Kembali ke berita

Artikel

Adab Fakir Dalam Menerima Pemberian

Admin

Bagikan

Adab Fakir Dalam Menerima Pemberian

Oleh Ustaz Ahmad Djazuli Khalil, Pengasuh Program Tausyiah Sore

Rasilnews – Pada pertemuan sebelumnya, kita telah membahas tentang kefakiran dalam berbagai aspek, baik secara batin maupun dalam interaksi sosial. Kefakiran seharusnya tidak hanya terbatas pada kondisi materi, namun juga mencakup kekayaan batin dan cara berinteraksi dengan orang lain. Dalam konteks ini, menjadi fakir bukanlah hanyalah status sosial, tetapi juga mencerminkan hubungan khusus antara hamba dan Allah.

Sudah kita bahas secara mendalam pada pertemuan sebelumnya bahwa kefakiran sebenarnya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan semata-mata karena keadaan atau nasib. Kini, mari kita fokus pada aspek adab dalam menerima pemberian, terutama dalam konteks silaturahim.

Ketika kita melihat orang-orang di sekitar kita, terkadang kita menyaksikan dua individu dengan kondisi kehidupan yang serupa, namun perlakuan terhadap keduanya berbeda. Salah satunya mungkin mendapatkan penghormatan dan perhatian, sementara yang lainnya mungkin diabaikan atau bahkan dianggap rendah. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, mengapa perbedaan tersebut terjadi?

Perhatikanlah bahwa sikap terhadap pemberian dan cara kita menerimanya dapat menjadi penyebab perbedaan tersebut. Sebagai contoh, ketika seseorang memberikan sesuatu kepada kita, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kita harus memperhatikan jenis pemberian tersebut dan memastikan bahwa apa yang diberikan adalah halal. Kedua, kita juga perlu memperhatikan niat dari pemberi dan menerima pemberian dengan penuh kerelaan.

Adapun tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam menerima pemberian adalah:

  1. Pemberian itu sendiri: Kita harus memastikan bahwa pemberian yang diterima adalah halal dan sesuai dengan nilai-nilai agama. Kita tidak boleh menerima sesuatu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip keislaman.
  2. Orang yang memberi: Kita perlu memperhatikan siapa yang memberi. Penghormatan dan kepercayaan terhadap pemberi juga merupakan faktor penting. Seseorang yang memberikan dengan ikhlas dan tulus layak untuk dihormati.
  3. Tujuan dalam menerima: Menerima pemberian haruslah dilakukan dengan tujuan yang baik, seperti membangun silaturahim, menciptakan rasa kasih sayang, atau membantu orang yang memberikan. Ini akan memberikan makna yang lebih mendalam dalam menerima pemberian.

Kesadaran akan adab dalam menerima pemberian juga membawa dampak pada kehidupan sehari-hari. Misalnya, seseorang yang memberikan hadiah kepada kita seharusnya mendapat penghormatan lebih dari kita. Begitu pula, memperhatikan niat dan tujuan di balik pemberian akan membantu menciptakan hubungan yang lebih baik antar sesama.

Dengan memahami dan mengamalkan adab dalam menerima pemberian, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih sadar dan peduli terhadap kebutuhan sesama, serta memperkuat nilai-nilai silaturahim dalam kehidupan sehari-hari. Semoga adab ini dapat menjadi pedoman dalam berinteraksi sosial dengan penuh kesadaran dan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wallahu A’lam Bishawab

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim