Kembali ke berita

Palestina

Aktivis Nasrani Ini Dukung One-State Solution: Palestina Tidak Seharusnya Dibagi

Admin

Bagikan

Aktivis Nasrani Ini Dukung One-State Solution: Palestina Tidak Seharusnya Dibagi

Jakarta, Rasilnews — Diskusi mengenai solusi konflik Palestina kembali menghangat dalam seminar bertajuk “78 Tahun Nakba dan Masa Depan Palestina dalam Perspektif Hukum Internasional Pasca Board Office” yang diselenggarakan oleh Aqsa Working Group (AWG), Ahad (17/5/2026), di Aula HB Jassin, Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Perdebatan mengenai one-state solution dan two-state solution menjadi salah satu topik utama yang menarik perhatian peserta.

Sebagian pembicara memandang two-state solution sebagai jalan paling realistis untuk mengakhiri konflik berkepanjangan antara Palestina dan Israel. Namun ada pula yang meyakini bahwa one-state solution lebih adil bagi rakyat Palestina.

Salah satu peserta yang cukup menarik perhatian adalah Mangihut Hasudungan, yang akrab disapa Iyut. Ia dikenal sebagai aktivis buruh sekaligus pegiat solidaritas Palestina. Meski beragama Nasrani, Iyut aktif menyuarakan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Kepada Radio Silaturahim, ia bercerita bahwa dirinya dulu sempat berada di posisi yang mendukung two-state solution. Namun pandangannya berubah setelah banyak membaca literatur dan mengikuti perkembangan isu Palestina dari berbagai sumber.

“Saya lahir di masa sebelum media sosial. Dulu akses literatur juga tidak semudah sekarang. Tapi seiring waktu saya banyak membaca dan belajar. Saya juga cukup terpengaruh oleh tokoh-tokoh Kristen Palestina seperti George Sabra dan Naim Ateek,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan cara pandang itu tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses panjang.

“Kenapa saya akhirnya pro-Palestina? Karena literasi saya berubah dan berkembang. Saya merasa ada upaya sistematis untuk menghapus ingatan sejarah Palestina, padahal perjuangan ini justru tentang menjaga ingatan itu sendiri,” katanya.

Ia juga menilai bahwa seseorang tidak bisa memahami suatu persoalan hanya dengan menerima informasi secara sepihak.

“Kebenaran itu harus dicari. Bahkan hidayah pun perlu dijemput dengan ikhtiar. Orang tidak mungkin tiba-tiba paham kalau tidak mau membaca dan belajar,” tambahnya.

Iyut menjelaskan, pilihannya mendukung one-state solution juga dipengaruhi pendekatan teologis. Ia mengaitkannya dengan kisah Nabi Sulaiman atau Raja Salomo tentang dua perempuan yang memperebutkan seorang bayi.

Dalam kisah itu, Raja Salomo mengusulkan agar bayi tersebut dibelah dua. Perempuan yang bukan ibu kandung rela bayi itu dibagi, sedangkan ibu kandung yang sebenarnya memilih menyerahkan bayinya demi menyelamatkan nyawanya.

Menurutnya, kisah tersebut memiliki makna simbolik terhadap persoalan Palestina.

“Pemilik sejati tidak akan rela bayinya dibelah. Dalam analogi itu, Palestina adalah ‘bayi’ yang tidak seharusnya dibagi,” jelasnya.

Ia mengatakan, narasi semacam itu juga sering digunakan dalam kerangka teologi pembebasan Palestina.

“Karena itu saya melihat tanah Palestina tidak seharusnya dibagi. Tidak ada ibu kandung yang rela anaknya dipotong dua,” ujarnya.

Menurut Iyut, Palestina memiliki posisi penting dalam tradisi tiga agama Ibrahimik: Islam, Kristen, dan Yahudi. Karena itu, konflik Palestina tidak hanya berkaitan dengan politik, tetapi juga menyangkut sejarah dan cara pandang teologis.

Ia juga menyinggung adanya kelompok Yahudi anti-Zionis seperti Neturei Karta yang menolak konsep negara Zionis modern.

Dalam pandangannya, penolakan rakyat Palestina terhadap proposal pembagian wilayah pada 1947 menunjukkan konsistensi sikap mereka sejak awal.

“Sementara pihak Zionis menerima pembagian wilayah dengan pertimbangan politik tertentu. Dari situ saya melihat posisi Palestina konsisten dengan analogi kisah Nabi Sulaiman tadi,” katanya.

Meski begitu, Iyut mengaku tetap menghormati pihak-pihak yang mendukung two-state solution.

“Saya tidak mencampuri hak orang lain untuk punya pandangan berbeda. Tapi saya sendiri sekarang sudah berada pada keyakinan bahwa one-state solution lebih tepat bagi perjuangan Palestina,” pungkasnya.

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim