Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Alhamdulillahiabbil alamin.
- Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad
- wa ala ali sayyidina Muhammad. Ikhwan
- dan akhwat yang dirahmati Allah
- subhanahu wa taala. Para pendengar rasil
- yang dirahmati Allah. Alhamdulillah kami
- hadir di ruang dengar Ikhwan dan Akhwat
- dengan seperti biasa Jumat siang fikih
- wanita bersama guru kita Ustazah Herlini
- Amran. Mari kita sapa terlebih dahulu.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh Ustazah.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Alhamdulillah bahagia sekali bisa
- dipertemukan kali ya. Ustazah apa kabar
- Ustazah?
- Alhamdulillah luar biasa. Tetap
- semangat. Allahu Akbar. Masyaallah sehat
- Mbak Olin ya semuanya.
- R semua sehat ya.
- Insyaallah. Insyaallah. Dan kami
- berharap juga yang mendengarkan pada
- siang hari ini diberikan kesehatan,
- kemudahan, dan yang saat ini diberikan
- ujian dilimpahkan kesabaran. Baik,
- alhamdulillah Iwan dan akhwat sudah
- dipersiapkan Ustazah tema kita pada
- siang hari ini yang akan membahas bulan
- Rajab yang saat ini sedang kita jalani
- yaitu amal unggulan di bulan Rajab.
- Tafadal Ustazah.
- Ya, jazakillah Mbak Olin semua.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillah.
- Alhamdulillahilladziasahnaw.
- Yaana lakal hamdu bil iman. Yaana lakal
- hamdu bil islam. Ya rabbana lakal hamdu
- bil quran. Lakal hamdu bil mali wal ahli
- wal muafah.
- Allahumma shi wasallim wabarik alaidina
- Muhammadin waa alihi wa ashabihi ajmain
- w allahumma bariklana fi Rajab wa s'ban
- wabalighna Ramadan. Semoga Allah
- memberkahi kita semua di bulan Rajab,
- memberkahi kita semua di bulan Syakban,
- dan mudah-mudahan Allah menyampaikan
- kita, menghantarkan kita sampai ke bulan
- suci Ramadan dalam keadaan sehat
- walafiat dan mampu beribadah di
- dalamnya. Insyaallah yang sedang sakit
- semoga Allah berikan kesembuhan. yang
- sedang berada dalam keadaan barangkali
- diuji Allah dengan ujian cobaan musibah.
- Semoga Allah angkat ujian cobaan
- musibahnya. Allah ganti yang lebih baik
- lagi. Insyaallah semoga doa-doa dan ee
- hajat-hajat saudara-saudara kita semua
- semoga dikabulkan Allah. Amin ya rabbal
- alamin. Bersaudara kita semua ya. Semoga
- Allah kebahagiaan, kesejahteraan,
- kemudahan dalam meniti langkah menuju
- rida Allah. Amin ya rabbal alamin.
- Ee kita tahu sekarang ini di bulan
- Muharam ya, sebagaimana firman Allah
- dalam surah at-Taubah ayat ke-36.
- Inna iddatuhuriallahnaasar
- syahron fi kitabillah.
- bahwa Allah telah ee mencipta ya
- sesungguhnya jumlah bulan Allah telah
- menciptakan menentukan ya bahwa bulan
- itu ada 12 dalam setiap tahun. Sejak
- kapan Allah menentukannya? Yauma khalaq
- samawati wal ard sejak Allah menciptakan
- langit dan bumi. Nah, khususiat ada 4
- bulan. Waminha arbaatun hurum. Jadi
- sejak penetapan
- bahwa jumlah bulan ada 12 itu Allah
- telah takdirkan tetapkan hanya 4 bulan
- yang dinamakan bulan haram. Bulan yang
- dimuliakan, bulan yang diagungkan. Jadi
- sudah sejak lama ya. Nah, ini yang ingin
- kita bahas di pada tema kita kali ini
- adalah amal unggulan di bulan Rajab.
- Karena Rajab ini termasuk salah satu
- dari bulan yang diharamkan bulan-bulan
- hurum. Asyharul hurum itu adalah Rajab
- termasuk ya. Jadi kita ee kesempatan
- kali ini membahas tentang ee bulan-bulan
- haram yaitu Rajab. Karena dalam ayat ini
- langsung Allah pakai langsung sambung
- fala maka itu
- eh langsung dijelaskan di situ dalam
- khususiat 4 bulan ini. Fala tadlimu
- fihinna anfusakum
- fa langsung tuh ya maksudnya tuh kalau
- sudah Allah tetapkan ada 4 bulan haram
- dalam setiap bulan gitu. Kita enggak
- bicara bulan Muharam itu tentu istimewa
- ya. Kita enggak bahas itu. Kita bahas
- bulan haram. Maka di sini Allah telah
- tetapkan, Allah telah tentukan, Allah
- telah berikan kita kewaspadaan. Fala
- tadlimu fihinna anfusakum. Jangan kamu
- atau jangan kalian menzalimi diri kalian
- sendiri. Nah, pembahasan kita ini memang
- kalau masalah zalim itu kan luas ya.
- Kita lebih ee menekankannya kepada tidak
- zalim kepada keluarga gitu ya. Nah,
- pembahasan tentang zalim ini larangan
- Allah.
- Jangan kalian zalim. Nah, karena memang
- bulan ini, bulan haram ini telah
- ditetapkan sejak lama ya, bahkan sebelum
- Rasulullah diutus menjadi nabi,
- orang-orang Arab ee kafir Quraisy,
- orang-orang di zaman jahiliyah dulu itu
- sangat memuliakan bulan-bulan haram ini
- ya. Mereka tuh kalau datang bulan haram
- itu orang-orang penjahat tuh keluar
- rumah semuanya. Enggak takut dia yang
- pembunuh, yang kriminal itu ya keluar
- rumah enggak takut. Kenapa? Mereka tahu
- bahwa di bulan haram tuh enggak boleh
- membunuh. Jadi aman mereka gu ya keluar
- rumah pokoknya mereka aman enggak
- diapa-apain. Nah, orang-orang jahil,
- orang kafir aja sampai mengagungkan ya
- bulan haram mestinya kita lebih lagi.
- Tapi itu bukan berarti kita tidak zalim,
- tidak ee melakukan kezaliman di bulan
- haram, tapi di bulan lain boleh enggak?
- maksudnya tuh justru dosanya tuh
- berlipat-lipat kalau kita ee melakukan
- perbuatan kezaliman itu di dalam ee 4
- bulan haram ini ya. Di bulan lain juga
- enggak boleh ya, apalagi di bulan haram.
- Nah, sebaliknya ketika kita melakukan
- perbuatan-perbuatan amal saleh, ketaatan
- itu juga pahalanya berlipat. Jadi, Mbak
- Olin kita mengadakan acara ini ya karena
- Allah tentu saja ya najelis bina mukmin
- saah kita duduk sejenak beriman sesaat
- karena Allah insyaallah tuh pahalanya
- berlipat dibandingkan kita di
- bulan-bulan lain ya
- yang dengar duduk itu ya itu beda di
- bulan haram ini luar biasa pahalanya ya
- maka ee tema kita yang kita khususkan
- itu adalah tidak zalim. Jadi kezaliman
- itu adalah perbuatan yang pastinya
- dihindarkan. Jadi meninggalkan kezaliman
- itu adalah amal unggulan di bulan Rajab
- ya. Karena di sini kan fala tadlim itu
- kan artinya eh watai ghair mahali itu
- yang meletak watai itu meletakkan
- sesuatu tidak pada tempatnya ya. Eh
- lawannya itu kan ee adil ya. Ya wat fi
- mahallihi. Jadi yang namanya zalim itu
- adalah tidak menempatkan sesuatu sesuai
- dengan peruntukannya.
- Ya. Jadi kalau misalnya kita diciptakan
- Allah ee lisan, panca indra, mata,
- telinga, itu harus disesuaikan dengan
- tujuan penciptaan. Karena kita di dunia
- ini kan diciptakan Allah untuk
- beribadah, maka fungsi kita sebagai
- manusia itu harus difungsikan sebagai
- hamba Allah yang beribadah kepadanya.
- Enggak boleh untuk yang yang lain-lain
- ya. Kalau misalnya kita katakan ee
- apa namanya? Ee contoh ya, Mbak. Kalau
- yang tidak pada tempatnya kita kalau
- pispot itu kan tahu ya, Mbak ya, untuk
- orang buang air kecil enggak bisa ke
- kamar mandi ya.
- Iya.
- Iya. Tempat penampungan pispot ya.
- Itu kan buat menampung kotoran ya karena
- orang sakit. Kira-kira kalau pispot itu
- untuk naruh makanan nasi apa gimana?
- Dihidangkan kan modelnya kayak tempat
- nasi ya. E terus kita isi nasi di situ
- dihidangkan di makan. Waduh itu kan
- tidak pada tempat itu namanya zalim.
- Jadi zalim itu adalah menempatkan
- sesuatu tidak pada tempatnya. Nah dalam
- hal ini para ulama itu menjelaskan lebih
- detail lagi ya bahwa macam-macam
- kezaliman itu ada tiga. Nah kita kan
- nanti fokusnya kezaliman terhadap
- keluarga yang harus dihindarkan ya. Nah,
- secara umum ee kita sedikit singgung ya,
- kezaliman pada Allah itu dihindari. Jadi
- zalim terhadap hak Allah ya. Zalim pada
- hak Allah maksudnya kezaliman terhadap
- Allah atau terhadap ee hak Allah itu
- dosa yang tidak diampuni itu jangan
- sampai pernah dilakukan kapanpun.
- Apalagi di bulan haram ini, di bulan
- Rajab itu akan berlipat-lipat dosanya.
- Apa sih maksudnya? Enggak boleh zalim ee
- terhadap hak Allah. misalnya syirik, ri
- atau tidak ber ee mengakui kekuasaan
- Allah itu kan namanya juga ee zalim.
- Innirkaulmunim.
- Syirik itu adalah kezaliman yang azim
- yang sangat besar. Nah, itu sudah jelas
- ya. Itu ee tidak diampuni. Ya,
- insyaallah kita kita enggak bahas itu
- lebih detail ya. Tapi paling tidak
- hati-hati aja jangan sampai ucapan kita
- itu masuk kepada wilayah zalim terhadap
- ee Allah. ee pada hak Allah yang
- mestinya kita beriman kepada Allah itu
- kan semuanya masuk dalam ruang lingkup
- rukun iman ya. Kalau makrifatullah itu
- kan pengenalan terhadap Allah itu kan
- rukun iman. Nah, salah satu dari rukun
- iman itu kita langgar itu termasuk zalim
- pada hak Allah. Zalim terhadap Allah itu
- dosanya tuh ya besar. Itu ria aja
- termasuk syirik kecil ya. RI itu kan
- kita beramal bukan karena Allah ya.
- Padahal kayak kayak orang kayak ya benar
- gitu beramal, tapi niatnya karena orang.
- Itu aja sudah jelas syirik kecil ya.
- Nah, apalagi ucapan-ucapan misalnya
- ee tidak mengakui atau mungkin secara
- tidak ee mungkin enggak ada ilmunya atau
- enggak sadar ya ucapan itu menjadi
- cenderung kepada ucapan zalim. Misalnya
- menggugat kemahailan Allah, keha kasih
- sayang Allah atau ee yang terkait dengan
- Asmaul Husna. terus dihujat misalnya
- ucapan-ucapan bagi orang-orang yang
- mungkin mendapatkan ujian terus ee dia
- langsung mengeluh kemudian mengatakan
- Allah enggak adil ya kenapa sih Allah
- terhadapku begini Allah tuh enggak
- sayang kali samak nah kayak begini nih
- ini kan perkataan-perkataan yang
- meragukan kemahaadilan Allah ya atau
- misalnya takdir Allah yang diingkari
- misalnya ya aku juga enggak minta
- dilahirkan di dunia aku kan juga enggak
- mau lahir siapa yang suruh aku
- melahirkan aku mungkin Mungkin kalau
- anak berantem orang tuanya gitu ya itu
- hati-hati itu kata-kata yang zalim gitu
- ya. Jadi itu kita enggak bahas itu deh.
- Itu tuh kan hak Allah kezaliman terhadap
- Allah yaitu ee tidak diampuni kecuali
- tobat. Nah, yang kedua itu berbuat zalim
- kepada hamba Allah. Ya, berbuat zalim
- kepada hamba Allah ini tentu saja ee
- masuk dalam ruang lingkup zalim terhadap
- keluarga kan itu orang lain ya. Nah, ee
- memang terkait juga dengan kezaliman
- terhadap ee diri sendiri ya. Kalau
- kezaliman ee terhadap diri sendiri itu
- yang terkait dengan harga diri
- kita diri kit gitu ya. ini ee zalim
- terhadap keluar ee orang lain ya,
- terhadap manusia, terhadap keluarga itu
- nan akan bahas sedikit kalau kezaliman
- terhadap diri, harga diri yaitu ee lebih
- kepada ini Mbak, perintah Allah
- dilanggar, larangan Allah dikerjakan.
- Nah, itu kan berarti kita kan berdosa.
- Nah, itu maksudnya selama kaitannya
- dengan perbuatan kita yang melanggar ee
- larangan Allah ya. Larangan Allah
- dikerjakan, perintah Allah tidak
- dikerjakan misalnya ya, kita kewajiban
- salat enggak salat, kewajiban menutup
- aurat kita enggak nutup aurat. Itu zalim
- terhadap diri sendiri. Nah, itu gak
- dibenarkan. Kenapa? Karena kita telah
- menzalimi diri yang menyebabkan kita
- enggak mau mengerjakan perintah
- ketaatan. menyebabkan kita nyemplung ke
- neraka. Nah, kan berarti kita
- menyia-nyakan diri kita, menganiaya diri
- kita. Kita zalim terhadap diri kita. Itu
- maksudnya ya. Yang akan kita bahas itu
- nanti zalim terhadap orang lain ya atau
- keluarga ya. Nah, zalim terhadap diri
- sendiri ini yang terkait dengan anggota
- tubuh kita ya. Ee misalnya mata
- digunakan untuk apa? Melihat. Melihat
- apa? Melihat hal-hal yang menambah rasa
- syukur kita. ee menambah ee paling tidak
- untuk mengarahkan perbuatan baik kita
- untuk sesuai dengan tujuan penciptaan
- kita itu beribadah. Itu kan mata ya
- fungsinya. Tapi mata digunakan untuk
- hal-hal yang
- ee menjalankan larangan Allah. Kan Allah
- melarang misalnya memandang hal-hal yang
- ee apa yang tidak layak layak dipandang
- ya mungkin aurat orang atau apalah terus
- dilihat juga dipeloti. Nah, itu tuh
- berarti kita zalim terhadap diri kita.
- kezaliman kita dilakukan oleh mata kita
- atau mungkin telinga kita mendengarkan
- perkataan-perkataan gibah itu ya itu kan
- zalim terhadap diri sendiri. Nah, cuman
- memang hukumnya kalau kok zalim
- berkaitan dengan diri kita ya itu memang
- ee ringan ya artinya ee zalim terhadap
- diri kita itu tidak seberat zalim
- terhadap Allah atau zalim terhadap orang
- lain ya. Maksudnya apa? maksudnya
- berbuat zalim terhadap diri sendiri itu
- ee kezaliman yang
- Allah itu
- memaafkan. Jadi maksiat itu ee orang
- yang ber
- maksiat kepada Allah itu Allah ampunkan.
- Jadi asal hukum Allah itu kan mengampuni
- ya. Nah, ketika dia bertobat kepada
- Allah, kembali kepada Allah, dia itu
- ampuni. Sebesar apapun pelanggaran yang
- dia lakukan itu Allah maha pengampun.
- Ya, itu kan urusan dia dengan Allah.
- Allah itu kan maha pengampun. Jadi,
- hukum asal tuh Allah maha mengampuni.
- Tapi jangan memudah-mudahkan juga ya.
- Udah, udahlah Allah kan maha pengampun.
- Zina aja deh nanti tobat. Enggak begitu
- juga ya. Nah, cuman kadang-kadang kita
- itu menganggap dosa yang sebenarnya
- menzalimi diri sendiri itu dianggap
- kayaknya besar gitu ya di mata manusia.
- Padahal di sisi Allah tuh enggak enggak
- besar. Itu ringan, mudah kalau dia
- bertobat dan Allah maha pengampun. Tapi
- di sisi manusia kan kayaknya tuh besar
- banget ya. Jadi contohnya antara
- perbandingan
- berzina dengan bergibah.
- Nah, kalau wilayah bergibah ini masuk
- kepada wilayah kezaliman ee yang
- menyangkut kepada orang lain, kezaliman
- terhadap orang lain ya, kezaliman ee
- yang terkait dengan ee orang lain. Jadi
- kalau kezaliman terhadap hamba Allah
- orang lain itu itu kan ada yang terkait
- dengan harta, darah gitu ya atau ee
- harga diri gitu ya. Itu kan kezaliman
- terhadap orang lain. Kalau berkaitan
- dengan harta tuh misalnya membunuhnya
- itu tuh kan apa? Darah ya. Maksud darah
- tuh membunuhnya itu tuh hati-hati tuh
- itu zalim terhadap itu akan dituntut
- nanti di yaumil akhir ya. Ee gara-gara
- apa? Membunuh tanpa hak gitu ya. Atau
- berkaitan dengan harta ya. Misalnya dia
- ee memakan harta ee orang lain,
- saudaranya memakan harta anak yatim, dia
- menipu, korupsi, itu tuh zalim tuh besar
- itu. Jadi kalau yang terkait dosa zalim
- terhadap manusia itu Allah tidak akan
- ampuni dosanya sampai manusia itu
- memaafkan. Tapi yang tadi yang ee
- menzalimi diri sendiri tadi ya, yang
- tidak menjalankan perintah Allah,
- melanggar larangannya itu dia dengan
- Allah urusannya.
- Insyaa kalau Allah mau Allah ampuni.
- Kalau Allah ya itu semua tergantung
- Allah. Yagfiru lima yasya. Itu kan Allah
- mengampuni siapapun yang dikehendakinya.
- Itu urusannya dengan Allah dan hukum
- asalnya Allah itu pengampun. Allah tuh
- rauf rahim. Ya. Tapi kalau yang terkait
- kezaliman terhadap manusia tunggu dulu.
- Walaupun sebenarnya remeh-temeh bagi
- kita, tapi di sisi Allah tuh berat loh.
- Makanya sampai turun surah Al-Hujurat
- larangan di ayat 11 dan 12 itu terkait
- dengan zuhriah alamzu ya. Enggak boleh
- mencela, enggak boleh bergunjing, enggak
- boleh mengolok-olok, enggak boleh
- memfitnah, enggak boleh menjatuhkan
- harga diri, harkat martabat, ya enggak
- boleh ee mencari-cari kesalahan. Itu tuh
- berat. Apalagi di ayat 11-nya itu ya,
- kalau enggak bertobat faulaika humalim
- zalim disebut. Kalau enggak tobat
- berarti dia zalim. Nah, itu ya. Jadi ee
- berat kalau kezaliman itu dilakukan
- terhadap manusia, terhadap orang lain.
- Ya, kalau terhadap zalim, terhadap diri
- ya itu kalau kita tobat nasuha, Allah
- maha pengampun. Tapi dengan orang lain
- enggak. Ya Allah. Itu berat ya. Berat
- itu ya. Ini kan kaitannya dengan ee
- manusia ya. Nah, jadi ee sekarang
- kita
- masuk ke ke dalam tema kita ya. Dan
- zalim itu tadi kita sudah sebutkan ee
- zalim terhadap Allah ya itu ee apanya
- dosa besar ya. Kemudian zalim terhadap
- diri sendiri gitu ya itu ee zalim
- terhadap diri sendiri itu kalau Allah
- mau mengampuni Allah ampuni. Kalau kita
- betul-betul bertobat nasuha. Tapi kalau
- zalim terhadap manusia itu Allah tidak
- akan ampuni sampai manusia itu
- memaafkan. Nah, ini ya. Nah, sekarang
- kita masuk ke tema zalim terhadap
- keluarga. Masyaallah ya. Jadi memang ee
- zalim terhadap keluarga ini
- kadang-kadang tanpa disadari ya ataupun
- disadari ya itu dilakukan oleh manusia
- ya selama memang ee tidak memiliki ilmu
- iman dan ketakwaan ya. Zalim terhadap ee
- keluarga itu seperti apa sih ya tadi
- tidak menempatkan sesuatu pada
- tempatnya. Misal
- zalim ee suami terhadap istri ya. Zalim
- suami terhadap istri itu maksudnya apa?
- Ketika seorang laki-laki dalam keluarga
- itu Allah berikan dia kewajiban sebagai
- qawam qiwamah ya sebagai seorang apa? Ee
- pemimpin keluarga ya. Qiwamah ya. Dia
- itu memiliki kewajiban. Jadi ee kebaikan
- seorang suami dalam menafkahi itu bukan
- untuk menyenangkan keluarga, itu adalah
- amanah. Jadi kepemimpinan dalam rumah
- tangga itu adalah amanah dan tanggung
- jawab kepada keluarga. Itu mencakup
- semua ya. Penyediaan kebutuhan hidup
- berupa makanan, tempat tinggal, pakaian,
- pendidikan. Artinya bagaimana membentuk
- generasi itu tuh tanggung jawabnya di
- hadapan Allah tuh ya para suami di sini.
- Jadi ee ketika dia tidak menjalankan
- tanggung jawabnya maka dia zalim.
- Masyaallah. Oh, kalau gitu banyak dong
- sekarang para suami zalim-zalim ya yang
- tidak menafkahi ya. Ya. Iya. Kalau
- memang dia tidak menafkah apalagi secara
- sengaja dia
- meletakkan tanggung jawabnya gitu.
- Apalagi dia memang sengaja dengan ee
- alasan ya kan istrinya kan mampu ya
- enggak perlu lagilah dinafkahi. Itu
- salah ya enggak benar.
- semampu se apapun kekayaan istri,
- kewajiban suami itu tetap ee sebagai ee
- apa namanya? ee memberikan hak itu
- wajib. Kecuali kalau memang istrinya
- rida. Nah, itu dia masalnya rida enggak
- istrinya. Jadi, sekali lagi ini ee
- bagian dari kezaliman suami ketika dia
- tidak bertanggung jawab, tidak ee
- memenuhi kewajibannya yang telah
- diamanahkan Allah kepadanya, termasuk
- anak-anak. Nah, apalagi kalau kita lihat
- ya, Mbak ya, betapa seorang bapak ketika
- dia sudah memiliki rumah tangga yang
- lain gitu ya. Ya, mungkin takdir dengan
- istri ee pertamanya hanya sekian tahun
- gitu ya, punya anak-anak justru dia
- nikah lagi. Ya, kita lihat bagaimana
- ayah itu tidak pernah mantan jadi
- mantan. Yang jadi mantan itu pasangan
- ya. Suami istri itu bisa jadi mantan.
- yang tidak bisa jadi mantan itu antara
- orang tua dengan anak atau dengan ya
- dengan ee kakak adik itu enggak ada
- mantan-mantanan ya. Yang mantan tu tuh
- yang yang suami istri. Nah, ketika
- seorang suami, seorang laki-laki dia
- membentuk rumah tangga baru dan dia
- tidak bertanggung jawab, tidak menafkahi
- anak loh ya, bukan mantan istri. Mantan
- istri itu enggak wajib lagi dinafkahi
- ya. Tapi yang namanya anak sampai kapan
- pun tetap anak. Dan kewajiban ayah itu
- tetap menafkahi. Kalau yang laki-laki
- sampai dia mapan gitu ya, perempuan
- sampai dia menikah. Nah, ketika dia
- hilang menghilang begitu aja terlantar
- ya itu zalim itu ya Allah. Bagaimana
- pertanggung pertanggungjawaban orang
- yang zalim di hadapan Allah tuh besar
- banget ya. Maka sekali lagi ee di bulan
- haram ini, bulan Rajab ini, seseorang
- yang ee melakukan kezaliman itu dosanya
- berlipat ya. dosanya berlipat. Nah, itu
- ya itu di antaranya contohnya seperti
- itu ya. Tidak menafkahi atau misalnya
- zalimnya suami terhadap istri misalnya
- menyakiti dengan ucapan-ucapan yang
- menyinggung perasaan, bentakan misalnya
- ya, hinaan atau ancaman apalagi sampai
- terjadi kekerasan fisik itu zalim ya.
- Padahal Allah dalam Al-Qur'an kan
- mengatakan waasyiruhunna bil ma'ruf.
- Pergaulilah ee istri-istri itu dengan
- cara yang makruf. Makruf itu artinya
- yang patut, yang dikenal. Jadi orang
- tahu itu tuh memang patut. Nah, kalau
- ada orang misalnya melihat suami
- bentak-bentak istrinya tuh kayaknya
- orang mendengarnya kayaknya enggak
- pantes deh, kayaknya terlalu kasar. Nah,
- itu namanya zalim ya. Makanya Rasulullah
- mengatakan, "Kirukum khairukum liahli wa
- khairukum liahli." Sebaik-baik kalian
- itu adalah yang paling baik dari ee
- kepada keluarganya dan aku yang paling
- baik kepada keluargaku. Masyaallah ya.
- Rasulullah tu kan dari dari Arab. Orang
- Arab tuh kan kalau kita kenal ya secara
- uruf ya, kasar-kasar ya kalau ngomongnya
- ya. Waduh bentak-bentak gitu ya. Tapi
- tidak Rasulullah subhanallah lembut
- mungkin lebih lembut daripada orang
- Timur kali ya. Yang orang Jawa orang
- mana ya? Lembut menjaga perasaan.
- Masyaallah. R. Jadi contohnya ya karena
- Rasul itu adalah teladan kita ya. Nah,
- jadi sekali lagi bahwa perlakuan suami
- kepada istri dengan cara-cara ee yang
- tidak baik itu adalah zalim ya. Jadi
- tidak melakukan atau melaksanakan
- kewajiban sebagaimana yang telah
- diwajibkan ya ee menelantarkannya
- ya. Kemudian bahkan ada ya dalam hadis
- kafa bilman
- itu
- ya cukuplah seorang dianggap berdosa
- jika dia menyanyiakan orang yang menjadi
- tanggung jawabnya ya ditinggalkan,
- dipelantarkan, tidak dipedulikan itu
- zalim ya. Atau misalnya menguasai dan
- menekan istri secara berlebihan.
- Pokoknya benar-benar istri itu merasa
- gimana gitu ya. ee
- tertekan dinafkahi enggak, diceraikan
- juga enggak misalnya ya atau apalah yang
- menyebabkan tidak nyaman itu zalim.
- Zalim hati-hati ya. Dakwatul mazlum itu
- makbul gitu ya. Doanya orang dizalimi
- itu makbul. Jadi ada tiga doa yang tidak
- pernah di ee apa disia-siakan mustajab
- hati-hati ya. Itu di antaranya adalah
- dakwatul maum ya. Dakwatul imam adil ya.
- E doa imam yang yang adil makbul.
- dakwatul maum tuh makbul dakwah ee terus
- kemudian doa orang yang eeim hatta
- yuftir ya dia berpuasa sampai berbuka.
- Nah, jadi orang yang dizalimi hati-hati
- ketika dia sudah enggak sanggup lagi
- udah menyerahkannya kepada Allah
- hati-hati tuh bahaya tuh dunia
- akhiratnya. Karena orang yang zalim itu
- dikasih DP dulu di dunia sebelum di
- akhirat. Masyaallah. Kan jangankan gitu
- ya, ee hal sepele aja.
- H sepele. Jadi ada kisah Mbak
- ee
- ketika itu apa namanya? Ee zalim itu kan
- banyak ya dengan ucapan dengan segala
- macam ya. Jadi ada kisah seorang ulama
- tuh dia berhutang akhirnya dipenjara dia
- ya ulama juga berhutang. Dulu kan ulama
- juga pengusaha juga kan ya. Enggak kayak
- sekarang ya punyahasus ya. Dia juga dulu
- ee usaha. Nah karena namanya nama usaha
- pasti dong ada ruginya. terus berhutang
- terus enggak mampu karena mungkin ee apa
- kerugian kan namanya orang usaha tuh kan
- bisa jadi kesalahan tuh tidak dari ee
- apa ya ditipu orang tapi bisa jadi
- karena kerugian hal lain ya misalnya
- dulu ada ulama beli apa ee bukan beli
- yang ngutang ee minyak samin ee minyak
- samin itu banyak gitu ya karena dia
- grosiran eh enggak tahunya malamnya
- kemasukan tikus gitu ya kemasukan tikus
- itu akhirnya ya kan sudah najis ya. Nah,
- dia kan dengan seorang ulama alim ya,
- dia enggak bisa jual itu akhirnya kan
- dibuang. Nah, artinya apa? Dia kan harus
- gantiin tuh kan. Nah, akhirnya kan
- dipenjara. Nah, ya di penjara ya. Nah,
- dia kita nih bagus juga ngikutin sesuatu
- yang baik ya. Ulama ini ketika dia
- dipenjara dia muhasabah. Ini catatan
- setiap musibah ujian cobaan yang menimpa
- kita
- itu jangan salahkan orang lain dulu.
- Kita intropeksi dulu deh, muhasabah
- dulu. Bisa jadi apa yang kita lakukan
- saat ini adalah ee artinya memang
- penghapus dosa kita atas dosa-dosa kita
- yang dulu yang pernah kita lakukan. Jadi
- muhasabah ya. Jadi sebelum menyalahkan
- orang lain kita intropeksi dulu,
- salahkan diri dulu. Nah ulama ini dia
- intropeksi dia mau sabah apa ya dosaku
- gitu ya. ee sehingga aku diberikan ujian
- seperti ini. Akhirnya ketemu sayaah dia
- pikir apa itu pun sudah lama
- bertahun-tahun yang lalu waktu masih
- menjadi pemuda dulu ya dia pernah
- keceplosan itu ngomong kepada orang yang
- berhutang ya garim gitu ya. Ya artinya
- mungkin ada orang kalau ngomongin
- mungkin lewat hati ya mencela kali ya
- mencela gitu ya eh ee orang yang
- berhutang gitu. Nah ternyata Allah
- balas. Jadi Allah memberikan balasan
- seperti apa yang dirasakan orang itu dia
- rasakan. Nah, artinya itu balasan ya.
- Nah, jadi artinya
- hati-hati dengan mungkin dia merasa kok
- kayaknya ada orang yang merasa terzalimi
- dengan kata-kata yang nyelekit, sakit.
- Nah, itu hati-hati kalau dia merasa
- terzalimi, dia doa kepada Allah makbul
- loh. Ya, jadi sekali lagi bahwa ee dosa
- zalim kepada keluarga ini kan kita
- khusus keluarga itu hati-hati ya. Betapa
- banyak ya Allah balas di dunia ini.
- Makanya Mbak pernah saya mendengarkan
- hasil survei kali ya, seorang pengelola
- panti jompo,
- rumah panti jompo ya. yang ternyata yang
- paling banyak masuk ke rumah panti jompo
- itu adalah laki-laki yang sudah tua ya
- ee sudah tua laki-laki tua, bapak-bapak
- tua ya, kakek-kakek tua yang banyak di
- ee rawat di panti jompo. Nah, terus dia
- hasil kajian beliau ini mengatakan
- setelah dipelajari riwayat hidupnya, oh
- ternyata dia dulu pernah menelantarkan
- keluarganya yang pertama dari istri
- pertama ya. dia kan dia dia telantarkan
- mungkin dia cerai atau apalah dengan
- anak dia kawin lagi gitu ya. Nah,
- kemudian pernikahan yang kedua ini tidak
- tidak apa namanya tidak lancar ya
- akhirnya ee ditinggalkan. Akhirnya
- setelah dia tua gitu kan orang kan ada
- masa-masanya mungkin masa-masa jaya dia
- petantang pendeteng makanya hati-hati ya
- pada saat kita ada jangan sampai zalim
- jangan sampai kita melakukan perbuatan
- yang nanti akan kita terima balasannya
- jangan lupa diri gitu ya. Nah, setelah
- dia ee diceraikan oleh keluarga yang
- kedua, akhirnya dia enggak ada nampung
- kalau ke ke mantan istri perteman mana
- mau anak-anak juga sakit hati. Akhirnya
- ya masuk rumah panti jompo. Akhirnya kan
- dia jadi terlantar gitu ya. Nah, itu
- makanya buat kita, kita tidak boleh
- mencela orang ya. Ketika ada kasus
- seperti ini bersihkan hati kita. Jangan
- dicela. Kita enggak boleh mencela orang.
- Kita diciptakan Allah bukan dalam rangka
- mencela orang. Ya, kita menjadi pekan
- pelajaran semuanya. Ini akibat yang dulu
- dilakukan. Maka Allah berikan itu DP-nya
- di dunia loh. Tapi dia sudah tobat, udah
- itu insyaallah Allah maha pengampun.
- Tapi kan DP-nya dulu gitu ya. Nah, oleh
- karena itu di bulan Rajab ini, bulan
- haram ini amal unggulan kita adalah
- tidak zalim. Dan pertama kita menjaga
- diri kita agar tidak menzalimi keluarga
- kita, tidak menzalimi istri kita,
- anak-anak kita, ya. Nah, itu zalimnya
- suami terhadap istri dan anak ya. Ee
- jadi ee berikan hak mereka. Nah, itu
- suami dan istri. Nah, kalau zalimnya
- istri terhadap suami itu di antaranya ya
- durhaka, merendahkan suami, meremehkan,
- menghina, membuka aib suami dan segala
- macamnya. Ya, mungkin dalam takdir
- kehidupan bisa jadi seorang istri itu
- mungkin latar belakangnya dari latar
- belakang yang ada mampu ekonominya
- bagus, keluarganya misalnya ya. Terus
- mendapatkan pasangan yang mungkin
- suaminya tuh dari nol enggak punya
- apa-apa gitu ya. Nah, karena memang
- merasa ee di bawah ekonominya di bawah
- istri kan semena-menalah perlakuan istri
- ya. Nah, itu zalim loh ya. Ketika harga
- diri suami ee terhancurkan
- karena perilaku istri atau keluarganya
- itu menyebabkan suaminya ya Allah gini
- amat ya enggak punya duit. Nah, kita
- belajar ya, Mbak ya, dari
- pelajaran-pelajaran yang ada itu.
- Beberapa kasus terjadi. Kita belajar
- bukan dalam rangka menjat. Setelah si
- suami ini dengan beberapa belas tahun
- atau puluhan tahun dia berusaha bangkit
- ya dia tidak ingin direndahkan. Akhirnya
- jadi berhasil. Nah, pada saat dia
- berhasil ya itu dia ya itu urusan dia
- masalah itu ada. Jadi dia ee si istri
- itu merasa kok suami saya sekarang kok
- menyia-nyiakan saya gitu ya. Bahkan ada
- yang bercerai setelah sekian puluh tahun
- misalnya ya. Nah, bisa jadi kalau kita
- evaluasi ya, bisa jadi itu ya intinya
- adalah bahwa perlakuan kita terhadap
- pasangan kita itu pasti ada
- pembalasannya dari Allah kalau itu masuk
- ke dalam wilayah kezaliman ya. Kalau
- misalnya sudah memaafkan, gimana aku
- maafkan? Ya, mudah-mudahan kalau
- dimaafkan itu kan enggak ada lagi urusan
- di akhirat. Ini masalahnya di dunia. Di
- dunia mah tetap ada ya istilahnya. itu
- kan hidup kita itu kan ee merupakan
- sunah tadawul ya. Ee artinya Allah akan
- pergilirkan ya pergilirkan hidup ini ya.
- Mungkin yang masih berada di bawah suatu
- saat pasti dia akan berada di atas.
- Hidup itu kan tidaknan begitu kan. Nah
- pada saat itu kan ya Allah kan maha adil
- di situ ya. Allah maha adil gitu ya.
- Nah, jadi zalimnya istri terhadap suami
- itu ya tadi durhaka, merendahkan suami,
- kemudian ee tidak mau melayani suami, ya
- menolak suami itu tuh ya sampaikan dalam
- hadis tuh ketika istri menolak suami
- tanpa alasan syari, itu kan dilaknat
- malaikat ya sampai pagi. Kalau sudah
- malaikat melaknat, hati-hati loh laknat
- itu masyaallah laknat itu bahaya itu
- jauh dari rahmat Allah. Jadi seorang
- mukmin itu
- tidak melaknat. Tapi kalau malaikat yang
- melaknat kan bahaya. Pernah dengar kan,
- Mbak? Ya, ketika ada seorang perempuan
- senang sama senang sekali ngomong
- laknatlaknat laknatullah alaik gitu.
- Astagfirullah. Nah, ketika dia naik
- keledai itu kan dilaknat itu keledainya
- itu Rasulullah langsung mengatakan turun
- itu ee barang-barang di atas keledai itu
- turunkan karena tidak layak keledai yang
- sudah dilaknat dinaikin gitu ya. Jadi
- apalagi ee seorang istri ya ketika
- suaminya minta berhubungan ditolak
- padahal suaminya sudah melaksanakan
- kewajibannya, sudah menafkahinya, sudah
- menjalankan kewajibannya. Eh malam mau
- minta haknya ditolak sama istri. Nah,
- itu laknat ya. Kecuali memang kalau ada
- alasan syari ya sakit atau apapun. Jadi
- ini menolak hubungan tanpa alasan syari
- itu adalah ee apa namanya? zalim
- terhadap suami. Nah, sekarang
- permasalahannya kan gitu, Mbak. Ketika
- di rumah ditolak istri, ya setan kan
- goda. Dilihat di luar orang
- bening-bening semua, ya. Nah, kan bisa
- jadi munculnya ee perselingkuhan itu ya
- bisa jadi bermula dari tidak
- terpenuhinya kebutuhan suami. Ya kan
- akhirnya seperti itu ya. Atau misalnya
- zalim orang tua terhadap anak ini dalam
- keluarga ya.
- zalim orang tua terhadap bersikap keras,
- tidak adil ya ee menyayangi satu, apa
- namanya mengenyampingkan yang lain, ya
- memukul karena emosi, merendahkan anak,
- itu juga zalimnya orang tua. tidak
- diberikan kasih sayang, balas dendam
- atau misalnya ya ee tanpa disadari
- seorang ibu misalkan ketika dia dizalimi
- oleh suaminya misalnya suaminya tuh
- selingkuh atau segala macam terjadi
- perceraian itu akhirnya ee dia membalas
- dendam kepada anaknya. Itu zalim tuh si
- ibu. Jadi si ibu ini tidak menempatkan
- pada tempatnya. pada saat dia terzalimi,
- jangan buat zalim lagi.
- Makanya nanti kita akan bahas ya,
- bagaimana mensikapi ee diri kita ketika
- orang menzalimi kita. Jangan samaan.
- Rugi ya, rugi kita. Kenapa rugi? Karena
- kita enggak dapat pahala dari ee
- kesabaran dalam menjalani ee apa
- namanya? Kondisi yang terzalimi itu ya
- kan kalau kita sabar tuh kan pahalanya
- berlipat. Nah, kalau kita balas dengan
- yang lain kan tambah zalim lagi kita.
- Nah, itu ya. Jadi zalim kepada anak
- kadang-kadang pelampias ya, pelampiasan
- ee tidak suka dengan bapaknya, anaknya
- dipukul gitu ya. Nah, itu zalim orang
- tua ya. Atau zalim mengabaikan
- pendidikan agama, membiarkan anaknya
- jauh dari salat, dari adab Islam, dari
- pemahaman. Itu enggak dikasih tahu tuh
- zalim. Kenapa anaknya sampai sudah
- dewasa tidak menutup aurat? Ya karena
- sejak kecilnya tidak diajarkan, tidak
- diperintahkan. itu kan zalim nanti orang
- tuanya gara-gara orang tua enggak didik
- anaknya kan masuk masuk neraka n kan
- tanggung jawab orang tua yang zalim juga
- itu kan. Nah, ada lagi kezaliman anak
- terhadap orang tua nih lebih banyak lagi
- ya menyakiti dengan ucapan, dengan
- sikapnya dengan membentak mengabaikan,
- meremehkan. Padahal anak kepada orang
- tua itu jangankan membentak, kalimat uf
- aja enggak boleh.
- Itu jelas dalam Alquran.
- itu. Jadi kalau anak sampai membentak
- orang tuh anaknya zalim loh itu. Ya
- Allah menyakiti hati gitu ya. Ini
- hati-hati ya apalagi terhadap orang tua.
- Ketika orang tua disakiti ya anak
- menzalimi orang tua dengan bentakannya,
- dengan meremehkannya itu hidupnya susah
- loh. DP itu Allah berikan itu di dunia
- ya. Hidupnya itu tidak akan berkah.
- Makanya ketika kita melihat yang
- misalnya kita muhasabah ya, ketika dalam
- diri kita, dalam kehidupan kita tuh kok
- susah, sulit, apa-apa kok buntu gitu ya.
- Kok kita sulit ee dalam mencari
- pekerjaan, dapat pasangan kok begini,
- anak begini. Coba muhasabah. Mungkin
- dulu pernah kita menzalimi orang tua
- kita, menzalimi ibu kita. Nah, sekarang
- Allah balas ya. Jadi perbuatan kita saat
- ini bisa jadi adalah pembalasan ee dari
- sikap kezalimian kita. Nah, pada saat
- anak itu mendapatkan musibah, ujian
- cobaan, kemudian dia ee bersabar,
- beristigfar, itu kan ujian cobaan,
- musibah dari Allah itu kan pada
- hakikatnya itu kan untuk membersihkan
- ya, untuk membersihkan semua dosa yang
- pernah kita lakukan ya, ibarat ee sabun
- ya. Jadi dibersihkan dosa-dosa kita
- mungkin dulunya dosa kita seperti itu
- ya. Jadi dengan adanya ujian cobaan ini
- Allah ee bersihkan semua
- kesalahan-kesalahan kita. Nah, jadi ini
- ee bentuk-bentuk zalim terhadap ee
- keluarga ya. Nah, kalau zalim terhadap
- keluarga ini tidak diop
- itu dampaknya ke mana-mana. Nanti akan
- terus berulang rumah tangga seperti itu
- ya nanti ke mana-mana. Jadi generasi
- yang kita harapkan itu akan sulit
- menjadi generasi
- yang ee dapat merubah peradaban. Karena
- yang ada dalam rumah tangga tuh semuanya
- zalim. Yang bapak enggak tanggung jawab
- kepada keluarganya, istrinya, istrinya
- tidak mendidik anaknya. Nah, itulah
- bentuk kezaliman dalam keluarga ya.
- Kezaliman ayah ibu dalam memperlakukan
- anak, anak terhadap orang tua ya.
- Artinya yang yang ada apa jug jadi
- penyakit. Jadi artinya keluarga itu
- keluarga yang sakit semuanya karena
- kezalimannya tidak diberantas. Maka
- kesempatan bulan Rajab ini kita mulai
- muhasabah diri dan keluarga kita. Karena
- kezaliman yang dilakukan di bulan Haram
- itu dosanya berlipat. Nah, kita kan
- inginnya ee dapat pahala yang berlipat
- ya. Nah, enggak kalah penting lagi
- adalah kezaliman terhadap pekerja rumah
- tangga ya. ART. Masyaallah.
- Kadang-kadang kita menganggap ART itu ee
- apa ya? Kelas berapa gitu ya. Enggak
- nganggap alahimat aja gitu. Hati-hati.
- Allah itu enggak melihat dari sisi
- pekerjaan, tapi yang Allah lihat itu
- adalah ee hati kita dan amal kita, takwa
- kita. Nah, ketika kita meremehkan
- mempekerjakan ART kita dengan
- semena-mena ya itu zalim ya. Tidak
- memberikan kesempatan untuk beristirahat
- gitu ya. Ee menghina, mencaci, memaki,
- membentak-bentak. Masyaallah luar biasa
- itu zalim itu. Jadi kadang-kadang kan
- ada rasa sombong ya. Nah, itu sombong
- itu sendiri sebesar biji sawi aja enggak
- masuk surga. Apalagi sombong dengan
- ucapan kata-kata. Alah, orang kampung
- ini. Alah, begitu aja. Ah, itu itu
- zalim. Masyaallah ya. Nah, kita lihat
- bagaimana Rasul tuh sangat marah dengan
- Abu Dzar ya. Ketika beliau tuh
- merendahkan kalau enggak salah Bilal ya
- anak budak perempuan namanya kulit hitam
- itu Rasul marah itu kamu tuh sifat
- jahiliah tuh gitu. Itu padahal kelas
- sahabat. Nah, itu contoh buat kita ya.
- jangan sampai melakukan seperti itu.
- Meremehkan, merendahkan, ee memberi
- makanannya dengan apa ya, dengan takaran
- sebenarnya. Dia harus makan banyak
- dikit. Pokoknya benar-benar dah kelas
- apa gitu enggak boleh dia masuk area
- ini, enggak boleh masuk khimat itu kan
- zalim. Itu udah kayak raja aja ya,
- membebani dengan pekerjaan berat dan
- segala macam. Jadi sekali lagi memang
- hal-hal seperti ini ee dihindari ini
- zalim. Ada sebuah riwayat ya dari Ibnu
- Umar radhiallahu anhuma, ada seorang
- laki-laki datang kepada Rasulullah terus
- bertanya dia, "Ya Rasulullah, berapa
- kali aku harus memaafkan pembantuku?"
- Memaafkan loh ya. Karena kan orang-orang
- yang kita pekerjakan itu ya memang
- keterbatasannya ada mungkin cara
- berpikirnya, pemahamannya ya. Kalau
- pintar mah enggak jadi khadimah dong
- gitu ya. Justru karena keterbatasan itu
- kerja sama kita kan gitu. Nah, ini ee
- laki-laki ini bertanya, "Ya Rasulullah,
- berapa kali aku harus memaafkan khadimat
- atau pembantuku?" Ya kan suka gitu ya,
- Mbak ya. Kalau kita ngasih arahan sekali
- enggak ngerti-ngerti kadang-kadang salah
- mesti berulang kali ya. Ya, Pakulang
- lagi [tertawa]
- kan wajarlah memang terbatas ya. Harus
- sabar memaafkan. Nah, Rasulullah itu
- kemudian diam. Terus laki-laki itu nanya
- lagi, "Ya Rasulullah, berapa kali aku
- harus memaafkan pembantuku?" Apa kata
- Nabi? Maafkanlah dia setiap hari 70
- kali. Masyaallah.
- 70 [tertawa] kali.
- 70 kali banyak banget ya. Artinya lapang
- dada. Jadi artinya gini, adab Islam itu
- memperlakukan pembantu dan pekerja rumah
- tangga. Sekarang istilahnya terserah deh
- mau ART kayak, mau asisten, mau pembantu
- kan yang bantuin ya. Itu artinya itu
- masalah bahasa ya. Itu kan ee mestinya
- dibebani dengan pekerjaan yang sesuai
- dengan kemampuannya, tidak
- memberatkannya. Makanan sama dengan kita
- dengan keluarga. Jangan dibeda-beda nih
- makan buat ini nih buat gini. Bukan
- makanan sisa atau remeh-remeh makanan
- ya. Pakaiannya sama seperti yang kita
- pakai. Jadi tidak mencari-cari
- kesalahan. Ee artinya kadang-kadang kan
- gitu ya, ada sifat manusia tuh rasa alah
- ini kan ada rasa gimana itu hati-hati
- jaga itu hati kita ini kalau ada rasa
- sombong sedikit aja itu tuh ya Allah
- e minalatan minal enggak ada tuh rasa eh
- enggak akan masuk surga ya orang yang
- memiliki rasa sombong sebesar biji sawit
- itu kan takdir yang Allah tetapkan ya
- kan memang sudah kondisi kayak gitu ya
- udah takdirnya kalau mau mah dipesan ya
- Allah kalau bisa aku jangan jadi
- khadimat kan begitu ya sudah takdir.
- Nah, ketika Allah berikan kita kemampuan
- untuk mempekerjakannya itu bersyukur
- alhamdulillah ada yang membantu gitu ya
- dan kita ee berkah itu. Berkah loh.
- Apalagi kalau majikannya baik itu
- masyaallah berkah itu ya kan kelihatan
- Mbak ya kalau enggak baik majikannya
- setiap bulan ganti terus gitu ya. Ya
- kenapa ganti terus karena mau ideal sih
- mau cari yang ini ya. Iya, namanya
- kekurangan. Ya iyalah, mana ada yang
- sempurna di dunia ini. Siapapun enggak
- ada yang sempurna, kita juga enggak
- sempurna. Pasangan kita juga enggak
- sempurna, tapi kitanya kok nuntut
- sempurna gitu ya. Maka maafkan kata
- Nabi, kalau bisa tuh sampai 70 kali, ya
- sudahlah haknya berikan gitu. Jadi
- itulah ee keadilan dalam keluarga. Maka
- jangan zalim terhadap keluarga karena
- kezaliman itu dosanya berlipat-lipat. Ya
- Allah. Mudah-mudahan kita mampu ya, Mbak
- ya, menjadi orang yang adil ya.
- Wallahuam. Masyaallah. Amin ya Allah.
- Baik, Iwan dan Awat telah kita ikuti
- tadi pemaparan dari Ustazah perihal amal
- unggulan di bulan Rajab. Kami undang
- Ikhwan dan Ahwat untuk menyampaikan
- pertanyaannya. Mau langsung saja Ustazah
- karena sudah masuk pukul .
- sudah dapat kita masukkan saja ini. Ee
- langsung saya bacakan dari hamba Allah.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustazah. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh. Ustazah,
- saya ingin bertanya. Saya meminjam uang
- dari teman untuk keperluan anak saya
- sekolah. Sebenarnya saya sudah mampu
- membayar, namun menundanya karena saya
- lihat teman saya ini mampu, Ustazah.
- Karena saya juga masih ada keperluan
- lain. Saya jadi tersadar apakah ini
- termasuk perbuatan zalim, Ustazah?
- Oh, karena meminjam orang tapi enggak
- dibayar gitu. Belum dibayar. Iar karena
- dia merasa temannya ini tidak butuh atau
- karena lebih mungkin lebih ada
- dibandingkan beliau.
- Ya, begini ya, Ibu ya. Ibu hamba Allah
- ya, Bu, Mbak ya.
- Hamba Allah. Hamba Allah.
- Ya, begini. Ketika kita berhutang kepada
- orang lain, meminjam kepada orang lain,
- itu bayar.
- Kalau kita tidak membayarnya itu bisa
- jadi nih hati-hati nih, Rasul tuh sangat
- menghindar ee daripada berhutang ya.
- Bahkan doa maksurat kita pagi petang kan
- ya ee misalnya ee yang Allahumma inni
- azubika minal hami wal hazan wubika
- minal ajzi wal kasar waubika minal jubni
- wal buhul itu ya wubika min golidin
- waqah rijal berlindung dari lilitan
- hutang. Nah, ketika kita berhutang dan
- kita memiliki ee dana untuk
- membayarkannya bayar. Adapun urusan
- orang tuh kayaknya dia itu enggak urusan
- kita ini. Kita tuh berat loh kalau orang
- yang berhutang menunda-nunda. Bahkan
- bisa dimasukkan kategori kemunafikan.
- Ketika kita mampu dan kita telah
- berjanji akan membayarnya itu kita tidak
- bayarkan. Itu ayatul munafik. Termasuk
- orang munafik. Makanya sekali lagi hamba
- Allah ketika kita meminjam kepada orang
- itu hak orang. Kembalikan. Enggak peduli
- dia itu mau kaya kek mau penghormat itu
- urusan dia kan. Ini kan masalahnya
- masalah kita kan Allah akan menuntut
- pertanggungjawaban kita terhadap apa
- yang kita lakukan. Nah, urusan orang itu
- tuh itu rezeki dari Allah yang telah
- diberikan ke orang itu. Ya, bisa jadi
- mungkin kita anggap kayaknya dia ada
- deh. Ya, bisa jadi dia punya punya
- kebutuhan yang lain. Kita enggak tahu
- kan. Kita kan hanya tahu zahirnya saja.
- Maka itu urusan orang tersebut. Maka
- urusan kita adalah kembali kepada
- hal-hal yang terkait dengan hak orang
- kepada kita. Makanya sekali lagi yang
- memiliki hutang bayar.
- Kalau enggak kita termasuk zalim, bahkan
- hidup kita itu tidak akan berkah.
- Apabila kita sudah mampu membayar, kita
- tidak bayarkan. Woh, hati-hati tuh.
- Hati-hati. Tidak akan mudah kita
- diberikan Allah keberkahan selama kita
- menahan hak orang. Ya, jadi Ibu kalau
- sudah punya dana bayar. Insyaallah
- ketika kita punya niat untuk membayar
- itu keberkahan Allah berikan dengan kita
- mampu untuk ee tidak meminjam lagi.
- Masyaallah. Itu kan. Jadi, aufu bilin
- ufud ya. ee tepatilah janji insyaallah
- berkah dan Allah sangat menyukai
- orang-orang yang memenuhi janjinya.
- Bayar ya, Bu ya? Masyaallah bayar ya.
- Insyaallah tadi Ustaz Jawat luar biasa
- nanti diberikan kemampuan untuk tidak
- berhutang lagi. Masyaallah. Baik. Baik,
- saya ke pertanyaan berikutnya masih dari
- hamba Allah ini, Ustazah. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Ustazah, beberapa waktu
- yang lalu karena emosi saya pernah
- mengucapkan kata-kata yang kasar dan
- merendahkan suami. Walaupun saya
- kemudian menyesal setelahnya. Saat ini
- saya melaksanakan ee puasa sunah di
- bulan Rajab. Saya jadi teringat, "Uh,
- sajaah, apakah ee amal di bulan Rajab
- saya bisa diterima jika saya belum
- meminta maaf atas ucapan saya yang
- menyakiti hati suami. Walaupun saat ini
- saya dan suami hubungannya alhamdulillah
- sudah kembali biasa saja
- ya. Jadi ee urusan ibadah kita tuh kan
- urusan kita dengan Allah kan. Pernah
- dengar kan kisah seorang sahabiat yang
- ibadahnya itu luar biasa. Salat
- malamnya, puasanya, infaknya, sodqahnya.
- Lakinnaha tujha. Tapi kalau ngomongnya
- lekit gitu ya, sakit hati. Itu diadukan
- kepada Nabi Rasul tuh ada seorang
- perempuan gitu ya. Kalau ibadahnya
- masyaallah gitu luar biasa. Tapi kalau
- ngomong nyakitin apa kata finar yang itu
- mah di neraka.
- Jadi amal sosial ini, amal sosial ini
- jauh lebih berharga harus kita jaga
- ketimbang amalan pribadi kita. Nah, jadi
- sekali lagi bahwa ketika kita telah
- menyakiti, menyinggung ya walaupun
- mungkin sekarang tampaknya baik-baik aja
- tapi yang kita lakukan dulu kan
- tercatat. Ini sama kayak anak juga ya,
- Mbak ya. Kadang-kadang kan anak itu kan
- mengatakan kata-kata yang sangat
- menyakitkan hati orang tua ya. Mungkin
- durhaka ya. Uf aja enggak boleh ya. Uf
- itu ekspresi enggak suka. U itu bisa
- cis, bisa ah bisa itu ya bisa ekspresi
- berkenung apa kening berkerut karena
- enggak apalagi sampai katanya tinggi
- kasar nadanya atau mungkin isi bicaranya
- atau bahasanya. Nanti saya balas jasa
- ibu, jasa bapak. Nanti saya akan enggak
- akan terbalas. Enggak usah diomongin tuh
- nyakitin loh seakan-akan kayaknya gimana
- sih? Nanti akan aku balas semua apa yang
- telah ibu keluarkan, orang tua
- keluarkan, bapak keluarkan dari
- biaya-biaya hidupku. Kan ada anak yang
- ngomong gitu ya kalau lagi emosi itu tuh
- durhaka itu. Jasa orang tua tuh enggak
- bisa dibalas dibayar ya dibalas jasa
- enggak bisa terhitung. Nah yang kayak
- kayak begini kan dicatat tuh oleh
- malaikat gitu ya. Ya kemudian udah habis
- itu kan udah biasa aja namanya orang tua
- kan ya udahlah gitu. Tapi catatan itu
- enggak akan terhapus. sampai kita
- betul-betul minta maaf, minta ampun
- kepada orang tua kita sampai orang tua
- kita itu rida dengan kita. Nah, termasuk
- suami juga ya. Suami kan udahlah udahlah
- udah kan gitu ya. Apalagi orang tua
- apalagi ya udahlah mau di mana lagi udah
- takdir udahlah udahlah udahlah itu bukan
- berarti memaafkan. Jadi sekali lagi
- minta maaf aja sama suami kalau merasa
- maafkan aku ya dengan kata-kataku itu
- yang dulu. Nah sebutin tuh ya yang itu
- dulu ya. Karena kan banyak tuh kata-kata
- yang merendahkan ya. Itu kan semua
- dicatat, dicatat ya anak-anak durhaka
- sama orang tua dicatat. Saking banyaknya
- itu kadang-kadang minta maafnya
- gelondongan [tertawa] gitu ya.
- Gelondongan maaf ya maafkan dosa. Iya
- iya orang tua iya iya. Tapi yang dulu
- kan masih sakit hati walaupun terlupa.
- Lupa itu kan berarti pengampunan loh ya
- kan? Itu kan dicatat itu akan dihisab
- nantinya dihisab satu persatu nanti di
- padang mahsyar itu ya kita akan
- diingatkan Allah kembali dengan semua
- dosa-dosa kesalahan kita. Sekarang aja
- kita lupa ya yang kejadian setahun yang
- lalu aja lupa apalagi yang 20 tahun yang
- lalu ya nanti akan diingat maka mumpung
- masih di dunia ini minta maafnya itu
- benar-benar tulus ridain ya itu yang
- keluar dari hati nurani. Nah insyaallah
- mudah-mudahan selesai insyaallah.
- He. Jadi teringat Ustazah ee di luar
- tema ee kenapa banyak atau bukan banyak
- beberapa orang yang secara hablum
- minallah ee mereka sangat taat
- beribadah, puasa sunah segala macam. Ee
- tapi ketika berhubungan dengan manusia
- yang lain, mereka suka kadang judes,
- galak, kasar gitu, Ustazah. Kenapa tidak
- berbanding lurus ya, Ustazah? Ee
- ibadahnya dengan ee pencegahan mereka
- melakukan hal-hal yang zalim terhadap
- sesama, Ustazah?
- Bisa jadi, Mbak, itu karena alfahmu,
- karena ilmu juga. Ilmu. Ilmu kan artinya
- ee ilmu itu kan qoblalqul wal amal.
- Mestinya kedudukan ilmu itu sebelum kita
- berkata-kata dan beramal. Jadi selama
- ini masalah adab itu kan enggak terlalu
- di ini ya ilmu ini kan masalah adab ya
- bagaimana adab kita menjaga perasaan
- orang bertutur kata itu kan adab ya adab
- tuh dulu di para ulama tuh sampai 30
- tahun belajar adab baru ilmu. Nah kalau
- kita kan sekarang kan belajar ilmu dulu
- pokoknya belajar ini dulu tapi yang
- adabnya kan enggak. Heeh. Jadi itu
- barangkali di situ sisi ee kenapa kok
- ada orang berimbarah karena dia enggak
- paham ilmu dan adab gitu. Heeh. Heeh.
- He. Iya. Karena tiba-tiba saya teringat
- tentang ee yang itu lazah meninggal
- karena di ya numpang tidur di teras
- musala kemudian ramai-ramai jemahnya ee
- memukuli ee orang tersebut sampai
- meninggal itu kayak enggak habis pikir
- saya. Nauzubillah.
- Iya. Iya. Begitu. Heeh.
- Baik. Kembali ke pertanyaan ini dari
- ini dari e Ibu Ibu Romlah di Jatiwarna.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh, Ustazah.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Saya usia 63 tahun, Ibu
- Romla. Ee
- ini
- adik saya tidak memberikan bagian waris
- yang semestinya karena dia merasa dia
- yang merawat orang tua saya semasa
- mereka hidup. Namun ee mereka bilang ee
- saya tidak perlu banyak-banyak dengan
- alasan saya toh sudah ada, Ustazah.
- Bagaimana di bulan Rajab ini menjadi
- momentum saya bicara kepada adik saya
- bahwa seharusnya pembagian secara adil
- bukan mengukur mampu atau tidaknya kita,
- Ustazah. Apakah itu termasuk zalim,
- Ustazah?
- Ya, apalagi yang terkait dengan harta
- ya. Jadi pada prinsipnya harta waris itu
- wajib dibagikan sesuai dengan ee takaran
- warisnya ya. ee itu kan semua sudah
- diatur ya, berapa dapat berapanya ya.
- Jadi tidak ada istilah nih karena ini
- karena ini. Kenapa? Mestinya gini, kita
- tuh ketika kita memiliki orang tua,
- mungkin ada orang tua yang tinggal di
- rumah anaknya itu ya kan anak yang di
- tempat itu kan mungkin mengeluarkan
- biaya, anggaran ya. Nah, saya
- disepakatilah sesama keluarga
- bermusyawarah bagaimana
- menanggulanginya. Nah, itu bisa diambil
- pembiayaannya dari harta orang tua gitu
- ya. dari harta orang tua itu nanti
- berapa? Dihitung aja dulu kalau masih
- ini ya. Nanti kalau sudah meninggal
- warisan itu dikeluarkan dulu
- pengeluaran-pengeluaran itu bentuk
- keadilan ya dalam ee kan setiap anak tuh
- pasti merasa apalagi yang ketempatan
- orang tua. Ini kita bicara belum bicara
- ee birul walidain ya, ini bicara dari
- sisi ee hak kewajiban harta itu ya. Jadi
- mestinya anak-anak itu supaya tidak ada
- keberatan bagi salah seorangnya untuk
- menjaga orang tuanya. Apalagi mungkin
- kondisinya ee enggak enggak mampu juga
- ya artinya seadanya ya dia bisa
- mempergunakan harta dari orang tuanya
- untuk membiayai kebutuhan orang tuanya
- itu. Atau orang tuanya juga usaha buat
- apa sih gitu ya. Tapi ini berdasarkan
- musyawarah mufakat. Nah, kalau misalnya
- belum berupa enggak ada dana yang e cash
- atau berupa ini ee bangunan atau apa,
- dicatat aja. Ini kita bicara hak dan
- kewajiban ya. Ini kan kita enggak bicara
- birulidan ya. Padahal kalau yang paham
- tuh sebenarnya ketika ada orang tua
- bersamanya di rumah tuh tuh anugerah
- besar tu kunci surga. Enggak usah
- hitung-hitungan ya Allah aja enggak
- hitung-hitungan. Itu di Saudi Mbak ada
- empat orang anak tuh sampai ke
- pengadilan untuk mengadili ee mereka ee
- empat ini karena mereka rebutan ibunya.
- Ibu sama saya, Ibu sama saya.
- Masing-masing karena bersih keras enggak
- ada solusinya ya akhirnya ke pengadilan
- gitu. Itu karena mereka tahu kedudukan
- orang tua, merawat orang tua itu birul
- walidan masyaallah surga itu. Nah,
- kita enggak bicara itu deh. Kita bicara
- ee mungkin masa masa materialis tadi ya.
- Jadi di musyawarah mufakat aja ini biaya
- ee ini ibu nih gimana biaya
- pengurusannya gitu ya. Ya udah keluarkan
- dari harta ibu ya. catat aja nanti kan
- jadi hutang misalnya nanti kalau sudah
- meninggal dari warisan itu dikurangi
- aja. Itu kalau memang musyawarah
- mufakat. Cuman kadang-kadang kan enggak
- enak diomongin gitu ya. Ee tapi ketika
- ee sebaiknya nih kan bisa juga ya yang
- ke tempat ibu tuh merasa kok yang lain
- kakak-kakaknya kok enggak ngerawatin
- padahal mampu kok dibebankan ke saya.
- Nah mungkin dia merasa ya setelah
- warisan kan aku dulu ini jadi
- dimusyawarah mufakatkan aja ya. berapa
- dia keluar bayarkan ya kalau memang ee
- kita tidak bicara birul waliden ya. Nah,
- buat Ibu ya mungkin apa yang Ibu ee
- dapatkan komentar dari saudara ibu bahwa
- buat apa sih kakak gitu atau ini sudah
- 63 tahun mikirin dunia aja gitu ya ini
- warisan ya udahlah enggak usah di
- mungkin begitu ya. Nah, sekarang gini
- aja deh.
- Ee memang mestinya disesuaikan dengan
- hukum waris ya. Ya, kalau memang
- semuanya mau. Kalau mereka semuanya
- enggak mau kan susah ya kan yang ya
- artinya dari seluruh anggota keluarga
- satu orang aja enggak setuju enggak jadi
- tuh. Ya itu betapa banyak ya sengketa
- warisan itu luar biasa. Nah, bagi kita
- Bu yang sudah paham dengan bagaimana
- kita harapkan rida dan cinta Allah itu
- mungkin ini bagi ini ya bagi kita ya
- kalau mau memaafkan tuh lebih baik ya.
- Artinya enggak rugi kok kalau harta
- buntut warisan kita yang hak kita
- udahlah terserah deh kalau mau mau
- pergunungan. Kan ada ya di keluarga yang
- nguasain gitu ya. Dia enggak mau bagi
- dia kuasain. Udahlah sabar aja selama
- kita tidak dalam kondisi membutuhkan ya.
- Artinya semuanya ee semuanya
- terpenuhilah kebutuhan-kebutuhan rumah
- tangga kita selama kita tidak
- membutuhkan. Ya sudahlah sabar.
- Insyaallah
- Allah akan ya Allah itu kan maha adil
- ya. Enggak ada orang yang enggak ada
- orang yang zalim tuh jadi kaya dengan ee
- harta yang diambil. Percaya deh. Lihat
- deh di manapun kejadian orang yang
- banyak memperebutkan
- ee harta warisan itu hidupnya susah,
- tidak tenang. Ya, mungkin keluarganya
- juga akan gelisah. Jadi artinya orang
- yang ee berjalan di muka bumi ini dengan
- mengambil hak orang itu perhatikan aja
- bagaimana akibatnya. Nah, kita yang
- sudah paham tujuan akhir hidup kita
- adalah mencari rida Allah itu memang
- lebih baik ya sudahlah maafkan sajalah
- itu pahalanya besar loh. Jadi ketika ada
- hak kita pada orang enggak tunaikan tuh
- dianggap pahala infak ya Mbak.
- Masyaallah.
- Jadi jadi diperbolehkan Ustazah ya.
- Maaf. Jadi diperbolehkan Ustazah apabila
- kita memilih ee karena banyak
- orang-orang yang saya suka dengar
- daripada ribut sama saudara akhirnya
- saya ikhlasin aja. Terus ada yang bilang
- enggak boleh, itu hak kamu. Kamu harus
- terima, kamu harus perjuangkan. Tapi
- ternyata mengikhlaskannya
- dengan niat infak lebih besar, Ustazah.
- Ya.
- Iya betul. Jadi hak kita yang kita
- terima, kita berikan kan sama seperti
- ini, Mbak. Istri itu kan kewajibannya
- itu sama suami kan menafkahi.
- Tapi manakala suami tidak bisa
- menafkahi, istrinya ikhlas, istrinya
- rida, bahkan dia menafkahi kan pahalanya
- dapat dua.
- H.
- Jadi enggak selalu harus hak kita tuh
- kita sampai ma harus ya kalau kita
- ikhlaskan itu pahalanya besar itu
- ya. Dunia ini mau ke mana sih? Mau mau
- diapain sih? Ya masyaallah itu artinya
- nih pahalanya besar Mbak. aturannya
- orang itu, saudara kita itu nanti
- mempertanggung jawabnya,
- mempertanggungjawabkan di akhirat itu
- dengan dengan perbuatannya itu itu luar
- biasa ya siksanya atau azabnya. Tapi
- karena maaf kita dia enggak jadi
- disiksa, enggak jadi diazab, itu kan
- pahalanya berlipat. Kita memudahkan
- orang itu Allah akan mudahkan kita di
- dunia dan di akhirat. Masyaallah.
- Masyaallah. Ya. Baik, pertanyaan dari
- Ibu Romlah nampaknya menjadi pertanyaan
- penutup perjumpaan kita atau kajian kita
- pada siang hari ini, Ustazah. Ee kiranya
- ee kesimpulan, Ustazah
- ya. Ee pendengar yang dirahmati Allah,
- di bulan yang dimuliakan Allah ini,
- bulan-bulan haram termasuk bulan Rajab
- ini, amal unggulannya itu di antaranya
- adalah alimu anfusakum. Jangan menzalimi
- diri sendiri. Nah, terutama kezaliman
- yang terjadi dalam keluarga. Kezaliman
- dalam keluarga ini adalah dosa besar
- karena terjadi di tempat yang seharusnya
- menjadi ruang aman, kasih sayang dan
- amanah dari Allah. Mudah-mudahan kita
- bisa menjalankan kewajiban kita adil dan
- mudah-mudahan tidak ada yang merasa
- terzalimi. Bilaun ada, mari kita saling
- memaafkan, kita bertobat, kita mohon
- ampun kepada Allah dan meminta maaf
- kepada orang-orang yang terdekat dengan
- kita agar tidak ada lagi kezaliman dalam
- kehidupan ini. Astagfirullahi wakum.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Masyaallah, ikhwan dan
- akhwat, marilah kita jadikan pengingat
- dari Ustazah Helini Amran sebagai bulan
- yang akan kita jadikan momentum
- memperbaiki diri bukan hanya dengan
- berbanyak amal ibadah, tapi juga dengan
- menjaga hati agar tidak berbuat zalim
- kepada siapapun. Sebab ternyata amal
- tidak akan bernilai tinggi apabila tidak
- diiringi dengan keikhlasan. Ikhwan dan
- akhwat yang bertugas pada hari ini. Saya
- Karolin juga Ondi mengucapkan terima
- kasih kepada guru kita Ustazah Hilini
- Amran atas waktunya, atas ilmunya dan
- pengingatnya. Mudah-mudahan Allah
- berkahi dengan kesehatan dan kemudahan
- dalam segala urusan Ustazah dengan
- keluarga juga.
- Agi juga di belakang meja operator.
- Terima kasih karena telah membuat ee
- siaran kali ini insyaallah lancar dan
- kami tutup dengan doa kafaratul majelis.
- Subhanaka Allahumma wabihamdika ashadu
- alla illa anta astagfiruka wa atubu
- ilaik. Wabillahi taufik wal hidayah.
- Wasalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.