Cibubur, Rasilnews – Kegiatan dakwah di lembaga pemasyarakatan (lapas) dinilai menjadi salah satu sarana pembinaan spiritual yang efektif bagi warga binaan. Melalui pembelajaran Al-Qur’an, kajian keagamaan, dan pendampingan rohani, banyak narapidana mulai memperbaiki diri, menemukan ketenangan batin, serta membangun harapan baru untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa hukuman.
Pandangan tersebut disampaikan pendakwah yang aktif mengajar di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Pondok Bambu, Jakarta Timur, Yuli Triastining. Berdasarkan pengalamannya mendampingi warga binaan, ia menilai hukuman pidana tidak menghilangkan kesempatan seseorang untuk bertobat dan memperbaiki diri.
Menurut Yuli, dakwah yang dilakukan di lingkungan lapas bukan bertujuan mengungkit kesalahan masa lalu para warga binaan, melainkan memberikan motivasi agar mereka memiliki keyakinan bahwa perubahan ke arah yang lebih baik selalu terbuka.
“Dakwah di lapas bukan untuk menghakimi masa lalu mereka, tetapi memberikan semangat agar mereka yakin bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik,” ujar Yuli dalam wawancara pada program Ahlan Wasahlan Radio Rasil dan TV Rasil.
Ia menjelaskan, keterlibatannya sebagai pengajar di Lapas Perempuan Pondok Bambu bermula setelah menerima amanah dari Pendidikan Kader Mubalig Koordinasi Dakwah Indonesia (PKM KODI). Sejak saat itu, ia secara rutin membimbing warga binaan perempuan dalam mempelajari Al-Qur’an dan berbagai materi keislaman.
Setiap kegiatan pembelajaran diawali dengan tilawah Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan materi tajwid, fikih, hingga sesi diskusi dan tanya jawab. Menurutnya, antusiasme warga binaan mengikuti pembelajaran agama tergolong tinggi, bahkan banyak di antara mereka yang menunjukkan perkembangan kemampuan membaca Al-Qur’an secara signifikan karena belajar secara konsisten.
Yuli mengaku selalu terharu ketika mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibaca bersama-sama oleh para warga binaan. Baginya, semangat mereka mencerminkan keinginan kuat untuk semakin dekat kepada Allah SWT.
“Ketika mereka membaca Al-Qur’an dengan suara lantang, saya merasakan semangat yang luar biasa. Saya melihat ada kerinduan yang besar untuk belajar dan mendekat kepada Allah,” katanya.
Selama mendampingi pembelajaran di lapas, Yuli juga menemukan berbagai kisah yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah pertemuannya dengan seorang mantan direktur perusahaan yang telah menjalani hukuman selama beberapa tahun.
Perempuan tersebut, kata Yuli, mengaku baru benar-benar merasakan kedekatan dengan Allah setelah berada di balik jeruji besi. Sebelumnya, kehidupannya lebih banyak disibukkan oleh urusan dunia, sementara masa hukuman justru menjadi titik balik untuk memperbaiki ibadah dan menata kembali kehidupan spiritualnya.
“Sebelumnya hidupnya hanya dipenuhi urusan dunia. Setelah berada di lapas, ia merasa lebih tenang, lebih rajin beribadah, bahkan bersyukur karena memiliki kesempatan memperbaiki diri,” tutur Yuli.
Pengalaman tersebut, lanjutnya, menjadi bukti bahwa musibah terkadang justru membuka jalan bagi seseorang untuk memperoleh hidayah. Ia menilai setiap orang tetap memiliki peluang untuk berubah selama masih diberi kesempatan hidup.
Selain pembinaan keagamaan, warga binaan di Lapas Perempuan Pondok Bambu juga mengikuti berbagai program pembinaan lain, seperti pelatihan keterampilan, pendidikan, dan pengembangan kepribadian. Menurut Yuli, keberadaan masjid di lingkungan lapas menjadi pusat aktivitas yang memberi ruang bagi warga binaan untuk belajar sekaligus membangun ketenangan batin.
“Di sana mereka tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga belajar menerima diri, memperbaiki akhlak, dan mempersiapkan kehidupan setelah bebas,” ujarnya.
Yuli menegaskan para pendakwah yang mengajar di lapas menjalankan tugas tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Baginya, kesempatan berbagi ilmu agama kepada warga binaan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh keikhlasan.
Di akhir wawancara, Yuli mengajak masyarakat untuk lebih mensyukuri kebebasan yang dimiliki dengan memanfaatkan waktu untuk memperdalam ilmu agama dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menunggu datangnya musibah sebelum mulai mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
“Kita yang masih berada di luar penjara memiliki kesempatan lebih luas untuk belajar Al-Qur’an, beribadah, dan memperbaiki diri. Jangan menunggu datangnya musibah baru kemudian mendekat kepada Allah,” katanya.
Menurut Yuli, pengalaman berdakwah di lembaga pemasyarakatan menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Selama hayat masih dikandung badan, pintu taubat tetap terbuka bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh ingin kembali ke jalan yang benar.












