Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- Rahatil atar tasduayalil
- maulidi
- min ma
- ahil
- [Musik]
- maulidi
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- Ahmadi
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- ma Ahmadil
- [Musik]
- Abdullah nama ayahnya
- Aminah ibundanya
- Abdul Muthalib
- kakeknya
- Abu Thalib pamannya
- Khadijah istri setia
- Fatimah putri tercinta
- Semua bernasab mulia dari Quraisy
- ternama.
- Inilah kisah sang rasul yang penuh suka
- duka.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullah.
- Bismillah walhamdulillah wasalatu
- wassalamu ala rasulillah
- wa ala alihi wasohbihi wawalah.
- Allahumfna bima alamtana
- waimna ma yanfauna.
- Allahumma zidna ilma warzuqna fahma
- waina hikmah. Allahumiklana majahmatika
- ya arhamarahimin
- alaminum
- ya kar
- siadatul habaib asurafa waadatul ulamail
- fudola
- wa jamiil hadirin alahibbail aizza
- rahimakumullah.
- Alhamdulillah pada pagi hari ini
- kita kembali berkumpul dalam majelis
- rutin bulanan markas syariat pusat
- yang disiarkan langsung oleh Radio
- Streaming FPI, begitu juga radio dan TV
- Rasil.
- Karena itu kita sama berharap semoga
- seluruh jemaah baik yang hadir di tempat
- ini maupun yang mengikuti
- yaitu siaran
- radio maupun televisi.
- Mudah-mudahan hari ini kita mendapatkan
- limpahan rahmat dan barokah.
- Amin ya rabbal alamin. Dan hari ini kita
- mendapat satu kehormatan yang luar
- biasa.
- Hari ini ada tamu kita hadir bersama
- kita bersilaturahmi dengan kita
- yaitu ustazuna alfadil addi ilallah
- Prof. Dr. Muhammad Baharun.
- Beliau salah seorang pimpinan Majelis
- Ulama Indonesia Pusat. Beliau seorang
- akademisi.
- Beliau juga guru besar di universitas.
- Dan beliau termasuk salah satu
- daripada lokomotif
- penjagaan akidah ahlusunah wal jamaah
- yang ada di Indonesia ini.
- Ee kita bersyukur beliau hadir karena
- kebetulan hari ini kita akan
- membicarakan sesuatu yang berkenaan
- dengan akidah.
- Jadi nanti kita minta juga kerelaan
- beliau untuk menyimak, untuk melihat,
- untuk mengkritisi, untuk melengkapi
- apa-apa yang akan kita sampaikan.
- Dan di sini juga ada akhina alfadil Al
- Ustaz Mubarak Dr. Abdul Khair Ramadan.
- Beliau juga
- seorang ee pengurus daripada MUI pusat
- dan beliau juga bergerak di bidang
- pemikiran, di bidang ideologi dan juga
- beliau salah seorang lokomotif daripada
- penggerak GMJ, gerakan Masyarakat
- Jakarta untuk GMJ, untuk Gubernur Muslim
- Jakarta.
- Mudah-mudahan kehadiran beliau-beliau
- ini akan lebih menyemangati kita semua
- dan akan lebih memperkokoh ukhuwah
- islamiah yang ada di antara kita. Amin
- ya rabbal alamin.
- Tema kita hari ini
- adalah
- studi kritis
- yang menjadi kajian Front Pembela Islam
- selama ini
- tentang
- trilogi tauhid Wahabi
- tentang trilogi tauhid. Wahabi.
- Kita akan paparkan nanti apa dan
- bagaimana
- serta ada di mana posisi
- ahlusunah wal jamaah khususnya mazhab
- Imam Asy'ari radhiallahu taala anhu.
- Tentu kalau bicara trilogi tauhid Wahabi
- kita harus clearkan dulu istilah Wahabi.
- Nah, supaya
- ee tidak bias, nah, supaya tidak
- ee menjadi fitnah. Jadi, istilah ini ee
- bukan untuk mengejek,
- bukan untuk menghina,
- tapi istilah ini adalah identitas yang
- di oleh masyarakat umum.
- Nah, karena itu mari kita lihat tentang
- istilah Wahabi
- di mana Wahabi ini
- di samping disebut sebagai Wahabi.
- Kenapa disebut Wahabi?
- Karena dianggap oleh umat sebagai
- pengikut daripada Syekh Muhammad bin
- Abdul Wahab yang mengusung pemikiran Ibn
- Taimiyah dan Ibnul Qayyim.
- Nah, walaupun pemikirannya sebetulnya
- lebih banyak merujuk kepada pemikiran
- Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim, tapi
- para pengikutnya ini lebih dikenal
- dengan sebutan Wahabi. Diambil dari nama
- ayah Syekh Muhammad bin Abdul Wahab.
- Jadi, kenapa disebut Wahabi? Karena
- mereka pengikut Muhammad bin Abdul
- Wahab. Jadi, kata Wahabi diambil dari
- nama ayah Syekh Muhammad.
- Walaupun istilah ini kelompok Wahabi
- tidak terima. Nah, perlu saya berikan
- catatan. Walaupun istilah ini kelompok
- Wahabi tidak terima. Saya di sini tidak
- bicara dia terima atau tidak terima,
- tapi saya bicara label yang menjadi
- identitas yang menyebar di tengah
- masyarakat yang suka maupun yang tidak
- suka.
- Nah, aneka label untuk Wahabi kita
- perhatikan satu,
- mereka disebut ahlul hadis.
- Ini klaim yang sangat mereka senang.
- Nah, mereka kalau disebut ahlul hadis
- mereka terima dan mereka senang. Nah,
- mereka sangat bersahabat, sangat akrab
- dengan istilah ini. Kenapa disebut ahlul
- hadis? Karena mereka mengklaim sebagai
- pengikut ahli hadis.
- Walaupun Imam Syafi'i juga ulama hadis.
- Eah, Imam Malikah itu Syaikhul
- Muhaddisin, itu imamnya para ahli hadis.
- Begitu juga Imam Ahmad ibn Hambal. Siapa
- yang tidak kenal? Imam ahli hadis. Nah,
- jadi kalau Wahabi mengklaim mereka
- sebagai ahlul hadis, sah-sah saja itu
- klaim mereka. Silakan mereka mengklaim
- sedemikian rupa. Tinggal persoalannya
- umat mau terima atau tidak. Itu aja.
- Tapi yang jelas memang label ini cukup
- populer. Jadi kalau disebut ahlul hadis,
- ahlul hadis biasanya kalau bicara soal
- akidah itu ditujukan untuk mereka.
- Nah, yang kedua mereka juga sangat suka
- disebut asari bukan asy'ari. Atari pakai
- saari.
- Nah, kenapa disebut asari?
- Karena mereka mengklaim sebagai pengikut
- ahli asar. Ahli arar sama ahli hadis itu
- sama. Ahli ar. Aar itu
- peninggalan-peninggalan salaf kita. Baik
- dari Nabi maupun dari para sahabat, dari
- tabiin, dari tabiittabiin.
- Makanya mereka senang kalau disebut
- kadang-kadang mereka gunakan atari di
- belakang nama mereka. Umpamanya Dr.
- Fulan bin Fulan bin Fulan Al-Asha. Nah,
- biasanya mereka tulis tuh Al-Asha. Nah,
- biasanya kalau ulama-ulama Syafi'i kan
- ditulis fulan bin fulan as-Syafi'i,
- fulan bin fulan al-Asy'ari. Nah,
- kadang-kadang mereka ditulis fulan bin
- fulan alari.
- Nah, karena memang mereka senang dengan
- label itu. Yang ketiga,
- mereka juga punya label salafi. Nah, ini
- juga mereka sangat senang bahkan bangga
- dengan istilah ini. Dan mereka dorong
- supaya umat Islam sebut mereka Salafi.
- Mereka enggak mau disebut Wahabi. Nah,
- jadi saya perlu bicara apa adanya. Mana
- yang mereka suka, mana yang mereka tidak
- suka. Itu istilah. Saya di sini bukan
- sedang menghujat mereka, tapi saya di
- sini sedang memperkenalkan kepada umat
- tentang identitas-identitas yang
- menyebar di tengah masyarakat.
- Nah, kenapa mereka disebut salafi?
- Karena mereka mengklaim sebagai pengikut
- salaf. Mereka mengklaim sebagai pengikut
- salaf. Maka itu mereka sebut salafi ya.
- Padahal Imam Malik juga salaf, Imam Abu
- Hanifah juga salaf, Imam Syafi'i juga
- salaf.
- Karena itu soal apakah istilah ini
- khusus untuk mereka saja diterima atau
- tidak diterima, itu urusan umat.
- Baik. Yang keempat,
- mereka juga punya label nawasib.
- Nah, kenapa mereka punya label di zaman
- ini disebut kelompok nawasib? Karena di
- dalam uraian-uraian pemikiran mereka,
- makalah mereka, ceramah mereka ada
- kecenderungan benci dengan keluarga
- Nabi.
- Walaupun kadang-kadang itu tidak
- disebutkan secara terbuka, tapi aroma
- kebencian itu ada. Nah, contoh manakala
- mereka membahas soal pertikaian yang
- terjadi antara Sayidina Abu Bakar Siddiq
- radhiallahu taala anhu dengan Sayidatuna
- Fatimatuz Zahra radhiallahu taala anha,
- mereka tidak segan-segan menyalahkan
- Siti Fatimah.
- Sebagaimana halnya kalangan Syiah kalau
- membahas sejarah tentang pertikaian
- antara Sayidina Abu Bakar Siddiq
- radhiallahu taala anhu dan Sayidatuna
- Fatimah radhiallahu taala anha, mereka
- tanpa ragu-ragu menyalahkan Sayidina Abu
- Bakar. Berbeda dengan ahlusunah.
- Ahlusunah cinta kepada Sayidina Abu
- Bakar Siddiq, cinta kepada Sayidatuna
- Fatimatuz Zahra, menghormati keduanya,
- memuliakan keduanya, dan tidak berani,
- kurang ajar untuk memberikan penilaian
- yaitu dari pertikaian yang ada di antara
- keduanya dengan merendahkan salah
- satunya. Itulah ahlusunah wal jamaah.
- Nah, jadi ini bukan bukan fitnah, bukan
- tuduhan, tapi kita bisa dapatkan dalam
- rekaman-rekamannya, dalam buku-bukunya,
- dalam kitab-kitabnya, kecenderungan
- kebencian kepada keluarga Nabi itu ada.
- Nah, kelompok yang benci dengan keluarga
- Nabi ini disebut kelompok nasibah,
- jamaknya nawasib.
- Nah, walaupun mereka enggak terima,
- Wahabi kok disebut nawasi enggak terima.
- Mana ada orang mau mau terima istilah
- nawasib disematkan kepada mereka.
- Baik, yang kelima.
- Yang kelima, takfiri.
- Nah, ini label takfiri juga disematkan
- kepada mereka. Loh, kok ada label
- takfiri segara? Karena banyak di
- kalangan mereka, saya tidak katakan
- semua, banyak dari kalangan mereka
- secara demonstratif dan konfrontatif
- begitu mudah mengkafirkan sesama muslim.
- ini kafir, itu kafir, anu kafir, yang
- muslim dia saja, Saudara. Nah, ini
- akhirnya mereka dilabeli sebagai jemaah
- takfiriah, kelompok takfsiri. Walaupun
- saya tidak katakan semuanya orang di
- sana seperti itu, tidak. Nah, tapi ini
- harus mereka reda. Jadi kalau ada
- kelompok mereka yang enggak terima
- diberikan label takfiri, ya mereka mesti
- meredam. yaitu saudara-saudara mereka di
- kalangan mereka sendiri yang suka begitu
- mudah mengkafir-kafirkan orang lain.
- Nah. Nah, kemudian
- yang keenam
- mereka juga punya label khawarij.
- Khawarij. Padahal kalau kita merunut
- kepada sejarah antara khawarij dengan
- Wahabi tidak ada hubungan. Nah, cuman
- kenapa mereka sering disebut khawarij
- modern, Saudara? Karena
- mereka bukan hanya sekedar mudah
- mengkafirkan sesama muslim, tapi begitu
- mudah menghalalkan darah sesama muslim.
- Jadi, kalau sudah mereka kafirin, mereka
- halalin darahnya. Lihat aja rekaman
- YouTube yang baru-baru ini ee
- menggegerkan, Saudara. Ee seorang anak
- muda baru lulus Al-Azhar, pulang ke
- Indonesia bicara seenaknya tentang demo,
- Saudara. Dia katakan demo itu ciri
- aliran sesat, haram, dosa besar, dan
- halal darah orang yang mendemo.
- Ini ini paham apa menghalalkan darah
- pendemo saudara? Ini kalau dihalalkan
- begini, NU pernah demo, FPI sering demo,
- HTI suka demo, Muhammadiyah juga demo.
- Ini kafir semua iniah.
- Ini ini ini jadi persoalan serius. Jadi
- kalau enggak mau disebut khawarij ya
- tolong kader-kader muda mereka seperti
- ini diredang. Jangan memecah belah umat.
- Jangan. Kita kan enggak usil dengan
- mereka. Nah, tolong mereka jangan usil
- dengan saudara-saudara muslim yang
- lainnya. Ini label yang tujuh.
- Yang ketujuh mereka juga dilabeli
- musyabbih.
- Kenapa dilabeli musyabih?
- Karena walaupun mereka menolak istilah
- musyabbih, bahkan mereka ikut menghantam
- para musyabih. Tapi dalam tataran
- praktik
- kalau kita merujuk ke literatur mereka
- sendiri ternyata aroma tasbih itu ada.
- Nanti akan kita buktikan dalam inti
- pelajaran kita. Maksudnya musyabbih itu
- apa? Menyerupakan Allah dengan makhluk.
- Itu musyabbih diserupakan dengan
- makhluk. Oh, makhluk nih punya mata,
- punya kaki, punya tangan, punya wajah.
- Nah, kemudian mereka nisbahkan itu semua
- kepada Allah. Oh, makhluk ini bisa naik,
- turun, jalan lari. Nah, sifat-sifat itu
- juga dinisbahkan kepada Allah. Ini
- namanya tasybih. Menyerupakan Allah
- dengan makhluk. Nah, karena bukti dalam
- literatur mereka hal ini ada, maka
- mereka disebut musyabbih oleh kalangan
- Asy'ari. Orang kalangan Asy'ari menyebut
- kelompok ini musyabbih.
- Baik. Yang kedelapan,
- mujassim.
- Nah, kenapa disebut mujassim?
- Karena mereka menjasmanikan Allah dalam
- bentuk dan rupa.
- Dalam bentuk dan rupa. Nah, mereka itu
- menjasmanikan Allah itu duduk di atas
- aras, turun dari duduknya seperti
- seorang khatib turun dari atas
- mimbarnya. Ini dalam literatur mereka
- ada.
- sehingga mereka menjasmanikan Allah
- dalam bentuk dan rupa. Sehingga Allah
- itu digambarkan ee perlu sudut dan
- ruang. Nah, perlu sudut dan ruang karena
- punya bentuk. Nah, maka itu mereka
- disebut mujassim. Sekali lagi, istilah
- ini mereka tolak dan mereka selalu
- berupaya untuk meloloskan diri jangan
- sampai mereka disebut musyabih dan
- mujassim.
- Yang kesembilan
- mereka juga disebut, "Oh, tadi ini sudah
- ini takfiri ini sudah ini tadi ini
- takfiri sudah." Di sini cuman ada
- sembilan. Yang kesembilan, Saudara,
- yaitu mereka juga disebut gulat sunni.
- Jadi, ternyata bukan Syiah aja yang ada
- gulatnya,
- ternyata Sunni juga ada gulat. Ya,
- Saudara loh. Kenapa disebut gulat sunni?
- Karena secara umum mereka termasuk
- ahlusunah. secara umum mereka termasuk
- ahlusunah wal wal jamaah. Akan tetapi
- ada keyakinan-keyakinan kepercayaan yang
- bagi ahlusunah itu sudah kelewat batas.
- Makanya disebut gulat sunni.
