Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Hamdan katan
- thyiban barokan fih kama yuhibuna waard.
- Allahumma shalli wasallim wabarik ala
- sayidina Muhammadin waa ali sayidina
- Muhammad. masih dipancarkan dari Jalan
- Masjid Silaturahim nomor 36 Kalimanggis
- Cibubur Bekasi, Radio Silaturahim dan
- juga Rasil TV untuk Islam yang satu.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Ikhwan akhwat yang
- dirahmati Allah. Senang sekali di
- kesempatan Senin pagi hari ini kami bisa
- kembali menyapa ikhwan akhwat dalam
- program acara renungan di bawah naungan
- Al-Qur'an. Seperti biasa bersama guru
- kita Ustaz Husein Alatas. Semoga yuha di
- kesempatan ini dalam keadaan baik. dalam
- keadaan ee sehat walafiat dan selalu
- dalam lindungan Allah Subhanahu wa
- taala. Tidak lupa kami mendoakan ikhwan
- akhwat yang mungkin saat ini tengah
- diuji sakit semoga segera diberikan
- kesembuhan oleh Allah subhanahu wa taala
- dan juga semoga sakitnya menjadi kafarat
- bagi dosa-dosanya. Amin. Amin ya rabbal
- alamin. Tidak lupa juga doa untuk
- saudara-saudara kita di Sumatera ya, di
- Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara,
- dan beberapa daerah lainnya juga di
- beberap di Jawa pun sekarang sudah mulai
- apa ya banjirnya sudah mulai apa ya ee
- meningkat ya di Bandung dan beberapa
- kota lainnya. Semoga diberikan
- kesabaran, semoga banjirnya ca cepat
- reda dan semoga cepat pulih kembali ya.
- Semoga pemerintah juga bisa memberikan
- bantuan segera ke wilayah-wilayah yang
- terpencil ya, yang sulit untuk
- dijangkau. Ikhwana telah hadir guru kita
- Ustaz Husin Alatas yang akan kembali
- memberikan ee ilmunya untuk kita semua.
- Kita sapa terlebih dahulu.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustaz.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah nahmillahyukur.
- Baik, ikhwanawat. Di kesempatan ini kita
- akan insyaallah akan melanjutkan
- ee penjelasan mengenai hubungan antara
- wahyu dan akal, Ustaz. Ya.
- Baik, langsung saja kita simak bersama
- setelah nanti diawali dengan pembacaan
- Quran surah Al-Fatihah. Kami persilakan,
- Ustaz.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahirabbil
- alamin
- arrahmanirrahim.
- Maiki yaumiddin
- iyaka na'budu wa iyyaka nasta'
- ihdinasirathal
- mustaqim
- shathalladzina
- an'amta alaihim
- ghairil maghdubi alaihim
- in.
- Amin.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin. Hamdan
- katsiran thyyiban mubarokan fih kama
- yuhibbu rabbuna waard. Allahumma sholli
- ala Muhammadin wa ali Muhammad.
- Subhanaka la ilma lana illa ma alamtana
- innaka antal alimul hakim.
- Wala haula wala quwwata illa billahil
- aliyil adzim.
- Allahumma atina minika rahmah waimna min
- ladunka ilman nafi' wf'na bima alamtana.
- Rbana zidna ilman walhikna bisolihin.
- Asalamualaika ya Rasulullah.
- Asalamu alaina waa ibadillah shihin.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.
- Alhamdulillah wasyukrulillah.
- Pagi hari ini kita dapat kembali bertemu
- berkumpul di bawah naungan Al-Qur'an
- Al-Karim. Semoga Allah jadikan Al-Qur'an
- sebagai cahaya yang menerangi kalbu
- kita,
- petunjuk yang menunjukkan jalan kita.
- Begitu juga menjadi rahmat bagi kita,
- keluarga kita, seluruh kaum muslimin
- dan juga menyembuhkan
- berbagai macam penyakit
- yang mengotori jiwa kita.
- Semoga Allah jadikan Al-Qur'an bagi kita
- sebagai pemisah
- yang memisahkan di antara yang hak dan
- batil. [tertawa]
- ditemani oleh Kang Rizal, begitu juga
- Ondi Saputra,
- Algi, dan seluruh kerabat kerja di
- studio. Semoga Allah Subhanahu wa taala
- memberikan kita
- pengajaran, bimbingan ilmu-ilmu yang
- bermanfaat. Amin.
- Yang dapat menjadi bekal kita baik dalam
- kehidupan dunia agar berjalan dalam
- kebenaran yang sejalan dengan keridaan
- Allah dengan mengharapkan ridanya.
- Begitu juga untuk bekal hari akhir
- nanti.
- Di saat manusia dikumpulkan pada hari
- tersebut, harta, anak, dan seluruh
- kebesaran dunia ini tidak akan berguna
- kecuali yang datang kepada Allah dengan
- hati yang salim ini. Semoga Allah
- subhanahu wa taala membersihkan,
- menyehatkan jiwa kita hingga dalam hidup
- ini hanya Allah Subhanahu wa taala yang
- menjadi tujuan.
- Selalu berpegang kepada sunah nabi-Nya.
- Dan Allah Subhanahu wa taala
- menjadikan kita orang-orang yang
- bermanfaat yang dapat mengajak manusia
- kembali bersama-sama menuju Allah
- subhanahu wa taala. Ikhwan akhwat yang
- dirahmati Allah.
- Melanjutkan kembali jawaban dari
- pertanyaan sejauh mana atau bagaimana
- hubungan antara wahyu dengan akal?
- Kita dapat
- mengumpamakan
- akal itu yang Allah anugerahkan bagi
- kita mirip dengan kedua bola mata kita.
- Walaupun dalam keadaan sehat bola mata
- kita, tapi di tengah-tengah kegelapan
- tanpa cahaya, dia tidak akan dapat
- melihat.
- Begitu juga akal merupakan anugerah
- Allah yang terbesar bagi manusia.
- Dengan akal dia dapat mengenal Tuhannya.
- Dengan akal yang Allah Subhanahu wa
- taala berikan,
- dia dapat menerima cahaya Allah
- Subhanahu wa taala.
- yang membimbing dirinya menuju keridaan
- Allah Subhanahu wa taala.
- akal tanpa penerangan wahyu dia akan
- meraba-raba
- yang akan betul-betul
- menyusahkan dirinya
- juga menimbulkan kebingungan dan
- kegelisahan
- yang bisa-bisa akal
- ternyata
- di
- perdayakan oleh hawa nafsu Dia merasa
- dirinya berjalan dengan mengikuti akal
- sehat. Padahal sebetulnya tanpa disadari
- dirinya dikendalikan dan dibully oleh
- hawa nafsunya. Nah, ini banyak kita
- jumpai orang-orang yang menganggap
- dirinya orang-orang yang berakal,
- orang-orang yang termasuk dalam golongan
- kaum rasionalis.
- Tapi kalau kita perhatikan cara hidup
- mereka mirip dengan kehidupan binatang.
- Mereka berpendidikan tinggi, tapi
- ternyata mereka hidup tidak memiliki
- rasa rahmat terhadap sesamanya.
- Untuk kepuasan,
- untuk kesuksesan dirinya, keluarganya,
- dia rela menghancurkan bangsanya maupun
- negaranya.
- Kalau dilihat dari pengetahuan dan
- pendidikan, pendidikan mereka tinggi.
- Tapi tidak dapat mereka dikatakan
- sebagai orang yang berakal. Tapi
- merekalah orang-orang yang dikendalikan
- oleh hawa nafsu mereka.
- Jadi
- akal merupakan anugerah bagi Allah subh
- anugerah dari Allah Subhanahu wa taala
- bagi kita semua
- yang membuat kita layak menjadi
- khalifahnya,
- layak untuk menerima amanat dan layak
- untuk juga menerima firman-firman Allah
- Subhanahu wa taala.
- Sedangkan wahyu adalah cahaya.
- Oleh karena itu, akal bukan musuh atau
- lawan dari wahyu, tapi akal justru
- menerima karunia dari Allah dengan wahyu
- yang menerangi dirinya, menunjukkan
- jalannya, menjelaskan kepadanya
- standar-standar nilai yang besar hingga
- akal tidak harus mencoba-coba.
- Oleh karena itu, perbedaan antara
- seorang mukmin dan seorang nonmukmin,
- seorang mukmin dalam hidup ini ya mereka
- mendapatkan bimbingan wahyu.
- Di samping akal yang Allah berikan
- mereka mendapatkan bimbingan wahyu.
- Sedangkan orang yang tidak beriman,
- mereka hidup bergantung kepada
- rasionalitas
- dan mereka tidak tahu ke mana mereka
- dibawa oleh rasio mereka.
- Tapi dengan bimbingan wahyu, akal tahu
- apa yang harus dilakukan.
- Akal juga tidak mengalami kebingungan
- untuk menentukan kebenaran dan kesalahan
- antara yang hak dan batil.
- Oleh karena itu, ikhwan akhwat yang
- dirahmati Allah, jangan kita salah paham
- mengatakan bahwa agama tidak dapat
- dipahami dengan apa? Dengan akal. Agama
- tidak dapat dipahami
- dengan
- dengan akal.
- Justru sebaliknya, agama yang merupakan
- bimbingan petunjuk yang datang dari
- Allah Subhanahu wa taala ditujukan untuk
- menerangi akal manusia. Lalu bagaimana
- kita memahami wahyu Allah seperti
- Al-Qur'an?
- Untuk memahami wahyu Allah, Allah tidak
- meninggalkan kita dalam kebingungan.
- Allah berikan kita metode yang
- meyakinkan, yang menentramkan, yang
- tidak membingungkan, yaitu dengan metode
- menafsirkan Al-Qur'an dengan Al-Qur'an.
- Jangan kita menafsirkan ayat Al-Qur'an
- terpisah-pisah, akhirnya melahirkan
- pemahaman yang tidak sempurna, malah
- saling bertentangan satu dengan lainnya.
- Oleh karena itu, Imam Ali mengatakan,
- "La tadribul qurana ba'dahu bib'in."
- Jangan kalian benturkan Quran satu sama
- lain. Liannahu yufassiru ba'buhu ba'd.
- Karena dia saling menafsirkan dan saling
- menerangkan.
- Jadi berbahagia sekali kita orang-orang
- yang beriman kepada Allah dengan akal
- yang Allah berikan. Allah Subhanahu wa
- taala terangi akal kita dengan wahyunya.
- Dan inilah yang akan menjamin kita
- terbebas dan jauh dari kesesatan apabila
- kita mengikutinya. Sebagaimana firman
- Allah, "Faimma ya'tannakum minni huda
- faman tabi hudaya fala khaufun alaihim
- wala hum yahzanun. Walladina kafaru
- waadzabu biayatina ulaika ashabunari hum
- fiha kholidun."
- Apabila petunjukku sampai kepada kalian,
- siapa-siapa yang mengikuti petunjukku,
- mereka dalam kehidupan dunia tidak akan
- mengalami ketakutan dan kesedihan.
- Begitu juga di hari akhir nanti. Tapi
- sebaliknya, mereka-mereka yang ingkar
- dan mendustakan ayat-ayatku,
- maka mereka kelak akan menjadi penghuni
- api neraka kekal di dalamnya untuk
- selama-lamanya.
- Ini merupakan
- persimpangan jalan. Satu jalan yang
- diterangi cahaya Allah
- yang memiliki rambu-rambu jalan yang
- jelas.
- Yang menempuh jalan tersebut akan
- menerima rahmat Allah dan ampunannya.
- Yang menempuh jalan tersebut Allah
- Subhanahu wa taala akan sucikan jiwanya.
- Tapi sebaliknya, jalan yang lain
- merupakan jalan yang diwahyukan oleh
- setan. yang menempuh jalan tersebut
- akan membuat nafsunya tak terkendali.
- Hidup dalam kegelapan, membabi buta,
- seradak-seruduk ke sana kemari yang pada
- akhirnya menjerumuskan dirinya dalam
- kehidupan yang tidak tenang
- yang akan membuat juga jiwanya dalam
- keadaan meronta-ronta.
- meraba-raba di tengah kegelapan tak tahu
- apa yang harus dilakukan dalam hidup
- ini. Walaupun di tengah-tengah kekayaan
- yang bergelimpangan di hadapannya,
- ternyata semua itu tidak menentramkan
- hatinya. Inilah merupakan
- jalan yang akan mengantarkan dirinya
- menuju penderitaan dunia dan azab di
- hari akhir nanti. Tinggal kita memilih
- jalan mana yang kita ingin tempuh.
- Jangan mengharapkan kedamaian,
- kebahagiaan, kesuksesan. Tapi jalan yang
- kita tempuh adalah jalan setan, bukan
- jalan yang ditunjukkan Allah Subhanahu
- wa taala. Semua ini karena kesombongan
- manusia yang merasa diri mereka pandai
- juga disebabkan karena mereka mengikuti
- hawa nafsu mereka terombang ambing di
- tengah-tengah lautan khayalan.
- Waliyadzubillah.
- Baik, Ustaz. Terima kasih atas
- penjelasannya mengenai hubungan wahyu
- dan akal, Ustaz. Ya.
- Ada kita langsung ke sesi kita jawab
- aja, Ustaz, ya. Karena sudah ada
- beberapa pertanyaan yang silakan
- ee masuk, Ustaz. Ini yang pertama ini ee
- batasan apa dan tanggung jawab akal,
- Ustaz. Nah, di di ranah apa saja akal
- manusia itu harus tunduk sepenuhnya pada
- wahyu dan tidak diperbolehkan
- mempertanyakannya karena merupakan
- wilayah gaib atau metafisika yang
- melampaui kemampuan nalar. Ee seperti
- misalnya hakikat kehidupan di alam
- barzakh, peristiwa hari kiamat atau
- rincian
- sifat-sifat Allah. Apakah akal boleh
- merasionalisasi atau mencari sebab
- akibat?
- peristiwa-peristiwa tersebut. Ustaz,
- bismillahirrahmanirrahim.
- Berkaitan dengan hal-hal yang gaib,
- dengan sendirinya sumbernya adalah wahyu
- Allah Subhanahu wa taala.
- Apa yang diterangkan Allah Subhanahu wa
- taala dalam Al-Qur'an
- yang Allah perintahkan kepada kita untuk
- kita imani?
- itu apa-apa yang bakal terjadi di hari
- akhir nanti
- berkaitan dengan hisab
- juga berkaitan dengan aljaza balasan
- yang diterima manusia mengenai kehidupan
- surga yang digambarkan Allah begitu juga
- mengenai nerakanya. Dalam hal ini kita
- sebagai orang yang beriman,
- kita dengan sendirinya beriman
- sebagaimana yang diterangkan Allah
- Subhanahu wa taala. Adapun detailnya,
- hakikatnya, dengan sendirinya apa?
- Tak mungkin dimensi kehidupan kita ini
- bisa membayangkan kehidupan akhirat
- nanti. Oleh karena itu yang Allah
- gambarkan di surga dari berbagai macam
- kenikmatan itu sebetulnya gambaran yang
- Allah berikan buat kita sifatnya
- takribi.
- Artinya mendekatkan kepada kita sesuai
- dengan kemampuan nalar kita.
- Tapi hakikatnya tak mungkin dapat
- diberikan dan dibayangkan.
- Begitu juga apa yang Allah gambarkan
- dari neraka.
- Apa yang Allah gambarkan itu gambaran
- yang bersifatnya takribi. Allah
- Subhanahu wa taala sesuaikan dengan
- kemampuan narat kita. Tapi hakikat api
- neraka jauh lebih mengerikan dari apa
- yang dibayangkan.
- Kemudian kita berbicara mengenai
- nama-nama Allah dalam Quran. Allah tidak
- pernah sama sekali menggunakan kata
- sifat untuk dirinya. Karena apa? Karena
- sifat kan terbatas.
- Sifat merupakan sesuatu yang baru.
- Sebagai contoh, Kang Rizal.
- Kalau kita berkata, "Fulan seorang alim,
- alim baginya kan sifat kan."
- Iya.
- Tapi apakah dia lahir dalam keadaan
- alim?
- Tidak.
- Apakah ilmunya meliputi segala sesuatu?
- Tidak,
- terbatas itu sifat buat dirinya.
- Nah, kalau ilmu merupakan sifat bagi
- Allah dengan sendirinya apa? Terikat
- dengan batasan tadi, ya. Allah Subhanahu
- wa taala alim.
- Artinya apa? Ilmunya bersama Allah. Baik
- dulu, sekarang, dan akan datang. Ilmu
- Allah Subhanahu wa taala ilmu yang
- sempurna.
- Ilmu Allah juga meliputi segala sesuatu.
- Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa
- taala nisbatkan kepadanya nama-nama
- bukan sifat. H
- Allah bahkan berfirman subhanahu wa
- taala amma yasifun maha suci Allah dari
- apa yang mereka sifati. Karena
- sifat-sifat yang dikenal manusia ini
- merupakan sesuatu yang hadis yang
- bersifat arabi.
- Artinya bukan yang melekat dengan
- sesuatu ya dan tak terpisah daripadanya.
- Sedangkan sifat-sifat Allah baik itu
- ilmu ya, baik itu juga berkaitan dengan
- kebijaksanaan ini merupakan sifat yang
- menyatu dengan Allah.
- Begitu juga tentang alhayyu kehidupan.
- Beda antara Allah subhanahu wa taala ya
- yang kehidupan menyatu dengan dirinya.
- Kita katakan maha hidup dengan kita yang
- dihidupkan. kehidupan kita sesuatu yang
- baru. Sesuatu yang
- baru.
- Jadi makhluk hidup kata hidup sifat
- kehidupan ini merupakan sesuatu yang
- baru baginya. Sebelumnya apa? Dia dalam
- keadaan mati. Betul gak? Kaifa takfuruna
- billah wauntum amwatan faahyakum tumma
- yumitukum. Bagaimana kalian ingkar
- kepada Allah dulu kalian mati?
- Kalau Allah hidupkan kem Allah matikan
- kalian kembali.
- Yuhikum. Setelah itu Allah hidupkan
- kembali. Jadi kita ini sebetulnya
- kata-kata makhluk hidup, makhluk yang
- dihidupkan. Di mana kehidupan kita
- merupakan sifat tapi bagi Allah
- merupakan apa? Zat yang menyatu dengan
- dirinya. Oleh karena itu, ilmu Allah
- tidak pernah didahului dengan kebodohan.
- I
- kekuasaan Allah tidak pernah didahului
- dengan kelemahan. Kesucian Allah
- Subhanahu wa taala tidak pernah
- didahului oleh kekurangan. Dia maha
- suci, maha sempurna, maha tahu, maha
- bijaksana. Nah, di sini hamba kalau
- betul-betul memahami nama Allah di
- siapa, dia akan betul-betul penuh rasa
- yakin, percaya, dan tentram.
- Nah, kita berbicara mengenai nama-nama
- Allah. Coba Kang Rizal perhatikan. Kata
- alhayyu,
- Allahu la ilahailla alhayyu merupakan
- nama Allah. Manusia juga dikatakan
- hayyun. Betul gak?
- manusia
- adalah makhluk hidup. Perhatikan makhluk
- hidup karena sebelumnya dia
- mati.
- Mati. Jadi dia merupakan makhluk hidup.
- Sedangkan alhayyu Allah subhanahu wa
- taala narasumber kehidupan yang
- memberikan kehidupan kepada seluruh
- makhluknya.
- He.
- Tapi kalau kita lihat ya dari akar
- katanya
- hidup.
- Hidup ini merupakan kata yang
- dipergunakan untuk manusia menggambarkan
- mereka-mereka yang berada apa dalam
- kehidupan dan dibedakan dari kematian.
- Betul gak?
- Tapi kata-kata ini kan kata-kata yang
- berlaku di tengah-tengah manusia. Kalau
- kita nisbatkan kepada Allah ya
- sebagaimana apaadanya, cocok enggak?
- Cocok enggak?
- Cocok.
- Kalau nama hidup dinisbatkan kepada
- Allah sebagaimana dinisbatkan kepada
- manusia enggak cocok. Heeh.
- Betul gak?
- Heeh.
- Nah, Allah pinjam kata
- hidup ini untuk dirinya. Tapi kita harus
- sucikan nama Allah dari sifat kurang
- yang ada pada manusia.
- Begitu juga Allah subhanahu wa taala
- alim. Kata alim di sini diambil dari
- kata ilmu, kata sifat yang biasa
- dipergunakan di antara manusia dengan
- penuh keterbatasan. Betul gak?
- Betul. Kalau kita nisbatkan
- alim kepada Allah sama dengan apa yang
- dinisbatkan kepada manusia enggak tepat.
- Oh iya
- betul gak?
- Betul.
- Kita harus sucikan nama Allah dari sifat
- kurang yang ada pada manusia. Manusia
- berilmu setelah sebelumnya tidak berilmu
- atau bodoh dan dia dikala berilmu pun
- ilmunya terbatas. Maka semua batasan ini
- yang ada pada manusia dengan s tidak
- dapat dinisbatkan kepada Allah. Maka
- Allah bilang sabbihismaabbikal a'la.
- Sucikan nama keagungan Tuhanmu yang maha
- agung. Jangan sampai kita menisbatkan
- nama ini kepada Allah sebagaimana kita
- menisbatkannya kepada manusia.
- Jadi, kata-kata yang biasa dipergunakan
- manusia ini penuh dengan keterbatasan.
- Penuh dengan
- keterbatasan
- dan kekurangan.
- Kalau dinisbatkan kepada Allah karena
- Allah meminjam nama ini ya untuk
- dirinya. Dengan sendirinya kita dalam
- memahaminya harus mensucikan Allah dari
- sifat-sifat yang tidak layak bagi Allah.
- Begitu juga nama Allah Subhanahu wa
- taala yang lain. Katakan karim.
- Kalau kita menyebutkan seorang atau
- fulan karim menggambarkan dia seorang
- dharmawan.
- Tapi dengan sendirinya kekayaan yang
- dimiliki terbatas. Betul gak?
- Betul.
- Ada batasnya.
- Karena dia juga sama-sama makhluk yang
- butuh. Tapi kalau Allah Subhanahu wa
- taala alkarim, kekayaan Allah Subhanahu
- wa taala tak terbatas. Seandainya
- seluruh makhluk dalam waktu yang sama.
- Sebagaimana dalam hadis jinnya,
- manusianya memohon kepada Allah, Allah
- kabulkan semua permintaan mereka yang
- tak terbatas.
- Apa yang Allah berikan untuk mereka sama
- dengan apa? Jarum yang dimasukkan ke
- dalam samudra yang melekat pada apa?
- Jarum tersebut. Itulah yang Allah
- berikan untuk mereka. H
- ini perumpamaan. Jadi perlu kita
- memahami dalam memahami nama-nama Allah
- Subhanahu wa taala. Contoh jangan
- jauh-jauh assami al bashir yang maha
- mendengar
- lagi maha melihat.
- Kata sami dan basir ini diambil dari
- kata assyam'u wal bashar yang artinya ya
- pendengaran dan penglihatan. Nah,
- manusia sebagai makhluk melihat dengan
- mata,
- mendengar dengan telinga. Nah, kalau
- kita nisbatkan ya Allah Subhanahu wa
- taala mendengar dengan telinga, melihat
- dengan mata, lalu
- apa namanya?
- Seorang membayangkan bagaimana mata
- Allah maupun telinga Allah, apa jadinya?
- Iya,
- betul gak?
- Begitu juga. Tabarakalladzi biyadihil
- mulk.
- Allahu
- maha suci Allah yang keberkahannya terus
- melimpah yang dalam genggamannya.
- seluruh kerajaan langit dan bumi. Kalau
- kita bayangkan Allah bertangan
- yang menggenggam langit dan bumi ini
- merupakan hal yang tidak layak bagi
- Allah. Tapi sifat ini merupakan sifat
- manusia.
- Iya.
- Karena kalau Allah mendengar dengan
- telinga, melihat dengan mata, Allah
- Subhanahu wa taala merupakan apa?
- Merupakan Tuhan yang butuh.
- Allah Subhanahu wa taala maha suci dari
- kekurangan. Lalu bagaimana Allah
- sebenarnya? Kita enggak pernah sama
- sekali diterangkan oleh Allah mengenai
- zatnya.
- Betul gak? Jangankan Allah, pernah
- enggak kita menyaksikan zat dari roh
- kita, dari jiwa kita? Tidak.
- Dalam hidup kita ini banyak yang tidak
- kita sama sekali ketahui hakikatnya,
- tapi kita yakini keberadaannya.
- Iya.
- Betul gak?
- Betul.
- Kita yakini keberadaan banyak hal,
- tapi kita sama sekali tidak mengetahui
- hakikatnya. Jangan jauh-jauh.
- Orang mengetahui keberadaan magnet ya
- dengan tertariknya satu logam ke arah
- logam yang lain. Tapi hakikat dari
- magrib bisa enggak terlihat mata kita?
- Tidak.
- Jadi manusia sebetulnya dengan kemampuan
- mereka amat terbatas.
- Oleh karena itu dalam surat Luqman Allah
- berfirman bagaimana?
- Walau anna fil ardhi min syajaratin
- aqlam wal bahru yamudduhu min ba'dihi
- sabatu abur. Mana fidat kalimat? Seand
- seluruh pohon yang terdapat di bumi, di
- hutan Afrika, hutan Asia, hutan Amerika
- Latin, hutan Eropa, ya, seluruh
- hutan-hutan yang ada digunakan sebagai
- pena. Kira-kira berapa banyak penanya?
- Lautan yang ada ditambah tujuh kali
- lautan yang ada ini sebagai tinta untuk
- menulis kalimat Allah.
- Niscaya apa? Laut akan kering,
- pena-pena akan hancur berserakan.
- Kalimat Allah tidak akan pernah
- berakhir. Ini baru kalimatnya.
- Alam semesta ini kan tercipta dengan
- kalimat Allah. Kun fayakun.
- Iya.
- Betul gak?
- Jadi bicara mengenai kalimat Allah saja
- ya dengan seluruh keberadaan hutan yang
- ada, keberadaan lautan ditambah tujuh
- kali lipat tak mampu untuk menulis
- kalimat Allah
- apalagi berbicara tentang Allah. Jadi
- tidak mungkin bahasa yang dipergunakan
- manusia dapat menggambarkan hakikat
- Allah. Oleh karena itu kita beriman
- kepada Allah. Allah maha mendengar, maha
- melihat, maha mengetahui, maha apa
- namanya? Ee katakan bijaksana.
- Sedangkan hakikatnya begitu juga
- berkaitan dengan zat Allah. Kita beriman
- tapi kita sama sekali tidak apa? Tidak
- berani sama sekali mengkhayalkan dalam
- benak kita. Sampai Abu Bakar Assiddiq
- radhiallahu anhu ini sahabat besar
- mengatakan alajzu andark idrakun. Kalau
- orang sudah sama sekali lumpuh tak
- berdaya untuk mengkhayalkan membayangkan
- kebesaran Allah di situ dia mengenal
- Allah hingga dia mengatakan subhanaka
- lauhsianaan alaika anta kama.
- Jadi alajzu
- dar idrakun wal fatillah israkun. Orang
- mulai mencari-cari berbicara mengenai
- zat Allah pasti dia akan persekutukan
- Allah. Kenapa?
- Karena manusia kan terikat dengan apa
- yang dia kenal, apa yang dia tahu, apa
- yang dia lihat. Di saat dia bicara
- mengenai zat Allah pasti apa? Apa yang
- terjadi? Pasti dia akan membayangkan
- sesuai dengan memori yang ada
- keenangnya.
- Jadi kalau mereka bayangkan Allah
- bertangan, Allah bermata, dia akan
- bayangkan bagaimana mata Allah,
- bagaimana tangan. Betul gak? Akhirnya
- dia samakan Allah dengan hambanya. Oleh
- karena itu, dalam hal ini kita memahami
- sebagaimana yang diterangkan Allah bahwa
- Allah maha mendengar, maha melihat tapi
- keserupaan dengan makhluknya kita harus
- sucikan Allah. Bagaimana hakikatnya?
- Dengan sendirinya kita tidak berani
- bicara dalam hal ini, tapi kita yakin ya
- kita yakin Allah bersama kita di mana
- pun kita berada. Tapi bukan bersama
- kebersamaan ruang, bukan kebersamaan
- waktu. Dia bersama kita di sini, bersama
- malaikatnya di langit, bersama juga
- hambanya di Amerika. Tapi kalau
- kebersamaan ruang,
- di saat Allah bersama kita di satu
- ruang, maka tempat lain akan kosong.
- Tapi ilmu Allah meliputi segala sesuatu.
- Allah Subhanahu wa taala bersama kita di
- mana pun kita berada. Allah lebih dekat
- kepada kita daripada denyut jantung
- kita. Allah Subhanahu wa taala juga apa
- yang memerintah di langit, memerintah di
- bumi. Oleh karena itu, langit bumi
- ciptaan Allah Subhanahu wa taala.
- Bukan Allah Subhanahu wa taala dalam
- langit. Karena langit bumi ciptaannya,
- waktu ciptaannya, tempat ciptaannya.
- Oleh karena itu, keberadaan yang paling
- sempurna, yang tak terperikan, yang tak
- terbayangkan. Begitu juga keindahan,
- kebesaran, keagungan hanya keberadaan
- Allah Subhanahu wa taala. Jadi yang kita
- bisa pahami kesempurnaan yang mutlak,
- keagungan yang mutlak, keindahan yang
- mutlak, kebesaran yang mutlak tanpa
- cacat, tanpa kekurangan. Sabbihisma
- rabbikal a'la.
- Alladzi khalaqo fasawa walladzi qaddaro
- fa. Oleh karena itu, jangan kita
- berbicara mengenai zat Allah Subhanahu
- wa taala di luar ya, di luar kemampuan
- kita.
- Jadi kita sebagai manusia dengan
- kekurangan kita, kita harus sadar
- kemudian harus tahu batas. Karena kalau
- orang melampaui batasnya, dia akan apa?
- Akan membodohi dirinya. seperti orang
- tidak tahu masalah medis, bicara masalah
- kedokteran, bicara masalah obat,
- memberikan resep lagi pada orang lain.
- Bahaya gak?
- Bahaya.
- Bahaya. Jadi hendaknya kita sadar
- sebagai seorang hamba yang penuh
- keterbatasan dan kita juga harus tahu
- diri dan tahu batasan kita pada saat
- tersebut. Ya, niscaya jiwa kita akan
- diterangi oleh cahaya Allah Subhanahu wa
- taala. Nah, iblis yang dianugerahkan
- kemuliaan oleh Allah karena dia tidak
- tahu diri, tidak tahu batasnya, Allah
- Subhanahu wa taala jatuhkan kutukan
- padanya. Jadi, dengan nama-nama Allah
- yang begitu indah, kita pahami juga
- dalam satu kesatuan.
- Ayat-ayat Allah juga kita pahami dalam
- satu kesatuan, bukan terpisah-pisah.
- Akan betul-betul apa?
- akan betul-betul menerangi jiwa kita,
- memberikan pemahaman yang benar akan
- kebesaran keagungan Allah Subhanahu wa
- taala. Jadi, berkaitan dengan apa-apa
- yang gaib, begitu juga berkaitan dengan
- ee kebesaran dan keagungan Allah
- Subhanahu wa taala, kita harus tahu
- batasan kita sebagaimana yang Allah
- terangkan dalam surat Alimran.
- Hualladzi anzala alaikal kitab minhu
- ayatun muhkamat
- hunna ummul kitab. Dia yang telah
- menurunkan bagi kalian alkitab yaitu
- Al-Qur'an.
- Di antara ayat-ayat Quran terdapat ayat
- muhkamat. Ayat-ayat ini muhkamat dalam
- arti jelas gamblang maknanya ya. tidak
- menimbulkan multi tafsir.
- Wa ukharu mutasyabihat. Tapi ada
- ayat-ayat juga mutasyabihat
- di mana ayat-ayat tersebut ya bisa ya
- membuat orang salah menafsirkan karena
- ada keserupaan,
- ada kesamaran. Contoh dalam satu kata
- yang Allah pergunakan untuk dirinya ya
- dengan sendirinya apa?
- Dengan sendirinya kata ini yang biasa
- dipergunakan untuk manusia mau tidak mau
- apa hal-hal yang bersifat manusiawi kan
- mau enggak mau terkandung dalam
- kata-kata tersebut. Betul gak?
- Betul.
- Nah, bagaimana kita memahami
- kata-kata kalimat-kalimat yang terdapat
- dalam Al-Qur'an yang mengandung makna
- mutasyabih.
- Allah ajarkan pada kita kembalikan
- kepada ayat muhkamat. Karena Allah
- jadikan ayat muhkamat sebagai ummul
- kitab, arti induk Al-Qur'an. Jadi kalau
- kita memahami firman-firman Allah
- arrahmanu al-arsyistawa
- atau kita memahami firman Allah assami
- al bashir atau wasia kursiuhus samawati
- wal ard. Kalau kita pahami sesuai dengan
- apa? Dengan madlul makna yang
- ditunjukkan oleh kata-kata tersebut bisa
- menimbulkan kesalahpahaman.
- Kita samakan Allah dengan apa? Dengan
- makhluknya yang duduk di atas kursi.
- Betul gak? yang mendengar dengan
- telinga, yang melihat dengan mata, tapi
- kita sucikan nama-nama tersebut dari
- keserupaan
- yang ada pada manusia. Karena Allah
- laisa kamitlihi. Nah, laisa kamlihi
- saiun ini merupakan ayat muhkamat. La
- tudriul absar wahua yudrikul absar. Ayat
- muhkamat. Lam yalid walam yulad walam
- yakun lahu kufuwan ahad merupakan ayat
- muhkamat. Jadi ayat-ayat mutasyabihat
- yang mengandung kesamaran, kesamaran di
- sini bukan karena Allah Subhanahu wa
- taala apa tidak mampu menjelaskan dengan
- jelas, tapi keterbatasan akal manusia,
- keterbatasan
- akal
- akal manusia yang hidup dalam ruang,
- dalam waktu dan penuh dengan kekurangan.
- Tidak mungkin Allah menjelaskan hakikat
- dirinya yang sempurna kepada manusia
- dengan bahasa kata-kata yang penuh
- keterbatasan.
- Coba kalau Kang Rizal ditanya sama anak
- ya, bisa enggak kamu jelaskan sedalam
- mana cinta ayah pada saya? Bisa enggak?
- Enggak bisa.
- Kata-kata bisa enggak diungkapkan?
- Tidak bisa.
- Enggak mungkin. Cinta merupakan gelora
- yang hidup ya, yang di dalam terdapat
- rahmat, terdapat kerinduan, terdapat
- kedekatan. Kata-kata penuh keterbatasan.
- Begitu juga kalau istri bertanya, "Kang,
- sejauh mana Akang mencintai saya?"
- Coba
- paling hanya perumpamaan-perumpamaan.
- Saya mencintai kamu bagaikan seorang
- yang haus dahaga di tengah padang pasir,
- menemukan air yang menghilangkan dahaga.
- Itu hanya merupakan salah satunya kan?
- Betul gak?
- Betul.
- Nah, bagaimana mungkin kita bisa
- menggambarkan Allah dengan kata-kata
- kita yang penuh keterbatasan? Kata-kata
- ini mati.
- He.
- Oleh karena itu, seorang ketika ditanya
- oleh pasangannya, "Sejauh mana, sedalam
- mana kau mencintai saya?" Ya, dia
- mengatakan, "Tak mungkin saya dapat
- mengungkapkan kecintaan saya pada kamu."
- Karena kata-kata merupakan benda mati,
- sedangkan cinta merupakan kehidupan.
- Bagaimana mungkin yang mati dapat
- menggambarkan yang hidup?
- Jadi, kalau Antum perhatikan, kita ini
- harus tahu keterbatasan
- kata-kata dan bahasa yang dipergunakan
- manusia mana mungkin menggambarkan
- kebesaran keagungan Allah. H.
- Betul gak?
- Betul. Jadi Allah ingatkan kita bahwa
- Al-Qur'an terbagi dua. Ada ayat muhkamat
- yang menjadi induk Al-Qur'an, ada ayat
- mutasyabihat. Bukan disebabkan karena
- Allah Subhanahu wa taala menggunakan
- ayat yang tidak jelas. Tapi
- ketidakjelasan ini timbul karena
- keterbatasan manusia. Maka memahaminya
- kembalikan kepada ayat muhkamat. Nah,
- ini namanya tafsir Quran bil Quran.
- Menafsirkan Quran dengan Qur bukan
- dengan riwayat.
- Kalau riwayat kita saksikan rusaknya
- Bani Israil dulu karena mereka
- meninggalkan kitab Taurat kembali kepada
- riwayat. Akhirnya mereka gambarkan Tuhan
- mirip dengan makhluk.
- Nah, sebagai penutup dalam keterangan
- ini ya mungkin ada pertanyaan lagi nanti
- kita harus memahami bahwa hakikat
- terbagi tiga.
- Hm. Hakikat
- tidak akan lebih daripada itu.
- Hakikat yang pertama namanya
- alhaqkiqatul wajibah.
- Itu hakikat yang bersifat wajib.
- Kalau dia tidak ada, yang lain juga
- tidak akan ada. Itu Allah.
- Karena keberadaan alam semesta ini
- merupakan manifestasi
- dari apa? Dari kebesarannya, dari
- rahmatnya, dari kasih-Nya. Jadi kalau
- orang mengatakan Allah tidak ada, sama
- aja mereka mengatakan seluruh yang ada
- ini tidak ada. Karena keberadaannya
- semuanya keberadaan yang begini indah,
- agung teratur tidak mungkin tanpa
- pencipta dan pengaturnya. Oleh karena
- itu, apa?
- Hakikat yang bersifat wajib
- keberadaannya adalah Allah Subhanahu wa
- taala. Oleh karena itu orang atau
- penyair mengatakan selain dari Allah
- adalah ketiadaan. Karena apa? Karena
- keberadaan mereka semua tergantung pada
- Allah.
- Apabila Allah kehendaki, Allah adakan.
- Bila Allah tidak kehendaki, Allah
- lenyapkan semuanya.
- Betul gak? Jadi alain mahallaha bail.
- Ketahuilah segala sesuatu selain dari
- Allah adalah tiada.
- Karena apa? Keberadaannya bergantung
- kepada Allah. Jadi kita manusia kalau
- kita bergantung berpegang kepada
- ketiadaan meninggalkan yang
- keberadaannya merupakan mutlak, bodoh
- enggak?
- Iya.
- kita bergantung kepada makhluk,
- kepada benda. Akhirnya begitu kita
- ditinggalkan oleh benda atau kita
- meninggalkan benda, kita kehilangan
- harapan. Tapi kalau bersama Allah
- yang hakikatnya keberadaannya
- betul-betul mutlak ya dan tidak pernah
- sekejap pun meninggalkan kita, kalau
- kita bersama Allah, berpegang pada Allah
- apa yang hilang? Tapi kalau Allah
- meninggalkan kita atau kita melupakan
- Allah, maka semua yang ada merupakan
- tiada. Karena tanpa izin Allah tidak
- mungkin kita akan mengambil manfaat
- daripadanya.
- Jadi hakikat yang pertama alhakiatul
- wajibah yaitu Allah subhanahu wa taala.
- Hakikat yang kedua Kang Rizal
- hakikat yang bersifat mustahil.
- Hakikat yang bersifat
- mustahil.
- Mustahil.
- Nah, dengan sendirinya kalau orang
- mengimani yang mustahil
- berarti apa?
- Dia betul-betul menginjak-injak dan
- mengkhianati akalnya.
- Seluruh keberadaan di langit dan di bumi
- itu ya semua tunduk kepada Allah. Dia
- yang mencipta, Dia yang menjaga, Dia
- yang memelihara, Dia yang mengatur. Dan
- kapan Allah kehendaki Allah Subhanahu wa
- taala tetapkan juga saat kehancurannya,
- kematiannya.
- Tapi sayang, sebagian orang meyakini di
- sisi Allah ada sekutu.
- Walaupun mereka mengatakan ada dewa yang
- besar, ada dewa-dewa kecil.
- Heeh.
- Dalam keyakinan Trimurti sebagaimana
- kita ketahui ada
- Tuhan pencipta.
- Betul gak?
- Iya.
- Itu Wisnu ee Brahma. Kemudian Tuhan
- penjaga, pemelihara itu Wisnu. Kemudian
- Tuhan penghancur ya yang menghancurkan
- katakan ee manusia yang melakukan
- kerusakan, kejahatan dan lain
- sebagainya. Nah, tiga oknum ini
- membentuk ketuhanan di tengah-tengah
- keyakinan orang-orang Hindu.
- Tapi dalam Islam
- yang menciptakan Allah, yang menjaga
- Allah, yang memelihara Allah, yang
- mengatur Allah dengan rahmatnya. Begitu
- juga yang mematikan, yang menghancurkan
- adalah Allah. Dan semua dengan penuh
- kebijaksanaan, dengan penuh kesabaran
- dan penuh dengan rahmat. Kira-kira
- bagaimana orang yang meyakini keesaan
- Allah Subhanahu wa taala dengan orang
- yang meyaksini tuhan-tuhan yang
- masing-masing mempunyai kekuasaan,
- apakah tidak akan terjadi pertarungan?
- He.
- Memperebutkan kekuasaan sampai Allah
- bilang, "Walau fihi maarihatun illallah
- la fasadata. Kalau seandainya di langit,
- di bumi ada Tuhan, Tuhan selain Allah
- pasti akan mengalami kehancuran.
- Nah, malaikat
- hanya petugas yang Allah tugaskan.
- Dia tidak melakukan sesuatu tanpa seizin
- Allah. Jadi, jangan kita beranggapan
- bahwa malaikat bekerja punya apa?
- Otonomi. Tidak. Dia menjalankan perintah
- Allah. Baik dia naik, dia turun.
- lahu baidina w khfana wika
- kami tidak turun
- ya kecuali dengan perintah dari Tuhan.
- Wanazalu illa biamribina lahu ma baina
- aidina w khalfana w bainaalika wabuka.
- Kami tidak turun melainkan dengan event
- Tuhan kami, perintah Tuhan kami. Dia
- yang berkuasa atas kami, di hadapan
- kami, di belakang kami, dan apa yang
- terdapat di antara keduanya. Jadi,
- seluruh malaikat di langit tidak
- bergerak, tidak bekerja melainkan atas
- perintah Allah. Berarti dia juga di
- bawah aturan
- malaikatnya dibawa aturan. Malaikat yang
- menjalankan perintah Allah juga dibawa
- instruksi Allah subhanahu wa taala.
- Begitu juga tidak mungkin satu tetes
- hujan akan turun tanpa perintah dan izin
- Allah. Jadi jangan kita beranggapan
- Allah hanya melakukan hal yang besar
- yang kecil-kecil dilakukan oleh
- dewa-dewa kecil. Tidak.
- Oleh karena itu kalau kita butuh sesuatu
- minta sama Allah.
- Tak butuh ada perantara,
- tidak ada jarak, tidak melihat miskin
- kaya, tidak. Atau orang yang bodoh
- maupun yang berilmu, siapa saja yang
- datang kepada Allah tidak akan ditolak
- kecuali dengan bahasa apun, Ustaz. I
- dengan bahasa apun.
- I
- kan Allah bukan Tuhannya orang Arab aja.
- H
- Tuhannya seluruh
- semesta alam. Nah yang disambut oleh
- Allah yang datang dengan tulus kepada
- Allah jauh dari kesombongan dan tidak
- mempersekutukan Allah. Tapi di saat dia
- memohon kepada Allah dan kepada selain
- Allah akan tinggalkan. Akhirnya dia
- terjebak dalam perangkap setan. Dia
- beranggapan dirinya sukses padahal dia
- bekerja sama dengan setan.
- Karena orang terkadang melihat benar
- salah dengan kesuksesan. Tuh habis saya
- datang ee memuja di gunung sana, gunung
- sini datang ke kuburan fulan, kuburan
- ini. Saya punya usaha lancar. Itu bukan
- bertanda perbuatan dia benar.
- Yang beruntung yang datang kepada Allah,
- Allah Subhanahu wa taala anugerahkan
- karunianya, dijaga dirinya dalam
- keridaan Allah. Itu yang beruntung. Jadi
- saya heran orang bisa langsung minta
- kepada Allah tanpa perantara ya, tanpa
- harus mengeluarkan biaya Allah begitu
- dekat tanpa dia berteriak dengan bisikan
- hatinya Allah mendengar apa yang
- diucapkan
- dan Allah kuasa untuk memberikan apa
- saja yang diinginkan. Yang penting
- jangan mempersekutukan Allah. Jangan
- bersikap sombong, angkuh, bangga dengan
- amal kebaikannya. Tapi datang dengan
- penuh kerendahan.
- Allah Subhanahu wa taala segera akan
- mengabulkan doa Anda. Jadi, Kang Rizal,
- hakikat yang kedua ini yang mustahil.
- Mustahil Allah bersekutu.
- Iya.
- Mustahil Allah Subhanahu wa taala butuh
- akan tempat. Mustahil Allah butuh atau
- terikat dengan waktu. Kalau seandainya
- Allah terikat dengan waktu pada saat
- seorang berdoa, ya Allah katakan tinggal
- di langit seorang berdoa untuk
- mengabulkan doanya, butuh waktu gak?
- Jarak yang begitulah jauh antara langit
- dan bumi
- butuh waktu. Tapi Allah bersama saya
- bersama Kang Rizal, bersama Ondi,
- bersama Agi, bersama seluruh makhluknya
- di alam raya baik ilmunya, pengabulan,
- doanya, kekuasaannya. Jadi tidak ada
- seorang pun ya
- yang apa yang berada jauh dari Allah.
- Oleh karena itu, di saat dia berbuat
- kebaikan, dia taat pada Allah, sungguh
- dia beruntung. Tapi di saat dia lupa
- kepada Allah, ingkar durhaka, itu yang
- perlu diwaspadai.
- Biasanya Allah berikan peringatan
- usahanya yang maju langsung mundur, yang
- terang menjadi sempit, yang terang
- menjadi gelap. Itu bukan karena Allah
- benci sama dia sayang diingatkan. Tapi
- kalau sudah tidak diingatkan, semakin
- jauh dari Allah, semakin wajib usahanya,
- ini orang yang diulur oleh Allah.
- Istidraj. Jadi kesimpulannya
- hakikat yang kedua yang mustahil.
- Hakikat yang yang mustahil. Nah, ini
- dengan sendirinya semua yang mustahil
- adanya yang mustahil terjadi kita harus
- betul-betul apa? harus memahami hal ini.
- Jangan kita beranggapan ya yang mustahil
- itu mungkin terjadi. Nah, sebagian orang
- mengatakan kita bisa beriman kepada
- surga dengan berbagai macam
- gambaran-gambarannya.
- Itu kan termasuk dalam hal yang
- mustahil. Siapa yang bilang mustahil?
- Mustahil bagi kamu.
- Kalau bagi Allah yang maha kuasa untuk
- menyediakan kamu yang lebih daripada
- itu, dia maha kuasa. Karena aranqu.
- Jadi jangan kamu anggap ini merupakan
- hakikat yang mustahil karena kamu tidak
- mampu melakukan.
- Iya.
- Karena bagi Allah Subhanahu wa taala itu
- merupakan hal yang mudah. Jadi jangan
- kamu mengatakan kami mengimani bahwa
- Tuhan terbagi tiga atau tiga tapi kami
- tidak memahami hakikatnya sebagaimana
- orang tidak memahami hakikat surga.
- Salah.
- Apa yang kamu imani hal yang mustahil.
- Hm.
- Sedangkan berkaitan dengan surga itu
- bukan hal yang mustahil. Hal yang
- bersifat mungkin. Ada, mungkin enggak
- ada. Kalau kehendaki ada, ada. Jadi,
- hakikat yang ketiga adalah alhaqkiatul
- mumkinah. Jadi, hakikat yang wajib ya
- itu Allah. Kemudian hakikat yang
- mustahil. Mustahil Allah subhanahu wa
- taala bersekutu. Mustahil Allah memiliki
- anak. Mustahil Allah subhanahu wa taala
- beristri. Kenapa? Bagaimana dia akan
- beristri?
- Bagaimana dia memiliki anak sedangkan
- dia tidak beristri? Bagaimana dia
- beristri sedangkan seluruh alam semesta
- miliknya.
- Anna lahu waladun walam takun lahu
- waqai. Bagaimana dia akan memiliki anak
- sedangkan dia enggak beristri? Padahal
- dia yang menciptakan segala sesuatu.
- Mana yang layak menjadi istri Allah
- Taala?
- Jadi logika yang Allah terangkan dalam
- Al-Qur'an luar biasa. Jadi kita diajak
- berpikir secara benar. Kita memahami
- keberadaan Allah merupakan satu hal yang
- wajib. Kalau tidak kamu tidak ada, alam
- semesta tidak akan ada. Memangnya kamu
- terjadi dengan sendirinya kan? Tidak.
- Ada yang menciptakan. Nah, pencipta kamu
- adalah Allah
- yang merupakan
- Tuhan yang maha sempurna, yang maha esa.
- Tiada sekutu baginya dan maha kuasa.
- Sedangkan yang kedua, hakikat yang
- mustahil. Ya, mustahil Allah beristri,
- beranak, ya, bersekutu. Yang ketiga,
- hakikat yang bersifat mungkin. Oleh
- karena itu ketika Allah berbicara
- mengenai surga dengan berbagai macam
- keajaibannya tidak masuk dalam kategori
- mustahil,
- tapi merupakan hal yang bisa terjadi
- tergantung Allah kalau Allah kehendaki.
- Dan sebagaimana dikabarkan dalam
- Al-Qur'an maka surga merupakan sesuatu
- yang wajib untuk kita imani. Ya,
- keberadaannya sebagaimana yang
- diterangkan Allah dan Allah akan jadikan
- sebagai balasan bagi orang-orang yang
- beriman dan taat kepada Allah Taala.
- Jadi sebetulnya memahami hal ini
- sederhana sekali. Cuma sayang manusia
- terjebak
- ketika dia membaca Al-Qur'an,
- mendengarkan ayat-ayat Allah Subhanahu
- wa taala, berbicara tentang Allah
- menggunakan bahasa kita. Karena yang
- diajak bicara kan kita manusia. Mereka
- lupa bahwasanya bahasa ini penuh
- keterbatasan. Tidak layak seluruhnya
- dinisbatkan kepada Allah. Maka yang
- tidak layak bagi Allah wajib kita
- bersihkan sebagaimana perintah Allah.
- Sabbihismaikal
- a. Langit dan bumi melakukan hal
- tersebut. Sabbaha lillahi ma fis
- samawati wa fil ard wahual azizul
- hakim. Maka subhanahu wa taala amma
- yasifun. Maha suci Allah dari segala apa
- yang mereka sifati itu mereka menyifati
- Allah dengan sifat-sifat yang ada pada
- makhluk.
- Wallahuam. Satu lagi.
- Baik Ustaz cukup komprehensif
- jawabannya. Ini pertanyaan dari Pak Nur
- Hadi. Sebetulnya juga ada kaitannya,
- Ustaz, ya, dengan wahyu dan akal, Ustaz,
- ya.
- Ini beberapa pertanya beberapa kali
- ditanyakan oleh Pak Hadi. Ustaz mohon
- penjelasan mengenai mukjizat terbelahnya
- bulan oleh Nabi Muhammad. Apakah
- memang real dan ada bukti ilmiahnya atau
- hanya kiasan dan apakah kita ya harus
- mengimaninya? Terima kasih.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Rbana zidna ilman waikna bihin. Dalam
- suratul qamar Allah berfirmanatuqal
- waar ayatanqu
- mustamir
- telah dekat saat-saat berakhirnya
- kehidupan dunia.
- Wqqal qarelah.
- Dalam menafsirkan ayat ini,
- kalau kita kembali kepada riwayat hadis
- yang terdapat dalam Sahih Bukhari,
- Muslim, Ahmad bin Hambal, sebagian lagi
- mengatakan mutawatir
- bahwa ini terjadi pada masa Nabi ketika
- orang-orang musyrik meminta kepada
- Rasulullah untuk membuktikan
- kebenarannya. Kalau dia betul seorang
- rasul,
- maka buktikan.
- Tunjukkan pada kami bahwa Allah kuasa
- untuk membelah bulan menjadi
- maka di mata kaum musyrikin pada saat
- tersebut bulan terbelah. Tapi ternyata
- sebagian besar dari mereka tak beriman.
- Jadi terbelah bulan telah dekat masa
- kiamat. Wyaqal qarbelah.
- Waar ayatan ybuquil.
- Walaupun mereka melihat bukti, ternyata
- mereka tetap berpaling
- dan mereka mengatakan ini merupakan
- sihir yang terus-menerus.
- Jadi kalau kita perhatikan dari ayat ini
- ya, kemudian riwayat yang diriwayatkan
- dari Bukhari, Muslim, Ahmad bin Hambbal
- dan lain-lainnya menunjukkan bahwa ini
- merupakan satu kejadian yang terjadi
- pada masa itu.
- Tapi ada lagi pendapat yang lain
- mengatakan bahwa akan terjadi
- pada saat kiamat sudah semakin dekat
- bulan terbelah.
- telah dekat saat kiamat qar Allah
- gunakan kata kerja dalam bentuk mabi
- atau past bukan menunjukkan sudah
- terjadi seperti apaamaun
- farat waal kawakibunarat
- begitu jugaamaunqqat
- di sini kita lihat Allah menggunakan
- kata kerja untuk masa yang lampau.
- Betul gak?
- Iya.
- bukan berarti sudah terjadi, tapi
- merupakan kejadian yang pasti. Allah
- gunakan kata kerja untuk masa yang
- lampau karena merupakan sesuatu yang
- telah yang akan terjadi secara pasti.
- Paham?
- Jadi kata kerja yang dipergunakan dalam
- bentuk
- mbi masa lampau.
- Lampau
- bukan berarti sudah terjadi tapi
- merupakan sesuatu
- yang pasti
- yang pasti terjadi seperti qadarat
- asaqad kan sudah
- h
- telah dekat kan.
- Jadi kalau kita perhatikan ya, bahwa
- berbagai macam keterangan Allah
- Subhanahu wa taala untuk masa yang
- lampau seperti dialog antara penghuni
- surga
- hmm
- dan penghuni api neraka
- neraka
- ya.
- Dialog antara Ashabul Arraf dengan
- penghuni surga dengan penghuni neraka.
- Kemudian dialog antara penghuni neraka
- dengan penghuni surga yang Allah
- ceritakan dalam suratul A'raf ini kan
- belum terjadi. H
- betul gak? Belum.
- bilangada ashabul jannati ashabanar
- penghuni surga bertanya kepada penghuni
- api neraka
- ini padahal belum terjadi tapi karena
- kejadiannya pasti bagi Allah yang lalu
- yang kini yang akan datang sama Allah
- gunakan kata kerja dalam bentuk pasten
- dalam bentuk
- lampau.
- Nah, begitu juga saat telah dekat saat
- kiamat wyaqqal qamar dan bulan terbelah.
- Arti pada saat kiamat semakin dekat ya
- di antara tanda-tandanya bulan terbelah.
- Ini dua pendapat.
- H
- satu mengatakan sudah terjadi
- sebagaimana dalam riwayat Bukharinya,
- dalam riwayat Muslimnya yang satu lagi
- mengatakan dia akan terjadi nanti pada
- saat kiamat semakin dekat sebagai tanda
- berakhirnya kehidupan dunia. Karena ada
- kata
- dengan sendirinya ini bukan merupakan
- ungkapan majazi ya, tapi ini merupakan
- kejadian baik yang sudah terjadi maupun
- akan terjadi. Kita mengimani hal ini.
- Nah, antara dua pendapat ini jangan
- sampai kita berkelahir ribut, tidak ada
- karuan. Mendingan kita kerjakan hal-hal
- yang positif yang kembali manfaatnya
- untuk umat. Jangan habis waktu kita
- sekarang di saat hutan digunduli,
- ditebangi,
- terjadi bahaya longsor, korban begitu
- banyak. Kita masih habis waktu kita
- untuk bicara hal-hal yang apa? Sifatnya
- khilafi. Ini betul-betul merupakan apa?
- Merupakan orang yang hidup bukan pada
- zamannya.
- Heeh.
- Alangkah indahnya kalau kita
- bersama-sama berkampanye untuk menjaga
- hutan lindung kita agar menjaga suhu
- kita stabil, menjaga keindahan alam
- kita, fauna kita, flora kita. Betul gak?
- Nah,
- menjaga juga air kita agar tidak
- tercemar. Karena ini kebutuhan vital.
- Menolong orang-orang yang menjadi
- korban. Tunjukkan mana rahmatan lil
- alamin yang dibawa Nabi kita Muhammad
- sallallahu alaihi wasallam. Jangan ribut
- baca Yasin malam Jumat bidah.
- Baca ini Alkahfi bidah. Ya, ini semuanya
- menghabiskan waktu membuat hati menjadi
- kering. Jadi alangkah indahnya kita
- bicara hal-hal yang betul-betul
- bermanfaat untuk umat
- produktif. Sedangkan apa-apa yang
- bersifat ee katakan yang bersifat pasti
- yang diajarkan Allah Subhanahu wa taala
- yang merupakan syariat yang ditetapkan,
- kita wajib mengatakan sami'na wahan.
- Adapun yang kembali kepada ijtihad dan
- perbedaan pendapat dengan sendirinya
- kita saling menghargai satu dengan
- lainnya. Nah, berkaitan dengan ayat
- tadi, dua golongan tidak mengingkari
- terjadinya apa? Terjadinya bulan yang
- akan terbelah. Cuma yang satu mengatakan
- sudah terjadi. He.
- Yang satu lagi mengatakan dia akan
- terjadi.
- Arti dua-duanya mengimani kejadian
- tersebut. Nah, kita doakan mudah-mudahan
- rahmat Allah limpahkan pada kita dan
- Allah jauhkan kita dari azab dan
- murkanya.
- Jauhkan kita dari badai yang
- menghancurkan dari gempa buminya, dari
- banjirnya. Begitu juga Allah lindungi
- saudara-saudara kita. Dan mudah-mudahan
- mereka yang mengalami cobaan, Allah
- Subhanahu wa taala ampuni dosa mereka,
- angkat derajat mereka.
- Amin. Amin.
- Kemudian juga Allah mudahkan rezeki
- mereka dan gantikan yang hilang
- dengannya lebih baik. Dan pelajaran
- kejadian ini pasti ada kesalahan yang
- dilakukan. Saya dengar di Sibolga di
- antaranya seorang pemuda bernama Arjuna
- yang kemalaman bermalam di masjid
- tahu-tahu ternyata dipukuli hingga
- binasa. Satu nyawa binasa tanpa dosa
- lebih dahsyat daripada kita
- menghancurkan Ka'bah.
- Jadi jangan kita menganggap sepele
- perbuatan ini. Belum lagi penggundulan
- hutan yang dilakukan oleh orang yang
- berwenang dan berkolaborasi dengan
- kalangan oligarki. Ini merupakan
- penjahat-penjahat
- yang harus dilenyapkan dan bangsa kita
- harus bersikap tegas. Karena kekayaan
- yang terdapat di bumi Pertiwi ini sesuai
- dengan Undang-Undang Dasar pasal 33 ayat
- 3 itu dikuasakan ke negara untuk
- didistribusikan, dimanfaatkan demi
- kepentingan rakyat, bukan oligarki. Itu
- sudah jelas-jelaskan menyalahi Undang
- Dasar kan.
- Seharusnya mereka dicopot ya digantikan
- dengan lain orang-orang yang patut yang
- mampu untuk menjaga amanat Allah dan
- melaksanakan juga amanat rakyat.
- Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa taala
- berikan hidayahnya kepada kita semua.
- Amin. Amin.
- Dan kita sebagai ulama, sebagai ustaz,
- katakanlah bukan ulama, sebagai
- orang-orang yang menuntut ilmu, wajib
- untuk menyampaikan amanat Allah. Kalau
- tidak sebelum penyembah berhala, kita
- yang pertama-tama akan dijerumuskan
- dalam azab api neraka.
- Demikianlah ikhwan akhwat yang dirahmati
- Allah. Mohon maaf kalau ada kekurangan
- atau hal-hal yang kurang jelas. Semoga
- apa yang baik ya Allah Subhanahu wa
- taala jadikan manfaat bagi kita sebagai
- bekal hidup kita yang menambah keyakinan
- kita kepada Allah Subhanahu wa taala.
- Menjauhkan kesalahpahaman dalam memahami
- agama Allah. Kalau ada kekurangan semoga
- Allah ampuni dan sempurnakan hidayahnya
- untuk kita semua. Subhanakallahumma
- wabihamdik ashadu alla ilahailla anta
- astagfiruka wa atubu ilaik walu minkum.
- Wasalamualaikum warahmatullah.
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Demikianlah, ikhwan akhwat
- yang dirahmati Allah, renungan di bawah
- naungan Al-Qur'an bersama guru kita
- Ustaz Husein Alatas tadi menjelaskan
- mengenai hubungan wahyu dan akal.
- Seperti yang disampaikan Ustaz Husein
- juga di akhir, semoga ini menambah
- keimanan kita dan menjauhkan kita dari
- hal-hal yang justru menjauhkan keimanan
- kita. Ihan awat. Akhirnya saya Rizal
- haqq dan juga Kang Algi dan Kang Odiri.
- Billahi taufik walhidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuhikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.