Transkrip diambil dari YouTube. Klik timestamp biru untuk melompat ke posisi tersebut di pemutar.
0:00 [musik] 0:09 Bismillahirrahmanirrahim. 0:10 Alhamdulillahiabbil alamin. Allahumma 0:12 sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali 0:15 sayyidina Muhammad. Ikhwan dan akhwat 0:17 yang dirahmati Allah subhanahu wa taala 0:19 yang dapat meraih kami baik itu lewat ee 0:22 YouTube Rasil juga lewat radio Rasil. 0:25 Asalamualaikum warahmatullahi 0:28 wabarakatuh. Bahagia sekali saya 0:31 Caroline bisa hadir di tengah ruang 0:33 dengar Ikhwan dan Akhwat. Setiap hari 0:34 Jumat rutin kita mengikuti dan berkaji 0:38 bersama guru kita Ustazah Herlini Amran 0:41 dan beliau sudah berada di seberang 0:43 sana. Kita masih hybrid. Mari kita sapa 0:44 terlebih dahulu. Asalamualaikum 0:46 warahmatullahi wabarakatuh, Ustazah. 0:49 Waalaikumsalam warahmatullahi 0:51 wabarakatuh. 0:52 Senang sekali ketemu lagi sama Ustazah 0:55 walaupun masih virtual tapi Ustazah 0:56 sehat ya. 0:58 Alhamdulillah. Luar biasa. Tetap 1:01 semangat. Allahu Akbar. Masyaallah. 1:03 Allahu Akbar, Ustazah. Dan hal tersebut 1:05 juga kita harapkan sedang dialami juga 1:08 oleh pendengar kita, Ustazah ya, dalam 1:10 keadaan sehat, semangat dan insyaallah 1:12 Jumat berkah ini kita akan mendengarkan 1:15 kajian bersama dengan tema pada kali ini 1:18 yaitu kompak mendidik anak. Teladan dari 1:21 kisah Nabi dalam Al-Qur'an. Tafadul 1:24 Ustazah. Jazakillah. Mbak. 1:26 Bismillahirrahmanirrahim. 1:27 Alhamdulillah. 1:29 Alhamdulillahilladzi alfa baubinaasbahna 1:33 ikhwana. Ya rabbana lakal hamdu bil 1:36 iman. Yaana bilam yaana 1:41 bilakalam 1:44 ahli muah lakal hamduin 1:48 anamtaha 1:50 allahumma shi wasallim wabarik ala 1:52 sayyidina muhammadin waa alihi wa 1:55 ashabihi ajmain w allahum inna nasaluka 1:58 ridaka wal jannah wa naubika minhatika 2:03 eh membahas tentang kompak mendidik anak 2:06 ini memang suatu hal yang sangat penting 2:08 ya dalam sebuah keluarga. Karena kita 2:10 tahu lembaga keluarga ini adalah tempat 2:13 anak mengenal makna kehidupan ya, 2:16 mengenal nilai, mengenal akhlak. Bahkan 2:19 di dalam Islam itu mendidik anak bukan 2:22 hanya tugas ayah atau hanya ibu saja, 2:25 tapi tugas mereka berdua. Tidak boleh 2:27 terpisah. ya. Dan kita tahu ee bagaimana 2:31 kewajiban 2:33 ee ayah dan ibu bersama-sama kompak 2:37 dalam ee membangun, membina, mendidik, 2:40 mentarbiah putra-putrinya. Artinya di 2:43 sini bagaimana 2:44 kekompakan dan kerja sama dan 2:47 keselarasan itu harus dibentuk ya dari 2:50 orang tua karena kita tahu dampaknya itu 2:53 akan luar biasa. Bahkan salah satu 2:54 faktor keberhasilan, 2:57 faktor keberhasilan dalam pendidikan 2:59 anak itu ya, faktor keberhasilan itu 3:02 adanya kerja sama yang baik antara ayah 3:04 dan ibu, ayah dan bunda ya. Kompak dalam 3:07 visi, dalam tujuan, dalam motivasi, 3:09 dalam orientasi kehidupan ya. Jadi harus 3:12 dipastikan suami istri itu kompak ya 3:15 dalam mengarahkan 3:19 anaknya mendidik atau mentarbiah 3:21 putra-putrinya agar sesuai dengan apa 3:24 yang mereka inginkan ya ee sesuai dengan 3:28 visi yang telah mereka sepakati ya. Nah 3:30 ee kita bahas memang ee bagaimana 3:33 kekompakan orang tua ini dalam mendidik 3:35 anak. Tentu kita mengambil teladan dari 3:38 kisah Nabi dalam Al-Qur'an. Nah, sebelum 3:40 kita bahas ee bagaimana kita mengambil 3:43 keteladanan, bagaimana ee kekompakan 3:47 keluarga dalam Al-Qur'an ya, teladan 3:50 dari kisah Nabi ini, kita sedikit ee 3:53 bahas ya, bagaimana bahayanya jika orang 3:56 tua tidak kompak dalam mendidik anak. 3:58 Wah, bahaya banget ya. Misalnya anak itu 4:02 akan bingung, tidak punya arah ya. Jika 4:05 ayahnya menginginkan A, ibunya 4:07 menginginkan B. Ya, mungkin dari kecil 4:10 mungkin ee tidak terasa ya. Tapi ketika 4:12 anak ini berkembang, ini anak ini akan 4:14 bingung. Ini anaknya enggak punya 4:16 pedoman yang jelas pasti mencari-cari 4:19 pembenaran ini yang benar yang mana. Ya, 4:21 bapaknya nyuruh ini, ibunya nyuruh ini. 4:23 Ya, tidak terbentuk sifat apa? Sikap 4:26 konsisten dan disiplin gitu ya. Jadi ini 4:28 tentu anak jadi bingung ya. Jadi salah 4:31 salah arah ya. Bahkan juga ee dengan 4:34 dualisme kepemimpinan ini anak ini 4:36 enggak jelas nanti mau ke mana. Kalau di 4:39 mengikuti ayah dia akan dimarah oleh 4:41 ibunya, mengikuti ibu dimarahi oleh 4:44 ayahnya. Bisa juga anak itu kehilangan 4:46 rasa aman ya dan kasih sayang ya. Ya kan 4:49 memang ee kehad itu kan kalau dualisme 4:52 pendidikan enggak kompak, enggak 4:53 harmonis antara ayah dan ibu. tentu 4:55 muncul ee pertengkaran ya, tidak 4:59 harmonis antara ayah dan bunda. Nah, 5:01 tentu ini akan dipertontonkan di hadapan 5:04 anak ya. Kan nanti anaknya timbul stres 5:06 ya, rasa tidak dicintai, bingung, tidak 5:09 nyaman. Nah, ini repotnya repot yang 5:11 seperti ini ya. Anak itu bingung sendiri 5:14 dia. Bahkan nanti dampaknya bisa menjadi 5:15 anak yang pembohong atau manipulatif ya. 5:18 dia bisa memanfaatkan antara perbedaan 5:21 orang tuanya mana yang ee menurut 5:24 kepentingannya dia akan ambil itu ketika 5:27 misalnya ee lagi menuruti perintah 5:30 mungkin yang lebih longgar tuh ayahnya. 5:32 Nah, dia akan cenderung ke ayahnya dan 5:34 dia menjauh ibu ini kan timbul 5:35 pertengkaran. Jadi anak ini bisa 5:38 memanfaatkan perbedaan orang tua untuk 5:40 kepentingannya sendiri. dia akan 5:42 berbohong ya demi mendapatkan izin dari 5:45 ee salah satu misalnya si ee ibunya 5:48 melarang pergi, ayahnya membolehkan. 5:51 Wah, itu kan atau misalnya bagaimana 5:53 memainkan perasaan ayah dan ibu saling 5:55 menyalahkan. Ibunya tidak tidak 5:58 mengizinkan anaknya untuk memegang HP 6:01 ya, jejama 6:03 ayahnya malah membelikan. Masyaallah, 6:05 ini luar biasa banget ya dampaknya ya. 6:07 ee banyak hal lah ya yang memang akan 6:10 timbul dari e ketidaktidak kompakan ini 6:13 ya. Anak itu tidak akan ee menghargai 6:16 aturan, mudah terpengaruh dengan 6:18 lingkungan luar karena di rumah tidak 6:20 kuat ya bimbingannya ya. Nah, ini kita 6:22 hindari. Nah, ee dalam hal kekompakan 6:25 mendidik anak ini kita ee akan mengambil 6:29 teladan ya dari kisah Nabi dalam 6:31 Al-Qur'an ya. ee kisah Nabi kita kita 6:36 hindari yang pertama tuh yang tidak 6:37 kompak dulu ya. Ee kita hindari itu 6:40 cukuplah itu menjadi pelajaran untuk 6:42 kita untuk tidak mengikutinya. Misalnya 6:46 pelajaran dari ee kisah Nabi Nuh Alaih 6:49 Salam ya. Kita tahu Nabi Nuh Alaih Salam 6:51 itu dakwahnya cukup lama ya. Beliau 6:55 mempersiapkan kapal karena Allah 6:57 memerintahkan untuk ee mempersiapkan 7:01 kapal ini untuk nanti orang-orang yang 7:02 mengikutinya itu diselamatkan. Ya. Nah, 7:05 saya saya tidak bahas itu ya. Saya bahas 7:07 ini pelajaran buat kita ya. Anak Nabi 7:10 Nuh Alaih Salam itu menolak ikut naik 7:13 kapal ya. Padahal kalau kita lihat dalam 7:16 berada dalam keluarga yang bapaknya Nabi 7:18 loh gitu ya. Tapi anak ini tidak mau 7:22 mengikut menolak ya. ini ee merupakan 7:25 kegagalan komunikasi, kurangnya respon 7:28 dari anak ya. Karena bisa jadi belum 7:31 tersampaikan ee nilai-nilai. Karena apa? 7:34 Karena ibunya. Masyaallah ibunya. Kenapa 7:37 ibunya? Allah kan mengabadikan ya 7:39 tentang istrinya Nabi Nuh ini. 7:44 Nuh wroat. Nah, kita bicara imroatan 7:48 Nuh. Ibunya itu tidak beriman. Jadi 7:50 Allah membuat perumpamaan bagi 7:52 orang-orang kafir, istri Nuh. Nah, jadi 7:55 si ibu ini ya kalau kita bicara ee 7:58 sebagai ee seorang ibu atau istri enggak 8:03 kompak dengan suaminya sehingga 8:05 menghasilkan anak seperti itu. Sementara 8:08 ayahnya itu mengarahkan keluarganya, 8:11 membimbing keluarganya, tapi ibunya 8:13 enggak sepakat. Nah, jadi ini kegagalan 8:15 komunikasi ini yang menyebabkan 8:17 kurangnya respon daripada anak. Maka ee 8:20 ujungnya kan kehancuran ya. Ya. Dalam 8:23 surat Hud 43 tuh ya qola saawi ila 8:25 jabaliimuni minal ma. Anaknya itu 8:28 mengatakan, "Ya, aku cari perlindungan 8:29 aja deh ke gunung gitu ya." Nah, ini 8:32 kita bicara ee itu memang kisah Nabi ya, 8:34 bagaimana ee tidak beriman ee ibunya. 8:37 Kita bicara di sini tentang kisah Nabi, 8:39 tapi kita mengambil ee untuk saat ini 8:42 pola asuh ya. Ini menunjukkan pentingnya 8:45 komunikasi dan pengaruh berkesinambungan 8:48 antara ayah ibu. Ya, kalau kita kan 8:51 jelas ya dalam ee syariat Rasulullah 8:53 sallallahu alaihi wasallam kan enggak 8:54 boleh ee beda beda keyakinan tuh sudah 8:57 jelas enggak boleh enggak boleh menikahi 8:59 wanita musyrik atau sebaliknya. Ya, ini 9:02 kan kita dalam satu agama ya. Dalam satu 9:04 agama pun sama-sama beriman kepada 9:06 Allah, beragamakan Islam, berkitabkan 9:09 suci Al-Qur'an, ya. Bernabikan 9:12 Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. 9:13 ya ee yang mengaku ahlusunah wal jamaah 9:16 atau apalah. Tapi kan dalam pola 9:18 pendidikan anak harus kompak supaya anak 9:21 ini tidak bingung dia. Nah, kita lihat 9:24 bagaimana komunikasi yang berjalan 9:27 antara Nabi Nuh dengan istrinya yang ya 9:29 karena istrinya itu enggak saleh ya, 9:31 enggak salihat ya, tidak beriman ya. 9:33 Akhirnya karena ibu ini adalah pendidik 9:35 utama anak maka tidak tersampaikan apa 9:39 yang dibawa oleh ayahnya Nabi Nuh alaihi 9:41 salam kepada anaknya. Jadi penting 9:43 sekali ibu ini ya dalam menjalankan visi 9:47 apa visi atau misi yang dicanangkan oleh 9:50 ayah. Jadi peran ayah itu sangat penting 9:52 dalam ee pendidikan anak ini. Ayah 9:55 makanya di dalam Islam tuh kedudukan 9:57 ayah tuh sangat penting ya dalam GBHK ya 10:00 garis-garis besar haluan keluarga. Jadi 10:03 betul ibu itu madrasah ee ummu madrasah. 10:06 Betul ibu itu adalah madrasah ya ee 10:09 sekolah madrasah pendidikan. Tapi siapa 10:11 dong kepala sekolahnya? gitu. Enggak 10:13 bisa dong diserahkan kepada ibu saja. 10:15 Tapi yang menjadi pokok dari 10:18 keberhasilan pendidikan dan pola asuh 10:20 ini adalah ayah. Makanya dalam Al-Qur'an 10:24 itu simbol ayah itu jelas ee utama 10:28 ketika Allah menyampaikan kepada kita 10:30 yang e memerintahkan kepada orang 10:33 beriman e ya ayyuhalladzina amanu 10:36 anfusakum wa ahlikum naro itu kan untuk 10:38 laki-laki. Wahai orang-orang beriman 10:41 anfusakum jaga dirimu, lindungi dirimu 10:44 dan keluargamu dari api neraka. itu kan 10:46 bapak sebagai qawam jadi di sini ee 10:50 ketika qawamnya sudah baik tapi ternyata 10:52 istrinya enggak baik ya akhirnya 10:54 berdampak ya tidak bisa mendidik 10:55 istrinya tidak mampu mengarahkan, enggak 10:58 punya modal ya bapaknya enggak punya 11:00 modal untuk mendidik istrinya hanya 11:01 nuntut bagaimana bisa ee anak-anak ee 11:04 menjadi apa yang diinginkan oleh ee 11:06 mereka ya. Jadi kesamaan visi dan misi 11:10 antara suami dan istri kompak dalam 11:12 mengasuh, merawat, dan membimbing anak 11:14 itu adalah suatu keniscayaan ya walaupun 11:17 sebenarnya hidayah itu di tangan Allah 11:19 ya. Baik. Jadi ini ee contoh bagaimana 11:24 tidak kompak antara Nabi Nuh dengan 11:27 istrinya ya. Nah, makanya ee ini 11:30 pelajaran buat kita ya. Jadi sesaleh 11:33 apapun 11:34 suami istri atau orang tua yang suaminya 11:37 saleh, istrinya salihah, tapi ketika 11:40 dalam pola asuh dan pendidikan anaknya 11:42 enggak kompak, ah itu akan berbahaya 11:44 itu. Wow, repotlah itu ya. Nah, ee tadi 11:47 disebutkan bahwa ee tadi dalam Al-Qur'an 11:51 ya Allah membuat perumpamaan tentang ee 11:54 orang-orang kafir ya, istri Nuh ya. 11:57 Imroata Nuh wa imra Luthtaini 12:02 tahta abda minihinahuma. 12:06 Ya, Allah buat perumpamaan bagi 12:09 orang-orang kafir itu istri Nabi ee Nuh 12:11 dan istri Nabi Luth. Keduanya berada di 12:14 bawah naungan, di bawah pengawasan, di 12:16 bawah ee kepemimpinan dua hamba yang 12:19 saleh di antara hamba-hamba Allah. Ee 12:21 dua istri ini khaatahuma, berkhianat 12:24 kepada suaminya. Jadi, pengkhianatan ini 12:27 itu enggak identik dengan ee apa 12:30 namanya? perselingkuhan ya, perzinahan. 12:32 Enggak. ini maksudnya bukan ee khianat 12:36 pengkhianatan fisik, tapi ini adalah 12:38 pengkhianatan dalam hal iman ya, dalam 12:40 hal keimanan, dalam hal dakwah ya. 12:42 Mereka enggak beriman karena mereka 12:44 enggak mendukung dakwah ee ee suaminya 12:47 mereka itu menentang dakwahnya itu 12:48 pengkhianat ya. [berdehem] Jadi dalam 12:50 konteks istri Nabi Nuh ini dia tidak 12:53 percaya ya, tidak beriman kepada 12:55 suaminya, apa yang dibawa suaminya, dia 12:57 berpihak kepada orang-orang kafir ya. 12:59 Nah, seperti ini mendidik anak bagaimana 13:02 bisa berhasil. itu ya. Jadi ee walaupun 13:05 dia statusnya seorang istri nabi, kalau 13:08 dia berkhianat, dia tidak beriman ya dia 13:10 akan membawa ya akan mengasuh ya akan 13:14 mendidik anaknya sesuai dengan apa yang 13:16 dia yang dia yakini ya. Jadi ini 13:19 peringatan buat kita semua untuk zaman 13:21 now. Bagi para orang tua atau yang akan 13:23 membangun keluarga ya. hubungan keluarga 13:26 gitu ya dengan ee seorang nabi atau 13:29 orang saleh itu tidak otomatis bisa 13:31 menyelamatkan. Artinya seseorang itu 13:35 tidak hanya memiliki iman, tapi juga 13:36 harus ee kompak ya keimanan. Karena kita 13:39 tahu ya keselamatan di sisi Allah tu 13:41 ditentukan oleh keimanan dan amal ya, 13:43 bukan hubungan nasab, tapi juga 13:45 kekompakan. Kalau enggak kompak gimana 13:47 ya? Jadi ini anak akan kehilangan 13:49 keteladanan ya. Dia tidak bisa 13:51 meneladani ayahnya karena dia dididik 13:54 oleh ibunya. Nah, makanya nih buat para 13:57 pemuda kita berharap ya, kita kan ingin 14:00 sama-sama masuk surga bersama keluarga 14:03 ya. Kalau memilih pasangan hidup istri, 14:05 terutama ini para pemuda muslim, 14:08 pilihlah yang salihah. Jangan pilih 14:10 sesuai dengan ee apa? Good lucking, ya. 14:14 Apa indah, enak dilihat, tapi enggak 14:16 memiliki ee modal keimanan. Gimana mau 14:19 mendidik anak? Jadi carilah istri itu ee 14:23 bukan hanya sekedar istri tapi ibu bagi 14:25 anak-anak kita gitu ya. Nah, jadi ini 14:27 penting ee karena kita hidup ini kan 14:29 enggak selamanya modal cinta, modal 14:31 cantik ya, tapi kita ingin ee rumah 14:34 tangga ini bersama-sama di dunia, nanti 14:37 juga bersama-sama di surga insyaallah 14:39 ya. Jadi nilai-nilai itu sepakat antara 14:42 suami istri itu benar-benar ya. Jadi ini 14:44 contoh ee bagaimana 14:47 tidak kompaknya keluarga Nabi Nuh Alaih 14:49 Salam. Nah, ini memang jangka panjangnya 14:51 anak tuh akan bingung kalau kita ee 14:53 ambil ini sebagai teladan ya. Kalau di 14:55 masa ini kan kita sama-sama seiman ya 14:57 harus ya. Tapi kalau tidak kompak dalam 15:00 ee menjalankan pola tarbiah pendidikan 15:03 terhadap anak, terhadap terkait dengan 15:05 visi dan misi dan tujuan ee memiliki 15:08 anak ini nanti anak itu akan bingung 15:10 sendiri, tidak stabil, dia tidak percaya 15:12 diri bisa ya karena misalnya membangkang 15:13 dia, sulit diatur, dia gampang marah, 15:16 dia akan ee mengambil atau berpihak 15:19 kepada yang sesuai dengan hawa nafsunya 15:21 ya dia itu akan banyaklah ya akan 15:23 menimbulkan konflik lagi nih kalau ayah 15:26 ibunya tidak sama dalam pola aslinya. 15:29 Nah, oleh karena itulah kita ingin ee 15:32 dalam mendidik anak ini buat saya dan 15:35 buat kita semua ya, kita ayah ibu ini 15:38 satukan visi dulu dalam nilai-nilai yang 15:41 akan kita terapkan kepada anak-anak 15:42 kita. Sepakat dulu gitu ya. Saling 15:44 menguatkan bukan melemahkan ya. 15:47 Kadang-kadang ketidakuran 15:50 ayah dan ibu itu dipertontonkan di 15:52 hadapan anak itu bahaya banget ya. itu 15:55 nanti anak akan melihat sesuai dengan 15:57 apa yang dia inginkan, siapa yang dia 15:58 dekat, siapa yang menguntungkan dia. Ya, 16:00 makanya komunikasi ini kembali kepada 16:02 komunikasi ya, antara pasangan itu 16:04 sangat penting untuk ee pola asuh kepada 16:06 anak-anak kita ini. Jangan pernah 16:08 berdebat di depan anak kita menyalahkan 16:09 atau bertengkar ya. Nah, ini ee contoh 16:13 tidak kompak keluarga Nabi Nuh Alaih 16:16 Salam. Nah, [berdehem] kalau kita ambil 16:18 yang teladan yang terbaik itu adalah 16:21 kekompakan keluarga Nabi Ibrahim Alaih 16:23 Salam dengan ibunda Hajar. Nah, itu 16:26 kompak banget itu ya. Walaupun di dalam 16:28 Al-Qur'an itu tidak memuat riwayat 16:30 biografi atau sejarah secara utuh ya. 16:33 Kita bisa melihat dari ayat Al-Qur'an. 16:36 Kita bisa melihat di situ tuh kalau kita 16:37 kembangkan ya keteladanan paling indah, 16:41 kekompakan antara Nabi Ibrahim dengan 16:44 ibunda Hajar itu bisa dilihat dari hasil 16:46 didikannya. Kita lihat Nabi Ibrahim 16:48 Alaih Salam itu menjadi nabi itu luar 16:51 biasa ya. Ah itu tercermin misalnya 16:53 bagaimana kesantunannya menjawab ee 16:57 perintah ayahnya. Pada kita tahu bahwa 17:01 Nabi Ibrahim Alaih Salam itu tidak 17:03 selalu bersama dengan ibunda Hajar dan 17:06 Nabi Ismail. Ya, jadi tidak juga harus 17:09 artinya seorang ayah itu mendampingi 17:12 full gitu ya. E kalau dia sibuk kerja ee 17:15 ini kan yang penting adalah tersampaikan 17:18 apa yang di ee apa yang ditanamkan oleh 17:21 suami kepada istrinya. Nah, jadi mereka 17:23 sepakat punya kesamaan. Jadi tidak 17:25 saling menjelekkan, tidak saling 17:26 memburukkan ya antara suami istri. Jadi 17:29 ketika Nabi Ibrahim tidak hadir bersama 17:31 mereka secara fisik, tapi bisa hadir 17:34 bersama mereka dalam nilai. Jadi si ibu 17:36 ini selalu ee ibunda Hajar ini selalu 17:39 mengungkapkan kembali bagaimana tugas 17:42 ayahnya, bagaimana kebaikan ayahnya. 17:45 Tidak hadir secara fisik, tapi hadir 17:47 secara maknawi. Nah, jadi tidak 17:49 menjelek-jelekan ya kalau misal tidak 17:51 saling menyalahkan. Makanya ketika Nabi 17:53 Ibrahim hadir, kita tahu ya dalam jarang 17:57 sekali Nabi Ibrahim menemui ee apa 18:00 namanya? putranya di Mekah kan jaraknya 18:02 jauh antara ee Palestina ya. Beliau 18:05 berdakwah tuh di Syam, di Palestina ya. 18:07 Ini Makkah, Makkah waktu itu kan bertemu 18:10 bertemunya tuh hanya setahun berapa 18:11 kali. Tapi nilai-nilai yang disampaikan 18:14 oleh Nabi Ibrahim yang mereka sepakat 18:17 dengan ibunda Hajar itu tersampaikan 18:19 kepada Nabi Ismail Alaih Salam. Jadi 18:21 ketika eh Nabi Ismail ini sudah sampai 18:24 umur kan datanglah Allah perintahkan ya 18:27 kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih e 18:29 Nabi Ismail itu ya itu ungkapan yang 18:31 disampaikan oleh Nabi Ibrahim itu ya 18:33 falam balag ma ya bunya inni ar manam 18:38 abahuka. 18:40 Jadi karena kebaikan, kelembutan Nabi 18:43 Ibrahim dengan e pola asuhnya, dengan 18:46 pendidikannya, dengan ee apa yang jadi 18:49 ciri khas Nabi Ibrahim itu luar biasa. 18:51 Mampu mendidik istrinya, kemudian 18:52 istrinya mampu menyampaikannya, 18:55 membimbing putranya. Ketika komunikasi 18:58 langsung antara Nabi Ibrahim kepada Nabi 19:00 Ismail itu pakai gaya bahasa yang sangat 19:02 lembut. Ya, jadi wahai anakku Baya itu 19:04 kan bentuk yang lembut ya. Aku melihat 19:06 dalam mimpi bahwa aku eh diperintahkan 19:09 untuk menyembelihmu. Fanzur taro 19:12 menurutmu gimana? Nah, ini kan pola asu 19:14 yang tidak otoriter ya. Tidak 19:15 mentang-mentang mentang-mentang ayah 19:17 ini. Jadi buaya apa istilahnya pola 19:19 asuhnya tuh diktator ya atau mungkin 19:21 kalau istilahnya zaman VOC gitu ya. Ini 19:24 bentuk ayah zaman dulu. Bagaimana luar 19:27 biasa keteladanannya itu menghasilkan 19:30 anak yang apa yang jawabannya? Ya abati 19:32 ifal maar satajiduni insyaallah 19:36 minobirin. Jadi ini pola asuh yang 19:38 ditanamkan oleh Nabi Ibrahim kepada 19:40 ibunda Hajar. Kemudian dengan pola asuh 19:43 yang telah diajarkan itu dia didik 19:45 anaknya itu sedemikian rupa menjadi 19:47 seorang anak yang sangat berbakti yang 19:49 sangat lembut. Lakukan ya wahai ayahku 19:51 apa yang diperintahkan Allah kepada 19:53 engkau. Engkau insyaallah mendapatkan 19:54 aku sebagai orang-orang yang sabar. 19:56 Subhanallah. Jadi di sini kita lihat ya 20:00 bagaimana ee keteladanan kekompakan ya 20:03 antara Nabi Ibrahim dan ibunda Hajar ya. 20:06 Jadi Nabi Ibrahim ini telah mendidik 20:08 ibunda Hajar. Kemudian Ibunda Hajar 20:10 mendidik putranya itu dengan ketaatan 20:12 dan keimanan sejak kecil. Itu mereka 20:15 sepakat ya. Ibunda Hajar sebagai ibu itu 20:18 mendampingi putranya. itu dari apa yang 20:20 telah mereka sepakati ya dengan Nabi 20:22 Ibrahim. Kita tahu ya bagaimana ee 20:25 respon ibunda Hajar itu ketika dibawa 20:29 oleh Nabi Ibrahim ke tempat yang jauh 20:31 tidak ada penghuni, tidak ada kehidupan 20:34 gitu ya. Ibu Ibu dan Hajar kan nurut 20:36 aja. Padahal kan secara logika ya baru 20:38 dapat anak eh kemudian ditempatkan 20:41 jauh-jauh kan mestinya tuh kalau seorang 20:43 perempuan yang tidak terdidik ya itu 20:45 pasti akan komplain kenapa sih aku 20:47 ditempatkan jauh-jauh jauh dari engkau 20:49 enggak ada tempat siapapun kok tega ya 20:51 pasti begitu ya tapi ini karena me 20:54 memang luar biasa ya komunikasi mereka 20:57 itu keimanan ya itu ketika banyak nanya 20:59 kenapa ya Ibrahim kenapa Nabi Ibrahim 21:01 itu kan enggak kuat ya untuk menjawab 21:03 diam aja beliau di sinilah sensitivitas 21:05 keimanan itu yang menyebabkan ibunda 21:07 Hajar langsung menjawab, "Allahu amaroka 21:10 bi, apakah Allah yang memerintahkan 21:13 engkau untuk menempatkan kami di tempat 21:14 yang jauh ini?" Ah, Nabi Ibrahim itu 21:16 enggak jawaban cuma hanya ngakuk nam. 21:18 Nah, itu dari situlah keyakinan keimanan 21:21 ibunda Hajar itu tampak idan 21:23 laudunallah. Kalau gitu Allah pasti 21:25 enggak akan menyiakan kami. Nah, dari 21:27 ibu yang seperti ini itulah lahirlah ee 21:31 putranya yang luar biasa, Nabi Ismail 21:33 Alaih Salam yang demikian taat, santun, 21:38 kemudian ee perintah apapun siap ya. 21:41 Bahkan tumbuh dalam atmosfer tauhid dan 21:44 ketaatan yang luar biasa. Karena kedua 21:45 orang tuanya satu suara dalam iman. Ini 21:48 penting banget nih ya. Nah, jadi 21:50 sekarang kita lihat ya di zaman kita 21:53 sekarang ini anak-anak itu tidak hanya 21:55 dibentuk oleh nilai-nilai di rumah ya, 21:57 apalagi zaman sekarang banyak sekali 21:59 tantangan-tantangannya ya. Gelombang 22:01 besar pengaruh dari media sosial tuh 22:03 luar biasa lingkungan sekolah bahkan 22:05 dunia digital yang sangat bebas. Nah, 22:07 dalam situasi ini itu rumah tuh harus 22:11 jadi benteng pertahanan terakhir yang 22:13 kuat. Lah kalau di rumah bentengnya 22:15 rapuh, ayah dan ibunya tidak berdiri di 22:18 barisan yang sama. Misalnya ayahnya 22:21 keras, ibunya memanjakan, ini anak mau 22:24 jadi apa? Jika ibunya menasehati 22:26 anaknya, ayahnya membantah, membatalkan, 22:29 membela anak, anak kan bingung. Terus 22:32 anak tuh belajar dari mana? Karena 22:35 sumber tempat dia mestinya tempat ee 22:38 pendidikan yang bermuara dari ayah ibu 22:40 tuh enggak sepakat. Makanya kekompakan 22:43 ini sangat penting untuk ee mendidik 22:46 anak-anak kita ya. Jadi kalaupun 22:48 misalnya 22:49 ee dalam kasus-kasus tertentu ya ini 22:52 misalnya banyak sih ee dalam kehidupan 22:55 kita ya praktik-praktik ee misalnya 22:57 aturan yang tidak sejalan misalnya ya 23:00 anaknya minta izin pergi terus ibunya 23:03 khawatir 23:05 eh anaknya minta izin sama bapaknya, 23:08 bapaknya ngizinin ya. Jadi ayahnya 23:10 membolehkan, ibunya [berdehem] melarang. 23:12 Nah, kan anak kan mau gimana tuh coba 23:14 ya. Nah, ini kan akhirnya anak ini akan 23:16 mencari ee izin yang longgar, yang 23:19 paling longgar. Pasti dia papa ngomong 23:20 ke ayahnya, enggak mau dekat sama 23:22 ibunya. Jadi anak ini belajar ee bisa 23:25 mengatur orang tua gitu ya. Jadi karena 23:28 dia memanfaatkan ketidakuran, 23:30 ketidakompakan ayah dan ibu. Akhirnya 23:32 yang terjadi apa? Ayah, ibu orang tua 23:34 saling menyalahkan ya kan. Jadi anaknya 23:36 jadi bingung gitu ya. saling menyalahi 23:39 enggak kompak gitu ya. Ini repot nih, 23:40 bahaya banget nih yang kayak begini. Itu 23:42 satu contoh. Atau misalnya sikap 23:45 terhadap ee gadget tadi ya, ibunya 23:47 membatasi penggunaan tapi ayahnya 23:49 membelikan tablet sebagai hadiah karena 23:53 anaknya sudah belajar terus karena 23:54 apalah gitu ya. Lah itu gimana itu 23:56 akibatnya? Apa anak kehilangan batasan 23:59 kemudian aturan ibu tuh dianggap enggak 24:00 enggak penting. Anak nanti bisa ngelawan 24:03 sama ibunya. Nah, kalau anaknya sudah 24:04 kecanduan, gimana tuh nanganinnya? 24:07 Ayahnya nyalin ibunya pula enggak bisa 24:08 didik anak. Padahal yang beliin siapa 24:11 gitu ya. Rumah tangga tuh jadi enggak 24:12 aman. Nah, jadi oleh karena itu untuk 24:16 kompak di era sekarang ini ayah ibu ini 24:21 memang perlu ee sepakat ya dalam nilai 24:24 dasar ya. Jadi untuk menerapkan kepada 24:26 anak nih, ayah ibu nih harus duduk 24:28 bersama dulu sepakat ya apa yang penting 24:31 untuk dijaga ya. Misal masalah akidah, 24:33 adab, tanggung jawab. sepakat dulu kalau 24:35 ada hal-hal kayak tadi izin misalnya ya 24:37 ngomongnya ke Ibu tunggu ya ee kita ee 24:40 Ibu bicarakan dulu dengan ayah. Nah, 24:42 jangan ada anak dulu ngobrol dulu ibu 24:43 kenapa ibu enggak sepakat kenapa ayah ee 24:45 menyetujui jadi mereka ngobrol dulu 24:47 nanti dari situ baru hasilnya baru anak 24:49 itu diizinkan atau tidak diizinkan. 24:51 Diizinkan bersyarat. Nah, seperti itu 24:53 ya. Jadi kompak dulu orang tuanya ya. 24:56 Contoh lagi misalnya salat ya. Salat itu 24:59 kan adalah prioritas. Nah, kalau 25:01 keduanya itu saling mengingatkan itu 25:03 indah banget gitu ya. Tapi kalau 25:06 misalnya yang hanya ibunya yang ketat, 25:08 bapaknya cuek gitu ya, gimana anaknya ah 25:10 bapaknya enggak marah ini. Itu akan 25:12 repot sendiri. Jadi suami istri itu 25:14 harus kompak ya. Maka memang solusinya 25:16 tuh komunikasi ya. Untuk mengambil 25:18 keputusan tuh memang harus komunikasi 25:20 ya. Ee sepakatlah ya apa sih yang mau di 25:23 saling menguatkan di hadapan anak juga 25:25 ya. Misalnya tunjukkan bahwa ayah dan 25:27 ibu itu adalah satu suara. Jadi anak itu 25:29 tidak memanfaatkan ya mencari anak itu 25:32 kan pintar dia bisa kalau saya katakan 25:35 dia profesor cilik yang pandai 25:37 memanfaatkan situasi kondisi ya dia bisa 25:39 melihat mana yang menguntungkan dia ya. 25:42 Nah ini orang tuh harus ee sepakat harus 25:45 ee saling menguatkan ya. Kalau misalnya 25:48 dia merengek minta mainan mahal ibunya 25:50 nolak eh ayahnya tuh ee langsung belikan 25:53 mesti enggak begitu nanti ya ee ayah 25:55 ngomong dulu sama ibu. Jadi jangan 25:56 langsung udah kasihan minta kasih aja 25:59 lah depan anak mau ngomong begitu. Nah, 26:00 ini repot ya. Jadi kalau ayah dan ibu 26:03 tidak sepakat ya gimana nanti anaknya 26:05 besarnya ya. Jadi itu tu tuh itu ee 26:07 dampaknya ya. Nah sekarang kita ingin ee 26:10 melihat kembali ya kekompakan ya 26:13 kekompakan yang ada misalnya ee pada 26:18 Nabi Ali Imran ya ee keluarga Imron ya. 26:21 Ini menarik. 26:23 Ketika kita bicara keluarga Imron itu 26:27 surat, judul surat itu judulnya Ali 26:30 Imran. Ali Imron ya. Keluarga Imran. Ini 26:33 menarik nih. Kenapa menarik Ali Imran 26:36 ini? Karena judulnya itu ada imronnya. 26:40 Ali itu kan artinya keluarga ya, ada 26:43 imrannya. Tapi tidak ada satu ayat pun 26:46 yang berbicara tentang si Imran itu. 26:49 Jadi kalau kita bilang Ali Imran tuh 26:51 bukan bukan namanya Ali ya. Ali Imran 26:53 satu satu nama itu bukan. Ali itu 26:55 artinya keluarga. Imran itu nama baru 26:58 yang namanya Imran. Jadi kalau Ali Imran 27:00 itu keluarga Imran. Nah ini yang 27:02 menariknya judul surat keluarga Imron. 27:05 Tapi tidak satuun ayat membahas si Imron 27:07 itu. Dia itu bukan nabi tapi orang saleh 27:10 ya. Nah, kita lihat bagaimana 27:12 keberhasilan Imron sebagai ayah, sebagai 27:15 kepala keluarga itu mampu membekali 27:18 istrinya ya. Namanya Hana ya ee istri 27:21 Imron itu ya mampu membekali nilai-nilai 27:24 walaupun usianya tidak panjang. Jadi 27:26 artinya sebenarnya ya ee kehadiran ayah 27:29 itu sebenarnya tidak harus kehadiran 27:31 secara fisik sebenarnya, tapi bagaimana 27:35 kehadirannya itu mampu memberikan 27:37 membekali nilai-nilai secara maknawi. 27:40 Jadi ketika tidak hadir ayah, ibu bisa 27:43 ee meng-handle semua tapi dari 27:45 bekal-bekal yang ayah telah sampaikan. 27:48 Jadi ini kan juga termasuk kalau ee apa 27:51 hubungannya mungkin ee LDR ya yang 27:55 berjauhan itu bukan berarti kehilangan 27:57 sosok ayah. Bisa aja kehadiran ayah itu 27:59 bisa lewat ee si ibu tadi yang 28:01 menyampaikan tapi nilai nilai-nilai 28:04 tetap dari ayah. Nah, kita lihat Imran 28:05 ini misalnya bagaimana keluarga Imron 28:08 ini ee telah menyiapkan generasi dari 28:12 sebelum lahir. Jadi, mereka ini ya 28:14 artinya kehidupan ya takdir itu kan ee 28:17 kehendak Allah ya. 28:20 Istrinya Imron itu tidak memiliki suami 28:22 yang berusia panjang ya. Jadi meninggal 28:25 beliau tu ketika hamil. Nah, tapi kita 28:27 bisa hasil dari didikan ee istri Imran 28:30 ini itu dari ee nilai-nilai yang telah 28:32 ditanamkan Imran itu itu eh tercermin 28:35 dalam surat Ali Imran ayat 35 yaqob. 28:47 Nah, kita tercermin dari e perkataan doa 28:50 istri Imran. Jadi ketika istri Imran itu 28:53 berdoa, ya berkata, "Ya Rabb atau rbi 28:56 inni nazartu laka mai." Ya Rabb, aku 29:01 nazarkan ee kepadamu anak yang dalam 29:04 kandunganku ini menjadi hamba yang saleh 29:07 dan berkhidmat ya di Baitul Maqdis. Jadi 29:09 artinya dia pengin punya anak ini 29:12 menjadi anak yang berkhidmat menyembah 29:14 Allah saja. Maka terimalah nazark. 29:17 Sesungguhnya Engkaulah yang maha 29:18 mendengar lagi maha mengetahui. Artinya 29:22 ee istri Imron ini sudah memproyeksikan 29:26 bahwa dia akan melahirkan generasi 29:29 anak-anak yang memang 29:32 ee hamba-hamba Allah yang berkhidmat 29:34 kepada Allah, yang beribadah menyembah 29:37 Allah. Jadi anak-anak yang memang 29:38 menjadi anak yang ee hamba Allah yang 29:41 saleh. Jadi memang persiapan sudah ada 29:44 sejak sebelum lahir. Jadi itu dari 29:47 Imran. Makanya disebutlah Imronnya di 29:49 situ. Walaupun Imronnya enggak muncul, 29:51 yang muncul istrinya dalam Al-Qur'an 29:52 kan. itu karena memang nilai-nilai yang 29:54 telah ditanamkan oleh Imrani ketika dia 29:56 masih hidup kepada istrinya itu sebelum 29:58 lahir. Jadi, keluarga ini mempersiapkan 30:01 anaknya sejak sebelum lahir. Jadi, bukan 30:03 hanya fisik yang dipersiapkan, tapi visi 30:06 pendidikan yang kuat ya. bagaimana 30:08 doanya ee kepada Allah. Ini kan 30:11 mencerminkan bagaimana ee suaminya dulu 30:15 memberikan ee nilai-nilai ya, menanamkan 30:18 nilai-nilai kepada istrinya yang terus 30:19 istrinya lanjutkan itu. Jadi doa ibu 30:22 adalah cermin visi ayah ya. Walaupun 30:26 dalam ayatnya hanya istri Imran yang 30:28 disebut tapi kan 30:32 ingat loh judul suratnya Ali Imran, 30:34 keluarga Imran. Jadi dalam konteks ini 30:37 ya bagaimana ee doa istri ini cermin 30:40 dari kehendak bersama dalam rumah tangga 30:42 ini, kehendak ee suaminya dan istrinya. 30:45 Nah, suami ini suami istrinya pasti dong 30:47 saling memahami keinginan masing-masing 30:48 sehingga istrinya itu ketika hamil itu 30:50 berdoa kepada Allah. Ini menunjukkan 30:52 bahwa ayah, ibu, orang tua yang saleh 30:55 ini mengiringi anak dengan doa, 30:59 perlindungan rohaninya, ketundukan 31:01 kepada Allah itu dibentuk sebelum 31:04 memiliki anak. Ya, jadi ini bentuk 31:07 kekompakan yang sangat luar biasa. Luar 31:10 biasa ya. Kekompakan yang hadir sebelum 31:13 anak itu lahir. Jadi sekali lagi ee 31:16 mendoakan anak itu bukan pada saat lahir 31:19 ya, setelah anak gede gitu. Pas ada 31:21 masalah kok jadi kayak gini anakku ya 31:23 baru didoakan, "Ya Allah aku mohon anak 31:25 yang saleh." Justru doa permintaan 31:29 kepada Allah itu sebelum anak itu lahir. 31:33 Nah, jadi doa itu sumber dari visi 31:36 akhirat ya. Kalau ee ibunda tadi ya, 31:38 Hana ya, istrinya Firaun ini. Jadi ini 31:41 roh roh kekompakan dalam keluarga Islam 31:43 itu dimulai sama-sama punya tujuan untuk 31:46 memproyeksikan anak ini menjadi hamba 31:49 hamba Allah yang saleh. Nah, jadi ini 31:51 tujuan akhirat ya, tujuan ee dalam ee 31:54 mendidik anak, orientasi memiliki anak. 31:56 Jadi bukan orientasi memiliki anak ee 32:00 orientasi duniawi bukan. Maka kita lihat 32:03 ya, bagaimana visi yang baik, yang luar 32:07 biasa dengan harapan yang mulia, dengan 32:11 kekompakan ee ayah dan ibu ini dalam 32:13 mendidik anak ini itu sudah dimulai 32:16 sejak ee apa namanya? Sebelum memiliki 32:19 anak. Bahkan kalau para pakar pendidikan 32:22 sebelum memilih bahkan ketika Nabi 32:24 mengatakan takyarikum, 32:27 pilihlah tempat engkau meletakkan 32:29 sperma. Jadi artinya dalam memilih 32:30 pasangan hidup pun 32:33 itu sudah ee punya proyeksi ini mau 32:36 dibawa ke mana rumah tangga ini. Jadi 32:37 dalam menikah itu bukan memilih calon 32:40 istri atau calon suami, tapi memilih 32:42 calon ibu atau calon ayah. Nah, ini ee 32:45 makanya dilihatlah kekompakan tersebut 32:47 ya. Ini kompak banget ya. Masyaallah ya. 32:50 Antara ee 32:52 kalau kita bilang sudah meninggal 32:53 bapaknya ya, Imron dengan ibunya. Maka 32:56 sejak itu bisa dilihat ya. Jadi sekali 32:58 lagi, kekompakan ini merupakan e kata 33:03 kunci untuk bisa mengarahkan dan 33:05 mendidik putra-putri kita. Jangan pernah 33:08 ada dualisme dalam pendidikan ya. Ini 33:11 kalau kita lihat roh semangat kompak itu 33:13 ya dari keluarga Nabi Ibrahim tadi ya. 33:16 Nah, selanjutnya misalnya kekompakan ee 33:18 Nabi Zakaria ya. Kalau di dalam 33:20 Al-Qur'an kan kita mendapatkan ee ee 33:23 dari apa ayat-ayat yang menjelaskan 33:26 tentang Nabi Zakaria itu kan yang sudah 33:28 tua baru punya anak, keluarga Nabi 33:30 Zakaria itu ya. Jadi keluarga Nabi 33:32 Zakaria ini potret keluarga yang kompak 33:35 dalam harapan, sabar dalam penantian, 33:39 istikamah dalam doa. Jadi pengin punya 33:42 anak tapi mereka sabar, kompak gitu ya 33:44 berdoa meskipun usianya sudah tua, 33:47 istrinya sudah tua gitu ya istilahnya. 33:49 mungkin sudah menepos gitu ya. Kalau 33:51 dalam Al-Qur'an disbutkan kondisi mandul 33:53 ya. Kemudian Nabi Zakaria tetap mohon 33:56 kepada Allah ya keturunan yang saleh ya. 34:00 Di sini kan enggak disebutkan dia beliau 34:02 tuh nikah lagi ya. Masyaallah. Enggak 34:04 ini maksudnya dalam satu keluarga lah 34:05 ya. Terus berdoa terus ya. Y kalau di 34:09 kita kan baru setahun 2 tahun aja enggak 34:10 punya anak. Oh cari lagi yang lain kali 34:12 bisa punya anak ya. Padahal kan dalam 34:15 merawat satu keluarga tuh tanggung 34:16 jawabnya dunia akhirat loh. Bagaimana 34:19 membawa keluarga ke surga tuh enggak 34:21 mudah gitu ya. Membangun rumah tangga 34:23 yang sakinah, mawadah, warahmah di bawah 34:26 ee rida Allah tuh enggak mudah gitu ya. 34:29 Makanya Nabi Zakaria di sini terus 34:31 memohon kepada Allah ya ingin bagaimana 34:34 ee estafeta dakwah ini berlanjut ya agar 34:36 bisa menjaga warisan tauhid ini ya. 34:38 Makanya dalam surat Maryam ayat 56 itu e 34:42 di situ kan disebutkan ini. 34:56 Jadi keluarga Nabi Zakaria ini udah tua 35:01 ya, mungkin dari dulu sudah pengin punya 35:02 anak ya, istrinya juga sudah tua juga 35:05 sudah menepos itu masih terus berharap. 35:08 Jadi mereka nih kompak dalam harapan ya. 35:11 Mereka sabar dalam penantian dan 35:13 istikamah dalam doa ya. Dengan ya Allah 35:15 aku khawatir kalau keluargaku ini nanti 35:18 kalau sudah meninggal tuh enggak ada 35:19 lagi yang mewarisiku. Istriku tuh ee 35:22 seorang yang mandul, yang sudah tua. 35:24 Maka di sini ee rabbi apa? Habli min 35:28 ladunka waliya. Ya Allah, aku ingin ee 35:32 dari seorang anak dari sisimu, ya Allah, 35:34 karuniakan aku anak ya Allah. Gitu. Itu 35:37 benar-benar doa pengharapan luar biasa. 35:40 Anak tuh yang akan mewariskan aku, yang 35:42 mewarisi 35:43 keluarga Yakub dan ee jadikanlah dia 35:46 yang ee ya wahai Allah yang Engkau 35:48 ridai. Jadi di sini kompak mereka kompak 35:51 dalam e berdoa berharap. Nah, jadi doa 35:55 yang penuh visi ya doanya Nabi Zakaria. 35:58 Nabi Nabi Zakaria ini tidak minta anak 36:02 untuk hiburan untuk pengisi usia senja 36:05 gitu ya. Ya Allah karuniakan aku anak 36:07 keturunan yang jadi temanku nanti di 36:08 hari tua. Enggak begitu doanya Nabi 36:10 Zakaria. Ya kalau kita kan kadang-kadang 36:13 doanya biar ada teman. Ya Allah berikan 36:16 ee keturunan. Biar ada teman, biar ada 36:18 ini, biar ada di hari tua, enggak 36:20 sendirian, enggak begitu. Tapi Nabi 36:22 Zakaria mengajari kita bahwa doa meminta 36:27 keturunan itu penuh fisik. Doa yang 36:29 syarat dengan kesadaran akan tanggung 36:32 jawab dakwahnya ya, yang mewarisi aku 36:35 dan mewarisi keluarga Yakub. Artinya 36:37 anak yang akan melanjutkan risalah, 36:39 bukan sekedar keturunan biologis saja. 36:41 Jadi artinya di sini bahwa kekompakan 36:44 dalam ee mendidik anak itu ee orang tua 36:48 itu harus menyatukan niat ya untuk apa, 36:51 kenapa, apa harapannya ketika 36:54 menginginkan anak. Jadi bukan hanya 36:56 sekedar sebagai pelanjut keturunan saja, 36:59 tapi bagaimana anak ini ya Allah 37:01 mudah-mudahan bisa membawa kami nanti ke 37:03 surga gitu ya. Jadi ini kompak ya, tidak 37:06 ada konflik di sini antara harapan dan 37:08 kenyataan. Jadi perlu ya suami istri itu 37:11 berdoa bersama-sama menyamakan visinya 37:15 misinya dalam memohon memohonkan kepada 37:18 Allah untuk generasi atau anak ee 37:22 anak yang seperti apa itu harus sama 37:24 kompak ya. Dan di sini menarik dari dua 37:27 pasang ini, Nabi Zakaria dan istrinya 37:31 itu walaupun disebut ee istrinya itu 37:34 mandul ya, aku sedangkan istriku sudah 37:36 tua, enggak bisa punya anak. Tapi tidak 37:38 ada keluhan terhadap istri, tidak ada 37:41 penolakan terhadap istri ya tidak ada 37:44 konflik antara harapan dan kenyataan. 37:46 Terus berdoa, tidak saling menyalahkan, 37:48 ya. Nah, sementara istri tidak merasa 37:51 rendah diri, tidak merasa ee hina ya, 37:54 mentang-mentang enggak bisa punya anak. 37:56 Tidak ada ee artinya beliau tidak 37:58 menyalahkan takdir, tapi mereka berdua 38:00 ini sama-sama rida, sama-sama ikhlas, 38:03 sama-sama berharap, sama-sama bersabar. 38:06 Nah, oleh karena itu ee kita lihat ya 38:08 bagaimana kekompakan suami istri ini 38:10 dalam mengharapkan anak itu akhirnya 38:13 dalam surat Al-Anbiya ayat 90 tuh ya 38:15 fastajabna lahu wahabna lahu Yahya gitu 38:18 ya. Kami kabulkan doanya dan kami kami 38:21 anugerahkan kepada mereka itu ee kami 38:25 anugerahkan 38:27 sebentar kami anugerahkan kepada mereka 38:31 itu ee Yahya ya. 38:33 Di situ disebutkan inahumir 38:40 ya. Jadi eh kami kabulkan doanya dan 38:44 kami anugerahkan kepadanya Yahya dan 38:47 kami jadikan istrinya bisa hamil ya. 38:50 Inahir 38:53 mereka itu jadi pakai kalimat innahum. 38:56 Jadi ketika suami istri ini sudah ee apa 39:00 memiliki anak mereka jadinya kan. Jadi 39:02 mereka itu kompak yusariuna filhairat 39:05 saling berlomba-lomba bersegera kepada 39:07 kebaikan. Jadi artinya ini buah dari 39:10 keharmonisan 39:11 antara 39:13 apa namanya ee suami istri dan 39:17 mendapatkan anak. Kompak ya kekompakan 39:19 suami istri ini timbullah keselarasan 39:21 ya. Eh mereka tuh jadi yusunairusuna. 39:30 Jadi buah dari kekompakan dan istikamah 39:33 ini mereka bersegera dalam mengerjakan 39:35 kebaikan. Ini ee buah ya. Jadi memang 39:38 kalau orang tua sudah memberikan contoh 39:40 yang terbaik pasti anak ngikuti. Jadi 39:42 pasangan suami istri ini mampu ee 39:45 menjadikan apa namanya? rumah tangganya 39:47 itu mendidik anaknya sesuai dengan apa 39:50 yang telah mereka 39:52 Maaf sebentar ya. 39:54 H 39:57 ya ee jadi pasangan ini mendapat anak 40:01 jadi karena mereka sudah kompak kayak 40:02 berdua, akhirnya mereka menghasilkan 40:04 seorang anak yang luar biasa, anak yang 40:06 diridai Allah. Jadi, Nabi Zakaria itu 40:08 adalah contoh teladan bagi kita bahwa 40:11 beliau adalah seorang ayah yang ee 40:13 sangat dekat dengan Allah yang kemudian 40:15 ee bersama-sama istrinya itu yakin ya 40:19 mereka berdoa bersama-sama ee punya 40:21 tujuan ya berdoa dengan tujuan ya dengan 40:23 tujuan ingin memiliki ee generasi ya 40:26 keturunan yang ee bisa mewaris mereka. 40:28 Artinya untuk kita saat ini ee ketika 40:32 pasangan itu belum memiliki anak sabar 40:34 mintalah sama Allah. sepakat jangan 40:36 saling menyalahkan ya. Kemudian ee 40:39 banyak berdoa kepada Allah ya. Ganti 40:42 kali ya apa doa yang selama ini ya ee 40:45 yang di kan kadang-kadang suami istri 40:47 yang sudah bertahun-tahun enggak punya 40:48 anak suka doanya, "Ya Allah kenapa sih 40:50 aku enggak enggak enggak enggak bisa 40:52 punya anak? Kenapa sih jangan 40:53 kenapa-kenapa minta aja ya Allah apa 40:57 berikan ke habli gitu ya karniaku ya." 41:00 Atau misalnya anaknya susah diatur. Ya 41:02 Allah nih kenapa anak susah diatur? 41:04 banget ganti. Ya Allah lembutkan 41:05 hatinya, berikan dia hidayah gitu. Jadi 41:07 jangan mempertanyakan ya hasil ya 41:10 namanya juga ujian cobaannya anak itu 41:11 ya. Nah inilah kira-kira ee keteladanan 41:15 ya kekompakan dalam Al-Qur'an itu. Kita 41:19 lihat kekompakan tadi ya Nabi Ibrahim 41:21 Alaih Salam ya luar biasa ya. Kemudian 41:24 keluarga Imron kemudian Nabi Zakaria. 41:27 Ini contoh ya kita ambil ya ini 41:29 pelajaran buat kita. Bahkan teori-teori 41:31 parenting saat ini pun yang berkembang 41:33 juga begitu. Bagaimana anak ketika 41:36 dibesarkan oleh kedua orang tua yang 41:39 tidak akur, tentu saja pasti akan ee 41:42 menimbulkan konflik ya. Jadi prinsip 41:45 kekompakan dalam didik anak itu kan 41:47 punya visi bersama ya. Ayah, ibu, suami 41:50 istri itu harus punya satu tujuan dalam 41:52 mendidik anak menuju surga. 41:55 Apa gitu ya visinya. Kemudian komunikasi 41:58 juga harus intensif ya ee membahas 42:01 tentang anak bersama ya tidak saling 42:03 menyalahkan nih gara-gara ibunya jadi 42:05 anak kayak begini bantang gara-gara 42:06 enggak ya. Jadi harus ada keteladanan 42:09 dua sisi ya. Ibu ayah memberikan contoh 42:12 yang baik. Jadi bukan hanya instruksi ya 42:14 tidak saling menyalahkan. Kemudian 42:15 sama-sama berdoa saling mendukung. 42:17 Masyaallah ini ideal banget ya. Walaupun 42:19 kenyataan kita lihat memang kekompakan 42:21 dalam rumah tangga itu memang 42:23 kadang-kadang kompak kadang-kadang 42:24 enggak. Kadang-kadang kompaknya hanya 42:26 untuk tujuan-tujuan dunia aja ya. 42:28 Misalnya ketika liburan bersepakatlah ke 42:31 mana kita akan pergi ya. Akhirnya 42:33 semuanya masing-masing memberikan 42:34 usulan-usulan akhirnya disepakati ke 42:36 sini. Nah, itu kadang-kadang hanya untuk 42:38 urusan duniawi, tapi untuk urusan 42:40 akhirat kadang-kadang berbeda. Justru 42:41 yang terpenting ini adalah proyeksi kita 42:44 kepada keluarga kita, anak-anak kita 42:45 untuk tujuan-tujuan akhirat. sepakati 42:47 bersama ketika anak misalnya tidak 42:49 salat, kira-kira apa sanksinya ee yang 42:54 perlu disepakati bersama? Apa? Misalnya 42:57 jajannya dipotong ya, ibunya enggak 42:59 ngasih jajan eh anaknya diam-diam minta 43:01 sama bapaknya dikasih. Nah, ini kan 43:03 enggak kompak ya. Jadi anaknya 43:05 menganggap ya salat mah bisa gampanglah 43:07 gitu ya. Nah, ini perlu keharmonisan 43:09 antara ee suami istri. Jadi kompak dalam 43:12 mendidik anak itu bukan sekedar sepakat 43:14 dalam aturan rumah tangga ya, tapi 43:17 menyatukan menyatu dalam niat cinta dan 43:20 visi keimanan. Nah, keteladan Nabi 43:22 Ibrahim inilah yang kita jadikan contoh 43:25 ya, keluarga Imron, keluarga Zakaria ya. 43:28 Mudah-mudahan keluarga kita termasuk 43:30 keluarga yang saling menguatkan dalam 43:32 mendidik, saling menasehati, saling 43:34 kompak insyaallah wallahuam. Islam 43:38 Jumat. Mudah-mudahan kita semua yang 43:40 mendengarkan pada siang hari ini 43:41 mengaminkan agar kita dikaruniai 43:43 keluarga yang sakinah, mawadah, dan 43:45 warahmah dan paling penting anak-anak 43:47 yang saleh dan salehah. Iwan dan akhwat, 43:49 tadi sudah kita ikuti pemaparan ustazah 43:51 tema kita yaitu kompak mendidik anak. 43:53 Teladan dari kisah Nabi dalam Al-Qur'an 43:55 di mana kita dihimbau untuk menjaga 43:57 kekompakan dalam memberikan apa ya ee 44:01 kebijaksanaan yang sama. Jadi jangan 44:04 yang ibunya iya, bapaknya enggak. Dan 44:06 paling penting adalah mengasah 44:08 sensitivitas keimanan. Demikian pesan 44:10 Ustazah Helini Amran. Kami undang Ikhwan 44:12 Danawat untuk menyampaikan pertanyaan. 44:14 Silakan di nomor seperti biasa untuk 44:16 WhatsApp di 0811999720. 44:21 Insyaallah ustaz akan menjawab dan 44:23 membahasnya. Tapi setelah jeda nasyid 44:25 berikut ini, [musik] 44:32 [musik] 44:35 Radio Silaturahim juga Rasil TV Ikhwan 44:37 dan Akhwat saat ini menyimak fikih 44:39 wanita bersama Ustazah Helini Amran dan 44:42 sudah kita dengarkan pemaparan ustazah 44:45 dengan tema yaitu kompak pendidikan 44:49 teladan dari kisah Nabi dalam Al-Qur'an. 44:52 Kita langsung ke tanya dan jawab ataukah 44:53 masih ada yang ingin disampaikan 44:55 Ustazah? 44:56 Langsung tanya jawab aja, Mbak. 44:57 Langsung tanya jawab. Baik, izinkan saya 44:59 langsung membacakan pertanyaan pertama 45:02 ini dari Ibu Nina di Karawang, Ustazah. 45:05 Asalamualaikum warahmatullahi 45:07 wabarakatuh. 45:08 Waalaikumsalam. 45:11 Izin bertanya, Ustazah mengenai tema 45:13 pada siang hari ini. Saya ingin bertanya 45:15 tentang pola pendidikan di generasi atau 45:18 Genzi yang menurut saya cenderung lebih 45:21 responsif terhadap pembelajaran yang 45:23 interaktif, praktis, dan relevan dengan 45:26 kehidupan mereka serta kurang menyukai 45:29 metode ceramah satu arah yang 45:30 konvensional. Sehingga sekarang kami 45:32 para orang tua agak sedikit kesulitan 45:35 dalam pembelajaran terhadap mereka. 45:37 Bagaimana cara mengatasinya, Ustazah? 45:41 Jadi gini ee ini kita bis bisa melihat 45:46 ee bagaimana pola yang diajarkan oleh 45:49 Nabi Ibrahim kepada Nabi Ismail. Ya, 45:52 Genzi itu kan bukan enggak bisa satu 45:54 arah. Genzi itu kan enggak bisa nerima 45:56 kamu harus kalau tidak awas kan enggak 45:57 bisa gitu kan. 45:58 Heeh. 45:59 Gen ee karena banyak ee mereka tuh sudah 46:02 luas ya pemahamannya mengenai kondisi 46:04 sekarang. Jadi ajak diskusi. Jadi 46:06 artinya pertama itu mulai dari hati 46:08 dulu. 46:09 dari hati. [mendengus] Kalau kita lihat 46:11 Nabi Ibrahim itu kan panggilannya aja 46:14 tuh sudah mencerminkan hubungan mereka 46:16 yang baik. Ya, bunayya gitu ya. Itu kan 46:19 bentuk kata-kata yang masyaallah itu 46:21 yang luar biasa ya. Ya enggak bukan 46:23 sekedar ya ibni ya waladi gitu kan ya 46:26 bun. Itu kan mulai dari hati. Artinya di 46:28 sini hubungan dulu yang baik ya dengan 46:32 apa namanya dengan anak kita ini yang 46:34 gensif ini. E dari hubungan tu kan 46:37 muncul [berdehem] kedekatan. 46:39 Kalau sudah diraih hatinya kemudian ee 46:42 libatkan mereka misalnya enggak hanya 46:44 disuruh-suruh diajak berpikir 46:46 sebagaimana Nabi Ibrahim tadi fanzurar. 46:49 Jadi pertama ungkapkan dulu ini mau 46:52 begini nih mau seperti ini. Ini karena 46:54 ini jadi kitanya menjelaskan ini begini 46:57 ini begini. Jadi bukan dalam ee apa 47:00 namanya dalam bentuk harus ini ada 47:03 aturan pokoknya kamu begini. Jadi bukan 47:06 bukan amr ya, bukan perintah, tapi 47:08 mengajak mereka berpikir nih sudah 47:11 begini nih begini. Fanzur maza taro. 47:13 Menurut kamu gimana? Jadi libatkan 47:14 mereka ya. Jangan hanya nyuru-nyuruh, 47:17 jangan hanya apa ya ajak [berdehem] 47:19 dialog ya kan. Kasih dia ruang berpikir, 47:22 kasih dia ee kesempatan ajak diskusi 47:25 gitu ya. mengangkap dia. Apalagi kalau 47:27 polanya Ali bin Abi Thalib ya, membagi 47:30 tiga fase untuk anak itu 0 sampai 7 47:34 tahun itu ee disebut dengan yulaibuhum 47:38 ya. Ajak mereka bermain. Tapi di situ 47:40 ada nilai-nilai yang ditanamkan. 47:42 Diajarkan salat tapi bukan pemaksaan 47:43 gitu ya. Yulaibun bermain tapi mereka 47:46 enggak merasa terpaksa tapi mereka bisa 47:48 diarahkan ya namanya ee belajar sambil 47:50 bermain gitu ya. Kemudian 7 sampai 14 47:53 itu yadibuhum baru di situ menanamkan 47:55 nilai-nilai apa namanya adab ya. Nah, 47:58 setelah 14 tahun ke atas mungkin Genzi 48:00 itu kan istilahnya mungkin sekitar 14 48:02 tahun ke atas ya itu eh yusahibuhum ajak 48:06 sebagai sahabat. Nah, jadi artinya ee 48:09 beri ruang dia untuk memberikan ee 48:11 pandangan-pandangan dengan batasan adab 48:13 sebagaimana tadi Nabi ee Ismail alaih 48:16 salam ya. Jadi sebenarnya membangun 48:19 hubungan dengan anak ya sebelum menegur 48:22 mereka itu sebenarnya memang dibutuhkan 48:24 kesabaran orang tua ya. Orang tualah 48:27 yang memang harus sabar. Saya umpamakan 48:30 misalnya orang tua tuh kayak petani anak 48:33 itu seperti bibit pohon yang bisa 48:36 membentuk ee apa yang bisa mengatur ee 48:40 bibit itu kan orang tua. Bagaimana 48:42 supaya bibit pohon ini tumbuh subur kan 48:45 diarahkan ya kan. yang berubah kan harus 48:48 tahu ilmunya itu kan orang tua kan. Nah, 48:52 oleh karena itu memang tidak mudah ya 48:54 mendidik anak apa Genzi itu ya. Apalagi 48:56 orang tua yang sudah baby boomers yang 48:58 udah udah karatan ya udah udah sulit 49:01 berubah paling tidak itu dia egonya itu 49:04 apa dari orang tua terus diturunkan gitu 49:07 ya. Nah, dari hal ini tentu membimbing 49:09 ini kan tidak bisa sendiri harus ada 49:12 bersama Allah dengan doa ya. Jadi ini ee 49:15 banyak-banyak sabar lapang dada deh. 49:17 Apalagi dengan menghadapi Genzi ini ya 49:19 benar-benar ya kesabaran yang tanpa 49:22 batas ya diiringi doa tentu perlu 49:24 belajar juga kitanya dan ilmu pendidikan 49:27 anak itu kan buas ya. Minimal paling 49:29 tidak yang harus kita miliki itu 49:32 keteladanan. Itu aja dulu pertama ya 49:34 sebelumnya yang lain lain juga ada doa 49:36 dan segala macam ya minimal teladan. 49:38 Ketika anak itu tidak menemukan 49:40 keteladanan pada orang tuanya, sulit 49:43 kita mengarahkan anak itu. 49:45 Ya, ombok maka enggak enggak akan 49:47 dianggaplah itu ya. Jadi menjadi teladan 49:49 untuk anak itu suatu hal yang sangat 49:50 penting walaupun tidak hanya 49:51 satu-satunya yang lain juga ya, doa ilmu 49:54 terus ya. Jadi seperti itu ya Bu ya. 49:56 Kita tidak putus-putusnya terus belajar 49:59 belajar bagaimana ee mengarahkan anak 50:03 ini. Karena ilmu pendidikan anak itu 50:05 terus berkembang. Yang enggak berkembang 50:07 tuh ilmu kita. kita tuh hanya punya 50:09 modal ee pola asuh pendidikan dari orang 50:12 tua kita zaman bahula gitu ya, enggak 50:14 pas lagi untuk diterapkan saat ini. 50:17 Makanya kan ee Ali bin Abi Thalib ya dan 50:20 Umar juga pernah mengatakan didiklah 50:21 anakmu di zaman yang bukan zamanmu lagi. 50:24 Jadi kita harus belajar juga nih zaman 50:25 apa, bagaimana menghadapinya. Kita 50:27 belajar lagi ya belajar kita untuk bisa 50:29 ee menguasa, mendidik ya anak-anak kita 50:32 yang di Gen ini barangkali itu ya Bu ya. 50:34 kita, saya juga sampai sekarang ini juga 50:36 masih belajar nih. Ternyata kita banyak 50:38 kelirunya selama ini ya. Kita 50:41 kadang-kadang membanding-bandingkan 50:42 zaman kita dengan zaman sekarang yang 50:44 enggak zamannya lagi ya. Nah, kalau 50:46 enggak enggak punya ilmu kemudian kita 50:48 enggak mau belajar ilmu, kemudian 50:50 kata-kata yang dulu masih sekarang sama 50:53 aja kata-katanya ya apa nasihat kita 50:56 atau mungkin omelan kita sama anak sama 50:58 aja padahal itu keliru 50:59 membanding-bandingkan zaman. Misalnya 51:01 dulu ibu dinasihatin sama nenek, enggak 51:03 kayak kamu tuh gitu ya. Sekarang kamu ya 51:06 beda zamannya. Nah, itu dia ya. Jadi ee 51:09 untuk Genzi ini memang kita butuh ilmu 51:11 ya Bu ya. Wallahuam bawab. 51:14 He. Ilmu dan ekstra sabar itu saja. 51:16 Iya. [tertawa] Iya. Keteladanan juga 51:18 penting. Keteladanan. 51:19 Betul. Keteladanan. Cari keteladanan 51:20 yang tepat. Saya akan beralih ke Bekasi. 51:24 Di sini ada Bapak Iqbal Ustazah. 51:25 Asalamualaikum warahmatullahi 51:27 wabarakatuh. Waalaikumsalam 51:28 warahmatullahi wabarakatuh. 51:30 Bagaimana, Ustazah cara Nabi Ibrahim 51:33 Alaih Salam menanamkan keimanan kepada 51:35 anak-anaknya khususnya Nabi Ismail dalam 51:38 situasi yang penuh ujian? 51:41 Kalau cara itu memang tidak disebutkan 51:44 ee secara teknis ya ee kepada kea memang 51:50 itu secara umum ya. Paling tidak ee 51:53 kalau kita melihat ee bagaimana tauhid 51:56 beliau itu bisa jadi dengan keteladanan. 52:00 Ya, ketelanan Nabi. Kita tahu kan Nabi 52:02 Ibrahim itu beliau satu-satunya manusia 52:05 yang bertauhid di masa itu ya. Ketika 52:08 menjadi anak, beliau jadi anak yang 52:10 saleh gitu ya. Memang bimbingan Allah 52:11 memang Allah memilih dari seluruh ee 52:14 hamba-hambanya itu yang terpilih, yang 52:16 terbaik ya. Nah, dipilihah Nabi Ibrahim. 52:18 Jadi artinya seorang seseorang yang 52:21 sudah punya bekal, yang sudah punya 52:23 pengalaman ketika dia mendapatkan 52:26 sesuatu dan mendidik itu akan jauh lebih 52:27 mudah ketika ketimbang orang yang tidak 52:30 punya bekal, tidak punya pengalaman 52:32 kemudian ee mengajarkan ya kan beda dong 52:35 ya. Guru yang punya pengalaman itu 52:38 mengajarkan peserta didik beda dengan 52:40 guru yang belum ada pengalaman. Makanya 52:44 Nabi Ibrahim itu adalah sosok yang luar 52:46 biasa, anak yang saleh. Dia berhat 52:48 kepada ayahnya juga dia anaknya nurut, 52:50 yang taat. Nah, ketika dia punya anak 52:51 tentu dia juga akan mampu ee mentransfer 52:55 apa yang dia alami, yang dia lakukan 52:57 kepada anaknya. Jadi kalau ditanya 53:00 bagaimana caranya 53:02 ya memang kita tidak menemukan dalam 53:04 Al-Qur'an itu secara teknis, tapi kita 53:06 bisa melihat bagaimana sosok Nabi 53:08 Ibrahim itu sendiri ya yang telah ee 53:11 beliau jalani bagaimana ketauhidannya, 53:14 kekokohannya 53:16 itu beliau tanamkan. Jadi ee kalau 53:19 teknis mang enggak diajarkan ya 53:20 teknisnya bagaimana, tapi kita bisa ee 53:22 melihat ya itu kan teknis itu kan alat 53:24 ya kayak sekarang kita ya metodologi itu 53:27 ya bagaimana mengajarkan anak ya dengan 53:29 berbagai ee teknis, cara dan itu bisa 53:31 yang penting nilainya nilainya 53:33 tersampaikan. Maka kalau kita lihat 53:35 bagaimana ee pertama dulu kan 53:38 mengarahkan istri dulu. Jadi kalau istri 53:41 sudah dapat ee dididik atau diarahkan 53:44 ya, maaf, kalau istri ee sudah sepakat 53:48 ya dengan satu kata dengan kita dalam 53:50 mendidik anak, itu akan mudah 53:51 mengajarkan anak untuk pegang dulu 53:53 istrinya. Artinya sei 53:57 sama ya ee pola asuhnya. Nah, nanti 53:59 barulah nanti kan yang mendidik Nabi 54:01 Ismail itu kan ibunda Hajar 54:04 karena kesehariannya beliau kan. Karena 54:07 ee kalau yang istilahnya tuh kalau Nabi 54:09 Ibrahim tuh apa namanya tuh secara umum 54:12 gitu ya. Tapi yang kayak guru madrasah 54:14 kan jadi anak ee ibarat ibu tuh kayak 54:17 guru tiap hari ketemu ngajarin 54:19 membimbing kesabaran gitu ya. Tapi 54:21 perongkolannya artinya tadi garis besar 54:24 haluan itu dari Nabi Ibrahim. Nah, itu 54:26 nilai-nilai ketahui dan itu ditanamkan 54:28 ya kepada lihat aja, lihat ibunda hajar 54:30 bagaimana ketihannya, keimanannya kepada 54:34 Allah pada saat dia ditinggalkan di 54:37 tempat yang tidak ada siapapun. Ya, 54:39 ketika dia meyakini idan la yudunallah, 54:43 kalau gitu Allah enggak akan menyayakan 54:45 kami. Itu kan bentuk keimanan yang luar 54:47 biasa, keyakinan kepada Allah itu luar 54:49 biasa. Nah, dari pengalaman dan keimanan 54:53 seorang ibu ini dia bisa mengajarkan 54:55 anaknya seperti Nabi Ismail. Keimanan, 54:57 ketauhidannya itu kan dari ayahnya. Jadi 54:59 kalau dicara kalau ditanya bagaimana 55:01 cara Nabi Ibrahim mendidik anaknya 55:03 seperti itu ya itu ibunyalah ibunda 55:05 Hajarlah yang menjalankannya, 55:07 mempraktikkannya. Ya, kita lihat 55:09 bagaimana beliau tidak berputus asa ya 55:11 ketika ditinggalkan suaminya sudah 55:13 pergi, enggak ada siapapun kehabisan air 55:16 itu beliau tidak berputus asa. Beliau 55:18 letakkan Nabi Ismail kemudian beliau 55:20 mencari air dari Bukit Safa ke Bukit 55:23 Marwah. Itu zaman dulu tuh luar biasa 55:25 ya. Itu jarak antara Bukit Safa Bukit 55:27 Marwah itu tujuh keliling itu dalam 55:29 rangka apa? Dalam mencari air karena 55:32 ketidakputus asaannya terhadap rahmat 55:34 Allah. Ini kan menunjukkan masyaallah 55:36 karakter seorang ibu dan pendidik. Nah, 55:38 itu pasti akan tertularkan kepada ee 55:41 terajarkan tersampaikan kepada Nabi 55:43 Ismail alaihi salam. Jadi kalau ditanya 55:45 ya itu ibunya dulu siapa gitu ya. 55:47 Begitu. Wallahualam. 55:49 Baik. Jadi Pak Iqbal harus kompak dulu 55:52 suami dan istri baru nanti akan 55:54 turunannya bisa diaplikasikan kepada 55:56 anak-anaknya. Saya beralih ke Bogor 55:58 saja. Ada Bapak Hamdan yang bertanya. 56:00 Asalamualaikum warahmatullahi 56:01 wabarakatuh. Waalaikumsalam 56:04 warahmatullahi wabarakatuh. 56:05 Apa yang perlu kita perhatikan dalam 56:07 kehidupan sehari-hari, Ustazah, agar 56:09 anak-anak dapat melihat langsung contoh 56:12 kebaikan dalam diri kita sebagai orang 56:14 tua? 56:16 Ya. Mm yang penting adalah keteladanan 56:21 dari kita yang telah menjadi habit kita 56:24 ya. Maksudnya apa? 56:27 Pertama dari perilaku 56:29 baru ucapan. Ya, artinya perilaku kita 56:32 sudah mencerminkan apa yang kita yang 56:34 kita ingin sampaikan. Jadi, contohnya 56:36 dari perilaku kita dulu loh. Makanya 56:38 akhlak ya Rasulullah itu kan diutus 56:41 karena untuk merubah akhlak. Jadi kalau 56:43 kita sebut kepada anak ya akhlak kita 56:45 dulu. Anak itu melihat dengan perilaku 56:49 kita ya. Melihat contoh hidup ya. 56:52 Misalnya dalam keseharian ee ya di dalam 56:56 rangka pendidikan misalnya kita 56:58 mengambil makan kita baca bismillah. 57:00 gitu ya. Jadi anak itu melihat kita itu 57:04 seperti sunah yang berjalan ya. Kita 57:06 ingin ee ajarkan adab-adab dia lihat 57:08 kita sudah melakukannya. 57:11 Ya, misalnya misal contoh bagaimana anak 57:14 bisa disuruh makan sambil duduk. 57:16 Maksudnya dengan duduk kalau dilihat 57:18 ayahnya jalan-jalan lagi makan gitu ya. 57:20 Atau misalnya bagaimana anak disuruh 57:23 masuk kamar mandi kaki kiri kalau orang 57:26 tua masuk enggak enggak hitung-hitung 57:27 kaki apa gimana. Jadi semuanya dilihat 57:29 dari keteladanan itu dari dimulai dari 57:32 hal yang sehari-hari ya tertib gitu ya. 57:35 Salat misalnya kita yang terpenting kan 57:38 kepada anak ini kan yang ditanangkan 57:39 nilai-nilai tauhid, akidah apa segala 57:41 macamnya ya ibadah ya. Yaitu ketika 57:44 mendengarkan azan misalnya 57:46 itu orang tua ayah atau ibunya ya itu 57:50 kalau memang ingin anaknya juga menjadi 57:52 ahlus shah dengar azan tuh diam jawab. 57:55 Jadi artinya tidak sibuk dengan apapun 57:57 ya. Jadi itu anak ketika melihat 57:59 terusmenerus itu akan akan ter apa ya 58:02 tergambar terbayang dalam dirinya nih 58:05 ini seperti ini hanya dia dapatkan dari 58:06 orang tua. Contohnya gini deh Mbak. 58:09 Sehari-hari kita senang makanan tuh dari 58:11 mana? Ya lihat orang tua 58:14 kan kayak duren gitu ya. Kenapa kita 58:16 suka duren? Karena orang tua kita suka 58:18 duren ya enggak? 58:19 Heeh. Heeh. 58:20 Makan bawa duren. Makan duren ya 58:22 akhirnya sudah gede duren. Nah itu dia 58:23 karena kita lihat terlihat jelas. Nah, 58:25 makanya pertama keteladanan sehari-hari 58:27 itu ya ada sikap kita sehari-hari ya. 58:29 Mengamalkan sunah, sikap kita terhadap 58:32 ee kewajiban ya perintah. Dulu saya 58:35 pernah baca ulama dulu tuh ya ketika ee 58:39 anaknya apa mendengarkan azan itu 58:42 anaknya dipeluk dipeluk anaknya itu yang 58:45 masih itu ya masih ee di bawah 7 tahun 58:48 ya. terus di ee diam semua aktivitas 58:52 ditinggalkan anaknya dipeluk sambil 58:55 menjawab azan itu terus dilakukan. 58:58 Bayangkan sehari lima kali selama 59:00 bertahun-tahun itu kan sudah menjadi apa 59:03 ya ee jam biologis ya itu anak sudah 59:06 besar jadi ulama. Kenapa? Karena memang 59:08 sejak kecil tuh sudah dibentuk seperti 59:10 itu. Kemudian kata-kata yang santun ya. 59:13 Kalau anak disuruh sabar tapi orang 59:15 tuanya enggak sabar ngomongnya 59:16 bentak-bentak. Bagaimana bisa sabar? 59:19 anak disuruh lembut tapi ngomongnya 59:21 teriak-teriak gitu ya. Jadi memang luar 59:23 biasa ya keteladanan itu dimulai dari 59:25 keseharian kita ya adab-adab gitu ya. 59:28 Bahkan kalau dari kalau kita 59:30 membincangkan pendidikan anak itu sangat 59:32 besar banget ya ee pembahasan sangat 59:34 luas ya. Buku-buku ulama juga banyak 59:36 kitab-kitabnya itu bahkan luar biasa ya 59:39 tinggal penerapannya aja sebenarnya 59:41 kadang-kadang kita kan mampu 59:43 menyampaikan tapi sulit untuk 59:45 mengamalkan. Maka bismillah 59:47 mudah-mudahan kita mau merubah diri kita 59:49 ya mulai kalau mau ngerubah anak ngubah 59:51 diri dulu dan itu butuh waktu dan proses 59:53 ya. Wallahu alam ya Pak ya. Kita mulai 59:55 dari diri kit lah amalkan sunah dulu 59:57 kita jalankan duluah. Ee ibaratnya gini 1:00:00 ee kalau kita ingin 1:00:03 menegakkan Islam ya di lingkungan kita 1:00:06 atau di negeri kita, tegakkan dulu Islam 1:00:09 pada diri kita. Nah kalau sudah tegak 1:00:11 Islam diri kita, insyaallah di 1:00:12 lingkungan kita itu bisa tegak. Dimulai 1:00:14 dari diri kita. Ibda binafsik. 1:00:15 Mudah-mudahan bisa. Insyaallah. 1:00:17 Insyaallah. Amin. Baik, insyaallah 1:00:20 terjawab tadi pertanyaannya karena saya 1:00:21 akan beralih ke hamba Allah di Bekasi, 1:00:23 Ustazah. Asalamualaikum warahmatullahi 1:00:25 wabarakatuh. 1:00:27 Waalaikumsalam 1:00:27 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:00:28 wabarakatuh. Dari nomor 08224681. 1:00:31 Sekian sekian sekian. Ustazah insyaallah 1:00:34 nih kami suami istri ayah dan ibunya 1:00:36 sudah kompak. Namun saat ini kami 1:00:38 tinggal dengan orang tua dan orang tua 1:00:41 saya memiliki gaya parenting yang zaman 1:00:43 dahulu beliau terapkan. sehingga saya 1:00:45 dan suami misalnya komit tidak boleh 1:00:48 kasih permen atau membatasi sesuatu ke 1:00:50 anak-anak, tapi neneknya kasihan dan 1:00:52 memberinya diam-diam. Saya sudah ajak 1:00:55 bicara ke orang tua saya, namun tetap 1:00:57 saja diulangi. Jadi enggak kompak-kompak 1:00:59 deh, Ustazah. Bagaimana caranya, 1:01:01 Ustazah? Saya harus bicara kepada orang 1:01:04 tua saya dan harus bagaimana agar anak 1:01:07 tidak menjadi anak yang manipulatif. 1:01:10 [tertawa] 1:01:11 Ya, ini memang resiko ya artinya kalau 1:01:14 ini ya bersama dengan ee apa namanya 1:01:17 nenek kakeknya itu ya paling tidak gini 1:01:20 berbicara dengan baik-baik ya artinya 1:01:22 kadang-kadang nenek kakek itu enggak 1:01:24 tega gitu ya ee orang tuanya ngelarang 1:01:28 jangan kasih duit anaknya eh anaknya apa 1:01:30 diam-diam datangin kakeknya n minta duit 1:01:33 dia beli kayak gitu ya ya diingatkan 1:01:37 terus deh dengan ke orang tua dengan 1:01:38 cara yang baik. Kemudian sama anaknya 1:01:41 juga gitu ya ee di apa diingatkan kita 1:01:44 kan enggak bisa bagaimana udah udah 1:01:47 takdirnya gimana ya tinggal dengan orang 1:01:50 tua atau berdampingan sementara orang 1:01:52 tua yang namanya orang tua memang agak 1:01:54 ini ya ee kecuali kalau terus diingatkan 1:01:57 dengan cara baik, tidak menggurui ya 1:02:00 atau dialihkan jangan kasih permen, 1:02:01 kasih yang lain gitu penggantilah gitu 1:02:03 atau siapkan aja kasih nanti kalau minta 1:02:06 ini kasih ini gitu artinya kita mencoba 1:02:09 untuk ee mendekatkan diri kepada 1:02:13 neneknya supaya neneknya itu tidak 1:02:16 memberikan tapi menggantikan ya 1:02:18 menggantikan yang lain ajak apa lagi 1:02:20 insyaallah mudah-mudahan ee 1:02:22 mudah-mudahan neneknya bisa paham sambil 1:02:24 kita juga berdoa [berdehem] kepada Allah 1:02:26 ya Allah artinya bukakan pintu hati 1:02:30 orang tuak gitu ya ee kalaupun ee 1:02:33 pokoknya minta minta Allah itu 1:02:35 melembutkan hati orang tua dan minta 1:02:37 juga apa yang kita lakukan ni 1:02:38 mudah-mudahan sebagai bentuk bakti kita 1:02:40 kepada orang tua kita. Sekali lagi, 1:02:42 jangan pernah 1:02:44 menyakiti hati orang tua kita hanya 1:02:46 karena anak kita. Ya, itu orang tua tuh 1:02:49 sedih banget loh kalau sampai merasa 1:02:52 diatur-atur. Maksudnya ee si orang tua 1:02:55 tuh yang punya cucu ya itu kalau tidak 1:02:58 mampu kita menyampaikannya dengan cara 1:03:00 yang baik itu akan tersinggung. Ini 1:03:03 mentang-mentang punya anak ini. Ini kan 1:03:05 sayang cucu nanti bisa berantem nanti ya 1:03:07 antara cucu dengan dengan ee apa dengan 1:03:10 ee apa antar kakek nenek dengan anaknya 1:03:13 gara-gara cucu. Nah, itu kita hindari 1:03:16 ya. Kita minta kepada Allah 1:03:17 mudah-mudahan ini bentuk bakti kita ee 1:03:19 kepada orang tua kita. Dengan adanya 1:03:22 cucu ini, orang tua kita senang meminta 1:03:24 kepada Allah supaya hatinya dilembutkan 1:03:26 sesuai dengan ee pola asuh yang kita 1:03:28 inginkan. Kalaupun masih belum atau 1:03:31 sulit, kita minta kepada Allah agar 1:03:32 mudah-mudahan inilah bentuk bakti kita. 1:03:34 Dengan adanya cucu ini, hati orang tua 1:03:36 kita akan senang gitu ya. Karena hidup 1:03:38 mereka itu kan enggak akan lama ya. 1:03:40 Berapa lama sih? Ya kita kasih tahu juga 1:03:42 anak-anak kita nanti kalau sudah dewasa 1:03:44 ya. Artinya tidak semua apa yang nenek 1:03:47 kakek berikan itu terbaik untuk kamu. Ya 1:03:50 jelasin aja deh kuncinya sih hubungan 1:03:52 baik kita dengan anak sebenarnya ya. 1:03:54 Kalau kita bisa menjaga hubungan dengan 1:03:57 anak, pasti anak itu enggak akan lari ke 1:03:58 nenek kakeknya. Ini kadang-kadang ya 1:04:01 tadi ya manipulatif itu ya dia enggak 1:04:04 suka sama orang tuanya karena mungkin 1:04:05 komunikasinya tidak pas. Dia lari ke 1:04:07 nenek kakeknya, ke neneknya minta 1:04:09 perlindungan sama neneknya. Akhirnya kan 1:04:12 nenek gitu ya, ini kan anakku. Wah, biar 1:04:14 nanti ayah ibunya diomelin sama 1:04:16 neneknya. Udah gitu [mendengus] neneknya 1:04:17 ngomelin orang tuanya di depan dia lagi. 1:04:20 Senanglah cucu itu. [tertawa] Heeh. 1:04:22 Masyaallah. Heeh. Iya. dibicarakan 1:04:24 mudah-mudahan ada jalan keluar. 1:04:26 Insyaallah. 1:04:26 Insyaallah. Insyaallah. Baik. Tetap 1:04:28 semangat Ibu ya. Baik. Saya beralih ke 1:04:31 mungkin satu pertanyaan lagi Ustazah. 1:04:32 Ini dari sebentar 1:04:36 ini dari Pak Andra di pisangan namanya 1:04:39 di bawah. Asalamualaikum warahmatullahi 1:04:41 wabarakatuh ustazah. 1:04:42 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:04:44 wabarakatuh Ustazah. Ini permasalahan 1:04:47 pendidikan. Anak-anak kami memiliki 1:04:49 tingkat pendidikan yang tinggi. 1:04:51 Alhamdulillah sudah kuliah dan beberapa 1:04:55 ee sudah lulus. Dan kami adalah orang 1:04:57 tua yang hanya lulusan SMP sehingga 1:04:59 terjadi 1:05:01 ke salahpahaman dalam memahami apa yang 1:05:04 mereka inginkan juga bahasanya enggak 1:05:06 sampai. Ustazah kami paham bahwa kami 1:05:09 harus terus belajar tapi nampaknya 1:05:11 kejauhan Ustazah. Bagaimana caranya kami 1:05:14 dapat beradaptasi dengan cepat dan bisa 1:05:16 dekat dengan anak? Masyaallah. 1:05:19 Subhanallah ya. Masyaallah ya. Ee 1:05:21 artinya gini deh ee bagusnya itu memang 1:05:26 bertemu berkumpul dari hati ke hati. 1:05:28 He 1:05:29 iya. Artinya gini saya akui ya mungkin 1:05:32 di keluarga kita, saya ya atau mungkin 1:05:34 yang lainnya mungkin ee yang namanya 1:05:37 musyawarah rapat keluarga itu mungkin 1:05:40 sangat jarang kita lakukan ya. Jadi 1:05:42 artinya di sini musyawarah ini ee apa 1:05:45 ya? Family conference apa ya? Artinya 1:05:47 duduk bersama dengan keluarga, dengan 1:05:49 anak-anak ya dari hati ke hati ya. Kalau 1:05:53 Bapak tadi ee apa Bapak dan Ibu sudah 1:05:56 mencoba untuk belajar tapi kok senjang 1:05:58 ya. Nah, sekarang kita kumpul aja kumpul 1:06:01 anak-anak kita kemudian kita ee 1:06:04 sampaikan ya bahwa ee ingin menyampaikan 1:06:07 isi hati nih gitu ya. apa yang dirasakan 1:06:10 nanti ee apa kalian juga nanti 1:06:12 sampaikanlah isi hati kalian ya 1:06:13 sampaikan aja ee kok ibu bapak-bapak 1:06:16 merasakan begini begini kok jadi ngomong 1:06:19 ini tadi anak ini kok rasa sakit ya 1:06:21 kenapa ya gitu ya jadi artinya ee dari 1:06:25 hati ke hati deh insyaallah 1:06:26 mudah-mudahan ee dari hati ke hati apa 1:06:28 yang kita alami yang kita kadang-kadang 1:06:30 kan orang tua tuh tidak menyampaikan apa 1:06:32 isi hatinya kan kadang-kadang anak itu 1:06:35 karena dia ee to the point ya dia 1:06:37 menyampaikan apa isi hati hatinya. 1:06:39 Padahal mungkin apa yang disampaikan tuh 1:06:40 sangat menyakiti hati orang tua, 1:06:42 tersinggung orang tua gitu ya. Ee jadi 1:06:45 disampaikan aja ee ungkapkan apa yang 1:06:48 diinginkan orang tua. Pengin deh anak 1:06:50 tuh begini begini gini. Selama ini kok 1:06:53 merasa sedih. Kenapa? Sampaikan aja 1:06:55 kenapa ya belum nyambung apa karena 1:06:56 tingkat ee pendidikan. Saya rasa Ibu ee 1:07:02 Bapak ya bisa jadi sebenarnya ya kalau 1:07:06 kita lihat jikalah anak-anak kita ini 1:07:10 memahami, mendalami, mempelajari, 1:07:13 mengimani ayat Al-Qur'an dan sunah, 1:07:16 setinggi apapun pendidikan mereka ya 1:07:19 seapun tingkat jabatan mereka yang 1:07:22 mereka miliki, tapi ketika mereka 1:07:24 berhadapan dengan orang tua itu sudah 1:07:28 dapat dipastikan kalau mereka itu 1:07:30 memiliki tadi ya keimanan, pasti mereka 1:07:33 akan menyenangi hati orang tua. Jadi 1:07:35 artinya gini ee di satu sisi ya kita 1:07:38 bicara tadi orang tua mestinya orang tua 1:07:40 tuh belajar merubah tapi di sisi lain 1:07:41 juga kita juga membahas tentang anak ya. 1:07:44 Jadi memang ee bisa jadi 1:07:47 kesalahan-kesalahan masa lalu yang belum 1:07:49 kita jalankan ya. Ya namanya juga takdir 1:07:52 ya masa lalu mungkin pola asuh anak ini 1:07:55 sudah sudah tetap walau bagaimanapun 1:07:57 seorang anak tetap anak walaupun dia 1:07:59 punya pendidikan yang tinggi. Nah, jadi 1:08:00 dari satu sisi kita kan kalau bicara 1:08:02 dengan orang tua kan seperti inilah ya. 1:08:04 kita harus sabar ya, kita banyak 1:08:07 belajar, kita berusaha memahami kan gitu 1:08:10 ya kalau sebagai sisi orang tua. Tapi 1:08:12 dari sisi anak walau bagaimanapun anak 1:08:16 ini tingginya pendidikan, besarnya 1:08:18 jabatan, pangkat politik yang dia yang 1:08:20 dia ee miliki saat ini, itu tidak 1:08:23 mengurangi 1:08:25 ee kedudukan mereka ya. bahwa mereka itu 1:08:27 adalah sebagai seorang anak di hadapan 1:08:29 orang tuanya yang tidak boleh 1:08:30 mengeraskan suara, tidak boleh menyakiti 1:08:33 hati, tidak boleh ee nada suaranya 1:08:36 tinggi, itu enggak boleh mengatakan wala 1:08:39 takluma uf. Mengucapkan uf saja itu 1:08:43 tidak dibenarkan. Sebesar apapun ee 1:08:46 jabatan pangkat pendidikannya harus ada 1:08:48 adab dan etika itu kan ya. Walaupun 1:08:50 mereka mengatakan ya kan ini kan kita 1:08:52 demokrasi kan biasa. Kita enggak bicara 1:08:54 nilai-nilai orang lain. Kita bicara 1:08:56 Islam. 1:08:57 Islam itu sudah menetapkan, sudah 1:08:59 mengatur bagaimana anak terhadap orang 1:09:01 tuanya. Sekalipun orang tuanya kafir, 1:09:05 tapi mereka tetap yusohibhuma fid dunya 1:09:07 ma'rufah. Harus berbuat baik dengan ee 1:09:10 di dunia ini dengan mereka walaupun 1:09:11 tidak seiman apalagi orang tuanya 1:09:14 seiman. Nah, artinya di sini Allah 1:09:17 sampai ee turut campur tangan ya untuk 1:09:20 mengingatkan anak agar berbakti kepada 1:09:22 kedua orang tuanya. Itu turun tangan itu 1:09:25 Allah. Kenapa? Karena dulu anaknya 1:09:26 enggak ingat. Mana ada anak ingat ketika 1:09:30 anak masih hamil, anaknya masih bayi itu 1:09:32 digendong-gendong mana ingat anak ya. 1:09:34 Bagaimana orang tuanya tuh demikian 1:09:36 susah payahnya membimbing mereka dulu 1:09:38 lagi hamil melahirkan ya bapaknya 1:09:40 mencari nafkah TK, SD, SMP semua itu kan 1:09:43 ana enggak ingat. Makanya Allah ingatkan 1:09:45 anak wabil walidaini ihsana gitu ya. 1:09:48 Jadi ee sekali lagi yang satu sisi 1:09:52 sebagai seorang sebagai orang tua ya 1:09:54 tentu kita lapang dada sabar ya ee 1:09:58 berusaha untuk membuka komunikasi ngajak 1:10:00 anak ya kalau perlu ya minta maaf ya 1:10:02 kalau dulu mungkin ada yang keliru dalam 1:10:05 mendidik mereka tapi di sisi lain ini 1:10:07 anak nih bahaya kalau dia mereka itu 1:10:09 tidak ee merendahkan dirinya di hadapan 1:10:11 orang tua karena keberkahan hidup itu 1:10:14 itu tergantung bagaimana bakti mereka 1:10:17 kepada orang tua ya. Bahkan DP bagi anak 1:10:21 yang durhaka itu di dunia sudah dapat 1:10:23 gitu ya. Bahkan kalau kita lihat kunci 1:10:26 surga 1:10:29 ya artinya surga yang dicari oleh orang 1:10:30 beriman itu ada di telapak kaki ibu gitu 1:10:32 ya. Artinya nih ee satu sisi tidak tidak 1:10:35 masalah ya anak ter tinggi jabatan tapi 1:10:37 tetap aturan adab etika ada diatur ya 1:10:39 dalam Islam. Maka oleh karena itu ee 1:10:42 untuk tadi ya orang tua ya sudah 1:10:45 berusaha untuk mempelajari ya 1:10:46 alhamdulillah ya mudah-mudahan terus 1:10:48 belajar maka ajaklah anak itu berbicara 1:10:50 dari hati ke hati. Ajak musyawarah, ajak 1:10:52 ee berbicara ya apa yang mengganjal di 1:10:55 hati orang tu sampaikan kepada anak 1:10:57 apanya bagaimananya ya. Nanti 1:10:59 mudah-mudahan anaknya bisa ee ketika 1:11:01 mereka memahami nilai-nilai Islam tentu 1:11:03 mereka tidak akan menyakiti hati orang 1:11:05 tuanya. 1:11:06 Iya. Jadi seperti itu ya barangkali 1:11:08 seperti itu ya barangkali karena memang 1:11:10 kita sebagai orang tua memang sama-sama 1:11:12 belajar karena tantangan itu berat ya 1:11:14 saat ini ya anak-anak sudah dapat dari 1:11:16 mana apalagi sekarang yang namanya luka 1:11:18 batin-luka batin ya Mbak Olin ya. 1:11:20 Heeh betul banyak istilah-istilah 1:11:22 psikologislah 1:11:24 iya luka batinlah apalah ya. He. 1:11:27 Kalau kita kembali kepada ajaran Islam 1:11:28 sebenarnya luka batin itu ya enggak 1:11:30 perlu kita bisa sembuhkan sendiri itu ya 1:11:32 artinya ee ketika kita memegang 1:11:35 nilai-nilai dan norma ya bagaimana ya 1:11:37 namanya orang tu takdir mau bagaimana 1:11:39 lagi kan kita tidak mau mewariskan 1:11:41 kalau orang masih ter ee tersangkut 1:11:44 dengan luka batin hidupnya dia akan 1:11:46 mewariskan pola asuh yang sama nantinya 1:11:49 dari orang tuanya ya kan kita nih ya 1:11:51 kebanyakan orang tua orang tua yang 1:11:52 sekarang mendidik anak-anak yang sudah 1:11:54 ee yang mungkin sekarang sudah baby 1:11:56 boomers sekali ya atau generasi X atau 1:11:58 apa ya mungkin banyak yang luka batin 1:11:59 dulunya kan. Masyaallah ya. 1:12:03 Mudah-mudahan kita diberikan itulah 1:12:04 namanya mukalaf dalam Islam. Mukalaf itu 1:12:07 orang yang sudah ee berakal sudah balih 1:12:10 yang sudah tahu mana yang baik yang 1:12:12 benar-benar dan dia bisa mengobati 1:12:14 lukanya gitu ya. Dia tahu dia akan 1:12:17 berbuat yang tidak samanya gitu ya. Dia 1:12:19 akan terus belajar ya. Wallahu alam 1:12:22 ya. Baik. Ee pertanyaan tersebut 1:12:24 nampaknya menutup. sesi tanya dan jawab 1:12:27 kita pada siang hari ini. Dan kami 1:12:29 berterima kasih atas ee pertanya-penanya 1:12:33 yang sudah menyampaikan pertanyaannya ke 1:12:35 mesin WhatsApp berhasil. Sebelum 1:12:36 benar-benar ditutup nampaknya kami akan 1:12:39 meminta Ustazah untuk memberikan 1:12:40 kesimpulan. 1:12:42 Pendengar yang dirahmati Allah, 1:12:44 kekompakan orang tua dalam mendidik anak 1:12:46 itu bukan soal siapa yang lebih benar, 1:12:49 tapi soal siapa yang siap menundukkan 1:12:52 ego untuk bersama-sama membentuk 1:12:54 generasi surga. 1:12:56 Jika rumah menjadi satu suara, 1:12:59 insyaallah anak akan tumbuh dalam 1:13:00 keteguhan iman. Tapi bila rumah penuh 1:13:03 suara yang berbeda, tentu anak akan 1:13:05 tumbuh dalam kebingungan nilai. 1:13:08 Mudah-mudahan kita mampu meneladani 1:13:10 kekompakan bagaimana Nabi Ibrahim dan 1:13:13 keluarganya mendidik anaknya. Semoga 1:13:15 Allah selalu membimbing kita. Kekuatan 1:13:17 kita adalah doa. Semoga Allah membimbing 1:13:19 dan menuntun kita bersama-sama untuk 1:13:21 mampu membawa keluarga kita bersama-sama 1:13:24 menuju surganya. 1:13:26 Astagfirullah wakum. Asalamualaikum 1:13:29 warahmatullahi wabarakatuh. 1:13:31 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:13:33 wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil 1:13:35 alamin. Ikhwan dan akhwat, telah kita 1:13:36 ikuti bersama kajian pada siang hari ini 1:13:39 dan insyaallah dapat memantapkan kita 1:13:42 untuk melangkah menjadi muslim dan 1:13:45 muslimah yang lebih baik lagi, orang tua 1:13:47 yang lebih baik lagi, anak yang lebih 1:13:48 saleh dan salehah lagi. Insyaallah. Dan 1:13:51 Ustazah terima kasih atas waktunya, atas 1:13:53 ilmunya. Kami doakan mudah-mudahan 1:13:55 Ustazah dan keluarga diberkahi Allah, 1:13:57 kesehatan dan keberkahan dalam 1:14:00 kehidupannya. Amin. Yang bertugas hari 1:14:02 ini saya Caroline didampingi oleh Agus 1:14:05 sebagai produser. Kemudian di belakang 1:14:07 meja operator ada Ondi serta Algi. Kami 1:14:10 mohon maaf apabila ada kekurangan. 1:14:12 Mudah-mudahan tidak mengurangi 1:14:14 kekhidmatan dalam kajian siang hari ini. 1:14:16 Kami mohon pamit. Subhanaka Allahumma 1:14:19 wabihamdika ashadu alla illa anta 1:14:21 astagfiruka wa atubuik. Wabillahi taufik 1:14:24 wal hidayah. Wasalamualaikum 1:14:26 warahmatullahi wabarakatuh. 1:14:28 Waalaikumsalam warahmatullahi 1:14:30 wabarakatuh. Pamit ya, Mbak ya. 1:14:32 Terima kasih, Ustazah sampai ketemu. 1:14:34 Asalamualaikum. Waalaikumsalam 1:14:36 warahmatullahi wabarakatuh. 1:14:42 Masih cantik. H