Indramayu, Rasilnews – Ulama Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus pakar Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) Nusantara, KH Muhammad Idrus Ramli, mengajak umat Islam untuk mengalihkan energi dari perdebatan menuju penguatan pendidikan agama dan dukungan terhadap pondok pesantren. Seruan tersebut disampaikan dalam rangkaian Milad Tamyiz ke-117 dan Launching Balaghah Al-Qur’an di Pondok Pesantren Bayt Tamyiz, Jalan Raya Sukaperna, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
KH Idrus Ramli dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Hujjah yang memiliki jejaring di beberapa daerah, antara lain Jember (Jawa Timur), Jambi, dan Riau. Lahir di Jember, Jawa Timur, pada 1 Juli 1975, ia menempuh pendidikan utama di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, dan dikenal luas sebagai pakar ilmu-ilmu keislaman ala Aswaja, aktif di Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU, serta penulis berbagai kitab dan buku yang membahas serta membela ajaran Ahlussunnah wal Jamaah.
Dalam tausiyahnya, KH Idrus menegaskan bahwa kondisi umat Islam Indonesia saat ini lebih membutuhkan penguatan ilmu agama daripada perdebatan berkepanjangan antar kelompok.
“Sekarang ini bukan waktunya berantem, bukan waktunya saling mengkritik. Pondok-pondok yang mengajarkan kita membaca kitab, memahami nahwu, sharaf, dan balaghah harus kita dukung,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa dirinya selama ini dikenal karena kerap terlibat dalam perdebatan dengan kelompok-kelompok yang dianggap menyimpang. Namun, menurutnya, fase tersebut telah lama berlalu.
KH Idrus menyebutkan bahwa debat terakhir yang diikutinya secara resmi berlangsung pada tahun 2014 di Medan. Setelah itu, berbagai ajakan debat tidak lagi berlanjut, bahkan sebagian pihak memilih menempuh jalan damai.
Menurutnya, keberadaan pesantren yang tetap konsisten mengajarkan kitab kuning dan ilmu-ilmu alat merupakan benteng utama dalam menjaga keilmuan dan akhlak umat Islam. Jika lembaga-lembaga pendidikan agama melemah, maka umat akan semakin jauh dari pemahaman Islam yang benar.
“Kalau umat Islam ini runtuh, maka bangsa Indonesia otomatis ikut jatuh. Karena itu, pondok-pondok kitab harus kita support dan kita dukung,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, KH Idrus juga menyoroti pentingnya memperkuat kemampuan membaca Al-Qur’an di tengah masyarakat. Ia menyebut masih banyak umat Islam yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, sehingga pesantren memiliki peran strategis dalam meningkatkan literasi keagamaan bangsa.
Pondok Pesantren Bayt Tamyiz yang menjadi lokasi penyelenggaraan acara merupakan salah satu pesantren tertua di Kabupaten Indramayu. Berdiri sejak 1909, pesantren yang beralamat di Jl. Raya Sukaperna, Desa Sukaperna, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat ini kini dipimpin oleh K.H. Zaun Fathin, S.E. (Abah Zaun).
Pesantren tersebut dikenal luas sebagai pusat pengembangan Metode Tamyiz, yaitu metode cepat menerjemahkan Al-Qur’an dan membaca kitab kuning. Selain menyelenggarakan pendidikan formal mulai dari TK, SD, SMP, hingga MA/PKPPS Ulya, Bayt Tamyiz juga memiliki berbagai program unggulan, seperti tahfidz Al-Qur’an, BTQ, speed reading, penguasaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, micro teaching, serta program takhossus.
Momentum Milad Tamyiz ke-117 juga ditandai dengan Launching Balaghah Al-Qur’an, sebagai bagian dari penguatan pembelajaran ilmu bahasa Al-Qur’an di lingkungan pesantren.
KH Idrus berharap keberadaan pesantren-pesantren yang masih setia mengajarkan kitab kuning, nahwu, sharaf, dan balaghah dapat menjadi sebab turunnya keberkahan dan perlindungan Allah bagi Indonesia.
“Mudah-mudahan dengan adanya pondok-pondok yang masih mengajarkan kitab kuning, nahwu, sharaf, dan balaghah, kita dijaga dan dilindungi oleh Allah melalui keberkahan orang-orang saleh,” tuturnya.
Peluncuran Balaghah Al-Qur’an pada momentum Milad Tamyiz ke-117 diharapkan semakin memperkuat tradisi keilmuan Al-Qur’an di lingkungan pesantren serta menjadi kontribusi nyata bagi peningkatan literasi keagamaan masyarakat Indonesia.












