Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
- [musik]
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillahiabbil alamin. Allahumma
- sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali
- sayyidina Muhammad. Ikhwan dan akhwat
- yang dirahmati Allah subhanahu wa taala
- yang dapat meraih kami baik itu lewat ee
- YouTube Rasil juga lewat radio Rasil.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Bahagia sekali saya
- Caroline bisa hadir di tengah ruang
- dengar Ikhwan dan Akhwat. Setiap hari
- Jumat rutin kita mengikuti dan berkaji
- bersama guru kita Ustazah Herlini Amran
- dan beliau sudah berada di seberang
- sana. Kita masih hybrid. Mari kita sapa
- terlebih dahulu. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh, Ustazah.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Senang sekali ketemu lagi sama Ustazah
- walaupun masih virtual tapi Ustazah
- sehat ya.
- Alhamdulillah. Luar biasa. Tetap
- semangat. Allahu Akbar. Masyaallah.
- Allahu Akbar, Ustazah. Dan hal tersebut
- juga kita harapkan sedang dialami juga
- oleh pendengar kita, Ustazah ya, dalam
- keadaan sehat, semangat dan insyaallah
- Jumat berkah ini kita akan mendengarkan
- kajian bersama dengan tema pada kali ini
- yaitu kompak mendidik anak. Teladan dari
- kisah Nabi dalam Al-Qur'an. Tafadul
- Ustazah. Jazakillah. Mbak.
- Bismillahirrahmanirrahim.
- Alhamdulillah.
- Alhamdulillahilladzi alfa baubinaasbahna
- ikhwana. Ya rabbana lakal hamdu bil
- iman. Yaana bilam yaana
- bilakalam
- ahli muah lakal hamduin
- anamtaha
- allahumma shi wasallim wabarik ala
- sayyidina muhammadin waa alihi wa
- ashabihi ajmain w allahum inna nasaluka
- ridaka wal jannah wa naubika minhatika
- eh membahas tentang kompak mendidik anak
- ini memang suatu hal yang sangat penting
- ya dalam sebuah keluarga. Karena kita
- tahu lembaga keluarga ini adalah tempat
- anak mengenal makna kehidupan ya,
- mengenal nilai, mengenal akhlak. Bahkan
- di dalam Islam itu mendidik anak bukan
- hanya tugas ayah atau hanya ibu saja,
- tapi tugas mereka berdua. Tidak boleh
- terpisah. ya. Dan kita tahu ee bagaimana
- kewajiban
- ee ayah dan ibu bersama-sama kompak
- dalam ee membangun, membina, mendidik,
- mentarbiah putra-putrinya. Artinya di
- sini bagaimana
- kekompakan dan kerja sama dan
- keselarasan itu harus dibentuk ya dari
- orang tua karena kita tahu dampaknya itu
- akan luar biasa. Bahkan salah satu
- faktor keberhasilan,
- faktor keberhasilan dalam pendidikan
- anak itu ya, faktor keberhasilan itu
- adanya kerja sama yang baik antara ayah
- dan ibu, ayah dan bunda ya. Kompak dalam
- visi, dalam tujuan, dalam motivasi,
- dalam orientasi kehidupan ya. Jadi harus
- dipastikan suami istri itu kompak ya
- dalam mengarahkan
- anaknya mendidik atau mentarbiah
- putra-putrinya agar sesuai dengan apa
- yang mereka inginkan ya ee sesuai dengan
- visi yang telah mereka sepakati ya. Nah
- ee kita bahas memang ee bagaimana
- kekompakan orang tua ini dalam mendidik
- anak. Tentu kita mengambil teladan dari
- kisah Nabi dalam Al-Qur'an. Nah, sebelum
- kita bahas ee bagaimana kita mengambil
- keteladanan, bagaimana ee kekompakan
- keluarga dalam Al-Qur'an ya, teladan
- dari kisah Nabi ini, kita sedikit ee
- bahas ya, bagaimana bahayanya jika orang
- tua tidak kompak dalam mendidik anak.
- Wah, bahaya banget ya. Misalnya anak itu
- akan bingung, tidak punya arah ya. Jika
- ayahnya menginginkan A, ibunya
- menginginkan B. Ya, mungkin dari kecil
- mungkin ee tidak terasa ya. Tapi ketika
- anak ini berkembang, ini anak ini akan
- bingung. Ini anaknya enggak punya
- pedoman yang jelas pasti mencari-cari
- pembenaran ini yang benar yang mana. Ya,
- bapaknya nyuruh ini, ibunya nyuruh ini.
- Ya, tidak terbentuk sifat apa? Sikap
- konsisten dan disiplin gitu ya. Jadi ini
- tentu anak jadi bingung ya. Jadi salah
- salah arah ya. Bahkan juga ee dengan
- dualisme kepemimpinan ini anak ini
- enggak jelas nanti mau ke mana. Kalau di
- mengikuti ayah dia akan dimarah oleh
- ibunya, mengikuti ibu dimarahi oleh
- ayahnya. Bisa juga anak itu kehilangan
- rasa aman ya dan kasih sayang ya. Ya kan
- memang ee kehad itu kan kalau dualisme
- pendidikan enggak kompak, enggak
- harmonis antara ayah dan ibu. tentu
- muncul ee pertengkaran ya, tidak
- harmonis antara ayah dan bunda. Nah,
- tentu ini akan dipertontonkan di hadapan
- anak ya. Kan nanti anaknya timbul stres
- ya, rasa tidak dicintai, bingung, tidak
- nyaman. Nah, ini repotnya repot yang
- seperti ini ya. Anak itu bingung sendiri
- dia. Bahkan nanti dampaknya bisa menjadi
- anak yang pembohong atau manipulatif ya.
- dia bisa memanfaatkan antara perbedaan
- orang tuanya mana yang ee menurut
- kepentingannya dia akan ambil itu ketika
- misalnya ee lagi menuruti perintah
- mungkin yang lebih longgar tuh ayahnya.
- Nah, dia akan cenderung ke ayahnya dan
- dia menjauh ibu ini kan timbul
- pertengkaran. Jadi anak ini bisa
- memanfaatkan perbedaan orang tua untuk
- kepentingannya sendiri. dia akan
- berbohong ya demi mendapatkan izin dari
- ee salah satu misalnya si ee ibunya
- melarang pergi, ayahnya membolehkan.
- Wah, itu kan atau misalnya bagaimana
- memainkan perasaan ayah dan ibu saling
- menyalahkan. Ibunya tidak tidak
- mengizinkan anaknya untuk memegang HP
- ya, jejama
- ayahnya malah membelikan. Masyaallah,
- ini luar biasa banget ya dampaknya ya.
- ee banyak hal lah ya yang memang akan
- timbul dari e ketidaktidak kompakan ini
- ya. Anak itu tidak akan ee menghargai
- aturan, mudah terpengaruh dengan
- lingkungan luar karena di rumah tidak
- kuat ya bimbingannya ya. Nah, ini kita
- hindari. Nah, ee dalam hal kekompakan
- mendidik anak ini kita ee akan mengambil
- teladan ya dari kisah Nabi dalam
- Al-Qur'an ya. ee kisah Nabi kita kita
- hindari yang pertama tuh yang tidak
- kompak dulu ya. Ee kita hindari itu
- cukuplah itu menjadi pelajaran untuk
- kita untuk tidak mengikutinya. Misalnya
- pelajaran dari ee kisah Nabi Nuh Alaih
- Salam ya. Kita tahu Nabi Nuh Alaih Salam
- itu dakwahnya cukup lama ya. Beliau
- mempersiapkan kapal karena Allah
- memerintahkan untuk ee mempersiapkan
- kapal ini untuk nanti orang-orang yang
- mengikutinya itu diselamatkan. Ya. Nah,
- saya saya tidak bahas itu ya. Saya bahas
- ini pelajaran buat kita ya. Anak Nabi
- Nuh Alaih Salam itu menolak ikut naik
- kapal ya. Padahal kalau kita lihat dalam
- berada dalam keluarga yang bapaknya Nabi
- loh gitu ya. Tapi anak ini tidak mau
- mengikut menolak ya. ini ee merupakan
- kegagalan komunikasi, kurangnya respon
- dari anak ya. Karena bisa jadi belum
- tersampaikan ee nilai-nilai. Karena apa?
- Karena ibunya. Masyaallah ibunya. Kenapa
- ibunya? Allah kan mengabadikan ya
- tentang istrinya Nabi Nuh ini.
- Nuh wroat. Nah, kita bicara imroatan
- Nuh. Ibunya itu tidak beriman. Jadi
- Allah membuat perumpamaan bagi
- orang-orang kafir, istri Nuh. Nah, jadi
- si ibu ini ya kalau kita bicara ee
- sebagai ee seorang ibu atau istri enggak
- kompak dengan suaminya sehingga
- menghasilkan anak seperti itu. Sementara
- ayahnya itu mengarahkan keluarganya,
- membimbing keluarganya, tapi ibunya
- enggak sepakat. Nah, jadi ini kegagalan
- komunikasi ini yang menyebabkan
- kurangnya respon daripada anak. Maka ee
- ujungnya kan kehancuran ya. Ya. Dalam
- surat Hud 43 tuh ya qola saawi ila
- jabaliimuni minal ma. Anaknya itu
- mengatakan, "Ya, aku cari perlindungan
- aja deh ke gunung gitu ya." Nah, ini
- kita bicara ee itu memang kisah Nabi ya,
- bagaimana ee tidak beriman ee ibunya.
- Kita bicara di sini tentang kisah Nabi,
- tapi kita mengambil ee untuk saat ini
- pola asuh ya. Ini menunjukkan pentingnya
- komunikasi dan pengaruh berkesinambungan
- antara ayah ibu. Ya, kalau kita kan
- jelas ya dalam ee syariat Rasulullah
- sallallahu alaihi wasallam kan enggak
- boleh ee beda beda keyakinan tuh sudah
- jelas enggak boleh enggak boleh menikahi
- wanita musyrik atau sebaliknya. Ya, ini
- kan kita dalam satu agama ya. Dalam satu
- agama pun sama-sama beriman kepada
- Allah, beragamakan Islam, berkitabkan
- suci Al-Qur'an, ya. Bernabikan
- Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
- ya ee yang mengaku ahlusunah wal jamaah
- atau apalah. Tapi kan dalam pola
- pendidikan anak harus kompak supaya anak
- ini tidak bingung dia. Nah, kita lihat
- bagaimana komunikasi yang berjalan
- antara Nabi Nuh dengan istrinya yang ya
- karena istrinya itu enggak saleh ya,
- enggak salihat ya, tidak beriman ya.
- Akhirnya karena ibu ini adalah pendidik
- utama anak maka tidak tersampaikan apa
- yang dibawa oleh ayahnya Nabi Nuh alaihi
- salam kepada anaknya. Jadi penting
- sekali ibu ini ya dalam menjalankan visi
- apa visi atau misi yang dicanangkan oleh
- ayah. Jadi peran ayah itu sangat penting
- dalam ee pendidikan anak ini. Ayah
- makanya di dalam Islam tuh kedudukan
- ayah tuh sangat penting ya dalam GBHK ya
- garis-garis besar haluan keluarga. Jadi
- betul ibu itu madrasah ee ummu madrasah.
- Betul ibu itu adalah madrasah ya ee
- sekolah madrasah pendidikan. Tapi siapa
- dong kepala sekolahnya? gitu. Enggak
- bisa dong diserahkan kepada ibu saja.
- Tapi yang menjadi pokok dari
- keberhasilan pendidikan dan pola asuh
- ini adalah ayah. Makanya dalam Al-Qur'an
- itu simbol ayah itu jelas ee utama
- ketika Allah menyampaikan kepada kita
- yang e memerintahkan kepada orang
- beriman e ya ayyuhalladzina amanu
- anfusakum wa ahlikum naro itu kan untuk
- laki-laki. Wahai orang-orang beriman
- anfusakum jaga dirimu, lindungi dirimu
- dan keluargamu dari api neraka. itu kan
- bapak sebagai qawam jadi di sini ee
- ketika qawamnya sudah baik tapi ternyata
- istrinya enggak baik ya akhirnya
- berdampak ya tidak bisa mendidik
- istrinya tidak mampu mengarahkan, enggak
- punya modal ya bapaknya enggak punya
- modal untuk mendidik istrinya hanya
- nuntut bagaimana bisa ee anak-anak ee
- menjadi apa yang diinginkan oleh ee
- mereka ya. Jadi kesamaan visi dan misi
- antara suami dan istri kompak dalam
- mengasuh, merawat, dan membimbing anak
- itu adalah suatu keniscayaan ya walaupun
- sebenarnya hidayah itu di tangan Allah
- ya. Baik. Jadi ini ee contoh bagaimana
- tidak kompak antara Nabi Nuh dengan
- istrinya ya. Nah, makanya ee ini
- pelajaran buat kita ya. Jadi sesaleh
- apapun
- suami istri atau orang tua yang suaminya
- saleh, istrinya salihah, tapi ketika
- dalam pola asuh dan pendidikan anaknya
- enggak kompak, ah itu akan berbahaya
- itu. Wow, repotlah itu ya. Nah, ee tadi
- disebutkan bahwa ee tadi dalam Al-Qur'an
- ya Allah membuat perumpamaan tentang ee
- orang-orang kafir ya, istri Nuh ya.
- Imroata Nuh wa imra Luthtaini
- tahta abda minihinahuma.
- Ya, Allah buat perumpamaan bagi
- orang-orang kafir itu istri Nabi ee Nuh
- dan istri Nabi Luth. Keduanya berada di
- bawah naungan, di bawah pengawasan, di
- bawah ee kepemimpinan dua hamba yang
- saleh di antara hamba-hamba Allah. Ee
- dua istri ini khaatahuma, berkhianat
- kepada suaminya. Jadi, pengkhianatan ini
- itu enggak identik dengan ee apa
- namanya? perselingkuhan ya, perzinahan.
- Enggak. ini maksudnya bukan ee khianat
- pengkhianatan fisik, tapi ini adalah
- pengkhianatan dalam hal iman ya, dalam
- hal keimanan, dalam hal dakwah ya.
- Mereka enggak beriman karena mereka
- enggak mendukung dakwah ee ee suaminya
- mereka itu menentang dakwahnya itu
- pengkhianat ya. [berdehem] Jadi dalam
- konteks istri Nabi Nuh ini dia tidak
- percaya ya, tidak beriman kepada
- suaminya, apa yang dibawa suaminya, dia
- berpihak kepada orang-orang kafir ya.
- Nah, seperti ini mendidik anak bagaimana
- bisa berhasil. itu ya. Jadi ee walaupun
- dia statusnya seorang istri nabi, kalau
- dia berkhianat, dia tidak beriman ya dia
- akan membawa ya akan mengasuh ya akan
- mendidik anaknya sesuai dengan apa yang
- dia yang dia yakini ya. Jadi ini
- peringatan buat kita semua untuk zaman
- now. Bagi para orang tua atau yang akan
- membangun keluarga ya. hubungan keluarga
- gitu ya dengan ee seorang nabi atau
- orang saleh itu tidak otomatis bisa
- menyelamatkan. Artinya seseorang itu
- tidak hanya memiliki iman, tapi juga
- harus ee kompak ya keimanan. Karena kita
- tahu ya keselamatan di sisi Allah tu
- ditentukan oleh keimanan dan amal ya,
- bukan hubungan nasab, tapi juga
- kekompakan. Kalau enggak kompak gimana
- ya? Jadi ini anak akan kehilangan
- keteladanan ya. Dia tidak bisa
- meneladani ayahnya karena dia dididik
- oleh ibunya. Nah, makanya nih buat para
- pemuda kita berharap ya, kita kan ingin
- sama-sama masuk surga bersama keluarga
- ya. Kalau memilih pasangan hidup istri,
- terutama ini para pemuda muslim,
- pilihlah yang salihah. Jangan pilih
- sesuai dengan ee apa? Good lucking, ya.
- Apa indah, enak dilihat, tapi enggak
- memiliki ee modal keimanan. Gimana mau
- mendidik anak? Jadi carilah istri itu ee
- bukan hanya sekedar istri tapi ibu bagi
- anak-anak kita gitu ya. Nah, jadi ini
- penting ee karena kita hidup ini kan
- enggak selamanya modal cinta, modal
- cantik ya, tapi kita ingin ee rumah
- tangga ini bersama-sama di dunia, nanti
- juga bersama-sama di surga insyaallah
- ya. Jadi nilai-nilai itu sepakat antara
- suami istri itu benar-benar ya. Jadi ini
- contoh ee bagaimana
- tidak kompaknya keluarga Nabi Nuh Alaih
- Salam. Nah, ini memang jangka panjangnya
- anak tuh akan bingung kalau kita ee
- ambil ini sebagai teladan ya. Kalau di
- masa ini kan kita sama-sama seiman ya
- harus ya. Tapi kalau tidak kompak dalam
- ee menjalankan pola tarbiah pendidikan
- terhadap anak, terhadap terkait dengan
- visi dan misi dan tujuan ee memiliki
- anak ini nanti anak itu akan bingung
- sendiri, tidak stabil, dia tidak percaya
- diri bisa ya karena misalnya membangkang
- dia, sulit diatur, dia gampang marah,
- dia akan ee mengambil atau berpihak
- kepada yang sesuai dengan hawa nafsunya
- ya dia itu akan banyaklah ya akan
- menimbulkan konflik lagi nih kalau ayah
- ibunya tidak sama dalam pola aslinya.
- Nah, oleh karena itulah kita ingin ee
- dalam mendidik anak ini buat saya dan
- buat kita semua ya, kita ayah ibu ini
- satukan visi dulu dalam nilai-nilai yang
- akan kita terapkan kepada anak-anak
- kita. Sepakat dulu gitu ya. Saling
- menguatkan bukan melemahkan ya.
- Kadang-kadang ketidakuran
- ayah dan ibu itu dipertontonkan di
- hadapan anak itu bahaya banget ya. itu
- nanti anak akan melihat sesuai dengan
- apa yang dia inginkan, siapa yang dia
- dekat, siapa yang menguntungkan dia. Ya,
- makanya komunikasi ini kembali kepada
- komunikasi ya, antara pasangan itu
- sangat penting untuk ee pola asuh kepada
- anak-anak kita ini. Jangan pernah
- berdebat di depan anak kita menyalahkan
- atau bertengkar ya. Nah, ini ee contoh
- tidak kompak keluarga Nabi Nuh Alaih
- Salam. Nah, [berdehem] kalau kita ambil
- yang teladan yang terbaik itu adalah
- kekompakan keluarga Nabi Ibrahim Alaih
- Salam dengan ibunda Hajar. Nah, itu
- kompak banget itu ya. Walaupun di dalam
- Al-Qur'an itu tidak memuat riwayat
- biografi atau sejarah secara utuh ya.
- Kita bisa melihat dari ayat Al-Qur'an.
- Kita bisa melihat di situ tuh kalau kita
- kembangkan ya keteladanan paling indah,
- kekompakan antara Nabi Ibrahim dengan
- ibunda Hajar itu bisa dilihat dari hasil
- didikannya. Kita lihat Nabi Ibrahim
- Alaih Salam itu menjadi nabi itu luar
- biasa ya. Ah itu tercermin misalnya
- bagaimana kesantunannya menjawab ee
- perintah ayahnya. Pada kita tahu bahwa
- Nabi Ibrahim Alaih Salam itu tidak
- selalu bersama dengan ibunda Hajar dan
- Nabi Ismail. Ya, jadi tidak juga harus
- artinya seorang ayah itu mendampingi
- full gitu ya. E kalau dia sibuk kerja ee
- ini kan yang penting adalah tersampaikan
- apa yang di ee apa yang ditanamkan oleh
- suami kepada istrinya. Nah, jadi mereka
- sepakat punya kesamaan. Jadi tidak
- saling menjelekkan, tidak saling
- memburukkan ya antara suami istri. Jadi
- ketika Nabi Ibrahim tidak hadir bersama
- mereka secara fisik, tapi bisa hadir
- bersama mereka dalam nilai. Jadi si ibu
- ini selalu ee ibunda Hajar ini selalu
- mengungkapkan kembali bagaimana tugas
- ayahnya, bagaimana kebaikan ayahnya.
- Tidak hadir secara fisik, tapi hadir
- secara maknawi. Nah, jadi tidak
- menjelek-jelekan ya kalau misal tidak
- saling menyalahkan. Makanya ketika Nabi
- Ibrahim hadir, kita tahu ya dalam jarang
- sekali Nabi Ibrahim menemui ee apa
- namanya? putranya di Mekah kan jaraknya
- jauh antara ee Palestina ya. Beliau
- berdakwah tuh di Syam, di Palestina ya.
- Ini Makkah, Makkah waktu itu kan bertemu
- bertemunya tuh hanya setahun berapa
- kali. Tapi nilai-nilai yang disampaikan
- oleh Nabi Ibrahim yang mereka sepakat
- dengan ibunda Hajar itu tersampaikan
- kepada Nabi Ismail Alaih Salam. Jadi
- ketika eh Nabi Ismail ini sudah sampai
- umur kan datanglah Allah perintahkan ya
- kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih e
- Nabi Ismail itu ya itu ungkapan yang
- disampaikan oleh Nabi Ibrahim itu ya
- falam balag ma ya bunya inni ar manam
- abahuka.
- Jadi karena kebaikan, kelembutan Nabi
- Ibrahim dengan e pola asuhnya, dengan
- pendidikannya, dengan ee apa yang jadi
- ciri khas Nabi Ibrahim itu luar biasa.
- Mampu mendidik istrinya, kemudian
- istrinya mampu menyampaikannya,
- membimbing putranya. Ketika komunikasi
- langsung antara Nabi Ibrahim kepada Nabi
- Ismail itu pakai gaya bahasa yang sangat
- lembut. Ya, jadi wahai anakku Baya itu
- kan bentuk yang lembut ya. Aku melihat
- dalam mimpi bahwa aku eh diperintahkan
- untuk menyembelihmu. Fanzur taro
- menurutmu gimana? Nah, ini kan pola asu
- yang tidak otoriter ya. Tidak
- mentang-mentang mentang-mentang ayah
- ini. Jadi buaya apa istilahnya pola
- asuhnya tuh diktator ya atau mungkin
- kalau istilahnya zaman VOC gitu ya. Ini
- bentuk ayah zaman dulu. Bagaimana luar
- biasa keteladanannya itu menghasilkan
- anak yang apa yang jawabannya? Ya abati
- ifal maar satajiduni insyaallah
- minobirin. Jadi ini pola asuh yang
- ditanamkan oleh Nabi Ibrahim kepada
- ibunda Hajar. Kemudian dengan pola asuh
- yang telah diajarkan itu dia didik
- anaknya itu sedemikian rupa menjadi
- seorang anak yang sangat berbakti yang
- sangat lembut. Lakukan ya wahai ayahku
- apa yang diperintahkan Allah kepada
- engkau. Engkau insyaallah mendapatkan
- aku sebagai orang-orang yang sabar.
- Subhanallah. Jadi di sini kita lihat ya
- bagaimana ee keteladanan kekompakan ya
- antara Nabi Ibrahim dan ibunda Hajar ya.
- Jadi Nabi Ibrahim ini telah mendidik
- ibunda Hajar. Kemudian Ibunda Hajar
- mendidik putranya itu dengan ketaatan
- dan keimanan sejak kecil. Itu mereka
- sepakat ya. Ibunda Hajar sebagai ibu itu
- mendampingi putranya. itu dari apa yang
- telah mereka sepakati ya dengan Nabi
- Ibrahim. Kita tahu ya bagaimana ee
- respon ibunda Hajar itu ketika dibawa
- oleh Nabi Ibrahim ke tempat yang jauh
- tidak ada penghuni, tidak ada kehidupan
- gitu ya. Ibu Ibu dan Hajar kan nurut
- aja. Padahal kan secara logika ya baru
- dapat anak eh kemudian ditempatkan
- jauh-jauh kan mestinya tuh kalau seorang
- perempuan yang tidak terdidik ya itu
- pasti akan komplain kenapa sih aku
- ditempatkan jauh-jauh jauh dari engkau
- enggak ada tempat siapapun kok tega ya
- pasti begitu ya tapi ini karena me
- memang luar biasa ya komunikasi mereka
- itu keimanan ya itu ketika banyak nanya
- kenapa ya Ibrahim kenapa Nabi Ibrahim
- itu kan enggak kuat ya untuk menjawab
- diam aja beliau di sinilah sensitivitas
- keimanan itu yang menyebabkan ibunda
- Hajar langsung menjawab, "Allahu amaroka
- bi, apakah Allah yang memerintahkan
- engkau untuk menempatkan kami di tempat
- yang jauh ini?" Ah, Nabi Ibrahim itu
- enggak jawaban cuma hanya ngakuk nam.
- Nah, itu dari situlah keyakinan keimanan
- ibunda Hajar itu tampak idan
- laudunallah. Kalau gitu Allah pasti
- enggak akan menyiakan kami. Nah, dari
- ibu yang seperti ini itulah lahirlah ee
- putranya yang luar biasa, Nabi Ismail
- Alaih Salam yang demikian taat, santun,
- kemudian ee perintah apapun siap ya.
- Bahkan tumbuh dalam atmosfer tauhid dan
- ketaatan yang luar biasa. Karena kedua
- orang tuanya satu suara dalam iman. Ini
- penting banget nih ya. Nah, jadi
- sekarang kita lihat ya di zaman kita
- sekarang ini anak-anak itu tidak hanya
- dibentuk oleh nilai-nilai di rumah ya,
- apalagi zaman sekarang banyak sekali
- tantangan-tantangannya ya. Gelombang
- besar pengaruh dari media sosial tuh
- luar biasa lingkungan sekolah bahkan
- dunia digital yang sangat bebas. Nah,
- dalam situasi ini itu rumah tuh harus
- jadi benteng pertahanan terakhir yang
- kuat. Lah kalau di rumah bentengnya
- rapuh, ayah dan ibunya tidak berdiri di
- barisan yang sama. Misalnya ayahnya
- keras, ibunya memanjakan, ini anak mau
- jadi apa? Jika ibunya menasehati
- anaknya, ayahnya membantah, membatalkan,
- membela anak, anak kan bingung. Terus
- anak tuh belajar dari mana? Karena
- sumber tempat dia mestinya tempat ee
- pendidikan yang bermuara dari ayah ibu
- tuh enggak sepakat. Makanya kekompakan
- ini sangat penting untuk ee mendidik
- anak-anak kita ya. Jadi kalaupun
- misalnya
- ee dalam kasus-kasus tertentu ya ini
- misalnya banyak sih ee dalam kehidupan
- kita ya praktik-praktik ee misalnya
- aturan yang tidak sejalan misalnya ya
- anaknya minta izin pergi terus ibunya
- khawatir
- eh anaknya minta izin sama bapaknya,
- bapaknya ngizinin ya. Jadi ayahnya
- membolehkan, ibunya [berdehem] melarang.
- Nah, kan anak kan mau gimana tuh coba
- ya. Nah, ini kan akhirnya anak ini akan
- mencari ee izin yang longgar, yang
- paling longgar. Pasti dia papa ngomong
- ke ayahnya, enggak mau dekat sama
- ibunya. Jadi anak ini belajar ee bisa
- mengatur orang tua gitu ya. Jadi karena
- dia memanfaatkan ketidakuran,
- ketidakompakan ayah dan ibu. Akhirnya
- yang terjadi apa? Ayah, ibu orang tua
- saling menyalahkan ya kan. Jadi anaknya
- jadi bingung gitu ya. saling menyalahi
- enggak kompak gitu ya. Ini repot nih,
- bahaya banget nih yang kayak begini. Itu
- satu contoh. Atau misalnya sikap
- terhadap ee gadget tadi ya, ibunya
- membatasi penggunaan tapi ayahnya
- membelikan tablet sebagai hadiah karena
- anaknya sudah belajar terus karena
- apalah gitu ya. Lah itu gimana itu
- akibatnya? Apa anak kehilangan batasan
- kemudian aturan ibu tuh dianggap enggak
- enggak penting. Anak nanti bisa ngelawan
- sama ibunya. Nah, kalau anaknya sudah
- kecanduan, gimana tuh nanganinnya?
- Ayahnya nyalin ibunya pula enggak bisa
- didik anak. Padahal yang beliin siapa
- gitu ya. Rumah tangga tuh jadi enggak
- aman. Nah, jadi oleh karena itu untuk
- kompak di era sekarang ini ayah ibu ini
- memang perlu ee sepakat ya dalam nilai
- dasar ya. Jadi untuk menerapkan kepada
- anak nih, ayah ibu nih harus duduk
- bersama dulu sepakat ya apa yang penting
- untuk dijaga ya. Misal masalah akidah,
- adab, tanggung jawab. sepakat dulu kalau
- ada hal-hal kayak tadi izin misalnya ya
- ngomongnya ke Ibu tunggu ya ee kita ee
- Ibu bicarakan dulu dengan ayah. Nah,
- jangan ada anak dulu ngobrol dulu ibu
- kenapa ibu enggak sepakat kenapa ayah ee
- menyetujui jadi mereka ngobrol dulu
- nanti dari situ baru hasilnya baru anak
- itu diizinkan atau tidak diizinkan.
- Diizinkan bersyarat. Nah, seperti itu
- ya. Jadi kompak dulu orang tuanya ya.
- Contoh lagi misalnya salat ya. Salat itu
- kan adalah prioritas. Nah, kalau
- keduanya itu saling mengingatkan itu
- indah banget gitu ya. Tapi kalau
- misalnya yang hanya ibunya yang ketat,
- bapaknya cuek gitu ya, gimana anaknya ah
- bapaknya enggak marah ini. Itu akan
- repot sendiri. Jadi suami istri itu
- harus kompak ya. Maka memang solusinya
- tuh komunikasi ya. Untuk mengambil
- keputusan tuh memang harus komunikasi
- ya. Ee sepakatlah ya apa sih yang mau di
- saling menguatkan di hadapan anak juga
- ya. Misalnya tunjukkan bahwa ayah dan
- ibu itu adalah satu suara. Jadi anak itu
- tidak memanfaatkan ya mencari anak itu
- kan pintar dia bisa kalau saya katakan
- dia profesor cilik yang pandai
- memanfaatkan situasi kondisi ya dia bisa
- melihat mana yang menguntungkan dia ya.
- Nah ini orang tuh harus ee sepakat harus
- ee saling menguatkan ya. Kalau misalnya
- dia merengek minta mainan mahal ibunya
- nolak eh ayahnya tuh ee langsung belikan
- mesti enggak begitu nanti ya ee ayah
- ngomong dulu sama ibu. Jadi jangan
- langsung udah kasihan minta kasih aja
- lah depan anak mau ngomong begitu. Nah,
- ini repot ya. Jadi kalau ayah dan ibu
- tidak sepakat ya gimana nanti anaknya
- besarnya ya. Jadi itu tu tuh itu ee
- dampaknya ya. Nah sekarang kita ingin ee
- melihat kembali ya kekompakan ya
- kekompakan yang ada misalnya ee pada
- Nabi Ali Imran ya ee keluarga Imron ya.
- Ini menarik.
- Ketika kita bicara keluarga Imron itu
- surat, judul surat itu judulnya Ali
- Imran. Ali Imron ya. Keluarga Imran. Ini
- menarik nih. Kenapa menarik Ali Imran
- ini? Karena judulnya itu ada imronnya.
- Ali itu kan artinya keluarga ya, ada
- imrannya. Tapi tidak ada satu ayat pun
- yang berbicara tentang si Imran itu.
- Jadi kalau kita bilang Ali Imran tuh
- bukan bukan namanya Ali ya. Ali Imran
- satu satu nama itu bukan. Ali itu
- artinya keluarga. Imran itu nama baru
- yang namanya Imran. Jadi kalau Ali Imran
- itu keluarga Imran. Nah ini yang
- menariknya judul surat keluarga Imron.
- Tapi tidak satuun ayat membahas si Imron
- itu. Dia itu bukan nabi tapi orang saleh
- ya. Nah, kita lihat bagaimana
- keberhasilan Imron sebagai ayah, sebagai
- kepala keluarga itu mampu membekali
- istrinya ya. Namanya Hana ya ee istri
- Imron itu ya mampu membekali nilai-nilai
- walaupun usianya tidak panjang. Jadi
- artinya sebenarnya ya ee kehadiran ayah
- itu sebenarnya tidak harus kehadiran
- secara fisik sebenarnya, tapi bagaimana
- kehadirannya itu mampu memberikan
- membekali nilai-nilai secara maknawi.
- Jadi ketika tidak hadir ayah, ibu bisa
- ee meng-handle semua tapi dari
- bekal-bekal yang ayah telah sampaikan.
- Jadi ini kan juga termasuk kalau ee apa
- hubungannya mungkin ee LDR ya yang
- berjauhan itu bukan berarti kehilangan
- sosok ayah. Bisa aja kehadiran ayah itu
- bisa lewat ee si ibu tadi yang
- menyampaikan tapi nilai nilai-nilai
- tetap dari ayah. Nah, kita lihat Imran
- ini misalnya bagaimana keluarga Imron
- ini ee telah menyiapkan generasi dari
- sebelum lahir. Jadi, mereka ini ya
- artinya kehidupan ya takdir itu kan ee
- kehendak Allah ya.
- Istrinya Imron itu tidak memiliki suami
- yang berusia panjang ya. Jadi meninggal
- beliau tu ketika hamil. Nah, tapi kita
- bisa hasil dari didikan ee istri Imran
- ini itu dari ee nilai-nilai yang telah
- ditanamkan Imran itu itu eh tercermin
- dalam surat Ali Imran ayat 35 yaqob.
- Nah, kita tercermin dari e perkataan doa
- istri Imran. Jadi ketika istri Imran itu
- berdoa, ya berkata, "Ya Rabb atau rbi
- inni nazartu laka mai." Ya Rabb, aku
- nazarkan ee kepadamu anak yang dalam
- kandunganku ini menjadi hamba yang saleh
- dan berkhidmat ya di Baitul Maqdis. Jadi
- artinya dia pengin punya anak ini
- menjadi anak yang berkhidmat menyembah
- Allah saja. Maka terimalah nazark.
- Sesungguhnya Engkaulah yang maha
- mendengar lagi maha mengetahui. Artinya
- ee istri Imron ini sudah memproyeksikan
- bahwa dia akan melahirkan generasi
- anak-anak yang memang
- ee hamba-hamba Allah yang berkhidmat
- kepada Allah, yang beribadah menyembah
- Allah. Jadi anak-anak yang memang
- menjadi anak yang ee hamba Allah yang
- saleh. Jadi memang persiapan sudah ada
- sejak sebelum lahir. Jadi itu dari
- Imran. Makanya disebutlah Imronnya di
- situ. Walaupun Imronnya enggak muncul,
- yang muncul istrinya dalam Al-Qur'an
- kan. itu karena memang nilai-nilai yang
- telah ditanamkan oleh Imrani ketika dia
- masih hidup kepada istrinya itu sebelum
- lahir. Jadi, keluarga ini mempersiapkan
- anaknya sejak sebelum lahir. Jadi, bukan
- hanya fisik yang dipersiapkan, tapi visi
- pendidikan yang kuat ya. bagaimana
- doanya ee kepada Allah. Ini kan
- mencerminkan bagaimana ee suaminya dulu
- memberikan ee nilai-nilai ya, menanamkan
- nilai-nilai kepada istrinya yang terus
- istrinya lanjutkan itu. Jadi doa ibu
- adalah cermin visi ayah ya. Walaupun
- dalam ayatnya hanya istri Imran yang
- disebut tapi kan
- ingat loh judul suratnya Ali Imran,
- keluarga Imran. Jadi dalam konteks ini
- ya bagaimana ee doa istri ini cermin
- dari kehendak bersama dalam rumah tangga
- ini, kehendak ee suaminya dan istrinya.
- Nah, suami ini suami istrinya pasti dong
- saling memahami keinginan masing-masing
- sehingga istrinya itu ketika hamil itu
- berdoa kepada Allah. Ini menunjukkan
- bahwa ayah, ibu, orang tua yang saleh
- ini mengiringi anak dengan doa,
- perlindungan rohaninya, ketundukan
- kepada Allah itu dibentuk sebelum
- memiliki anak. Ya, jadi ini bentuk
- kekompakan yang sangat luar biasa. Luar
- biasa ya. Kekompakan yang hadir sebelum
- anak itu lahir. Jadi sekali lagi ee
- mendoakan anak itu bukan pada saat lahir
- ya, setelah anak gede gitu. Pas ada
- masalah kok jadi kayak gini anakku ya
- baru didoakan, "Ya Allah aku mohon anak
- yang saleh." Justru doa permintaan
- kepada Allah itu sebelum anak itu lahir.
- Nah, jadi doa itu sumber dari visi
- akhirat ya. Kalau ee ibunda tadi ya,
- Hana ya, istrinya Firaun ini. Jadi ini
- roh roh kekompakan dalam keluarga Islam
- itu dimulai sama-sama punya tujuan untuk
- memproyeksikan anak ini menjadi hamba
- hamba Allah yang saleh. Nah, jadi ini
- tujuan akhirat ya, tujuan ee dalam ee
- mendidik anak, orientasi memiliki anak.
- Jadi bukan orientasi memiliki anak ee
- orientasi duniawi bukan. Maka kita lihat
- ya, bagaimana visi yang baik, yang luar
- biasa dengan harapan yang mulia, dengan
- kekompakan ee ayah dan ibu ini dalam
- mendidik anak ini itu sudah dimulai
- sejak ee apa namanya? Sebelum memiliki
- anak. Bahkan kalau para pakar pendidikan
- sebelum memilih bahkan ketika Nabi
- mengatakan takyarikum,
- pilihlah tempat engkau meletakkan
- sperma. Jadi artinya dalam memilih
- pasangan hidup pun
- itu sudah ee punya proyeksi ini mau
- dibawa ke mana rumah tangga ini. Jadi
- dalam menikah itu bukan memilih calon
- istri atau calon suami, tapi memilih
- calon ibu atau calon ayah. Nah, ini ee
- makanya dilihatlah kekompakan tersebut
- ya. Ini kompak banget ya. Masyaallah ya.
- Antara ee
- kalau kita bilang sudah meninggal
- bapaknya ya, Imron dengan ibunya. Maka
- sejak itu bisa dilihat ya. Jadi sekali
- lagi, kekompakan ini merupakan e kata
- kunci untuk bisa mengarahkan dan
- mendidik putra-putri kita. Jangan pernah
- ada dualisme dalam pendidikan ya. Ini
- kalau kita lihat roh semangat kompak itu
- ya dari keluarga Nabi Ibrahim tadi ya.
- Nah, selanjutnya misalnya kekompakan ee
- Nabi Zakaria ya. Kalau di dalam
- Al-Qur'an kan kita mendapatkan ee ee
- dari apa ayat-ayat yang menjelaskan
- tentang Nabi Zakaria itu kan yang sudah
- tua baru punya anak, keluarga Nabi
- Zakaria itu ya. Jadi keluarga Nabi
- Zakaria ini potret keluarga yang kompak
- dalam harapan, sabar dalam penantian,
- istikamah dalam doa. Jadi pengin punya
- anak tapi mereka sabar, kompak gitu ya
- berdoa meskipun usianya sudah tua,
- istrinya sudah tua gitu ya istilahnya.
- mungkin sudah menepos gitu ya. Kalau
- dalam Al-Qur'an disbutkan kondisi mandul
- ya. Kemudian Nabi Zakaria tetap mohon
- kepada Allah ya keturunan yang saleh ya.
- Di sini kan enggak disebutkan dia beliau
- tuh nikah lagi ya. Masyaallah. Enggak
- ini maksudnya dalam satu keluarga lah
- ya. Terus berdoa terus ya. Y kalau di
- kita kan baru setahun 2 tahun aja enggak
- punya anak. Oh cari lagi yang lain kali
- bisa punya anak ya. Padahal kan dalam
- merawat satu keluarga tuh tanggung
- jawabnya dunia akhirat loh. Bagaimana
- membawa keluarga ke surga tuh enggak
- mudah gitu ya. Membangun rumah tangga
- yang sakinah, mawadah, warahmah di bawah
- ee rida Allah tuh enggak mudah gitu ya.
- Makanya Nabi Zakaria di sini terus
- memohon kepada Allah ya ingin bagaimana
- ee estafeta dakwah ini berlanjut ya agar
- bisa menjaga warisan tauhid ini ya.
- Makanya dalam surat Maryam ayat 56 itu e
- di situ kan disebutkan ini.
- Jadi keluarga Nabi Zakaria ini udah tua
- ya, mungkin dari dulu sudah pengin punya
- anak ya, istrinya juga sudah tua juga
- sudah menepos itu masih terus berharap.
- Jadi mereka nih kompak dalam harapan ya.
- Mereka sabar dalam penantian dan
- istikamah dalam doa ya. Dengan ya Allah
- aku khawatir kalau keluargaku ini nanti
- kalau sudah meninggal tuh enggak ada
- lagi yang mewarisiku. Istriku tuh ee
- seorang yang mandul, yang sudah tua.
- Maka di sini ee rabbi apa? Habli min
- ladunka waliya. Ya Allah, aku ingin ee
- dari seorang anak dari sisimu, ya Allah,
- karuniakan aku anak ya Allah. Gitu. Itu
- benar-benar doa pengharapan luar biasa.
- Anak tuh yang akan mewariskan aku, yang
- mewarisi
- keluarga Yakub dan ee jadikanlah dia
- yang ee ya wahai Allah yang Engkau
- ridai. Jadi di sini kompak mereka kompak
- dalam e berdoa berharap. Nah, jadi doa
- yang penuh visi ya doanya Nabi Zakaria.
- Nabi Nabi Zakaria ini tidak minta anak
- untuk hiburan untuk pengisi usia senja
- gitu ya. Ya Allah karuniakan aku anak
- keturunan yang jadi temanku nanti di
- hari tua. Enggak begitu doanya Nabi
- Zakaria. Ya kalau kita kan kadang-kadang
- doanya biar ada teman. Ya Allah berikan
- ee keturunan. Biar ada teman, biar ada
- ini, biar ada di hari tua, enggak
- sendirian, enggak begitu. Tapi Nabi
- Zakaria mengajari kita bahwa doa meminta
- keturunan itu penuh fisik. Doa yang
- syarat dengan kesadaran akan tanggung
- jawab dakwahnya ya, yang mewarisi aku
- dan mewarisi keluarga Yakub. Artinya
- anak yang akan melanjutkan risalah,
- bukan sekedar keturunan biologis saja.
- Jadi artinya di sini bahwa kekompakan
- dalam ee mendidik anak itu ee orang tua
- itu harus menyatukan niat ya untuk apa,
- kenapa, apa harapannya ketika
- menginginkan anak. Jadi bukan hanya
- sekedar sebagai pelanjut keturunan saja,
- tapi bagaimana anak ini ya Allah
- mudah-mudahan bisa membawa kami nanti ke
- surga gitu ya. Jadi ini kompak ya, tidak
- ada konflik di sini antara harapan dan
- kenyataan. Jadi perlu ya suami istri itu
- berdoa bersama-sama menyamakan visinya
- misinya dalam memohon memohonkan kepada
- Allah untuk generasi atau anak ee
- anak yang seperti apa itu harus sama
- kompak ya. Dan di sini menarik dari dua
- pasang ini, Nabi Zakaria dan istrinya
- itu walaupun disebut ee istrinya itu
- mandul ya, aku sedangkan istriku sudah
- tua, enggak bisa punya anak. Tapi tidak
- ada keluhan terhadap istri, tidak ada
- penolakan terhadap istri ya tidak ada
- konflik antara harapan dan kenyataan.
- Terus berdoa, tidak saling menyalahkan,
- ya. Nah, sementara istri tidak merasa
- rendah diri, tidak merasa ee hina ya,
- mentang-mentang enggak bisa punya anak.
- Tidak ada ee artinya beliau tidak
- menyalahkan takdir, tapi mereka berdua
- ini sama-sama rida, sama-sama ikhlas,
- sama-sama berharap, sama-sama bersabar.
- Nah, oleh karena itu ee kita lihat ya
- bagaimana kekompakan suami istri ini
- dalam mengharapkan anak itu akhirnya
- dalam surat Al-Anbiya ayat 90 tuh ya
- fastajabna lahu wahabna lahu Yahya gitu
- ya. Kami kabulkan doanya dan kami kami
- anugerahkan kepada mereka itu ee kami
- anugerahkan
- sebentar kami anugerahkan kepada mereka
- itu ee Yahya ya.
- Di situ disebutkan inahumir
- ya. Jadi eh kami kabulkan doanya dan
- kami anugerahkan kepadanya Yahya dan
- kami jadikan istrinya bisa hamil ya.
- Inahir
- mereka itu jadi pakai kalimat innahum.
- Jadi ketika suami istri ini sudah ee apa
- memiliki anak mereka jadinya kan. Jadi
- mereka itu kompak yusariuna filhairat
- saling berlomba-lomba bersegera kepada
- kebaikan. Jadi artinya ini buah dari
- keharmonisan
- antara
- apa namanya ee suami istri dan
- mendapatkan anak. Kompak ya kekompakan
- suami istri ini timbullah keselarasan
- ya. Eh mereka tuh jadi yusunairusuna.
- Jadi buah dari kekompakan dan istikamah
- ini mereka bersegera dalam mengerjakan
- kebaikan. Ini ee buah ya. Jadi memang
- kalau orang tua sudah memberikan contoh
- yang terbaik pasti anak ngikuti. Jadi
- pasangan suami istri ini mampu ee
- menjadikan apa namanya? rumah tangganya
- itu mendidik anaknya sesuai dengan apa
- yang telah mereka
- Maaf sebentar ya.
- H
- ya ee jadi pasangan ini mendapat anak
- jadi karena mereka sudah kompak kayak
- berdua, akhirnya mereka menghasilkan
- seorang anak yang luar biasa, anak yang
- diridai Allah. Jadi, Nabi Zakaria itu
- adalah contoh teladan bagi kita bahwa
- beliau adalah seorang ayah yang ee
- sangat dekat dengan Allah yang kemudian
- ee bersama-sama istrinya itu yakin ya
- mereka berdoa bersama-sama ee punya
- tujuan ya berdoa dengan tujuan ya dengan
- tujuan ingin memiliki ee generasi ya
- keturunan yang ee bisa mewaris mereka.
- Artinya untuk kita saat ini ee ketika
- pasangan itu belum memiliki anak sabar
- mintalah sama Allah. sepakat jangan
- saling menyalahkan ya. Kemudian ee
- banyak berdoa kepada Allah ya. Ganti
- kali ya apa doa yang selama ini ya ee
- yang di kan kadang-kadang suami istri
- yang sudah bertahun-tahun enggak punya
- anak suka doanya, "Ya Allah kenapa sih
- aku enggak enggak enggak enggak bisa
- punya anak? Kenapa sih jangan
- kenapa-kenapa minta aja ya Allah apa
- berikan ke habli gitu ya karniaku ya."
- Atau misalnya anaknya susah diatur. Ya
- Allah nih kenapa anak susah diatur?
- banget ganti. Ya Allah lembutkan
- hatinya, berikan dia hidayah gitu. Jadi
- jangan mempertanyakan ya hasil ya
- namanya juga ujian cobaannya anak itu
- ya. Nah inilah kira-kira ee keteladanan
- ya kekompakan dalam Al-Qur'an itu. Kita
- lihat kekompakan tadi ya Nabi Ibrahim
- Alaih Salam ya luar biasa ya. Kemudian
- keluarga Imron kemudian Nabi Zakaria.
- Ini contoh ya kita ambil ya ini
- pelajaran buat kita. Bahkan teori-teori
- parenting saat ini pun yang berkembang
- juga begitu. Bagaimana anak ketika
- dibesarkan oleh kedua orang tua yang
- tidak akur, tentu saja pasti akan ee
- menimbulkan konflik ya. Jadi prinsip
- kekompakan dalam didik anak itu kan
- punya visi bersama ya. Ayah, ibu, suami
- istri itu harus punya satu tujuan dalam
- mendidik anak menuju surga.
- Apa gitu ya visinya. Kemudian komunikasi
- juga harus intensif ya ee membahas
- tentang anak bersama ya tidak saling
- menyalahkan nih gara-gara ibunya jadi
- anak kayak begini bantang gara-gara
- enggak ya. Jadi harus ada keteladanan
- dua sisi ya. Ibu ayah memberikan contoh
- yang baik. Jadi bukan hanya instruksi ya
- tidak saling menyalahkan. Kemudian
- sama-sama berdoa saling mendukung.
- Masyaallah ini ideal banget ya. Walaupun
- kenyataan kita lihat memang kekompakan
- dalam rumah tangga itu memang
- kadang-kadang kompak kadang-kadang
- enggak. Kadang-kadang kompaknya hanya
- untuk tujuan-tujuan dunia aja ya.
- Misalnya ketika liburan bersepakatlah ke
- mana kita akan pergi ya. Akhirnya
- semuanya masing-masing memberikan
- usulan-usulan akhirnya disepakati ke
- sini. Nah, itu kadang-kadang hanya untuk
- urusan duniawi, tapi untuk urusan
- akhirat kadang-kadang berbeda. Justru
- yang terpenting ini adalah proyeksi kita
- kepada keluarga kita, anak-anak kita
- untuk tujuan-tujuan akhirat. sepakati
- bersama ketika anak misalnya tidak
- salat, kira-kira apa sanksinya ee yang
- perlu disepakati bersama? Apa? Misalnya
- jajannya dipotong ya, ibunya enggak
- ngasih jajan eh anaknya diam-diam minta
- sama bapaknya dikasih. Nah, ini kan
- enggak kompak ya. Jadi anaknya
- menganggap ya salat mah bisa gampanglah
- gitu ya. Nah, ini perlu keharmonisan
- antara ee suami istri. Jadi kompak dalam
- mendidik anak itu bukan sekedar sepakat
- dalam aturan rumah tangga ya, tapi
- menyatukan menyatu dalam niat cinta dan
- visi keimanan. Nah, keteladan Nabi
- Ibrahim inilah yang kita jadikan contoh
- ya, keluarga Imron, keluarga Zakaria ya.
- Mudah-mudahan keluarga kita termasuk
- keluarga yang saling menguatkan dalam
- mendidik, saling menasehati, saling
- kompak insyaallah wallahuam. Islam
- Jumat. Mudah-mudahan kita semua yang
- mendengarkan pada siang hari ini
- mengaminkan agar kita dikaruniai
- keluarga yang sakinah, mawadah, dan
- warahmah dan paling penting anak-anak
- yang saleh dan salehah. Iwan dan akhwat,
- tadi sudah kita ikuti pemaparan ustazah
- tema kita yaitu kompak mendidik anak.
- Teladan dari kisah Nabi dalam Al-Qur'an
- di mana kita dihimbau untuk menjaga
- kekompakan dalam memberikan apa ya ee
- kebijaksanaan yang sama. Jadi jangan
- yang ibunya iya, bapaknya enggak. Dan
- paling penting adalah mengasah
- sensitivitas keimanan. Demikian pesan
- Ustazah Helini Amran. Kami undang Ikhwan
- Danawat untuk menyampaikan pertanyaan.
- Silakan di nomor seperti biasa untuk
- WhatsApp di 0811999720.
- Insyaallah ustaz akan menjawab dan
- membahasnya. Tapi setelah jeda nasyid
- berikut ini, [musik]
- [musik]
- Radio Silaturahim juga Rasil TV Ikhwan
- dan Akhwat saat ini menyimak fikih
- wanita bersama Ustazah Helini Amran dan
- sudah kita dengarkan pemaparan ustazah
- dengan tema yaitu kompak pendidikan
- teladan dari kisah Nabi dalam Al-Qur'an.
- Kita langsung ke tanya dan jawab ataukah
- masih ada yang ingin disampaikan
- Ustazah?
- Langsung tanya jawab aja, Mbak.
- Langsung tanya jawab. Baik, izinkan saya
- langsung membacakan pertanyaan pertama
- ini dari Ibu Nina di Karawang, Ustazah.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam.
- Izin bertanya, Ustazah mengenai tema
- pada siang hari ini. Saya ingin bertanya
- tentang pola pendidikan di generasi atau
- Genzi yang menurut saya cenderung lebih
- responsif terhadap pembelajaran yang
- interaktif, praktis, dan relevan dengan
- kehidupan mereka serta kurang menyukai
- metode ceramah satu arah yang
- konvensional. Sehingga sekarang kami
- para orang tua agak sedikit kesulitan
- dalam pembelajaran terhadap mereka.
- Bagaimana cara mengatasinya, Ustazah?
- Jadi gini ee ini kita bis bisa melihat
- ee bagaimana pola yang diajarkan oleh
- Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail. Ya,
- Genzi itu kan bukan enggak bisa satu
- arah. Genzi itu kan enggak bisa nerima
- kamu harus kalau tidak awas kan enggak
- bisa gitu kan.
- Heeh.
- Gen ee karena banyak ee mereka tuh sudah
- luas ya pemahamannya mengenai kondisi
- sekarang. Jadi ajak diskusi. Jadi
- artinya pertama itu mulai dari hati
- dulu.
- dari hati. [mendengus] Kalau kita lihat
- Nabi Ibrahim itu kan panggilannya aja
- tuh sudah mencerminkan hubungan mereka
- yang baik. Ya, bunayya gitu ya. Itu kan
- bentuk kata-kata yang masyaallah itu
- yang luar biasa ya. Ya enggak bukan
- sekedar ya ibni ya waladi gitu kan ya
- bun. Itu kan mulai dari hati. Artinya di
- sini hubungan dulu yang baik ya dengan
- apa namanya dengan anak kita ini yang
- gensif ini. E dari hubungan tu kan
- muncul [berdehem] kedekatan.
- Kalau sudah diraih hatinya kemudian ee
- libatkan mereka misalnya enggak hanya
- disuruh-suruh diajak berpikir
- sebagaimana Nabi Ibrahim tadi fanzurar.
- Jadi pertama ungkapkan dulu ini mau
- begini nih mau seperti ini. Ini karena
- ini jadi kitanya menjelaskan ini begini
- ini begini. Jadi bukan dalam ee apa
- namanya dalam bentuk harus ini ada
- aturan pokoknya kamu begini. Jadi bukan
- bukan amr ya, bukan perintah, tapi
- mengajak mereka berpikir nih sudah
- begini nih begini. Fanzur maza taro.
- Menurut kamu gimana? Jadi libatkan
- mereka ya. Jangan hanya nyuru-nyuruh,
- jangan hanya apa ya ajak [berdehem]
- dialog ya kan. Kasih dia ruang berpikir,
- kasih dia ee kesempatan ajak diskusi
- gitu ya. mengangkap dia. Apalagi kalau
- polanya Ali bin Abi Thalib ya, membagi
- tiga fase untuk anak itu 0 sampai 7
- tahun itu ee disebut dengan yulaibuhum
- ya. Ajak mereka bermain. Tapi di situ
- ada nilai-nilai yang ditanamkan.
- Diajarkan salat tapi bukan pemaksaan
- gitu ya. Yulaibun bermain tapi mereka
- enggak merasa terpaksa tapi mereka bisa
- diarahkan ya namanya ee belajar sambil
- bermain gitu ya. Kemudian 7 sampai 14
- itu yadibuhum baru di situ menanamkan
- nilai-nilai apa namanya adab ya. Nah,
- setelah 14 tahun ke atas mungkin Genzi
- itu kan istilahnya mungkin sekitar 14
- tahun ke atas ya itu eh yusahibuhum ajak
- sebagai sahabat. Nah, jadi artinya ee
- beri ruang dia untuk memberikan ee
- pandangan-pandangan dengan batasan adab
- sebagaimana tadi Nabi ee Ismail alaih
- salam ya. Jadi sebenarnya membangun
- hubungan dengan anak ya sebelum menegur
- mereka itu sebenarnya memang dibutuhkan
- kesabaran orang tua ya. Orang tualah
- yang memang harus sabar. Saya umpamakan
- misalnya orang tua tuh kayak petani anak
- itu seperti bibit pohon yang bisa
- membentuk ee apa yang bisa mengatur ee
- bibit itu kan orang tua. Bagaimana
- supaya bibit pohon ini tumbuh subur kan
- diarahkan ya kan. yang berubah kan harus
- tahu ilmunya itu kan orang tua kan. Nah,
- oleh karena itu memang tidak mudah ya
- mendidik anak apa Genzi itu ya. Apalagi
- orang tua yang sudah baby boomers yang
- udah udah karatan ya udah udah sulit
- berubah paling tidak itu dia egonya itu
- apa dari orang tua terus diturunkan gitu
- ya. Nah, dari hal ini tentu membimbing
- ini kan tidak bisa sendiri harus ada
- bersama Allah dengan doa ya. Jadi ini ee
- banyak-banyak sabar lapang dada deh.
- Apalagi dengan menghadapi Genzi ini ya
- benar-benar ya kesabaran yang tanpa
- batas ya diiringi doa tentu perlu
- belajar juga kitanya dan ilmu pendidikan
- anak itu kan buas ya. Minimal paling
- tidak yang harus kita miliki itu
- keteladanan. Itu aja dulu pertama ya
- sebelumnya yang lain lain juga ada doa
- dan segala macam ya minimal teladan.
- Ketika anak itu tidak menemukan
- keteladanan pada orang tuanya, sulit
- kita mengarahkan anak itu.
- Ya, ombok maka enggak enggak akan
- dianggaplah itu ya. Jadi menjadi teladan
- untuk anak itu suatu hal yang sangat
- penting walaupun tidak hanya
- satu-satunya yang lain juga ya, doa ilmu
- terus ya. Jadi seperti itu ya Bu ya.
- Kita tidak putus-putusnya terus belajar
- belajar bagaimana ee mengarahkan anak
- ini. Karena ilmu pendidikan anak itu
- terus berkembang. Yang enggak berkembang
- tuh ilmu kita. kita tuh hanya punya
- modal ee pola asuh pendidikan dari orang
- tua kita zaman bahula gitu ya, enggak
- pas lagi untuk diterapkan saat ini.
- Makanya kan ee Ali bin Abi Thalib ya dan
- Umar juga pernah mengatakan didiklah
- anakmu di zaman yang bukan zamanmu lagi.
- Jadi kita harus belajar juga nih zaman
- apa, bagaimana menghadapinya. Kita
- belajar lagi ya belajar kita untuk bisa
- ee menguasa, mendidik ya anak-anak kita
- yang di Gen ini barangkali itu ya Bu ya.
- kita, saya juga sampai sekarang ini juga
- masih belajar nih. Ternyata kita banyak
- kelirunya selama ini ya. Kita
- kadang-kadang membanding-bandingkan
- zaman kita dengan zaman sekarang yang
- enggak zamannya lagi ya. Nah, kalau
- enggak enggak punya ilmu kemudian kita
- enggak mau belajar ilmu, kemudian
- kata-kata yang dulu masih sekarang sama
- aja kata-katanya ya apa nasihat kita
- atau mungkin omelan kita sama anak sama
- aja padahal itu keliru
- membanding-bandingkan zaman. Misalnya
- dulu ibu dinasihatin sama nenek, enggak
- kayak kamu tuh gitu ya. Sekarang kamu ya
- beda zamannya. Nah, itu dia ya. Jadi ee
- untuk Genzi ini memang kita butuh ilmu
- ya Bu ya. Wallahuam bawab.
- He. Ilmu dan ekstra sabar itu saja.
- Iya. [tertawa] Iya. Keteladanan juga
- penting. Keteladanan.
- Betul. Keteladanan. Cari keteladanan
- yang tepat. Saya akan beralih ke Bekasi.
- Di sini ada Bapak Iqbal Ustazah.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Bagaimana, Ustazah cara Nabi Ibrahim
- Alaih Salam menanamkan keimanan kepada
- anak-anaknya khususnya Nabi Ismail dalam
- situasi yang penuh ujian?
- Kalau cara itu memang tidak disebutkan
- ee secara teknis ya ee kepada kea memang
- itu secara umum ya. Paling tidak ee
- kalau kita melihat ee bagaimana tauhid
- beliau itu bisa jadi dengan keteladanan.
- Ya, ketelanan Nabi. Kita tahu kan Nabi
- Ibrahim itu beliau satu-satunya manusia
- yang bertauhid di masa itu ya. Ketika
- menjadi anak, beliau jadi anak yang
- saleh gitu ya. Memang bimbingan Allah
- memang Allah memilih dari seluruh ee
- hamba-hambanya itu yang terpilih, yang
- terbaik ya. Nah, dipilihah Nabi Ibrahim.
- Jadi artinya seorang seseorang yang
- sudah punya bekal, yang sudah punya
- pengalaman ketika dia mendapatkan
- sesuatu dan mendidik itu akan jauh lebih
- mudah ketika ketimbang orang yang tidak
- punya bekal, tidak punya pengalaman
- kemudian ee mengajarkan ya kan beda dong
- ya. Guru yang punya pengalaman itu
- mengajarkan peserta didik beda dengan
- guru yang belum ada pengalaman. Makanya
- Nabi Ibrahim itu adalah sosok yang luar
- biasa, anak yang saleh. Dia berhat
- kepada ayahnya juga dia anaknya nurut,
- yang taat. Nah, ketika dia punya anak
- tentu dia juga akan mampu ee mentransfer
- apa yang dia alami, yang dia lakukan
- kepada anaknya. Jadi kalau ditanya
- bagaimana caranya
- ya memang kita tidak menemukan dalam
- Al-Qur'an itu secara teknis, tapi kita
- bisa melihat bagaimana sosok Nabi
- Ibrahim itu sendiri ya yang telah ee
- beliau jalani bagaimana ketauhidannya,
- kekokohannya
- itu beliau tanamkan. Jadi ee kalau
- teknis mang enggak diajarkan ya
- teknisnya bagaimana, tapi kita bisa ee
- melihat ya itu kan teknis itu kan alat
- ya kayak sekarang kita ya metodologi itu
- ya bagaimana mengajarkan anak ya dengan
- berbagai ee teknis, cara dan itu bisa
- yang penting nilainya nilainya
- tersampaikan. Maka kalau kita lihat
- bagaimana ee pertama dulu kan
- mengarahkan istri dulu. Jadi kalau istri
- sudah dapat ee dididik atau diarahkan
- ya, maaf, kalau istri ee sudah sepakat
- ya dengan satu kata dengan kita dalam
- mendidik anak, itu akan mudah
- mengajarkan anak untuk pegang dulu
- istrinya. Artinya sei
- sama ya ee pola asuhnya. Nah, nanti
- barulah nanti kan yang mendidik Nabi
- Ismail itu kan ibunda Hajar
- karena kesehariannya beliau kan. Karena
- ee kalau yang istilahnya tuh kalau Nabi
- Ibrahim tuh apa namanya tuh secara umum
- gitu ya. Tapi yang kayak guru madrasah
- kan jadi anak ee ibarat ibu tuh kayak
- guru tiap hari ketemu ngajarin
- membimbing kesabaran gitu ya. Tapi
- perongkolannya artinya tadi garis besar
- haluan itu dari Nabi Ibrahim. Nah, itu
- nilai-nilai ketahui dan itu ditanamkan
- ya kepada lihat aja, lihat ibunda hajar
- bagaimana ketihannya, keimanannya kepada
- Allah pada saat dia ditinggalkan di
- tempat yang tidak ada siapapun. Ya,
- ketika dia meyakini idan la yudunallah,
- kalau gitu Allah enggak akan menyayakan
- kami. Itu kan bentuk keimanan yang luar
- biasa, keyakinan kepada Allah itu luar
- biasa. Nah, dari pengalaman dan keimanan
- seorang ibu ini dia bisa mengajarkan
- anaknya seperti Nabi Ismail. Keimanan,
- ketauhidannya itu kan dari ayahnya. Jadi
- kalau dicara kalau ditanya bagaimana
- cara Nabi Ibrahim mendidik anaknya
- seperti itu ya itu ibunyalah ibunda
- Hajarlah yang menjalankannya,
- mempraktikkannya. Ya, kita lihat
- bagaimana beliau tidak berputus asa ya
- ketika ditinggalkan suaminya sudah
- pergi, enggak ada siapapun kehabisan air
- itu beliau tidak berputus asa. Beliau
- letakkan Nabi Ismail kemudian beliau
- mencari air dari Bukit Safa ke Bukit
- Marwah. Itu zaman dulu tuh luar biasa
- ya. Itu jarak antara Bukit Safa Bukit
- Marwah itu tujuh keliling itu dalam
- rangka apa? Dalam mencari air karena
- ketidakputus asaannya terhadap rahmat
- Allah. Ini kan menunjukkan masyaallah
- karakter seorang ibu dan pendidik. Nah,
- itu pasti akan tertularkan kepada ee
- terajarkan tersampaikan kepada Nabi
- Ismail alaihi salam. Jadi kalau ditanya
- ya itu ibunya dulu siapa gitu ya.
- Begitu. Wallahualam.
- Baik. Jadi Pak Iqbal harus kompak dulu
- suami dan istri baru nanti akan
- turunannya bisa diaplikasikan kepada
- anak-anaknya. Saya beralih ke Bogor
- saja. Ada Bapak Hamdan yang bertanya.
- Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Apa yang perlu kita perhatikan dalam
- kehidupan sehari-hari, Ustazah, agar
- anak-anak dapat melihat langsung contoh
- kebaikan dalam diri kita sebagai orang
- tua?
- Ya. Mm yang penting adalah keteladanan
- dari kita yang telah menjadi habit kita
- ya. Maksudnya apa?
- Pertama dari perilaku
- baru ucapan. Ya, artinya perilaku kita
- sudah mencerminkan apa yang kita yang
- kita ingin sampaikan. Jadi, contohnya
- dari perilaku kita dulu loh. Makanya
- akhlak ya Rasulullah itu kan diutus
- karena untuk merubah akhlak. Jadi kalau
- kita sebut kepada anak ya akhlak kita
- dulu. Anak itu melihat dengan perilaku
- kita ya. Melihat contoh hidup ya.
- Misalnya dalam keseharian ee ya di dalam
- rangka pendidikan misalnya kita
- mengambil makan kita baca bismillah.
- gitu ya. Jadi anak itu melihat kita itu
- seperti sunah yang berjalan ya. Kita
- ingin ee ajarkan adab-adab dia lihat
- kita sudah melakukannya.
- Ya, misalnya misal contoh bagaimana anak
- bisa disuruh makan sambil duduk.
- Maksudnya dengan duduk kalau dilihat
- ayahnya jalan-jalan lagi makan gitu ya.
- Atau misalnya bagaimana anak disuruh
- masuk kamar mandi kaki kiri kalau orang
- tua masuk enggak enggak hitung-hitung
- kaki apa gimana. Jadi semuanya dilihat
- dari keteladanan itu dari dimulai dari
- hal yang sehari-hari ya tertib gitu ya.
- Salat misalnya kita yang terpenting kan
- kepada anak ini kan yang ditanangkan
- nilai-nilai tauhid, akidah apa segala
- macamnya ya ibadah ya. Yaitu ketika
- mendengarkan azan misalnya
- itu orang tua ayah atau ibunya ya itu
- kalau memang ingin anaknya juga menjadi
- ahlus shah dengar azan tuh diam jawab.
- Jadi artinya tidak sibuk dengan apapun
- ya. Jadi itu anak ketika melihat
- terusmenerus itu akan akan ter apa ya
- tergambar terbayang dalam dirinya nih
- ini seperti ini hanya dia dapatkan dari
- orang tua. Contohnya gini deh Mbak.
- Sehari-hari kita senang makanan tuh dari
- mana? Ya lihat orang tua
- kan kayak duren gitu ya. Kenapa kita
- suka duren? Karena orang tua kita suka
- duren ya enggak?
- Heeh. Heeh.
- Makan bawa duren. Makan duren ya
- akhirnya sudah gede duren. Nah itu dia
- karena kita lihat terlihat jelas. Nah,
- makanya pertama keteladanan sehari-hari
- itu ya ada sikap kita sehari-hari ya.
- Mengamalkan sunah, sikap kita terhadap
- ee kewajiban ya perintah. Dulu saya
- pernah baca ulama dulu tuh ya ketika ee
- anaknya apa mendengarkan azan itu
- anaknya dipeluk dipeluk anaknya itu yang
- masih itu ya masih ee di bawah 7 tahun
- ya. terus di ee diam semua aktivitas
- ditinggalkan anaknya dipeluk sambil
- menjawab azan itu terus dilakukan.
- Bayangkan sehari lima kali selama
- bertahun-tahun itu kan sudah menjadi apa
- ya ee jam biologis ya itu anak sudah
- besar jadi ulama. Kenapa? Karena memang
- sejak kecil tuh sudah dibentuk seperti
- itu. Kemudian kata-kata yang santun ya.
- Kalau anak disuruh sabar tapi orang
- tuanya enggak sabar ngomongnya
- bentak-bentak. Bagaimana bisa sabar?
- anak disuruh lembut tapi ngomongnya
- teriak-teriak gitu ya. Jadi memang luar
- biasa ya keteladanan itu dimulai dari
- keseharian kita ya adab-adab gitu ya.
- Bahkan kalau dari kalau kita
- membincangkan pendidikan anak itu sangat
- besar banget ya ee pembahasan sangat
- luas ya. Buku-buku ulama juga banyak
- kitab-kitabnya itu bahkan luar biasa ya
- tinggal penerapannya aja sebenarnya
- kadang-kadang kita kan mampu
- menyampaikan tapi sulit untuk
- mengamalkan. Maka bismillah
- mudah-mudahan kita mau merubah diri kita
- ya mulai kalau mau ngerubah anak ngubah
- diri dulu dan itu butuh waktu dan proses
- ya. Wallahu alam ya Pak ya. Kita mulai
- dari diri kit lah amalkan sunah dulu
- kita jalankan duluah. Ee ibaratnya gini
- ee kalau kita ingin
- menegakkan Islam ya di lingkungan kita
- atau di negeri kita, tegakkan dulu Islam
- pada diri kita. Nah kalau sudah tegak
- Islam diri kita, insyaallah di
- lingkungan kita itu bisa tegak. Dimulai
- dari diri kita. Ibda binafsik.
- Mudah-mudahan bisa. Insyaallah.
- Insyaallah. Amin. Baik, insyaallah
- terjawab tadi pertanyaannya karena saya
- akan beralih ke hamba Allah di Bekasi,
- Ustazah. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh.
- Waalaikumsalam
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Dari nomor 08224681.
- Sekian sekian sekian. Ustazah insyaallah
- nih kami suami istri ayah dan ibunya
- sudah kompak. Namun saat ini kami
- tinggal dengan orang tua dan orang tua
- saya memiliki gaya parenting yang zaman
- dahulu beliau terapkan. sehingga saya
- dan suami misalnya komit tidak boleh
- kasih permen atau membatasi sesuatu ke
- anak-anak, tapi neneknya kasihan dan
- memberinya diam-diam. Saya sudah ajak
- bicara ke orang tua saya, namun tetap
- saja diulangi. Jadi enggak kompak-kompak
- deh, Ustazah. Bagaimana caranya,
- Ustazah? Saya harus bicara kepada orang
- tua saya dan harus bagaimana agar anak
- tidak menjadi anak yang manipulatif.
- [tertawa]
- Ya, ini memang resiko ya artinya kalau
- ini ya bersama dengan ee apa namanya
- nenek kakeknya itu ya paling tidak gini
- berbicara dengan baik-baik ya artinya
- kadang-kadang nenek kakek itu enggak
- tega gitu ya ee orang tuanya ngelarang
- jangan kasih duit anaknya eh anaknya apa
- diam-diam datangin kakeknya n minta duit
- dia beli kayak gitu ya ya diingatkan
- terus deh dengan ke orang tua dengan
- cara yang baik. Kemudian sama anaknya
- juga gitu ya ee di apa diingatkan kita
- kan enggak bisa bagaimana udah udah
- takdirnya gimana ya tinggal dengan orang
- tua atau berdampingan sementara orang
- tua yang namanya orang tua memang agak
- ini ya ee kecuali kalau terus diingatkan
- dengan cara baik, tidak menggurui ya
- atau dialihkan jangan kasih permen,
- kasih yang lain gitu penggantilah gitu
- atau siapkan aja kasih nanti kalau minta
- ini kasih ini gitu artinya kita mencoba
- untuk ee mendekatkan diri kepada
- neneknya supaya neneknya itu tidak
- memberikan tapi menggantikan ya
- menggantikan yang lain ajak apa lagi
- insyaallah mudah-mudahan ee
- mudah-mudahan neneknya bisa paham sambil
- kita juga berdoa [berdehem] kepada Allah
- ya Allah artinya bukakan pintu hati
- orang tuak gitu ya ee kalaupun ee
- pokoknya minta minta Allah itu
- melembutkan hati orang tua dan minta
- juga apa yang kita lakukan ni
- mudah-mudahan sebagai bentuk bakti kita
- kepada orang tua kita. Sekali lagi,
- jangan pernah
- menyakiti hati orang tua kita hanya
- karena anak kita. Ya, itu orang tua tuh
- sedih banget loh kalau sampai merasa
- diatur-atur. Maksudnya ee si orang tua
- tuh yang punya cucu ya itu kalau tidak
- mampu kita menyampaikannya dengan cara
- yang baik itu akan tersinggung. Ini
- mentang-mentang punya anak ini. Ini kan
- sayang cucu nanti bisa berantem nanti ya
- antara cucu dengan dengan ee apa dengan
- ee apa antar kakek nenek dengan anaknya
- gara-gara cucu. Nah, itu kita hindari
- ya. Kita minta kepada Allah
- mudah-mudahan ini bentuk bakti kita ee
- kepada orang tua kita. Dengan adanya
- cucu ini, orang tua kita senang meminta
- kepada Allah supaya hatinya dilembutkan
- sesuai dengan ee pola asuh yang kita
- inginkan. Kalaupun masih belum atau
- sulit, kita minta kepada Allah agar
- mudah-mudahan inilah bentuk bakti kita.
- Dengan adanya cucu ini, hati orang tua
- kita akan senang gitu ya. Karena hidup
- mereka itu kan enggak akan lama ya.
- Berapa lama sih? Ya kita kasih tahu juga
- anak-anak kita nanti kalau sudah dewasa
- ya. Artinya tidak semua apa yang nenek
- kakek berikan itu terbaik untuk kamu. Ya
- jelasin aja deh kuncinya sih hubungan
- baik kita dengan anak sebenarnya ya.
- Kalau kita bisa menjaga hubungan dengan
- anak, pasti anak itu enggak akan lari ke
- nenek kakeknya. Ini kadang-kadang ya
- tadi ya manipulatif itu ya dia enggak
- suka sama orang tuanya karena mungkin
- komunikasinya tidak pas. Dia lari ke
- nenek kakeknya, ke neneknya minta
- perlindungan sama neneknya. Akhirnya kan
- nenek gitu ya, ini kan anakku. Wah, biar
- nanti ayah ibunya diomelin sama
- neneknya. Udah gitu [mendengus] neneknya
- ngomelin orang tuanya di depan dia lagi.
- Senanglah cucu itu. [tertawa] Heeh.
- Masyaallah. Heeh. Iya. dibicarakan
- mudah-mudahan ada jalan keluar.
- Insyaallah.
- Insyaallah. Insyaallah. Baik. Tetap
- semangat Ibu ya. Baik. Saya beralih ke
- mungkin satu pertanyaan lagi Ustazah.
- Ini dari sebentar
- ini dari Pak Andra di pisangan namanya
- di bawah. Asalamualaikum warahmatullahi
- wabarakatuh ustazah.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh Ustazah. Ini permasalahan
- pendidikan. Anak-anak kami memiliki
- tingkat pendidikan yang tinggi.
- Alhamdulillah sudah kuliah dan beberapa
- ee sudah lulus. Dan kami adalah orang
- tua yang hanya lulusan SMP sehingga
- terjadi
- ke salahpahaman dalam memahami apa yang
- mereka inginkan juga bahasanya enggak
- sampai. Ustazah kami paham bahwa kami
- harus terus belajar tapi nampaknya
- kejauhan Ustazah. Bagaimana caranya kami
- dapat beradaptasi dengan cepat dan bisa
- dekat dengan anak? Masyaallah.
- Subhanallah ya. Masyaallah ya. Ee
- artinya gini deh ee bagusnya itu memang
- bertemu berkumpul dari hati ke hati.
- He
- iya. Artinya gini saya akui ya mungkin
- di keluarga kita, saya ya atau mungkin
- yang lainnya mungkin ee yang namanya
- musyawarah rapat keluarga itu mungkin
- sangat jarang kita lakukan ya. Jadi
- artinya di sini musyawarah ini ee apa
- ya? Family conference apa ya? Artinya
- duduk bersama dengan keluarga, dengan
- anak-anak ya dari hati ke hati ya. Kalau
- Bapak tadi ee apa Bapak dan Ibu sudah
- mencoba untuk belajar tapi kok senjang
- ya. Nah, sekarang kita kumpul aja kumpul
- anak-anak kita kemudian kita ee
- sampaikan ya bahwa ee ingin menyampaikan
- isi hati nih gitu ya. apa yang dirasakan
- nanti ee apa kalian juga nanti
- sampaikanlah isi hati kalian ya
- sampaikan aja ee kok ibu bapak-bapak
- merasakan begini begini kok jadi ngomong
- ini tadi anak ini kok rasa sakit ya
- kenapa ya gitu ya jadi artinya ee dari
- hati ke hati deh insyaallah
- mudah-mudahan ee dari hati ke hati apa
- yang kita alami yang kita kadang-kadang
- kan orang tua tuh tidak menyampaikan apa
- isi hatinya kan kadang-kadang anak itu
- karena dia ee to the point ya dia
- menyampaikan apa isi hati hatinya.
- Padahal mungkin apa yang disampaikan tuh
- sangat menyakiti hati orang tua,
- tersinggung orang tua gitu ya. Ee jadi
- disampaikan aja ee ungkapkan apa yang
- diinginkan orang tua. Pengin deh anak
- tuh begini begini gini. Selama ini kok
- merasa sedih. Kenapa? Sampaikan aja
- kenapa ya belum nyambung apa karena
- tingkat ee pendidikan. Saya rasa Ibu ee
- Bapak ya bisa jadi sebenarnya ya kalau
- kita lihat jikalah anak-anak kita ini
- memahami, mendalami, mempelajari,
- mengimani ayat Al-Qur'an dan sunah,
- setinggi apapun pendidikan mereka ya
- seapun tingkat jabatan mereka yang
- mereka miliki, tapi ketika mereka
- berhadapan dengan orang tua itu sudah
- dapat dipastikan kalau mereka itu
- memiliki tadi ya keimanan, pasti mereka
- akan menyenangi hati orang tua. Jadi
- artinya gini ee di satu sisi ya kita
- bicara tadi orang tua mestinya orang tua
- tuh belajar merubah tapi di sisi lain
- juga kita juga membahas tentang anak ya.
- Jadi memang ee bisa jadi
- kesalahan-kesalahan masa lalu yang belum
- kita jalankan ya. Ya namanya juga takdir
- ya masa lalu mungkin pola asuh anak ini
- sudah sudah tetap walau bagaimanapun
- seorang anak tetap anak walaupun dia
- punya pendidikan yang tinggi. Nah, jadi
- dari satu sisi kita kan kalau bicara
- dengan orang tua kan seperti inilah ya.
- kita harus sabar ya, kita banyak
- belajar, kita berusaha memahami kan gitu
- ya kalau sebagai sisi orang tua. Tapi
- dari sisi anak walau bagaimanapun anak
- ini tingginya pendidikan, besarnya
- jabatan, pangkat politik yang dia yang
- dia ee miliki saat ini, itu tidak
- mengurangi
- ee kedudukan mereka ya. bahwa mereka itu
- adalah sebagai seorang anak di hadapan
- orang tuanya yang tidak boleh
- mengeraskan suara, tidak boleh menyakiti
- hati, tidak boleh ee nada suaranya
- tinggi, itu enggak boleh mengatakan wala
- takluma uf. Mengucapkan uf saja itu
- tidak dibenarkan. Sebesar apapun ee
- jabatan pangkat pendidikannya harus ada
- adab dan etika itu kan ya. Walaupun
- mereka mengatakan ya kan ini kan kita
- demokrasi kan biasa. Kita enggak bicara
- nilai-nilai orang lain. Kita bicara
- Islam.
- Islam itu sudah menetapkan, sudah
- mengatur bagaimana anak terhadap orang
- tuanya. Sekalipun orang tuanya kafir,
- tapi mereka tetap yusohibhuma fid dunya
- ma'rufah. Harus berbuat baik dengan ee
- di dunia ini dengan mereka walaupun
- tidak seiman apalagi orang tuanya
- seiman. Nah, artinya di sini Allah
- sampai ee turut campur tangan ya untuk
- mengingatkan anak agar berbakti kepada
- kedua orang tuanya. Itu turun tangan itu
- Allah. Kenapa? Karena dulu anaknya
- enggak ingat. Mana ada anak ingat ketika
- anak masih hamil, anaknya masih bayi itu
- digendong-gendong mana ingat anak ya.
- Bagaimana orang tuanya tuh demikian
- susah payahnya membimbing mereka dulu
- lagi hamil melahirkan ya bapaknya
- mencari nafkah TK, SD, SMP semua itu kan
- ana enggak ingat. Makanya Allah ingatkan
- anak wabil walidaini ihsana gitu ya.
- Jadi ee sekali lagi yang satu sisi
- sebagai seorang sebagai orang tua ya
- tentu kita lapang dada sabar ya ee
- berusaha untuk membuka komunikasi ngajak
- anak ya kalau perlu ya minta maaf ya
- kalau dulu mungkin ada yang keliru dalam
- mendidik mereka tapi di sisi lain ini
- anak nih bahaya kalau dia mereka itu
- tidak ee merendahkan dirinya di hadapan
- orang tua karena keberkahan hidup itu
- itu tergantung bagaimana bakti mereka
- kepada orang tua ya. Bahkan DP bagi anak
- yang durhaka itu di dunia sudah dapat
- gitu ya. Bahkan kalau kita lihat kunci
- surga
- ya artinya surga yang dicari oleh orang
- beriman itu ada di telapak kaki ibu gitu
- ya. Artinya nih ee satu sisi tidak tidak
- masalah ya anak ter tinggi jabatan tapi
- tetap aturan adab etika ada diatur ya
- dalam Islam. Maka oleh karena itu ee
- untuk tadi ya orang tua ya sudah
- berusaha untuk mempelajari ya
- alhamdulillah ya mudah-mudahan terus
- belajar maka ajaklah anak itu berbicara
- dari hati ke hati. Ajak musyawarah, ajak
- ee berbicara ya apa yang mengganjal di
- hati orang tu sampaikan kepada anak
- apanya bagaimananya ya. Nanti
- mudah-mudahan anaknya bisa ee ketika
- mereka memahami nilai-nilai Islam tentu
- mereka tidak akan menyakiti hati orang
- tuanya.
- Iya. Jadi seperti itu ya barangkali
- seperti itu ya barangkali karena memang
- kita sebagai orang tua memang sama-sama
- belajar karena tantangan itu berat ya
- saat ini ya anak-anak sudah dapat dari
- mana apalagi sekarang yang namanya luka
- batin-luka batin ya Mbak Olin ya.
- Heeh betul banyak istilah-istilah
- psikologislah
- iya luka batinlah apalah ya. He.
- Kalau kita kembali kepada ajaran Islam
- sebenarnya luka batin itu ya enggak
- perlu kita bisa sembuhkan sendiri itu ya
- artinya ee ketika kita memegang
- nilai-nilai dan norma ya bagaimana ya
- namanya orang tu takdir mau bagaimana
- lagi kan kita tidak mau mewariskan
- kalau orang masih ter ee tersangkut
- dengan luka batin hidupnya dia akan
- mewariskan pola asuh yang sama nantinya
- dari orang tuanya ya kan kita nih ya
- kebanyakan orang tua orang tua yang
- sekarang mendidik anak-anak yang sudah
- ee yang mungkin sekarang sudah baby
- boomers sekali ya atau generasi X atau
- apa ya mungkin banyak yang luka batin
- dulunya kan. Masyaallah ya.
- Mudah-mudahan kita diberikan itulah
- namanya mukalaf dalam Islam. Mukalaf itu
- orang yang sudah ee berakal sudah balih
- yang sudah tahu mana yang baik yang
- benar-benar dan dia bisa mengobati
- lukanya gitu ya. Dia tahu dia akan
- berbuat yang tidak samanya gitu ya. Dia
- akan terus belajar ya. Wallahu alam
- ya. Baik. Ee pertanyaan tersebut
- nampaknya menutup. sesi tanya dan jawab
- kita pada siang hari ini. Dan kami
- berterima kasih atas ee pertanya-penanya
- yang sudah menyampaikan pertanyaannya ke
- mesin WhatsApp berhasil. Sebelum
- benar-benar ditutup nampaknya kami akan
- meminta Ustazah untuk memberikan
- kesimpulan.
- Pendengar yang dirahmati Allah,
- kekompakan orang tua dalam mendidik anak
- itu bukan soal siapa yang lebih benar,
- tapi soal siapa yang siap menundukkan
- ego untuk bersama-sama membentuk
- generasi surga.
- Jika rumah menjadi satu suara,
- insyaallah anak akan tumbuh dalam
- keteguhan iman. Tapi bila rumah penuh
- suara yang berbeda, tentu anak akan
- tumbuh dalam kebingungan nilai.
- Mudah-mudahan kita mampu meneladani
- kekompakan bagaimana Nabi Ibrahim dan
- keluarganya mendidik anaknya. Semoga
- Allah selalu membimbing kita. Kekuatan
- kita adalah doa. Semoga Allah membimbing
- dan menuntun kita bersama-sama untuk
- mampu membawa keluarga kita bersama-sama
- menuju surganya.
- Astagfirullah wakum. Asalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil
- alamin. Ikhwan dan akhwat, telah kita
- ikuti bersama kajian pada siang hari ini
- dan insyaallah dapat memantapkan kita
- untuk melangkah menjadi muslim dan
- muslimah yang lebih baik lagi, orang tua
- yang lebih baik lagi, anak yang lebih
- saleh dan salehah lagi. Insyaallah. Dan
- Ustazah terima kasih atas waktunya, atas
- ilmunya. Kami doakan mudah-mudahan
- Ustazah dan keluarga diberkahi Allah,
- kesehatan dan keberkahan dalam
- kehidupannya. Amin. Yang bertugas hari
- ini saya Caroline didampingi oleh Agus
- sebagai produser. Kemudian di belakang
- meja operator ada Ondi serta Algi. Kami
- mohon maaf apabila ada kekurangan.
- Mudah-mudahan tidak mengurangi
- kekhidmatan dalam kajian siang hari ini.
- Kami mohon pamit. Subhanaka Allahumma
- wabihamdika ashadu alla illa anta
- astagfiruka wa atubuik. Wabillahi taufik
- wal hidayah. Wasalamualaikum
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Waalaikumsalam warahmatullahi
- wabarakatuh. Pamit ya, Mbak ya.
- Terima kasih, Ustazah sampai ketemu.
- Asalamualaikum. Waalaikumsalam
- warahmatullahi wabarakatuh.
- Masih cantik. H