepada orang lain atau
- khawatir agama dan dirinya rusak ketika
- bergaul dengan banyak orang. Dari
- sinilah kita tahu
- kenapa ada ujlah.
- Ujlah apa? Ujlah itu menyendiri ke
- gunung.
- Hah? Ujlah menyendiri di dalam gua.
- Kemudian dia beribadah gimana? Ya gak
- masalah. tadi asal. Oh, masa iya orang
- kan mestinya iya kita ini kadang begini
- memahami syariat seakan-akan syariat itu
- untuk disamakan si A dengan si B dengan
- si C itu kewajibannya sama. Padahal
- tidak
- ada orang mampu
- berdebat, berdiskusi, berdialog,
- berdakwah di hadapan khalayak.
- Tapi ada orang yang tidak mampu bahkan
- cenderung terpengaruh.
- He. Nah, orang yang cenderung
- terpengaruh sudah biarkan ujelah-ujelah
- saja punya pila misalnya di [tertawa]
- ya kan bisa penging kan bisa begini.
- Kalau dulu kan ilustrasinya di gua
- sekarang sudah suruh di pula di pilanya
- aja suruh ibadah di situ bawa
- keluarganya kalau dia kesepian kan
- begitu.
- Nah, jadi tidak ada masalah. Jadi ujlah
- oh dengan pemahaman yang benar. Tapi
- ujlah itu jadi bukan menyendiri sengaja
- menghindari dakwah. menghindari jihad
- itu jadi salah. Tapi kalau menghindari
- fitnah karena ketidakmampuannya tidak
- ada masalah. Nah, kan sesungguhnya
- narasinya itu yang harus dilihat gitu.
- Maka sesungguhnya setiap kejadian itu
- ada dua versi.
- Ujlah itu haram, tapi juga ujlah
- disyariatkan.
- Ujlah haram ketika itu tempat pelarian
- dari jihad dan dari dakwah.
- Wah, saya enggak mau dakwah lah. Saya
- enggak mau jihad, sembunyi aja. Haram
- jadinya.
- Tapi sekali lagi kalau dia lemah dari
- agama seperti tadi, kalau gaul kan mohon
- maaf saya di beberapa masjid banyak
- dinanya, "Ustaz, saya kan bekerja kerja
- sama dengan perusahaan Jepang."
- Nah, sebelum ada misalnya ada
- pertemuan-pertemuan
- jadi sebelum membahas kerja sama itu
- minum arak dulu.
- Gimana semestinya, Ustaz?
- A coba saya harus jawab gimana? Pertama,
- antum harus menunjukkan bahwa antum
- muslim.
- Katakan, "Maaf, saya muslim. Saya tidak
- minum arak." Itu kalau bisa.
- Wah, saya tidak bisa cari kerjaan lain.
- Saya bilang [berdehem] gitu. Sehingga
- Anda terhindar dari maksiat. Waduh, kan
- tidak gampang nyari pekerjaan sekaligus.
- Lagi-lagi tuh ini logika logikanya.
- Tetapi saya ingin memahami ya memahami
- apalagi zaman sekarang nyari pekerjaan
- susah. Oke kalau gitu anta antum minum
- araknya pura-pura
- [tertawa]
- lah. Gimana pura-pura katanya?
- Iya ambil selokinya. H padahal tidak
- diminum gitu loh. Kalau itu kategorinya
- aman udah itu aja ambil.
- Wah sulit itu
- ya gitu ya saya bilang. [tertawa] Tapi
- sekali antum lebih bagus udah cari
- kerjaan yang lain. Allah akan buka
- kalian. Yang penting antum yakin cari
- pekerjaan sejak sekarang. Kumpulkan
- duitnya untuk modal atau untuk apa?
- Bekal mencari pekerjaan lain.
- He
- banyak itu. Jadi paling tidak ada tuh di
- beberapa masjid saya ditanya seperti itu
- gitu. Sehingga saya aduh gimana sih
- kalau kemudian udah tinggalkan kan
- haram. Ee itu kan sifat syariat tadaruj
- bertahap.
- H
- dia kalau mungkin kan makanya saya
- seringkiali melihat latar belakang dia
- pendidikannya apa. Kalau misalnya
- misalnya ya seperti ee mohon maaf kan
- saya sering membandingkan kata lulusan
- S2 atau S3 dengan lulusan SD
- di pekerja di sebuah perusahaan yang
- nota bene itu kategorinya sebagian ulama
- menghukuminya haram.
- Masa misalnya bekerja di tempat minuman
- keras. He.
- Ustaz, boleh enggak saya ini melanjutkan
- bekerja di sini? Antum siapa? Saya fulan
- lulusan S3
- market apa namanya? Ee ekonomi pemasaran
- ya misalnya gitu ya. Karena pemasaran.
- Hm. Terus ee jabatannya apa? Saya
- manajer marketing.
- Hm. Berapa gaji per bulan? Tidak kurang
- dari R juta.
- Sudah keluar? Keluar, Ustaz. Iya,
- keluar. Kapan? Sekarang juga kamu
- keluar. Saya bilang gitu. Aduh, saya
- baru kerja 5 tahun kok sudah. Iya.
- Daripada kemudian itu mudarat. Kenapa
- saya langsung keluar? Kamu kan mesti
- punya tabungan. Masa sebulan habis tuh
- sekian puluh juta misalnya gitu. Paling
- tidak kamu punya tabungan. Ketika kamu
- mencari pekerjaan, kamu punya tabungan
- tuh. Tabungan dipakai untuk mematuhi
- kebutuhan.
- Iya.
- Habis, Ustaz, tabungan saya. Kamu kan
- lulusan S3. Mikir buat pekerjaan baru.
- Jangan nyari kerjaan.
- Membuat pekerjaan baru. Tuh, gitu.
- Ah, jadi tapi kalau yang nanyanya anak
- SD yang enggak penghasilnya cuma R juta
- gitu kan, Ustaz? Gimana saya? Kenapa?
- Iya, saya pulang kerja di PT ini gaji R
- juta atau UMR lah. UMR ya. Ah, kamu
- kerja aja dulu terus nabung dulu ya.
