Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 Saya usir, keluar dari kantor saya. 0:03 Kenapa? 0:04 Saya takut, Pak. 0:05 Kalau saya mematuhi mereka supaya 0:08 jabatan saya tetap ada, 0:10 saya kufur, Mas. 0:13 Enggak takwa lagi. 0:15 Saya kufur nikmat. Memimpin adalah 0:18 kewajiban, amanah, bukan hak. 0:21 Amanah gitu ya? Amanah dari atasan kita, 0:24 hablum minannas, 0:26 dari Allah, hablum minallah. Bukan 0:28 hakmu. 0:29 Jadi kamu enggak ngejar dengan cara-cara 0:31 yang enggak jujur. 0:33 Dan waktu sudah berkuasa, tidak 0:35 melakukan ee kesewenang-wenangan ya. 0:38 Iya, takwa. 0:40 Jangan merugikan orang lain. 0:42 Ya. 0:43 Jangan mengorbankan bawahan. 1:22 Bismillahirrahmanirrahim. 1:23 Asalamualaikum warahmatullahi 1:24 wabarakatuh. 1:25 Waalaikumsalam warahmatullahi. Allahumma 1:27 sholli ala sayyidina Muhammad ala 1:29 sayyidina Muhammad. 1:30 Ya, jumpa lagi dalam acara sahur bersama 1:32 tokoh. Kami sekarang sedang berada 1:35 di 1:37 rumah tokoh tersebut. 1:39 Ee kami sedang berada di rumah profesor 1:42 atau kediaman Profesor Dokter Djoko 1:44 Santoso Muljono. 1:47 Ee di mana beliau ini adalah sosok yang 1:49 berasal dari Solo, namun lahir di 1:52 Weltevreden. 1:54 Ee anak sekarang enggak tahu nih, Pak. 1:56 Weltevreden itu adalah Batavia Centrum, 1:58 saat ini dikenal daerah Tanah Abang. 2:01 Sebelum Perang Dunia ke-2, yaitu pada 2:03 tanggal 24 Desember 1940, jadi usia 2:07 sudah menjelang 83 tahun. Pendidikannya 2:10 cukup lengkap, lengkap ya. 2:12 S1 dan S2 2:15 dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah 2:18 Mada, sedangkan S3-nya doktor 2:21 ditempuhnya setelah purna tugas 2:24 juga dari UGM Fakultas Pascasarjana, 2:27 jurusannya 2:28 psikologi 2:29 industri dan organisasi lulus dengan 2:32 predikat cum laude. 2:34 Hebat ya, Subhanallah. Selama menempuh 2:37 pendidikan selama 10 bulan 8 hari 2:40 memecahkan rekor tercepat dalam 2:43 pendidikan doktor di UGM. Narasumber 2:45 sudah berkeluarga, putra 2, putri 1 2:49 dengan 4 cucu. 2:51 Oke, kami juga ditemani oleh 2:55 Mbak Utari Nurpermadi, kita tahu beliau 2:57 adalah dulu pembaca dunia acara Dunia 3:00 Dalam Berita di TVRI. Kami mohon alinea 3:02 berikutnya dibacakan oleh 3:04 Mbak Baik, asalamualaikum warahmatullahi 3:06 wabarakatuh. 3:07 Waalaikumsalam. 3:10 Mas, eh narasumber ini 3:13 eh memulai karir profesinya itu bekerja 3:16 di PN Garam selama 1 tahun. Tahun 66 3:20 dilanjutkan sebagai pegawai tinggi pada 3:22 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai selama 3:24 4 tahun. Dan mulai meniti karir di 3:27 perbankan tahun 3:29 eh 1971 3:32 sebagai tenaga pimpinan selama 15 tahun, 3:35 kemudian tahun 1986 3:38 diangkat Presiden Republik Indonesia 3:41 sebagai Direktur Bank Ekspor Impor, 3:44 yaitu Bank Exim. Saat ini sudah merger 3:47 ke Bank Mandiri, Mas. 3:49 Sampai dengan tahun 1992. Nah, 3:51 selanjutnya karir beliau ini tahun 92 3:54 sampai 1993 3:56 ditunjuk oleh pemerintah sebagai 3:58 pemegang saham menjadi direktur di Bank 4:01 Rakyat Indonesia atau BRI. 4:04 Nah, yang satu ini pada tahun 1993 4:07 sampai 2000 menjabat sebagai pimpinan 4:11 puncak, yaitu direktur utama BRI. 4:14 Ada satu lagi, Mas. Beliau juga menulis 4:17 buku, 13 buku 4:19 ilmiah dalam bidang budaya kerja dan 4:21 best seller semua. Jadi, kalau ngelihat 4:24 beliau itu dari sisi eee 4:28 praktisi sudah sampai tingkat puncak, 4:30 ya. Sebagai dirut. Kemudian sesudah 4:33 purna tugas kuliah lagi 4:36 malah menjadi guru besar. Jadi, bukan 4:38 honoris causa. 4:39 Guru besar beneran. 4:41 Lalu menulis buku. Kayaknya eee bukan 4:44 pentium lagi nih. Ini apa nih anunya? 4:47 Baik, kita mulai saja kisahnya. 4:49 Assalamualaikum, Prof. 4:50 Waalaikumsalam, warahmatullahi. 4:51 Terima kasih sudah menyediakan 4:52 kediamannya untuk tempat kami wawancara, 4:55 ya. Monggo, monggo. Tapi 4:56 ngomong-ngomong, Mbak Utari kok 4:58 manggilnya Mas An, ya? Saya kan manggil 5:00 Prof. Privilege status, soalnya. Oh. 5:03 Soalnya eee masih terhitung saya manggil 5:06 beliau seperti kakak. Ehm. Sahabatnya 5:08 almarhum kakak saya. 5:10 Begitu. 5:12 Pertanyaan-pertanyaan. Kami ingin tahu 5:14 Jogja di masa Prof masih mahasiswa tuh 5:16 seperti apa? Karena dulu kan naik 5:18 sepeda, kesederhanaannya, ya. 5:20 Seperti apa Jogja di masa 5:22 yang benar, ya. 5:24 Eee 5:26 enggak bisa dibandingkan, Pak, ya. Orang 5:28 tuh hidup untuk zaman masing-masing. 5:29 Iya. 5:30 Di zaman saya itu tahun 60-an 5:33 itu kendaraan rata-rata mahasiswa 5:36 sepeda. Sepeda. 5:38 Yang menggunakan 5:40 eee Bromfitz waktu itu. Ya. Motor tuh 5:44 baru Bromfitz. Itu DKW Hummel, Ducati, 5:49 skuter nya itu Vespa, Lambretta itu 5:52 hanya mereka anak-anak orang-orang kaya. 5:56 Ya. 5:57 Anak pejabat enggak? 5:59 Enggak waktu itu anak pejabat. 6:00 tetap sepeda. Sepeda. 6:02 Sepeda apa Fongers apa apa waktu itu? 6:04 Enggak, Fongers mahal Mas. 6:07 Sepeda saya itu mereknya Robusta. 6:09 Robusta? Oh merek kopi merek kopi. Iya, 6:12 itu beli di loakan Surabaya. Wih keren. 6:16 Meskipun ayah saya kepala jawatan. 6:18 Garam waktu itu monopoli. 6:20 Enggak kita enggak enggak 6:21 bermewah-mewah. 6:22 Jadi hidup sederhana benar? Apa? Hidup 6:25 sederhana benar? 6:26 Ya ya 6:27 ya benar wong. Tidak hanya omongan gitu. 6:30 Nah, jadi. 6:32 Semua naik sepeda. 6:33 Di sana, itu naik becak itu sudah mewah. 6:36 Oh naik becak mewah ya. Mewah. 6:38 Jadi gimana? 6:40 Tetap itu. 6:41 Eee kelompok saya sepeda semua. 6:45 Jadi. 6:45 Justru yang dulu anaknya Menteri 6:47 Keuangan Notohamiprodjo. 6:50 Sudah meninggal dia. 6:51 Itu pakai Ford Falcon. Itu mendekati 6:55 kita ikut belajar senang, dia enggak 6:57 sombong. Iya iya. Ya Allah waktu itu ya 7:00 satu fakultas yang punya mobil cuma 7:01 satu. 7:03 Enggak kayak sekarang. 7:04 Memang bukan. 7:05 Bukan sekarang salah tidak. 7:07 Oh beda zamannya ya. Hanya orang itu 7:09 hidup untuk zaman masing-masing. Oke. 7:12 Sepeda bahkan. 7:13 Waktu itu karena ekonominya. Berat kan. 7:16 Jadi kalau akhir bulan itu. 7:19 Belum terima. Wesel. Wesel. Belum ada 7:21 ATM waktu itu. 7:23 Jual celana. Jual celana. Jual baju, 7:25 saya itu kelompok lima orang. 7:27 Itu 7:28 ada hukum tak tertulis. Hanya boleh 7:31 punya celana dua, baju tiga. Oh gitu. 7:34 Kalau lebih jual dimakan rame-rame. Oh. 7:38 Harga berapa? 7:39 Persaudaraannya. Wah macam-macam. 7:41 Kalau jual itu di depan di stasiun bus 7:44 gitu. 7:45 Ya enggak apa-apa. Ya jual kok, mau apa? 7:47 Enggak, wong itu enggak enggak nyuri. 7:50 Ya, pernah saya 7:52 saya jualan tuh di depan rumah sahabat 7:55 baik saya 7:57 putri dokter. He eh. Lah saya kira jam 7:59 10 malam masa mau 8:00 keluyuran. 8:02 Ya. 8:03 Aja aja. 8:04 Saya berpapasan rupanya dia pulang 8:05 nonton bioskop 8:07 sama teman-temannya. 8:10 Jok. 8:11 Ngopo kowe? Mati. 8:13 Saya saya kan 8:15 jual celana. 8:17 Besok kalau kamu saya traktir bakso 8:21 berarti kamu kelolodan benik. 8:24 Enggak usah malu, gimana wong 8:26 jadi itu 8:28 mereka juga enggak menghina. He eh. 8:29 Masha Allah. Berarti tahun itu Mas An 8:31 masih kuliah di Pagelaran ya? Nah, waktu 8:34 itu sebagian kecil. He eh. Hanya 8:37 Sosiologi He eh. di Pagelaran. Pagelaran 8:41 itu apa sebenarnya? Nah, ini dia. Gini. 8:43 Pagelaran adalah bagian depan dari 8:46 Keraton He eh. Jawa. He eh. 8:48 Solo, Jogja sama. 8:50 Jadi 8:51 Jawa 8:52 Jawa itu Keratonnya di depannya 8:53 Alun-alun 8:54 dengan dua ringin. 8:56 De bangunan pertama itu Pagelaran, 8:58 tempat di mana 9:01 pada waktu zaman kerajaan Sultan itu 9:03 dihadap oleh punggawa kalau ada masalah. 9:07 Ada itu. Nah 9:08 Sultan Hamengkubuwono sangat saya 9:11 hormati. 9:13 Beliau dengan serela tahu bahwa 9:16 pendidikan adalah bagian dari kemajuan 9:18 bangsa. He eh. 9:19 Sementara Gadjah Mada sudah berdiri 9:21 enggak punya ruangan. He eh. 9:23 Beliau dengan besar hati meminjamkan He 9:26 eh. 9:27 daerah yang dulunya adalah keramat. He 9:30 eh. Hanya orang tertentu yang boleh naik 9:33 ke He eh. ke 9:35 Pagelaran. Pagelaran. Pejabat-pejabat 9:37 istana, bangsawan tinggi. Rakyat enggak 9:39 boleh. Heeh. Tapi itu diserahkan oleh 9:42 Sultan kepada rakyat. Heeh. Untuk 9:44 mendidik bangsa. 9:45 Heeh. 9:46 Nah, sehingga angkatan 9:48 ada tahtanya 9:50 Sri Sultan di situ, ya? Ada, ada 9:52 tempat tahta itu marmer, ya. 2 * 1 m, 2 9:56 * 2 m, eh, 2 * 3 m. 9:58 Itu dipagari pakai 10:00 apa? Pagari pakai kayu. Supaya enggak 10:03 diinjak-injak oleh kita. Tapi bisa 10:05 mendekat sampai ke situ, ya? 10:06 Jadi bukan di Bulaksumur, ya? Jadi di 10:09 Klaten, lho, ya? Belum. Iya, Gadjah Mada 10:11 itu lahirnya di Klaten. Tahun '49, 10:14 Profesor Yohanes kedokteran. 10:16 Setelah berkembang 10:18 enggak apa? 10:20 Diundang oleh Sultan untuk 10:22 kuliah di di Pagelaran itu 10:25 enggak hanya Pagelaran, Pak. Rumah-rumah 10:27 bangsawan di belakang Pagelaran itu 10:29 namanya Ngasem. Emm. Itu dipakai. 10:33 Ya, Fakultas Kedokteran, 10:35 Farmasi, Kedokteran Gigi itu di Ngasem. 10:38 Bangunannya bangunan Belanda itu, ya? 10:40 Bukan 10:41 Jawa. Jawa. Jawa, bukan Belanda. Oh, 10:43 tapi yang bangun bukan Belanda, bukan? 10:45 Bukan. Bangsawan-bangsawan itu bikin 10:48 keraton kecil-kecil. Nah, 10:50 makanya eh 10:52 anak-anak Kedokteran, Kedokteran Gigi 10:54 sama Farmasi itu sombong. Dia punya 10:57 kelompok namanya Mamakonga. 10:59 Oh, iya, betul. Mamakonga, iya. 11:01 Masyarakat mahasiswa kompleks Ngasem. 11:05 Rajin zakat, zakat fitrah. 11:07 Mamakonga. Mamakonga. Sampai sekarang 11:09 masih aktif itu? Aktif, tapi sudah sudah 11:13 tua-tua kayak begini. Nah, mereka suka 11:15 gangguin kita di 11:18 Pagelaran itu karena apa? 11:20 Rata-rata hukum, ekonomi, sosial, 11:22 politik, ceweknya cantik-cantik. Iyo. 11:24 Mamakonga kurang, lha, ekspansi gitu. 11:28 Iya, rame. Itu Jogja, coba dulu. Oke. 11:30 Kalau ukuran kemewahan pada situ tuh apa 11:32 tuh? 11:34 Kayak motor mewah aja ya? Yang mewah tuh 11:36 yang motor. Motor, kalau restoran itu 11:39 apa? Warung. 11:40 Jajannya apa? 11:41 Warung bakso. 11:43 Warung. Tak neng ngendi yo? 11:45 Paling, ya Allah, mak. 11:48 Waktu itu ya. Bisa ngajak ke es krim, es 11:51 krim ya, es krim. 11:53 Tip Top, weh itu sudah mewah banget. 11:55 Weh. Sudah kaya itu. Es krim Tip Top ya. 11:58 Top. 11:59 Sudah. Luar biasa. 12:01 Terus kos-kosan. 12:02 Bayarnya berapa waktu itu? Eee pertama 12:05 750 rupiah. Satu pensiun saya 1.000, 12:09 1.500. 12:12 Rupiah. Enggak ada TV itu ya di 12:13 dalamnya? Ya Allah, radio aja enggak 12:15 ada. 12:16 Dan itu rumah ya? Rumah. Bukan dalam 12:19 bentuk los kayak sekarang itu kan? 12:21 Indekos. 12:22 Indekos ya? 12:23 Ada tuan rumahnya ya, ada apa induk 12:26 semangnya? 12:27 kalau 1.250 250. Makan. 12:30 Tanpa cuci, cuci sendiri Mas. 12:33 Nyucinya enggak ada Rinso. 12:35 Jadi sabun Sunlight itu diiris-iris. 12:38 Disok banyu panas, nah baru di apa, kum 12:42 satu malam. 12:43 Besok di 12:44 di sumur, loh enggak ada le. Sabun cap 12:47 tangan ya? Sabun cap tangan. 12:50 Malioboro 12:51 belum macet waktu itu ya? Enggak. 12:54 Enggak enggak macet. Enggak ada macet. 12:56 Nah, waktu kecilnya Mas An itu apa juga 13:00 kan Bapak itu kepala Jawatan Garam. Tapi 13:03 tadi hanya punya sepeda, terus kalau di 13:05 rumah itu kan punya pembantu banyak 13:07 pasti kan? 13:08 Enggak. 13:10 Meskip, Ayah saya itu mulai tahun 50 13:12 sudah pemimpin cabang. 13:14 Dan PN Garam itu perusahaan yang 13:16 menyediakan garam monopoli. 13:18 Monopoli. Enggak boleh swasta. Jadi 13:20 garam hanya satu merek itu aja? 13:22 Monopoli, banyak PN Garam. 13:24 Dulu ZR OP yang mensuplai zaman Belanda 13:27 terus Jawatan Garam 13:28 terus PN Garam. 13:30 Jadi bapak saya itu sangat menentukan 13:32 semua pabrik butuh garam. 13:34 Tapi ayah saya 13:37 alhamdulillah 13:39 tidak kena penyakit zaman sekarang. 13:41 Darah tinggi? Bukan. Penyakit apa? 13:45 Tebakannya. Maaf. 13:47 Beberapa pejabat negara kita ini banyak 13:49 yang tidak punya integritas. 13:51 Waktu itu integritas dijaga sekali oleh 13:52 ayah saya, termasuk ke bawah. 13:55 Dan 13:56 karena orang tua saya ingin mendidik 13:57 kami 13:59 meskipun kepala jabatan tidak pakai 14:00 pembantu. 14:02 Sengaja? Iya, supaya saya dan kakak 14:05 saya, abang saya 14:07 korve. 14:08 Kalau saya ngepel rumah, bersihkan 14:10 rumah, kakak saya ke pasar belanja. 14:12 Pakai apa waktu itu? 14:15 Kalau di di Medan naik apa? Naik apa? 14:17 Naik sepeda. 14:19 Jadi waktu itu di Medan sama Surabaya. 14:23 Iya. 14:24 Jadi Mas An itu juga tahu harga di pasar 14:27 ya dari kecil ya? Iya. 14:29 Zaman orang laki-laki belum ke pasar 14:31 saya sudah ke pasar. 14:33 Karena 14:34 didikan ibu. 14:36 Kamu harus tahu beratnya orang hidup. 14:38 Meskipun diejek waktu ke pasar itu 14:40 diejek sama 14:42 mbok-mbok pedoro-pedoro itu. Aduh aduh 14:45 aduh jokone cah ayune. 14:48 Gitu. Ya enggak apa-apa. 14:50 Jadi itu 14:51 enggak ada masalah. 14:52 Kalau sampai ibu bapak saya masuk kamar 14:54 saya 14:55 tempat itu tidak 14:57 terlalu rapi seperti itu 14:59 marah beliau. Harus rapi. 15:02 Oke Iwan dan Iwat kami masih berada di 15:04 kediaman Profesor Doktor Djoko Santoso 15:07 Muljono. 15:08 Kita bincang-bincang santailah dengan 15:10 beliau ini pengalamannya luar biasa nih 15:12 ya. 15:13 Oke ya. 15:14 Prof kalau saya lihat baca buku-bukunya 15:16 Prof termasuk religius juga ya. Ada ada 15:19 salah satu renungan Alquran itu surat 15:22 Al-Baqarah 183 dan 184 ee Prof pernah 15:25 mempertanyakan apa yang dipertanyakan di 15:27 dalam ayat itu Prof? Ini ceritanya saya 15:29 waktu saya masih bekerja di BRI tahun 15:32 95. 15:34 Waktu break itu saya ngaji 15:37 di kantor. 15:39 Saya baca itu 15:41 ayat 183 perintah puasa. 15:44 Bismillahirrahmanirrahim. 15:47 Ya ya ayyuhalladzina amanu 15:49 kutiba alaikum siam kama kutiba 15:52 alalladzina min qoblikum la'allakum 15:54 tattaqun. 15:56 Lalu di situ kemudian berikutnya ayat 15:59 184 kan pelaksanaannya. 16:02 Bismillahirrahmanirrahim. 16:04 Ayyaman ma'dudat faman kana minkum 16:07 maridhon au ala safarin maridhon sakit 16:10 safarin berjalan 16:11 faiyyatun min ayyamin 16:13 ayyaman ma'dudat faman kana minkum 16:15 maridhon au ala safarin faiyyatun min 16:17 ayyamin ukhar. 16:19 Kamu boleh enggak puasa. 16:21 Wa'alalladzina yudhiqunahu fidyatun 16:23 ta'amu miskin. 16:24 Supaya kamu memberikan fidyah orang. 16:27 Faman tatawwa'a khairan wahuwa khairun 16:29 lahu. 16:30 Wa'an tashumu khairun lakum in kuntum 16:32 ta'lamun. 16:34 Sudah baik untukmu puasa nanti kamu 16:36 mengerti. 16:38 Lah saya tuh 16:40 mikir itu. 16:42 Ini kok 16:43 dipisah kenapa? 16:45 Enggak saya tidak berpretensi meragukan 16:47 Quran. Quran 1000% betul. 16:50 Tetapi 16:51 Ingin tahu ya? Apa tanggapan saya 16:55 Allah tidak melarang orang ingin tahu. 16:57 Itu sebabnya ada ilmu tafsir. 16:59 Kenapa? 17:01 Untuk itu menurut Ustad tanyalah ke 17:04 ahlinya. 17:06 Nah di BRI itu pada bulan puasa 17:09 ada tiga kali ee ceramah 17:12 ee 17:13 Bulanan atau apa? Enggak rohani. Rohani 17:15 ya? 17:16 ee 10 hari pertama itu eh 17:20 Qosim Nur Syai'an. 17:21 K.H. Qosim 17:22 K.H. Zainuddin Qosim Eh, Zainuddin MZ, 17:25 Zainuddin MZ. 17:27 Orang Betawi. Iya. 17:29 Datang dia. 17:31 Biasanya sebelum ceramah itu 17:33 penceramah 17:35 silaturahmi ke 17:37 eh, dirut. 17:40 Eh, apa kabar, Bi? He Baik. 17:43 Ente gimana? Baik. 17:45 Enggak. 17:47 Antum mau tanya nih. 17:48 Ente ini kan ustaz nih. He. 17:52 Khatam Quran sudah berapa kali, ya? 17:54 Nah, 17:55 gue bingung nih. He. Gue baca Quran 183 18:00 perintah 18:02 puasa. 18:03 Kenapa pelaksanaannya dipisah ke 184? 18:06 Kenapa enggak dijadikan satu saja supaya 18:08 praktis? 18:10 Kenapa? 18:11 Jawabannya sih, ustaz. 18:13 Ente macam-macam saja lu, Bi. 18:16 Ya, sudahlah. Quran itu benar. Iya, gue 18:19 tahu benar. 18:21 Quran itu di Quran. Iya, gue tahu. 18:23 Ente nyaho enggak? 18:26 Enggak. 18:27 Jadi, ente iya. 18:28 Sudah-sudah, yuk ceramah saja, yuk. 18:30 Berangkat. 18:31 Sudah enggak kejawab. He. 18:34 Nah, 18:35 10 hari kedua 18:37 yang ceramah 18:39 ustaz Tegal. Eh, Qosim Nur Syai'an. 18:42 Sahabat saya, Qosim Nur Syai'an itu dan 18:44 angkatan darat. Kakak saya kan di 18:46 angkatan darat kena di kita kena baik. 18:48 Datang. 18:49 Lho, Pak, priye kabare, priye kabare, 18:51 ya? Ah, waras-waras dia kiye, kiye. 18:53 Jagong dingin, jagong dingin itu bahasa 18:55 Tegal duduk dulu. 18:56 Fasih banget, ya. Priye, priye. 19:00 Iya, waras dia, Kak? Waras. 19:02 Iki nyong arep takon kiye. 19:05 Hafal lu, Ra? 19:06 183, 184. Ya, hafal lah. 19:08 Oke. 19:09 Nyong-nyong takon. 19:11 Kenapa kok dipisah na kiye? 183 karo 18 19:16 kok didadekno siji bae. 19:18 Biar praktis, kenapa? 19:20 Lah Mas Ustadz lah Quran kiye bener, 19:23 nyong ngerti bener. 19:24 Ngerti ra ya Mas? Coba jawabannya bahasa 19:26 bahasa Tegal. 19:27 Nyong yo ora teyeng. 19:29 Ora teyeng berarti enggak ngerti. 19:31 Terus priwe? Sudah selesai ceramah bae 19:33 lah, ceramah. Selesai ya? 19:36 Titik, 10 hari ketiga. 19:39 Ilmiahwan, ilmuwan. Dokter Arif Rahman, 19:41 belum profesor itu. Iya, Arif Rahman. 19:43 Sahabat saya. He 19:46 Saya ya ngomongnya secara ilmiah lah. 19:48 Mas gimana? 19:49 Pernah. 19:50 Dia itu diam saja. 19:52 Diam saja, mikir. 19:54 Tahu jawabannya bahasa Inggris? 19:56 Mas I don't even think about it. 20:00 Selesai. 20:02 Tidak tahu. 20:04 Tanya ahlinya enggak tahu. 20:06 Pulang saya. 20:08 Lalu saya bicara bicara sama halaman 20:10 rumah istri saya. 20:11 Diajeng Ning Suryati. 20:13 Nah, ayo Mas kita tanya yang punya. He 20:16 Gitu. 20:18 Nah 20:20 Oke. 20:21 Tahajud. 20:24 Saya Bu 20:25 Kan sendiri-sendiri. 20:27 Pada 20:28 malam ketiga. 20:30 Itu 20:32 saya 20:33 sama istri enggak bisa tahu. He 20:36 Tahu-tahu dijawab. 20:38 Nah 20:39 Saya yakin yang menyampaikan ke saya itu 20:42 malaikat. He Karena manusia kotor. He 20:47 Yang bisa dialog langsung dengan Allah 20:50 itu hanya nabi-nabi tertentu. He Musa He 20:53 Muhammad langsung. He 20:55 Oke? 20:56 Kalau manusia biasanya melalui malaikat. 20:59 Lah saya itu mendapat petunjuknya itu 21:03 menggembirakan sekali. Apa jawabannya? 21:05 Masuk, saya dan istri sama waktu 21:07 dicocokkan. Hmm. 21:09 Begini ya. 21:11 Allah Subhanahu Wa Ta'ala sangat senang 21:13 pada 21:15 pembelajar. 21:16 Hmm. 21:18 Maaf, saya agak terharu. Ya. 21:27 Allah senang 21:30 orang yang menafsir Qur'an. 21:35 Oleh sebab itu 21:38 kau tanya satu 21:40 diberi empat Hmm. jawaban. Hmm. 21:45 Jadi 21:46 apa ya, 21:47 saya memang masih 21:50 apa ya, haru gitu. Ya. Oke. 21:52 Oke. 21:54 Nah, 21:55 apa yang pertama malaikat? Hmm. 21:57 Kenapa dipisahkan 183? 22:01 Karena coba perhatikan baik-baik. 22:04 183 itu. 22:05 Ya ayyuhalladzina amanu. 22:08 Kutiba alaikumushiam kam. Berpuasalah 22:10 kamu 22:11 sebagaimana orang-orang sebelum kamu. 22:15 Betul? 22:16 Betul? Hmm. Nah, 22:18 jadi 22:20 puasa itu ada dua macam. 22:23 Senin Kamis. Sunnah, wajib. Kan ada 22:26 puasa Daud, puasa Senin Kamis. Apa 22:29 namanya, eh, 22:31 Senin Kamis ada puasa Syawal. Ada, 22:33 whatever. 22:35 Ya. Kalau itu ndak perlu ada sanksi. 22:39 Tapi yang 184 ini khusus 22:42 sanksi 22:43 untuk yang wajib 22:46 saja. 22:47 Yang ndak wajib ndak perlu kena sanksi. 22:50 Astaghfirullah, alhamdulillah. 22:52 Ya, ya, ya, ya, terima kasih ya, 22:54 malaikat. 22:55 Lalu apa lagi? 22:57 Dasar orang ingin tahu saya. 23:00 Nah, dia bilang gitu Allah. Tetap kritis 23:02 ya, Mas, ya. Tetap kritis ya. Tetap 23:03 kritis. 23:05 Apa yang kedua? 23:07 Kau perhatikan. 23:10 Awal, eh, akhir dari 23:12 ayat 183 adalah 23:14 ta, ta, kun. 23:17 Tatakun adalah kata 23:19 benda dari sifat tak, apa? 23:21 Takwa. 23:23 Takwa. Apa takwa? 23:25 Takwa adalah sikap berhati-hati dalam 23:28 bertindak. 23:29 Sehingga tidak merugikan dirinya 23:31 sendiri, 23:32 orang lain, 23:33 lingkungan, dan tidak mengundang 23:36 kemurkaan Allah. Itu takwa. Singkat, 23:39 padat. 23:41 Takwa. Lalu apa? 23:43 Nah, 23:45 sudahlah, kalau kamu sama Tuhan, otakmu 23:48 itu cuma 1 liter enggak nyampe. 23:53 Sadari sepenuhnya, 23:55 kalau ingin memahami agama, 23:58 kau harus percaya dulu, takwa dulu, baru 24:01 dibuktikan. 24:03 Tapi kalau kau berbicara mengenai ilmu 24:06 pengetahuan konvensional, dibuktikan 24:08 dulu baru percaya. 24:10 Garam Mas Asep. 24:12 Oh, ya. 24:13 Agama tidak. 24:15 Kau percaya dulu karena kamu enggak 24:17 nyangkep. 24:19 Kau enggak nyangkep. 24:20 Percaya saja. 24:22 Setelah itu, 24:24 maka kemudian 24:26 waladzinayu diqonahu fidyatun ta'amu 24:28 miskin, faman tatawwa'a khairun wahuwa 24:31 khairun lahu, wa antasumu khairun lakum 24:34 in kuntum ta'lamun. Setelah kamu takwa, 24:38 baru kamu paham. 24:41 Baru kamu mengerti. 24:42 Takwa dulu. Sudahlah, sama Tuhan jangan 24:45 kamu. 24:46 Sudah. 24:47 Jangan macam-macam deh. 24:48 Nanti kamu bisa mengerti. 24:51 Nah, setelah itu, 24:53 mengerti? 24:55 Perhatikan baik-baik. 24:57 Ayat yang ke-185. 25:01 Pak ya, itu dia bilang malaikat begitu. 25:03 Apa penutupnya? 25:05 Tas guru 25:06 baca, baca. 25:08 Syahru Ramadhan alladzi unzila fil 25:10 Qur'ani hudan linnasi. 25:13 Wa bayyinatin minal huda wal furqan, 25:15 membedakan yang baik dan jelek. 25:27 Kalau kamu sudah takwa, 25:30 mengerti, kamu akan bersyukur. 25:33 Urutannya seperti itu jadi ya. 25:35 Jadi manusia itu duluan. 25:37 Patuh dulu. 25:39 Nanti mengerti. 25:41 Dan percayalah Qur'an itu baik, kamu 25:44 akan bersyukur. Wah. 25:45 Luar biasa ini. 25:46 Itu yang kedua. 25:48 Satu di mana? Iya ya. 25:50 Yang ketiga apa? 25:52 Nah gini. 25:55 Saya hanya ingin menunjukkan kepada kamu 25:58 manusia, Allah sangat sayang kepada 26:00 umatnya. 26:01 Perhatikan. 26:03 Saya ditanya loh Pak. Saya dialog 26:04 begitu. 26:06 Dalam mimpi? 26:07 Enggak enggak 26:08 salat tahajud kok mimpi mimpi ya. Oh 26:11 salat tahajud ya. 26:13 Apa? 26:15 Perhatikan. 26:17 Dan diperintahkan puasa siapa? 26:19 Ya ayyuhalladzina amanu, bukan ayat nas. 26:23 Ya lalu apa? 26:24 Perhatikan 2 185. 26:27 Syahru Ramadhan alladzi unzila fil 26:29 Qur'ani hudan linnasi. 26:33 Setelah puasa 17 hari, kemarin Pak. 26:37 Nuzulul Qur'an. Ya. Turunlah Qur'an. 26:40 Bukan hanya untuk orang beriman. 26:43 Seluruh manusia yang diciptakan Allah, 26:45 itu menunjukkan Allah sayang sama 26:46 ciptaannya. Berpulang kepada manusia, 26:49 mau dogol apa mau ikut? 26:53 Itu 26:54 Pernah mikir enggak itu? 26:55 Iya, iya. Iya kan? 26:57 Jadi yang diperintah puasa itu yang 26:59 beriman. 27:00 Ehm. Selesai kita 27:02 melaksanakan puasa, di ya di ayi untuk 27:05 semua orang. Bukan syahrul ramadhan 27:08 alaihi shila fil qur'ani huda imanu, 27:11 enggak. Nas. 27:13 Itu buktinya bahwa Allah cinta sama 27:15 kalian. Cuman kalian kadang-kadang 27:17 goblok. 27:19 Iya, iya. 27:20 Lalu yang keempat apa? 27:22 Gini. 27:23 Coba kau putar. 27:25 Kalau kau yakin itu benar 27:27 kau menjadi manusia yang takwa 27:30 berusaha memahami 27:32 dan bersyukur. 27:32 Bersyukur. Kau putar sehari-hari dalam 27:34 kehidupan itu. 27:36 Kamu dapat sakit bersyukur. Ehm. Yakin, 27:39 sakit itu menebus dosamu sebelum ditebus 27:41 di sana. Ehm. 27:44 Dapat rezeki bersyukur. Bersyukur itu 27:47 apa? Bersyukur itu 27:49 ya, berbagilah. 27:51 Memanfaatkan sebaik mungkin ya. 27:53 Sampai diingatkan, ingat. 27:56 Ingat ibadah yang nomor tujuh. Surah 28:00 Wa idza adana robbu la isya kartum la 28:02 adidanakum wa la in kafartum inna adzabi 28:04 la syadid. 28:05 Bersyukurlah kalau dapat, nanti 28:07 dilipatgandakan rezekimu. Kalau kau 28:09 ingkar 28:11 ingkar adzabku sangat pedih. 28:13 Bersyukur. 28:15 Kalau sudah 28:16 tatakun taklamun 28:19 apa? 28:20 Tas syakur. 28:21 Syakur. 28:22 Masuklah ayat 186. Masya Allah. 28:25 186 28:28 Wa idza saalaka ibadi 28:30 an ni fa ini qaribun 28:32 ujibu da'wata da'i idza anifaliastajibu 28:35 li wal yu'minu bi la'allahum yarshudun. 28:38 Ehm. Jadi 28:39 hai Muhammad kalau ada orang bertanya 28:41 kepadamu 28:43 di mana aku? Aku sangat dekat. Qarib itu 28:45 dekat loh. Maka banyak musuh. 28:48 Sahabat karib gitu ya? Sahabat karib. 28:50 Di 28:51 urat nadi. Di urat nadi. 28:53 Urat nadi pun. 28:55 Anu, aku. Mengabulkan. 28:58 Doamu, kalau kau bermohon kepadaku. 29:02 Aku mengabulkan doa doa orang yang 29:04 memohon kepadaku. 29:07 Tetapi ingat. Patuhilah aku. 29:10 Patuhilah semuanya. 29:11 Semua itu akan jadi, ya rasulun. 29:14 Kamu 29:16 akan menemukan kebenaran, sebagai 29:17 petunjuk. Masya Allah. Jadi, orang yang. 29:20 Yang. 29:21 Takwa, memahami, bersyukur. Dia akan 29:24 mendapatkan petunjuk. 29:27 Dan itu di dilakukan. 29:29 Terus menerus dalam kehidupannya. 29:32 Terus menerus. 29:33 Itu yang. 29:36 Saya temukan dan, saya bersyukur sekali. 29:38 Itu yang ketiga keempat tadi itu? 29:40 Empat. Empat ya? 29:41 Keempat. Yang pertama, beda. 29:43 Kedua. 29:45 Tak, tak takun, tak lamun, tak syukurun. 29:49 Ketiga. 29:50 Untuk. 29:51 Yang diperintahkan puasa adalah, yang 29:53 beriman, yang diberikan hadiah, semua. 29:56 Semua. 29:57 Yang keempat, tadi itu. 30:00 Aku mengabulkan doa, mereka yang memohon 30:03 kepadaku. 30:05 Selama dia memohon kepadaku. 30:07 Ya. 30:08 Kemudian. 30:09 Asal mereka mematuhi 30:10 perintah-perintahku, nanti mereka 30:12 mendapatkan kebenaran. 30:14 Jadi. Uratannya, tak takun, tak lamun, 30:18 tak syukurun, ya rasulun. 30:21 Subhanallah Yuhana Nawawi, selain beliau 30:24 ini Profesor Doktor Djoko Santoso 30:26 Muljono, menulis buku-buku yang sifatnya 30:28 keduniaan, tapi ternyata. 30:31 Perhatian dia kepada Alquran luar biasa, 30:33 cukup pemahamannya ya, kita ini break 30:36 dulu, nanti setelah ini kita lanjutkan 30:38 lagi, Yuhana Nawawi kami masih berada di 30:41 kediaman Profesor Djoko Santoso 30:44 Mulyono. Nanti kami akan kembali setelah 30:47 yang berikut ini. 31:24 Radio Silaturahim yang dipancarkan dari 31:26 Jalan Masjid Silaturahim 36 Kalimanggis, 31:29 Cibubur. Masih di acara Sahur Bersama 31:31 Tokoh. 31:33 Memang kami sedang berada di kediaman 31:35 Profesor Doktor Djoko Santoso Mulyono. 31:39 Kami juga ditemani oleh Mbak Utari Nur 31:42 Permadi. Mbak Utari mau bertanya apa 31:44 selanjutnya? Silakan. 31:45 Saya jadi ingat pada tahun 2000-an itu 31:48 ada ada di koran ya, cukup menggegerkan 31:51 bahwa BRI waktu itu kan Mas An sebagai 31:54 Dirutnya. BRI mendapatkan prestasi 31:57 karena satu-satunya bank yang 31:59 berprestasi terbaik pada saat 32:03 itu. Tetapi sebagai Dirut 32:07 Mas An malah tidak lulus fit and proper 32:08 test. 32:10 Itu ceritanya bagaimana itu? 32:12 Hah? Boleh dibagi enggak? 32:15 Ya, boleh tapi agak panjang ya. 32:18 Ya, saya mohon maaf kalau ada yang 32:19 tersinggung saya cerita ini. Versi 32:21 pendeknya saja. 32:23 Begini. 32:25 Januari tahun 2000, saya itu dipanggil 32:28 Menteri Keuangan. 32:30 Menteri Keuangan waktu itu Profesor 32:32 Doktor Bambang Sudibyo. 32:34 Beliau dengan sangat 32:36 happy menyalami saya mengatakan 32:39 Pak Djoko congratulation 32:41 your bank is the first class bank in the 32:43 crisis. 32:45 Karena hanya Bank Rakyat Indonesia yang 32:46 bisa menurunkan biaya rekap yang sudah 32:48 diputuskan presiden. Ehm. Bank lain 32:51 naik. Ehm. Bank kami 31,4 32:54 triliun Ehm. biaya rekapitalisasi 32:57 pemegang saham menjadi 29,8. Wih, luar 33:00 biasa. 33:01 Lebih dari hampir 1 triliun kurang. 33:04 Kedua, hanya Bank BRI yang boleh ekspor. 33:08 Ehm. Ehm. 33:10 Hanya Bank BRI yang pada waktu itu 33:13 bulan September sudah untung. 33:16 Jadi saya diberikan apresiasi oleh 33:19 kami direksi bukan saya, direksi Bank 33:21 BRI. 33:23 Wah, 33:24 dipuji ya senang dong masa enggak, 33:26 enggak munafik. Ehm. 33:28 Buntutnya yang enggak enak menteri itu. 33:30 Apa itu? 33:32 Ya Pak Djoko congratulation your bank is 33:34 your is a first class bank, but you have 33:37 to resign. Lah, kok bisa begitu? 33:39 Ya saya ya kaget waktu itu. Loh, 33:42 Pak, 33:43 ini dipuji apa dimisuhi? 33:46 Habis dinaikkan dibanting aja. Saya 33:48 bilang, 33:49 why? 33:50 Dia yang tanya. 33:51 Saya harus tanya Pak Djoko, why? 33:56 Kenapa? Kenapa saya? 33:58 Washington don't like you. Ehm. 34:01 Waktu itu, 34:02 ucapan saya apa? Alhamdulillahirobbil 34:05 Loh, 34:07 wong dipecat kok alhamdulillah. Lah iya. 34:10 Saya itu anak turunnya langsung 34:13 yang namanya Sultan Agung 34:14 Hanyokrokusumo. 34:16 Penakluk VOC. 34:19 Penakluk asing. 34:21 Kalau yang mecat sampean sama Gus Dur 34:22 saya nangis. 34:23 Kalau yang mecat Washington 34:25 alhamdulillah. 34:27 Gitu. Ini Prof, kenapa berani melawan 34:30 lembaga yang internasional ya Prof, 34:32 kenapa Prof? Karena saya takut. Takut, 34:35 apa yang ditakutin? Gini. 34:40 Justru karena takut malah melawan ya? 34:42 Gini. 34:44 Saya kalau sudah bicara Tuhan, gini. 34:51 Saya itu 34:53 memegang 34:54 bagi saya ya 34:56 Qur'an itu segalanya. Iya. Oke. 35:00 Waktu 35:01 waktu sekolah saya itu enggak pintar 35:02 gitu loh. Nah 35:04 dengan saya diangkat jadi Dirut 35:06 itu saya yakin 35:08 yang nyuruh Tuhan. Ehm. Ehm. 35:12 Begini ya. Yang ngangkat saya itu 35:15 Habibie Minan Nasution 35:16 Presiden Menteri. Iya. Tapi di atas itu 35:20 menurut ayat suci yang saya baca 35:23 itu Allah. 35:27 Ayatnya Ali Imran 35:29 26 27. 35:32 Mau dibacain enggak? Dibacain saja. Iya. 35:34 Bismillahirrahmanirrahim. 35:36 Qulillahumma qul 35:38 qulil mahuma malikal mulki tu'ti mulka 35:40 mantasa wa tu'izzu mantasa wa tudzillu 35:42 mantasa bi yadikal khairu innaka ala 35:45 kulli syai'in qadir. 35:46 Qul. 35:48 Katakan. 35:49 Ya. 35:52 Rezeki 35:54 jabatan, pangkat semua itu aku yang 35:56 menentukan. Ehm. 35:58 Aku menentukan siapa yang ku muliakan, 36:02 tu'izzu. 36:03 Dan aku yang menentukan siapa yang 36:04 kuhinakan 36:06 tudzillu. 36:07 Di tanganku yang baik-baik saja. 36:09 Jadi berarti 36:11 saya mimpin di BRI itu karena 36:13 qulillahumma malikal malik malika 36:17 tinggi apa? Malik berkuasa. Yang 36:19 berkuasa. 36:19 Beliau menentukan. 36:22 Saya dititipi BRI untuk dimajukan. 36:26 Oke. 36:27 Kalau kemudian saya takut kepada 36:30 Washington, kepada menteri 36:32 kemudian oh iya iya sudah. Anda tahu 36:34 enggak? 36:35 Selama jalan itu, maaf ya enggak tanya. 36:39 Kenapa saya mau? 36:40 Sejak awal itu organisasi internasional 36:43 itu maksa BRI menutup cabang. 36:46 Mana memaksa BRI untuk merger. 36:49 Menutup cabang atau menambah cabang? 36:51 Menutup. Menutup. 36:52 Loh banyak yang menutup cabangnya. Loh 36:55 waktu waktu itu 150. 36:58 Disuruh tutup, diserahkan ke saudara 37:00 tuanya BNI sama Mandiri. 37:02 Apanya yang lebih tua kita? 37:05 Kenapa? 37:06 Maaf, itu taktik 37:08 imperialis. 37:10 Mana yang paling baik, bunuh. 37:13 Supaya bank asing bisa masuk ke desa. 37:14 Oh. Mana mau saya, tak usir Mas. 37:18 Saya usir keluar dari kantor saya. 37:21 Kenapa? 37:22 Saya takut Pak. 37:23 Kalau saya mematuhi mereka supaya 37:26 jabatan saya tetap ada 37:28 saya kufur Mas. 37:30 Enggak takwa lagi. 37:33 Saya kufur nikmat. 37:35 Masya Allah. Jadi 37:38 sudah. Saya lalu 37:40 ya sudah ya Allah. 37:42 Aku patuh padamu ya Allah. 37:44 Saya ikuti Ali Imran. 37:46 Jangankan jabatan. 37:49 Ya. 37:50 Ali Imran 27 jelas sekali. 37:53 Tuli julai lafin nari wa tuli julna rafi 37:56 laili. 37:57 Watu krizu la ya minal mayiti watul kizu 38:00 mayita minal hayyi watar zuku bi khoiri 38:03 hisab. 38:05 Jangan kok jabatan. 38:07 Dia menjadikan siang jadi malam, malam 38:09 jadi siang. Hidup jadi mati, mati jadi 38:11 hidup. Di tangan beliaulah rezeki. Warar 38:14 tar zuku 38:15 bi khoiri hisab yang tidak bisa 38:17 diperhitungkan. Itu saya pikir. 38:20 Orang boleh menolak. 38:22 hatinya Mas Aan itu dalam syok itu itu 38:25 ya? 38:26 Bukan bukan sembarangan, hiduplah dengan 38:28 Quran. 38:30 Gitu loh. 38:31 Ya sudah. 38:32 Dihina, Pak. 38:34 Bahkan maaf 38:36 enggak ditanya 38:37 caranya mereka itu loh ya. 38:39 Sudah sudah, saya enggak diluluskan, 38:41 tidak lulus, fit and proper test tanpa 38:43 test. Itu cara mereka. 38:46 Cara mereka. Dan sampai hari ini 38:49 itu orang-orang asing belum berhenti 38:50 menghancurkan lembaga kita. 38:52 Menjatuhkan orang-orang yang baik. Kita 38:54 harus terus waspada ya. Tetap waspada. 38:57 Sudahlah 38:58 itu saya pengalaman pribadi. 39:01 Enggak bisa. Saya percaya pada Tuhan. 39:04 Sudahlah. 39:05 Rumusnya sederhana, takwa itu apa? Mau 39:07 diatur Tuhan, selesai. Gitu loh. 39:11 Jadi, Prof ini dalam menjalani hidup ini 39:13 memimpin itu, memimpin itu semua pakai 39:16 Alquran panduannya ya? 39:18 Ya apa lagi? 39:20 Apa lagi? 39:21 Kembalinya ke Quran. 39:23 Sebutkan satu. 39:24 Sebutkan ilmu yang enggak ada di 39:25 Alquran. Semua ada di Quran. Semua ada? 39:28 Bahkan ilmu IT ada ya? Ada. Tapi yang 39:31 menarik nih ya, Mas Krisna ya. 39:33 Eee beliau ini kan itu tadi, bangkir, 39:36 tayangan kita kan tertata, very 39:39 cultured, berbudaya gitu kan, bahasa 39:41 Jawa. 39:42 Tapi kalau pada saatnya perlu, misuh ya 39:45 bisa, 39:46 ngamuk ya bisa gitu. 39:50 Kalian jangan salah ya. 39:52 Kalian itu kadang-kadang salah 39:53 mengartikan sikap orang Jawa. Iya, 39:56 mungkin kebanyakan berasumsi 39:59 itu seperti Jepang. 40:01 Eee Komitmen tinggi, achievement tinggi. 40:04 Eee Dan bukan kelemak-kelemek gitu, 40:05 enggak. Oh begitu. 40:07 Jadi, yang dibilang Mataram. Jadi, yang 40:10 dibilang 40:11 alon-alon waton kelakon itu maknanya 40:13 kita menafsirkannya nya tuh ya? 40:17 Alon-alon waton kelakon itu apa? Jangan 40:19 tergesa-gesa. 40:21 Tapi ya sistematis. 40:22 Memperhitungkan. Ikuti proses. Ikuti 40:24 proses. 40:25 Tapi bukan kok lalu menjadi apa? 40:28 Kelema-keleme. Kelema-keleme ndak. 40:31 Saya saya 40:32 Jawa apa? 40:34 Jawa Mataram bukan Jawa Solo jajahan. 40:37 Mas Krishna dulu sekolahnya di mana? Kok 40:39 sampai enggak tahu pagelaran di Jogja 40:42 itu. 40:42 Oh saya di Jakarta. Oh iya ya. Sekolah 40:44 tinggi publik. ISTN. He em. 40:46 Tahu nya Kanisius. 40:50 Oke. 40:51 Kalau enggak salah Pak ya. 40:53 Ayatnya berapa ya? Saya itu pernah 40:55 membaca 40:56 ada ayatnya ya, ada ayatnya itu 41:01 eh 41:02 malaikat menghadap Allah 41:05 dalam perjalanan panjang selama 50.000 41:07 tahun. 41:09 Sehari seperti 50.000 tahun di waktu mu. 41:15 Itu Al-Furqan kalau enggak salah. Ada 41:17 itu. Berarti 41:19 quantum leap itu sudah ada. 41:21 Eh berikutnya apa? Eh 41:24 Pak 41:25 A 41:26 Ali 41:27 Prancis menemukan di Timur Tengah ada 41:31 laut 41:32 yang 41:34 ini asin 41:36 yang ini segar tawar. Bersatu tapi 41:38 enggak enggak enggak ini enggak nyampur 41:40 enggak nyampur ya. 41:40 Berdampingan tetapi tidak 41:42 sini Pak di Quran saja sudah 41:45 Surah Ar-Rahman itu. 41:46 Ada tuh. 41:47 Jadi 41:49 apa yang you mau bantah Quran? Semuanya 41:51 ada ya. Semuanya ada. 41:53 Semua ada. He 41:54 Enggak mau oleh sebab itu saya 41:57 maaf ya Mas bukan ini bukan 41:59 berlebih-lebihan ini bulan puasa bukan 42:01 ria bukan 42:02 saya mewajibkan diri saya 42:04 sebenarnya membaca minimum 42:07 minimum 42:08 ngaji 42:09 kalau panjang-panjang 20 ayat. 42:12 Termasuk terjemahannya ya? 42:13 Iya. Caranya apa? Murotal, kita baca 42:16 terjemahannya. 42:18 Ya, murotal kan kupingnya ikut. 42:23 Kedua, 42:24 saya saban hari membaca Yasin. 42:27 Kenapa, Pak? 42:29 Ini ilmu. 42:31 Bukan bukan bukan bukan tahayul. 42:34 Saya percaya, 42:36 alam ini diatur oleh dua energi. 42:39 Negatif dikuasai setan, positif dikuasai 42:41 malaikat, betul? Iya, betul. 42:44 Kemudian, 42:46 Allah itu sayang sama kita. Eh, 42:48 hati-hati kamu jangan keblasuk negatif. 42:50 Ini tak kasih petunjuk. 42:53 Alquran itu. Petunjuknya Alquran. 42:56 Kau ikuti situ. 42:58 Kalau kau ikuti situ, 43:00 seluruh energiku 43:02 yang positif akan masuk ke dirimu, 43:04 melindungi kamu. 43:07 Jadi, kita 43:08 makin mendekat kepada beliau. 43:10 Gitu loh, Mas. Iya. 43:12 Tangkap. Iya. Kata malaikat beliau 43:15 datang. Makanya ada kata-kata apa, 43:17 Ustaz? Kau mendengar satu ayat suci, 43:20 kamu dapat pahala. Kenapa? Pahala itu 43:22 apa? 43:23 Energimu bertambah. 43:26 Kayak an puisinya Taufik Ismail ya, 43:28 "Engkau dekat, aku dekat." Loh, kalau 43:31 itu Bukhari. 43:33 Itu itu hadis qudsi. 43:36 Hadis qudsi mengatakan, 43:38 ya, 43:41 "Kalau kau 43:43 mendekati Allah dengan berjalan, Allah 43:45 menyambutmu dengan berlari. 43:48 Kalau andai kata kau mendekati Allah 43:50 sejengkal, 43:52 Allah mendekatimu sedepa." 43:56 Jadi, Itu sayangnya Allah Iya. Kita tuh 43:58 yang dogol. 44:01 Oke, Mas ya. Itu itu sampaikan. 44:03 Jadi, dengan demikian, you dapat 44:05 teladuni. 44:06 Kemudian ada satu lagi, Mas. 44:10 Ummul kitab itu kan 44:11 Al Fatihah. 44:13 You baca Al Fatihah tiga kali sama Quran 44:15 apa? Khatam. 44:17 Wae. 44:19 Kalau Anda baca pelan-pelan ya. 44:23 Bismillahirrahmanirrahim, 44:24 alhamdulillahirobbil alamin, 44:25 arrahmanirrahim, maliki yaumiddin. 44:29 Iyyaka na'budu. Lah ini kan untuk Tuhan. 44:34 Wa iyyaka nasta'in. Ini mulai untuk 44:37 kita. Ihdinash kita minta. 44:39 shiratal mustaqim 44:40 Biasakan Mas, pada waktu baca Al 44:43 Fatihah. Iya. Di titik ini itu Anda 44:45 membaca dengan kedalaman hati. 44:49 Hah, gitu. 44:53 Masuk. 44:55 Iyyaka na'budu 44:58 wa iyyaka nasta'in. 45:01 Di sini misalnya, di titik itu you waktu 45:03 salat itu bacanya betul-betul 45:05 konsentrasi. 45:07 Nanti di sini berarti apa? 45:10 Kita dekat dengan Allah. 45:12 Dekat ya lah dunia Mas. 45:15 Bu, enggak ada yang istimewa. 45:17 Petunjuknya semua lengkap, cuman kita 45:19 dogol enggak mau mempelajari. Iya wan an 45:21 awan, Prof Djoko ini anu loh, 45:23 bukan-bukan Ustad tapi pengetahuan 45:25 agamanya luar biasa. Saya juga ingin 45:27 tanya, bagaimana Prof dengan kondisi 45:30 keuangan yang alhamdulillah rezeki Allah 45:32 kasih 45:33 ke Prof ini besar sekali ya, tapi 45:35 bagaimana cara Prof mendidik anak-anak? 45:38 Begini ya. 45:39 Yang harus saya 45:41 akui 45:42 peran istri sangat tinggi. 45:45 Ya. 45:46 Saya beruntung diberi jodoh oleh Allah 45:48 ya 45:49 Diah Ajeng Ning Setyawati itu. 45:51 Anak Jenderal tunggal tapi kerasnya 45:54 kalau di rumah bukan main. Ehm. Contoh 45:56 ya. 45:57 Dia mewajibkan 45:59 semua anak-anaknya kalau pergi pamitan. 46:02 Ehm. 46:03 Orang Jawa kan orang Islam cium tangan, 46:05 ya pamitan. 46:06 Kedua. 46:07 Kami sangat menghormati di rumah ini 46:09 membenahi keluarga dengan secara 46:13 budaya Jawa yang Islami. 46:16 Jadi di rumah kami ini kita semua bahasa 46:17 Jawa. 46:18 Sampai sekarang masih 46:20 bahasa Jawa ya? 46:20 Lah dapat mantu-mantu bukan Jawa ya 46:22 terpaksa ngalah. 46:24 Tapi 46:26 budaya tetap dipegang. 46:28 Kedua, istri saya sangat memegang 46:31 disiplin. 46:33 Saya ikuti. 46:34 Contoh disiplin. 46:37 Salat ya salat. 46:39 Jadi bahkan kami itu 46:40 mem-mem-mem-mem-mem-mem-mem-mem 46:43 apa ya mendahulukan kebersamaan. 46:46 Contoh apa ya? Sederhana. 46:48 Waktu anak saya sekolah di Gadjah Mada. 46:52 Dia kalau mau ujian dia kasih daftar, 46:53 "Bu, saya ujian jam sekian." 46:55 Detik dia ujian jam 09.00 pagi, 46:58 kami semua yang di Jakarta berdoa. 47:00 Haduh, semua salat ee sunah mutlak. 47:05 Saya di kantor sunah mutlak. 47:07 Mendoakan. 47:09 Si anak tahu bahwa dia didoakan. 47:13 Dia tahu enggak? Energi positif Allah 47:15 itu mem- Masyaallah. 47:17 Luar biasa ini ya. 47:19 Gitu. 47:19 Dia sekolah di Pittsburgh, luar negeri. 47:22 Santi di Lebanon. 47:24 Lapor, "Bu." Lah di sana pagi malam. 47:26 Kita menunda salat Isya 47:29 untuk mendoakan mereka. 47:30 Dan mereka tahu didoakan. 47:32 Karena kebersamaan. 47:34 Nah sampai sebegitu 47:36 Tapi harus kasih tahu jamnya daftar 47:37 sudah Harus tahu. Harus tahu ya. 47:39 Berikutnya apa? 47:40 Sekarang zaman modern. 47:42 Semua pakai handphone. 47:44 Makan 47:45 malam makan siang bersama, makan pagi 47:47 bersama. Oh hati-hati kamu. 47:51 Istri saya apa? Kumpulkan semua HP, 47:53 kumpul. HP-nya ditahan. 47:55 Disita dulu. Sita. 47:57 Kenapa? Enggak ada kerjaan 47:59 di HP. jangan ruben. 48:01 Ah, ah, 48:02 lu ngomong kita, anak-anak yang 48:04 cucu-cucu itu, Mbak aku, saya juga 48:05 kehilangan order loh. 48:07 Bu, aku 48:09 taruh. 48:10 Kita sekarang makan, kita dalam 48:13 kebersamaan. Ayo kita bicara, jangan 48:15 kehilangan kemanusiaanmu. 48:17 Kalau enggak diceritakan Mas An, saya 48:20 enggak percaya tuh bahwa Mas, Mbak Ning 48:21 yang begitu lembut ya, bisa 48:24 tangan besi itu loh ya. 48:27 Enggak sih ya, 48:28 untuk kebaikan loh. Dalam modern, 48:31 anak-anak itu kok clubbing malam-malam. 48:34 Istri saya tanya. 48:35 Pulang jam berapa? 48:37 Jam 11.00 Bu. 48:39 Lewat jam 11.00 habis mereka. 48:41 Enggak boleh. 48:43 Jadi istri saya mengajarkan dua, 48:44 disiplin dan kehormatan. 48:47 Hormati dirimu sendiri. 48:49 Baru hormati orang lain. 48:50 Nanti kamu akan dihormati. Itu istri 48:52 tegas ya. 48:54 Kalau anak-anak sekolah di luar negeri, 48:55 bagaimana masalah pembiayaan gitu? 48:58 Ya itu. 49:01 Ya saya bapak ya. 49:03 Direktur utama. 49:04 Gaji gede kan. 49:06 Si Yoyo itu hanya, itu-itu istrinya ada 49:09 tuh mana? 49:10 Hah? 49:13 Sebelum menikah, dia itu dapat 49:15 tunjangan 1.800 dolar, pantai timur 49:18 mahal. 49:18 Enggak cukup. 49:20 Begitu menikah dapat 2.000 dolar. 49:23 Apartemen one bedroom aja 1.200. Enggak 49:26 cukup loh berarti. 49:27 Enggak cukup. 49:29 Lalu sebagian direktur utama yang punya 49:31 duit. Saya bilang istri saya, Bu 49:34 kita kirim Mas 1.000 dolar, masa enggak 49:35 bisa. Hah? 49:37 Buat apa? 49:38 Ya biar dia bisa apartemen lah. 49:40 Loh. 49:41 Emang mahasiswa-mahasiswa dari 49:43 Departemen Keuangan, Pendidikan, 49:44 dosen-dosen itu 49:46 punya orang tua kaya kok semuanya. 49:50 Lalu gimana? Enggak usah. 49:52 Tegas banget. 49:53 Jadi, 49:54 bisa bisanya apa? Menyewa landed house. 49:58 Rumah biasa. 49:59 Rumah biasa, ya, dua kamar tidur, 525 50:02 dolar. 50:04 Tempat di mana orang kulit berwarna 50:06 tinggal. 50:07 Murah kan? 50:08 Iya, iya. 50:09 Dia telepon ibunya. 50:11 Bu dalam nonton bahasa Jawa tinggi. 50:13 Tinggal di 50:14 where the color people live. 50:17 So, jawaban Israel, so what you are 50:19 color? Selesai. 50:22 Saya enggak boleh kasih seribu, enggak 50:23 boleh, Mas. 50:25 Tak kenapa? Mas, 50:27 biar 50:28 gini loh, 50:29 biarkan anak-anak berjuang. 50:32 Kesalahan orang tua adalah merebut hak 50:34 anak 50:36 untuk berjuang. 50:37 Dia akan manja. 50:38 Biar berjuang. Jadi, anak saya itu anak 50:41 dirut, Mas. Jadi, sopir pocokannya anu 50:43 konsulat jenderal. 50:45 Istrinya baby sitter. Nah, waktu ke sana 50:48 gimana? Waktu misalnya pas wisuda atau 50:49 apa? Makanya, makanya, Mas, ini cerita. 50:53 Enggak ada yang tahu kan? Eh. Oh, sampai 50:56 Mas Yoyo selesai wisuda itu, enggak ada 50:58 yang tahu bahwa dia anak dirut. Mau 51:00 lulusan lain. Eh, gimana tuh? 51:03 Salah satu anak direktur utama bank 51:06 pemerintah yang junior saya, anaknya di 51:08 sana, 51:10 sewa apartemen mahal. Masya Allah. Waktu 51:14 dia pulang ke Indonesia, 51:15 ya? Yang ini dirut toh? Itu kan anak 51:17 direktur ya? Itu dititipi Yoyo, dititipi 51:20 Yoyo untuk surat dan barang ke saya. 51:23 Datang ke sini, eh bukan ini, rumah 51:25 dinas di Bukit Bukit Hijau. 51:28 Sebutan ini juga. 51:29 Kaget. Tanya satpam. 51:31 Ini rumahnya Yoyo? He eh. 51:34 Babi ini kok jadi mahal? 51:37 Ini bank. Loh, siapa? 51:39 Dirut. 51:40 Pulang di rumah, Yoyo ditelepon. 51:43 Yo, 51:44 bergaya kok pura-pura kok miskin. 51:47 Ternyata babe lu sama babe gue sama. 51:50 Uh. 51:51 Pura-pura miskin. Tahu zaman nya ayam? 51:53 Enggak. 51:54 Gua memang miskin. Lu yang pura-pura 51:56 kaya. 51:58 Iya sih. 51:59 Jadi 52:00 eee 52:01 pemahaman ini anak-anak terima sebagai 52:03 yang benar. 52:05 Mereka tidak mengeluh ya? Enggak. Dan 52:07 yang yang luar biasa dari ceritanya Mas 52:09 An ini, Mas An kan kalau orang laki-laki 52:11 biasanya kan ya maunya aku gitu kan, 52:14 apalagi yang punya kekuasaan sebegitu 52:16 besar. Tapi kok dengan istri itu bisa 52:19 sepaham, stereo. 52:20 Karena malah lebih keras istri ya? Heeh, 52:22 bukan karena dia rasional. Emm. Anu, 52:25 praktis. Waktu menikah dulu memang ada 52:27 perjanjian bahwa kita satu aturan gitu. 52:29 Ada. 52:31 Kita sekarang punya bendera. 52:33 Jangan orang tuamu dan orang tuaku 52:34 mempengaruhi. 52:37 Bendera kita, selesai. 52:39 Gitu. Itu 52:40 jadi 52:42 waktu 52:43 reasoning aku kasih 1000 dolar ke orang 52:45 reasoning dia benar. 52:47 Kenapa kita merebutkan anak untuk 52:48 berjuang? 52:50 Ayo. 52:51 Dia kan berjuang mati-matian. Ya nanti 52:53 dia bangga. Anda tahu Mas? 52:56 Waktu saya direktur utama, saya kan bisa 52:58 kasih KTP ke dia. 53:00 Untuk anak-anak bekerja di bank. 53:01 Tapi tidak dilakukan. Mereka enggak mau. 53:04 Sampai segitunya ya? 53:06 Luar biasa. Ma, Pak, Bu, biar saya cari 53:09 kerja sendiri. Santi itu diterima di 53:12 Jenderal Soedirman Sekuritas sampai dia 53:13 jadi direktur. 53:15 Jadi waktu dia lulus 53:17 direktur utamanya kan junior saya, 53:19 telepon. Mas, Santi anakmu. He eh. 53:23 Loh kok enggak ngomong sama saya? Lah 53:24 dia enggak boleh. 53:27 Jadi 53:28 apa ya, to be yourself itu ditanamkan 53:30 oleh istri dan saya dukung. 53:32 Kenapa saya harus bantah, Mas? 53:35 Jadi jangan orang laki-laki itu mau 53:37 menang sendiri enggak boleh. 53:39 Menangnya bersama ya? Sama. 53:41 Ini ada pertanyaan saya dari saya 53:43 terakhir nih. 53:44 Karena saya senang sekali Mas Andi 53:47 dalam keluarga itu masih memakai bahasa 53:49 Jawa yang halus, itu kan susah sekali. 53:53 Kemudian eh dalam kesempatan waktu itu 53:55 menghadiri eh wisudanya Mas An sendiri 53:58 juga mengenakan 54:00 pakai pakai ya memakai busana Jawa waktu 54:05 di MIT. 54:06 Siapa sih tokoh wayang yang digemari 54:09 oleh Mas An, idolanya? 54:10 Gatotkaca. Oh, Gatotkaca. 54:12 Gatotkaca. Kenapa? 54:15 Ya, kenapa ya? 54:17 Dia itu 54:18 pejuang 54:20 yang mendahulukan negara dan apa 54:24 kebenaran 54:26 kebenaran Kalau perlu mati. 54:28 Mati dia. Oke, oke. Dia 54:30 dia mati supaya Kunto itu enggak kena 54:32 pamannya 54:33 Arjuno, untuk dia. 54:35 Arjun. Saya anu Gatotkaca. 54:37 Eh Werkudara iya, tapi 54:40 Werkudara itu kadang-kadang enggak tahu 54:42 aturan gitu kadang-kadang apa 54:43 enak nya gitu ya. 54:45 Kuntadewa enggak karena terlalu halus. 54:47 Kalau tokoh sahabat Nabi yang saya 54:50 idolakan Umar bin Khattab. 54:53 Yang tegas ya. Tegas, jelas. Baik, ya. 54:55 Baik, mungkin ini pertanyaan terakhir 54:57 yang saya ingin tanya. Bagaimana 54:59 pendapat Prof mengenai Hamengkubuwono 55:01 ke-9? Pernahkah berdialog dengan beliau? 55:04 9 Ya. 9 itu pahlawan nasional dalam arti 55:08 sebenarnya. Ehm, kenapa? 55:11 Lihat ya. 55:13 Waktu Clash ke-2 55:15 Belanda dengan kurang ajar melanggar 55:17 perjanjian Linggarjati menyerbu Jogja 55:20 sebagai ibu kota 55:22 tentara pelajar dan TNI semua lari 55:24 bersembunyi di keraton. 55:26 Keraton. 55:28 Dikejar oleh satu apa batalion tentara 55:32 Belanda. 55:33 Dia tahu enggak? 55:34 Sultan dengan keris dan baju jawanya. Di 55:37 belakangnya pasukan Mataram tombak, 55:41 panah, keris. 55:43 Di belakangnya beliau. 55:44 Beliau sendiri yang menghadapi ya? 55:45 Menghadapi ya. 55:46 Di pagelaran. 55:48 Ya. 55:49 Terus kolonelnya Belanda bilang ini. 55:52 Eee Tuan Sultan, saya ingin memeriksa 55:55 istana Tuan karena banyak ekstrimis lari 55:57 ke sini. 55:59 Tahu jawabannya? Jawabannya apa? 56:01 No. 56:03 Pakai bahasa Inggris tuh ya jawabannya? 56:05 Bahasa Inggris. Enggak bahasa Padahal 56:06 beliau jago bahasa Belanda ya. Mondiac 56:07 Tual Legend. No. 56:09 Enggak boleh. Kenapa? 56:11 Bagi orang Islam. 56:13 Orang yang berlindung di rumahnya harus 56:15 dilindungi sampai mati. Masya Allah. 56:17 Tuh. 56:19 Terus? 56:20 Oke. 56:21 Saya bawa pasukan. 56:23 Kalau saya paksa, Sultan mau apa? 56:26 Tahu jawabannya? Bahasa Inggris. Over my 56:28 dead body. Wih. 56:30 Keren. 56:32 Oke. 56:34 Mundur. 56:36 Begitu mundur, Jenderal Spoor marahnya 56:37 bukan main. Kenapa enggak kamu serbu? 56:40 Wooo, berani nyerbu, seluruh Belanda di 56:43 Jogja habis. 56:46 Sultan tuh dihormati orang. 56:47 Satu. Kedua. 56:49 Saya berkesan dengan beliau ya. 56:52 Pertama saya 56:53 pinjam seko rumahnya jadi sekolah saya. 56:56 ASP ya? Saya itu mendapatkan 56:59 kalau 57:00 kalau orang Jawa ketiban daru. Woo. 57:03 Mendapatkan 57:05 anu yang luar biasa, rahmat yang luar 57:07 biasa. Bulan Juni tahun 86. 57:12 Eee ajudan beliau itu telepon saya 57:15 sebagai kepala cabang khusus. 57:17 Belum direktur. Kepala cabang ya? Kepala 57:18 cabang. 57:19 Pak Joko, Sri Sultan mau ngambil uang 57:22 300 mili ya eee juta. 57:26 Rekeningnya di mana Pak? 57:27 Oh, enggak apa-apa. Kami antar. Wong 57:29 biasa gitu kok. 57:31 Kami yang ngantar ke beliau, beliau kan 57:33 penguasa negara dulu. 57:36 Ya sebentar ndak. 57:38 Beliau menghendaki supaya datang 57:40 sendiri. Berarti enggak saya? 57:43 Terus gini-gini, tolong sampaikan kepada 57:46 ngerso dalem. Orang Jawa kalau manggil 57:47 bukan Sultan, ngerso dalem. Ngerso 57:49 dalem. Ngerso dalem yang di hadapan 57:50 saya. 57:52 Nanti diterima direksi. 57:55 Oh ya baik, tutup lagi. 57:57 Enggak. 57:58 Beliau ingin ketemu Mas Joko. 58:01 Saya itu jarang nyembah orang. 58:04 Saya sudah pesan satpam, kalau mobilnya 58:05 datang panggil saya. 58:08 Betul begitu, tapi beliau jalannya 58:09 cepat. Saya ketemu di depan kasir. 58:11 Set, saya nyembah. 58:14 Nyembah Sultan, nyembah saya. 58:17 Enggak mau dia. 58:18 Saya menyembah dengan bahasa Jawa 58:20 keraton. 58:22 Lain loh Mas Jawa itu. 58:23 Antara. Paling tinggi. 58:26 Bukan panjenengan, ndalem. 58:29 Ya. 58:30 Kepada raja enggak boleh, duko 58:31 bramantyo. Masyaallah. 58:33 Duko padik semua, bahasa itu. Saya 58:35 nyembah. 58:37 Ngaturaken sembah bekti, sugeng rawuh 58:39 ndalem. 58:41 Ditarik oleh. 58:44 Diri. 58:45 Hebat apa? 58:48 Bahasa Indonesia. Dia menggunakan bahasa 58:49 Indonesia. 58:51 Sudah Mas, kamarnya mana saya ikut. 58:54 Monggo kawulo derekaken, tetap Jawa 58:56 saya. 58:58 Di situ saya mikir. Kenapa bahasa 59:00 Indonesia? 59:01 Di situ kebesaran hebat beliau. 59:04 Kalau beliau baca Jawa, harus bahasa 59:05 Jawa kasar. 59:08 Sebagai rakyat. 59:10 Bukan perdana menteri, bukan wakil 59:11 presiden. 59:13 Sedang saya pejabat negara. 59:15 Beliau menghormati pejabat negara, 59:16 meskipun kecil dan rendah. 59:18 Masyaallah. Bahasa nasional. 59:21 Itu hebatnya Hamengkubuwono. 59:24 Saya tetap bahasa Jawa tinggi. 