- Nah, sekarang ee berkenaan dengan
- istilah-istilah ini. Ada sembilan
- istilah untuk Wahabi. 10 dengan kata
- Wahabinya. Sebagian diterima oleh pihak
- Wahabi sendiri. Sebagian lagi ditolak.
- Jadi mereka enggak suka kalau disebut
- nawasib, takfiri, khawarij, musabbih,
- mujassim, gulat sunni. Oh, bisa ngamuk
- mereka. Mereka enggak terima. Tapi di
- kalangan ulama, di kalangan umat yang
- melakukan pembahasan dalam ilmu kalam,
- ilmu ushuluddin, ilmu yang menyangkut
- akidah, istilah-istilah ini sering
- disematkan untuk mereka. Nah, baik. Satu
- saja. Kenapa mereka menolak mereka
- disebut Wahabi?
- Jadi Wahabi menolak label Wahabi.
- Kalangan Wahabi menolak istilah Wahabi
- disematkan kepada mereka dengan dalh
- bahwa nama imam mereka adalah Muhammad
- bin Abdul Wahab. Mestinya istilahnya
- Muhammadi bukan Wahabi.
- Nah, ini alasan mereka. Mereka tulis
- dalam buku, saya baca bukunya. Mereka
- bilang, "Ya kalau mau jujur kita ini
- Muhammadi dong, bukan Wahabi. Karena
- imam kita Muhammad."
- Nah, bagaimana jawabnya ini, Saudara?
- Ini sebetulnya enggak ilmiah.
- Ini mereka punya alasan ini enggak
- ilmiah. Tapi enggak apa-apa kita jawab
- sedikit ilmiah, Saudara. Nah, di sini
- jawaban kita hujah penolakan mereka
- terbantahkan.
- Karena nama suatu mazhab, nama suatu
- aliran pemikiran yang dibangun oleh
- seseorang bisa diambil dari namanya,
- bisa juga diambil dari nama ayah atau
- kakeknya, bahkan bisa diambil dari nama
- kunyah atau kabilahnya. Enggak mesti
- diambil dari namanya. Mana buktinya?
- Mari kita lihat. Satu, kita kenal mazhab
- Maliki. Nah, ini diambil dari nama Imam
- Malik, nama orangnya Imam Malik bin
- Anas. Karena namanya Malik, mazhabnya
- disebut Maliki. Tapi sekarang kita lihat
- Hambali ini diambil dari nama ayahnya
- Imam Ahmad ibn Hambal. Bukan diambil
- daripada Imam Ahmadnya. Kenapa enggak
- disebut Ahmad?
- Nah, kenapa mazhab Hambali tidak disebut
- Ahmadi tapi disebut Hambali? Karena
- penamaan daripada suatu mazhab enggak
- mesti nama si pembangun mazhabnya. Atau
- kita lihat sekarang nama mazhab Syafi'i
- ini diambil bukan dari nama bapak ee
- tapi dari kakek yang ketiga. E Muhammad
- bin Idris bin Abbas bin Utsman bin
- Syafi.
- Nah, jadi istilah Assyafi'i diambil dari
- nama kakek yang ketiga, bukan dari nama
- ee nama Imam Syafi'inya. Imam Syafi'i
- namanya Muhammad, kenapa enggak disebut
- Muhammadi? Nah, kalau memang namanya
- Muhammad harus disebut Muhammadi, ya
- mazhab Syafi'i Muhammadi juga dong.
- Nah, kemudian baik yang keempat. Nah,
- ada lagi mazhab Abu Hanifah Hanafi ini
- diambil dari kunya bukan dari nama.
- Namanya
- saudara An'man bin Tsabit bin Zuti. Itu
- namanya kunyahnya Abu Hanifah. Akhirnya
- dia punya mazhab disebut Hanafi. Diambil
- dari nama kunya. Bahkan ada yang diambil
- dari nama kabilah, nama suku. Nah,
- mazhab apa? Mazhab Asy'ari yang tadi
- dijelaskan oleh Habib Hanif, Saudara.
- Nah, ini yang namanya Imam Asy'ari itu
- kunyanya Abul Hasan namanya Ismail,
- abahnya Ishak. Tapi dia punya kabilahnya
- Asy'ari. Dia keturunan daripada Abu Musa
- al-Asy'ari yaitu salah seorang sahabat
- Nabi alaihialatu wasalam. Nah, jadi
- artinya enggak usah dipermasalahkan soal
- kenapa namanya Wahabi Muhammadi. Artinya
- sebetulnya dia sudah terima itu istilah
- Wahabi. Cuma dia pengin ganti Muhammadi
- aja. Nah, ini jadi tawar-menawar
- identitas ini. Nah, identitas ini enggak
- bisa ditawar. Ini tergantung apa yang
- menyebar di tengah masyarakat, ya,
- Ikhwan. Jadi, bukan si A atau si B yang
- menentukan, bukan. Tapi opini umum
- arroyul am, opini umum yang menyebar di
- tengah masyarakat. Nah, itu yang
- akhirnya melahirkan iden identitas.
- Karena itu menurut saya dan kawan-kawan
- di FPI bahwa mereka disebut Wahabi sudah
- sangat tepat.
- Sudah sangat tepat. Dan saya lebih suka
- menyebut mereka Wahabi daripada menyebut
- mereka ahlul hadis, ahli arar atau
- menyebut mereka salafi. Saya lebih suka
- menyebut mereka Wahabi.
- Karena ini istilah populer. Jadi kalau
- disebut Wahabi orang kampung juga
- langsung kenal. Tapi kalau sebut ahlul
- hadis orang kampung mikir ahlul hadis
- apa nih? Nah nanti kalau saya sebut lagi
- dengan istilah-istilah sekalipun saya
- sebut dengan musabbih, mujassim, orang
- di kampung enggak paham. Tapi kalau
- disebut Wahabi, oh Wahabi.
- Mereka sudah paham. Ini soal identitas
- ya, Ikhwan. Ini soal identitas.
- Kira-kira sampai di sini jelas tidak?
- Jelas?
- Baik. Jadi, karena kita punya tema
- adalah studi kritis tentang trilogi
- tauhid Wahabi, maka tadi saya katakan
- saya harus jelaskan dulu apa yang
- dimaksud dengan Wahabi.
- Nah, sekarang baik kita masuk ke
- persoalan trilogi tauhid.
- Kita lihat. Perhatikan baik-baik.
- Yang dimaksud dengan trilogi tauhid
- adalah tiga unsur yang ada di dalam
- tauhid. Tiga unsur inti yang ada di
- dalam tauhid.
- Yang pertama
- adalah rububiyah.
- Jadi unsur rububiyah dalam tauhid
- maksudnya
- pengakuan
- bahwasanya sang pencipta alam semesta
- dan pemelihara serta penjaminnya adalah
- Tuhan yang maha esa.
- Nah, jadi kalau
- yang disebut rububiyah, seseorang itu
- mengakui bahwa Tuhan yang menciptakan
- alam semesta adalah Tuhan yang maha esa.
- Titik. Nah, itu disebut rububiyah.
- Kira-kira jelas tidak? Bagus. Sekarang
- yang kedua.
- Yang kedua adalah uluhiyah.
- Apa itu uluhiyah? Kalau tadi rububiyah
- dari kata rab. Rabbun. Rabb itu pemilik,
- pemelihara. Rabbul alamin. Pemilik alam
- semesta. Rabb rububiyah. Jadi kalau kita
- mengakui Allah sebagai pencipta alam
- semesta dan pemiliknya, berarti dalam
- tauhid kita ada unsur rububiyah.
- Nah, sedangkan uluhiyah
- itu dari kata ilah. Ilah itu artinya
- Tuhan.
- Lalu yang dimaksud ulukiyah, yang
- dimaksud uliyah adalah pengakuan
- bahwasanya sang pencipta alam semesta
- yang esa tadi yang kita akui dalam
- rububiyah adalah merupakan satu-satunya
- Tuhan yang berhak disembah.
- Yang tidak ada tuhan-tuhan lain yang
- berhak disembah, hanya satu yang berhak
- disembah yaitu Allah. Ini disebut
- uluhiyah.
- Jadi dalam tauhidnya umat Islam harus
- ada unsur rububiyah dan harus ada juga
- unsur uluhiyah. Mengakui Allah sebagai
- pencipta alam semesta dan mengakui Allah
- sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak
- disembah.
- Sampai di sini jelas? Baik. Yang ketiga
- yang dikenal dengan istilah tauhid asma
- dan sifat.
- Artinya dalam tauhidnya umat Islam itu
- di samping harus ada unsur rububiyah dan
- unsur uluhiyah, harus juga ada unsur
- asma dan sifat. Maksudnya ada pengakuan
- bahwa
- Allah sebagai pencipta alam semesta dan
- Allah yang memiliki nama-nama yang maha
- indah serta sifat-sifat yang layak
- dengan kesuciannya, sifat-sifat yang
- sempurna.
- Nah, jadi kalau orang sudah mengakui
- bahwa Allah memiliki nama-nama yang maha
- indah, memiliki sifat-sifat yang
- sempurna dan menolak segala sifat yang
- tidak layak bagi Allah Subhanahu wa
- taala, berarti dalam tauhidnya sudah
- mengandung unsur tauhid, asma dan sifat.
- Ini disebut trilogi tauhid.
- Ini disebut trilogi tauhid. Kenapa
- disebut tri? Ada tiga, Saudara. Nah, ini
- menyangkut ee keyakinan.
- Nah, sekarang bagaimana
- sikap ulama Asy'ari
- di sini saya istilahkan Aswaja
- dan sikap kalangan Wahabi terhadap
- trilogi tauhid ini.
- Mari kita lihat untuk Aswajanya.
- Di kalangan Aswaja
- punya prinsip dan pedoman bahwa tauhid
- itu hanya satu. tidak berbilang.
- Enggak ada itu tauhid dua, tauhid 3,
- tauhid empat. Enggak ada. Tauhid itu
- hanya satu yang diajarkan oleh Nabi,
- yaitu lailaha
- illallah. Ketiga, unsur di atas itu
- sudah masuk dalam lailahaillallah.
- Kalau orang sudah menyatakan
- lailahaillallah, berarti dia harus
- mengakui Allah itu pencipta alam
- semesta. Ada rububiyah. Berarti dia
- harus mengakui kalau Allah satu-satunya
- Tuhan yang berhak disembah. Ada
- uluhiyah. Berarti dia harus mengakui
- kalau Allah itu punya nama-nama yang
- maha indah dan punya sifat-sifat yang
- sangat sempurna. Berarti sudah ada asma
- dan sifat. Tiga unsur ini ada dalam satu
- kalimat lailaha
- illallah muhammadur rasulullah. Jadi
- tauhid itu bagi ahlusunah satu. Enggak
- ada tauhid berbilang.
- Nah, maka itu di sini rububiyah,
- uluhiyah, asma dan sifat bukan ditolak
- oleh ahlusunah. Jangan salah tuduh,
- Saudara. Jadi, begitu ahlusunah bicara
- rububiyah, uluhiyah, asma, dan sifat,
- tahu-tahu dituduh, oh dia sudah ikut
- wahabi. Belum tentu.
- Uluhiyah itu bukan milik Wahabi.
- Rububiyah itu bukan milik Wahabi. Asma
- dan sifat itu bukan milik Wahabi. Itu
- milik umat Islam.
- Nah, sementara Aswaja memahami
- rububiyah, uluhiyah, asma, dan sifat itu
- ada dalam satu kalimat tauhid
- lailahaillallah yang menjadi satu
- kesatuan tidak boleh dipisahkan.
- Perhatikan baik-baik, garis bawahi. Satu
- kesatuan tidak boleh dipisahkan.
- Lalu apa bedanya dengan Wahabi? Mari
- kita lihat, Saudara. rahatilar
- tasduayalil
- maulidi
- min ma
- ahil
- [Musik]
- maulidi
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- Ahmadi
- [Tepuk tangan]
- ma
- Ahmadil
- [Musik]
- Abdullah nama ayahnya
- Aminah ibundanya
- Abdul Muthaal
- kakeknya
- Abu Thalib pamannya
- Khadijah istri setia
- Fatimah putri tercinta
- Semua bernasab mulia dari Quraisy
- ternama.
- Inilah kisah sang rasul yang penuh suka
- duka.
- Kalangan Wahabi
- membagi tauhid menjadi tiga. Betul-betul
- dibagi tiga. Ada tauhidur rububiyah, ada
- tauhidul uluhiyah. Saya minta yang di
- depan boleh masuk. Dokter Saleh, Kia itu
- bagus. Masuk di sini karena kita pakai
- layar. Silakan, silakan sebagian bisa
- masuk kemari. Kita pakai layar. Silakan,
- silakan. Ada di sebelah belakang situ
- masih kosong. Silakan. Ini di samping
- ini dokter Saleh. Samping ee kiai
- misbah. Silakan. Nah.
- Nah. Jadi kita ulangi bagaimana Wahabi
- melihat ketiga ini? Wahabi membagi
- tauhid itu menjadi tiga. Ada tauhid
- rububiyah, ada tauhidul uluhiyah, ada
- tauhidul asma wa sifat. Parahnya lagi,
- Saudara, dengan pembagian ini akhirnya
- kalangan Wahabi mengakui
- kalau ada orang musyrik yang mengakui
- adanya Allah yang menciptakan alam
- semesta, walaupun mereka tidak menyembah
- Allah, itu disebut ahli tauhid
- rububiyah.
- Ahli tauhid rububiyah, tapi tidak ahli
- tauhid uluhiyah. Ini yang ditolak oleh
- ahlusunah. tolong digaris bawahi. Nah,
- karena kemarin saya lihat ada yang
- nyebar video ee ingin menanggapi apa
- yang saya sampaikan tentang trilogi
- tauhid. Nah, terus dia mengatakan bahwa
- di NU juga ada rububiyah, uluhiyah,
- asma, dan sifat. Dalam surah Al-Fatihah
- juga ada rububiyah, uluhiyah, asma, dan
- sifat. Dianggap saya ini enggak ngerti
- surah Al-Fatihah.
- Nah, nanti kita jelaskan, Saudara. Nanti
- kita jawab. Jadi, jangan dipelintir.
- Saya tidak menentang rububiyah,
- uluhiyah, asma, dan sifat. Yang saya
- tentang kalau rububiyah, uluhiyah, asma
- dan sifat dipilah.
- Ini enggak boleh. Sama seperti rukun
- iman. Rukun iman ada berapa? Enam. Ada
- iman kepada Allah, iman kepada Rasul,
- iman kepada malaikat, iman kepada yaitu
- Al-Qur'an, kitab-kitab suci dan
- seterusnya. Saudara,
- rukun iman walaupun disebut ada enam,
- tapi enggak boleh kita beriman kepada
- sebagian, tapi kita ingkari sebagian
- lainnya.
- Ada orang mengatakan, "Saya beriman
- kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad.
- Tapi saya enggak beriman kepada
- Al-Qur'an." Boleh enggak disebut mukmin?
- Mungkin mukmin 2/6.
- Karena dia terima dua, yang empat dia
- tolak. Apa bisa disebut begitu? Enggak
- bisa, Saudara. Kalau dia tidak menerima
- rukun iman secara utuh, enggak bisa dia
- disebut mukmin.
- Nah, begitu juga rukun Islam ada berapa?
- Ada lima. Yang pertama pengucapan dua
- kalimat syahadat. Yang kedua menegakkan
- salat. Kemudian masih ada lagi puasa
- Ramadan dan juga zakat serta haji. Terus
- ada orang masuk Islam dia katakan,
- "Cukuplah saya membaca syahadat karena
- saya banyak duit saya bayar zakat."
- Salat enggak wajib. Itu
- dia tolak kewajiban salat. Apa boleh
- disebut muslim?
- Muslim 2/5
- enggak bisa, Saudara. Dia enggak bisa
- disebut muslim kalau enggak menerima
- kelima-lima kewajiban daripada rukun
- Islam tadi, Saudara. Soal kalau dia
- enggak salat, itu urusan dia dosa. Tapi
- kalau dia mengingkari kewajiban salat,
- Saudara, ini bisa membatalkan
- keislamannya.
- Batal imannya kalau satu saja rukun
- tidak terima. Batal Islamnya kalau satu
- aja rukun Islam dia tidak terima. Begitu
- juga tauhid. batal tauhidnya.
- Kalau satu aja ada unsur ini, dia tidak
- terima.
- Kira-kira jelas tidak?
- Nah, ini ini sengaja saya mesti
- hati-hati menyampaikannya
- karena banyak orang enggak paham apa
- beda Aswaja sama Wahabi dalam soal
- trilogi tauhid. Kelihatannya sama aja,
- enggak sama, Saudara.
- Aswaja itu menerima rububiyah, uluhiyah,
- asma, dan sifat sebagai unsur yang harus
- ada di dalam tauhid dan tidak
- terpisahkan. Satu saja dipisah batal
- tauhidnya.
- Itu yang enggak boleh kita lupa. Beda
- dengan kalangan Wahabi. Kita urai. Mari
- kita urai, Saudara.
- Kita lihat di sini
- apa sih yang dijadikan dalil ee oleh
- kalangan Wahabi ini tentang trilogi
- tauhidnya. Antara lain saya sebutkan
- antara lain surah Az-Zumar ayat 3 dan
- 38.
- Di ayat 3, Saudara, Allah menceritakan
- tatkala orang-orang musyrik yang
- menyembah berhala diajak oleh Nabi untuk
- menyembah Allah dan meninggalkan
- berhala, maka mereka berkata kepada
- Nabi, "Ma nabuduhum illaqbunaallahi
- zulfa."
- Artinya, kami tidak menyembah mereka.
- Ma'abuduhum. Kami enggak sembah itu
- berhala-berhala illa melainkan
- liuqoribuna
- untuk mendekatkan kami ilallah kepada
- Allah zulfah sedekat-dekatnya.
- Jadi artinya menurut kalangan Wahabi
- berarti orang-orang musyrik di zaman
- Nabi sudah kenal Allah.
- Dia sebut Allah ilallah
- berarti mereka sudah mengakui Allah itu
- sebagai Tuhan pencipta semesta alam.
- Hanya saja di dalam menyembah Allah,
- mereka mempersekutukan Allah,
- menciptakan berhala-berhala sebagai
- wasilah untuk mendekatkan diri kepada
- Allah. Ini hujahnya orang-orang kafir
- kepada Nabi alaihialatu wasalam. Dan ini
- dijadikan hujah oleh orang-orang Wahabi.
- Berarti orang-orang musyrik di zaman
- Nabi itu punya tauhidur rububiyah.
- Mereka ahli tauhid rububiyah,
- tapi mereka bukan ahli tauhid uluhiyah.
- Nah, begitu juga saudara di ayat ke-38
- Allah menyatakan kepada Nabi alaihiatu
- wasalam dalam ayat ini, manqamawati wal
- ardqulunallah.
- Hai Muhammad, jika kamu bertanya kepada
- mereka itu para penyembah berhala,
- manqamawati wal ard. Siapa menciptakan
- langit dan bumi? Laakulunallah. Niscaya
- pasti mereka akan menjawab Allah.
- Jadi orang Wahabi lebih yakin lagi
- berarti orang musyrik di zaman Nabi
- kenal Allah dan mengakui Allah itu yang
- menciptakan alam semesta.
- Hanya mereka mempersekutukan Allah dalam
- penyembahan.
- Oleh karenanya mereka perlu patut
- disebut ahli tauhid rububiyah. Karena
- ada rububiyahnya mereka akui. Cuman saat
- menyembah Allah mereka enggak punya
- tauhid uluhiyah.
- Ini yang jadi persoalan di sini ya
- ikhwah. Yang jadi persoalan orang-orang
- musyrik ini disebut ahli tauhid.
- Ini jadi persoalan serius bagi ahlusunah
- enggak sembarangan. Mari kita lihat
- selanjutnya saudara. Jadi surah Az-Zumar
- ayat 3 dan 38 tadi menginformasikan
- kepada kita bahwa kaum musyrikin di
- zaman Nabi mengakui akan adanya Allah
- Subhanahu wa taala sebagai Tuhan
- pencipta alam semesta. Kalau begitu,
- Saudara, mereka adalah ahli tauhid
- rububiyah dalam pandangan Wahabi.
- Dan dalam surah Az-Zumar ayat 3 dan 38
- tersebut juga menginformasikan bahwa
- kaum musyrikin di zaman Nabi masih tetap
- mempersekutukan Allah Subhanahu wa taala
- sehingga mereka bukan ahli tauhid
- uluhiyah.
- Nah, kita sepakat dengan Wahabi, mereka
- bukan ahli tauhid uluhiyah. Oke, kita
- sepakat. Tapi kalau mereka disebut ahli
- tauhid rububiyah,
- ini persoalan serius karena digaris
- bawahi oleh Aswaja. Bagaimana kafir
- disebut ahli tauhid?
- Ini enggak pernah terjadi. Di zaman
- ulama salaf kita, orang kafir disebut
- ahli tauhid. Walaupun yang dimaksud
- hanya tauhid rububiyah.
- Kira-kira jelas tidak?
- Jelas?
- Ini pelajaran akidah agak ngejelimet
- sedikit, tapi makanya mesti fokus. Nah,
- ini perhatikan. Tolong fokus betul ini
- pelajaran ya, Ikhwah. Ini yang kita
- tolak.
- Eah. Jadi jangan dipelintir. Ini
- ustaz-ustaz Wahabi ini di YouTube
- dipelintir. Seolah-olah yang saya
- tentang Habib Rizq enggak mengakui
- rububiyah. Habib Rizq enggak mengakui
- uluhiyah. Habib Rizq enggak mengakui
- asma dan sifat. Kalau saya enggak akui
- saya sudah kafir.
- Itu kalau enggak ngakui tiga-tiganya
- sudah kafir pangkat tiga itu.
- Jangan. Bukan itu. Saya tidak menentang
- uluhiyah rububiyah dan asma dan sifat
- bagi Allah. Yang saya tentang kalau
- rububiyah dan uluhiyah dipilah, dipisah
- akibatnya begini. Ini yang kita tolak.
- Enggak bisa orang kafir disebut ahli
- tauhid. Tunggu dulu, Saudara. Kira-kira
- jelas tidak?
- Baik. Nah, sekarang mari kita lihat
- lagi. Nah, sekarang
- ini implikasi hukum kepada orang musyrik
- disebut ahli tauhid. Nah, sekarang
- bagaimana implikasinya terhadap muslim
- yang bukan Wahabi? Mari kita lihat.
- Kita nih Asy'ari nih. Kita nih Asy'ari.
- Asy'ari mengakui akan adanya Allah
- Subhanahu wa taala sebagai Tuhan
- pencipta alam semesta dan sebagai
- satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.
- Betul.
- Menurut Wahabi kita ini Aswaja Asy'ari
- adalah ahli tauhid rububiyah dan
- uluhiyah. Nah, kita diakui nih sebagai
- ahli tauhid. Kita semua diakui sebagai
- ahli tauhid. Tapi tauhid apa? Rububiyah
- dan uluhiyah.
- Nah, sekarang Wahabi melihat bagaimana
- akidahnya kaum Asy'ari. As'ari tidak
- mengakui bahwa Allah Subhanahu wa taala
- punya tangan, punya kaki, punya betis,
- punya wajah, punya mata, serta duduk,
- lari naik turun dan tertawa seperti
- makhluk.
- As'ari enggak ngakui itu.
- Nah, menurut kalangan Wahabi, kalau
- As'ari tidak mengakui ini semua, berarti
- kaum Asari ingkar terhadap sifat Allah.
- Karena Allah yang menyebut dalam
- Al-Qur'an, yadullah, tangan Allah,
- berarti Allah punya tangan. Ainullah,
- mata Allah, berarti Allah punya mata.
- Kenapa kaum Asari mengingkari sifat
- Allah? Kalau kaum As'ari mengingkari
- sifat Allah, berarti kaum As'ari
- termasuk kaum muattil.
- Apa itu muattil? Yang meniadakan sifat
- Allah.
- Kita disebut muattil,
- Saudara, disebut kelompok yang
- meniadakan sifat Allah. Sehingga menurut
- mereka kita ini As'ari, Saudara yang
- tidak mengakui tentang isbatnya tangan,
- kaki, wajah, muka bagi Allah, kita
- disebut bukan ahli tauhid asma dan
- sifat.
- Kesimpulannya apa? Kita bukan ahli
- tauhid.
- Aswaj ni As'ari bukan ahli tauhid,
- Saudara. Walaupun maksudnya bukan ahli
- tauhid, asma dan sifat.
- Dari segi rububiyah, ulukhiyah mereka
- akui kita saudara mereka. Kita ahli
- tauhid. Tapi dari segi asma dan sifat
- kita dibilang bukan ahli tauhid.
- Ini yang membingungkan umat, Saudara.
- Orang kafirnya dibagi dua. Adalah kafir
- ahli tauhid, ada kafir bukan ahli
- tauhid.
- Eh, yang muslimnya dibagi dua juga. Ada
- muslim ahli tauhid, ada muslim bukan
- ahli tauhid. Ini saya mau tanya ini. Ini
- pembagian semacam ini ulama salaf yang
- mana yang buat?
- Saya mau tanya saudara. Terus kafir
- dibagi dua. Ada kafir ahli tauhid, ada
- kafir bukan ahli tauhid.
- Muslim juga dibagi dua. Ada muslim ahli
- tauhid, ada muslim bukan ahli tauhid.
- Saya tanya bingung enggak?
- Kalau Aswaja simpel, Saudara. Kalau dia
- sudah menyebut lailahaillallah, enggak
- melakukan kufrun bawah, dia muslim. Dia
- ahli tauhid. Titik, Saudara. Kalau dia
- tidak, dia terima rububiyah, tapi dia
- tidak terima ulhiyah, tetap kafir. Dia
- bukan muslim. Kafir. Oh, dia menerima
- rububiyah, dia menerima uluhiyah, tapi
- dinisbahkan sifat-sifat yang tidak layak
- kepada Allah Subhanahu wa taala. Dia
- kafir, selesai. Enggak ada itu
- bagi-bagi. Muslim ada dua. Muslim ahli
- tauhid, muslim bukan ahli tauhid. Orang
- kafir bagi dua. Ada kafir ahli tauhid,
- ada kafir bukan ahli tauhid. Nah, ini
- istilah-istilah semacam ini merupakan
- albid'atul kubra. Bidah yang terbesar
- sepanjang sejarah daripada umat Islam,
- Saudara.
- Jadi jangan kalangan Wahabi cuman cerita
- bidah, tawasul bidah, tabaruk bidah,
- ziarah kubur bidah, ee memperingati
- maulid bidah, memperingati Isra Mikraj
- bidah, marhabanan bidah, semua mereka
- sebut bidah. Ini yang mereka lakukan
- super bidah.
- Ya, bersihkan dulu dong ini. Jangan
- nudu-nuduh orang dulu. Jangan, jangan
- menudingkan tangan kita ke
- saudara-saudara kita sendiri dengan
- menyebut ahli bidah. Sementara mereka
- memelihara albid'atul kubra. Ini bidah
- terbesar dalam akidahnya umat Islam.
- Menyebut orang kafir sebagai ahli
- tauhid.
- Kira-kira jelas tidak
- jelas
- ya? Kadang-kadang memang ceramahnya
- belajarnya mesti ditekan-tekan juga.
- Kadang-kadang mesti lembut tapi
- kadang-kadang mesti ditekan juga
- sekali-sekali biar terpatri di benak
- kita dan di hati kita. Insya Allah. Jadi
- kesimpulannya apa? Trilogi Tauhid
- Wahabi. Mari kita lihat, Saudara. Ini
- saya hanya ingin menyoroti sisi
- berbahayanya dari trilogi tauhid ini.
- Kaum musyrikin
- karena mengakui adanya Allah sebagai
- Tuhan pencipta alam semesta walaupun
- tidak menyembah Allah maka disebut ahli
- tauhid rububiyah.
- Sedangkan Aswaja walaupun menyembah
- Allah Subhanahu wa taala, akan tetapi
- karena tidak mengakui bahwa Allah punya
- sifat seperti makhluk, maka Aswaja
- disebut bukan ahli tauhid, asma dan
- sifat. Yang musyrik disebut ahli tauhid,
- yang muslim disebut bukan ahli tauhid.
- Artinya di sini terjadi pentauhidan
- kafir dan pengkafiran ahli tauhid.
- Ini metodologi akidah macam apa yang
- seperti ini, Saudara?
- Kita kalau mau bicara metodologi,
- metodologi itu harus lurus, tegak,
- lurus, tidak bias, tidak bahaya. Ini
- berbahaya bagi akidah umat Islam di
- seluruh dunia, ya ikhwan. Nah, jadi
- konsep pentauhidan kafir dan pengkafiran
- ahli tauhid, Saudara, ya ini adanya cuma
- di Wahabi.
- Liberal lagi enggak punya, Saudara.
- Liberal itu super bahaya, enggak punya.
- Nah, ini ini kita saling koreksi. Jadi
- saya di sini, Saudara bukan ingin
- menjatuhkan Wahabi, tapi saya ingin
- memberikan pemahaman kepada
- saudara-saudara saya yang ada di Wahabi.
- Ayo kita dialog baik-baik. Ayo kita
- duduk sama-sama. Jangan kau
- teriak-teriak di YouTube
- menyesat-nyesatkan As'ari,
- mengkafir-kafirkan Asy'ari. Saudara,
- tunggu dulu. Kalau kita mau buka-bukaan,
- kita bisa buka. Ini kita buka sekarang
- buat umat. Kan yang begini-begini umat
- banyak enggak tahu, Saudara.
- Umat enggak tahu yang begini-begini,
- Saudara. Sebab ini bukan pelajaran
- tablig akbar, bukan. Ini kalau kita mau
- kaji ini kuliah di di universitas,
- Saudara. Nah, kan ini jamaahnya jemah
- tabligh.
- Nah, kalau sudah jemah tablig akbar
- kadang-kadang disuntik pelajaran kuliah
- setengah mati Profesor Baharut.
- Nah, jadi kira-kira jelas tidak
- yang begini karena tidak dilemparkan
- tablig akbarah umat enggak paham. Umat
- mesti tahu. Jangan umat cuman pasrah
- terima dibidah-bidahin. Saudara umat
- maulid dibidah. Iya. Ana ahli bidah. Ana
- ini enggak bisa jawab. Enggak tahunya
- yang ngatain super bidah. Saudara
- kira-kira jelas tidak?
- Jadi kita ajak, kita ajak ayo pada
- mereka yuk kita bersaudara, kita duduk.
- Punya akidah begini, saya punya akidah
- begini. Apa boleh kita saling
- mengkafirkan? Sampai hari ini tidak ada
- seorang As'ari pun, ahlusunah pun yang
- mengkafirkan Wahabi. Enggak ada,
- Saudara.
- Kita ini ahlusunah tidak mudah
- mengkafir-kafirkan orang. Seluruh
- komponen aliran yang ada di luar
- ahlusunah wal jamaah, apakah itu
- khawarij, apakah itu Muktazilah, apakah
- itu Syiah? Apakah itu ee Qadariah,
- apakah itu Jabariah, apakah itu Murjiah?
- Saudara, tidak ada satuun yang
- dikafirkan oleh Ahlusunah wal jamaah.
- Ahlusunah hanya mengatakan mereka
- firqatun dolah mudillah. Mereka firkah
- yang sesat dan menyesatkan sehingga
- harus diluruskan,
- tidak boleh di kafirkan. Silakan.
- Selamat datang kepada Pak Prianto,
- mantan wakil gubernur Jakarta.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Barakallahu
- Asalamualaikum.
- Waalaikumsalam.
- Ustazba tolong diajak.
- Oh di sebelah sini ada.
- Nah silakan nanti ajak yang dari
- belakang dari samping.
- Kira-kira jelas tidak?
- Jelas
- paham semua?
- Paham?
- Baik kita lanjutkan pelajaran kita.
- Saya akan buktikan bukan sekedar fitnah.
- Bagaimana Ibn Taimiyah sebagai tokoh
- panutan kaum Wahabi dalam kitab Minhajus
- Sunah dalam cetakan lama juz 2 halaman
- 62. Dalam cetakan baru berubah
- halamannya.
- Tatkala bicara tentang sederetan ulama
- Aswajah seperti Imam Assahwardi, Imam
- Arrazi, Imam Al-Amidi, Saudara, apa
- dikatakan oleh Ibn Taimiyah? Perhatikan
- baik-baik ungkapannya.
- Beliau mengatakan
- asahidubah
- wahruh
- [Tertawa]
- Ini ucapan dan tulisan Ibn Taimiyah
- dalam kitabnya.
- Beliau mengatakan dakolu ini ulama-ulama
- Aswaja yang tadi tuh Imam Razi, Imam
- Al-Amidi dan lain sebagainya saudara
- dakolu mereka sudah masuk fi ba'dil
- batil mubda di dalam kebatilan yang baru
- yang mengada-ngada.
- Wau minat tauhid. Dan mereka-mereka ini
- telah mengeluarkan daripada tauhid mah
- hua minhu apa-apa yang merupakan bagian
- dari tauhid itu sendiri.
- Jadi tauhid itu dipila-pila ada bagian
- tauhid yang dikeluarkan
- ke tauhidul uluhiyah seperti tauhid
- uluhiyah wa isbat haqaiq asmaillah dan
- tauhid asma wa sifat ini isbat haqaiq
- asmaillah yang dimaksud adalah tauhid
- asma dan sifat. Nah, sehingga apa?
- Ibn Taimiyah berani mengatakan Imam
- Sahrwardi, Imam Rzi, Imam Alamidi walam
- yarifu min tauhid. Mereka semua tidak
- tahu tentang tauhid illa tauhid
- rububiyah kecuali cuman tauhid rububiyah
- saja.
- Apa itu tauhid rububiyah? Alqrar
- bianallaha khqai.
- Yaitu meyakini bahwa Allah itu adalah
- pencipta daripada segala sesuatu.
- Kemudian Ibn Taimiyah mengatakan, "Wah
- tauhid, tauhid rububiyah semacam ini
- yang diikuti oleh Imam Sahrardi, Imam
- Arrazi, Imam Alamidi ini imam-imam
- Aswaja, Saudarail
- musyrikun." Itu merupakan tauhid yang
- dianut oleh orang-orang musyrik yang
- Allah firmankan dalam Alquran. "Waltahu
- khalaq samawati wal ard yaakunallah."
- Beliau membawa surah Az-Zumar ayat ke-38
- yang tadi kita bahas.
- Nah, jadi kita tidak menuduh, Saudara.
- Nah, Ibn Taimiyah pernah mengungkapkan
- bahwa imam-imam Aswaja cuma tauhid
- rububiyah saja.
- Nah, seperti tauhidnya orang musyrik.
- Jadi, tauhid aswaja diserupakan
- dengan keyakinan musyrikin.
- Kira-kira jelas tidak?
- Ini bahaya, Saudara. Nah, kalau sekelas
- Imam Arrazi, Imam Al-Amidi, tauhidnya
- disetarakan, disejajarkan dengan
- keyakinannya orang musyrik. Bagaimana
- yang hadir di sini yang awam
- nih? Ini enggak main-main. Ini Imam
- Ar-Razi, Saudara ini Imam Al-Amidi. Ini
- ulama-ulama besar, ulama-ulama ahlusunah
- wal jamaah.
- Ini sebagai koreksi.
- Walaupun pada akhirnya sebagaimana
- dikatakan saudara oleh Al Imam Dzahabi
- radhiallahu taala anhu dalam kitab siar
- A'lamin Nubala bahwa Syaikhul Islam Ibn
- Taimiyah qod reja takfir fi akiri umrih
- bahwa Syekh Ibn Taimiyah di akhir
- daripada hidupnya telah kembali daripada
- sikap takfir menarik diri. Jadi semua
- sikap yang diucapkan mengkafir-kafirkan
- kelompok lain dia insafi, dia sadari,
- dia sesali. Nah, tapi sayang sujud tak
- sayang ungkapan-ungkapan beliau yang
- telah tersubar luas di aneka ragam kitab
- yang dicetak ulang di mana-mana itu yang
- lebih banyak diikuti oleh para pengikut
- Wahabi ketimbang pendapat-pendapat
- setelah insaf dan sadarnya Ibn Taimiyah.
- Nah, ini yang perlu saya garis bawahi.
- Kita bicara apa adanya. Maka itu di sini
- saya bukan ingin menyerang Ibn Taimiyah
- apalagi setelah kita dengar beliau itu
- raja'a an takfir. Bukan hak kita untuk
- menyerang menjelek-jelekannya saudara
- tapi ini harus disampaikan kepada
- pengikut pengagum Ibn Taimiyah bahwa
- orang yang kau panuti, orang yang kau
- ikuti, orang yang kau kagumi, tidak
- seperti yang kau bayangkan. Begitu mudah
- mengkafir-kafirkan orang lain. Kalaupun
- itu tercantum dalam kitabnya, itu
- merupakan pendapat qadim, pendapat
- lamanya yang sudah ditinggalkan. dan dia
- sudah memperbaharui daripada
- pendapatnya. Kira-kira jelas tidak?
- Alhamdu
- lillah. Nah, ini ini yang perlu kita
- ingatkan. Nah, baik. Nah, selanjutnya
- mari kita lihat.
- Wahabi
- memanipulasi hujjah.
- Jadi dalam salah satu rekaman yang
- disebarkan di YouTube, nah mereka
- bercerita barat trilogi tauhid itu ada
- dalam surah Al-Fatihah.
- Nah, ini Al-Fatihah ayat 1 sampai 7.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahi rabbil alamin.
- Arahmanirrahim. Maiki yaumiddin. Iyaka
- na'budu wa iyaka nastain. Ihdiniratal
- mustaqimatadina
- anamta alaihim giril magdubi alaihim.
- in
- sadaqallahulzim.
- Jadi mereka mengatakan dalam surah
- al-Fatihah ini sudah ada itu tauhid yang
- tiga tadi. Ada tauhidul uluhiyah,
- rububiyah, asma dan sifat. Lihat di sini
- ada bismillahirrahmanirrahim,
- arrahman arrahim. Itu bagian daripada
- asma Allah, nama Allah. Nah, begitu juga
- lihat. Alhamdulillahiabbil alamin.
- Rabbil alamin. Rabbil alamin itu
- rububiyah. mengakui Allah sebagai
- pencipta alam semesta. Kemudian di situ
- ada iyaka na'budu dan hanya kepada
- Engkau ya Allah kami menyembah. Berarti
- di sini ada tauhid uluhiyah.
- Nah, sekarang kalau uluhiyah ada,
- rububiyah ada, asma dan sifat di dalam
- surah Fatihah ada, kenapa harus
- diingkari?
- Nah, ini yang memprotes saya gagal
- paham.
- Dia pikir saya mengingkari rububiyah.
- Dia pikir saya mengingkari uluhiyah. Dia
- pikir saya mengingkari asma dan sifat
- bagi Allah. Saya tidak ingkari itu. Yang
- saya ingkari kalau rububiyah, uluhiyah,
- asma, dan sifat dipilah sehingga orang
- kafir disebut ahli tauhid. Itu yang saya
- ingkari. Kira-kira jelas tidak
- jelas?
- Baik. Nah, sekarang kita lanjutkan,
- Saudara. Baik.
- Kita pakai ayat ini. Ayat ini surah
- al-Fatihah justru hujatan lana, Saudara.
- Ini justru hujah bagi kita, bukan hujah
- atas kita. Mana buktinya? Mari kita
- lihat. Ahlusunah wal jamaah berprinsip,
- Saudara, bahwa kalimat tauhid hanya
- satu, yaitu lailahaillallah
- yang di dalamnya mengandung unsur
- rububiyah, uluhiyah, asma, dan sifat
- yang menjadi satu kesatuan. Tidak boleh
- dipilah, tidak boleh dipisahkan. Kita
- buktikan di dalam surah al-Fatihah ini
- ya ada tauhid rububiyah, ya ada
- uluhiyah, ya ada asma dan sifat. Yang
- jadi pertanyaan, apakah ketiganya ini
- dipilah oleh Allah?
- Apa ada pemilahan dengan penyebutan ini
- trilogi tauhid? Enggak ada, Saudara.
- Maka itu ada pertanyaan sekarang. Yang
- pertama saya ajukan pertanyaan. Apa
- boleh orang mengakui Allah sebagai
- Rabbul alamin tapi tidak menyembahnya?
- Boleh tidak?
- Boleh.
- Di dalam ayat ini kita diminta mengakui
- alhamdulillahi rabbil alamin. Mengakui
- Allah sebagai Rabb rububiyah. Tapi
- jangan lupa, Saudara, di ayat-ayat yang
- selanjutnya kita dituntut menyatakan
- iyaka na'budu. Hanya kepada Engkau ya
- Allah aku ibadah. Hanya kepada Engkau
- aku menyembah. Artinya apa? Pengakuan
- Rabbul Alamin diikat oleh Allah. wajib
- kita menyembah Rabbul alamin tadi.
- Kira-kira jelas tidak
- jelas
- ada pemilahan dalam surat Al-Fatihah
- ada pemilahan? Oh, kalau mengakui Rabbul
- alamin kalau enggak menyembah Allah
- enggak apa-apa itu ahli tauhid Rabbil
- alamin. Ada begitu, Saudara?
- Enggak ada.
- Jadi, siapa yang mengakui Allah sebagai
- Rabbul alamin? Wajib nyatakan kepada
- Allah, "Iyaka na'budu." Aku hanya
- menyembah Engkau ya Allah.
- Nah, begitu juga tauhidul asma was
- sifat. Di sini ada arrahman arrahim,
- Saudara. Ada Maliki yaumiddin, Saudara.
- Kita mengakui Allah itu rahman, Allah
- itu rahim. Saudara, pertanyaannya apa
- boleh orang yang mengakui Allah sebagai
- Rahman dan sebagai rahim tapi tetap
- mempersekutukannya?
- Boleh tidak?
- Boleh?
- Enggak boleh, Saudara. Nah, kalau mereka
- mempersekutukan Allah, apa boleh disebut
- ahli tauhid? Enggak bisa. Siapa yang
- mengakui Allah sebagai rahman, Allah
- sebagai rahim, wajib dia nyatakan di
- hadapan Allah iyaka nabudu.
- Kira-kira jelas tidak
- jelas?
- Nah, jadi kalau kalangan Wahabi pakai
- surah Al-Fatihah sebagai dalil, Saudara,
- ini salah alamat. Gagal paham.
- Manipulasi hujah, korupsi dalil
- enggak tepat. Justru surah al-Fatihah
- ini dalil kami bahwa dalam surah
- Al-Fatihah Allah rangkai jadi satu,
- Saudara. Enggak. Allah enggak bisa.
- Harus mengakui Rabbul Alamin. Harus
- mengakui Allah sebagai arrahman arrahim
- dan Maliki yaumiddin. Dan wajib hanya
- menyembah kepada Allah dan hanya memohon
- kepada Allah. Subhanallah walhamdulillah
- walailahaillallah wallahu akbar.
- Jadi saya mau tanya kalau begitu kita
- menentang rububiyah tidak?
- Tidak.
- Menentang uluhiyah? Tidak.
- Tidak. menentang asma dan sifat bagi
- Allah. Tidak.
- Yang kita tentang
- pemilahan.
- Jangan dipilah pilah. Jangan. Nanti
- kalau tauhidnya dipilah-pilah, nanti
- rukun imannya dipilah-pilah juga. Nanti
- ada orang mukmin seperenam karena cuma
- beriman sama satu rukun saja. Ah, nanti
- kalau dia berimannya sama dua ruk rukun
- orang mukmin 2/6. Nanti ada mukmin 3/6,
- ada mukmin 4/6, ada mukmin 5/6, ada
- mukmin full 6/6.
- Kacau itu, Saudara. Nanti begitu juga
- muslim harus terima lima rukun Islam.
- Nah, karena dia terimanya syahadat doang
- yang empat enggak. Oh, itu muslim juga
- enggak boleh disebut kafir katanya. Itu
- ahli tauhid. E, ahli tauhid rububiyah.
- Berarti apa? Muslim seperlima. Nanti
- kalau dia terima dua rukun, muslim 2/5.
- Kalau terima 3 rukun muslim 3/5. Kalau
- terima 4 rukun muslim 4/5. Kalau terima
- 5 rukun full 100% muslim 5/5.
- Enggak bisa, Saudara. Begitu juga tauhid
- enggak ada tauhid sepertiga, tauhid
- separuh enggak ada. Enggak ada cuma
- tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah.
- Enggak. Enggak. Dia enggak bisa. Siapa
- yang memiliki tauhidur rububiyah wajib
- diikat dengan tauhidul uluhiyah. Dan
- wajib dia mengakui tentang sifat-sifat
- Allah yang maha mulia ini menjadi satu
- kesatuan enggak boleh dipisahkan.
- Dan lucunya Wahabi ini bawa-bawa NU. NU
- juga ngakuin ulukhiyah rububiyah.
- NU itu mazhabnya Asy'ari.
- FPI juga mazhabnya Asy'ari. Jadi kalau
- NU dalam pelajarannya ada mengupas soal
- uluhiyah rububiyah, ya enggak usah
- kaget. Emang kita mengakui kok ada
- uluhiyah, ada rububiyah, ada asma dan
- sifat yang kita tolak bukan bukan
- uluhiyahnya, bukan rububiyahnya, bukan
- asma dan sifatnya yang kita tolak
- pemilahannya.
- Kira-kira jelas tidak
- jelas
- paham semua.
- Alhamduillah
- lillah. Nah, jadi berikutnya. Jadi
- dengan demikian artinya
- rububiyah, uluhiyah, asma dan sifat
- harus menjadi satu kesatuan yang tidak
- boleh dipilah dan tidak boleh dipisah.
- Jadi kalau surat Al-Fatihah dijadikan
- dalil untuk memilah antara rububiyah,
- uluhiyah, asma, dan sifat, itu namanya
- manipulasi
- hujah.
- Yang berikutnya
- Wahabi korupsi dalil.
- Loh, kenapa korupsi dalil? Karena tadi
- surat Azzumar ayat 3 dia potong.
- Cuman disebutkan ma na'buduhum
- illa liuqoribuna ilallahi zulfa.
- Mestinya baca dong ayatnya secara utuh.
- Mari kita lihat ayatnya secara utuh,
- Saudara.
- Auzubillahiminasyaitanirrajim.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alillahul khadaku
- minunihi auliya ma naudumallahiulfa.
- Inallahakum bainahum f hum fihi
- yakalifun. Inallaha yahdi man hua
- kadibun kaffar. Sadaqallahulim.
- Jadi dalam ayat ini Allah mengingatkan
- kita semua. Apa kata Allah? Ingatlah.
- Hanya kemunyaan Allahlah agama yang
- bersih. Bersih dari syirik yaitu agama
- is Islam. Dan orang-orang yang mengambil
- pelindung selain Allah mereka berkata,
- "Kami tidak menyembah mereka." Maksudnya
- tidak menyembah berhala-berhala
- melainkan supaya mereka mendekatkan kami
- kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.
- Sesungguhnya Allah akan memutuskan di
- antara mereka tentang apa yang mereka
- berselisih padanya. Sesungguhnya Allah
- tidak menunjuki orang-orang yang
- pendusta dan sangat ingkar.
- Catat. Saya beri huruf besar itu,
- Saudara.
- Jadi orang yang mengatakan
- kami juga menyembah Allah. Ini
- berhala-berhala cuman wasilah aja supaya
- lebih dekat kepada Allah. Allah katakan
- mereka kadibun kaffar.
- Mereka pendusta yang sangat ingkar,
- Saudara.
- Artinya apa? Ayat ini memberikan pesan
- kepada kita bahwa orang-orang musyrik
- tadi pembohong. Ngaku-ngaku beriman
- kepada Allah, percaya kepada Allah. Cuma
- ini berhala buat dekatin diri kepada
- Allah. Mereka bohong.
- Allah yang nyatakan mereka bohong. Bukan
- sekedar bohong. Kaffa. Mereka itu sangat
- ingkar.
- Sekarang saya tanya, kalau Allah
- menyatakan mereka pendusta, berarti iman
- mereka diakui enggak?
- Berarti tauhid mereka diakui enggak?
- Allah enggak akui mereka sebagai ahli
- tauhid. Bahkan Allah menyatakan mereka
- pendusta, bohong. Mereka sangat ingkar.
- Mereka bukan ahli iman, mereka bukan
- mukmin, bukan.
- Nah, jadi perhatikan itu baik-baik,
- Saudara. Nah, kok Allah menyatakan dalam
- ayat mereka ini pendusta. Artinya bukan
- ahli iman, bukan ahli tauhid. Eh, Wahabi
- bilang mereka ahli tauhid. Rububiyah.
- Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.
- Maka itu saya ajak semua Wahabi, ayo
- kita kembali kepada Al-Qur'an dan
- Asunah.
- Kita baca ayat Al-Qur'an secara utuh.
- Jangan separuh-separu.
- Jangan sekali-kali kalau Allah sudah
- mengingkari iman mereka, mengingkari
- tauhid mereka, bahkan Allah memberikan
- kesaksian bahwa mereka pendusta yang
- sangat ingkar. Jangan coba-coba kita
- sebut mereka sebagai ahli tauhid
- rububiyah. Ahli tauhid macam apapun
- enggak boleh disematkan kepada mereka,
- Saudara. Kira-kira jelas tidak jelas?
- Jadi kalau baca Quran jangan di korupsi.
- Korupsi dalil lebih bahaya dari korupsi
- duit.
- Benar saudara. Korupsi duit orang cuman
- dosa. Kalau korupsi dalil sesat
- menyesatkan. Bukan hanya sekedar dosa,
- Saudara.
- Jangan, jangan kita mesti hati lihat
- ayat Al-Qur'an. Baik, lanjut.
- Lanjut.
- Nah, Azzumar ayat yang berikutnya,
- Saudara, Wahabi gagal paham.
- Jadi, manipulasi hujah, korupsi dalil,
- akhirnya gagal paham. Ya, jelas gagal
- dong kalau ayat dipotong-potong.
- Kalau ayat dipahami secara tidak utuh,
- nanti akan mengantarkan kepada kegagalan
- paham. Mari kita lihat.
- Wahabi tadi hanya pakai awal ayatallah.
- Jadi kalau kamu bertanya kepada mereka,
- siapa menciptakan langit dan bumi?
- Niscaya mereka akan mengatakan Allah.
- Tadi Wahabi berhenti sampai di sini.
- Seolah-olah orang musyrik itu mengakui
- tauhidur rububiyah, Saudara. Tapi baca
- selanjutnya. Berikutnya Allah katakan
- kepada Nabi, "Qul, katakan, ya Muhammad,
- jawab. Bantah mereka. Enggak main-main
- itu, Saudara. Allah suruh jawab. Hei,
- Nabi, jangan diam. Jawab. Bantah mereka.
- Apa yang harus dikatakan oleh Nabi
- alaihiatu wasalam?
- Katakan kepada mereka, maka terangkanlah
- kepadaku tentang apa yang kamu seru
- selain Allah.
- Inani
- halun.
- Kalau Allah Subhanahu wa taala
- mendatangkan kemudaratan kepadaku,
- apakah berhala-berhalamu itu bisa
- menghilangkan kemudaratan tersebut?
- Atau kalau Allah hendak memberikan
- rahmat kepadaku, apakah
- berhala-berhalamu itu bisa menahan
- daripada rahmat tersebut? Allah suruh
- Nabi bantah. Bantah artinya apa,
- Saudara? Allah menjelaskan kepada Nabi
- alaihialatu wasalam bahwa mereka ini
- pendusta.
- ngaku-ngaku Allah pencipta alam semesta.
- Katanya mereka beriman. Mana bukti
- imannya? Kalau mereka beriman kepada
- Allah sebagai pencipta alam semesta, ya
- sembah Allah dong. Jangan sembah
- berhala. Makanya Allah kabarkan kepada
- Nabi, mereka ini bohong, mereka ni
- pendusta, mereka bukan ahlul iman,
- mereka bukan ahli tauhid. Walaupun
- mereka mengaku, mereka mengakui Allah
- sebagai Rabbul alamin. Mengakui Allah
- sebagai Rabbus samawati wal ard. Qul
- jawab ya Muhammad bantah mereka. Jangan
- biarkan mereka. Bahkan di akhir ayatnya
- jawab lagi kepada mereka ya Muhammad
- hasbiallah katakan hasbiallah cukup
- Allah bagikuil
- mau
- min
- ahmil
- [Musik]
- Ah
- maani
- Ahmad
- [Tepuk tangan]
- yabdu min maani Ahmadi
- [Musik]
- Abdullah nama ayahnya
- Aminah ibundanya
- Abdul Muthalib
- kakeknya
- Abu Thalib pamannya
- Khadijah istri setia
- Fatimah
- Putri tercinta
- semua bernasab mulia dari Quraisy
- ternama.
- Inilah kisah sang rasul yang penuh suka
- duka.
- Saya mau tanya, mereka ngaku beriman
- terus Nabi diperintahkan Allah untuk
- bantah mereka, berarti mereka beriman
- tidak?
- Tidak.
- Berarti mereka punya tauhid? Tidak. Iya.
- Kalau mereka beriman, Nabi enggak
- disuruh bantah, Saudara.
- Kira-kira jelas enggak?
- Jelas.
- Jadi kalau baca ayat, baca yang lengkap,
- Saudara. Jangan baca separuh separuh.
- Nah, jadi sekali lagi saya ulangi. Saya
- ulangi.
- Kaum Aswaja Asy'ari tidak menentang soal
- adanya rububiyah, uluhiyah, asma dan
- sifat. Dalam pelajaran NU, dalam
- pelajaran FPI, dalam kitab-kitab ulama
- Asy'ariyah ada penjelasan tentang
- rububiyah, tentang uluhiyah, Saudara.
- Tapi mereka tidak memilahnya. Yang
- pertama kali memilah tauhid menjadi
- tiga, ada uluhiyah, rububiyah, asma, dan
- sifat adalah Ibn Taimiyah. Di abad ke-8
- Hijriah sebelum munculnya Ibn Taimiyah,
- tidak ada satuun ulama mengatakan tauhid
- dibagi tiga. Enggak ada. Nah, tapi kalau
- dalam tauhid dijelaskan, ulama
- menjelaskan apa sih itu tauhid? Oh,
- dalam tauhid itu harus mengakui bahwa
- Allah itu sebagai Rabbul alamin. Harus
- mengakui Allah itu sebagai satu-satunya
- Tuhan yang berhak disembah. Harus
- mengakui kalau Allah itu punya nama yang
- maha indah. Harus mengakui kalau Allah
- itu punya sifat-sifat yang sempurna. Itu
- pembahasan di dalam tauhid. Itu inti
- daripada ajaran tauhid. Tapi bukan
- berarti tauhid dipilah-pilah. Sehingga
- orang kafir disebut ahli tauhid.
- Nauzubillah min
- dalalik. Sampai di sini jelas semua?
- Jelas.
- Agak ngejelimet ya. Tapi mudah-mudahan
- paham.
- Nah, sekali lagi saya ingatkan ini bukan
- tablig akbar. Anggap Anda ini sedang
- kuliah di universitas namanya
- Universitas Petamburan yang belum ada
- izinnya.
- Bab, mudah-mudahan Allah melindungi kita
- semua. Amin.
- Amin.
- Nah, kalau begitu, Saudara,
- mari kita lihat bagaimana sikap umum
- ahlusunah wal jamaah khususnya Asy'ari
- terhadap trilogi tauhid.
- Satu,
- istilah trilogi tauhid tidak dikenal di
- zaman salaf, tapi baru diperkenalkan
- Ibnu Taimiyah di abad ke-8 Hijriah.
- Catat baik-baik. Makanya kalau tadi saya
- katakan ini bidah, jangan disalahin
- dong. Zaman Nabi enggak ada, zaman salaf
- enggak ada. Kan katanya kalau enggak ada
- bidah semua.
- Nah, ini super bidah.
- Baik. Yang kedua, mari kita lihat.
- Tidak ada satuun ayat, tidak ada satupun
- hadis, tidak ada satuun asar dari salaf
- yang menyebut orang muslim sebagai bukan
- ahli tauhid. Enggak ada muslim ya,
- muslim, kafir ya kafir. Muslim ya ahli
- tauhid. Bukan ahli tauhid ya kafir.
- Selesai. Simpel akidah ahlusunah ya
- ikhwan. Simpel. Dia ahli tauhid ya dia
- muslim. Dia bukan ahli tauhid ya dia
- kafir. Selesai.
- Enggak ada tuh kayak tadi Wahabi
- membagi-bagi. Ada muslimnya ahli tauhid,
- ada muslim yang bukan ahli tauhid.
- Muslim yang ahli tauhid mengakui
- rububiyah dan ulhiyah. Muslim yang bukan
- ahli tauhid kalau enggak mengakui Allah
- punya tangan, kaki, mata, itu bukan ahli
- tauhid, asma wa sifat. Enggak ada itu
- pembagian. Orang kafir ada ahli tauhid,
- ada ahli bukan ahli tauhid. Orang kafir
- yang mengakui pencipta alam semesta
- adalah Tuhan yang esa, Allah Subhanahu
- wa taala, mereka ahli tauhid rububiyah.
- Tapi kalau mereka mempersekutukan Allah,
- tetap enggak mau nyembah Allah, berarti
- mereka bukan ahli tauhid uluhiyah. Ini
- pembagian semacam ini, Saudara. ini
- membingungkan umat. Jadi jangan
- mengada-ngad lah. Ikut saja sudah ulama
- salaf kita. Kalau dia ahli tauhid ya dia
- muslim, dia mukmin. Kalau dia bukan ahli
- tauhid ya dia kafir. Selesai. Jangan
- diputar-putar saudara. Nah ini gara-gara
- Wahabi muter-muter begini akhirnya
- dimanfaatkan oleh kalangan liberal.
- Sampai ada kalangan liberal mengatakan
- Ahok itu bukan kafir.
- Saya enggak katakan Wahabi yang bela
- Ahok. Enggak. Cuman pemikiran Wahabi
- semacam ini dieksploitasiatkan
- oleh kalangan liberal, Saudara. Maka
- sekarang kalangan liberal di mana-mana
- berteriak enggak boleh kita kafirkan
- Aho.
- Inna lillahi wa inna ilaihi
- rojiun. Kira-kira jelas tidak?
- Hati-hati. Ini soal akidah. Yang ketiga,
- tidak ada satuun ayat, tidak ada satuun
- hadis, tidak ada satuun asar salaf yang
- menyebut orang kafir sebagai ahli
- tauhid. Enggak ada. Enggak, enggak ada.
- H burhanakum intumin.
- Tunjukkan kepada kami. Ayo buktikan mana
- ayatnya, mana hadisnya, mana asar
- salafnya yang mengatakan bahwa ada
- keterangan orang kafir itu boleh disebut
- ahli tauhid. Enggak ada, Saudara, yang
- mengatakan orang kafir boleh disebut
- ahli tauhid. Yang pertama kali memulai
- Ibn Taimiyah dengan mengatakan bahwa
- orang-orang musyrik itu mereka ahli
- tauhid rububiyah, tapi bukan ahli tauhid
- uluhiyah. Ibn Taimiyah ini bukan nabi.
- Kalau salah ya kita salahkan. Hei para
- pengikut Ibn Taimiyah. Hei para pengagum
- Ibn Taimiyyah. Dalam persoalan ini Ibn
- Taimiyah salah. Akidah Ibn Taimiyyah
- dalam soal ini bukan akidah ahlusunah
- wal jamaah. Kalau kalian mengaku sebagai
- ahlusunah wal jamaah ayo kita kembali
- ila kalimatin sawa. Kita kembali kepada
- kalimat yang sama di antara kita. Jangan
- mengkultuskan Ibn Taimiyah. Seolah-olah
- Ibn Taimiyah ini nahabi yang enggak
- pernah punya salah.
- Ibn Taimiyah ini ulama besar, orang
- pintar, orang cerdas, diakui oleh para
- ulama di zamannya. Bahkan kalangan
- Asy'ari tidak memungkiri, Saudara,
- bagaimana kecerdasan, kepiawanan,
- kehebatan daripada Ibn Taimiyah. Tapi
- jangan lupa, Ibn Taimiyah juga manusia.
- Manusia itu yusib waukhti. Bisa benar,
- bisa salah. Benarnya ikuti, salahnya
- koreksi. Kasihan Ibn Taimiyahnya loh.
- Kenapa saya katakan kesian? Kalau
- kesalahan dia diikuti terus dijadikan
- mazhab.
- Kasihan saudara Ibn Taimiyahnya. Kalau
- kita cinta kepada Ibn Taimiyah, pendapat
- yang sudah dia koreksi ya kita ikuti
- hasil koreksiannya. Ibn Taimiyah di
- akhir hidupnya menarik semua sikap dia
- yang mengkafir-kafirkan yang tidak
- berbeda, yang berbeda pendapat dengan
- dia, Saudara. Tapi sekarang ini para
- pengikutnya banyak memakai pendapat Ibn
- Taimiyah yang lama yang suka gampang
- ngafir-ngafirin orang lain.
- Nah, maka itu kalau cinta Ibn Taimiyah,
- saudara, yuk cintai secara baik, secara
- benar, cintai fillah. Nah, kalau cintai
- fillah, kalau memang kita cinta salah ya
- kita koreksi, kita luruskan bukan untuk
- dikaki-aki, bukan. Kalau salah ya
- benerin, salah ya lurusin, salah ya
- koreksi. Nah, kalau imam kita sudah
- koreksi ya kita mesti terima. Kalau
- memang salah kita mesti akui.
- Kalau Anda merasa imam Anda tidak salah
- ya silakan Anda bela. Silakan Anda bela.
- Tapi jangan kemudian Anda
- mengkafir-kafirkan orang yang mengkritik
- Ibn Taimiyah. Jangan kemudian Anda
- mengkafir-kafirkan orang yang tidak
- setuju dengan pendapat Ibn Taimiyah.
- Nah, ini yang kita mau ingatkan ya,
- Ikhwan. Kira-kira jelas tidak? Baik.
- Yang keempat,
- Saudara, andaiun ada orang kafir
- mengakui adanya Allah seperti dalam
- surat Az-Zumar ayat 3 dan 38, tetap saja
- tidak bisa disebut ahli tauhid selama
- masih tetap mempersekutukan Allah
- Subhanahu wa taala. Ini sikap Asy'ari,
- ini sikap Maturidi, ini sikap ahlusunah
- wal jamaah. Yang kelima, Saudara
- dalam surah Az-Zumar ayat 3, Allah
- Subhanahu wa taala menyebut mereka yang
- katanya mengakui Allah sebagai pendusta
- bahkan yang sangat ingkar. Kadibun
- kaffar.
- Dan di ayat 38
- Allah perintahkan Nabi sallallahu alaihi
- wasallam untuk membantah mereka.
- Nah, kalau Allah sudah mendustakan iman
- mereka, Nabi disuruh bantah iman mereka,
- berarti mereka enggak boleh disebut ahli
- iman maupun ahli tauhid.
- Sampai di sini jelas tidak jelas?
- Baik, sekarang kita lanjutkan yang
- berikutnya
- kita kompromi.
- Nah, ada kompromi. Gimana sih? Ahlusunah
- jangan galak-galak dong. Masa sih
- trilogi tauhid enggak bisa diterima
- saudara?
- Bukan tidak ada jalan kompromi. Ada
- jalan kompromi.
- Jalan komprominya apa? Penuhi syarat
- berikut. Yang pertama,
- trilogi tauhid harus jadi satu. Kesatuan
- tauhid tak terpisahkan.
- Karena inti tauhid hanya satu, tidak
- berbilang, yaitu lailahaillallah
- illallah.
- Jadi konsep uluhiyah, konsep rububiyah
- yang diajarkan oleh Wahabi kita terima.
- Konsep uluhiyah. sama kok dengan kita.
- Enggak beda orang konsep Islam kok. Itu
- bukan konsep Wahabi kok, Saudara. Konsep
- asma sifat ayo kita diskusikan agar kita
- tidak saling mengkafirkan. Duduk. Nah,
- jadi kita bisa terima tapi bukan sebagai
- trilogi, bukan sebagai akidah dibagi
- tiga, bukan sebagai satu kesatuan tauhid
- yang tidak berbilang. Kira-kira jelas
- tidak jelas?
- Berarti ada solusi. Tidak ada. Yang
- kedua, Saudara, ini tidak kalah
- pentingnya
- trilogi tauhid tersebut tidak boleh
- dijadikan sebagai alat pengkafiran
- sesama muslim.
- Bahkan alat penyerupaan muslim dengan
- kafir enggak boleh. Seperti yang tadi
- dilakukan oleh Ibnu Taimiyah, Imam
- Hamidi, Imam Rzi, diserupakan dengan
- tauhidnya orang musyrik. Berarti trilogi
- tauhid dijadikan alat untuk mengkafirkan
- sesama muslim, untuk menyerupakan orang
- muslim dengan orang kafir. Ini enggak
- boleh terjadi. Jadi kalau ini dijadikan
- sebagai alat, kita tolak. Karena Aswaja
- anti mengkafir-kafirkan sesama muslim.
- Kira-kira jelas tidak? Baik. Yang
- ketiga,
- penyematan ahli tauhid hanya untuk orang
- beriman.
- sedang kafir, apapun alasannya tidak
- boleh disebut ahli tauhid.
- Nah, jadi Wahabi mesti tarik dulu nih
- penjelasan-penjelasan orang musyrik
- disebut ahli tauhid rububiyah. Tarik
- dulu itu penjelasan. Dia mesti raja anil
- batil. Ini pendapat yang batil harus
- ditarik dulu, Saudara.
- Kalau sudah ditarik ahlusunah bisa
- terima sejalan dengan ahlusunah wal
- jamaah. Yang keempat,
- Saudara, trilogi tauhid wajib dimaknai
- sesuai akidah ahlusunah wal jamaah
- Asy'ari atau almaturidi.
- Bukan dengan paham Wahabi yang beraroma
- tasbih dan tajsim.
- Kenapa? Soal tauhidur rububiyah kita
- sama Wahabi tidak ada masalah.
- Soal tauhidul uluhiyah kita dengan
- Wahabi tidak ada masalah. Tapi begitu
- masuk tauhidul asma was sifat, kita
- punya masalah besar.
- Sebab Wahabi mengartikan yadullah,
- tangan Allah. Menisbahkan sifat tangan
- bagi Allah. Sedangkan ahlusunah wal
- jamaah menafsirkan yadullah, kekuasaan
- Allah, kekuatan Allah,
- Saudara. Nah, ini dua pemahaman hanya
- bisa diselesaikan kalau masing-masing
- pihak tidak saling mengkafirkan.
- Tapi yang jadi problem sampai saat ini
- Wahabi mengkafirkan
- siapapun yang tidak menerima kalau Allah
- punya tangan, Allah punya kaki, Allah
- punya betis. Mereka katakan ini kaum
- muattilah, ini kelompok yang meniadakan
- sifat Allah.
- Sekurang-kurangnya mereka menyesatkan
- Asy'ari. Kalaupun tidak mengkafirkan,
- sekurang-kurangnya mereka sesatkan semua
- Asy'ari. Nanti kita buktikan ya, Ikhwan.
- Nah, ini mesti diselesaikan dulu. Apakah
- diselesaikannya ee Wahabi mengalah
- kembali ke jalan yang hak ikut Aswaja
- menerima tafwid ataupun menerima takwil
- atau kalau dia tetap ingin dengan
- pahamnya sekurangnya jangan mengkafirkan
- Asy'ari saudara yang mengartikan tangan
- Allah kekuasaan Allah yang mengartikan
- turunnya Allah di langit dunia yang
- pertama yang turun bukan zat Allah tapi
- yang turun adalah rahmat Allah, magfirah
- Allah, keberkahan Allah. Tapi kalau
- orang Wahabi mengartikan zat Allah yang
- turun. Nah, cuman mereka jadi bingung.
- Bingungnya kenapa? Bumi ini kan bulat.
- Tengah malam itu kan selalu ada. Kita di
- sini siang, di belahan lain tengah
- malam. Nah, sedangkan hadis mengatakan
- di setiap tengah malam Allah turun. Nah,
- karena bumi bulat Allah enggak naik-naik
- jadinya.
- Nah, makanya sekarang sebagian mereka
- ngotot bumi itu enggak bulat. Ngotot.
- Nah, supaya apa? Supaya Allah bisa turun
- naik.
- Masyaallah, Saudara. Saya enggak mau
- usil dengan akidah mereka. Silakan
- mereka punya akidah macam itu. Tuh,
- urusan mereka. Yuk, kita dialog. Tapi
- jangan kau kafirkan saudara-saudaramu
- yang enggak percaya dengan kelucuan
- tadi.
- Masa kita enggak percaya sama yang lucu
- dikafirin.
- Kira-kira jelas enggak?
- Itu kan aneh kalau Allah diserupakan
- dengan makhluk. Sementara kita punya
- prinsip laisa kamitlihi
- walam yakul lahu kufuwan ahad. Saudara
- itu akidah ahlusunah. Kami enggak bakal
- pernah yaitu ee
- menyerupakan Allah dengan makhluk atau
- menjasmanikan Allah dalam bentuk dan
- rupa. Saudara, kira-kira sampai di sini
- jelas tidak? Ini empat syarat. Jadi
- kesimpulannya, jika syarat di atas tidak
- terpenuhi maka trilogi tauhid Wahabi
- wajib ditolak. Kenapa? Sebab hanya
- dijadikan alat untuk mentauhidkan orang
- kafir dan mengkafirkan ahli tauhid.
- Nauzubillah minzalik.
- Sampai di sini jelas?
- Jelas
- paham semuanya?
- Alhamdu
- lillah. Belum selesai.
- Belum selesai.
- Saya membuktikan tadi, Saudara.
- Wahabi menolak Asy'ari sebagai Aswaja.
- Saya tidak fitnah.
- Mereka menolak kita sebagai Aswaja. Kita
- disebut bukan Aswaja, bukan ahlusunah.
- Mari kita lihat tokoh-tokoh top
- Wahabilah yang ada di zaman sekarang ini
- yang baru saja meninggal dunia, Saudara
- beberapa tahun lalu. Mari kita lihat.
- Satu, Nasiruddin Albani.
- Nah, ini banyak mengeluarkan kitab-kitab
- hadis.
- Di dalam kitab silsilah al-ahadis
- asahihah juz 6 halaman 676
- dia menyatakan
- aus sunah minal mutamadhibah wal
- asyairah wasufiah whairuhu
- wirih jadius sunah musuhnya sunah
- musuhnya ahlus sunah adalah
- mereka-mereka yang bermazhab
- dan al-syairah dan kalangan asy'ari
- Wasfiah dan kalangan sufi ini semua
- musuh ahlusunah.
- Saya tidak fitnah. Baca kitabnya,
- Saudara.
- Jadi artinya memang mereka nganggap
- Asari ini bukan ahlusunah bahkan
- dianggap musuh.
- Jadi mereka menganggap Wahabi itulah
- ahlusunah. Di luar Wahabi musuh
- ahlusunah. Yang kedua,
- Abdul Aziz bin Abdullah ibn Bas. Syekh
- Abdul Aziz Ibin Bas ini dulu mufti
- daripada kerajaan Arab Saudi. Dulu waktu
- saya sekolah di Saudi, beliau ini masih
- menjabat sebagai mufti. Saudara
- di dalam kitab kumpulan fatwa
- ulama-ulama Saudi diberi judul Alfatawa
- almuhimmah itu di halaman 41. Ibn Bas
- mengatakan sebagai berikut.
- allzi aqlul
- ahlati wal jamaah
- sifat wha
- jadi beliau mengatakan yang betul itu
- yang diputuskan oleh para ahlil ilmi
- oleh para ulama dari kalangan ahlusunah
- wal jamaah bahwasanya la takwil fi ayati
- sifat wala ahaditiha tidak ada takwil
- tentang ayat-ayat sifat maupun
- hadis-hadis sifat
- Jadi kalau sudah disebut tangan Allah ya
- tangan Allah enggak usah ditakwilkan
- lagi sebagai kekuatan Allah. Jadi kalau
- sudah mata Allah ya mata Allah enggak
- usah lagi ditakwilkan sebagai
- pengetahuan Allah, pandangan Allah.
- Kemudian wa innamal muawiluna.
- Sesungguhnya yang mentakwilkan ayat-ayat
- sifat dan hadis-hadis sifat hum mereka
- adalah aljahmiyah, pengikut Jahmiah wal
- muktazilah dan pengikut Muktazilah wal
- asyairah fi ba'd sifat. Dan kaum Asy'ari
- di dalam sebagian sifat. Artinya
- sebagian sifat kita sama Wahabi sepakat
- seperti sifat ee hayatun, ilmun begitu
- saudara. Kudrah, iradah. Nah, kita me
- Wahabi sepakat.
- Nah, tapi kalau Allah punya mata, Allah
- punya betis, nah kita enggak sepakat.
- Jadi mereka anggap tuh yang menyatakan
- Allah punya mata, punya betis, punya
- kaki. Itu pendapat ahlusunah.
- Eah yang mentakwilkan itu Asy'ari. Jadi
- Asy'ari bukan ahlusunah dalam persoalan
- tersebut. Kemudian beliau mengatakan,
- "Amma ahlusunati wal jamaah alma'rufun."
- Sedangkan ahlusunah wal jamaah yang
- dikenal biid naqiah dengan akidah mereka
- yang suci bersih dari segala noda. Fahum
- lawilun. Mereka tidak pernah
- mentakwilkan ayat sifat. Jadi di sini
- Ibn Bas pun menganggap Asy'ari itu bukan
- ahlusunah saudara. Atau kalau boleh
- disebut ahlusunah ya ahlusunah sebagian.
- Ini istilah ahlusunah sebagian bukan
- dari saya. Mari kita lihat yang ketiga.
- Mereka yang menyebut kita ini ahlusunah
- sebagian.
- Mari kita lihat, Saudara. Syekh Muhammad
- bin Shoh Al-Utsaimin. Ini juga sangat
- terkenal dengan fatwa-fatwanya
- dalam kitab Alfatawa almuhimmah halaman
- 171.
- Beliau mengatakan, "Al-syairah
- orang-orang As'ari min ahlusunati wal
- jamaah." Mereka termasuk ahlusunah wal
- jamaah.
- fima
- dalam perkara
- waf ahlusunah ahlus sunahti wal jamaah
- dalam perkara yang mereka sepakat dengan
- ahlusunah
- mereka disebut ahlusunah asy'ari disebut
- ahlusunah dalam perkara yang mereka
- sepakat dengan ahlusunah
- wahum dan mereka mukhalifuna li ahli
- sunnahti wal jamaah mereka bertentangan
- dengan ahlusunah wal jamaah mereka bukan
- ahlusunah wal jamaah fi
- di dalam urusan sifat Allah liannahum
- karena asari itu minatillah tidak
- menetapkan sifat Allah kecuali tujuh
- sifat.
- Tujuh sifat itu yang tadi saudara kita
- kalau baca sifat 20 ada tujuh sifat yang
- sangat penting di antaranya yaitu sifat
- qudrat, iradat, ilmun, hayah, kemudian
- kalam e sama bashar itu tujuh. Jadi
- mereka bilang As'ari cuman cuman kenal
- Allah tujuh sifat doang, lebih dari
- tujuh enggak. Jadi kita dianggap bukan
- ahlus sunah. Kita cuman ahlusunah
- sebagian. Yang kita cocok ahlusunah kita
- ahlusunah. Yang kita enggak cocok kita
- bukan ahlusunah. Kira-kira jelas tidak?
- Saya tanya ini yang bicara semua siapa?
- Apa dari As'ari bukan? Wahabi yang nolak
- As'ari sebagai Aswaja.
- Mereka yang keluarkan As'ari dari
- Aswaja. Saudara,
- padahal Wahabi ini baru lahir abad
- ke-12.
- Aswaja sudah ada dari awal, Saudara,
- dari zaman salaf. Kok bisa yang lahir
- belakangan mengeluarkan As'ari sebagai
- asawadul a'zam, mayoritas muslimin
- terbesar di dunia? Tidak ada satu dunia
- Islam pun yang enggak ada asarinya.
- Sudah
- kok bisa-bisanya mereka keluarkan dari
- Aswaja.
- Nah, ini gara-gara sikap ulama Wahabi
- seperti ini. Sengaja atau tidak sengaja
- ini menularkan kepada Wahabi yang ada di
- Indonesia.
- Mari kita lihat
- saudara Wahabi Indonesia menghujat
- Asy'ari.
- Satu saudara saya tuliskan namanya Yazid
- Jawaz
- dalam buku berjudul Mulia dengan Manhaj
- Salaf bab 13 halaman 519 sampai 521.
- Dia menyatakan Asy'ari adalah firqah
- sesat dan menyesatkan.
- Saya tidak fitnah, ada bukunya dijual
- dibaca orang, Saudara.
- Baik. Yang kedua kita masukkan lagi,
- Saudara Abdul Hakim Abdad. Saudara dalam
- buku Risalah Bid'ah bab 19 halaman 295
- mengatakan As'ari adalah firqah bidah.
- Berani betul dia membitahkan kaum
- Asy'ari, Saudara. Asy'ari ini mayoritas
- terbesar di dunia, Saudara.
- Baik. Yang ketiga kita lihat, Saudara,
- yaitu Hartono Ahmad Jaiz
- dalam buku Bila Kiai dipertuhankan
- halaman 165 sampai 166.
- Dia mengatakan As'ari bukan ahlusunah
- yang di bawah imam yang empat.
- dia tulis ada dalam bukunya. Saya tanya
- ini hujatan bukan buat Asy'ari? Hujatan.
- Kita dianggap bukan ahlusunah
- bahkan dianggap sesat, ahli bidah.
- Kemudian yang keempat,
- Mahrus Ali ngaku mantan pengurus NU,
- Saudara.
- Dia mengarang lebih dari 10 buku. Isi
- bukunya, Saudara, menghantam habis
- amaliah kaum As'ariah dari kalangan NU.
- Jadi mereka sebut tuh yang namanya
- tabarukan, tawasulan, ziarah kubur,
- gosidahan, baca nasid-nasid islami,
- Saudara itu semuanya penyakit TBC. T-nya
- tahayyul, Saudara B-nya bidah, C-nya
- khurafat.
- Dia kasih istilah. Jadi, Asy'ari ini di
- Indonesia ini sudah mengidap penyakit
- TBC. E penyakit TBC itu penyakit takyul,
- penyakit bidah, dan penyakit khurafat.
- Ada dalam bukunya. Saya beli bukunya,
- Saudara. Ada 11 buku yang saya beli
- karangan dia. Saya baca semua.
- Cuman jangan saya baca nanti saya
- dituduh Wahabi. Ya,
- baca aja kan boleh untuk mempelajari.
- Baik, kita punya ini bukunya semua ini
- yang kita tuliskan di sini kita punya.
- Saya enggak berani tuliskan di sini
- kalau saya enggak punya, Saudara. Nanti
- begitu dituntut mana bukunya? Saya
- enggak punya. Ini bukunya semua ada di
- perpustakaan kita di MS Saudara Mega
- Mendung. Sebagian ada di sini. Baik,
- yang kelima.
- Firanda Andirja
- yang keenam Khalid
- yang ketujuh
- bawa
- yang keedelapan
- Riyad Bajri.
- Ini semua bisa kita dapatkan dalam
- YouTube. Anda enggak perlu repot-repot
- beli. Buka YouTube ketemu. Tulis saja
- namanya ketemu saudara. Nah, sekarang
- apa yang dilakukan Firanda Andirja?
- menghabis menghantam habis tokoh Asy'ari
- yang sangat dihormati di Indonesia,
- yaitu ulama besar dari Mekah, seorang
- sayid, seorang syarif Abuya Sayyid
- Muhammad bin Alwi Almaliki.
- Dia hantem habis, Saudara. Dua tentang
- semua. Bahkan soalan soal cium tangan
- dia musyrikan sudah silakan dengarkan
- ceramahnya di YouTube. Sudah
- baik.
- Ah, ini yang baru-baru ini ramai
- menggugat sayiduna dan minal aidin.
- Urusan minal aidin yang banyak diamalkan
- kaum Asy'ari di Indonesia digugat-gugat.
- Minal aidin bidahlah, enggak nyunah lah,
- Saudara.
- Nah, kemudian disindir-sindir apa tuh
- minal aidin? Selamat kembali. Kembali
- dari apa?
- Mesti disebutin dong. Kembali dari
- Jakarta, kembali dari Surabaya.
- Masyaallah. Tuh, ada sindiran macam itu,
- Saudara.
- Nah, jadi sekali lagi hal yang enggak
- penting, Saudara, mereka korek ee
- akhirnya timbul ee perdebatan di
- mana-mana dan bisa mengantarkan kepada
- perpecahan.
- Ini yang belum lama ini ramai saudara
- mengatakan kaum Asari itu kalau bakda
- salat tuh baca-baca selawat saudara itu
- lagi nyanyi. Itu
- itu lagu bakda magrib namanya.
- Masyaallah. Kenapa usil? Kalau mereka
- enggak mau zikir bersama ya enggak usah
- zikir bersama. Enggak usah usil dengan
- amaliah saudaranya. Orang NU yang baca
- selawatan, saudara orang-orang Asy'ari
- yang baca-baca gasidah. Enggak usah
- usil.
- Nah, kemudian Riad Bajri, Saudara. Oh,
- ini paling ekstrem lagi nih. Dia katang
- demo siapapun sesat dan halal darahnya.
- Bahkan dalam rekaman lainnya dia katakan
- apa? Kita-kita ini dituduh Wahabi. Hajar
- itu yang menuduh kita.
- Jangan datang itu. Ngapain kita datang
- itu kiai-kiai mereka kita hajar habis
- mereka. Ini termasuk wala dan baro. Jadi
- artinya kalau ada orang mendatangi Kiai
- As'ari berarti dia enggak punya bar,
- enggak punya wala kepada tauhid. Silakan
- dengarkan, Saudara. Jadi saya tidak
- memfitnah, saya tidak menuduh, Saudara.
- Ini fakta semua ada.
- Nah, jadi kalau memang saudara-saudara
- saya di Wahabi yang baik, yang santun,
- yang selama ini dekat dengan saya, tidak
- mau saya mengcounter persoalan-persoalan
- seperti ini, tolong nasehati ni mereka
- ini. Nasihati saudara-saudara mereka.
- Jangan mentang-mentang kita diam, mereka
- terus menindas kita. Jangan. Bukan
- mereka lagi yang hafal Quran, bukan
- mereka yang hafal hadis, bukan mereka
- saja yang tahu tafsir, bukan ahlusunah
- wal jamaah. Ini gudang ulama, gudang
- ahli tafsir, gudang ahli hadis, gudang
- ahli ushul, gudang ahli akidah. Mau yang
- mana ahlinya kita sediakan, Saudara.
- Jangan, jangan, jangan. Jadi kalau
- enggak mau buat kita marah, tolong
- mereka ini direda. Suruh jangan bikin
- pernyataan yang mencah belah umat. Saya
- mau tanya, Saudara. Ini kalau pernyataan
- begini, lama-lama As'ari tersinggung
- tidakinggung?
- Lama-lama marah tidak?
- Marah?
- Kalau marah bisa jadi konflik? Tidak
- bisa?
- Saya mau tanya, kalau begini karaknya
- lama-lama Wahabi bisa diganyang? Tidak
- bisa diperangi? Tidak.
- Tidak.
- Itu yang kita tidak mau terjadi,
- Saudara. Biarkan perpecahan yang terjadi
- di Syria, yang terjadi di Irak, yang
- terjadi di Libya, yang terjadi di Yaman,
- tidak boleh terjadi di Indonesia.
- Harus kita jaga. Indonesia ini harus
- aman, tenang, damai. Dan selama
- ahlusunah wal jamaah menjadi mayoritas
- saudara di negara Republik Indonesia ini
- kemudian mayoritas ini bersatu
- betul-betul mengamalkan akidah yaitu
- ahlusunahnya insyaallah NKRI ke depan
- akan menjadi baldatun thayibatun
- warabbun gfur. Nah, ini yang saya mau
- sampaikan, Saudara. Jadi bukan memfitnah
- tapi ini ada faktanya. Capek kalau saya
- harus kupas satu-satu dia ngomong begini
- jawabnya begini capek saudara. Mereka
- ini demen bikin sebebar apa video
- mengkafir-kafirkan ibu bapak nabi. Woh
- kemudian memperkuat pakai dalil ibu
- bapak nabi dibilang musyrik. Kita sudah
- jawab sekalipun mereka tetap enggak
- ngerti. Saudara sudahlah kalau kau yakin
- ibu bapak nabi itu musyrik kafir masuk
- neraka cukup itu jadi keyakinanmu. Tapi
- jangan kau sebarkan di Indonesia yang
- mayoritas Asy'ari. Karena mazhab Asy'ari
- ini, Saudara pendapat yang muktamad.
- Saudara, pendapat yang muktamad dan
- berlaku hingga hari ini ibu bapak nabi
- min ahlil fatrah la yuhasaban w
- yuadzaban tidak dihisab dan tidak diazab
- bahkan akan masuk ke dalam surganya
- Allah kok semangat mereka semangat betul
- mereka mengkafir-kafirkan ibu bapak nabi
- semangat saudara ibu bapak nabi kafir
- ibu bapak nabi kafir ada dendam apa
- mereka dengan Rasulullah
- inillah
- Tib. Nah, baiklah. Setelah panjang
- lebar, Saudara, akhirnya saya berikan
- informasi.
- Kemarin tanggal 25 Agustus tahun 2016
- digelar Muktamar Aswaja di Cesnya.
- Muktamar Aswaja di Cesnya.
- Muktamar tersebut dihadiri oleh
- ulama-ulama ahlusunah dari berbagai
- penjuru dunia. Dihadiri oleh Mufti
- Mesir, dihadiri oleh Syekh Ala-Azhar,
- dihadiri oleh Al Habib Umar bin Hafiz,
- saudara dari Yaman, dihadiri oleh Habib
- Ali Al Jufri, Saudara dihadiri oleh
- dosen-dosen akademi dan lain sebagainya.
- 1000 ulama lebih dari seluruh dunia
- hadir dari kalangan ahlusunah wal
- jamaah. Dan mereka memutuskan
- ahlusunah wal jamaah. Saudara, dalam
- urusan mazhab fikih saat ini yang ada
- tersebar di muka bumi ada empat. Hanafi,
- Maliki, Syafi'i, dan Hambali. Kemudian
- di dalam urusan mazhab akidah, Saudara,
- mereka memutuskan bahwa ahlusunah itu
- adalah akidah almaturidiyah
- dan al-Asy'ariyah.
- Sebagai catatan, kebanyakan ulama Hanafi
- ikut Maturidiyah. Kebanyakan ulama
- Malikiyah, Syafi dan Hambali mengikuti
- akidah Asy'arih.
- Nah, kemudian keistimewaan daripada
- kedua akidah ini adalah ashabut tafwid
- wat takwil. Mereka mengakui tareqah
- tafwid dan tareqah takwil. Nanti kita
- jelaskan apa yang dimaksud tafwid dan
- takwil. Jadi ini yang diumumkan oleh
- mereka, Saudara. Lalu apa yang terjadi?
- Saudi ngamuk besar.
- Karena Wahabi Saudi enggak dimasukkan ke
- ahlusunah.
- Hari ini kalau Anda buka berita di
- Saudi, Saudara, baik di surat kabar, di
- TV, dan lain sebagainya, mereka mengecam
- habis muktamar ini. Mereka katakan ini
- muktamar buatan Iran, ini muktamar
- buatan Rusia, ini muktamar buatan
- Yahudi, ini muktamar memecah belah umat
- dan seterusnya.
- Nah, saya ditanya, "Habib, gimana itu
- kok Wahabi Saudi enggak dimasukin?"
- ya saya jawab ya sudah tepat itu
- putusan.
- Lalu bagaimana kalau Wahabi Saudi mau
- dimasukkan? Bisa. Tadi kan sudah kita
- sebutkan syaratnya, Saudara. Bisa. Kalau
- mereka mau dimasukkan,
- Saudara, mereka harus evaluasi kembali,
- yaitu tentang akidah tasbih, akidah
- Tajsim, Saudara, dan juga tentang
- trilogi tauhid yang selama ini mereka
- jadikan pegangan. Itu yang menjadi
- persoalan yang dinilai oleh Aswaja,
- Saudara, Saudara, kalau soal tabaruk,
- soal tawasul, soal maulid, soal Isra
- Mikraj itu masalah furu. Mereka ditolak
- sebagai aswaja bukan karena itu, bukan
- saudara, bukan. Mereka ditolak karena
- trilogi tauhidnya yang bertentangan
- dengan Aswaja. Memilah-milah orang kafir
- disebut ahli tauhid. Itu yang pertama.
- Yang kedua, karena akidah mereka ini
- beraroma tasbih dan tajsim. Nanti kita
- buktikan, Saudara. Walaupun mereka
- menolak, mereka menyerupakan Allah
- dengan makhluk, mereka menjasmanikan
- Allah dalam rupa dan bentuk, Saudara.
- Sehingga mereka ditolak, dikategorikan
- sebagai ahlusunah wal jamaah. Jadi kalau
- Saudi enggak mau dikategorikan di luar
- ahlusunah wal jamaah, jangan
- menyerupakan Allah dengan makhluk.
- Jangan menjasmanikan Allah dalam rupa
- dan bentuk. Jangan memilah-milah trilogi
- tauhid. Jangan orang kafir disebut ahli
- tauhid. Dan ada yang tidak kalah
- pentingnya. Jangan seenaknya
- mengkafir-kafirkan orang di luar Wahabi.
- Nah, selama ini kan mereka yang
- keluarkan. As'ari dikeluarin dari
- Aswaja, Saudara. Maturidi dikeluarkan
- dari Aswaja. Eh, begitu kita keluarin
- dia dari Aswaja ngamuk, Saudara.
- Masyaallah. Kira-kira jelas tidak?
- Jelas?
- Nah, jadi enggak enggak enggak menutup
- saudara. Saudi. Kalau saya katakan
- Wahabi bukan Aswaja, saya tidak
- mengkafirkan mereka. Mereka muslim,
- mereka saudara kita, Saudara. Sama
- dengan Muktazilah juga muslim, Khawarij
- juga muslim, Saudara. Godarih, Jabariah
- mereka semua muslim. Mereka saudara
- kita. Tapi mereka tersesat jalan. Mereka
- harus diluruskan.
- Jadi, Wahabi dalam pandangan saya ahlul
- bid ahwa. Mereka ini pengikut bidah dan
- mengikuti hawa nafsu mereka, Saudara.
- Terlalu mudah mengkafir-kafirkan,
- menyesat-nyesatkan saudara muslimnya.
- Jadi kalau Wahabi mau diterima sebagai
- ahlusunah wal jamaah, bedanya dikit,
- tipis, Saudara. Ini Wahabi tinggal
- dipoles dikit jadi ahlusunah, Saudara.
- Tinggal dipoles dikit, Saudara.
- Bagaimana polesnya? Trilogi tauhid
- disatukan. Jangan dipilah-pilah. Orang
- kafir jangan disebut ahli tauhid. Satu
- tuh. Yang kedua, tinggalkan itu akidah
- isbat yang menjurus kepada akidahbih,
- tasbih dan takjsim. Jangan menyerupakan
- Allah dengan makhluk dan jangan
- menjasmanikan Allah dalam rupa dan
- bentuk. Dan yang ketiga, Saudara,
- syaratnya stop pengkafiran sesama
- muslim. Kalau ini mereka lakukan, mereka
- ahlusunah. Ahlan wasahlan.
- Tapi kalau ini mereka tidak lakukan
- mereka muslim. Tapi mereka bukan
- ahlusunah wal jamaah. Kira-kira jelas
- tidak jelas?
- Ada yang bilang, "Habib enggak takut
- ngeluarin wahabi dari ahlusunah?"
- Saudara, lah. Kenapa mesti takut? Yang
- hak harus dikatakan hak. Qulil haqqo
- walau kana murro. Dan kita bukan sekedar
- teriak di atas mimbar untuk
- menghina-hina. Tidak. Kita ilmiah. Kita
- punya data saudara yang bisa
- dipertanggung jawabkan. Tapi ingat,
- jangan keluar dari sini Anda pulang
- langsung ngafir-ngafirin Wahabi. Wahabi
- kafir tuh. Wahabi bukan Islam tuh.
- Enggak. Saya enggak pernah mengkafirkan
- Wahabi, Saudara. Wahabi muslim, saudara
- kita. Mereka muslim saudara kita ahli
- tauhid, Saudara. Nah, tapi yang jadi
- persoalan ada prinsip-prinsip akidah
- yang kita berbeda dengan mereka. Ya,
- mungkin prinsip ini tidak akan tidak
- akan mencuat menjadi permusuhan kalau
- mereka bisa jaga sikap aja tidak
- mengkafir-kafirkan kelompok yang lain,
- Saudara. Sudahlah kalau mereka tetap
- ngotot dengan apa? Dengan ee
- menyerupakan Allah dengan makhluk,
- Saudara, mereka tetap ngotot. Itu urusan
- mereka. Tapi setidaknya tahan diri.
- Jangan mengkafir-kafirkan yang di luar
- daripada Wahabi. Nah, Wahabi ini
- sebagaimana tadi sudah saya sampaikan
- senang disebut ahlul hadis, senang
- disebut al-Ashayah, senang disebut
- sebagai asalafi. Dan mereka ashabul
- isbat. E cuman sayang secara teori
- mereka ashabul isbat, tapi secara
- praktik mereka beraroma tasbih dan
- tagesim. Apa sih maksudnya? Ini bagian
- akhir. Perhatikan
- supaya jemaah tahu apa tuh tafwid, apa
- tuh takwil, apa tuh tasbih, apa tuh
- tagsim. Perhatikan
- ada ayat Quran atau hadis yang
- menceritakan tentang sifat Allah seperti
- yadullah. Kalau secara bahasa tangan
- Allah, ainullah, secara bahasa mata
- Allah, Saudara. Atau eh dohika rab atau
- Allah tertawa, Saudara. Dhika. Nah, ini
- ini bicara tentang sifat Allah.
- Bagaimana cara menafsirkannya?
- Satu, ada cara tafwid.
- Apa itu tafwid? Menyerahkan makna dan
- hakikat sifat Allah kepada Allah dengan
- tujuan tanzi.
- Jadi kalau Allah katakan yadullah,
- apa maksudnya
- saudara? Cara ini hanya menjawab
- wallahuam bimuradih. Hanya Allah yang
- tahu apa maksud tangan Allah. Wallahuam.
- Tapi mereka juga enggak berani
- menisbahkan tangan kepada Allah. Jadi
- mereka mengambil sikap tafwid
- menyerahkan urusan kepada Allah.
- Ini tareqah yang pertama. Kedua,
- tareqah takwil.
- Apa itu takwil?
- Menafsirkan sifat Allah dengan makna
- majazi.
- Tapi tetap harus sesuai dengan aturan
- bahasa Arab yang benar. Manakala makna
- hakiki mustahil digunakan.