- Nah, setelah nabung kemudian kamu apa
- namanya? ikut pelatihan-pelatihan bikin
- mie ayam kayak apa. Nah, kalau sudah
- nguasai, nah kamu keluar.
- Kamu modalnya sudah punya bikin gerobak,
- bikin kamu jadi jualan mie ayam. Itu
- lebih mulia di Bandung kamu kerja
- meskipun jadi office boy, meskipun jadi
- cleaning service, tapi di tempat
- perusahaan syubhat bahkan haram. Tuh,
- gitu ya. Paham ya? Ya, Ustaz jazakallah
- khairan. Wakum amin. Saya bilang. Nah,
- ada juga yang begitu. Masyaallah. Nah,
- oke. Baik. Nah, ini para ikhwan
- sekalian. Jadi, menjaga lisan dan sibuk
- dengan urusan pribadi itu menjadi
- sesuatu yang harus didahulukan. Tiib.
- Abi said alkudri radhiallahu anhu
- nabiahu wasamnikaqtaqna
- waajna
- rohuzi
- asha ibnu adam apabila anak adam
- berpagi-pagi. Nah, gitu ya. Di pagi-pagi
- sesungguhnya semua anggota badan ya fa
- anggota badan kaha seluruhnya tuffirul
- lisan memperingatkan. Tukafiru itu
- sesungguhnya asalnya tukffiru itu
- menyembunyikan. Maksudnya itu ee
- dinasehati itu si lisan sehingga tidak
- nampak zahirnya karena tertutup dengan
- nasihatnya. Tuffirul lisan artinya
- mengingatkan memperingatkan lisan.
- Takulu maka si a'd anggota badan tadi
- mengatakan ittaqillahi fina. Bertakwalah
- kepada Allah dalam urusan kami, dalam
- kondisi kami. Gitulah. Fainnama nahnu
- bik. Karena sesungguhnya kami ini
- tergantung kamu. E bika itu bersamamu.
- Fainqta
- istaqomna wa
- wajta
- wajna. Jadi gitu ya. Takutlah kepada
- Allah dalam melihat keselamatan kami.
- Karena nasib kami tergantung kamu. Bila
- kamu lurus
- maka kami pun lurus dan bila kami
- bengkok maka kami pun bengkok. Kama qulu
- lakum. Sebagaimana tadi telah saya
- jelaskan. Mutiara-mutiara yang dapat
- diambil dari hadis ini. Pertama, urgensi
- menjaga lisan demi keselamatan
- seseorang.
- Hal itu karena lisan merupakan delegasi
- dan penerjemah hati. Manusia itu
- bergantung pada dua benda kecil pada
- tubuhnya, yaitu lidah dan hatinya. Nah,
- ini ee pensyarah menyimpulkannya. lidah
- dan hatinya. Tapi bisa saja ya lidahnya,
- ya hatinya ya pikirannya ya akalnya gitu
- loh ya. Jadi maksudnya itu adalah
- semuanya adalah ada ee korelasinya, ada
- hubungannya ya ee ada munasabahnya.
- Nah, munasabah gitu ya. Oke. Kemudian
- anggota badan itu terpengaruh secara
- negatif oleh dosa dan maksiat yang
- dilakukan anggota badan lain, gitu ya.
- Oke. Baik. Hadis ke ee hadis ke-12 ini
- agak panjang. An Muad radhiallahu
- berkata, "Qlu ya Rasulullah." Aku
- berkata kata Muad kepada Rasulullah. Ya
- Rasulullah, akbirni, kabarkan kepadaku
- biamalin dengan satu amalan yudilunil
- jannah yang dapat mengakibatkan aku
- masuk surga. Waubiduniinar
- dan menjauhkan aku dari neraka. Ikhwan,
- kita tidak berdebat.
- Sekali lagi kita tidak berdebat. Apakah
- kita masuk surga itu karena rahmat Allah
- ataukah juga diukur dengan amalan yang
- kita lakukan? Sekali lagi saya tidak
- berdebat
- gitu ya. Tapi ada hadis yang menyatakan
- begitu.
- He
- akbirni gitu ya. Biamalin yudkilil
- jannata wubiuni
- baiduni
- minar aninar.
- Ya Rasulullah, kabarkan kepadaku dengan
- satu amalan yang dapat memasukkan aku ke
- dalam surga dan menjauhkan aku dari
- neraka. Qala Nabi menjawab, "Qal laqad
- saaltazim."
- Engkau telah bertanya dengan tentang
- sesuatu yang sangat besar, sangat berat,
- sangat agung.
- Wa innahu yasirun ala yassarahullah.
- Karena sesungguhnya layasirun la yasirun
- benar-benar akan dibunahkan ala man atas
- orang yassarahullahu
- taala alaih yang Allah mudahkan atasnya.
- Sekali lagi ini kuncinya di sini
- ternyata kamu nanya sesuatu yang berat.
- Nah itu hanya orang yang melakukannya
- dengan mudah. Hanya orang-orang
- dimudahkan oleh Allah. Nah, kembali
- wajar kalau kesimpulannya bahwa oh
- seorang masuk surga itu bukan amalannya,
- tapi karena rahmat Allah. Tapi ada orang
- tetap k ke enggak ini hadisnya kok
- begitu kok. Ah, maka saya tidak
- berdebatlah gitu ya.
- Jadi apa itu yang di ta'budullaha la
- tusriku bihi saia. Engkau mengibadahi
- Allah dan tidak mensyirikatkannya dengan
- sesuatu pun. Satu tuh ya. Ini apa modal
- untuk masuk surga dan dijauhkan dari
- neraka?
- Engkau menegakkan salat dengan benar,
- dengan khusyuk kan. Wah, gimana sih
- ustaz jelaskannyaimus salat itu kan
- menegakkan salat kok harus khusyuk,
- harus ini.
- Dan kau mengerjakan salat dengan
- khusyuk, dengan baik, dengan konsentrasi
- gitu. itu pemaknaan dari tuqimu.
- Pemaknaan dari tuqi tuqimu. Tuqimu itu
- maknanya seperti tadi bisa seperti tadi.
- Jadi bukan hanya mengerjakan salat
- tetapi harus khusyuk,
- harus fokus ya. Khusyuk itu fokus
- memahami ee apa? Fokus dalam bacaan.
- Memahami bacaan gitu ya. Heeh.
- akah dan engkau membayarkan zakatumu
- Ramadan dan engkau berpuasa Ramadanul
- dan engkau berhaji ke albait albait
- almurad yang dimaksud adalah baitullah
- gitu ya apa al masjidil haram
- ini jika kamu mampu ilaisa bila menuju
- kepadanya smma qala kemudian nabi
- berkata lagi, alul abwabilir. Maukah aku
- tunjukkan pintu-pintu kebaikan?
- Asumu junah. Puasa itu adalah perisai.
- Wasodqatu tufiul khai dan sodqah itu
- menutupi kesalahan-kesalahan.
- Di sini juga bisa bermakna memadamkan.
- yfiular
- sebagaimana air memadamkan api itu
- kebaikan.
- Jadi kita melakukan kesalahan itu
- berarti di badan kita ada api banyak.
- H
- astagfirullahalazim
- misalnya cukup sekali itu sama diguyur
- pakai air. Tapi ada kalanya kalau apinya
- besar enggak cukup pakai air sedikit.
- Harus pakai blandwir, harus pakai mobil
- kan begitu. Iya.
- Nah, istigfar juga begitu. Enggak cukup
- istigfar 10 kali atuh dosa besar begitu
- gitu tetap ada masih menyala. Nah, maka
- perbanyaklah istigfar ya gitu ya. Aksiru
- perbanyaklah ee apa? Aksiru ee apa
- namanya? Istigfarikum.
- E aksiru istigfarokum.
- Perbanyaklah istigfar kamu gitu ya.
- Eh, wasatul rajuli min jaufil. Dan salat
- seorang lelaki minu lail di tengah
- malam. Jadi, gitu ya. Jadi pertama
- puasa sodqah gitu kan dan salat malam.
- Kemudian Nabi sallallahu alaihi wasallam
- menjawab membaca ayatta
- balag sampai kepada yalun
- ala ukbirukail amr. Maukah aku jelaskan,
- aku tunjukkan
- dengan ya bir alam. Ri itu kepala, alamr
- itu urusan. kepalanya urusan artinya
- inti persoalan gitu. Wa amudihi dan ee
- amud imad dan tiang-tiangnya
- wirwati sanami gitu ya. Heeh. Nah, jadi
- ee seperti itu apa-apa sebagai ee apa
- namanya?
- Ee oke, sebentar ee kami berikan. Maka
- tidak seorang pun mengai apa yang nah
- itu kan dari maka tidak seorang pun apa?
- Oke. Kemudian beliau bersabda, "Maukah
- kalian kutunjukkan pokok?" Ya. Jadi apa
- tadi? Rasul umur, rasul amri.
- Ee pokok dari tiang dari segala sesuatu
- sentud apa namanya? Ee apa namanya? Ee
- sanamil sanamihi puncaknya.
- E jadi ee pokok persoalan dan puncaknya.
- Kemudian qulu aku berkata kata Muad bala
- ya Rasulullah jelas saya kami mau wahai
- utusan Allah qala rasul amri Islam. Ah
- jadi ee pokok pangkal persoalan itu
- adalah Islam wauduhusah
- dan tiang-tiangnya adalah salat.
- Dan puncaknya adalah aljihadmaq.
- Kemudian Nabi berkata lagi, "Ala ukiruka
- bimqalika
- kullih."
- Ee maukah kalian kutunjukkan pilar
- penopang semua itu? Aku menjawab, kata
- siapa? Kata Muad, "Ya Rasulallahi."
- Kemudian beliau memegang, mengambil
- mengambil lisannya, lidahnya. Qalaf
- alaika h jagalah ini.
- Kuf.
- Nah, kufika hadza. Kuf itu ee ya apa?
- Peganglah.
- Nah, apa e atau misal tutuplah pegang
- tutup karena kafful basar menutup mata.
- Ah, berarti peganglah. Ah, maksudnya
- kendalikan gitu loh. Kendalikan lisanmu.
- Qulu ya Rasulullah, aku berkata lagi,
- "Wahai utusan Allah, wa inna bima
- natakamu bih."
- Apa namanya? Apakah kami akan dituntut
- terhadap apa yang kami katakan? Faqala
- sakilat kaum ummuk. Celaka kamu. Begitu
- maksudnya. Sakilat kaum ummuk. Celaka
- ibumu itu maksudnya celaka kamu. Manusia
- tidak tersur ke dalam neraka melainkan
- akibat dari lidah mereka. Rawahu
- Tirmidzi. Ee hadis ini diriwayatkan oleh
- Imam at-Tirmidzi. Waqala dan telah
- berkata Imam at-Tirmidzi, "Hadisun
- hasanun shah." Hadisnya hasan shah. Nah,
- penjelar-mutiar yang dapat kita ambil?
- Penjelasan tentang urgensi setiap rukun
- Islam. Kemudian penjelasan tentang
- bahasa lisan dan bahwa apabila ia tidak
- dijaga dari perkataan buruk maka ia
- menjadi penyebab empunya dibolak-balik
- di dalam neraka. Nauzubillahi min. Dari
- demikian saya kira ee
- penjelasan tiga hadis sebagai pengantar
- dalam kajian kita pada sore hari ini.
- Wasallallahu ala nabiina Muhammadin.
- Wallahu aam bisawab.
- Alhamdulillahabbil alamin. Wallahuam
- biswab. Jazakumullahiran kir ustaz.
- Demikian ikhwan akhwat tiga hadis yang
- sudah diajarkan Ustaz Ahmad Saleh kepada
- kita. Baik, tetap di radio silaturahim.
- Kami akan segera kembali setelah nada
- takwa berikut.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Terima kasih
- Ikhwan masih bersama Radio Silaturahim.
- Saat ini ada senang menyaksikan siaran
- live tausiah sore bersama Ustaz Ahmad
- Saleh MA. Alhamdulillah kita sudah di
- sesi kedua, sesi tanya jawab. Sebelum
- kita membacakan pertanyaan ikhwan
- akhwat, kami akan membacakan atensi dari
- ikhwan akhwat yang sudah masuk. Pertama
- dari Pak Arwin. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Terima kasih, Ustaz, atas tausiah dan
- nasihatnya.
- Nah,
- semoga Ustaz dan pendengar radio
- silaturahim serta pejuang dakwah selalu
- dalam keadaan sehat walafiat.
- Kemudian dari Ibu Ani Hani.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Semoga Ustaz selalu
- sehat walafiat. Alhamdulillah hadir
- penyimak Ustaz di radio pencerahan
- tausiah sore.
- Alhamdulillah.
- Kemudian Ibu Retno. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah. Ustaz hadir menyimak
- tausiah sore. Semoga Ustaz Ahmad Saleh
- dan Kurasil sehat selalu. Amin. Kemudian
- ada Ibu Ida di Bekasi.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Terima kasih, Ustaz, atas ilmunya.
- Alhamdulillah hadir menyimak, Ustaz.
- Barakallahu fikum.
- Kemudian
- ada Ibu Darma di Bekasi.
- Sekarang kita akan bacakan pertanyaan
- pertama dari Bapak Rohili di Pulau
- Gebang.
- Nam.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz, izin bertanya. Apabila kita
- menggunjing atau memfitnah seseorang,
- apakah benar semua pahala ibadah yang
- kita kerjakan dipindahkan ke orang yang
- kita fitnah, Ustaz?
- Naam. Masyaallah. Itulah kenapa kita
- harus menghindari gibah,
- menghindari fitnah. Karena yang digibahi
- atau yang difitnah itu mendapat
- keuntungan justru dari kita gitu ya.
- Jadi kebaikan kita ditransfer kepada
- mereka sampai kita bertobat dan meminta
- maaf. Minta maaf.
- Nah, kalau tobat dan minta maaf kembali
- lagi. Tetapi dia tetap dapat kebaikan
- karena sudah digibah.
- Nah, jadi gini dia digibah, transfer tuh
- kebaikan kita ke dia. Kemudian kita
- tobat, minta maaf sama dia. Sekali lagi
- nanti ada pembahasan tuh kalau minta
- maaf. Tapi intinya ketika kita menyadari
- bahwa itu sebuah kesalahan, gibah dan
- fitnah itu salah. Kemudian setelah kita
- menyadari kesalahan, kemudian bertobat,
- memperbaiki diri gitu kan. Kemudian
- minta dihalalkan, antum minta maaf.
- Nah, tetapi kemudian para ulama berbeda
- pendapat dalam meminta maaf. Kan ada
- kalanya orang tidak tahu karena kita
- membicarakan di belakangnya gitu loh.
- Kemudian tiba-tiba minta maaf. Aduh, aki
- minta maaf ya. Kemarin saya ngomongin
- antum yang asalnya tidak tahu jadi tahu
- kan begitu. Nah, yang tadinya asalnya
- tidak ada apa-apa jadi ada apa-apa
- karena dia minta maaf. Maka kata ulama,
- sudah kalau itu belum sampai kepada si
- yang digibahi, maka tidak perlu gitu
- loh. Jika fitnah itu juga tidak sampai
- kepadanya gitu loh, maka tidak apa-apa.
- Tapi kalau sudah menyebar kemudian ini
- dia harus mengakui, saya yang
- menyebarkan fitnah saya mohon maaf dan
- saya akan klarifikasi. Sesungguhnya itu
- adalah fitnah saya karena saya dengki
- atau iri sama dia. Ada enggak yang
- begitu? Nah, kan tetapi paling tidak
- semuanya intinya adalah semuanya menjadi
- clear. Dari mana tahunya? Dari tujuan
- syariat. Tujuan syariat itu untuk
- kemaslahatan, untuk kebaikan.
- Jadi, semua jalan yang menunjuk kepada
- kebaikan itu yang disyariatkan. Makanya
- tadi meskipun sebaiknya memohon maaf
- sekali lagi, tapi kalau mohon maaf bisa
- mengakibatkan persoalan baru, maka jadi
- tidak dianjurkan
- gitu ya. Karena tujuan syariatnya jadi
- tidak tercapai. He.
- Yang tadinya biasanya ee beres roes gitu
- ya, damai sejahtera gitu. Tiba-tiba
- dengan mohon maaf, oh kamu rupanya kan
- begitu. Begitu juga misalnya, mohon maaf
- ya,
- ada orang yang misalnya ketika
- bersahabat mencuri apalah pokoknya mau
- benda atau mau apa mencuri.
- H
- sudah bertahun-tahun dia kemudian
- menjadi orang sukses. Ingat pada
- dosanya. Aduh dulu saya ngambil dompet
- dia isinya itu Rp500.000 di dompetnya
- gitu ya. Kalau kemudian nanti dia datang
- minta maaf, akhi afan 5 tahun yang lalu
- yang ngambil dompet ente itu anak.
- Oh, jadi kamu kan jadi masalah. Nah,
- maka oleh sebab itu bawalah misalnya
- dihitung dengan kursus. Misal kalau
- dihitung dengan kursus atau paling tidak
- R500.000 itu dibawa. Akhi alhamdulillah
- nih ana dapat rezeki ya nih buat antum
- ya.
- gitu. Nah, kan kalau itu kan tidak akan
- ini. Tetapi niat kita adalah
- mengembalikan haknya. Udah enggak usah,
- enggak usah kata dia misalnya enggak
- usah enggak usah saya punya gak ini hak
- antum.
- Nah, ini hak antum. Kenapa antum sahabat
- saya?
- Lebih baik gitu ya.
- Lebih baik begitu gitu loh ya. Atau
- tiba-tiba kalau tahu tiba-tiba transfer
- aja ke rekeningnya. H
- misal aduh ini kok kata si pemilik
- rekening atau kata sahabatnya kok
- tiba-tiba ini ada yang masuk nih
- R500.000 dari siapa ya? Meskipun bisa
- dilacak tetapi kan bisa saja kita juga
- minta minta dirahasiakan kepada petugas
- banknya
- gitu ya. Jangan dikasih tahu dari
- siapa-siapanya meskipun misalnya kan ada
- yang melalui nomor rekening ini kan
- kalau sekarang mesti ada nomor
- rekeningnya tapi kan nomor rekening juga
- bisa tidak dimunculkan. Nah, maka oleh
- sebab itu ee para ulama berdebat ya ee
- mana yang lebih bagus, mana yang lebih
- bagus itu kan begini, ada tuntutan
- syariat, ada efek dari syariat.
- Efek dari syariat.
- Kalau efek dari syariat itu baik,
- berarti penetapan syariat diaplikasikan.
- Tapi kalau efek dari syariat itu menjadi
- buruk, maka syariat itu jangan dulu
- diaplikasikan.
- gitu loh. Kenapa lah tujuan syariat itu
- damai kok jadi ribut?
- Berarti tidak sampai kepada tujuannya.
- Maka oleh sebab itu kenapa kemudian dari
- situlah dipahami kenapa Nabi
- mensyariatkan segala sesuatu itu
- bertahap.
- H
- nah karena oh sahabat sudah siap
- menerimanya.
- Oh sahabat belum siap menerimanya.
- Sehingga kan kemudian Nabi pernah
- berijtihad.
- Ada sahabat Ansar kan ada ketika
- peperangan kemudian Gonimah dibagi
- kepada sahabat Anshar dengan
- sahabat-sahabat yang dari luar ansar
- dari luar Madinah.
- Muhajirin bukan Ustaz?
- Muhajirin. Muhajirin ee ya lebih apa nam
- Muhajirin tapi bukan Muhajirin. Kalau
- Muhajirin kan sama-sama tinggal di
- Madinah.
- He.
- Para para pemeluk Islam yang baru. Maka
- oleh Nabi diberi banyak lebih.
- Sehingga sahabat dari Madinah, Ansar
- protes. Ittaqillah ya Rasulullah.
- Bertakwalah engkau kepada Allah.
- Bersikap adillah engkau. Tuh coba kata
- Nabi, siapa lagi yang disebut adil kalau
- Allah dan Rasulnya sudah dianggap tidak
- adil? Kenapa? Oh, ini berarti
- ketidaksiapan sahabat. Kenapa? Karena
- belum ada penjelasan.
- Kemudian Nabi menjelaskan, "Kamu
- mendingan mana? pulang bersama aku,
- bersama Rasulullah atau bersama gonimah?
- Saya rida bersama engkau. Ah, itulah
- sebabnya mereka dikasih gonimah banyak
- untuk menghibur hati mereka
- kalau tidak bersama Rasul.
- Kalau karena tidak bersama Rasul, adapun
- kamu, aku ikut bersama kamu. Nangis
- kalau gitu saya rida ya Rasulullah. Tuh,
- asalnya kan dia nolak.
- Iya.
- Karena tidak paham. Setelah paham
- maqasidnya, setelah paham maksud Nabi
- memutuskan itu, baru saya rida ya
- Rasulullah. Nah, maka maqasid itu
- menjadi penting.
- Nah, maka oleh sebab itu kadang mohon
- maaf misalnya ada ustaz ditanya tadi
- jawabnya A, ustaz yang lain ditanya lagi
- persoalannya sama jawabnya B. Enggak
- usah diadu-adu. Eh, Ustaz Anwar bilang
- begini, Ustaz Anak, enggak apa-apa.
- Dua-duanya benar kok. Kenapa? Karena
- Ustaz A itu beranjak dari pemahaman A,
- Ustaz B beranjak dari pemahaman B.
- Kalaupun salah, insyaallah dapat pahala.
- Insyaallah ya. Nah, kalau sudah
- kategorinya mujtahid
- kan begitu. Nah, seringkiali ya mohon
- maaf ya e kan ada ustaz yang ditanya
- kadang tidak menyebut dalil sing ih si
- ustaz ini enggak pakai dalil main jawab
- jawab aja persoalannya menarik sesungnya
- setelah dianalisa
- jadi dalil itu isyarat itu dalil itu
- isyarat maksudnya isyarat itu bisa
- diambil dari mana-mana selama
- kesimpulannya mengantarkan kepada
- kebaikan maka itu masyru maka itu
- disyarat syatkan
- kan seperti tadi ya. Ya Rasulullah,
- boleh enggak saya mencium istri saya
- saat berpuasa? Gak boleh. Ya Rasul,
- boleh enggak saya mencium istri saya
- saat berpuasa? Boleh loh kan jawabannya
- beda
- tadi. Karena apa? Karena yang bertanya
- kondisinya berbeda.
- Nah, dalam kondisi kok bisa beda ya?
- Nah, seringkiali kita masih memahaminya
- beda atau tidak samanya gitu loh.
- Padahal beda dan tidak sama sangat
- tergantung si ustaz sebut narumber
- tersebut mengambil argumentasinya dari
- mana.
- Kan narasumber juga bukan orang yang
- menguasai 1000 kitab kan. Paling tidak
- ada yang baca 10 kitab, ada yang baca
- 100 kitab, ada yang membaca kan
- masing-masing. Nah, meskipun dia baca
- 1000 kitab kan tidak semuanya harus
- dijelaskan 1000 kitabnya
- kan. Oh, ini pertanya pernanya begini
- paling jawabnya ini
- satu kitab.
- Nah, satu kitab ini. Padahal satu kitab
- ini juga ada pembahasan panjang.
- Iya. tuh gitu loh. Nah, maka oleh sebab
- itu kita bersyukurlah ya masih punya
- narasumber yang mau menggali menjelaskan
- syariat. Sekali lagi salahnya para
- mujtahid masih dapat satu pahala
- loh. Tapi Ustaz berarti sudah mendudukan
- dengan satu mujtahid. Bukan dengan
- kelemahan saya pun mengemukakan mengutip
- pendapat ulama, mengutip mengkaji,
- mentalaah beberapa penemuan-penemuan
- para ulama baru
- kan begitu. Nah, mohon maaf kadang ulama
- ada ulama lain menemukan pendapat baru
- kita kemukakan dan jemaah banyak yang
- belum tahu penemuan ulama baru itu
- dianggapnya nyeleneh. Loh, kok begitu
- sih? Ya, karena Anda biasanya dengar
- pendapat ulama-ulama ini, Anda tidak
- dengar pendapat ulama ini. Nah, kalau
- sudah kalau sudah seperti itu nanti
- dihubungkan
- gitu dihubungkan maka kita akan
- menemukan tidak ada yang salah
- gitu ya. Nah, itu menarik tuh. [tertawa]
- Lah, kalau gitu berarti serba boleh
- enggak?
- Hm.
- Memang kita harus selalu menyalahkan
- orang yang benar
- apa? Ada pendapat benar nih pendapat
- kamu. Masa semuanya harus disalahkan?
- Karena pendap apa? Kan gara-gara tidak
- semuanya harus diterima.
- Tidak semua harus diterami. Itu yang
- menyimpang dari Quran, sunah baru tidak
- diterima.
- Kalau kemudian pemahamannya berbeda
- bukan berarti menyimpang dari Quran,
- sunah.
- Kan begini kan? Pendapat kita terhadap
- sesuatu yang baru itu kategorinya bidah.
- bahkan mengatakan bidah dolalah. He
- apaan itu muludan?
- Itu bidah dolalah kata sebagian orang.
- Karena Nabi tidak pernah memperingati
- kelahirannya. Lah kamu mengajinya sih
- enggak tuntas itu mohon maaf. Tapi ya
- misalnya itu pendapat begitu ternyata
- ada isyaratnya. Oh, Nabi juga
- memperingati kelahirannya kok. Kan Nabi
- ditanya kenapa Anda puasa hari Senin?
- Lianna fihi wulid. Karena pada hari itu
- aku dilahirkan.
- Kenapa engkau hari Kamis puasa? Karena
- pada hari itu amalanku dilaporkan
- dan aku ingin dalam keadaan berpuasa.
- Itu kan isyarat artinya.
- Iya.
- Nah, kalau selalu selalu tekstual,
- selalu tekstual tuh mohon maaf saya
- tidak menyalahkan yang tekstual. Tapi
- kalau senantiasa harus tekstual, berapa
- banyak bidah yang kita lakukan?
- [mendengus]
- Banyak bidah.
- Banyak bidah. Oh, kita ajak kajian ini
- Jumat sore ini bidah. E pertama Nabi
- tidak pernah apa namanya broadcast di
- apa namanya di radio gitu. Kajian kitab
- Riyadus Shihin mana ada di zamannya
- berarti bidah. Tapi bidahnya kan makanya
- kan begini sesuatu bidah segala sesuatu
- yang tidak pernah dilakukan pokoknya
- bidah dolalah tidak semuanya dolalah
- tidak semua dolah. Bahkan Nabi ngajarkan
- sikap kita kepada bidah yang hubungannya
- dengan ibadah.
- Hm.
- dengan ibadah aja, hubungan dengan
- ibadah masih boleh. Nah, maka oleh sebab
- itu kesimpulannya yang tidak boleh itu
- bidah dalam ibadah mahdoh.
- Tuh, itu baru tuh dalam ibadah mah tidak
- boleh. Makanya sampai hari kiamat salat
- subuh mesti dua rakaat. Tidak akan ada
- yang nambah kan begitu.
- Tapi kalau kemudian seperti zikir kan
- begini kan kita ribut bakda salat
- zikirnya berapa kali? Tiga kali. Yang
- satu lima kali. Yang satu kali. Eh, saya
- bilang saya mah 23 kali loh. 23
- [tertawa]
- beda
- beda lagi. Nah, begini. Pertama Nabi
- ngajarkan misalnya riwayat yang sampai
- kepada kita Nabi istigfarnya bakda apa?
- Bakda salat itu tiga kali.
- Nah, sementara riwayat lain mengatakan
- Nabi mohon ampun kepada Allah paling
- tidak kurang dari 100 kali atau minimal
- 70 kali. Saya ambil yang 100. Kalau 100
- kali itu dibagi 5 waktu berarti berapa?
- 20. 20 + 3 yang dicontohkan jadi 23 kan
- jadi enggak ada masalah
- sama.
- I tapi kan enggak boleh digabung-gabung
- begitu. Siapa yang melarang?
- Nah, kita kadang karena beda langsung
- jadi ada aturan-aturan yang kita buat
- sendiri. Enggak boleh itu
- digabung-gabung. Dalilnya mana yang
- enggak boleh digabung-gabung? Tuh. Pada
- akhirnya saya kata dalam kesempatan lain
- saya katakan saya istigfar pada salat
- itu bukan bukan tiga, bukan lima, bukan
- 7, bukan 23 100 kali. Jadi tiap salat
- berarti dalam sehari semalam saya
- mengucapkan istigfar itu 500 kali
- akhirnya. Kenapa? Nabi mah wajar 100
- kali istigfar.
- Kenapa wajar? Enggak punya dosa kok.
- Enggak punya dosa saja masih istigfar.
- Maksum
- maksum lah. Kita yang belepotan dengan
- dosa masa ingin sama dengan Nabi era
- atuh malu atuh.
- Astagfirullah.
- Nah kan Nabi mah wajar. Allah sudah
- menjaminnya,
- sudah memaafkannya, menghapus kesal
- kemudian dijaga oleh Allah. Kita memang
- sudah punya itu kan belum. Maka wajar
- istigfarnya 500 kali, 1000 kali, 1500
- kali dan seterusnya.
- Ah, si ustaz mah kadang ini seenaknya
- aja lah. Apa aja yang seenaknya? Coba
- logika pemahaman tadi kan begitu
- kan. Nabi istigfar 100 kali, tidak
- dijelaskan kapan dan di mana. Kalau
- tidak dijelaskan kapan dan di mana
- berarti kapan pun dan di mana pun boleh
- kecuali yang dilarang. H
- kan begitu pemahamannya. Maka saya
- bilang ee maka saya kan kembali pernah
- menjelaskan bahwa kembali kepada
- pemahaman salaf bukan kepada mono
- pemahaman, tapi variasi pemahaman.
- Nah, pemahaman karena hal-hal yang
- dibenarkan boleh berbeda, maka itu
- dinaungi oleh syariat,
- oleh Quran dan As-Unah.
- Kalau dipahami Quran, sunah itu secara
- kaku, banyak maksiat yang kita lakukan,
- kan begitu. Nah, ini saya kira ya
- beberapa hal yang ingin saya ee
- jelaskan. Maka oleh sebab itu sekali
- lagi, jadi gibah dan apa? Fitnah itu
- akan mengakibatkan kebaikan kita
- ditransfer kepada orang yang difitnah.
- Kecuali kita bertobat, maka insyaallah
- akan kembali lagi kepada kebaikan. Gitu
- ya. Demikian. Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak Rohili
- semoga dapat menjawab. Berikutnya
- pertanyaan kedua dari Bapak Sodqin Ustaz
- Jakarta Timur. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Izin bertanya, Ustaz. Dalam surah Asyura
- ayat 41 yang artinya, "Dan sesungguhnya
- orang-orang yang membela diri sesuatu,
- orang-orang yang membela diri sesudah
- teraniaya tidak ada dosa pun atas
- mereka." Ustaz, apa maksud ayat di atas
- tersebut, Ustaz? Jazakumullah. Naam.
- Masyaallah. Jadi eh misalnya begini,
- Hamas
- menyerang Zionis Israel
- itu dimaafkan. Kenapa? Karena Hamas atau
- maksud maksud saya karena
- saudara-saudara kita di Gaza itu
- dizalimi sama Zionis Israel.
- Kemudian membela diri gitu loh ya.
- Melakukan penyerangan balik. Menyerang
- balik itu bukan sebuah kejahatan. karena
- apa namanya ee tadi ayatnya kan tidak
- mengapa setelah dizalimi gitu loh ya,
- setelah dirampas
- hak-haknya kan begitu setelah di apalagi
- dibunuh, diserang. Nah, maka kemudian
- balik nyerang menjadi tidak mengapa.
- Begitu juga begit begitu juga hal kecil
- kita misalnya tiba-tiba ditabok orang
- kita boleh mengambil pilihan boleh
- memaafkan yang nabok
- ah atau kita nabok ulang gitu nabok
- balik gitu loh nabok pak. Nah kita nabok
- balik bukan sebuah kesalahan gitu karena
- kita ditabok du duluan. H begitu kurang
- lebih yang dapat ditangkap dari pesan ee
- ayat dimaksud wallahu aam bisawab.
- Wallahuam. Demikian Bapak Shodikin
- semoga dapat menjawab. Berikutnya
- dari Bapak Abdullah Khaliq Ustaz.
- Namam.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Ustaz mohon maaf bertanya
- di luar tema. Oh.
- Tapi berhubungan dengan hari Jumat
- namam
- pada saat khatib sedang berkhotbah
- jemaah tidak boleh berbicara
- nam.
- Namun bolehkah kita mengucapkan amin
- saat khatib berdoa dalam khotbahnya?
- Ustaz
- namam
- jazakumullah.
- Oh itu pertanyaannya. Jadi boleh enggak
- kita mengaminkan doa dari siapa?
- Khatib.
- Khatib. Baik. Jadi kalau kita tidak
- memahami maqasid dari larangan itu, maka
- kita akan ber apa? Berdebat. Eh, kata
- Nabi, "Kak boleh bicara kalau Nabi
- sedang khotbah."
- Maka ketika doa pun enggak usah
- diaminkan
- karena enggak boleh bic bicara.
- Padahal tidak boleh bicara itu
- dimaksudkan agar orang bisa mendengarkan
- khotbah, bisa konsentrasi, tidak
- terganggu.
- gitu loh ya. Makanya kemudian apa
- namanya pernah ee apa namanya terjadi
- sebuah dialog ketika Nabi sedang khotbah
- datang seorang sahabat tiba-tiba duduk
- eh kamu sudah salat dua rakaat belum?
- Belum ya Rasulullah salat dulu dua
- rakaat tuh
- ada di Allah.
- Iya
- ya kan?
- Kemudian berarti di Allah itu apa?
- menjadi boleh jika tidak mengganggu
- konsentrasi dari khutbah.
- Kalau kemudian yang berkhotbahnya eh
- enggak boleh ribut.
- Khatib itu boleh mengatakan seperti itu
- dan itu tidak apa namanya tidak m karena
- orang tetap konsentrasi memperhatikan
- khutbahnya.
- Maka oleh sebab itu sesungguhnya khotbah
- yang bertele-tele, nah yang bertele-tele
- ngebahas satu persoalan tapi ke sana
- kemari tidak jelas itu tidak disukai.
- Maka muncullah hadis seb
- sedalam-dalamnya ilmu atau orang yang
- khotbahnya pendek, salatnya panjang, itu
- menunjukkan kedalaman ilmu seseorang.
- Khotbahnya pendek.
- Khotbahnya pendek, salatnya panjang.
- Loh. Oh, kalau begitu kita khotbahnya
- harus pendek, salatnya panjang. Riwayat
- lain mengatakan orang yang dalam ilmunya
- itu khotbah dan salatnya sepadan.
- He
- ya. Kalau kita memahami satu hadis saja
- ribut itu. Oh, itu hadis kan Nabi
- mengatakan sedalam-dalamnya orang yang
- berilmu itu khotbahnya pendek, salatnya
- panjang. Itu aja dipegang. Enggak, Mas.
- Begini. Ini juga ada hikmahnya. Memang
- jika khotbah pendek dan bisa dipahami
- itu bisa berbekas dalam jiwa jemaah,
- fayakfi cukup. H.
- Tapi kalau kemudian khotbahnya mengutip
- ayat yang tidak bisa dipahami secara
- langsung oleh jemaah, perlu penjelasan.
- Nah, penjelasan itu menjadi perlu karena
- untuk memahami maksud daripada ayat atau
- hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam.
- Makanya mohon maaf ya sekali lagi ee
- dalam pandangan ada sebagian orang di
- tempat kami itu salat Jumatnya pakai
- bahasa Arab
- dan pendek-pendek dan saya tidak
- menyalahkan karena rukun dan syarat sah
- salat Jumatnya terpenuhi.
- meskipun bisa jadi tadi apa sih yang
- disampaikan oleh khatibnya? Enggak tahu,
- pokoknya bahasa Arab lah gitu ya. Sekali
- lagi mohon maaf tidak dalam rangka
- melecehkan saya ya, tetapi maksudnya
- fakta penjelasan. Nah, kalau kemudian
- tidak berdampak salat Jumatnya tidak
- berdampak sekali lagi ya, kecuali
- ayat-ayat yang dibacakannya sudah
- familiar, sudah dipahami oleh jemaah,
- maka itu tidak ada masalah. Tapi kalau
- misalnya menyampaikan ayat baru yang
- tidak diberikan penjelasannya, bisa jadi
- bagi yang mengerti, yang biasa baca
- Quran mengerti, tapi bagi orang awam
- tidak jelas.
- Nah, maka oleh sebab itu inilah kenapa
- di dalam khotbah Jumat ada penjelasan
- bahasa Indonesia.
- Hm.
- Supaya maksud khutbah sampai.
- Atau misalnya bahasa Inggris gitu bagi
- orang Inggris.
- Tapi menjadi masalah juga khotbah Jumat
- diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris di
- tataran Sunda. Jadi masalah juga gitu
- loh ya. Eah. Sebagaimana juga
- sesungguhnya menjadi bermasalah khotbah
- Jumat di teteran Sunda pakai bahasa
- Indonesia di apa? Di hadapan orang-orang
- awam. Berarti harusnya apa? berarti
- diterjemahkannya penjelasannya pakai
- bahasa Sunda.
- Eah kan begitu jadinya pemahamannya ya.
- Karena kan mohon maaf ada orang ya
- tetapi juga memang ada kalau bahasa
- misalnya saya tidak tidak bisa ee
- berbicara bahasa Indonesia dah saya mah
- orang kampung atuh gitu kan. Tapi ketika
- ada orang menjelaskan bahasa Indonesia
- dia bisa paham.
- Nah ada juga yang begitu ya. Tetapi yang
- jelas tadi ini ee apa namanya?
- Persoalan-persoalan yang harus kita
- pahami. Maka ee tadi ya kenapa salat
- Jumat ini dan itu kemballah
- ya ee saling ee apa satu persoalan
- kadang menyelebar menjadi
- persoalan-persoalan yang saling
- menguntungkan. Jadi ee tadi apa? Mohon
- maaf saya jadi lupa lagi pada
- pertanyaannya itu. Jadi ee
- apakah mengucapkan amin ketika khotbah?
- Heeh. Nah, jadi mengucapkan amin itu ada
- dasar hukumnya. Jadi gini, dasar
- hukumnya
- ada tiga sahabat sedang di Masjid Nabawi
- ya. Masing-masing mereka berdoa
- ya. Ee mereka berdoa kemudian datang
- Rasulullah.
- Sedang apa kalian? Kemudian mereka pada
- berhenti itu berdoanya. He.
- Pada berhenti karena ada rasul.
- Nah, saya sedang berdoa ya Rasulullah.
- Sudah lanjutkan. Nah, di antaranya Abu
- Hurairah melanjutkan doanya kemudian
- diaminkan oleh Rasulullah. Amin. Ini
- menjadi isyarat bolehnya mengaminkan doa
- orang lain.
- Tuh di antaranya tuh jadi dalil itu.
- Nah, maka ketika khatib pun berdoa, maka
- makmum pun boleh mengaminkan
- gitu loh. Meskipun secara ketat ada yang
- gak boleh karena tadi gak boleh bicara,
- gak boleh ini gitu loh. Nah, maka oleh
- sebab itu saya kira ee pemahaman
- terhadap satu dalil hendaknya
- disempurnakan dengan dalil-dalil yang
- lain gitu ya. Sehingga kemudian maqasid
- dari seluruh syariat itu bisa terbaca.
- Oh, maksudnya apa sih? Kenapa sih kita
- tidak boleh bicara?
- Kan begitu. Kenapa tidak boleh debat,
- tidak boleh membantah,
- gitu ya. Bahkan kalau di satu masjid
- pernah terjadi bantah-bantahan antara
- khatib dengan makmum.
- gitu. Tetapi kemudian mereka ya khatib
- boleh menyudahi kemudian nanti kita
- lanjutkan habis salat ya misalnya begitu
- boleh. Kami ketika di Sona di Yaman
- pernah terjadi itu habis salat itu
- langsung khatibnya dikerebutin jemah w
- ramai. Nah saya bilang oh masyaallah
- itulah kehidupan gitu ya. Nah dengan itu
- menjadi pengalaman. Oh ada juga ya.
- Kalau di kita kan mana ada gitu kan
- debat gitu apalagi di mimbar. Nah,
- tetapi itu menjadi catatan buat kita.
- Oh, ada catatan pernah oh pernah
- terjadi. Apa sih dasarnya? Kemudian saya
- coba pelajari. Oh, di sini pemahamannya.
- Jadi dengan pendekatan maqasid, maqasid
- baik itu maqasid syariah maupun
- maqasidul Quran, maka semuanya bisa
- terjawab biidnillah.
- Demikian yang dapat saya jawab. Wallahu
- aam bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak
- Abdullah Khalik semoga dapat menjawab.
- Alhamdulillah kita sudah di akhir waktu
- di tausiah sore ini. Baik Ustaz sebagai
- penutup Ustaz Tafadol.
- Iya. Baik. Jadi ee apa namanya? Kita
- masih dapat mengambil kesimpulan
- hendaknya kita mengendal mengendalikan
- lisan. Lisan hendaknya dipakai berbuat
- baik. Karena berbuat baik e berkata baik
- itu lebih baik daripada diam.
- tetapi diam.
- Ketika kita tidak bisa berkata apa?
- Berkata baik atau bahkan berkata buruk,
- maka diam solusinya. Tapi diam meskipun
- dikatakan emas tidak lebih baik daripada
- berkata baik. Karena berkata baik adalah
- belian. Demikian saya kira yang dapat
- saya simpulkan. Wasallallahu ala nabiina
- Muhammadin walhamdulillahiabbil
- alamin. Wasalamualaikum.
- warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Jazakumullah khairan k
- ee demikian yang akhwat. Alhamdulillah
- telah kita dengarkan bersama tiga hadis
- dari Ustaz Ahmad Saleh yang sudah
- disampaikan oleh Ustaz tentang
- haram mengguncing dan perintah untuk
- menjaga lidah litan. Semoga dapat
- diamalkan oleh ikhwan akhwat di mana pun
- Anda berada.
- Saya Fauzi Ridan mohon undur diri. Atas
- segala khilaf saya ucapkan mohon maaf.
- Subhanakallahumma wabihamdika ashadu
- alla ilahailla anta astagfiruka waubu
- ilaik. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.