Kembali ke berita

Dialog Topik Berita

Abdullah Hehamahua Soroti Pelemahan Rupiah, Ingatkan Dampaknya terhadap Kehidupan Masyarakat

Admin

Bagikan

Abdullah Hehamahua Soroti Pelemahan Rupiah, Ingatkan Dampaknya terhadap Kehidupan Masyarakat

Jakarta, Rasilnews — Mantan Penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2005–2013, Dr. Abdullah Hehamahua, menyoroti tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dinilainya berpotensi memberikan dampak luas terhadap perekonomian dan kehidupan masyarakat. Pandangan tersebut disampaikannya dalam Dialog Topik Berita Radio Silaturahim, Jumat (29/5/2026).

Abdullah mengatakan kondisi ekonomi yang saat ini dirasakan masyarakat bukanlah peristiwa yang muncul secara tiba-tiba. Menurutnya, berbagai tekanan yang terjadi merupakan akumulasi persoalan dan kebijakan yang berkembang dalam jangka panjang hingga akhirnya berdampak pada kehidupan masyarakat.

Ia menilai salah satu capaian pemerintahan Presiden Joko Widodo selama satu dekade terakhir adalah relatif terjaganya nilai tukar rupiah sehingga tidak mengalami gejolak pelemahan yang tajam seperti yang pernah terjadi pada masa krisis ekonomi akhir 1990-an.

Menurut Abdullah, pada masa transisi dari Orde Baru ke Reformasi, nilai tukar rupiah sempat mengalami pelemahan drastis hingga menembus level Rp16.000 per dolar AS. Namun, pada masa pemerintahan Presiden B.J. Habibie, nilai tukar rupiah berhasil dipulihkan ke kisaran Rp8.000 per dolar AS, bahkan sempat berada pada level Rp7.000-an dalam waktu yang relatif singkat.

“Selama masa pemerintahan Presiden Jokowi, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp14.000 per dolar AS dan relatif stabil dalam jangka waktu yang panjang. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, rupiah kembali mengalami tekanan hingga berada pada kisaran Rp16.000 sampai Rp17.000 per dolar AS, bahkan mendekati Rp18.000 per dolar AS,” ujar Abdullah.

Perkembangan tersebut, menurut dia, menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi nasional dan kondisi kehidupan masyarakat. Ia mengatakan sejumlah pengamat ekonomi memperkirakan nilai tukar rupiah masih berpotensi mengalami pelemahan apabila berbagai faktor yang menekan perekonomian nasional tidak segera diatasi.

“Ada pengamat yang memperkirakan nilai tukar rupiah dapat mencapai Rp20.000 hingga Rp25.000 per dolar AS. Tentu prediksi tersebut didasarkan pada analisis dan indikator ekonomi tertentu yang mereka amati,” katanya.

Abdullah juga mengaitkan kondisi tersebut dengan pengakuan pemerintah mengenai adanya tekanan terhadap perekonomian nasional. Menurutnya, tekanan itu telah dirasakan langsung oleh masyarakat melalui meningkatnya harga kebutuhan hidup, melemahnya daya beli, serta bertambahnya ketidakpastian ekonomi.

Selain menyoroti aspek ekonomi, Abdullah turut menyinggung kondisi politik nasional. Menurutnya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang seharusnya menjadi representasi kepentingan rakyat sering kali dipersepsikan lebih dekat dengan kepentingan partai politik dan kelompok kekuasaan dibandingkan dengan aspirasi masyarakat luas.

Dalam kesempatan itu, Abdullah juga mengkritisi pandangan yang menyebut masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan kenaikan nilai dolar AS karena tidak menggunakan mata uang tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, pandangan tersebut kurang tepat karena dampak pergerakan nilai tukar pada akhirnya akan dirasakan oleh masyarakat melalui kenaikan harga barang dan kebutuhan pokok.

“Persoalannya bukan apakah masyarakat menggunakan dolar atau tidak. Meskipun masyarakat di kampung tidak bertransaksi dengan dolar secara langsung, hampir seluruh kebutuhan hidup mereka dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya impor berbagai komoditas dan bahan baku. Dampaknya kemudian menjalar ke berbagai sektor ekonomi melalui kenaikan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.

Abdullah mencontohkan kedelai yang menjadi bahan baku utama tempe dan tahu. Karena sebagian besar kebutuhan kedelai nasional masih dipenuhi melalui impor, pelemahan nilai tukar rupiah akan meningkatkan biaya pengadaan dan berpotensi mendorong kenaikan harga kedua bahan pangan tersebut.

Selain kedelai, kenaikan biaya impor juga dapat memengaruhi harga berbagai kebutuhan lainnya, termasuk bahan pangan, barang konsumsi, serta kebutuhan rumah tangga yang memiliki keterkaitan dengan pasar internasional.

“Kita mungkin tidak membeli dolar, tetapi kita membeli barang-barang yang harganya dipengaruhi oleh dolar. Karena itu, pelemahan rupiah bukan sekadar angka di pasar keuangan, melainkan persoalan yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat,” kata Abdullah.

Ia menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kestabilan harga dan daya beli masyarakat. Oleh sebab itu, berbagai langkah yang mampu memperkuat fundamental ekonomi nasional dinilai perlu menjadi perhatian pemerintah guna mengantisipasi tekanan yang lebih besar terhadap perekonomian di masa mendatang.

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim