Kembali ke berita

Rasil News

600 Tawanan Sakit, Israel Membunuh Mereka dengan Kelalaian Medis?

Admin

Bagikan

Warga Palestina memegang poster tahanan Palestina Nasser Abu Hamid selama protes di depan kantor Komite Palang Merah Internasional, Selasa, 20 Desember 2022, di Kota Gaza, setelah dia meninggal karena kanker paru-paru di Israel. Abu Hamid adalah mantan pemimpin Brigade Martir Al Aqsa, sayap bersenjata partai Fatah Presiden Palestina Mahmoud Abbas. Dia telah menjalani tujuh hukuman seumur hidup setelah dinyatakan bersalah pada tahun 2002 karena terlibat dalam kematian tujuh orang Israel selama intifada Palestina kedua, atau pemberontakan, melawan pendudukan Israel pada awal tahun 2000-an. (AP Photo/Adel Hana)

Gaza, Rasilnews– Sebanyak 600 tawanan Palestina menderita kesengsaraan dan rasa sakit di dalam penjara pendudukan Zionis Israe tanpa perawatan kesehatan yang semestinya, yang tampaknya merupakan keputusan diam-diam Zionis untuk mengeksekusi mereka secara perlahan, melansir Pusat Informasi Palestina (Palinfo) pada Rabu (28/12/2022).

Sebanyak 74 tawanan meninggal karena kelalaian medis, yang terakhir adalah tawanan Nasser Abu Hamid, dari total 233 tawanan Palestina yang meninggal.

Tawanan Abu Hamid, dari kamp pengungsi al-Amari, mati syahid di Rumah Sakit Assaf Harofeh, sebagai akibat dari kebijakan kelalaian medis yang disengaja dilakukan oleh pihak administrasi penjara pendudukan Zionis Israel terhadap tawanan yang sakit.

Sebanyak 130 dari total 600 tawanan yang sakit menderita penyakit serius seperti kanker, jantung, gagal ginjal, diabetes dan tekanan darah.

Ada banyak kasus penyakit saraf dan psikologis. Ada pula sejumlah tawanan yang terluka menderita lumpuh, ada yang tangan atau kakinya diamputasi. Mereka semua sedang menghadapi pembantaian kesehatan yang nyata, dan mereka tidak mendapatkan perawatan kesehatan yang layak.

Masalah kesehatan tersebut semestinya dapat diobati dan dikendalikan jika perawatan medis yang semestinya segera tersedia. Akan tetapi pendudukan Zionis Israel dengan sengaja mengabaikan untuk memberikan perawatan pada mereka dalam jangka waktu yang lama.

Hal ini yang menyebabkan akumulasi kelelahan dan stres. Penetrasi penyakit ke dalam tubuh para tawanan secara signifikan, dan lama kelamaan berubah menjadi penyakit kronis, serius dan sulit diobati.

Laporan-laporan hak asasi manusia menunjukkan bahwa dalam dua tahun terakhir ini telah terjadi peningkatan secara nyata para tawanan menderita penyakit serius. Seperti kanker stadium lanjut, serangan jantung, dan lainnya.

Hal itu merupakan akibat dari kurangnya deteksi dini terhadap para tawanan, kegagalan untuk memberikan perawatan yang tepat untuk penyakit yang menimpa para tawanan pada tahap awal, dan mengabaikan nyawa mereka dengan tidak melakukan operasi, atau pemeriksaan yang diperlukan untuk mereka.

Eks tawanan (yang telah dibebaskan dari penjara Zionis Israel), Rajai al-Karaki, menegaskan bahwa kelalaian medis adalah kebijakan konsisten yang sengaja digunakan oleh otoritas pendudukan Zionis Israel terhadap para tawanan Palestina.

Dalam sebuah pernyataan kepada Palinfo, Rajai al-Karaki menambahkan bahwa kebijakan ini merupakan langkah sistematis yang dilakukan pendudukan Zionis Israel untuk membunuh tawanan secara diam-diam dan perlahan.

“Di antara kebijakan kelalaian medis terhadap para tawanan Palestina di penjara pendudukan Zionis Israel adalah bahwa mereka (pihak penjara pendudukan Zionis Israel), memberikan tawanan yang sakit hanya dengan setengah pengobatan, tinggalkan antara hidup dan mati, agar tersiksa di tembok penjara. Ini yang disebut pembunuhan dan penyiksaan secara perlahan,” ujarnya.

Dia menyatakan, pendudukan Zionis Israel terkadang melakukan tawar-menawar dengan tawanan yang sakit untuk memberikan pengobatan dengan kompensasi memberikan pengakuan, sebagai bentuk tekanan dan teror yang tak terkatakan.

Tawanan yang telah dibebaskan dari penjara pendudukan Zionis Israel ini menegaskan bahwa para tawanan yang sakit diangkut di “Bosta”, yaitu kotak tertutup yang tidak layak untuk manusia. Mereka mengangkut para tawanan yang sakit dengan tangan diborgol dan ditutup matanya, dengan melecehan mereka yang dalam kondisi sakit yang tak tergambarkan.

Dia menjelaskan bahwa para dokter dan perawat tidak lain adalah “monster manusia” yang bersembunyi dalam pakaian putih dan menerapkan kebijakan sipir Zionis secara tertulis.

Hasan al-Sayyidah, seorang peneliti di lembaga Hak Asasi Manusia Palestina “Shahid”, mengatakan bahwa kebijakan kelalaian medis merupakan pelanggaran mencolok terhadap pasal-pasal Konvensi Jenewa Ketiga dan Keempat yang menetapkan hak atas pengobatan dan perawatan medis, penyediaan obat-obatan yang sesuai untuk para tawanan yang sakit, dan pelaksanaan pemeriksaan medis berkala bagi mereka.

Hasan al-Sayyidah menyatakan bahwa hak untuk hidup dan perawatan kesehatan yang seharusnya adalah salah satu hak asasi manusia yang harus dia nikmati.

Dia menambahkan bahwa hukum hak asasi manusia internasional dan hukum humaniter internasional “menjamin hak kesehatan bagi setiap manusia tanpa pengecualian atau diskriminasi.”

Dia menyebut, Pasal (3) Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menjamin hak setiap orang untuk hidup, kebebasan dan keamanan pribadi.

“Perjanjian internasional menjamin penghapusan segala bentuk diskriminasi rasial, dan hak untuk menikmati layanan kesehatan publik dan perawatan medis untuk setiap orang tanpa diskriminasi atas dasar ras, warna kulit, atau asal kebangsaan atau etnis,” pungkasnya.

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim