Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullah.
- Alhamdulillahiabbil alamin wabihi
- nastain waa umurid dunya waddin wasalatu
- wasalam ala asrofil iyaai wal mursalin
- wa ala alihi wasohbihi ajmain. Ashadu
- alla ilahaillallah wa ashadu anna
- muhammadan abduhu wa rasuluh. Allahumma
- sholli wasallim wabarik ala nabiyana
- muhammadin wa ala alihi wasohbihi
- ajmain. Asyhadu alla ilahaillallah wa
- asyhadu anna muhammadan abduhu wa
- rasuluh. Q Allahu taala fil Quranil
- karim. Auzubillahiminasyaitanirjim.
- Qolu subhanaka la ilma lana illa
- maamtana
- innaka antal alimul hakim. Waq aid
- innallaha waaikatahu yusuna alan nabi.
- Ya ayyuhalladzina amanu shu alaihi
- wasallimu taslim. Sadaqallahulim. Ikhwan
- akhwat masih dipancarkan dari Jalan
- Masjid Silaturahim nomor 36 Cibubur
- Bekasi. Mila Radio Silaturahim dan Rasil
- TV untuk Islam yang satu. Ikhwan akhwat
- yang dimuliakan Allah subhanahu wa
- taala. Bagaimana kabar Anda di Jumat
- sore ini? Semoga selalu dalam keadaan
- sehat walafiat.
- Senang sekali saya Fauzi Ridonul Haq
- ditemani oleh Neza dan juga Yusuf
- Subangkit dapat kembali menemani ikhwan
- akhwat dalam program tausiah sore edisi
- 28 Safar 1447
- Hijriah dan juga bertepatan dengan
- tanggal 22 Agustus 2025
- bersama guru kita Ustaz Ahmad Saleh.
- Alhamdulillah beliau sudah hadir bersama
- kita. Maka kita sapa guru kita terlebih
- dahulu. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Kabarnya sehat, Ustaz?
- E, alhamdulillah sihah waliah.
- Alhamdulillah atas doa dari semuanya.
- Amin. Alhamdulillah. Baik, Ikhwan Awat.
- Semoga kesehatan juga dirasakan oleh
- ikhwan akhwat di mana pun Anda berada.
- Kami doakan selalu dalam keadaan sehat
- walafiat. Bagi ikhwan akhwat yang dalam
- perjalanan pulang menuju rumah, kami
- doakan semoga lancar, selamat sampai
- rumah dan bagi ikhwan ahad yang sudah
- berada di rumah, semoga kajian ini dapat
- menemani ikhwan akhwat kebersamaannya di
- rumah masing-masing. Baik, Ikhwanawat.
- Insyaallah pada Jumat e sore ini
- menjelang akhir Jumat, Ustaz Ahmad Saleh
- akan membahas tentang kemuliaan dan
- keutamaan para wali Allah bagian ketiga,
- Ustaz.
- Ee kemarin sampai hadis yang ketiga,
- Ustaz.
- Hadis ketiga. Nam.
- Insyaallah kita pada sore ini akan
- membahas hadis yang keempat. Insyaallah.
- Nah, insyaallah.
- Baik. Namun sebelumnya bagi Anda yang
- ingin berpartisipasi dalam kajian ini
- dapat mengirimkan
- pertanyaan dan apresiasi di WhatsApp
- 0811999720.
- Dan bagi Anda yang ingin berinteraksi
- langsung dengan Ustaz dapat menghubungi
- di 0218451512.
- Mari kita simak dan dengarkan ilmu yang
- akan disampaikan oleh Ustaz Ahmad Saleh
- tentang kemuliaan dan keutamaan pari p
- para wali Allah yang bagian ketiga.
- Tafadul Ustaz.
- Alhamdulillahi
- hamdan katsiran thyiban mubarokan fih
- kama yuhibuna waard ashadu alla
- ilahaillallah wahdahu la syarikalah wa
- ashadu anna muhammadan abduhu wa
- rasuluhu wa innahu
- la nabiya ba'da. Allahumma sholli
- wasallim wabarik ala nabiyina Muhammadin
- wa ala alihi wa ashabihi waman tabiahum
- biihsanin ila yaumilqiamah. Amma ba'd.
- Ikhwan dan akhwat yang sama-sama
- mengharapkan keridaan dari Allah azza wa
- jalla. Alhamdulillah pada kesempatan ini
- kita masih dipertemukan kembali meskipun
- lewat udara dalam melanjutkan kajian
- kitab Syarhu Riyadus Sadhin.
- Namam ee sebelumnya kita sudah membahas
- tentang tiga hadis ee dengan ee tema
- kemuliaan dan keutamaan para waliullah.
- Wala wali. Wala wali. Wali. Wala itu
- yang berpegang teguh, yang ber apa
- namanya? Yang mencintai gituah ya. Wala
- wala yang mencintai, yang berpegang
- teguh, yang berpihak kepada Allah
- subhanahu wa taala. Maka waliullah,
- waliullah itu kadang terlihat ee apa
- namanya? Karamah-karamahnya.
- Kadang tidak terlihat karamahnya tapi
- bisa dirasakan.
- Ada orang yang begitu taat
- ketika dibully, ketika disakiti dia
- sabar.
- Tapi ketika sekali mengangkat tangannya
- maka arasy terguncang. Langsung dikabul,
- langsung dijawab doanya oleh Allah
- Subhanahu wa taala. Tapi ada juga di
- antara waliullah itu yang nampak
- kesyadidannya dalam ee mentaati Allah
- subhanahu wa taala. Jadi ee dia tidak
- ada kompromi. Kalau salah ya salah,
- benar benar gitu loh gitu ya. Nah itu
- ditemukan itu semuanya ee potret-potret
- semacam itu pada diri sahabat Rasulillah
- Muhammad sallallahu alaihi wasallam.
- Sallallahu alaihi wasallam.
- Nah, kita akan melihat salah satu potret
- ini dalam hadis keempat ya. Baik, kita
- lanjutkan saja e masuk ke hadis keempat.
- Waan Urwat bni azzubairi
- dari Urwah bin Azzubair
- anna Said BNA Zaid ibni Amr bin Nufail
- radhiallahu anhu bahwasanya Said bin
- Zaid bin Amr bin Nufil semoga Allah
- meridainya
- khosomtu Arwa binta Ausin ila Marwan
- ibni Hakim diadukan oleh Arwa bin Taus
- kepada Marwan bin al-Hakam. Ini ketika
- Marwannya masih menjadi waliul imam,
- masih menjadi gubernur di Madinah.
- ardi faq saidahu
- alaihi wasillah
- rasullahallahu alaihi wasallqul
- man akibron
- minal ardiulmanuard
- fi ardiha waqat fiftratinat
- muttafaqun alaih.
- Jadi ee apa namanya? Ketika diadukan ke
- Marwaan ya, Said bin Zubair itu ee
- diadukan oleh Arwa binti Aus. Nah, ah
- kemudian ee dengan tuduhan bahwa Said
- merampas sebagian tanahnya.
- Kemudian Said berkata, "Aku merampas
- sebagian tanahnya setelah aku mendengar
- sabda Rasulullah sallallahu alaihi
- wasallam." Marwan bertanya, "Apa yang
- kamu dengar dari Rasulullah sallallahu
- alaihi wasallam?"
- Said menjawab, "Aku mendengar Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam bersabda,
- "Siapa yang merampas sejengkal tanah
- dengan zalim, maka tanah itu akan
- dikalungkan ke lehernya hingga tujuh
- petala bumi." Jadi, rupanya berdasarkan
- kisah ini justru
- arwalah lah yang awalnya mengambil tanah
- Said.
- Setelah Said mendengar bahwa siapa yang
- mengambil sejengkal tanah dengan
- kezaliman, maka itu akan apa namanya? Ee
- akan dikalungkan dalam dikalungkan k
- sampai tujuh petala petala bumi. Nah,
- ini sahabat itu kan pemahamannya begini.
- Maka dia ambil kembali dengan harapan
- dia tidak tertimpa
- suka kelarlah urusan di dunia gitu. Eh,
- malah ini diadukan
- gitu loh. Ah, kemudian kata Said ee apa
- namanya? Ee jadi kata Said, "Barang
- siapa ee dia mendengar bahwa Rasul
- Sallahu Alaih Wasallam bersabda, "Siapa
- yang merampas sejengkal tanah dengan
- zalim, maka tanah itu akan dikalungkan
- ke lehernya hingga tujuh petala bumi."
- Kemudian Marwan berkata kepadanya, "Ya,
- Marwan itu hakimnya, hakim karena
- gubernurnya.
- Aku tidak akan minta bukti kepadamu
- setelah kamu berkata begitu. Jadi karena
- dia menisbatkan jadi dulu di zaman
- sahabat itu kalau atas nama Rasul kalau
- apa sahabat itu terkenal udul adil maka
- tidak harus minta bukti lagi. Sudah saya
- percaya kalau gitu loh. Nah ini juga kan
- Nabi Adam juga begitu. Masa ada makhluk
- bersumpah atas nama Allah berbohong
- karena gitu maka ikutlah setan ikut
- iblis.
- Nah, karena saking mempercayai orang
- yang mengatasnamakan Al gitu. Maka
- kemudian para ulama kan beda pendapat.
- Adam itu dosa apa enggak gitu loh.
- Dosalah karena melak
- e apa mendengar iblis bersumpah atas
- nama Allah. Masa bersumpah atas nama
- Allah harus didustakan gitu. Nah,
- kembali juga kepada tadi. Ketika saya
- pernah mendengar Rasulullah langsung
- percaya kata Marwan, "Gak, saya enggak
- minta buktilah. Cukup dengan pernyataan
- itu. Begitu kurang lebih. Nah, kemudian
- Said lantas berkata, berdoa, "Ya Allah,
- apabila arwa berdusta gitu ya, e man e
- apa namanya? Allahumma in kanat
- kadibatan." Ya Allah, sekiranya dia
- berdusta, faami basoha fa'i maka butakan
- basarha penglihatannya.
- Tuh, kalau dia dusta tuh. Iya.
- Kalau dia dusta, butakan
- dan bunuhlah dia ardiha di tanahnya.
- Nah, itu doa siapa? Doa Said.
- Masyaallah. Masyaallah. Masyaallah. Q
- matat hattahaba basuha. Nah, maka
- kemudian kesaksiannya maka Urwah
- menceritakan bahwa arwa benar-benar buta
- sebelum ia mati.
- Dan suatu ketika ia berjalan pada tanah
- yang dipersoalkan itu lalu jatuh
- terperosok ke dalam sebuah lubang hingga
- mati. Di dalam riwayat lain itu dia
- megang-megang dinding karena buka
- megang-megang dinding kemudian
- terperosok kepada ee lubang itu sungai.
- Ah sungai yang tidak dijelaskan sungai
- pokoknya lubang sampai kemudian
- terperosok sampai mati.
- Maka kebud ah itu tuh terkena doa said
- itu. Nah, maka di sini dapat kita pahami
- bahwa karamah para sahabat itu enggak
- main-main
- ya. Karena kedekatan makan ini juga
- menjadi pelajaran. Kita juga tidak boleh
- sembarangan bermasalah dengan
- orang-orang saleh. H
- masih mending orang salehnya gitu loh
- ya. Masih mending masih mending tuh
- begini.
- Kan tentu kan kita mempersoalkan loh kok
- sahabat kok gitu sih doanya gitu ya.
- Justru para sahabat berdoa sebegitu agar
- jelas mana yang hak mana yang batil. Tuh
- kalau sahabat begitu. Kalau kita kan
- masih kasihan ya lah enggak apa-apalah
- biar saya rugi tanah diambil. Ah kembali
- menjadi persoalan jadi ngambang.
- Iya.
- Heeh. Jadi seakan-akan dia benar
- dalam kesaksian masyarakat benar dia.
- Wong tidak digugat kok sama pemiliknya.
- tidak diurus begitu loh. Nah kan
- meskipun ya meskipun boleh juga ya sudah
- saya sedekahkan tapi kan menjadi tidak
- jelas tadi gitu ya. Maka sikap-sikap
- para sahabat itu menjadi lahu ee ee apa
- namanya? Albayan.
- Dia memiliki argumentasi-argumentasi,
- penjelasan-penjelasan.
- Nah, maka kita ah kita juga tidak ragu.
- Oh, dia punya punya alasan dia begitu
- gitu. punya penjelasan, punya
- argumentasi,
- gitu. Oke. Baik. Jadi ee mutiara yang
- dapat kita ambil dari hadis ini ini
- hadis rahu muttafaqun alaih, yakni
- Bukhari wa Muslim. Rahu Bukhari Muslim.
- Ini hadis ini menunjukkan keutamaan Said
- bin Zaid. Semoga Allah meridainya dan
- ibu bapaknya. karamahnya berupa doanya
- yang mustajab dan pengetahuannya tentang
- batasan-batasan Allah. Jadi karamah
- sahabat atau karamah orang saleh lah ya.
- Karena saya pukul menjadi orang saleh.
- Jadi karena ada sahabat ada kadang juga
- ada tabiin juga yang seperti itu. Ada
- tabiut tabiin bahkan ada di zaman kita
- juga yang seperti itu gitu ya. Nah
- orang-orang saleh itu tadi ini kan jelas
- tuh terlihat karamahnya adalah doanya
- mustajab.
- Tuh, ada juga karamahnya
- dia misalnya ke pengin pergi ke suatu
- tempat tidak perlu kendaraan.
- Dah, kalian aja duluan [tertawa]
- teman-temannya sudah naik mobil belum
- sampai dia sudah sampai gitu. Bisa juga
- seperti itu.
- Ah, enggak masuk akal. Iya, memang
- karamah mah tidak harus selalu masuk
- akal gitu. Karamah mukjizat itu tidak
- harus nantiasa masuk akal gitu loh ya.
- Bagaimana e Nabi siapa? Nabi Sulaiman
- menggunakan angin. Tapi juga menarik.
- Wah ketika tahu bahwa malaikat pencabut
- nyawa akan mencabut nyawanya gitu kan.
- [tertawa]
- Nabi Sulaiman pergilah naik angin pergi
- ke Irak. di Irak malaikatnya sudah sudah
- ada karena memang ditakdirkannya harus
- mati di Irak gitu loh. Oh gitu. Nah,
- makanya kita memandang penyelamatan
- gitu loh sehingga pergi ke suatu tempat
- yang diduga bukan tempat pencabutan
- nyawa. Padahal takdirnya memang di situ
- harus matinya tuh gitu. Maka masyaallah
- makanya kemari eh apa hendaknya kita
- kembali kepada Allah. Memasrahkan diri
- kepada Allah. ibadah dengan serius itu
- seperti itu. Jadi jangan coba-coba
- menghindar ya. Jangan coba-coba
- menghindar. Nah, itu itu yang pertama.
- Kemudian
- mutiar kedua adalah peringatan untuk
- tidak menyakiti orang-orang saleh. Tuh,
- ya. Dan bahwa hukuman itu bisa terjadi
- di dunia.
- Bisa saja juga dia tidak tertimpa di
- dunia gitu ya. Misalnya orang-orang yang
- zalim di negeri ini bisa saja dia hidup
- dikasih panjang umurnya
- tidak mati gitu loh. Tapi nanti di
- akhirat siksanya lebih pedih gitu loh.
- Tapi ada juga yang cash di dunia juga
- sudah merasakan siksanya ya DP lah
- paling tidak gitu. Nah, karena memang ee
- tadi ya yang ulama-ulama yang mm
- bersikap clear,
- bersikap terang-terangan, ingin
- membuktikan mana yang benar, mana yang
- salah gitu. Dia berpegang teguh. Nah,
- itu maka kemudian seringki di antara
- kita kan menisbatkan
- peristiwa-peristiwa yang menimpa negeri
- ini. Wah, ini akibat apa namanya
- menyakiti para ulama ya. Bisa jadi benar
- meskipun tidak mutlak benar kan begitu.
- Ah, ini akibatnya ya memang apa
- mengkriminalisasi ulama dosa gitu. Baik
- dosanya, baik azabnya bisa dirasakan di
- dunia maupun di akhirat. Tapi bisa jadi
- dosanya hanya apa? Dirasakannya azabnya
- di akhirat nanti di dunia. Bahkan dia
- bisa sombong, bisa menantang. Mana
- katanya yang mengkriminasi ulama akan
- begini begitu? Mana buktinya saya sampai
- sekarang kini begini. Nah, maka kemudian
- nah itu rahasia Allah lah. Terserah
- kepada Allah. Allah yang punya mau kan
- begitu. Oke. Baik. Ah, ini hadis yang
- keempat. Hadis yang kelima. Alhaditul
- khamis.
- An Jabir bin Abdillah. radhiallahu an q
- lamma hadarat uhudun daani abi minallili
- faqal
- ma aroni illa maqtulan fi awali yuqtalu
- min ashabin nabii shallallahu alaihi
- wasall wa inni laqu ba'di aaz alka girir
- nafsin nabi shallallahu alaihi
- wasallamir
- nafsir nafsi rasulillahi sallallahu
- alaihi wasallam
- nafsi anukahu ma akak
- fastakuhu
- ba'da asur
- 6 bulan ya.
- Jadi lam hadat hadarat itu hadir berarti
- ketika terjadi perang Uhud gitu. Ketika
- perang Uhud sudah dimulai lama hadarat
- uhudun
- dai memanggil aku siapa? Abi bapakku
- minal laili pada suatu malam faqala
- maka ia berkata ma aroni illa maqtulan
- tidaklah aku melihat diriku kecuali
- terbunuh fi awali may yuqtalu min
- ashabin nabi. Kecuali aku terbunuh yang
- pertama yang terbunuh dari
- sahabat-sahabat nabi. Wa inni lauku
- ba'di. Dan sesungguhnya aku tidak
- meninggalkan seseorang yang lebih aku
- sayangi. Aaz al minka giri nafsi nabii
- eh giri nafsi rasulillah sallallahu
- alaihi wasallam. Jadi
- ee aku tidak meninggalkan seseorang yang
- lebih kusayangi. Melebihi kamu selain
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- Sesungguhnya aku mempunyai utang. Maka
- bayarlah utang itu dan aku berwasiat
- agar engkau berlaku baik terhadap
- saudara-saudarimu.
- Nah, jadi ini ini ee firasat karena dia
- orang saleh ini belum terjadi. Loh,
- kayaknya aku yang terbunuh duluan nih.
- Tuh, dia sudah punya perasaan, sudah
- punya apa? Dan ternyata kemudian pada
- pagar harinya terbukti bahwa ayahku
- adalah orang yang pertama kali terbunuh.
- tuh. Dan aku menguburkannya dengan orang
- lain dalam satu liang kubur. Setelah itu
- aku tidak merasa nyaman membiarkan
- ayahku bersama orang lain dalam satu
- liang kubur. Maka setelah 6 bulan aku
- mengeluarkannya dari kuburnya. Dan waktu
- itu jasad ayahku masih seperti pada hari
- aku memasukkannya.
- Masyaallah.
- Nah, masyaallah. Ke liang kubur kecuali
- telinganya. Kecuali telinganya. Ya,
- berarti bisa jadi telinganya memang ee
- dia ter apa ee apa tersobek ya bukan
- tersobek iya tersobek la oleh musuh
- sehingga ini jadi saksinya dan
- telinganya memang itu gitu ya. Heeh.
- Kemudian aku menguburkan jasad ayahku
- dalam liang tersendiri. Nah, jadi orang
- saleh atau auliaullah atau waliullah itu
- kadang diberi pengetahuan.
- Jadi jangan heran kalau kemudian kalau
- kita punya guru kemudian kita dipanggil
- Nak atau misalnya Jang sini Jang
- Mama insyaallah kalau enggak ada
- halangan
- hari Jumat. Nah, misalnya hari Jumat
- kayaknya mama tidak bisa balik lagi.
- Nah, nanti kamu lanjutkan membimbing
- adik-adikmu di sini ya. Karena sekarang
- mama angkat engkau jadi murid mama.
- Apa sih muridnya enggak ngerti apa
- maksudnya bisa pulang kembali. Ternyata
- pas Jumat meninggal dunia. Ee jadi ee
- apa namanya? Jadi Allah menghendaki
- ketika memberikan sesuatu pengetahuan
- yang gaib kepada orang yang
- dikehendakinya
- gitu ya. Jadi ada orang-orang tertentu
- yang seperti itu gitu loh. Meskipun
- tidak semua orang saleh begitu karena
- Allah menghendaki kemuliaannya bisa
- bermacam-macam.
- Karena ada doanya mustajab, ada diberi
- pengetahuan hal-hal yang gaib gituah ya.
- Seperti tadi tentang hari kematiannya,
- kemudian hari bahwa dia adalah orang
- yang terbunuh pertama kali di kalangan
- para sahabat Nabi. Dan ternyata betul
- kesaksian ee bahwa dia waliullah adalah
- ketika dikubur setelah 6 bulan.
- Pas digali, loh bapak saya kok masih
- utuh, masih seperti saat dimasukannya
- gitu loh. Nah, ini jadi adalah ada
- riwayat yang sampai kepada kita ada
- kesaksian sahabat yang menyatakan bahwa
- ada sahabat seperti itu gitu loh.
- Sebagaimana ee
- ada kesaksian bahwa Umar bin Khattab
- mengomando pasukannya di atas mimbar.
- Umar di atas mimbar, sementara
- pasukannya di negeri mana entah berantah
- gitu naik ke gulung turun. [berteriak]
- Para sahabat bingung
- ya Amirul Mukminin ada apa setelah
- selesai salatnya?
- Aku tadi melihat seakan-akan pasukan
- kita terdesak. Aku perintahkan dia naik
- ke gunung gini. Oh gitu. Nah, pas saat
- pulang pasukan pulang ditanya,
- diverifikasi oleh sahabat tersebut, kamu
- pernah mendengar enggak bahwa iya saya
- waktu kami waktu itu seakan-akan
- terdesak
- tapi kemudian kami mendengar Amirul
- Mukminin memerintahkan kami untuk naik
- gunung. Gitu [tertawa] tuh. Aduh, kalau
- sekarang mah ya kalau sekarang mah
- mungkinlah lewat HP gitu ya. E yang satu
- di Cibubur, yang satu misalnya di Gaza
- lewat teleponnya telepon satelit gitu
- kan naik
- kan. Tapi zaman baheula mah aduh
- teknologi kan belum. Maka itulah
- kelebihan yang Allah berikan kepada Umar
- bin Khattab berupa kasyaf.
- Jadi kasyaf itu bukan hanya diberikan
- kepada seorang Umar saja ya. Kasyaf juga
- diberikan kepada Ali bin Abi Thalib.
- diberikan juga kepada sahabat-sahabat
- lain yang Allah kehen kehendaki.
- Untuk apa mereka diberi kasyaf? Ya,
- untuk mereka bahkan semakin semakin
- takwa kepada Allah Subhanahu wa taala.
- Bukan untuk sombong-sombongan. Nah, di
- antara kita kadang ketika dikasih ilmu
- ah salah. Makanya kan kemarin pernah
- membahas
- ada apa namanya ee ada sawabad dunya wa
- husna sawabal sawabil akhirah. Ada
- balasan dunia dan sebaik-baik
- balasan akhirat. Nah, kemudian para ahli
- tafsir menarik, "Loh, kok sawabal
- akhirah kok pakai husna? Pakai
- sebaik-sebaik. Tapi kalau di balasan
- dunia kok enggak pakai husna?" Karena
- balasan di dunia belum final.
- Diberi oleh Allah, tapi kemudian
- dimanfaatkan yang tidak baik, kan
- begitu. Dipakai yang tidak baik,
- akhirnya menjadi penyesalan di akhirat
- gitu. Tapi kalau akhirat baik itu
- surgawi, hal-hal yang berhubungan dengan
- surga, enggak ada yang buruk gitu loh.
- Maka ee dinyatakan husna tawabil
- akhirah. Jadi itu rahasia-rahasia di
- dalam ee apa namanya dalam Al-Qur'an.
- Maka itu pendekatannya dengan tafsir
- isyari gitu. Tafsir isyari itu adalah
- isyarat-isyarat yang didapatkan dari
- kata-kata yang dipakai. Misalnya dalam
- surah Albaqarah ayat 30, Allah
- mengatakan ketika mau menciptakan Adam,
- inni jailu fil ardhi khalifah.
- Sesungguhnya aku akan menjadikan di muka
- bumi ini seorang khalifah. Tapi di dalam
- surah Shad
- ee Allah menyatakan
- ee apa namanya? Ya,
- ya Daudu,
- ya Daud qod eh apa namanya? Ee apa
- namanya? Inna ja'alnaka.
- Sesungguhnya kami menjadikan engkau
- khalifatan fil ardhi. Nah, kalau Nabi
- Adam itu Allah menggunakan kata inni
- ja'iluka.
- Kalau Nabi Daud Allah menggunakan kata
- inna ja'alnak.
- Aku akan menjadikan dengan kami
- menjadikan engkau. Nah, gitu loh. Jadi
- di awal-awal kepemimpinan Adam itu boleh
- dibilang yang mengakui hanya Allah.
- H.
- Ah. Jangankan ya jangan jangankan
- manusia pada zaman itu, malaikat saja
- masih meragukan.
- Itu coba di dalam Albaqarah malaikat aja
- nanya engkau akan ciptakan orang yang
- apa? Menumpahkan darah dan sementara
- kami bertasbih begitu kata malaikat.
- Iya.
- Ee kata Allah ah aku yang lebih tahulah
- g. Nah tapi ketika Nabi Daud itu Allah
- mengguna inna. Nah Allah mengatakan kata
- inna itu isyarat dalam pendekatan tafsir
- isyari itu. Kenapa Allah mengatakan
- inna? Allah mewakili siapa di situ?
- Mewakili dirinya maal ghair kan. Kalau
- inna bersama yang lainnya, maka di situ
- mewakili siapa? Mewakili dirinya,
- mewakili malaikat dan mewakili para
- pendukung Nabi Daud.
- Ketika Nabi Adam keputusan diserahkan
- pada Allah.
- Ketika Qabil dan Qabil apa namanya?
- Kurban keputusannya Allah.
- Tapi kalau Daud
- itu keputusannya diserahkan ke Daud.
- inna jaalnaka kfatan fil ard fahkum
- bainanasi bilhaq. Kalau gitu hukumi
- manusia dengan benar. Kalau Nabi Adam
- tidak diperintah menghukumi.
- Oh ya. Nah dari situ maka proses
- kepemimpinan itu berawal dari
- kepemimpinan Adam sampai kepemimpinan
- Daud. Nah kepemimpinan Nabi Muhammad itu
- seperti itu. Jadi seperti gambarannya
- kepemimpinan Adam dulu.
- Nah, baru sampai nanti puncaknya di
- Madinah seperti kepemimpinan Nabi da
- Nabi Daud dan kepemimpinan itu
- senantiasa begitu.
- Pertama ditolak, pertama tidak diakui,
- gitu, tapi besok-besok semua menyerahkan
- kepercayaannya kepada Daud Alaih Salam.
- Sebagaimana manusia mempercayakan
- kepemimpinannya kepada Nabi Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam. Ketika di
- Makkah bahkan diusir, tapi setelah di
- Madilah kemudian diaplikasikan syariat
- Islam. Oke. Baik.
- Nah, kemudian setelah 6 bulan kemudian
- digali lagi karena anaknya enggak nyaman
- loh di satu inikan dengan orang lain.
- Nah, maka kemudian boleh juga gitu ya
- menggali kuburan dipisahkan kemudian
- dipisahkan. Nah, dari situ dapat kita
- ambil pelajaran bahwa karamah Abdullah
- bin Zabir di mana jasadnya tidak berubah
- sesudah kematiannya dalam jangka waktu
- yang lama. Ia juga merasakan dekatnya
- ajal
- dan meminta mati syahid dengan
- sungguh-sungguh kepada Allah Subhanahu
- wa taala. Jadi, setelah diberi
- pengetahuan bahwa dia menjadi orang yang
- apa? Orang yang pertama kali terbunuh.
- Kemudian dia berwasiat ya kepada anaknya
- agar senantiasa bertakwa. Harus berlaku
- adil kepada saudara-saudarinya. Bayarkan
- utangku. Ini juga ini dalil ini. Dalil
- ini jadi argumentasi bolehnya berperang
- meskipun punya hutang.
- Asal ah punya ahli waris yang akan
- membayarkan hutangnya ketika dia
- meninggal duni dunia. Tapi rata-rata
- kalau di kita oh ya di kami misalnya
- kalau yang punya hutang biasanya tidak
- diberangkatkan
- karena misalnya ada persoalan-persoalan
- tadi. Nah dia sudah suruh cari nafkah
- aja dulu biar bayar dulu hutangnya
- karena jangan sampai dia mati syahid
- hutangnya misalnya tidak terbayar tetap
- menjadi masalah kan di dalam satu
- riwayat akan menghalangi dia masuk surga
- gitu ya. Oke. Baik. Baik. Kita lanjutkan
- pada hadis keenam. [berdehem]
- anasinallahu
- wasahidunta
- ahlahu buk
- riwayat Imam Bukhari dari berbagai jalan
- ya berbagai jalur. Jadi dari Anas
- radhiallahu anh bahwa ada dua sahabat
- Nabi sallallahu alaihi wasallam keluar
- dari majelis Nabi sallallahu alaihi
- wasallam dalam malam gelap gulita.
- Kemudian di depan kedua sahabat itu ada
- semacam dua buah lampu. Dan ketika kedua
- sahabat itu berpisah, maka kedua benda
- yang seperti lampu itu ikut berpisah
- menyertai masing-masing dari kedua
- sahabat itu sehingga sampai ke rumahnya.
- Tuh. Jadi ada sahabat yang begitu
- enggak bawa lampu tapi seakan-akan bawa
- lampu gitu. Masyaallah gitu ya.
- [tertawa] Cahaya.
- Iya. Jadi ya kalau kita kan lihat suami
- kita sudah tidur
- mati lampu apa mati apa lampu dimatiin
- pas wih ada cahaya di di belakang apa
- namanya di belakang sarungnya pas dibuka
- loh lagi main HP [tertawa]
- dikiranya dapat dapat karamah gitu.
- Masyaallah ada ya. Masyaallah. Nah,
- tetapi kalau ini kisah benar kalangan
- sahabat
- bukan HP,
- bukan HP zaman itu kan enggak ada HP.
- Masyaallah. Baik. Ee riwayat apa e ee
- mutiara yang dapat kita gali dari
- riwayat ini? Karamah kedua sahabat
- tersebut dan mukjizat Nabi sallallahu
- alaihi wasallam. Karena cahaya tampak di
- depan kedua sahabat tersebut itu berasal
- dari cahaya kenabian. Nah, lah cahaya
- kenab. Jadi ee apa pensyarah menyatakan
- bahwa itu berawal dari cahaya Nabi. Tapi
- ketika mereka berpisah ikut berpisah
- juga. Nah, cahaya kenabiannya juga ikut
- berpisah. Itu bisa peramaan seperti itu
- gitu loh. Nah, bisa jadi juga memang
- sahabat punya kemuliaan. Oke. Kemudian
- pertolongan Allah bagi orang yang keluar
- rumah untuk melaksanakan kewajiban dan
- menjalankan hak Allah. Nah, maka oleh
- sebab itu menarik sekali dalam syariat
- Islam itu
- ada ruksah, ada mujahadah,
- ada ruksah, ada mujahadah.
- Ketika kita mendengar muazin sedang
- hujan lebat, muazzin mengatakan, "Sollu
- fi buyutikum."
- Salatlah kalian di rumah-rumah kalian.
- Sebagian ada yang salat di rumah dan itu
- boleh,
- tapi di antara mereka ada yang tetap ke
- masjid membawa payung bahkan pakai jas
- hujan.
- Bahkan ada mereka tidak pakai jas hutan,
- pakai payung saja atau mereka tidak
- pakai payung pakai jas hujan saja. Ini
- juga benar gitu. Meskipun kemudian di
- kalangan para ulama mesti berdebat itu
- gitu loh sudah dikasih ruh kok masih ya
- gitu ya. Jadi para ikhwan sekalian,
- adaakanya para sahabat itu enggan.
- Adaakan kalanya enggan mendapatkan
- ruksah.
- Sudah sepuh, sudah udud, dikasih ruksah
- untuk tidak ikut perang. Maka dia
- ngeyel, berantem sama anaknya. Abah,
- Abah kan sudah dapat ruksah.
- Biarkan kami anak-anakmu yang akan
- berperang. Apa kata bapaknya? Memangnya
- cuma kamu yang ingin masuk surga? Aku
- juga ingin masuk surga. Masyaallah. Nah,
- itulah keteguhan para sahabat. Nah,
- bagaimana? Nah, maka ada tinjauan fikih,
- ada tinjauan fikih, ada tinjauan selain
- fikih. Maksud fikih itu fikih-fikih
- ubudiyah ya, haram ya gitu ya. Tetapi
- ada masyaallah. Nah, jadi menarik ee apa
- tinjauan-tinjauan keilmuan itu. Jadi ada
- orang yang meninjau dari sisi fikih
- dan itu benar.
- Tapi bagi mereka yang ee mencintai Allah
- dan Rasul-Nya kadang ee bukan melihat
- dari sisi fikihnya, melihat dari
- mahabatullahnya.
- Dari mahabatullahnya,
- dari makrifatullahnya
- itu loh. Jadi bagaimana dia mengenal
- Allah gitu ya. Ketika ketika dia katakan
- tadi kata muazin shu fi buyutikum la
- mana mungkin kecintaanku kepada Allah
- harus luntur gara-gara hujan tidak
- begitu pemahamannya bah kemudian kita
- sebagai orang yang ee pendekatannya
- adalah pendekat seperti itu,
- alhamdulillah hah ayo kita salat
- berjamaah aja di rumah karena kata
- muazin shu fi buyutikum kalau di
- perjalanan shu fi rihalikum
- gitu loh salatlah di tenda-tenda kamu,
- di kemah-kemah kamu. Nah, jadi
- seringkiali kita, Nah, orang yang
- menjadi masalah adalah ketika kita hanya
- melihat dari satu titik dan menafikan
- titik titik titik yang lain itu masalah.
- Sekiranya kita memahami titik-titik yang
- banyak kemudian ngambil pemahaman satu
- titik untuk kebanyakan orang itu enggak
- ada masalah.
- Misalnya, jadi Ustaz hukumnya gimana?
- Hukumnya haram, hukumnya tidak boleh. Ya
- sudah ya clear ya. Ah.
- Tapi bagi mereka, bagi orang-orang
- mereka
- kan begini
- ee
- berpuasa.
- Berpuasa itu Nabi menghendaki kalau
- sudah masuk waktunya iftar maka
- bersegera iftar.
- Tapi ada di antara mereka yang
- mengakhir-akhirkan karena ada persoalan
- dalam pandangan fikih yang lebih bagus
- itu yang Allahu Akbar, Allahu Akbar am
- jadi langsung makan itu yang terbaik.
- Tapi pandangan dia beda lagi gitu loh.
- Pandangan karena memang apa namanya? Ada
- persoalan misalnya ee air minumnya belum
- tersedia atau tidak ada makanan belum
- tidak ada gitu kan. Maka kemudian dia
- tetap sabar tidak merasa berdosa untuk
- ini karena memang tidak ada.
- Apalagi kemudian kalau pemahamannya kan
- ee pemahamannya kan begini [berdehem] ee
- dalam pandangan ahlusunah
- ee puasa itu mulai dari terbit fajar
- hingga terbenar matahari.
- Terbenar matahari. Tapi kemudian ada
- yang ee berpegang kepada ee apa namanya
- ee
- apa tunaikanlah ee puasa itu sampai
- malam.
- Sampai malam.
- Nah, sampai malam. Nah, malam dipahami
- kalau sebagian ahlusunah kan mengatakan
- magrib. Jadi azan magrib buka.
- Tapi bagi yang memaknainya malam ah
- magrib masih ada cahaya atuh, masih ada
- mega merah. Nah, maka kemudian saat
- isyah dia berbuka puasa. Ini adalah
- kalau yang kedua pembahasan ini adalah
- perbedaan fikih gitu kan. Kalau yang
- tadi yang pertama itu adalah perbedaan
- nilai rasa.
- Jadi sesungguhnya yang bertakwa itu
- adalah mereka yang sesuai dengan aturan.
- Kalau saatnya buka ya buka tidak
- mengakhir-akhirkan buka gitu loh ya.
- Heeh. Nah, jadi memang eh menarik ya
- saya bilang gitu. Nah, maka oleh sebab
- itu ee seringki kita tidak boleh
- terburu-buru. Tetapi sekali lagi saya
- senantiasa menghormati ulama-ulama yang
- berpegang kepada ee fikih ya, kepada
- fikih. Ee tetapi kemudian juga saya juga
- menghormati orang-orang yang apa yang
- langsung merujuk pemahamannya kepada
- Quran dan sunah tanpa menggunakan
- kaidah-kaidah fikih. Sekali lagi ya,
- kaidah-kaidah fikih itu kan baru
- belakangan saja adanya.
- Tetapi di zaman sahabat sudah ada
- sikap-sikap ijtihad
- ya. Nah, baru sikap-sikap ijtihad itu
- dipelajari maka muncullah ilmu ushul
- fikih gitu loh. Nah, dari ushul fikih
- muncul fikih gitu loh. Nah, maka oleh
- sebab itu saya tetap menghargai dan
- menghormati
- ee apa namanya karena memang tidak bisa
- disalahkan di antara keduanya. ya
- semuanya berpegang kepada ilmu juga gitu
- ya. Oke. Baik. Saya kira ini jadi ee apa
- namanya?
- Ee
- jadi pertolong apa tadi? Pertolongan
- Allah bagi orang yang keluar rumah untuk
- melaksanakan kewajiban dan menjalankan
- hak Allah. Gitulah. Ini yang kemudian
- [berdehem] menjadi hal yang harus
- dikasih underline, dikasih garis bawah
- ya. Maka dalam kehidupan ini ee ada
- orang yang tetap apa namanya seakan-akan
- mengabaikan rintangan tapi sebagian di
- antara kita memaknai bahwa itu adalah
- rukhsah. Baik demikian. Wasallallahu ala
- nabiina Muhammadin walhamdulillahi
- rabbil alamin. Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bisawab. Jazakah
- [berdehem][batuk]
- ustaz. Baik. Demikian
- materi dari Ustaz Ahmad Saleh, tiga
- hadis. Hadis keempat, kelima, dan
- keenam.
- Iya.
- Semoga menjadi rujukan dan menjadi
- manfaat. Silakan bila belum ada yang
- ee paham bisa ditanyakan nanti di sesi
- kedua. Setelah nada takwa berikut tetap
- di Radio Silaturahim dan Rasil TV untuk
- Islam yang satu. Terima kasih.
- Alhamdulillahirabbil alamin. Terima
- kasih Iwan Awat masih bersama
- Rasil
- dengan program tausiah sore bersama
- Ustaz Ahmad Saleh dengan tema kemuliaan
- dan keutamaan para waliullah bagian
- ketiga. Baik, Ikhwan Ah. Terima kasih
- masih bersama Rasil.
- Sesi kedua ini kita akan menjawab
- pertanyaan-pertanyaan dari Ikhwan
- Akhwat. Sebelum kami bacakan pertanyaan,
- kami
- apresiasi dulu ee apresiasi yang sudah
- masuk dari ikhwan akhwat. Pertama dari
- Bapak Anwar.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Jazakumullah khairan kairon, Ustaz,
- ilmunya.
- Wum. Jazakumullah khair.
- Kemudian Bapak Sumantri
- alhamdulillah masih bisa menyimak via
- radio. Syukron, Ustaz. Jazakumullah
- khair.
- Ibu Ida. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Terima kasih, Ustaz Ahmad Saleh sedang
- menyimak. Semoga Allah memberikan
- kesehatan, keberkahan, rezeki dari Ida
- di Bekasi.
- Amin. Allah. Amin.
- Kemudian Bapak Khaliq. Terima kasih
- banyak Ustaz. Ibu Retno, alhamdulillah
- sudah menyimak melalui radio tausiah
- Smad Saleh.
- Alhamdulillah. Barakallahu fikum
- Ibu Lia Yahya.
- Terima kasih Ustaz. Kemudian Bapak
- Mulher.
- Barakallahu fikum.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Jazakumullah khairan kirsir Ustaz.
- Wakum jazakumullahu khairan.
- Ibu Hati. Kemudian
- Ibu Sri, Bapak Abdullah. Bapak Abdillah.
- Terima kasih, Ustaz.
- Ibu Nai Fatimah.
- Alhamdulillah Ustaz, kami menyimak
- tausiah sore bersama Ustaz Ahmad Saleh.
- Barakallahu fikum.
- Ibu Rukmini hadir menyimak. Ibu Ani Hani
- Hufaidah.
- Bismillah. Hadir menyimak. Ustaz Ahmad
- Saleh. Sehat-sehat walafiat dan dalam
- lindungan Allah Subhanahu wa taala.
- Amin. Allahuma amin.
- Bapak Abdul Rasyid, Bapak Muhammad
- menyimak melalui
- mobil sepertinya di safar.
- Masyaallah. Barakallahu fikum,
- Bapak Muhammad di Jakarta.
- Kemudian kita akan membacakan
- pertanyaan [mendengus]
- dari Ibu Anggit yang pertama, Ustaz.
- Namam.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Ustaz tadi menyampaikan
- tentang ruksah dan mujahadah, Ustaz.
- Namam.
- Ee apa yang dimaksud dengan ruksah,
- Ustaz?
- Jazakumullahir. Rukhsah
- itu pengertiannya adalah keringanan
- atau bisa juga dimaknai cuti kalau
- sekarang. Nah, cuti ya, ruksah,
- keringanan.
- Keringanan. Misalnya begini, kita sudah
- membiasakan salat sunah gitu ya, salat
- sunah qobliah atau ba'diah. Nah, selama
- kita dalam bepergian atau statusnya
- musafir,
- maka kita boleh tidak melaksanakan
- salat-salat sunah tersebut. Itu ruksah
- namanya. Misalnya ketika kita sakit,
- mestinya kan kita salat sambil berdiri.
- Karena sakit tidak bisa berdiri maka
- sambil duduk. Nah, sambil duduk itu
- artinya mendapatkan ruksah dari mestinya
- harus berdiri gitu atau sambil tiduran.
- Dapat ruksah juga dari berdiri tidak
- bisa, sambil duduk tidak bisa. Makanya
- sambil berbaring itu rukhsah,
- keringanan.
- Cuti dari melakukan kebiasaan karena
- sedang bepergian. Cuti melaksanakan ee
- hal-hal yang dituntut sempurna, maka
- dilakukan semampunya.
- Itu cutinya tuh di situ maksudnya gitu
- ya. Itu rusuk. Kalau mujahadah itu
- artinya bersungguh-sungguh
- ya. Mujahadah. Nah, bersungguh-sungguh
- serius gitu ya. Heeh. Demikian saya kira
- yang dapat saya jelaskan. Wallahu aam
- biswab.
- Wallahuam bisab. Demikian Ibu Angit
- semoga dapat menjawab. [berdehem]
- Berikutnya pertanyaan kedua dari Bapak
- Sayan Rohili. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Jazaklaha Ustaz ilmunya. Iyakum
- jazakumullahu khairan.
- Ustaz, izin bertanya e tentang karamah
- para sahabat. Siapakah di antara kedua
- sahabat Nabi yang paling banyak jasanya,
- Ustaz? Di antara Abu Bakar Assiddiq dan
- Umar bin Khattab, Ustaz. Jazah.
- [tertawa]
- Masyaallah. Pertanyaannya menarik. Ke
- mana yang lebih hij? Kalau dilihat dari
- sisi kualitas atau dilihat dari
- kuantitas. Tapi yang jelas pernyataan
- Umar sendiri menyatakan
- sekarang saya akan aku kalahkan Abu
- Bakar karena selama ini merasa kalah
- terus sama Abu Bakar. Maka kemudian Umar
- berazam. Nah, namun kemudian
- Abu Bakar apa? Umar membawa 50%
- kekayaannya sementara Abu Bakar seluruh
- kekayaannya gitu. Jadi ee memang tidak
- dijelaskan mana yang lebih apa
- ee lebih lebih banyak beramalnya. Karena
- kan mesti ngitungnya dari pas periode
- kapan ke kapan. Apakah sepanjang hidup
- mereka gitu kan atau misalnya ketika
- saat-saat ketika sama-sama hidup gitu ya
- berbarengan hidupnya atau seperti apa
- gitu ya. Tapi intinya bahwa kedua-duanya
- adalah dijamin apa? sebagai ahlu surga
- oleh lisan Rasulullah Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam. Maka mereka
- termasuk orang-orang yang apabila ini
- juga boleh kita mengatakan radhiallahu
- anhuma atau radhiallahu anhum.
- Semoga Allah meridai mereka berdua yaitu
- Abu Bakar dan Umar atau semoga Allah
- meridai mereka. Hum itu tertuju kepada
- para sahabat yang dinyatakan oleh Quran
- sebagai orang-orang yang diridai oleh
- Allah Subhanahu wa taala gitu ya. Jadi
- ee apa namanya ee dua-duanya bisa
- dijadikan teladan, bisa dijadikan
- contoh. Meskipun Umar adalah orang yang
- terlambat ya memeluk Islamnya. Bukan
- terlambat itu karena satu persoalannya.
- Kenapa Islam memecah belah gitu aja? Ini
- sudah ngerti, sudah paham lah. Tapi
- kenapa memecah belah sih gitu? Nah, Umar
- itu enggak suka gitu sampai kemudian
- Allah membukakan dadanya maka memeluk
- Islamlah gitu ya. Ah demikian saya kira.
- Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak Sayan
- Rohili semoga dapat menjawab. Berikutnya
- pertanyaan ketiga dari Pak Arwin. Ustaz.
- Iya. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Terima kasih atas tausiah dan
- nasihatnya, Ustaz. Naam. Masyaallah.
- Barakallahu fikum.
- Semoga Ustaz dan para pendengar radio
- silaturahim dalam keadaan sehat
- walafiat.
- Amin.
- Dalam lindungan Allah Subhanahu wa
- taala. Amin.
- Ustaz, izin bertanya, Ustaz. Namun di
- luar teak, lamun di luar tema,
- apa yang dimaksud dengan penyakit ain?
- Peserta contohnya, Ustaz. Jazakumullah
- khairan kat.
- Iya.
- Penyakit ain itu diakibatkan oleh
- pandangan penuh kebencian dan
- kedengkian.
- Kan ada orang melihat mandang biasa saja
- tuh enggak ada enggak ada potensi
- apa-apa. Tapi ada orang memandang dengan
- penuh kebencian dan kesinisan
- ya. Ah bisa digambarkanlah ya. Tidak
- harus saya praktikkan.
- [tertawa]
- Jadi memandang
- tapi kemudian penuh kesinisan, penuh
- kebencian. Nah, kemudian ketika kita
- dalam keadaan lemah, ketika kita dalam
- keadaan jauh kepada Allah bisa terkena
- penyakitnya ya. Penyakit karena dengki
- tadi jadi ditransfer kedengkiannya. Kan
- misalnya begini nih, kita mandang orang
- sambil mengatakan, "Ih, mudah-mudahan
- dia ee apa namanya? ee sakit apa gitu
- misalnya
- gitu ya. Sakit apa? Nah, kem kalau dia
- ee apa namanya? Sedang sedang ee jauh
- dari Allah kena tuh biasanya. Maka oleh
- sebab itu kenapa disyariatkan tiap waktu
- zikir pada Allah?
- Nah, gitu loh ya. Apalagi kita punya
- amalan-amalan.
- Makanya biasanya disunahkan sebelum
- tidur itu baca apa? Ayat kursi,
- Al-Ikhlas, Al-Falaq, Annas. Kemudian
- surah terakhir apa? Tiga ayat terakhir
- surah Albaqarah.
- Nah, kalau orang yang senet zikir kepada
- Allah seperti itu, maka penjagaannya
- gitu kalau di apa namanya? Kalau
- diilustrasikan itu auranya itu
- melingkupi.
- Jadi, ketika ada kebencian-kebencian itu
- mental gitu loh ya. Nah, makanya
- orang-orang yang ah orang-orang yang
- baik sangka kepada Allah mah enggak
- mempan.
- Jangankan angin, sihir pun juga tenung
- juga enggak akan mempan. Insya
- insyaallah. Maka oleh sebab kenapa?
- Karena semuanya digantungkan kepada
- Allah ya. Nah, dan yang kalaupun dia
- terkena itu atas izin Allah Subhanahu wa
- taala gitu loh ya. bukan atas
- kekuatannya ain itu, bukan kekuatan
- sihir itu, bukan kekuatan ee tenung itu,
- tetapi memang Allah juga mengizinkan.
- Maka penyakit itu ada yang disebut
- dengan kehendak Allah, ada yang juga
- izin Allah.
- Nah, izin Allah berarti jalannya enggak
- benar tuh. Kalau yang kehendak Allah
- berarti ujian itu juga ujian sama hanya
- berarti dari proses yang salah diizinkan
- kena gitu loh. Tapi kalau kemudian dia
- sakit, tiba-tiba dia sakit berarti kalau
- itu kehendak Allah berarti ujian untuk
- orang tersebut bagaimana cara menghadapi
- rasa sakit itu seperti itu kurang lebih
- ya. Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam biswab. Demikian [mendengus]
- Pak Arwin semoga dapat menjawab.
- Berikutnya dari Pak Abdullah Ustaz.
- Naam.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Syukran Ustaz. Jazakumullah khairan.
- Waakum jaakumullahuir.
- Ustaz izin bertanya
- mengenai hadis yang ketiga tadi. Yang
- keempat
- tadi tentang Said. tentang Said
- mendoakan
- nam
- meninggal.
- Iya. Dalam keadaan itu
- buta. Dalam keadaan buta. Apakah yang
- meninggal itu
- Apakah yang meninggal itu hnul khatimah
- atau suul khatimah? Apa hikmahnya Ustaz
- mendoakan meninggal Ustaz? Jazakumullah
- khairan katir?
- Iya. Kamalakum. Sebagaimana saya katakan
- bahwa
- doa said itu ingin membuktikan ayyul
- haqyul batil. Mana yang benar, mana yang
- salah. Maka pakai syarat jika sekiranya
- dia dusta gitu loh. Kalau dia tidak
- dusta tidak akan kena
- gitu ya. Jadi kalau dia kemudian tidak
- buta dan tidak mati di tempatnya
- maksudnya di di tanahnya berarti dia
- tidak berdusta. Maka disebutkan di situ
- wainat kadibatan
- ya kadibah. Apabila dia kadibah dusta ah
- ee apa namanya? Jadikan dia buta dan
- matikan ia di tanahnya. Nah ternyata dia
- buta berarti dia dusta gitu loh. Maka
- jelas tuh jadi itu hikmahnya ya. Jadi
- untuk mengetahui mana benar, mana yang
- salah, para sahabat itu berpegang teguh
- seperti itu.
- Nah, bahkan bisa jadi nanti bisa balik
- apa bisa terbalik.
- Kalau dia ternyata benar, tidak dusta,
- bahkan itu bisa yang berdoanya yang kena
- gitu ya kan ucapan itu termasuk doa
- ataupun tuduhan itu kan tuduhan let
- tuduhan ucapan itu ke langit
- langit.
- nutup kan karena memang tidak benar
- balik lagi kepada yang dituduhkan.
- Dituduhkan juga karena tidak benar
- nutup. Akhirnya kembali kepada si
- penuduhnya, kembali kepada si pendoanya.
- Nah, maka bisa. Maka oleh sebab itu,
- nah, kenapa kita banyak ee apa ya ee
- banyak memaafkan dalam tanda petik bukan
- memaafkan sesungguhnya karena takut
- karena kita tidak yakin. Nuduh orang
- tapi tidak yakin. Ak ya Allah jika maka
- kemudian boleh pilihan begini
- jika dia benar maka kan begini maka yang
- menarik tuh begini. Ya Allah, jika
- perkataannya benar maka ampuni aku.
- Kalau dia perkataannya benar, tapi kalau
- dia perkataannya salah ampuni dia. Ah,
- itu kalimat yang boleh juga dipilih.
- Hanya saya tadi gitu ya. Ee para sahabat
- itu macam-macam karakternya kan
- beda-beda. Tadi dengan pendekatan ingin
- membuktikan kebenaran dan kebatilan
- sementara dia apa namanya mengungkapkan
- win-win solution. Dan masing-masing juga
- saya kira ee apa namanya kultur
- sosiultur di zaman sahabat itu
- bermacam-macam.
- Sahabat di zaman Nabi bisa jadi sangat
- berbeda dengan sahabat di zaman Abu
- Bakar, bisa jadi sangat berbeda dengan
- sahabat di zaman Umar dari
- sosiokulturalnya, psikologinya
- gitu. Maka ee apa namanya? bisa jadi. Ee
- kenapa kemudian hukum pun berubah?
- Di zaman Nabi
- talak tiga kali dalam satu majelis
- dihukumi satu talak. Ah di zaman Umar
- karena sos apa? Psikologi masyarakatnya
- sudah beda,
- maka oleh Umar dihukumi jadi tiga
- nilainya. Nilai talaknya bukan satu.
- Satu
- loh. Kalau gitu Umar berarti kok
- menentang kebijakan Nabi gak? karena
- kondisi masyarakatnya sudah beda tuh
- begitu ya. Jadi kalau begitu hukum itu
- sangat dipengaruhi oleh situasi.
- Hendaknya yang mencuri mesti dipotong
- tangan ketika situasinya normal.
- Ketika musim pacekelik bahkan Umar tidak
- melaksanakan hukum potong tangan.
- Kenapa? Karena situasinya beda.
- Musim pcek. Kalau musim normal nyuri itu
- karena hawa nafsu.
- Tapi kalau pceklik karena lapar, kan
- begitu. Nah, di situlah
- pendekatan-pendekatan hukum. Jadi,
- maqasid syariahnya ee apa namanya?
- Terungkap
- atau apa namanya? ee ee ilatnya
- diketahui ada ilat ee ada asrar
- ee apa namanya ee kalau apa namanya
- kalau rahasia itu apa? Iya sir ya asrar
- berarti rahasiah-rahasiahnya. Nah, maka
- sekarang ada pendekatan maqasid itu
- ternyata ditemukan oh Nabi dan para
- sahabat itu ngambil sikap-sikap seperti
- kan ee yang sering saya kemukakan Nabi
- melarang motong tangan bagi pencuri yang
- dalam keadaan berperang. Padahal Quran
- menyuruh potong tangan. Nah, itu oh
- karena beba apa latar belakangnya beda.
- Bukan dalam situasi normal. Nah,
- ilmuilmu ilmu ushul fikih mengatakan
- bahwa perkataan Nabi itu adalah taksis.
- Tapi ilmu maqasid menyatakan karena
- alasannya ditemukan, alasan lain
- ditemukan. Begitu ya. Oke, saya kira
- seperti itu yang dapat saya ee jawab.
- Wallahu aam bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian, Pak
- Abdullah, semoga dapat menjawab. Eh,
- kemudian ada Pak Edwin Saleh menyimak
- melalui YouTube.
- Masyaallah. Barakallahu fikum.
- Ibu Aminah juga, Ustaz.
- Barakallahu fikum.
- Alhamdulillah, Ustaz. Saya menyimaknya.
- Baik, demikian untuk sesi pertama tanya
- jawab. Kami akan kembali setelah nada
- berikut. Terima kasih.
- Terima kasih Wad masih bersama tausiah
- sore bersama Ustaz Ahmad Saleh. Kali ini
- sesi kedua tanya jawab dengan ikhwan
- akhwat.
- Pertanyaan selanjutnya
- dari Bapak Dodi di Cilangkap. Ustaz,
- asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Semoga Ustaz selalu dalam lindungan dan
- bimbingan Allah Subhanahu wa taala.
- Amin. Allahum amin.
- Ustaz, izin bertanya. Yang pertama,
- bagaimana kita tahu bahwa hamba itu
- adalah wali Allah?
- Apakah bahwa hamba Allah itu adalah wali
- Allah? Apakah ada ciri-cirinya atau
- tanda-tandanya, Ustaz? Yang kedua,
- bagaimana sikap dan cara kita
- apabila
- menyikapi apabila kita tertipu agar hati
- kita tidak kesal, Ustaz? Terima kasih.
- Jazakumullah khairan kiron atas
- jawabannya, Ustaz.
- Naam. Masyaallah, barakallahu fikum. Ee
- untuk mengetahui apakah dia waliullah
- atau tidak agak sulit gitu ya. Agak
- sulit. Tapi kemudian kita menggunakan
- husnudzon.
- Setiap orang yang dipandang oleh kita,
- penilaian kita, dia ahli ahli ibadah
- salih. Maka kita ah jangan-jangan dia
- ini waliullah gitu loh. Tapi untuk
- memastikan dia waliullah atau tidak kita
- tidak bisa. Kenapa?
- Karena ada secara kasat mata dia dinilai
- sebagai ahlut thaah.
- dia ahli ibadah, ahli taat, tetapi di
- hatinya justru busuk gitu loh. Nah, itu
- tidak diketahui, hanya Allah yang tahu.
- Makanya hakikat
- semua kedudukan hanya dalam penilaian
- Allah Subhanahu wa taala. Maka kita
- hanya menilainya menggunakan husnudzon,
- gitu ya. Nah, jadi seperti itu sehingga
- kalau husnudan meskipun kita apa namanya
- menilai orang lain salah bahkan mestinya
- kesal kita tidak kesal karena husnudun.
- Ahah. Biarin aja biarin aja tuh
- maksudnya ya kita doakan mudah-mudahan
- karena dia sesuai dengan penilaian kita
- baik benar gitu. Tapi ternyata di
- belakang hari kita tahu bahwa dia itu
- ahli maksiat.
- berbungkus
- ee apa namanya ee aksesoris-aksesoris
- ketaatan.
- Nah, maka oleh sebab itu kita juga ee
- tidak boleh berlebihan ya. Tidak boleh
- berlebihan itu ya
- memahaminya, mengkomunikasikannya.
- Berkomunikasinya biasa-biasa saja dalam
- pengertian bahwa inna akramakum
- indallahi atqakum. Sesungguhnya yang
- paling mulia di sisi Allah adalah orang
- yang paling takwa. Orang yang paling
- takwa itu rahasia. Maka kita berbuat
- baik kepada orang lain dalam upaya
- mendapatkan rida Allah gitu ya. Begitu
- juga kita bersikap jaga-jaga juga dalam
- rangka mengharapkan rida Allah. Nah,
- sehingga nanti ee apa namanya?
- Kekesal-kekasalan itu tidak akan terjadi
- karena kita dengan sadar mengerjakannya.
- Misalnya begini,
- saya hormat kepada seseorang karena saya
- menilai dia orang saleh, maka saya
- hormat.
- Ya, saya hormat. Saya tidak akan kecewa
- kalau ternyata dia di sisi Allah tidak
- saleh gitu loh ya. Lebih baik saya salah
- menilai ya. Lebih baik salah menilai
- tidak saleh. E lebih baik saya
- menilainya saleh padahal tidak saleh
- daripada saya menilai tidak saleh
- padahal dia saleh. Nah, maka oleh sebab
- itu ee husnudon husnudan itu kita ee apa
- kemukakan. Maka argumentasi-argumentasi
- kenapa kita menganggap dia oh yang saya
- lihat dia ahli ibadah, dia orang baik ke
- tetangganya, ke istrinya, ke anaknya, ke
- tetangganya. Bahwa kemudian itu hanya
- taktik ya terserah kepada Allah kan
- begitu ya. Maka oleh sebab itu semuanya
- ada alasannya. Tentu perbedaan orang
- yang berilmu dengan yang tidak berilmu
- dalam menilai itu berbeda gitu loh.
- Kalau orang tidak berilmu biasanya
- cenderung ikut-ikutan. Kalau orang
- berilmu ya berupaya menggunakan ilmunya
- dalam memandang, menilai, memahami orang
- lain sekalipun selain menilai diri
- dirinya. Demikian saya kira yang dapat
- saya ee jawab. Wallahu aam biswab.
- Wallahuam bisawab. Dua pertanyaan sudah
- tadi baru apa namanya tentang ee
- mengenal tidak. Yang kedua apa tadi?
- Kedua, Ustaz, bagaimana sikap dan cara
- kita untuk menyikapi kalau kita tertipu
- agar hati kita tidak kesal?
- Oh, iya. Ya, berarti enggak ada
- hubungannya dengan pertanyaan pertama,
- ya. Oke.
- Jadi, kalau supaya hati kita tidak
- kesal, sekali lagi teorinya ini gampang,
- tetapi pelaksanaannya agak berat, tapi
- membiasakan diri senantiasa baik sangka
- pada Allah,
- tertipu sekalipun itu rahasia Allah,
- skenario Allah gitu loh ya. Ya berarti
- tertipu. Bisa jadi Allah mau mengambil
- apa yang menjadi milik kita dalam tanda
- petik. Padahal itu bukan milik kita.
- Diambil lagi. Oh iya itu kan punya
- Engkau ya Allah. Memang mau kita
- pertahankan nya selu ya Allah. Ken le
- punya Allah kok. Terserah Allah mau
- diambil atau dikasihkan ke kamu atau ke
- orang lain itu terserah. Maka pengertian
- innahi
- wa inna ilaihi rojiun itu penghayatannya
- harus betul-betul sehingga kemudian
- kepada siapapun apapun yang diambil oleh
- Allah tetap kita rida gitu loh. Tidak
- ngambek, tidak mutung gitu loh. Bahkan
- jabatan sekalipun ketika diambil oleh
- Allah punya Allah. Nah, maka itulah
- penghayatan terhadap la haula wala
- quwwata illa billahil aliyil adzim.
- La haula wala quwwata illa billahil
- aliyil adzim. Penghayatan itu terhadap
- kalimat ee hauqalah ini masyaallah ya
- akan berdampak positif,
- akan menyehatkan badan.
- Konon katanya penelitian ee sebagian
- ahli kesehatan penyakit itu bermuara ya
- itu yang paling penting bermuara dari
- hati dari kalbu.
- Ada orang sakit-sakitan diperiksa, "Ih,
- enggak ada apa-apa. Sehat, Bu." Ini mah
- sehat tapi saya sakit. G. Nah, itu
- berarti ada satu persoalan, ya. Makanya
- kemudian ee kalau kita merujuk kepada
- kehidupan para sahabat bahkan Nabi
- sallallahu alaihi wasallam, Nabi
- sallallahu alaihi wasallam sepanjang
- hidupnya 63 tahun itu cuma dua kali
- sakit.
- Dua kali sakit. Masyaallah. Nah, begitu
- juga ee sahabat-sahabat yang lain ya.
- Padahal ee apa namanya? Ilmu kesehatan
- belum semaju sekarang.
- He.
- Tapi kemudian mereka bisa sehat. Di
- antaranya tadi ya, di antaranya yang
- harus dijaga adalah hati.
- Nah, hati yang menggerogoti karena
- kedengkian, kebencian, keirian itu yang
- mempercepat penyakit.
- Penyakit hati, Ustaz.
- Penyakit hati. Penyakit hati kemudian
- dampak kepada fisik.
- Asalnya tadi hati berenti sakit dada.
- Padahal oh persoalannya sesungguhnya itu
- bukan di saluran ininya asalnya, tetapi
- bagian dalamnya. Bagian dalam itu
- psikisnya, kejiwaannya, gitu ya. Maka
- oleh sebab itu orang yang zikirnya benar
- itu biasanya masyaallah penilaiannya
- panjang umur. Meskipun sekarang kan
- ternyata ditemukan ada orang yang sudah
- berusia 360 tahun.
- 360 tahun.
- Benarak. Tapi yang jelas memang sudah
- masyaallah tapi ada
- yang 120 tahun ada. Tapi umat Nabi
- Muhammad rata-rata itu 65 tahunan gitu
- loh. Bahwa kemudian ada diberi ya
- terserah kepada Allah itu mah. Tapi
- memang betul ee apa namanya makanannya
- dijaga. Ini ternyata betul begitu ya.
- Tetapi saya kira kan kita bukan memohon
- panjang umur seperti itu sampai 360
- tahun. Bukan itu yang kita minta. Yang
- kita minta itu meskipun usia pendek 70
- tahun sekalipun, tetapi usia kita,
- kebaikan-kebaikan kita terus gitu
- menjadi teladan bagi orang-orang setelah
- kita. Itu yang dikehendaki panjang u
- panjang umur Abu Bakar ya. Selain Nabi
- sallallahu alaihi wasallam gitu ya, para
- sahabat khalifah Rasyidah itu sudah
- berapa tahun meninggal dunia tapi
- seakan-akan masih hidup. Kehidupannya
- masih dibicarakan, diikuti, diteladani.
- Ah, itu masih panjang umur tuh gitu.
- Jadi panjang umur itu adalah kebaikan
- hakikatnya adalah kebaikan-kebaikannya
- senantiasa dikenal. Maka begitu juga
- pengertian merdeka
- dan dijajah.
- Jika dijajah itu mengakibatkan ibadah
- tidak sempurna, zikir tidak serius, maka
- ketika orang yang diberi kemerdekaan
- ibadahnya tidak sempurna, zikirnya tidak
- serius, berarti dia masih dijajah. Kan
- begitu meskipun sudah merdeka. Nah, itu
- hakikat namanya gitu ya. Penilaian hak
- hakikat gitu. Demikian saya kira yang
- dapat saya jelaskan. Wallahu aam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Bapak Dodi
- semoga dapat menjawab.
- Mungkin terakhir dari Ibu Rukmi nih
- Ustaz.
- Namam.
- Asalamualaikum Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Ustaz, saya mau bertanya masalah anak
- laki-laki yang pakai celana cingkrang.
- Sebaiknya pakai celana cingkrang atau
- celana biasa seperti pada umumnya,
- Ustaz?
- Oh, iya. Iya.
- Iya. Iya. Begini,
- kalau celana cingkrang enggak ada
- masalah pakai celana cingkrang.
- Tapi kalau kemudian pakai celana
- cingkrang jadi persoalan, maka harus ada
- kajian. Nah, pengertian penilaian isbal
- dan ghairu isbal atau tidak musbil, para
- ulama beda pendapat sejak dulu. Ada yang
- mengatakan bahwa yang berpakaian di
- bawah mata kaki itu haram.
- Ya, ada dua istilah di dalam ee apa
- namanya? Literatul Islam itu. Ada
- sombong di dalam hati disebutnya kiber.
- Tapi kalau ada sombong yang telah
- dipraktikkan
- dalam sesuatu yang nyata disebut
- khuyala.
- Khuyala.
- Khuyala itu artinya kesombongan yang
- ditampakkan. Kalau sombongnya di hati
- itu kiber.
- Kibir. Nah, kalau sudah nampak jadi
- khuyala. Nah, isbal jika itu sombong
- maka itu menjadi khuyala jika dia
- lakukannya dengan penuh kesombongan.
- Tapi bagaimana dia nutup mata kaki tapi
- tidak sombong. Nah, tadi makanya saya
- termasuk orang yang kharijum minal
- ikhtilaf. Saya keluar dari perbedaan
- itu.
- Meskipun saya pakaian saya, celana saya
- cingkrang, saya tidak menghukumi haram
- bagi yang isbal.
- Tapi saya sendiri tidak isbal gitu loh
- ya. Jadi sekali lagi kalau pakai celana
- cingkrang kemudian mengundang persoalan
- jadi bahan pembicaraan ee jadi gosip,
- jadi isu, jadi bahkan pembulian, maka
- sebaiknya tidak harus pakai celana
- cingkrang. Karena sesungguhnya letaknya
- di mana tadi? Kiber atau khuyala?
- Awalnya di dalam hati.
- Kiber
- ya. Kibir. Kibir itu kan di dalam hati.
- Tapi kalau kibirnya kemudian nampak, ah
- maka jadi khuyala. Nah, khuyala berarti
- bermuara dari kibir. Nah, maka oleh
- sebab itu sebaiknya e karena ini juga
- kan ada Abu Bakar nyampai, "Ya
- Rasulullah, saya kan berupaya untuk ini
- tetapi selalu jatuh." Ah, engkau tidak
- termasuk. Kalau kemudian setiap yang
- menutup mata kaki adalah kategori kibir,
- Abu Bakar juga mestinya masuk, kan
- begitu. Dan sahabat lainnya. meskipun
- dalam satu kondisi Abu Bakar itu
- pakaiannya juga di atas mata kaki
- gitu. Kenapa seperti itu juga? Nah,
- dalam pendekatan sosiokultural
- pada zaman itu kain itu agak susah.
- Wallahualam ya. penelitiannya saya belum
- belum ketat tetapi oh maka kemudian
- kan menjadi mubazir gitu loh menjadi
- mubazir ketika kain panjang dipotong nah
- ini kemudian menunjukkan juga di zaman
- Umar bin Khattab Umar bin Khattab tu
- pakai bajunya disambung
- disambung
- disambung dengan kain miliknya Abdullah
- bin Umar maka para sahabat enggak mau
- dengar perkataan Umar karena Umar Dapat
- dua bagian seakan-akan begitu. Ketika
- Umar mengatakan ismau wa atiu. Dengarkan
- dan taati.
- Salman angkat tangan, "Ya Amirul
- Mukminin, saya tidak akan mendengar
- Anda. Kenapa?" "Karena Anda sudah tidak
- adil. Engkau bagikan kepada kami satu
- kain, satu kain. Engkau sendiri pakai
- kain dua." Gitu loh. Ah, Umar e perlu
- argumentasi ini, perlu jawaban. "Aina
- Abdullah?" Kata Umar, "Aina Abdullah bin
- Umar?" Hadir ya amirul mukminin kata
- putranya liman hadil ijar milik siapa
- ini kain ini indi iya amirul mukminin
- itu milikku dengan Salman ini
- sesungguhnya aku bagikan kepada kalian
- satu potong satu potong aku kebagian
- satu potong yang sempit kamu kan tahu
- aku ini orangnya tinggi besar nah
- makanya untuk supaya pantas begitu loh
- itu tambahan ya penerjemahan pantas maka
- aku pakai haknya Abdullah bin Umar Mar
- untuk aku pakai disambung
- gitu. Ah, kalau gitu sekarang ee aku
- akan mendengar. Bicara engkau sekarang.
- Tuh, itu zaman sahabat begitu bicara.
- Aku akan dengarkan sekarang. Jadi lihat
- ketidakadilan itu. Ah, ngomong bagus
- tapi kemudian tidak berakhlak zalim
- enggak didengar.
- Lihat pakaian gitu aja aku enggak akan
- dengar ya, Amirul Mukminin. Loh, gitu.
- Tapi setah di Oh, iya. I oke oke
- lanjutan bicara. Aku akan mendengarkan.
- Tuh begitu ya. Nah, maka oleh sebab itu
- kajian tentang isbal ini para ulama
- telah berbeda pendapat
- ya. Dan saya mengikuti ulama yang
- kharijum minal ikhtilaf.
- Jadi keluar dari perbedaan pendapat.
- Saya berupaya untuk menggunakan kain
- tidak isbal tapi saya tidak menghukumi
- haram bagi mereka yang isbal. Demikian
- yang dapat saya jelaskan. Wallahuam
- bisawab.
- Wallahuam bisawab. Demikian Ibu Rukmi
- ini semoga dapat menjawab. Alhamdulillah
- kita sudah selesai tausiah sore bersama
- Ustaz Ahmad Saleh. Baik Ustaz sebagai
- penutup.
- Namam ee setelah kita mengkaji beberapa
- hadis ini, ada upaya-upaya yang harus
- kita lakukan untuk senantiasa
- mendekatkan diri kepada Allah. Pertama,
- mendekatkan diri kepada Allah itu bukan
- hanya sekedar ibadah salat, puasa, tapi
- juga menjaga akhlak-akhlak.
- Akhlak bicara, akhlak ini ada tawadu,
- ada ini. Nah, kalau Islam sudah menjadi
- pakaian kita, sudah menjadi masdar,
- sumber kehidupan kita. Jadi kita menjadi
- orang ee saya mungkin berlebihan kalau
- mengatakan kita sudah jadi Quran
- berjalan.
- karena agak agak sulit bagi kita ya.
- Tapi tapi tetap kita harus berupaya ya.
- Sebagaimana Nabi Muhammad sallallahu
- alaihi wasallam ee dinyatakan oleh
- ibunda Aisyah kana akhlaquul Quran
- adalah Nabi Muhammad itu akhlaknya
- Quran. Maka pengertiannya adalah kana
- libasuhul Quran adalah pakaian Nabi
- Muhammad itu adalah Quran. Paling tidak
- kita berpakaian Quran meskipun tidak
- bisa 100%.
- Berapun yang bisa kita lakukan berupaya
- agar kita berpakaian Al-Qur'an, agar
- kita berakhlak Al-Qur'an. Bahwa kemudian
- nanti kita dapat karamah atau tidak
- terserah kepada Allah.
- Ya, terserah kepada Allah. Nah, mungkin
- di antara kita ada yang selalu berpikir
- alhamdulillah saya kalau berdoa ini
- selalu dikabilul oleh Allah.
- Alhamdulillah.
- Saya kalau ini selalu dikabul oleh
- Allah. Ketika saya susah, saya naon
- kepada eh ada solusi. Bisa jadi Anda
- waliullah gitu loh. Bisa jadi gitu ya.
- Nah, tinggal evaluasi. Ketika kita
- betul-betul membersihkan dari maksiat
- kepada Allah maka insyaallah ya. Karena
- kalau kewajiban kan mastatna sekemampuan
- kita. Tapi kalau meninggalkan larangan
- itu tidak ada pilihan. Maka upayakan
- meninggalkan larangan Allah.
- kemudian istiqamah menjadi pakaian,
- menjadi akhlak, maka insyaallah kita pun
- akan mendapatkan karamah sebagaimana
- telah diberikannya kepada para sahabat
- dan wali-wali Allah yang lainnya.
- Demikian yang dapat saya kemukakan.
- Wasallallahu ala nabiina Muhammadin
- walhamdulillahi rabbil alamin.
- Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Jazakumullahir kasih
- jazakumull khair.
- Baikat semoga upaya-upaya itu dapat kita
- amalkan.
- Amin. Allahum amin.
- Saya Fauzi Ridwan mohon undur diri mohon
- maaf atas segala khilaf Neza dan juga
- Yesus Bangkit. Subhanakallahumma
- wabihamdika asaduhailla anta
- astagfiruka.
- Alalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.