59:27 Direksi saya panik, beliau yang turun 59:30 datang Sundo, Surya Perwira bahasa 59:33 Indonesia lagi 59:36 pribadi unggul 59:38 jarang ada 59:40 dan negarawan betul ya negarawan betul, 59:42 bukan negarawan-negarawanan kayak 59:43 sekarang 59:45 oke kawan dan khawat, eh mungkin 59:47 terakhir eh 59:49 pada Prof 59:51 Joko, pesan-pesan untuk pendengar hasil 59:53 ini apa? terutama generasi 59:55 muda ya generasi muda nasehat atau 59:57 silahkan 59:57 juga ada 59:58 nasehat saya cuman tadi itu apa? 1:00:01 eh 1:00:06 jangan jadi penakut 1:00:09 dalam hal apa misalnya? semuanya 1:00:11 kedua 1:00:13 apapun gerakanmu, selalulah 1:00:16 berlandaskan kepada Tuhan 1:00:19 Quran, kalau 1:00:20 kalau yang Kristen 1:00:21 kepada 1:00:22 eh Injilnya 1:00:24 kalau Ali Imran, itu di Kristen ada 1:00:26 Matius 6.13 1:00:28 sama 1:00:31 bahwa 1:00:32 semua dipegang oleh beliau kalau yang 1:00:34 Islam? 1:00:35 di Ali Imran 1:00:37 sudah 1:00:38 pegang itu dan 1:00:40 eh 1:00:42 ikuti cara memimpin 1:00:44 sahabat nabi 1:00:45 setelah Rasulullah wafat Khulafaur 1:00:47 Rasyidin 1:00:49 itu punya prinsip memimpin yang indah 1:00:50 yang saya pakai sampai sekarang 1:00:52 apa? 1:00:53 memimpin adalah kewajiban, amanah, bukan 1:00:57 hak 1:00:58 amanah itu ya amanah dari atasan kita 1:01:01 hablum minannas 1:01:03 dari Allah hablum minallah bukan hakmu 1:01:06 pegang itu anak-anak muda 1:01:08 jadi kamu enggak ngejar dengan cara-cara 1:01:10 yang enggak jujur 1:01:12 dan waktu sudah berkuasa tidak melakukan 1:01:15 eh kesewenang-wenangan ya iya, takwa 1:01:19 jangan merugikan orang lain 1:01:21 iya 1:01:22 jangan mengorbankan bawahan 1:01:25 Ini beliau menulis buku yang bagus nih. 1:01:27 Judulnya The Climbers. Climbers ya? 1:01:29 Boleh di di 1:01:31 berikan satu kalimat singkat. Sebetulnya 1:01:35 Climbers kenapa dijuluki diberi judul 1:01:37 Climbers? Climbers itu mmm 1:01:40 Analogi aja nih. Kan ada. Pemanjat. Iya, 1:01:42 ada Campers. 1:01:44 Campers itu naik berhenti. 1:01:46 Ada yang betul-betul diam. 1:01:49 Climbers. 1:01:50 Itu hanya, Pak. 1:01:52 Langit yang tertinggi. Dia naik terus 1:01:54 mencari sesuatu untuk kemajuan dirinya, 1:01:57 orang lain dan lembaganya. Oh, Pak 1:01:59 Karnan itu Mas An walaupun sudah usianya 1:02:02 38 tahun 1:02:05 Ya baru 38. 1:02:06 Terus ee apa mengembangkan diri. Bahkan 1:02:09 kadang-kadang ee kalau ngobrol itu ada 1:02:11 hal baru yang saya belum tahu, beliau 1:02:13 sudah tahu duluan gitu. Karena Climbers 1:02:16 tadi ya, semangat Climbers ya. Kalau itu 1:02:18 sunah Rasulullah. Mmm. 1:02:21 Utlubul ilmi minal mahdi ilal lahdi. 1:02:25 Itu yang ucapkan Rasulullah. 1:02:28 Ya. 1:02:30 14 abad yang lalu. Orang Barat nyontoh. 1:02:33 You have to learn from cradle through 1:02:35 grave. 1:02:37 Itu orang-orang itu wah itu 1:02:39 Lu tahu enggak itu Rasulullah bukan 1:02:41 Barat. Barat ikut Rasulullah. Masya 1:02:43 Allah, iya betul-betul. 1:02:45 Utlubul ilmi untuk ilmu. 1:02:47 Minal mahdi 1:02:49 Dari lahir. ilal lahdi. Di. 1:02:51 Yang lahad. Belajar dari Kenapa, Pak? 1:02:54 Maaf. 1:02:56 Maaf. 1:02:59 Ilmu Allah itu, Pak. 1:03:01 Menurut Quran. 1:03:03 Nanti tak tunjukkan surahnya. 1:03:06 Itu seluruh laut dijadikan tinta. 1:03:10 Dikalikan lagi ditarikan laut lagi yang 1:03:12 sama, ah gitu enggak selesai. 1:03:16 Jadi ilmu itu 1:03:17 begitu indah sehingga 1:03:19 dengan kita belajar terus itu 1:03:21 kita memper, apa ya? Memperkaya. 1:03:24 Memperkaya diri sendiri dan 1:03:26 kalau apa? Diberi kesempatan Allah apa? 1:03:29 Berbagi. 1:03:31 Saya terima kasih pada Anda bahwa saya 1:03:33 diundang untuk ceramah begini. Kenapa? 1:03:35 Menurut 1:03:37 yang saya pelajari di Quran maupun di 1:03:39 hadis 1:03:41 me, men, menyiarkan satu ayat saja dapat 1:03:44 pahala. Nah, tadi ini berapa ayat? Amin, 1:03:46 amin, ya rabbal alamin. 1:03:47 Bulan puasa, bulan puasa. 1:03:49 Makanya kalau Anda siarkan 1:03:51 orang 10 dengar, aku dapat 10. 1:03:54 Sangu mati. Sangu mati. 1:03:56 Melebihi multi level marketing ini, ya. 1:03:58 Iya, multi level marketing. 1:04:00 Betul, betul. 1:04:01 Oke, Pak Utari, kita sepertinya sudah 1:04:03 dibatasi oleh waktu. Ada kesan terdalam 1:04:05 ini? Kesan? 1:04:06 Terima kasih banyak, Mas An, sudah 1:04:07 memberikan waktu untuk kita. 1:04:09 Mudah-mudahan kita juga punya semangat 1:04:11 sebagai 1:04:12 pendaki gunung yang tidak akan berhenti 1:04:16 sampai 1:04:17 eee, 1:04:18 Nanti. mati, sampai ajal menjemput. 1:04:21 enggak boleh berhenti, Om. Oke, baik. 1:04:23 Apa, ya? Ilmu itu enggak bisa habis, 1:04:25 kok. Iya, malah makin bertambah, ya. 1:04:29 Dan luar biasa. 1:04:31 Terus senang saja. 1:04:33 Saya beritahu, ya, saya tambahkan pada 1:04:34 Anda semua, anak, adik-adik yang muda, 1:04:35 ya. 1:04:37 Jangan Anda buang waktu terlalu banyak 1:04:39 untuk clubbing. 1:04:41 Silakan bergembira ria, memang, tapi 1:04:43 sediakan waktu untuk belajar dan hidup 1:04:46 yang baik. 1:04:47 Tolong. Amin, amin. 1:04:49 Negara butuh anak, anak muda. Mantap. 1:04:51 Sangat butuh, ya. Perhatikan baik-baik. 1:04:54 Menurut studi orang-orang Jepang 1:04:57 70% kesehatan bukan karena fisik. Ehm. 1:05:00 Ehm. Karena pikiran. 1:05:02 Mental. Mental. 1:05:03 Fundamental. 1:05:04 Mental terdiri tiga. 1:05:06 Yaitu yang namanya rasa emosi 1:05:10 intelektual dan iman. 1:05:12 Emosi intelektual dengan iman. Jadi IQ, 1:05:16 EQ dengan SQ ya. 1:05:18 Aku enggak bisa bilang SQ 1:05:19 SQ. Ehm. SI. SI. Kenapa? Spiritual 1:05:23 intelligence. 1:05:25 Q itu bahasa Inggris quotient. 1:05:27 Quotient itu dapat dibagi. Oh, oke. 1:05:30 Mulai intelligent quotient ada. 1:05:33 Hasilnya sekian. Ehm. Sama 1:05:35 gimana orang kurang iman? 1:05:37 Berani-beraninya ngomong SQ, enggak 1:05:38 bisa. SI. Baik. 1:05:40 SI, maaf maaf. Saya guru besar boleh 1:05:43 berpendapat. 1:05:44 Jadi kalau saya SI. 1:05:47 Gimana you ngukur orang sah berpuasa 1:05:49 banyak meludah? Yang benar saja dong. 1:05:52 Belum enggak ada ukurannya. 1:05:53 Hanya Allah yang tahu ya. 1:05:54 Hanya tahu, makanya SI. 1:05:56 Jadi 1:05:58 itu makanya kesehatan itu dijaga oleh 1:06:00 itu Mas. Oke, fisik jaga. 1:06:03 Lari, jalan, berenang, tapi kalau 1:06:06 sikap 1:06:07 agama mengajarkannya. Jangan membenci. 1:06:10 Jangan iri. 1:06:11 Jangan negative thinking. Itu saja lah 1:06:13 pesan saya. 1:06:14 Oke, baik terima kasih Prof Djoko 1:06:17 Santoso. 1:06:18 Iwan dan Rahmat banyak pelajaran kita 1:06:20 bisa petik dari pembicaraan kami dengan 1:06:23 Profesor Djoko Santoso Muljono. Terima 1:06:26 kasih Mbak Utari, Pak Djoko 1:06:28 mudah-mudahan sehat selalu dan terus 1:06:29 bisa agar bisa terus memberikan kebaikan 1:06:32 kepada kita semuanya. 1:06:33 Saya yang juga mau terima kasih. 1:06:36 Pak Krisna dan Mas Jeng Utari dan para 1:06:41 kru sekalian. 1:06:42 Saya tadi dipancing untuk bicara. Kalau 1:06:45 ada ucapan-ucapan saya di bulan Ramadan 1:06:48 ini yang kurang pada tempatnya saya 1:06:51 mohon maaf. 1:06:53 Saya hanya ingin menyampaikan apa adanya 1:06:55 sesuai pribadi saya. Kalau ada yang 1:06:57 menyinggung perasaan saya mohon maaf. 1:06:59 Billahi taufik wal hidayah. 1:07:01 Assalamualaikum warahmatullahi 1:07:02 wabarakatuh. 1:07:02 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:07:04 wabarakatuh. 1:07:05 Baik kawan-kawan kita sudah saja acara 1:07:07 bersama tokoh. Saya Muhammad Krisna, 1:07:09 juga Fajar Hidayat, kemudian Neiza dan 1:07:12 Agus mohon pamit. Wabillahi taufik wal 1:07:15 hidayah. Assalamualaikum warahmatullahi 1:07:16 wabarakatuh. Waalaikumsalam 1:07:17 warahmatullahi wabarakatuh.