Tausyiah Pagi: Makanan Halalan Thayyiban

(Bab 8 – Dalam Buku “Meniti Jalan ke Surga”), Oleh Ustaz Abul Hidayat Saerodji

Rasilnews — Kehidupan ini, jika kita pandang dengan mata hati dan iman, akan menampakkan begitu banyak hikmah di balik setiap peristiwa. Dari sanalah kita dapat memetik mutiara-mutiara pelajaran yang tersebar dalam berbagai keadaan dan kesempatan.

Pada pagi hari ini, kita melanjutkan kajian dari buku Meniti Jalan ke Surga, yang telah memasuki Bab 8 dengan tema: “Tidak akan jatuh miskin orang yang gemar bersedekah.”

Dalam kehidupan, terdapat sebuah kaidah sederhana namun mendalam: siapa yang menanam, dialah yang akan menuai. Apa yang kita usahakan, kita tanam, dan kita sedekahkan — itulah yang kelak akan kita petik hasilnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Pada penutup Bab 7 sebelumnya, disebutkan sebuah hadits tentang empat golongan manusia. Mari kita renungkan kembali, khususnya dua golongan pertama.

Golongan pertama adalah mereka yang Allah anugerahi harta sekaligus ilmu. Inilah kondisi yang ideal: kaya secara materi dan matang dalam pemahaman. Dengan ilmunya, ia mampu mengelola hartanya untuk mendekat kepada Allah—memperbanyak ibadah, menyambung silaturahmi, menolong sesama, dan menebar kemaslahatan. Hartanya tidak menjadikannya sombong, justru semakin mendekatkannya kepada Allah dan bermanfaat bagi banyak orang. Inilah golongan terbaik.

Golongan kedua adalah mereka yang Allah beri ilmu, namun belum diberikan kelapangan harta. Ia memahami hakikat kehidupan, mengerti cara bersyukur, dan memiliki keinginan kuat untuk berbuat kebaikan. Dalam hatinya terpatri niat tulus: “Seandainya aku memiliki harta seperti si fulan, niscaya akan aku gunakan untuk ibadah dan membantu sesama.”

Meskipun belum memiliki harta, karena ketulusan niatnya, kedudukannya disamakan dengan golongan pertama. Dari sini kita belajar bahwa niat yang baik memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah—bahkan bisa menyamai amal yang belum mampu diwujudkan.

Inilah pentingnya memiliki hati yang hidup dengan iman. Dalam Islam, kita mengenal konsep ad-din yang juga bermakna pembalasan. Setiap perbuatan pasti memiliki konsekuensi. Seorang yang beragama adalah yang meyakini adanya hari pembalasan, sehingga ia berusaha menjaga diri dari dosa dan maksiat.

Memang, tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Namun, perbedaan antara orang beriman dan yang tidak beriman terletak pada sikapnya saat berbuat dosa. Orang beriman, ketika tergelincir, segera ingat kepada Allah, menyesal, dan bertaubat. Ia tidak sengaja menentang, melainkan khilaf karena kelemahan.

Sebaliknya, orang yang tidak memiliki pegangan iman cenderung melakukan keburukan dengan sengaja. Ia menghalalkan segala cara demi memenuhi hawa nafsu dan kepentingan dunia. Ketika harta menjadi tujuan utama, ia bisa melupakan batas—halal dan haram menjadi kabur, bahkan kepedulian terhadap sesama pun hilang.

Adapun orang beriman akan senantiasa menjaga dirinya. Ia sadar bahwa setiap amal akan dibalas, sehingga ia terus menumbuhkan niat baik dan berjuang untuk istiqamah dalam kebaikan.

Kembali kepada golongan kedua, kita belajar bahwa hati yang bersih, niat yang lurus, dan keinginan untuk berbuat baik adalah cahaya iman yang sangat berharga. Walaupun belum mampu secara materi, selama hatinya hidup dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan tuntunan Nabi, maka ia termasuk orang yang mulia di sisi Allah.

Selanjutnya, golongan ketiga adalah mereka yang diberi harta, namun tidak diberi iman dan ilmu. Ia memiliki kekayaan, tetapi kehilangan arah hidup. Hartanya digunakan semaunya, mengikuti hawa nafsu.

Angan-angannya panjang, tetapi kosong dari nilai kebaikan. Ibarat fatamorgana di padang pasir—tampak indah dari kejauhan, dikejar dengan penuh harapan, namun ketika didekati, ternyata tidak ada apa-apa.

Begitulah dunia bagi orang yang tidak beriman. Ia terus mengejar kenikmatan, tetapi tidak pernah merasa puas. Hartanya dihabiskan untuk kesenangan sesaat, hal-hal yang melalaikan, dan kehidupan hedonis. Ia tidak mengendalikan harta, justru dikendalikan olehnya. Hidupnya tampak mewah, namun hakikatnya kosong—bahkan merugi di sisi Allah. Inilah golongan yang termasuk paling buruk.

Golongan keempat adalah mereka yang tidak memiliki harta dan juga tidak memiliki ilmu. Hidup dalam kebodohan, enggan belajar, dan tidak peduli terhadap kebenaran. Ia tidak memahami tujuan hidup, tidak mengenal batas halal dan haram.

Yang lebih berbahaya, ia memiliki angan-angan buruk. Ia berkata: “Seandainya aku punya harta, aku akan hidup seperti si fulan (golongan ketiga).” Ia berkhayal melakukan kemaksiatan, meskipun belum mampu melakukannya. Maka, karena niatnya yang rusak, ia disamakan dengan golongan ketiga dalam dosa.

Inilah golongan yang paling rendah derajatnya: tidak memiliki harta, tidak memiliki ilmu, dan niatnya pun buruk.

Oleh karena itu, wahai para pendengar yang dirahmati Allah, kita harus mampu memposisikan diri dengan benar. Apa pun nikmat yang Allah berikan—baik harta, ilmu, maupun kesempatan—hendaknya digunakan untuk mengangkat derajat kita di sisi-Nya.

Hakikat hidup ini adalah perjalanan. Waktu yang Allah berikan adalah kesempatan untuk mengukir amal terbaik, agar kita menjadi manusia yang berprestasi di hadapan Allah.

Bukan sekadar sukses di dunia, tetapi juga sukses di akhirat. Bukan hanya meraih gelar duniawi, tetapi meraih predikat terbaik: husnul khatimah.

Inilah yang seharusnya menjadi obsesi kita.

Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *