Kembali ke berita

Rasil News

Dr. Trubus Raharjo : Pengawasan, Konseling, dan Pembinaan Berkelanjutan Kunci Pencegahan LGBTQ di Pesantren

Admin

Bagikan

Dr. Trubus Raharjo : Pengawasan, Konseling, dan Pembinaan Berkelanjutan Kunci Pencegahan LGBTQ di Pesantren

Cibubur, Rasilnews – Pesantren perlu memperkuat sistem pencegahan terhadap berbagai bentuk penyimpangan perilaku melalui pengawasan lingkungan, edukasi yang berkelanjutan, layanan konseling, serta pembinaan karakter dan spiritualitas. Pendekatan preventif dinilai jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kasus terjadi.

Hal itu disampaikan Dr. Trubus Raharjo, S.Psi., M.Si., Psikolog, Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK) saat menjadi narasumber dalam Seminar “Bahaya LGBTQ” dengan materi bertajuk “Mengenal LGBTQ di Pesantren: Faktor dan Solusinya.” Seminar tersebut diselenggarakan oleh LAZSIP, Insan Peduli, DAI, STDI Imam Syafi’i, dan Rumah Fikih Indonesia, serta dimoderatori Ustadz Asadurrahim, S.M.

Dalam paparannya, Trubus menegaskan bahwa lembaga pendidikan tidak boleh terburu-buru memberikan stigma atau menghakimi santri yang datang berkonsultasi terkait persoalan psikologis maupun perilaku. Menurutnya, lingkungan pendidikan justru harus menghadirkan ruang yang aman agar peserta didik berani menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.

“Jangan kemudian ketika ada santri berkonsultasi langsung diberi label atau divonis. Yang dibutuhkan adalah pendekatan dan konseling agar mereka berani menyampaikan persoalan yang sedang dihadapi,” ujarnya.

Sebagai akademisi dan praktisi psikologi yang aktif meneliti bidang psikologi pendidikan dan pengasuhan, Trubus menjelaskan bahwa langkah preventif harus dimulai dari pembenahan sistem di lingkungan pesantren. Salah satunya melalui penataan fasilitas asrama, seperti pengaturan tempat tidur agar tidak terlalu padat, menyediakan tempat tidur secara terpisah bagi setiap santri jika memungkinkan, hingga pemasangan kamera pengawas (CCTV) di area tertentu yang tetap memperhatikan etika dan fungsi pengawasan.

Menurutnya, pengawasan lingkungan tersebut bukan hanya bertujuan mengantisipasi penyimpangan perilaku, tetapi juga mencegah berbagai bentuk kekerasan dan perundungan (bullying) yang dapat terjadi di lingkungan asrama.

Selain pengawasan fisik, Trubus menilai pembinaan karakter harus dilakukan secara berkelanjutan. Ia mendorong setiap pesantren menjadwalkan sosialisasi rutin mengenai bahaya bullying, pornografi, penyimpangan seksual, serta pentingnya adab dalam pergaulan. Edukasi tersebut, kata dia, tidak harus berlangsung lama, tetapi perlu diberikan secara konsisten sehingga menjadi bagian dari budaya lembaga.

“Selama ini banyak lembaga pendidikan hanya menyampaikan materi pembinaan pada masa orientasi santri baru. Setelah itu hampir tidak ada penguatan lagi. Padahal pembinaan karakter harus dilakukan terus-menerus,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun budaya positif melalui berbagai kegiatan yang mendorong prestasi akademik, olahraga, seni, dan aktivitas nonakademik lainnya. Pembiasaan akhlak Islami dalam kehidupan sehari-hari, menurutnya, akan membentuk karakter sekaligus memperkuat ketahanan mental para santri.

Dalam kesempatan tersebut, Trubus turut mendorong pemanfaatan instrumen screening atau tes kepribadian sebagai bagian dari upaya deteksi dini terhadap potensi persoalan perilaku. Namun, ia mengingatkan bahwa hasil screening tidak boleh dijadikan dasar untuk memberikan cap atau stigma kepada seseorang.

“Screening bukan untuk menghakimi seseorang, tetapi sebagai alat bantu agar pembinaan dapat dilakukan lebih tepat sesuai kebutuhan masing-masing santri,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa setiap pesantren idealnya memiliki sistem layanan konseling yang berjalan secara efektif. Guru maupun pembina perlu dibekali keterampilan dasar konseling agar mampu menggali akar persoalan yang dihadapi santri. Menurutnya, konseling berbeda dengan interogasi karena bertujuan memahami latar belakang masalah guna menemukan solusi yang tepat.

“Konseling bukan interogasi. Tujuannya adalah memahami latar belakang masalah sehingga solusi yang diberikan benar-benar menyentuh akar persoalan,” jelasnya.

Trubus juga menekankan bahwa pendampingan tidak hanya diberikan kepada korban, tetapi juga kepada pelaku. Menurutnya, pelaku tetap memerlukan pembinaan, penguatan spiritual, dan bimbingan psikologis agar memiliki kesempatan memperbaiki diri serta tidak mengulangi perbuatannya.

Selain itu, ia mendorong agar pesantren mempertimbangkan penerapan tes psikologi bagi calon santri baru sebagai salah satu instrumen pendukung dalam proses seleksi dan pembinaan awal. Walaupun tidak ada alat tes yang memiliki akurasi sempurna, hasil pemeriksaan psikologis dinilai dapat memberikan gambaran awal mengenai kebutuhan pembinaan masing-masing santri.

Di akhir paparannya, Trubus mengingatkan bahwa keberhasilan pencegahan penyimpangan perilaku tidak hanya bergantung pada aturan yang ketat. Menurutnya, diperlukan sinergi seluruh elemen pesantren melalui sistem pengawasan yang baik, pendidikan karakter yang berkesinambungan, penguatan nilai-nilai keagamaan, serta layanan konseling yang profesional sehingga lingkungan pendidikan menjadi tempat yang aman, sehat, dan kondusif bagi tumbuh kembang para santri.

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim