Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:05 [musik] 0:08 Rasul TV 0:14 Bismillahirrahmanirrahim, 0:15 Assalamualaikum warahmatullahi 0:16 wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil 0:18 alamin wabihi nasta'in wa'ala 0:20 umuriddunya waddin. Wassalatu wassalamu 0:22 ala sayyidina Muhammad wa'ala alihi 0:25 wasahbihi ajma'in. Rabbi zidni ilman 0:27 Allahumma anfani bima alamtani wa alimni 0:30 ma yanfa'uni warzuqni ilman yanfa'uni. 0:33 Dipancarkan dari Jalan Masjid 0:34 Silaturahim nomor 36 Kalimanggis Cibubur 0:37 Bekasi, Radio Silaturahim dan Rasul TV 0:39 untuk Islam yang satu. Ikhwan akhwat 0:42 yang dirahmati Allah Subhanahu wa ta'ala 0:44 apa kabar Anda di pagi hari ini? Semoga 0:46 di manapun saja Anda berada dalam 0:48 keadaan sehat walafiat. Senang sekali 0:50 saya Angga Aminudin ditemani oleh Fajar 0:53 di operator, ada Neza di kameramen dapat 0:56 kembali menyapa Anda di hari Sabtu. Kita 1:00 sudah memasuki 1:02 hari yang ketiga ya apa hari yang kedua 1:06 nih di bulan Muharram 1447 1:08 Hijriah. Sudah masuk hari yang kedua. 1:11 Dan ikhwan akhwat di Sabtu pagi ini 1:14 kita ada acara spesial nih bersama guru 1:16 kita Ustad Husein Alatas dan juga 1:19 bersama Bapak Safril Lubis. Di studio 1:21 sudah hadir, Assalamualaikum 1:23 warahmatullahi wabarakatuh Ustad Husein 1:24 dan Pak Safril. 1:26 wabarakatuh. Alhamdulillah kita bisa 1:28 melanjutkan 1:30 dialog bersama Ustad Husein ya dan di 1:32 sini ada Pak Safril juga. 1:34 Ikhwan akhwat 1:36 sebenarnya kalau masuk ke acaranya kita 1:38 acara tanya jawab bersama ikhwan dan 1:40 akhwat ya tapi kita ingin mengangkat 1:42 juga satu topik khusus yang nanti insya 1:45 Allah akan di eh buka gitu ya 1:48 pembahasannya bersama Pak Safril Lubis 1:51 bagaimana Islam menanggulangi 1:52 kemiskinan, Islam dan kemiskinan. Potret 1:56 apa sebenarnya yang terjadi di 1:58 masyarakat saat ini? Kenapa istilah 2:00 kemiskinan itu masih melekat kalau orang 2:04 melihat eee saya enggak tahu kalimat ini 2:06 muncul dari mana. Islam itu miskin, 2:09 Islam itu daif, Islam itu selalu ada 2:11 muncul yang hal seperti itu gitu ya. 2:13 Kita mau lihat sebenarnya eee kemiskinan 2:15 itu juga dalam Alquran apakah ada 2:18 pembahasannya? Kita lebih ingin melihat 2:20 potret yang terjadi di masyarakat lalu 2:22 solusi Islam seperti apa? Lalu kita 2:25 sebagai umat itu bagaimana gitu ya 2:27 melihat hal tersebut dan sebenarnya 2:31 Allah itu melihat manusia dari kemuliaan 2:34 apanya gitu ya. Karena bicara kemiskinan 2:36 itu bicara juga ada orang miskin, ada 2:38 orang kaya gitu ya, ada orang papa, ada 2:41 orang yang eee bisa rupa. Nah, 2:44 kami juga mengundang Anda ikhwan akhwat 2:45 untuk bergabung silakan sampaikan 2:47 pertanyaan ataupun komentarnya ke nomor 2:48 WhatsApp berhasil di 08111999720. 2:53 Bagi Anda pemirsa YouTube juga bisa ya 2:55 komen langsung di kolom komentar channel 2:58 YouTube berhasil TV. Baik, saya akan ke 3:01 Pak Safril dulu. Pak Safril kenapa kita 3:03 mengangkat oh iya 3:05 baik Ustaz saya lupa. 3:07 Kita mulai dengan Al Fatihah. 3:09 [berdehem] 3:10 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 3:15 Bismillahirrahmanirrahim. 3:21 Alhamdulillahirabbil 3:25 alamin. 3:27 Arrahmanirrahim. 3:32 Maliki yaumiddin. 3:36 Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. 3:42 Ihdinash shiratal mustaqim. 3:47 Shiratal ladzina an'amta alaihim. 3:52 Ghairil maghdubi alaihim waladh-dhallin. 4:00 Amin. 4:04 Amin. 4:06 Alhamdulillah. 4:07 Baik, Pak Sapril, pembuka dari dialog 4:09 kita di pagi hari ini. 4:12 Apa sebenarnya masalah utama dari 4:14 kemiskinan itu dan kita harus pandangi 4:16 seperti apa, Pak Sapril? Baik. 4:19 [berdehem] 4:19 Pendengar dan pemirsa yang insyaallah 4:21 dimuliakan Allah. Assalamualaikum 4:23 warahmatullahi wabarakatuh. 4:25 Waalaikumsalam warahmatullahi 4:27 wabarakatuh. Di lingkungan kita 4:30 sehari-hari kita lihat satu perubahan 4:34 dalam tatanan kehidupan masyarakat. 4:37 Yang paling mudah terlihat adalah 4:41 bahwa di semua sektor, semua sisi yang 4:44 memungkinkan bisa terkumpul uang 4:47 walaupun kecil, semakin banyak tumbuh. 4:50 Kalau di depan toko-toko 4:52 kita sudah lama tahu. 4:53 Tapi sekarang hampir di semua keluar 4:55 dari pompa bensin, ada yang menungguin. 4:58 Dengan wajah sedemikian rupa dari pagi 5:01 sampai sore, mengharapkan recehan dan 5:03 tidak setiap mobil yang keluar akan 5:06 memberi bantuan kepada mereka. 5:08 Kemudian satu perubahan yang lagi sedang 5:11 kita lihat adalah 5:13 kalau pengamen tadinya tidak terlalu 5:16 banyak, sering hanya dalam pemerah, 5:19 sekarang sudah masuk ke gang-gang, ya, 5:21 ke perumahan-perumahan. 5:23 Karena sedemikian rupa 5:26 terbatasnya 5:28 sumber penghasilan. 5:30 Kalau kita lihat data, 5:32 walaupun ini ada dualisme antara data 5:34 BPS dengan data World Bank, 5:37 jumlah kemiskinan di Indonesia itu tidak 5:41 kurang dari hampir 30-an juta. 5:44 Ya, data terakhir dari tahun lalu itu 5:47 ee per September itu kira-kira 24 5:49 jutaan. Data siapa ini? Data BPS. Kalau 5:53 Kalau data BPS kira-kira 24 juta, tapi 5:57 kalau World Bank 5:59 bedanya begini Ustaz, bahwa 6:01 kalau menurut BPS biaya per hari itu 6:05 kira-kira 15 ribuan cukup. Setiap orang? 6:08 Per kapita satu hari. Satu hari per 6:10 orang kan? Per orang. Kalau menurut 6:13 World Bank itu idealnya adalah tingkat 6:16 kemiskinan paling bawah ini 6:18 di diambil seluruh dunia 6:21 kira-kira 45 ribu. 6:23 Kalau patokan 45 ribu itu yang diambil, 6:27 maka jumlah kemiskinan itu mencapai 6:30 kira-kira 57 juta orang. 6:32 Nah, kalau kita teliti lagi di mana yang 6:34 paling besar di sektor-sektor pertanian 6:38 kemudian sektor-sektor 6:40 ee 6:41 pedagang-pedagang kecil, pengecer dan 6:43 seterusnya. 6:45 Pemirsa, pendengar sekalian 6:47 keprihatinan kita tentu kita tidak bisa 6:50 biarkan berlarut seperti ini. 6:53 Kita coba pelajari bagaimana Islam 6:56 mengatur, mengajari kita 6:58 memberikan motivasi kepada kita 7:00 menghadapi kemiskinan ini dan 7:03 langkah-langkah apa yang kita harus 7:04 ambil 7:05 agar kemiskinan ini bisa berkurang atau 7:09 sekurang-kurangnya kita bisa berperan 7:11 aktif di dalam menanggulangi kemiskinan 7:14 atau [berdehem] berbagi dengan 7:15 orang-orang miskin. Mungkin sebagai 7:16 pembuka kurang lebih seperti itu Ustaz 7:18 ya. 7:19 Eee 7:21 Bagaimana melihat hal ini Pak Ustaz dari 7:23 data-data tadi itu yang disampaikan? 7:28 Auzubillahiminasyaitanirrajim. 7:30 Bismillahirrahmanirrahim. 7:33 Alhamdulillahirabbil 7:35 alamin. 7:37 Allahumma sholli ala Muhammadin wa ali 7:40 Muhammad. 7:41 Assalamualaikum ya Rasulallah. 7:44 Ya ayyuhal mab'usu rahmatan lil alamin. 7:48 Assalamualaikum wa ala ibadillah 7:50 sholihin wassalamualaikum warahmatullahi 7:54 wabarakatuh. Waalaikumsalam 7:56 warahmatullahi wabarakatuh. 7:59 Tema kita pada hari ini 8:01 sebetulnya telah lama ditulis oleh 8:03 Asy-Syaikh Yusuf Al-Qardhawi. 8:06 Dalam judul bukunya Musykilatul Faqri wa 8:10 Kaifa Alajahal Islam, problema 8:13 kemiskinan dan bagaimana Islam 8:14 menanggulanginya. 8:19 Nah, kalau kita perhatikan 8:20 bersama-sama [berdehem] 8:21 problema kemiskinan ini 8:24 problema yang bersifat kompleks. 8:30 Oleh karena itu 8:32 perjuangan untuk 8:35 memberantas kemiskinan 8:38 membawa kesejahteraan kepada satu bangsa 8:43 dengan sendirinya 8:45 membutuhkan perjuangan yang sifatnya 8:47 menyeluruh Pak Sangga. 8:50 Di samping menyeluruh, ya 8:52 juga kolaboratif. 8:55 Kalau hanya sebagian berjuang, sebagian 8:59 bersikap tidak peduli 9:02 maka tidak mungkin kita akan mampu 9:05 keluar dari kemiskinan ini. 9:07 Di samping kolaboratif, ya 9:10 juga apa? 9:11 Bersifat berkelanjutan terus-menerus. 9:14 Artinya istikamah dalam memperjuangkan 9:16 hal ini. 9:20 Allah Subhanahu wa taala 9:23 telah memberikan kepada kita 9:25 rambu-rambu, 9:28 yang membawa Nabi kita Muhammad 9:30 sallallahu alaihi wa alihi wasallam 9:32 menuju keberhasilan dalam mengeluarkan 9:34 umatnya 9:37 dari kondisi keadaan yang amat-amat 9:39 minus 9:41 bahkan ketika umatnya 9:43 terpaksa sampai menggadaikan 9:46 lahan mereka, ternak mereka, bahkan diri 9:50 mereka kepada bankir-bankir Zionis 9:53 tapi dalam waktu relatif singkat Pak 9:55 Syafri 9:58 Nabi kita yang hidup di Madinah selama 10:00 10 tahun 10:02 sebelum meninggalkan dunia 10:04 hanya dalam waktu beberapa tahun 10:07 beliau berdiam di Madinah berhasil 10:09 mengeluarkan masyarakat Madinah 10:13 dari cengkraman Zionis 10:16 yang menguasai 10:18 baik itu lembaga keuangan 10:21 kemudian mengobarkan peperangan untuk 10:24 menjerumuskan mereka dalam hutang 10:26 [berdehem] 10:27 oleh karena itu usaha-usaha orang-orang 10:29 Yahudi pada saat itu 10:31 mereka 10:33 mendirikan bank-bank sebagai 10:35 bankir-bankir 10:38 tapi tidak mungkin orang akan meminjam 10:39 tanpa kebutuhan oleh karena itu mereka 10:43 membagi [berdehem] apa? Membagi kekuatan 10:45 mereka 10:48 seperti Yahudi Bani Nadhir, Yahudi 10:53 Bani Quraizhah 10:55 Yahudi Bani Qainuqa, begitu juga Yahudi 10:58 Khaibar 10:59 nah setiap suku di Madinah itu bersekutu 11:03 sebagian bersekutu dengan 11:05 Bani Quraizhah itu sekutu Aus ya suku 11:08 Aus yang terbesar sebagian lagi 11:11 bersekutu dengan Bani Nadhir yaitu suku 11:14 Khazraj 11:16 belum lagi suku-suku yang kecil 11:18 nah orang-orang Yahudi ini selalu 11:21 mengobarkan peperangan diantara mereka 11:23 mereka tidak turun perang 11:25 tapi mereka mendukung dengan apa? 11:27 dengan memberikan senjata bukan 11:29 cuma-cuma 11:31 tapi dengan apa? Pinjaman yang mereka 11:33 pinjam persis seperti kondisi saat ini. 11:37 Di mana kita berperang untuk kepentingan 11:39 mereka. 11:41 Untuk 11:43 mengokohkan pengaruh mereka dan 11:46 menancapkan kuku-kuku mereka di tengah 11:48 kita. 11:49 Harta kita diangkut ke negeri mereka, 11:52 sedangkan kita berdarah-darah 11:54 berperang untuk memperjuangkan 11:56 kepentingan mereka, tidak sadar akan 11:58 tujuan kita yang sebenarnya. 12:02 Jadi yang terjadi pada masa Rasul 12:03 sebetulnya mirip dengan apa? Yang 12:06 terjadi pada saat ini. Ini merupakan 12:08 cetak ulang dari klise yang lama. 12:12 Oleh karena itu Allah menyebutkan 12:13 perangai orang-orang Yahudi kullama 12:15 auqadu naran lil harbi atfa Allah. 12:19 Setiap kali mereka mengobarkan 12:20 peperangan, Allah padamkan apa yang 12:23 mereka lakukan. 12:25 Jadi peperangan yang berlangsung di 12:27 tengah-tengah penduduk Madinah 12:30 yang terbagi pada dua suku besar Aus dan 12:32 Khazraj itu diciptakan oleh orang-orang 12:34 Yahudi. Sedangkan mereka sebagai bankir 12:36 memberikan pinjaman untuk menjerumuskan 12:39 mereka ke dalam kondisi terdesak, mereka 12:41 ciptakan peperangan di antara mereka. 12:42 Ini bukan hanya setahun, dua tahun, 12:44 ratusan tahun. 12:48 Nah, pada saat ini umat Islam menjadi 12:51 pion 12:53 yang mereka gerakkan ya untuk melakukan 12:55 apa? Perang demi kepentingan mereka. 12:58 Dalam bahasa Arab namanya al harb bin 13:00 niyabah, perang mewakili kepentingan 13:02 mereka. Atau proxy war. Mereka tidak 13:05 perlu mengirimkan pasukan, 13:07 mereka tidak perlu mengeluarkan biaya 13:09 yang cukup besar 13:10 ya, tapi mereka meraih keuntungan dari 13:12 berbagai macam aspek. 13:15 Seperti ketika terjadi Perang Teluk, 13:18 Amerika 13:19 mengerahkan pasukannya. 13:22 Sedangkan negara Teluk yang memberikan 13:23 bayaran kepada mereka. [berdehem] 13:25 Amerika berarti apa? Diringankan 13:27 bebannya untuk menggaji tentara-tentara 13:29 mereka. 13:30 Kemudian gudang senjata mereka yang 13:32 penuh dengan senjata usang digunakan 13:34 pada Perang Teluk ditanggung dan dibayar 13:37 oleh negara-negara teluk. 13:41 Usai perang mereka membagi wilayah yang 13:45 kalah ke dalam apa? 13:47 Ke dalam kekuasaan mereka. 13:50 Ini yang terjadi. 13:51 Dan sampai saat ini baik itu Saudi 13:53 Arabia maupun negara teluk yang 13:55 berdirinya 13:56 karena didirikan oleh mereka, hidupnya, 13:58 kelangsungannya penuh ketergantungan 14:00 pada mereka. 14:02 Nah, kalau kita berbicara mengenai 14:03 Indonesia, sebetulnya kondisi Indonesia 14:06 ini lebih baik 14:07 dibandingkan negara-negara Arab. 14:10 Pertama, kita kaya dengan sumber 14:13 kekayaan alam yang luar biasa, beraneka 14:15 macam. 14:16 Saudi punya minyak, kita punya minyak. 14:20 Qatar punya gas, kita punya kekayaan gas 14:23 yang luar biasa. 14:26 Kita memiliki beraneka macam sungai, 14:28 mereka tidak memiliki sungai. 14:31 Negeri mereka jarang disirami hujan, 14:33 sedangkan negeri kita pada musim panas 14:35 pun hujan turun. 14:37 Sungai-sungai kita yang mengalir. Tapi 14:40 karena orang-orang yang tidak 14:41 bertanggung jawab, Pak Syafi'i, 14:43 mengakibatkan akhirnya sungai kita 14:45 mengalami pencemaran karena keserakahan 14:47 sebagian orang. 14:48 Di mana kebijakan makro tidak mendukung 14:51 kepentingan rakyat, tapi kebijakan makro 14:54 ini merusak betul-betul apa? Sendi-sendi 14:57 dan pilar kehidupan rakyat. 15:00 Oleh karena itu, 15:01 langkah pertama ini, 15:03 seperti yang saya sebutkan tadi, 15:05 bersifat menyeluruh, kolaboratif, dan 15:08 juga berkesinambungan. Ini harus 15:10 dikerjakan bersama-sama oleh setiap 15:12 instansi pemerintah dan pemimpin juga 15:15 harus sadar. Kalau pemimpin ini tidak 15:16 sadar, 15:17 maka dengan mudah melalui kebijakan dan 15:20 wewenang yang mereka buat untuk merusak 15:22 semua kepentingan rakyat. 15:24 [mendengus] 15:25 Jadi pertama-tama dimulai dengan 15:27 pendidikan. 15:30 Pendidikan mengingatkan bahwasanya 15:33 kesejahteraan bangsa ini akan dinikmati 15:36 oleh mereka bersama-sama. Jangan hanya 15:38 oleh sebagian kalangan. 15:41 Begitu juga 15:42 kerusakan dan penderitaan yang dialami 15:45 oleh bangsa kita akan dirasakan oleh 15:47 semuanya. 15:49 Nah, Alquran memberikan solusi yang amat 15:51 indah. 15:52 Dan saya rasakan ini merupakan 15:54 solusi tawaran yang terbaik yang tidak 15:58 pernah sama sekali apa? 16:00 Ditawarkan oleh apa? 16:02 Oleh 16:03 agama manapun. 16:05 Allah berfirman di dalam Alquran. 16:08 Wal mukminun 16:10 wal mukminat ba'duhum auliya'u ba'din. 16:14 Orang yang beriman pria maupun wanita 16:16 sebagian mereka menjadi wali, pelindung, 16:20 pembantu sebagian yang lain. 16:22 Kalau kita resapi ayat ini 16:25 Ak Angga maupun Pak Syafril 16:27 dalam arti yang betul-betul mendalam 16:31 kira-kira 16:33 apa yang akan kita hasilkan kalau kita 16:34 amalkan? 16:38 Saling menolong, saling membantu 16:40 hasilnya akan menjadi lebih terarah Iya. 16:43 dan menyatu. 16:45 Dengan kebersamaan ini yang terbangun 16:48 akan membawa kita menuju jalan pintas 16:51 sebagai contoh. 16:54 Kalau orang yang berilmu merasakan 16:56 tanggung jawab bahwa mereka ini dengan 16:58 ilmu mereka punya tanggung jawab untuk 17:01 apa? 17:02 Untuk mendidik 17:04 meluruskan ya 17:05 demikian pula memberikan motivasi kepada 17:08 saudara-saudara mereka. 17:11 Yang akan membawa mengantarkan mereka 17:13 menuju kemajuan, menuju kesejahteraan 17:15 dan kebangkitan. Itu dirasakan oleh 17:17 mereka rasa tanggung jawab yang besar. 17:19 Baik. 17:20 [mendengus] 17:20 Tanpa harus menunggu, 17:22 mereka akan bekerja sama untuk apa? 17:25 Untuk melaksanakan tugas mereka sebagai 17:27 wali orang yang beriman dalam hal ini. 17:31 Nah, dalam perjuangan mereka ini, mau 17:33 tidak mau apa? 17:34 Membutuhkan dana. 17:36 Yang kaya terpanggil. 17:39 Terpanggil untuk apa? Berkontribusi 17:42 dengan kekayaan mereka, bukan hanya 17:43 dengan 2,5%. Ini tidak sama sekali apa? 17:47 Tidak sama sekali memahami firman Allah 17:50 wal mukminun wal mukminat ba'dhuhum 17:51 auliya'u ba'dhin. 17:53 Tapi mereka dengan harta yang mereka 17:55 usahakan, dengan mengharapkan ridho dan 17:57 hari akhirat, mereka tidak sayang-sayang 17:59 dengan harta mereka, mereka berjihad, 18:01 berkontribusi, mendukung mereka-mereka 18:04 yang bekerja dalam bidang pendidikan. 18:10 Coba bayangkan, 18:11 apabila mereka terpanggil untuk 18:13 melakukan hal ini karena mengharapkan 18:14 ridho Allah dan hari akhirat untuk 18:16 keselamatan mereka. 18:18 Ini kolaborasi baru di antara orang yang 18:21 berilmu 18:22 dan orang kaya. 18:24 Lalu, 18:26 didukung lagi oleh para pejabat, 18:29 contohnya wakil rakyat. 18:32 Mereka bekerja mewakili rakyat. 18:35 Maka kebijakan undang-undang yang mereka 18:37 buat semuanya betul-betul apa? 18:39 Kembali manfaatnya untuk kepentingan 18:41 rakyat, bukan untuk kepentingan mereka 18:43 atau oligarki, ya, yang bekerja sama 18:46 bersama mereka. 18:48 Kemudian, 18:50 badan pelaksana yang melaksanakan 18:54 undang-undang negara, ya, dari mulai 18:56 presiden 18:57 [berdehem] 18:58 sampai kepada apa? Sampai kepada para 19:00 pembantunya, pejabat TNI-nya, sipilnya, 19:04 juga mempunyai rasa tanggung jawab. 19:06 Mereka bukan pion, 19:08 bukan pi pion. He Tapi mereka para 19:11 pejuang yang berjuang di jalan Allah 19:12 baik itu pejabat sipilnya, TNI-nya 19:14 maupun kepolisiannya 19:16 bukan lagi pion atau orang-orang bayaran 19:18 dengan harga yang murah. 19:20 Tapi mereka berjuang untuk kemajuan, 19:22 kebangkitan bangsa ini bersama-sama. 19:25 [berdehem] 19:25 Dengan kolaborasi ini di antara para 19:29 ulamanya 19:30 ilmuwannya kemudian mereka-mereka yang 19:32 berharta 19:34 mereka-mereka yang memiliki wewenang ya 19:37 baik itu yang mewakili rakyat yang 19:39 membuat undang-undang atau 19:41 Lajnah Tanfidziyah badan pelaksana yang 19:44 melaksanakan undang-undang ya dan 19:47 [berdehem] peraturan-peraturan yang 19:48 dibuat. Kalau tanpa kolaborasi ini Pak 19:51 Syafri, masing-masing berjuang hanya 19:53 untuk dirinya si kaya sibuk mengumpulkan 19:56 harta kemudian mereka ingin mencari 19:59 keuntungan sebesar-besarnya tapi dengan 20:01 gaji buruh yang semurah-murahnya. Mereka 20:03 tidak sadar bahwa buruh tersebut yang 20:06 tidak mampu mencukupi keluarganya yang 20:08 tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya 20:11 mereka punya kontribusi besar dalam 20:13 menghancurkan betul-betul generasi yang 20:16 akan datang yang akan mengemban amanat 20:18 bangsa dan negara. 20:20 [mendengus] 20:21 Jadi pendidikan yang amat penting. 20:24 Saya pernah ingat ketika salah seorang 20:27 eh jurnalis kita yang cukup terkenal 20:31 saya enggak sebutkan namanya diundang 20:33 untuk menghadiri pertemuan besar Yahudi. 20:36 Jurnalis Indonesia nih? 20:38 Iya, orang Indonesia. 20:40 Ini kira-kira 40 tahun yang lampau. 20:46 Atau mungkin sebelumnya. 20:47 Diundang untuk menghadiri pertemuan 20:49 kalau tidak salah APEC apa apa. 20:53 Kebetulan 20:55 mereka berbicara mengenai 20:58 bagaimana membangun ya 21:00 kekuatan mereka ya 21:02 bagaimana mereka bisa betul-betul 21:04 menguasai ya perekonomian dunia, ya. 21:09 Kira-kira apa usulan-usulan yang 21:11 diusulkan oleh para think tank mereka? 21:14 Ini biasa pertemuan G7 kalau enggak G20. 21:17 Enggak, kalau G7, G20 beberapa negara. 21:20 Enggak, ini khusus pertemuan mereka. 21:22 Pertemuan mereka. 21:24 Dia bercerita pada kita pada saat itu. 21:27 Dia mengatakan bahwasanya, Pak, saya 21:29 pertemuan sebetulnya tidak mungkin 21:30 dihadiri oleh pihak luar, tapi saya 21:31 enggak tahu kenapa bisa hadir. 21:34 Ternyata 21:36 mereka ingin menunjukkan bagaimana kerja 21:38 sama dan kolaborasi mereka. 21:41 Ketika 21:44 think tank mereka mengatakan, "Kami akan 21:46 menyiapkan hasil kerja kami, tapi kami 21:48 membutuhkan dukung dukungan dana." 21:51 "Berapa yang kalian minta?" 21:53 Mereka Katakanlah mereka minta 100 juta 21:56 dolar. 21:57 Para pengusaha Yahudi pada saat itu 21:59 mengatakan, "Kami berikan kalian 200 22:00 juta dolar. 22:02 Kalau hasil kalian memuaskan, kami akan 22:04 tambah." 22:06 Artinya diberikan kepercayaan. Tapi 22:08 tanggung jawab. 22:12 Coba saksikan. 22:14 Bagaimana, ya, orang-orang kita ketika 22:16 mengajukan proposal, ya, 22:19 untuk pembangunan, untuk pengembangan, 22:22 ternyata hasilnya bukan kembali kepada 22:24 bangsa, kembali kepada diri mereka. 22:27 Manfaatnya kembali kepada diri mereka, 22:29 kepada organisasi mereka, bukan kembali 22:31 kepada rakyat. 22:33 [batuk] 22:33 Jadi yang [berdehem] penting kita 22:34 lakukan pada saat ini 22:37 untuk menghadapi problema kemiskinan, 22:39 ya, harus betul-betul 22:42 di samping secara menyeluruh, 22:45 dari mulai pendidikan, menciptakan 22:47 lapangan pekerjaan, sampai kepada apa? 22:51 Sampai kepada, ya, pendidikan yang 22:53 berkualitas, ya. Bukan pendidikan yang 22:55 hanya menghasilkan, katakan orang 22:57 bergelar PhD atau master, tapi 22:59 pendidikan yang memang disiapkan untuk 23:01 menghadapi kebutuhan di masa akan 23:02 datang. 23:04 Oleh karena itu kita butuh tenaga-tenaga 23:06 terampil bukan membutuhkan kepada apa? 23:09 Menghasilkan, mencetak orang-orang yang 23:11 bergelar PhD dalam jumlah besar, tapi 23:13 tenaga-tenaga terampil yang bisa apa? 23:14 Bisa bekerja. Sedangkan 23:17 tokoh-tokoh yang diangkat sebagai tim 23:18 kita enggak butuh banyak. 23:20 Tapi kita butuh loyalitas, karena 23:22 biasanya kalau berkumpul orang yang 23:24 pandai terlalu banyak yang akan terjadi 23:26 perbedaan pendapat dan pertentangan. 23:30 Tapi kita butuh orang yang punya 23:31 loyalitas, yang mau bekerja dan punya 23:34 keterampilan. 23:36 Praktikal. Dan disiapkan juga untuk 23:38 tantangan bukan hanya untuk jangka 23:40 pendek, untuk jangka panjang. Begitu 23:42 mereka keluar dari pendidikan, mereka 23:44 langsung akan menempati pekerjaan mereka 23:47 ya, yang akan menjamin kehidupan mereka 23:49 hingga mereka siap untuk berjuang demi 23:51 kepentingan bangsa dan negara. 23:53 Jadi kesimpulannya yang Allah subhanahu 23:55 wa taala berikan ya 23:57 bimbingan, tuntunan bagi mereka yang 23:59 dikerjakan oleh Nabi kita Muhammad 24:01 sallallahu alaihi wasallam 24:03 membangun kesadaran 24:06 akan 24:07 keharusan persatuan diantara mereka dan 24:09 kerjasama. Wa ta'awanu alal birri 24:12 wattaqwa wala ta'awanu alal ismi wal 24:14 udwan. Nah, kita Mas Angga 24:17 kalau seandainya kita memahami 24:19 betul-betul tujuan Islam, tujuan para 24:22 Nabi diutus 24:24 tujuan 24:25 kitab-kitab suci diturunkan sebetulnya 24:27 sederhana sekali. 24:29 Yang ini justru kurang kita pahami. Yang 24:31 pertama 24:33 kita menegakkan agama Allah, yang kedua 24:35 kita bersatu dalam agama Allah. 24:38 Sebagaimana firman Allah 24:42 syara'a lakum minaddini 24:44 ma washa bihi Nuh, walladzi awhaina 24:46 ilaika wa ma washaina bihi Ibrahim wa 24:49 Musa wa Isa an aqimuddina wa la 24:51 tatafarraqu 24:53 Allah syariatkan bagi kalian dari 24:55 agamanya sama dengan syariat yang Allah 24:57 berikan pada Nuh. 24:59 Begitu juga yang kami wahyukan padamu, 25:02 yang kami wasiatkan kepada Musa, Isa. 25:06 Kepada Ibrahim, ya. Kemudian kepada 25:08 siapa? 25:09 Kepada 25:10 Musa dan Isa, yaitu tegakkan agama Allah 25:14 dan jangan bercerai berai dalamnya. 25:17 Nah, yang kedua ini Mas Sanggah. 25:19 Bersatu dalam agama Allah. 25:22 Belum kita laksanakan, karena 25:24 masing-masing mengajak kepada 25:26 kelompoknya, kepada golongannya. Maka 25:29 kalimat tauhid belum betul-betul kita 25:32 tegakkan dalam kehidupan kita. Karena 25:34 kalimat tauhid ini mengajak dan 25:36 mengharuskan kita untuk bersatu dalam 25:37 kalimat tauhid. 25:39 Nah, kalau umat Islam bersatu dalam 25:41 Islam, wala dan loyalitasnya untuk 25:43 Allah, Rasulnya orang yang beriman. 25:45 Ketika mereka dipanggil untuk 25:48 betul-betul berkontribusi sesuai dengan 25:51 apa? Potensi yang Allah berikan kepada 25:53 mereka. Yang kaya dengan kewajiban yang 25:55 berilmu dengan ilmunya. Dan mereka 25:57 merasa bahwa ini jihad, perjuangan di 25:59 jalan Allah. Begitu juga yang berwenang 26:01 dengan wewenangnya. 26:03 Kalau kita lakukan hal ini. 26:06 Maka jalan menuju kesuksesan kita akan 26:10 tempuh dalam waktu singkat. Karena 26:12 masing-masing punya tanggung jawab, ya. 26:14 Dan masing-masing merasa bahwa apa? 26:15 Dengan apa yang Allah berikan kepadanya, 26:17 bukan hanya berkewajiban memberikan 26:19 sejam, dua jam waktunya. Bukan hanya dua 26:21 setengah persen, lima persen. Tapi dia 26:23 memberikan. 26:25 Seluruh. 26:27 Potensi yang Allah berikan kepadanya. Di 26:28 samping untuk keluarganya, untuk umat 26:30 dan bangsanya. Dan ini yang dilakukan 26:32 oleh sahabat-sahabat Nabi kita Muhammad 26:34 Shallallahu Alaihi Wasallam. 26:36 Walaupun mereka tidak memiliki. 26:39 Katakan, ee modal yang cukup besar. Tapi 26:43 modal ini yang menghasilkan modal yang 26:45 amat besar buat mereka. Hingga walaupun 26:48 hanya dengan beberapa butir kurma, 26:49 mereka berjuang di jalan Allah tanpa 26:51 gentar sedikitpun, seperti pasukan 26:53 sariyah yang dikirim oleh Nabi kita 26:55 Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam 26:56 untuk berperang, Nabi hanya memberikan 26:58 satu kantong kurma. 27:00 Mereka berjalan 27:02 sambil menghisap-hisap kurma pada saat 27:04 mereka lapar. 27:06 Mereka berhasil menang dalam peperangan 27:08 karena jiwa dan semangat mereka yang 27:10 penuh betul-betul apa? 27:12 Penuh apa? Penuh semangat 27:15 mengharapkan Allah dan mengharapkan hari 27:17 akhirat. 27:19 Mereka mendapatkan ghanimah, begitu 27:20 mereka kembali ke Madinah 27:23 cerita di tengah jalan mereka menemukan 27:24 seekor ikan besar yang terdampar. 27:28 Mereka makan dari hasil ikan tersebut, 27:30 kemudian mereka keringkan, mereka bawa 27:32 ke Madinah, mereka ceritakan bagaimana 27:34 pertolongan yang Allah Subhanahu Wa 27:36 Ta'ala berikan kepada mereka. 27:38 Tapi tanpa sama sekali apa? 27:41 Kesadaran semacam ini 27:43 yang akan mengakibatkan satu membangun 27:45 yang satu merusak. 27:47 Tapi dengan kolaborasi atas dasar 27:49 kesadaran bahwa orang yang beriman pria 27:52 maupun wanita itu sebagai wali satu sama 27:55 lain hingga kita merasa apa? 27:58 Ini betul-betul merupakan kewajiban saya 28:00 sesuai dengan potensi yang Allah berikan 28:01 kepada saya dan ini yang dinamakan 28:04 fardhu kifayah. 28:06 Yang dinamakan fardhu? Fardhu kifayah. 28:08 Karena kalau fardhu ain itu 28:10 setiap muslim mukallaf wajib 28:12 melaksanakan kewajiban yang sama seperti 28:14 shalat, puasa, tapi kalau fardhu kifayah 28:17 itu 28:18 yaitu kewajiban yang Allah wajibkan atas 28:21 setiap mukmin sesuai dengan kifayah 28:23 masing-masing. 28:24 Dengan kafaahnya, dengan potensinya. 28:27 Itu namanya fardhu kifayah bukan hanya 28:29 sekedar memandikan jenazah, menyalatkan 28:31 jenazah, mengantarkan mereka ke kubur, 28:33 tapi fardhu kifayah dipetik dari firman 28:35 Allah tadi wal mukminun 28:37 wal mukminat ba'dhuhum 28:39 auliya'u ba'dhin wa ta'awanu al birri wa 28:41 taqwa wa la ta'awanu al ismi wal udwan. 28:45 Jadi di samping pendidikan, di samping 28:47 menciptakan lapangan pekerjaan yang 28:49 berkualitas, ya. 28:50 Kemudian juga apa? Kebijakan makro dari 28:53 pemerintah di atas, betul-betul 28:55 kebijakan ini harus kebijakan yang 28:57 berpihak kepada rakyat, jangan 28:58 konglomerat. 28:59 Nah, yang sekarang berlangsung ini 29:01 kebijakan-kebijakan 29:03 yang berpihak [berdehem] 29:04 kepada oligarki, bahkan kepada pihak 29:06 asing. 29:07 Kenapa kita tidak berikan subsidi bagi 29:09 petani-petani pribumi kita? 29:11 Kenapa kita harus memberikan subsidi 29:13 bagi petani asing dengan kita mengimpor 29:15 beras dari luar? 29:17 Padahal kita ini 29:19 negara yang betul-betul kaya dengan apa? 29:22 Sumber daya alam. Dengan sumber daya 29:24 alam. Oleh karena itu, pada era Soeharto 29:27 dulu dengan segala kekurangannya, 29:29 pada era Presiden Soeharto kita mampu 29:31 untuk melakukan swasembada beras. 29:34 Tapi pada akhirnya, lumbung padi kita di 29:37 Jawa Barat, di Karawang, Cikarang, semua 29:39 dirubah menjadi area industri. Ini kan 29:41 aneh luar biasa. 29:43 Setelah itu kita mengimpor beras. Beras 29:45 dari luar. Kita punya lumbung padi di 29:47 Sulawesi, daerah Pendrang, itu lumbung 29:49 padi, ya, Pak, untuk wilayah Sulawesi. 29:51 Dan ternyata menghasilkan hasil yang 29:54 berlebihan yang bisa dikirim keluar. 29:56 Padahal kalau kita lihat sungai di sana 29:59 hanya satu. Hmm. Kita di sini mempunyai 30:01 sungai yang bermacam-macam, Sungai 30:02 Citarumnya sekarang tercemar. Sungai 30:05 Ciliwung tercemar, kenapa? Karena di 30:07 hulu mereka membangun 30:09 industri. Industri-industri 30:12 yang membuang limbahnya ke sungai tanpa 30:14 ada tanggung jawab dan kontrol dari 30:15 pemerintah. 30:17 Jadi, kesimpulannya untuk diskusi ini 30:19 mungkin cukup panjang kita bicara, ya. 30:21 Tapi pokoknya harus betul-betul secara 30:23 menyeluruh, secara berkesinambung, dan 30:26 kolaboratif. Jadi, setiap, ya, 30:29 instansi pemerintah, begitu pula setiap 30:32 organisasi masyarakat, 30:34 masing-masing dengan potensi yang Allah 30:35 berikan kepada mereka, mengajak umat 30:39 untuk betul-betul menjalankan kewajiban 30:41 mereka sebagaimana anugerah yang Allah 30:42 berikan kepada mereka, jangan 30:44 menghabiskan waktu dari waktu ke waktu 30:46 ribut masalah qunut, masalah tarawih, 30:49 ini masa-masa yang bisa membuat kita 30:51 mundur ke belakang bukan maju ke depan. 30:53 Ketika kita perang berhadapan dengan 30:55 Zionis mulai muncul isu Syiah Sunni. 30:59 Menyedihkan enggak Pak Syafri? Iya. 31:01 Menyedihkan sekali, padahal seharusnya 31:03 setiap orang berkontribusi 31:06 sesuai dengan kemampuan potensi yang 31:08 Allah Subhanahu Wa Ta'ala berikan kepada 31:10 Iya. Mungkin perlu ada 31:12 tambahan-tambahan dari Pak Syafri lah. 31:13 Iya. Pertanyaan dari Mas Angga, silakan. 31:16 Sebentar dari Pendengar. Jadi 31:18 pendengar bagaimana Ustaz tadi itu 31:20 bahkan mengawali sejarah gitu ya. Kita 31:24 melihatnya di situ gini Ustaz, ada 31:26 kemiskinan yang terstruktur ya. Bahkan 31:29 bisa langsung dianalisa oleh Rasulullah 31:31 Shallallahu Alaihi Wasallam. 31:33 Karena Imam Ghazali itu dalam Maqashid 31:36 Syariahnya kan pernah melihat bahwa 31:38 dakwah Rasul itu membebaskan kemiskinan. 31:40 He eh. Salah satunya dari peristiwa yang 31:42 di Madinah itu yang menghadapi para 31:43 pengusaha Yahudi. 31:45 Ada satu kata di situ, masalahnya adalah 31:49 ketidakadilan, ketidakadilan sosial dan 31:51 Rasul merubah itu. Dan ternyata sekarang 31:53 potretnya itu sama. 31:55 Tapi melihat dari dari apa kemiskinan 31:57 yang terstruktur ini, bahkan tadi Ustaz 32:00 sampai menjelaskan ke perpecahan, saya 32:02 melihatnya begini Pak Ustaz dan juga 32:03 salah satu masalah itu paradoks. 32:06 Bagaimana paradoks terjadi di Indonesia? 32:08 Nah, paradoksialnya ini Indonesia tadi 32:11 yang kaya, yang makmur tapi 32:13 masyarakatnya miskin. 32:15 Nah, saya juga ingin meminta data dari 32:16 Pak Syafri itu mengenai paradoksialnya 32:18 begini. Karena banyak juga analisanya 32:21 ee ketika Indonesia bisa menjadi lumbung 32:23 padi, tapi malah mengekspor. Mengimpor. 32:27 Iya, malah mengimpor. Ketika Indonesia 32:29 ini kaya akan mineral, masyarakatnya 32:31 malah miskin. Iya. Ketika Indonesia ini 32:33 banyak ilmuwannya Ustaz, tapi ilmuwan 32:35 itu tidak memiliki tempat untuk mereka 32:37 berkarya. Akhirnya mereka bekerja di 32:39 luar. Makanya paradoksal ini menciptakan 32:41 kemiskinan. Nah, Pak Sapri melihat dalam 32:42 hal pangan saja uh luar biasa ini Pak 32:44 Sapri. 32:45 Anda istilahnya gini Pak Sapri, kan 32:46 pernah ada ada instruksi begini. Kita 32:48 harus kembali ke makanan lokal, umbi, eh 32:51 jagung, apa gitu ya. 32:54 Itu program sepertinya bagus, tapi ada 32:56 sebuah analisa bahwa kita merupakan 32:57 produksi beras. 32:58 Padahal secara secara politik produksi 33:00 beras di dunia ini lagi meningkat 33:02 banget. Bahkan Pak Sapri melihat 33:03 paradoks kemiskinan ini. Ya. 33:05 Jadi [berdehem] Mas Angga, ini menjadi 33:07 salah satu faktor 33:09 paradoks ini, pertentangan ini, 33:11 pertentangan yang tadi Ustaz Husein 33:13 jelaskan, per- pertentangan kebijakan, 33:15 He em. pertentangan kepentingan, 33:18 pertentangan penerapan ilmu dan 33:20 kebijakan, He em. ini semua berujung 33:22 kepada 33:24 semakin sedikitnya upaya-upaya riil 33:27 menanggulangi kemiskinan. Betul. Ya. 33:29 Contoh sederhana, 33:32 aspek pertanian. 33:34 Pertanian kita itu tingkat produksi per 33:37 hektar itu rendah sekali. He em. Padahal 33:39 tanah sangat luas, 33:41 tingkat kesuburannya bisa terus 33:44 ditingkatkan, tetapi hasilnya tetap 33:47 rendah dibanding dengan negara-negara 33:49 khusus Vietnam, Thailand, bahkan India, 33:53 di mana kita mengimpor beras dari 33:55 mereka. 33:55 He em. Nah, jadi tentu dalam konteks ini 33:57 aspek-aspek yang menjadi pertentangan 33:59 ini di satu sisi harus ditertibkan 34:03 melalui kesadaran. Tadi Ustaz Husein 34:06 menggambarkan bagaimana Alquran, 34:08 bagaimana Allah 34:11 memperingatkan kita siapa yang menjadi 34:13 wali, siapa yang saling bantu. Dengan 34:17 sinergi inilah 34:18 dan memanfaatkan keahlian dari 34:21 masing-masing pihak, dipersatukan dengan 34:23 tujuan yang sama, 34:25 dengan mencari rida Allah, baru ini 34:28 punya kemungkinan kita keluar dari 34:30 kemiskinan. He em. 34:32 Dan tentu saja ini 34:34 akan berlangsung harus terus-menerus. 34:37 Kalau kita lihat sejarah yang 34:40 tidak terlalu jauh kita lihat Vietnam. 34:43 Selama puluhan tahun mereka perang 34:45 saudara yang sangat mengerikan 34:48 dengan orang yang mati itu berjuta-juta. 34:52 Tetapi begitu mereka menyadarinya 34:54 baik dari pembuat keputusan, baik dari 34:57 masyarakat, segera saling bersinergi 35:00 memperbaiki diri, kita lihat mereka jauh 35:02 lebih bagus, lebih produktif dari 35:04 Indonesia. Heeh. Kalau kita lihat 35:06 zaman-zaman perang Vietnam 35:08 hampir tidak bisa kita bayangkan mereka 35:10 bisa bersatu. Heeh. Tetapi apa yang tadi 35:12 Ustadz Husein katakan, bersatu tidak 35:14 berpecah belah 35:15 ini menjadi salah satu faktor yang harus 35:18 disadari oleh pendengar kita, disadari 35:20 oleh pembuat keputusan, disadari oleh 35:22 pemegang otoritas atau kekuasaan 35:24 pemerintah. 35:25 Nah, di satu sisi memang Rasil akan 35:27 terus-menerus mengingatkan 35:30 bagaimana masyarakat, pendengar kita 35:33 misalnya di sektor pertanian, bagaimana 35:35 [berdehem] meningkatkan 35:36 eh transformasi 35:38 ya, kemudian 35:41 komunitas itu sudah mulai harus 35:43 membangun kesadaran, melakukan 35:45 perbaikan-perbaikan kecil-kecil di 35:47 tingkat komunitas, tetapi arahnya sama. 35:51 Semata-mata untuk saling 35:52 tolong-menolong. Jadi mungkin secara 35:54 umum gambarnya seperti itu. Nanti 35:56 hal-hal [berdehem] apa sih yang bisa 35:58 kita lakukan 35:59 eh secara real di masyarakat, mungkin di 36:01 penghujung pembicaraan ini coba akan 36:03 kita gambarkan. Tapi dari cerita Pak 36:05 Sapril, bagaimana hal kecil itu bisa 36:08 membantu dan menjadi salah satu solusi 36:10 dalam perekonomian, saya ada buktinya 36:12 Pak Sapril. Iya. Jadi ya, Harvard 36:15 University Pak Ustadz. Oke. 36:17 Tahun lalu ini bikin penelitian negara 36:20 paling makmur dilihat dari 36:21 masyarakatnya. 36:22 Masyarakat paling makmur di dunia. 36:25 Ternyata Harvard itu juga kaget, 36:27 dunianya juga kaget dan paling makmur 36:29 itu ternyata orang Indonesia. 36:30 Cuma dilihatnya begini, ada salah satu 36:32 alasannya Ustaz. 36:33 Alasannya kenapa Indonesia menempati 36:36 negara dengan masyarakat paling makmur 36:38 di tengah kemiskinan yang angkanya 36:40 tinggi. 36:42 Salah satunya adalah kemampuan sistem 36:44 ekonominya menciptakan 36:46 interaksi agen-agen kecil dan di sini 36:49 dia angkat adalah UMKM yang 36:51 berkolaborasi. 36:53 Dan UMKM ini ternyata itu di luar 36:55 [berdehem] prediksi ekonomi global. Jadi 36:57 kalau kalau saya lihat tadi gabung sama 36:59 cerita Ustaz bagaimana para 37:01 petinggi-petinggi dunia dan ya 37:02 orang-orang Yahudi yang kaya-kaya itu 37:04 ingin mengatur perekonomian dunia, UMKM 37:06 ini di luar di luar 37:08 skema skema mereka, di luar prediksi 37:10 mereka kok kok bisa, kok bisa bertahan 37:11 ini malah UMKM. Dan kalimatnya kalau di 37:14 Harvard ini adalah orang Indonesia itu 37:16 kolaborasi UMKM-nya itu karena dasar 37:19 budaya. 37:21 Gitu, dasar budaya mungkin dia mungkin 37:23 ingin mengatakan mungkin dasar 37:24 ideologis. Bisa jadi cuma dia enggak mau 37:26 pakai kata ideologis karena orang 37:27 Indonesia mayoritas Islam kan, akhirnya 37:29 ada 37:30 dikatanya kata budaya aja. Nah, berarti 37:32 kan ini kita melihat gitu bahwa saya 37:34 tadi kalau disinggung tadi ya bagaimana 37:35 hal kecil 37:37 lalu juga kolaborasi, ada di sini 37:39 ikatan-ikatan budaya saya memaknai 37:41 ikatan budaya ini ikatan ideologis 37:43 karena orang Indonesia punya keimanan. 37:45 Bagaimana Ustaz memandang ini menjadi 37:47 salah satu solusi kita dari lepas 37:49 kemiskinan yang terstruktur. 37:51 Iya. 37:51 Ini merupakan justru fondasi 37:54 yang 37:56 fondasi dan juga pilar yang membuat 38:00 sahabat-sahabat Nabi kita itu mampu 38:02 keluar dari kemiskinan. 38:07 Karena apa? 38:09 Karena kesadaran mereka yang bersumber 38:12 dari iman mereka. 38:15 Dan mereka merasakan selama ratusan 38:17 tahun bagaimana mereka menjadi permainan 38:19 di di Zionis pada saat itu. 38:22 Nah, untuk Indonesia kita lihat ya. 38:25 Kalau seandai kita ambil 38:27 katakan gambaran sederhana saja. 38:31 Kita kan tahu para petani yang bekerja 38:33 di pertanian kan orang-orang kita semua 38:34 kan? He eh. Rakyat kita, para petani. 38:38 Kemudian 38:39 yang bekerja di dalam bidang industri 38:41 juga rakyat kita. 38:43 Yang selama ini ditawarkan dengan buruh 38:45 yang 38:46 eh apa namanya bergaji rendah. 38:50 Kemudian pengusaha-pengusaha kita juga 38:51 cukup banyak mereka ya. 38:54 Yang bekerja dalam bidang industri. 38:56 Kemudian juga yang turun berinvestasi 38:58 dalam bidang pertanian. 39:01 Kemudian dalam 39:03 kekayaan laut sebagai contoh Pak Syafri 39:05 ya, kalau kita perhatikan. 39:06 Yang melaut, yang menjadi nelayan siapa? 39:09 Orang-orang kita. 39:10 Walaupun tanpa dukungan 39:12 peralatan-peralatan canggih ya, yang 39:13 membantu mereka. Baik. 39:15 [mendengus] 39:16 Coba renungkan kalau seandainya kita ya 39:19 yang bekerja ya, yang berusaha baik 39:21 dalam bidang industri, dalam bidang 39:23 pertanian, dalam bidang kelautan, kita 39:25 berkolaborasi bersama-sama. 39:28 Kemudian untuk jaringan distribusinya 39:30 Mas Angga. 39:32 Kita bisa mempergunakan masjid-masjid 39:34 dan musala-musala 39:36 untuk mengingatkan umat 39:38 agar mereka apa? 39:40 Agar mereka 39:42 bila ingin maju, ingin sejahtera 39:45 hendaknya 39:46 mereka pada saat berbelanja, mereka 39:48 mengutamakan betul-betul produk-produk 39:50 yang dihasilkan oleh apa? 39:52 Oleh sesama saudara mereka. He eh. 39:55 Nah, kalau seandainya seluruh kebutuhan 39:57 mereka bisa kembali kepada produksi dari 40:00 apa? 40:01 Dari saudara-saudara mereka, kemudian 40:04 saudara mereka juga yang bekerja dalam 40:05 bidang industri memberikan gaji bukan 40:08 hanya pas-pasan, tapi yang mencukupi 40:10 betul-betul 40:11 pekerja-pekerja tersebut agar dapat 40:13 meningkatkan kualitas hidup mereka. 40:16 Kita punya apa? Punya potensi ke arah 40:18 itu. Dari mulai produksi, distribusi, 40:20 kita bisa lebih kuat dibandingkan 40:22 distributor yang yang ada pada saat ini. 40:24 Masjid diuntungkan, mushola diuntungkan, 40:27 ormas-ormas Islam juga apa? 40:30 Bisa diuntungkan, kan? Iya. Mereka punya 40:32 sumber penghasilan. Kemudian dari hasil 40:35 keuntungan, Iya. 40:36 dikenakan lagi zakat. Zakat ini untuk 40:38 membantu memberikan perlindungan sosial 40:41 kepada mereka-mereka yang membutuhkan, 40:43 asal tepat sasaran. Heeh. 40:45 Di mana yang tidak punya pekerjaan 40:47 diberikan pelatihan, ya. 40:49 Diberikan pendidikan pelatihan untuk 40:51 bekerja, kemudian menciptakan lapangan 40:53 pekerjaan. Sedangkan mereka-mereka yang 40:55 jompo, yang tua diberikan jaminan hidup 40:57 seperti yang dilakukan negara-negara 40:59 yang maju. 41:00 Jadi, tepat sasaran. Bukan hanya untuk 41:02 memberikan makan, bukan hanya sekedar 41:04 untuk memberikan mereka apa? 41:06 Bantuan-bantuan yang sekali diberikan 41:09 kemudian hilang. Heeh. Tapi yang butuh 41:10 pendidikan, pendidikan. Yang butuh modal 41:13 juga kita berikan modal. Heeh. Ya. apa? 41:16 Di samping modal, kita betul-betul apa? 41:19 Edukasi bagi mereka orang-orang yang mau 41:22 bekerja ini, agar mereka tidak 41:24 menyia-nyiakan modal yang diberikan 41:25 kepada mereka. Dan dalam bidang dia 41:27 diberikan bimbingan dan petunjuk di 41:29 bawah kontrol pengawasan. Heeh. 41:31 Kalau mereka menyia-nyiakan modal yang 41:33 diberikan, ada sanksinya. Tapi kalau 41:35 mereka katakan gagal 41:37 setelah mereka bersungguh-sungguh, itu 41:38 wajar diberikan tambahan modal. Jadi, 41:40 betul-betul umat seluruhnya tidak ada 41:43 yang berdiam. 41:44 Semuanya bergerak. Sedangkan mereka yang 41:47 jompo, yang tua, yang tidak berdaya, 41:49 tetap melaksanakan tugas mereka dengan 41:51 amar ma'ruf nahi munkar. 41:53 Artinya kalau kita melibatkan seluruh 41:56 lapisan masyarakat 41:58 dengan kerjasama dan semboyan wal 42:00 mukminun wal mukminat ba'dhuhum auliya'u 42:02 ba'dhin, setiap orang berjuang dengan 42:04 potensi yang Allah berikan, 42:06 kita betul-betul akan 42:09 merasakan hasil dan buah-buah yang amat 42:12 indah di tengah-tengah kita semuanya. 42:14 Tapi ini harus betul-betul dengan 42:16 kesadaran. Karena tidak mungkin terjadi 42:17 kolaborasi tanpa ada kesadaran. Dan 42:20 kesadaran yang paling kuat itu yang 42:21 bersumber dari iman kita kepada Allah. 42:25 Kepada rukun iman kita dan kepada hari 42:26 akhir. Hingga setiap orang bekerja bukan 42:29 hanya untuk hari ini. 42:31 Tapi bekerja untuk apa? Untuk persiapan 42:33 bekal mereka. 42:34 Sebagaimana firman Allah 42:37 dalam satu ayat sederhana. 42:39 Wabtaghi fima atakal lahu daral akhir. 42:42 Gunakan. Tuntut dengan sungguh-sungguh 42:45 apa yang Allah berikan kepada kamu. 42:47 Bukan hanya untuk duniamu di sini. Tapi 42:49 untuk membangun akhiratmu. 42:51 Karena tidak mungkin orang lain akan 42:52 membangun akhirat kamu. 42:54 Kalau di dunia orang miskin, ya, 42:56 bisa mendapatkan bantuan dari yang lain. 42:58 Seorang anak yang tidak bekerja bisa 43:00 menerima warisan besar dari orang 43:01 tuanya. Kalau di hari akhirat, semua 43:03 bergantung pada usaha kita. 43:06 Kemudian walatansa nasibaka minal dunia. 43:08 Jangan kau lupakan kebutuhan duniamu. 43:10 Tapi waahsin kama ahsanallah ilaik. 43:12 Berbuat baiklah kamu kepada saudara kamu 43:15 sebagaimana Allah telah berbuat baik 43:16 pada kamu. 43:17 Walatagil fasada fil ardh. Jangan harta 43:19 yang Allah berikan pada kamu kau gunakan 43:21 melakukan kerusakan di muka bumi. 43:23 Innallaha la yuhibbul mufsidin. Allah 43:25 tidak menyukai orang yang melakukan 43:27 kerusakan. Maka dalam satu hadis yang 43:29 diriwayatkan dari Amirul Mukminin Ali 43:31 Ibnu Abi Thalib alaihissalam, 43:34 [mendengus] 43:35 beliau mengatakan apa? 43:38 Allah bersabda, Rasulullah bersabda, 43:39 innallaha 43:41 fi amwalil aghniya ma yasuddu hajata 43:44 fuqara. 43:45 Allah mewajibkan pada harta si kaya. 43:47 Berapa kadarnya? 43:49 Kadarnya Allah wajibkan pada si kaya itu 43:52 yang dapat menutupi kebutuhan fakir 43:54 miskin. 43:56 Jadi enggak disebutkan 2,5% enggak 5% 43:59 enggak 10% tapi kadar yang Allah 44:01 wajibkan itu yang mencukupi kebutuhan 44:04 fakir miskin mereka. Karena mereka 44:06 sebagai wali dari orang-orang yang 44:08 membutuhkan. He eh. 44:09 Walan yaju a fakirun walan yaro illa 44:12 bima fa ala agniyahum dan tidak akan 44:14 terjadi kemiskinan, tidak akan terjadi 44:16 kelaparan, begitu juga mereka yang 44:19 telanjang kecuali disebabkan karena 44:20 pengabaian orang-orang yang kaya dari 44:22 mereka. 44:23 Menyebarnya kebodohan tanggung jawab 44:25 ulama. Oleh karena itu umat yang bodoh, 44:27 yang bercerai berai, yang 44:28 bermusuh-musuhan, yang paling depan 44:30 dipanggil oleh Allah adalah para ulama. 44:32 Begitu juga kerusakan juga dalam bidang 44:35 hukum, ya, disebabkan karena kebijakan 44:39 makro yang dilakukan oleh yang berwenang 44:41 tidak berpihak kepada rakyat, kita 44:43 enggak bisa bayangkan tanggung jawab 44:45 mereka di akhirat. Sekarang mereka 44:46 bersenang-senang 44:48 tapi [berdehem] mereka kelak akan 44:49 betul-betul masuk dalam api neraka 44:52 fidarkil asfali minannar. 44:53 Naudzubillah. 44:54 Jadi Angga, kalau kita perhatikan 44:55 sama-sama di sini 44:58 bahwa 44:59 seperti tadi yang kita sebutkan 45:01 setiap muslim harus memiliki kesadaran. 45:04 He eh. 45:05 Bahwa kamu terikat dengan Allah. 45:08 Bertanggung jawab di hadapan Allah atas 45:10 semua potensi yang Allah berikan kepada 45:12 kamu. Wala tus aluna yauma idzin 45:15 an inna lain yang sekecil-kecilnya. 45:17 Oleh karena itu kita lihat orang-orang 45:18 yang sadar 45:20 kita lihat seperti Zakir Naik. 45:23 Ketika dia berbicara mengenai zakat dan 45:25 infak 45:26 dia mengatakan bahwa anaknya itu ya 45:29 mengeluarkan 51% 45:31 dari pendapatan dia. He eh. 45:34 Sedangkan dia lebih besar lagi. 45:36 Bukan bicara 2,5%? Kalau kita masih 45:38 berkutat 2,5% 2,5% dari keuntungan apa 45:42 dari keseluruhan? Masih dihitung dari 45:43 keuntungan. 45:44 Kita punya pola pikir yang duniawi. He 45:47 eh. Iya. Bukan mempersiapkan dunia kita 45:50 untuk akhirat kita. Kita mengutamakan 45:52 yang cepat bal tu'tsirunal hayata dunya 45:54 wal akhiratu 45:56 khairun wa abqo. Jadi orang kita ini 45:57 aneh, yang kekal mereka abaikan, mereka 46:00 mengutamakan dunia mereka. 46:02 Jadi kita ingin betul-betul dimulai 46:05 dengan edukasi yang dilakukan oleh 46:07 orang-orang yang berilmu, memberikan 46:09 edukasi kepada rakyat, kepada para 46:12 pejabat di atas. Jangan pejabat cabutan 46:15 yang ditawarkan kita pilih, setelah kita 46:17 pilih dia lupa kepada rakyat. Yang 46:20 anehnya, ulama-ulamanya juga tidak 46:22 memberikan contoh yang baik. 46:24 Seharusnya ulama yang memberikan 46:26 pendidikan, menanamkan kesadaran harus 46:28 memulai dari diri mereka. Jangan ulama 46:31 yang justru hidup bersenang-senang di 46:33 atas penderitaan rakyat. Sebagai contoh, 46:36 dia berdakwah di kalangan rakyat miskin, 46:39 yang mengumpulkan uang Rp 1.000, Rp 46:41 2.000. 46:43 Ulama datang dengan kendaraan mobil 46:45 dalam keadaan sejahtera. 46:48 Hatinya tega 46:49 menerima pemberian yang diberikan oleh 46:51 mereka. 46:52 Seharusnya ulama ini mencontoh 46:54 Rasulullah, datang dengan membawa rahmat 46:57 kepada mereka, bertanya, "Apa kebutuhan 46:59 kalian? 47:01 Bagaimana cara meningkatkan coba kinerja 47:03 kalian? Apa kekurangan kalian? Dalam 47:05 bidang modal?" Bagaimana ulama membantu 47:07 menghubungkan yang kaya untuk memberikan 47:09 akses modal kepada mereka agar mereka 47:12 bisa membuka lapangan pekerjaan. 47:14 Tapi sekarang ulama-ulama berpikir 47:17 bagaimana dengan ceramah mereka, dengan 47:19 paket-paket yang mereka buat ya, di 47:21 samping mengangkat nama mereka di tengah 47:23 masyarakat, mereka bisa mencari 47:24 keuntungan dari mereka. 47:26 Sampai akhirnya setiap kali dipanggil, 47:28 "Tarif saya sekian." 47:30 "Dalam kota di luar kota sekian, di luar 47:33 negeri sekian." Sampai ada sebuah 47:34 cerita, 47:36 seorang penceramah yang cukup kondang 47:38 diundang ke Australi oleh jemaah-jemaah 47:41 Indonesia di sana, 47:42 yang mengumpulkan uang dari gaji mereka 47:44 untuk mengundang. 47:46 Ketika diundang, si ulama bilang, "Saya 47:48 minta tiket pulang pergi saya dan istri 47:51 bersama keluarga, sekalian berlibur." 47:53 Kemudian 47:55 hotel disiapkan kan? 47:57 Dia minta uang sejumlah sekian. Ehm. 48:02 Bandingkan kalau saya di Jakarta, saya 48:04 berceramah sekali ceramah sekian, 48:05 sekian, sekian, sekian, ya. Saya pergi 48:07 jauh sekarang meninggalkan ceramah saya, 48:08 meninggalkan umat saya, saya minta 48:10 kompensasi yang sesuai. Dan itu bicara 48:12 begitu tanpa beban, ya? Tanpa beban. 48:16 Yang di sana sedih sekali mendengarkan 48:18 ceramahnya yang begitu indah, tapi 48:20 kenyataannya seperti ini. Mereka 48:22 mengatakan, "Kami enggak mampu. 48:24 Kami ini bekerja di Australi, kami 48:26 sisihkan sebagian hasil kami." 48:30 Coba lihat, Rasulullah justru datang. 48:32 Datang berkeliling untuk menaburkan 48:35 rahmat di tengah mereka. 48:37 Orang yang tadinya dalam kondisi butuh, 48:39 susah, Rasulullah panggil, Rasulullah 48:42 berikan modal kerja, disuruh mencari 48:44 kayu. Ehm. Ketika dia berhasil, 48:47 tangannya yang penuh dengan kapalan dan 48:50 luka-luka, 48:51 diusap oleh Rasulullah, dia mengatakan, 48:52 "Hadihi yadun ahabbahullah." Ini 48:54 merupakan tangan yang dicintai oleh 48:56 Allah. Bahkan ada keterangan sampai di 48:57 Iya, ada yang mengatakan dicium. Ehm. 48:59 Kemudian Rasulullah memberikan motivasi 49:01 bagi para petani. "Seandainya seseorang 49:04 dari kalian menghadapi hari kiamat, di 49:06 hadapan kiamat, Ehm. 49:07 di tangannya ada anak pohon kurma, lalu 49:09 ditancapkan, dia akan mendapatkan 49:11 pahala." 49:12 Tanpa mengharap hasilnya itu. Padahal di 49:15 hadapan kiamat, bagaimana kalau hasilnya 49:17 bisa dinikmati oleh banyak orang. Oleh 49:19 karena itu, di antara pahlawan bangsa 49:21 kita ini para petani. Ehm. 49:22 [mendengus] 49:23 Mereka menghasilkan, mereka juga membuat 49:26 orang lain menikmati hasil mereka. 49:27 Jangan seperti 49:29 pejabat-pejabat berdasi, duduk di atas 49:32 digaji oleh rakyat, membawa kesengsaraan 49:34 kepada rakyat. Begitu juga ulama-ulama 49:36 dengan pakaian ulama, ya, 49:38 seharusnya membawa pencerahan, harapan 49:40 buat umat, tapi ternyata datang 49:42 meninggalkan fitnah, perpecahan di 49:44 antara mereka, lalu dibayar lagi dengan 49:46 fitnah yang mereka sebarkan. 49:48 Jadi, kesimpulannya, 49:49 kita pada saat ini harus membangun 49:51 kesadaran, kebersamaan diantara kita al 49:54 mukmin lil mukmin kal kalbuniyat. 49:57 Yasyudu ba'duhu ba'da, orang yang 49:58 beriman bersama saudaranya yang beriman 50:00 bagaikan bangunan yang saling topang 50:01 menopang. 50:02 Begitu juga masalul mukminina fi 50:04 tawadihim wa ta'atufihim wa tarahumihim 50:07 kamatsalil jasadil wahid. Idza syataka 50:09 minhu udwun, tada tada lahu sairil 50:12 jasadi bisahri wal humma. Orang yang 50:14 beriman diumpamakan dalam kasih sayang, 50:16 kerjasama, kepedulian mereka. 50:19 Seperti satu jasad kalau satu tubuhnya 50:21 sakit, dia akan merasakan sakit. 50:24 Sakit gigi ternyata apa? Berdampak juga 50:26 merasakan perasaan tidak nyaman. 50:28 Sakit perut juga demikian. Oleh karena 50:31 itu tidak mungkin kita akan bangkit. 50:34 Akan maju kalau kita jalan mundur ke 50:36 belakang dan kita berleha-leha tidur 50:38 tanpa rasa tanggung jawab sama sekali. 50:41 Sebenarnya pengen banget tuh kita 50:42 nanya-nanya lagi gitu ya lebih jauh 50:43 lagi. Apalagi itu tuh kalau ulama sama 50:45 orang kaya kolaborasinya seperti apa 50:47 gitu ya. Tapi ada juga ada pertanyaan 50:49 nih Pak Ustaz ya. Kita ke pertanyaan 50:51 dulu ya Pak Sapril ya. Silakan. 50:53 Padahal kita ingin contoh juga tuh Pak 50:54 Ustaz di Bangladesh ada Mahmud Yunus ya. 50:56 Mahmud Yunus ya. Wah itu. 50:58 Kalau saya baca dari buku. 51:00 Walaupun masih apa? Walaupun masih eh 51:02 apa? Bersangkutan dengan riba juga. 51:04 Setidaknya ada gerakan buat masyarakat 51:05 ya gitu ya. 51:07 Oke, saya akan ke pertanyaan pertama 51:08 ini. 51:09 [berdehem] 51:10 Pak Sapril dan juga Ustaz Husein. 51:12 Dari hamba Allah tidak menyebutkan nama. 51:15 Pak Ustaz bagaimana dengan sikap 51:17 sebagian muslim. 51:19 Untuk menutupi kemalasan dan 51:21 ketidakmampuannya untuk berusaha 51:23 maksimal, berusaha dan bekerja. 51:26 Dia tidak memanfaatkan potensi dirinya. 51:29 Dia selalu menggunakan kalimat buat apa 51:31 mengejar dunia, lebih baik mengejar 51:34 akhirat. Akhirnya dia hanya mengharapkan 51:36 bantuan dari pemerintah. 51:38 Dari orang kaya dan juga dari orang 51:40 lain. Keperluan utama untuk diri dan 51:43 keluarganya, apalagi untuk pendidikan 51:45 anaknya itu tidak bisa dipenuhi. 51:47 Bagaimana mental seperti ini, Bapak 51:49 Ustaz? Mental muslim seperti ini. Baik. 51:53 [berdehem] 51:53 Jawabannya sederhana sekali. Ini bukan 51:55 mental orang yang beriman. Ehm. Bukan 51:58 mental orang yang mengikuti petunjuk 52:00 Kitab Allah Subhanahu wa Ta'ala. 52:04 Kalau Allah menginginkan orang yang 52:05 beriman 52:07 hanya beribadah 52:09 hanya beriba Ehm. beribadah 52:13 tidak berjuang dalam kehidupan dunia ini 52:16 Allah Subhanahu wa Ta'ala cukup 52:17 menempatkan malaikat di atas muka bumi 52:19 akan lebih baik dari mereka. Iya. 52:21 Betul enggak? Iya. 52:23 Justru karena apa? 52:26 Karena pilihan kebebasan tanggung jawab 52:28 manusia, malaikat terheran-heran. 52:31 Mengapa Engkau tempatkan di muka bumi 52:33 makhluk yang berpotensi untuk bisa 52:35 merusak, menumpahkan darah? 52:36 Ehm. 52:37 Kan dari kata khalifah di sini, ya 52:40 ada keterangan yang tidak diterangkan 52:41 oleh Allah. Maksudnya sebagai khalifah 52:44 yang diberikan pilihan kehendak dan 52:45 kebebasan. Ehm. 52:47 Malaikat terkejut. 52:50 Allah Subhanahu wa Ta'ala menjawab bahwa 52:52 Aku tahu apa yang kalian tidak tahu. 52:55 Malaikat hanya melihat sisi negatifnya 52:58 bahwa manusia ini akan merusak, 52:59 menumpahkan darah. 53:01 Dia tidak apa? Tidak memahami bahwa di 53:03 antara manusia yang diberikan pilihan 53:05 kebebasan, ada yang rela mengorbankan 53:08 diri mereka demi kemanusiaan karena 53:10 mengharapkan ridho Allah. 53:13 Berjuang tanpa pamrih untuk kepentingan 53:15 dirinya 53:16 tapi semata-mata untuk keridhoan Allah 53:17 Subhanahu wa Ta'ala. Jangankan di tengah 53:20 orang Islam. Kalau kita lihat orang 53:22 seperti Nelson Mandela. Ehm. 53:24 Saya termasuk pengagum Nelson Mandela. 53:27 Yang dipenjara selama 20 tahun mungkin. 53:31 Dikubur sampai ke lehernya, ya. 53:35 Menjalani penderitaan ketika dibebaskan 53:38 setelah perjuangan dia berhasil. Ehm. 53:41 Dia memberikan maaf kepada orang yang 53:42 menganiaya. 53:44 Sipirnya termasuk. Dan orang-orang 53:45 berkulit putih mengagumi dia, bahkan 53:48 merupakan bagian dari teman perjuangan 53:51 di pemerintahannya. Ketika dia 53:52 diturunkan tidak dipilih kembali, dengan 53:54 legowo dia turun. Tapi ketika dia 53:56 meninggalkan dunia, 53:58 para pemimpin dunia datang memberikan 54:00 penghormatan dan sampai saatnya dikenal 54:02 Ibu Theresia, 54:04 Nelson Mandela termasuk Chavez, 54:07 penguasa Venezuela. Ketika dia 54:08 digulingkan, digulingkan, Iya. 54:12 tentara mengembalikan dia kembali 54:14 setelah memberikan perlindungan karena 54:15 dia bekerja untuk rakyatnya. He eh. 54:17 Di mana orang-orang yang berwenang pada 54:19 saat itu datang menjemput rakyatnya yang 54:21 susah, yang sakit, memberikan bantuan 54:23 kepada mereka tidak harus menunggu 54:25 mereka datang ke rumah sakit. He eh. 54:27 Jadi kalau kita perhatikan, 54:30 orang-orang di luar Islam berbuat 54:31 seperti ini, kita kagumi. Bagaimana 54:34 kalau seandainya orang Islam yang 54:35 melakukan? 54:36 Jangan kita saksikan layanan sosial di 54:39 tengah-tengah masyarakat Islam layanan 54:40 yang mencekik. He eh. 54:42 Nah, orang-orang seperti tadi yang tidak 54:44 sama sekali berkontribusi, ya, 54:46 bergantung, ya, orang seperti ini orang 54:49 yang tidak memberikan manfaat. 54:51 Orang seperti ini orang yang membawa 54:54 beban bagi umat. 54:55 Sebagaikan khusyubun musannadah, 54:58 balok-balok yang disandarkan bukan balok 55:00 yang menyangga. Kaanahum khusyubun 55:02 musannadah. Biasanya orang seperti ini 55:04 orang-orang yang menimbulkan rongrongan 55:06 buat umat. 55:07 Selalu mengeluhkan nasibnya, keadaannya. 55:10 Oleh karena itu ketika Rasulullah 55:12 sallallahu alaihi wasallam menyaksikan 55:14 seorang yang dililit hutang dalam 55:16 keadaan berduka di masjid, 55:19 ketika ditanya kenapa kamu seperti ini, 55:21 dia mengatakan hammun billaili wa 55:23 dzullun bin nahar, 55:24 penderitaan, kesedihan di waktu malam, 55:26 kehinaan di waktu siang. 55:28 Langsung Rasulullah ajarkan dia doa. 55:30 Doanya doa motivasi. Allahumma inna 55:32 audzubika minal hammi wal hazan wa 55:34 audzubika minal ajzi wal kasar. Iya, 55:36 iya, iya. Aku berlindung padamu dari al 55:38 ajz, enggak ada semangat kerja. 55:42 Wal kasar, kemalasan. Karena malas 55:44 Doanya kan nyangkut sama dirinya ini. 55:46 [tertawa] 55:46 Jadi, bagaimana mendidik dia untuk 55:48 mengingatkan bahwa kemunduran dia ini 55:50 karena al ajz, patah semangat. 55:53 Kasar. Ya. Al ajz itu bukan hanya 55:55 menggambarkan kelemahan fisik, kelemahan 55:57 mental. Hmm. Kemudian kemalasan. Wa 56:00 na'uzubika minal jubni wal bukhli. Aku 56:02 berlindung padamu dari apa? Rasa kikir, 56:04 eh dari takut dan kikir. Hmm. Karena 56:07 orang kalau takut untuk apa? Berjuang 56:09 dia tidak akan pernah sama sekali keluar 56:11 dari problemanya. Hmm. Begitu juga kalau 56:13 orang berhasil kemudian kikir, oh tidak 56:15 akan berkahi usahanya. 56:16 Jadi, doa-doa motivasi seperti ini amat 56:18 berguna. Sabda Nabi mengatakan al mukmin 56:21 al qawi ahabbu ilallah minal mukmin al 56:23 dhaif. Orang mukmin yang kuat lebih 56:25 dicintai daripada mukmin yang lemah, 56:27 walaupun dua-duanya dicintai Allah, tapi 56:30 yang lemah ini kan mau enggak mau di 56:32 luar kemauan dia, yang sakit, yang lemah 56:34 dia tidak mampu memberikan manfaat bagi 56:36 orang banyak. Hmm. 56:37 Tapi yang kuat di samping dirinya, 56:39 keluarganya, dia berikan keberkahan 56:41 untuk semuanya. Oleh karena itu perlu 56:43 kita memahami apa yang dikatakan amal 56:45 akhirat dan amal dunia. Amal akhirat dan 56:47 dunia. Kalau seorang ustaz, Pak Syafril 56:49 Iya. ngajar Alquran, ngajar tafsir, 56:52 ngajar fikih, tapi tujuannya dunia, itu 56:54 amal dunia. Hmm. 56:57 Tapi kalau orang ngajar bahasa Inggris, 56:58 ngajar matematik, ngajar juga katakan 57:01 fisika, untuk mendidik anak bangsa ini 57:03 supaya mampu menjadi muslim yang kuat 57:05 Hmm. tujuannya mengharapkan ridha Allah, 57:07 itu amal akhirat. 57:10 Jadi, amal dunia, amal akhirat itu 57:11 tergantung apa? Niat. Niatnya. Bukan 57:13 hanya konten. Bukan hanya kontennya. 57:15 Walaupun dia mengajarkan Quran, walaupun 57:18 dia mengajarkan tafsir, ulama yang 57:20 kondang di sana sini, yang terpikir 57:22 amplop sebagai imbalannya, itu amal 57:24 dunia. 57:25 Iya. 57:26 Jadi, mari bersama-sama kita berjuang 57:28 dalam dunia kita untuk akhirat kita, dan 57:31 jangan kita menjadi beban buat orang 57:32 lain, tapi mari kita menjadi orang-orang 57:35 yang memikul beban orang lain. 57:37 [mendengus] 57:38 Karena sebaik-baiknya kalian yang paling 57:40 bermanfaat bagi manusia, khairukum 57:42 anfa'ukum linnas. Mungkin cukup ya. Jadi 57:45 Pak Sapril, kalimatnya kan enggak salah 57:48 ya. Mengutamakan akhirat. 57:50 Menyampingkan dunia, tapi masalah sikap 57:52 tadi yang salah ya. Sedikit dari Pak 57:53 Sapril. Iya, sebetulnya ada respect 57:55 productivity. [berdehem] 57:57 Dengan niat mencari ridho Allah, maka 57:59 dalam bekerja dia akan berusaha 58:01 seoptimal mungkin menampilkan 58:04 produktivitas optimal, Ustaz. Betul. 58:06 Sepanjang ini niat karena mau cari ridho 58:08 Allah. 58:09 Betul. Karena dia akan malu bekerja, 58:12 bermalas-malasan karena tidak sinkron 58:14 dengan niatnya mau cari ridho Allah. 58:16 Betul. Jadi pendengar sekalian, pemirsa, 58:19 di penutup acara ini, mungkin suatu 58:21 waktu kita akan 58:22 eh himpun beberapa komponen masyarakat, 58:25 pedagang, 58:27 kemudian UMKM dan sebagainya, bagaimana 58:30 merancang kebersamaan ini 58:33 cari ridho Allah tapi harus dengan 58:35 kinerja yang paling baik. Dengan kinerja 58:38 optimal. Jadi inilah yang mungkin proses 58:41 edukasi yang bisa dilakukan oleh Rasio 58:43 dalam mencerdaskan umat, dalam bagian 58:46 dari upaya menanggulangi kemiskinan. Ya, 58:49 karena waktu singkat ini mungkin kita 58:50 juga seandainya [berdehem] 58:51 Ustaz sama ahli pertanian datang ke 58:54 daerah pertanian. 58:55 Memberikan ceramah edukasi buat mereka. 58:58 Meyakinkan mereka, Ustaz itu mereka akan 58:59 di hadapan mereka di jalan Allah Ta'ala. 59:02 Kemudian para ahlinya mendidik mereka 59:05 bagaimana mengembangkan pertanian 59:06 mereka. Betul enggak? 59:07 Iya. Iya, iya, iya. Itu bisa dilakukan. 59:11 Iya, saya kira ini bagian dari rencana 59:13 kita jangka panjang, Ustaz. 59:16 Iya. 59:17 Karena eh kita harapkan dengan ini 59:22 program edukasi umat, 59:24 kemudian meningkatkan produktivitas, 59:27 membangun komunitas 59:29 yang arahnya semata-mata cari ridho 59:31 Allah tapi melaksanakan kegiatan dunia 59:33 ini dengan sebaik-baiknya, 59:35 kita akan 59:36 akan lakukan di program-program 59:38 rencananya gitu kan. Masih bisa satu 59:39 pertanyaan Ustad? Bisa. 59:41 Ya, kita ke satu pertanyaan lagi ya. 59:43 Dari 0889 59:46 045 sekian-sekian tidak juga menyebutkan 59:49 Assalamualaikum warahmatullahi 59:51 wabarakatuh. 59:51 Waalaikumsalam warahmatullahi. 59:52 [berdehem] 59:53 Pak Ustad 59:55 dan juga semua kru Rasel semoga selalu 59:57 diberikan kesehatan, keberkahan umur dan 59:59 juga rezeki. 1:00:00 Saya mau bertanya, bagaimana kita 1:00:02 melihat sistem yang tidak mendukung 1:00:06 orang miskin itu keluar dari kemiskinan. 1:00:08 Ya, contohnya di negeri ini. 1:00:10 Apa yang harus kita lakukan Pak Ustad? 1:00:12 Nah, ini bicaranya benar Pak Ustad ada 1:00:14 yang mengatakan bahwa kalian tidak akan 1:00:16 pernah kaya karena di Indonesia, karena 1:00:18 sistemnya begini gitu. Eee, kalau kita 1:00:21 biarkan 1:00:23 seperti ini, ya, 1:00:25 maka selamanya kita akan apa? Selamanya 1:00:28 kita akan 1:00:30 berada di garis kemiskinan, tidak akan 1:00:32 pernah berubah. Oleh karena itu saya 1:00:33 bilang perubahan harus ada kolaborasi. 1:00:37 Yang membuat 1:00:38 sistem seperti ini kan siapa? 1:00:41 Siapa yang membuat sistem? 1:00:43 Pembuat kekuasaan. 1:00:45 Yang mengangkat pemerintah siapa? 1:00:47 Masyarakat. Nah, kalau masyarakatnya 1:00:49 masih tetap mengangkat pemimpin-pemimpin 1:00:51 yang pandai berbicara, tidak terbukti 1:00:54 sama sekali apa? Kinerja mereka selama 1:00:56 ini, 1:00:57 mereka dibodoh-bodohi pada saat 1:00:59 kampanye, akhirnya seperti ini. 1:01:01 Oleh karena itu, ya, dari mulai kita 1:01:03 memilih calon pemimpin kita, kita 1:01:05 betul-betul harus berhati-hati. 1:01:08 Karena kita serahkan kepercayaan, amanat 1:01:11 kehidupan kita, bangsa kita kepada 1:01:12 mereka kan. 1:01:13 Kemudian juga apa? Ulama-ulama di sini 1:01:16 harus bekerja sama, jangan menjadi 1:01:17 pendukung partai, jangan menjadi jurkam, 1:01:20 tapi memberikan edukasi kepada 1:01:22 masyarakat untuk menunjukkan siapa 1:01:24 kira-kira calon pemimpin yang tepat dan 1:01:26 baik. Oleh karena itu saya tidak ingin 1:01:28 ulama berafiliasi kepada partai. 1:01:30 Karena partai ini merupakan apa? 1:01:32 Merupakan ladang pemain politik yang 1:01:34 bisa bohong, bisa janji palsu, tapi 1:01:36 kalau ulama-ulamanya memberikan edukasi 1:01:38 kepada masyarakat, menunjuk siapa 1:01:40 kira-kira calon pemimpin yang akan 1:01:42 membela hak mereka, berjuang demi 1:01:44 kepentingan mereka, dan juga 1:01:45 mengeluarkan kebijakan yang pro rakyat. 1:01:48 Nah, tidak mungkin sekarang kita mau 1:01:50 sekarang akan apa? Akan ada perubahan. 1:01:53 Jadi untuk pemilihan akan datang, jangan 1:01:55 lagi mau kita dibodoh-bodohi. 1:01:57 Kemudian sebelum ada perubahan nanti, 1:02:00 kita masyarakat mempersiapkan diri kita. 1:02:03 Karena kalau kita enggak menyukai hal 1:02:04 yang salah dari orang lain, jangan kita 1:02:06 lakukan kesalahan. Jadi ulama-ulamanya 1:02:09 harus merubah akhlak mereka, kemudian 1:02:11 tokoh-tokoh politik kita juga yang setia 1:02:13 untuk perjuangan, ya, harus kita kawal. 1:02:16 Kemudian, ya, 1:02:18 kita juga berharap betul-betul apa? 1:02:21 Perhatian kita ini semua bersama-sama ke 1:02:24 arah perbaikan umat, bukan hanya untuk 1:02:27 meningkatkan apa? Kesejahteraan kita 1:02:29 pribadi ataupun golongan kita. Jangan 1:02:31 lagi bicara soal NU, soal Muhammadiyah. 1:02:34 Akhirnya gara-gara fanatisme ini, kita 1:02:37 akan mendukung calon dari NU walaupun 1:02:39 jelas-jelasan dia enggak benar. 1:02:41 Begitu juga yang Muhammadiyah begitu, 1:02:43 kelompok yang lain pun demikian, apalagi 1:02:45 dengan isu macam-macam saat ini yang 1:02:47 berkembang, sengaja disebarkan oleh 1:02:49 musuh-musuh Islam, akhirnya membuat 1:02:50 potensi kita berserakan dan 1:02:52 bercerai-berai. 1:02:54 Jadi untuk mengubah sistem yang salah, 1:02:56 dengan sendirinya kita harus kembali 1:02:58 kepada apa? Akar persoalannya. 1:03:00 Anda memilih seorang pemimpin yang baik, 1:03:03 yang bertakwa kepada Allah, Anda akan 1:03:05 menerima hasilnya. Kalau tidak, Anda 1:03:07 merelakan diri Anda untuk hidup 1:03:08 sepanjang masa di Indonesia 1:03:10 ditertawakan, ya, kemudian juga 1:03:13 dipermainkan, 1:03:14 Anda menyerahkan juga hidup Anda 1:03:16 seluruhnya kepada mereka. Di dunia Anda 1:03:18 sengsara, di akhirat Anda termasuk orang 1:03:20 yang berkhianat karena Anda menunjuk 1:03:22 orang yang sama sekali apa? 1:03:25 Tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu 1:03:26 betul-betul 1:03:28 saya merasakan kenangan kisah dari Imam 1:03:31 Hasan Al Banna. Saya anggap merupakan 1:03:33 pejuang ya 1:03:34 yang apa? Yang betul-betul punya 1:03:36 ketulusan. Dari mulai tahun 28 hingga 1:03:39 tahun 48. Di Mesir Ustaz ya. 1:03:41 Dia disambut [berdehem] oleh semua 1:03:42 kalangan. He eh. Belum pernah ada 1:03:44 seorang pemimpin yang disambut oleh 1:03:45 semua kalangan dan mengajak ke arah 1:03:48 persatuan He eh. 1:03:49 seperti Al Banna. 1:03:51 Oleh karena itu Inggris ketika melihat 1:03:53 menjadi ancaman buat hegemoni mereka, 1:03:55 dominasi mereka di Mesir, mereka tembak. 1:03:58 He eh, he eh, he eh. 1:03:58 Karena kalau dibiarkan 1:04:00 dia berhasil mengajak seluruh lapisan 1:04:02 umat Islam bahkan dari luar 1:04:05 untuk bisa bersatu bersama-sama 1:04:07 berkomunikasi. He eh. Ini menjadi 1:04:08 ancaman buat penjajah. Oleh karena itu 1:04:11 fitnah yang berkembang pada saat itu 1:04:13 termasuk juga Syiah Sunni pada saat itu 1:04:15 menghadapi Zionis. 1:04:16 Itu juga bagian dari program Zionis. Dan 1:04:19 yang menyebarkan fitnah ini saya yakin 1:04:21 antek-antek Zionis. He eh. Baik sadar 1:04:24 maupun tidak sadar. Tapi yang mengajak 1:04:26 ke arah persatuan, kerukunan, 1:04:28 mendiskusikan perbedaan di antara kita 1:04:30 dengan penuh sifat legowo, insyaallah 1:04:33 Allah subhanahu wa taala akan 1:04:35 bangkitkan, majukan bangsa kita dari 1:04:38 keterpurukan ini. Insyaallah 1:04:39 mudah-mudahan untuk para pemimpin di 1:04:41 masa akan datang 1:04:43 baik itu wakil rakyatnya, begitu pula 1:04:45 kepada apa? 1:04:46 Eee para pemimpin yang apa? Yang 1:04:49 memimpin negeri kita saat ini, 1:04:51 mudah-mudahan diberikan kesadaran. Kalau 1:04:52 tidak dia akan berlalu bagaikan angin, 1:04:55 gone with the wind. He eh. Akan berlalu 1:04:57 dengan sia-sia, tapi kalau mereka dengan 1:04:59 sisa masa jabatan mereka berjuang untuk 1:05:02 kepentingan bangsa negara akan dikenang 1:05:04 sebagai pahlawan. 1:05:06 Nah, itu yang kita harapkan 1:05:07 mudah-mudahan. Mudah-mudahan 1:05:09 eee kita yang berjuang di Rasio ini 1:05:11 berjuang semata-mata untuk mengharapkan 1:05:13 ridho Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 1:05:15 Walaupun pendapatan orang-orang yang 1:05:17 berjuang di Rasil, kru-krunya tidak 1:05:18 seberapa 1:05:20 tapi saya yakin bahwa ini jihad. 1:05:22 Sedangkan yang diberikan bukan sebagai 1:05:23 upah dan bayaran, upah mereka datang 1:05:25 dari sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 1:05:28 Demikian pula kepada para pejuang di 1:05:29 jalan Allah Subhanahu [berdehem] Wa 1:05:31 Ta'ala, jangan berkecil hati. 1:05:33 Sesungguhnya dunia akan mengiringi 1:05:35 mereka selagi mereka melayani Allah 1:05:37 Subhanahu Wa Ta'ala. Subhanakallahumma 1:05:39 Wabihamdik, Asyhadu An La Ilaha Illa 1:05:41 Anta, Astaghfiruka Wa Atubu Ilaih. 1:05:45 Wal Afu Minkum, Wassalamualaikum 1:05:47 Warahmatullahi Wabarakatuh. 1:05:50 Ikhwan Akhwat yang dirahmati Allah 1:05:51 Subhanahu Wa Ta'ala, demikianlah dialog 1:05:54 kita bersama Ustad Husain Alattas dan 1:05:56 juga Pak Syafri Lubis di hari ini. 1:05:59 Semoga apa yang disampaikan bermanfaat 1:06:01 dan Ikhwan Akhwat bisa menyimak kembali 1:06:04 tadi yang ketinggalan ya. Insya Allah 1:06:05 ini rekamannya akan kami upload di 1:06:08 channel YouTube Rasil TV, dialog bersama 1:06:11 Ustad Husain Alattas. 1:06:13 Demikian acara di kesempatan kali ini, 1:06:15 kami undur diri. Mohon maaf atas segala 1:06:17 kesalahan kata. Terima kasih atas 1:06:18 kebersamaan Anda. Billahi Taufiq Wal 1:06:20 Hidayah. Subhanakallahumma Wabihamdik, 1:06:22 Asyhadu An La Ilaha Illa Anta, 1:06:23 Astaghfiruka Wa Atubu Ilaih. 1:06:24 Assalamualaikum Warahmatullahi 1:06:26 Wabarakatuh.