- dengan tetap menyerahkan hakikatnya
- kepada Allah Subhanahu wa taala dengan
- tujuan tanzih. Tanzi itu mensucikan
- Allah dari sifat yang tidak layak. Nah,
- contoh apa? Yadullah fauqo aidihim.
- Tangan Allah di atas tangan mereka.
- Kalau diartikan tangan Allah ini makna
- hakikinya yang namanya tangan ini ada
- jari, ada kepelan. Ini tangan makna
- hakiki. Nah, menisbahkan makna hakiki
- kepada Allah mustahil dalam akidah
- ahlusunah.
- Kenapa mustahil? Karena ada ayat yang
- berbunyi laisa kamlihi.
- Enggak ada sesuatu yang seperti Allah.
- Nah, karena makna hakikinya mustahil
- digunakan makna kiasan, makna majazi.
- Tangan itu dalam bahasa Indonesia boleh
- enggak diartikan kekuatan? Boleh. Maka
- itu diartikanlah yaullah fauqo aidihim.
- Kekuatan Allah, kekuasaan Allah di atas
- kekuatan mereka. Itu namanya takwil.
- Jelas tidak?
- Yang ketiga,
- tariqah isbat.
- Isbat ini menafsirkan sifat Allah dengan
- makna zahir, tapi tetap menyerahkan
- hakikatnya kepada Allah dengan tujuan
- tanzi. Contoh, yadullah faqoidihim.
- Tangan Allah di atas tangan mereka.
- Mereka ditanya, "Ini apa maksud tangan
- Allah?" Ya, makna tangan makruf. Kita
- sudah tahu Allah punya tangan, Allah
- yang sebut. Tapi bagaimana hakikat
- tangan Allah? Wallahuam.
- Jadi mereka tetap mengartikan makna itu
- tangan, meyakini Allah punya tangan,
- Saudara. Tapi mereka juga pada saat yang
- sama meyakini
- bahwa tidak ada satuun yang tahu
- bagaimana itu tangan Allah.
- Ini namanya isba.
- Nah, yang keempat tasybih atau tajsim.
- Ini menafsirkan sifat Allah dengan makna
- hakiki.
- Jadi kalau disebutkan tangan Allah ya
- artinya tangan Allah. Tangan Allah ya
- bagaimana ya tangan begini sama seperti
- manusia punya.
- Ini namanya tasbih dan tagsim.
- Nah saudara
- Aswaja mengambil tareqah yang pertama
- dan kedua.
- Seluruh ulama ahlusunah wal jamaah
- membolehkan ikut tafwid atau takwil.
- dari dulu sampai sekarang termasuk
- tafsir Imam Thabari itu tafsir salafi,
- tafsir ulama salaf yang tertua saudara
- itu menggunakan tafwid dan menggunakan
- takwil.
- Nah, kemudian
- Wahabi
- secara teori mengambil tareqah yang
- ketiga secara teori.
- Tapi sayang sejuta sayang dalam praktik
- cenderung kepada tasbih dan tajsid.
- Secara teori mereka mengatakan Allah
- punya tangan tapi tangan Allah tidak
- seperti tangan kita. Allah juga punya
- mata tapi mata Allah tidak seperti mata
- kita. Allah juga punya kaki, tapi kaki
- Allah tidak seperti kaki kita. Allah itu
- punya betis, tapi betis Allah tidak
- seperti betis kita. Allah punya wajah,
- tapi wajah Allah tidak seperti wajah
- kita. Kenapa mereka katakan itu? Karena
- dalam Al-Qur'an ada keterangan yadullah,
- tangan Allah. Ainullah, mata Allah,
- wajhubik, wajah Tuhanmu. Jadi mereka
- mengartikan secara zahir, cuman
- hakikatnya mereka serahkan kepada Allah.
- Cuman begitu bicara tentang ayat lupa
- mereka mentok. Karena dalam Al-Qur'an
- kan ada saudara disebutkan saudara bahwa
- mereka lupa kepada Allah wasiahum dan
- Allah lupa kepada mereka.
- Apa kita boleh mengatakan Allah juga
- punya sifat lupa tapi lupanya tidak
- seperti lupa kita?
- Wah, kacau balau itu, Saudara.
- Mereka mentok begitu bicara tentang
- sifat ini, Saudara. Nah, ini yang
- ditolak oleh ahlus sunah wal wal jamaah.
- Kira-kira jelas tidak? Jelas tidak? Nah,
- dalam praktiknya, Saudara, akhirnya
- mereka tidak terhindarkan dari aroma
- tasbih dan tajsim. Buktinya kita lihat,
- Saudara. Mari kita lihat ini sebagai
- bukti saja. Ibn Taimiyah dan Ibnul
- Qayyim, Saudara mereka menentang tasbih.
- Mereka sebetulnya ahlul isbat ikut yang
- nomor tiga. Tapi ada hal menarik dalam
- kitab at-TSIS firad Asasit Taqdis
- karangan Ibn Taimiyah juz 1 halaman 101.
- Ibn Taimiyah mengatakan, "Walaisa fi
- kitabillahi w sunati rasulih." Tidak ada
- di dalam kitabullah Al-Qur'an ataupun
- sunah nabi. Wala qu ahad min salafil
- ummah. Tidak ada juga dalam perkataan
- salah seorang ulama salaf waimatiha
- maupun para imam daripada umat Islam
- anahu bahwasanya Allah laisa bismin
- Allah tidak punya jisimatahuaman
- bahwa Allah punya sifat ituah itu tidak
- punya rupa dan tidak punya bentuk enggak
- ada dalam ayat ini kata-kata saudara
- berarti Ibn Taimiyah membuka pintu
- Saudara karena di dalam Quran, dalam
- hadis enggak ada keterangan dari ulama
- salaf kalau Allah itu saudara tidak
- punya jasad, tidak punya bentuk saudara.
- Maka enggak apa-apa kalau orang meyakini
- kalau Allah itu punya jasmani dan punya
- bentuk. Ada dalam kitabnya, Saudara, ini
- mengarah kepada penyerupaan Allah kepada
- makhluk.
- Nah, baik. Yang kedua, Saudara Ibni
- Batutah ini seorang pengembara muslim
- yang keliling dunia, Saudara. Nah,
- kemudian suatu ketika dia cerita
- pengembaraannya di Damaskus. Ini orang
- magrib, Saudara, orang Afrika, Muslim.
- Nah, kemudian dia katakan, "Wakana bids
- dulu di kota Damaskus min kibar fuqahail
- Hanabilah ada seorang fuqaha besar
- daripada mazhab Hambali namanya
- Takqiyuddin ibn Taimiyyah. Namanya
- adalah Ibn Taimiyah Kabirus Syam. Dia
- merupakan ulama besar di negeri Syam.
- Yatakallamu fil funun." Dia bicara
- tentang aneka ragam ilmu. Luar biasa
- ilmunya luas.
- Hanya saja
- hanya saja di dalam akalnya ada sedikit
- yang enggak beres.
- Ini Ibn Batutah ini yang cerita. Nah,
- terus dia cerita
- saat itu aku ada di kota Damas. Nah,
- jumah nah kemudian datanglah hari Jumat.
- Fahadartuhu yaumal jumah. Ana duduk di
- Damaskus pada hari Jumat.
- Di ketika itu aku ketemu dengan Ibn
- Taimiyah wahua yaunas. Dia sedang
- memberikan mauidah kepada umat alim jam
- di atas mimbar masjid jami
- Damaskusakirum
- dan menasihati umat memberikan
- peringatan-peringatan
- jumlati kalam dan di antara yang dia
- ucapkan saat lagi jadi khatib di atas
- mimbar annahu bahwa dia berkata
- inallahazilu
- dunya Allah itu turun dari langit dunia
- yang pertamauli h seperti turunnya saya
- dari mimbar ini.
- Dia turun di atas mimbar. Saya mau
- tanya, itu menyerupakan Allah dengan
- makhluk tidak?
- Padahal secara teori Ibn Taimiyah ini
- anti tasbih, anti tagajib. Dalam
- kitabnya mujassim musyabbi disikat habis
- sudah. Tapi dalam praktiknya ini
- gara-gara tariqoh isbat ini, Saudara.
- Maka itu tariq isbat kalau tidak
- hati-hati menggunakannya bisa
- mengantarkan kepada tasbih dan takjsin.
- Nah, sekarang kita lihat lagi Ibnul
- Qayyim
- dalam surah ee buku kitab Badaiul Fawaid
- juz 4 halaman 38.
- Saudara kalau tadi Ibnu Batuta dalam
- kitabnya Arrehlah juz 1 halaman 109 dan
- 110. Nah, Ibnu Qayyim sekarang apa
- dikatakan?
- Beliau mengatakan anallaha sesungguhnya
- Allah yajlisu alal ars duduk di atas
- singgahsana
- dan Allah mendudukkan di sampingnya
- sayidana Muhammad yaitu Nabi Muhammad w
- maqamul mahmud. Inilah yang disebut
- magam yang sangat terpuji. Jadi, Ibnul
- Qayyim mengartikan magam Mahmud yang
- akan dianugerahkan oleh Allah kepada
- Nabi. Nanti Allah duduk di singgahsana,
- Nabi didudukin di sebelahnya Allah.
- Ini menyerupakan Allah dengan makhluk.
- Tidak. Kalau Allah duduk di singgahsana
- dan nabinya nanti didudukin di atas
- singgassana, berarti singgahsananya
- lebih besar dari Allah. Sebab kalau
- singgahsananya kecil, enggak muat dong
- Allah duduk.
- Nah, kalau singgah Allah muat duduk di
- singgahsana, berarti singgahsananya
- lebih besar dari Allah. Allahnya lebih
- kecil dari singgasana. Berarti Allah
- tidak akbar lagi.
- Kira-kira jelas tidak? Saya tanya itu
- kalau kelompok Asy'ari bisa terima
- enggak yang begitu?
- Bisa, Saudara. Nah, ini faktanya. Maka
- itu sekali lagi As'ari menerima tafwid,
- menerima takwil, dan menolak isbat.
- Apalagi tasbih dan takzim, Saudara. Nah,
- inilah panjang lebar sudah saya
- sampaikan pada hari ini. Mudah-mudahan
- bermanfaat untuk kita semua.
- Amin.
- Tapi saya minta kepada semua yang hadir
- di sini pada hari ini, jangan penjelasan
- saya ini dijadikan sebagai alat,
- Saudara, untuk memecah belah umat.
- Jangan dijadikan alat saudara untuk
- menghabisi atau menyerang saudara kaum
- Wahabi. Tidak. Saya tetap punya obsesi
- besar ke depan. Bagaimana seluruh
- kelompok umat Islam baik itu ahlusunah
- wal jamaahnya maupun di luar Aswajanya,
- mereka bersatu. Bangun peradaban dialog.
- Jangan ngoce-ngoce di YouTube, jangan
- ngoce-ngoce di mimbar, Saudara. Kalau
- ada yang kita berbeda, ayo kita duduk
- sama-sama kita dialog. Dialog bilmi
- walab dengan ilmu dan adab tidak
- seenaknya saling mengkafirkan, Saudara.
- Kasihan umat Islam. PR kita sudah banyak
- saudara nih. Sebentar lagi kita akan
- menghadapi Pilkada di Jakarta. Kita
- perlu bersatu sesama umat Islam. Rebut
- ini kepemimpinan, Saudara. Nah, jangan
- disebarlaskan di tengah-tengah umat.
- Saling mengkafirkan di antara kita,
- Saudara. Dikit-dikit ini dikafirkan,
- dikit-dikit itu dikafirkan, Saudara.
- Nah, karena itu sekali lagi khususnya
- kepada saudara-saudara saya di Wahabi,
- Anda ini muslim, Anda ahli tauhid, Anda
- saudara kami. Dan Anda punya kitab Quran
- sama dengan kitab Quran kami. Anda punya
- kitab hadis sama dengan kitab hadis
- kami. Kita sama, kita sejalan. Nah,
- kalau Anda ingin diterima sebagai
- ahlusunah wal jamaah oleh kami,
- bersikaplah seperti ahlusunah wal
- jamaah. Berakidahlah seperti ahlusunah
- wal jamaah. Sekurang-kurangnya jangan
- mengkafir-kafirkan sesama muslim.
- Nah, ini yang kita jadi kita ajak kalau
- mereka mau dialog secara kekeluargaan,
- yuk duduk ayo dong tanya, "Hei Aswaja,
- kamu tabaruk apa sih dalilnya? Coba dong
- saya mau lihat. Kalau enggak ada dalil
- kan bidah, kalau bidah kan dolalah.
- Kalau dolalah kan finar. Ente kan
- saudara ana, ana enggak mau dong ente
- masuk neraka. Begitu dong. Nanti kita
- tunjukkan dalilnya. Kalau kita punya
- dalil, kita tunjuk dalil. Kalau kita
- enggak punya dalil, ya kita jangan
- ngotot, Saudara. Kalau memang kita
- salah, kita kembali. Jangan kita
- melakukan bidah. Karena ahlusunah wal
- jamaah pun juga anti bidah. Kira-kira
- jelas tidak? Nah, ucapan saya ini bukan
- hanya untuk Wahabi, untuk seluruh mazhab
- di luar ahlusunah wal jamaah. Ayo jalan
- bersama. Ayo mari. Jangan lakukan kufrun
- bawa. Kalau Anda melakukan kufrun bawa,
- kekufuran yang nyata, pasti kami akan
- kafirkan. Tapi kalau baru berbeda dalam
- persoalan-persoalan furu, yuk duduk
- dialog. Jangan seenaknya Anda menghina
- Asy'ari, menghina Syafi'i, menghina
- Ahlusunah wal Jamaah. Jangan. Jangan.
- Asy'ari ini asawadul aam, mayoritas
- terbesar umat Islam yang ada di dunia
- saat ini, Saudara. Makanya seperti
- pengalaman konferensi kemarin. Nah,
- gara-gara sikap Wahabi terlalu agresif,
- sering mengkafir-kafirkan Asy'ari,
- akhirnya ulama-ulama ahlusunah sedunia
- berkumpul di Kesnya dan mengeluarkan
- Wahabi dari Aswaja. Mau apa lagi dia?
- Itu kan musibah buat dia. Ya, sebetulnya
- juga kita prihatin. Kenapa kita harus
- pecah, Saudara? Tapi inilah akibat yang
- harus ditelan oleh Wahabi. Karena
- terlalu agresif, demonstratif,
- konfrontatif, suka menyalah-nyalahkan
- Asy'ari, Maturidi, dan lain sebagainya.
- Kira-kira jelas tidak?
- Alhamdulillah. Mudah-mudahan semuanya di
- sini siap bersatu,
- siap
- siap bersaudara,
- siap jaga ahlusunah wal jamaah.
- Takbir.
- Allahu Akbar. Shallu alan nabi.
- Saya mau tanya kepada yang ada semua.
- Ternyata Asari Aswaja ini punya dalil
- kuat tidak
- kuat?
- Punya landasan bagus tidak
- bagus?
- Apa Asari sembarangan mengkafir-kafirkan
- orang?
- Tidak.
- Berarti Sunni As'ari indah tidak? Tidak.
- Lembut tidak?
- Santun tidak?
- Siap jaga Sunni Asy'ari?
- Takbir.
- Allahu Akbar.
- Shallu alan Nabi.
- Itu saja yang saya mau sampaikan.
- Sekarang di sini kita tidak mau
- sia-siakan kesempatan
- maulidi
- min ma
- ahil
- maulidi
- wabdu
- [Tepuk tangan]
- Ahmadi
- [Musik]
- [Tepuk tangan]
- ma Ahmadayalilayil
- [Musik]
- Abdullah
- Nama ayahnya
- Aminah, ibundanya
- Abdul Mutalib,
- kakeknya
- Abu Thalib, pamannya.
- Khadijah istri setia,
- Fatimah putri tercinta.
- Semua bernasab mulia dari Quraisy
- ternama.
- Inilah kisah sang rasul yang penuh suka
- duka.
- Inilah kisah Rasul. Yeah.