Kembali ke berita

Dibawah Naungan Al-Quran

Gangguan Mental pada Remaja Kian Meningkat, dr. Adhi Wibowo: Lingkungan dan Trauma Sangat Berpengaruh

Admin

Bagikan

Gangguan Mental pada Remaja Kian Meningkat, dr. Adhi Wibowo: Lingkungan dan Trauma Sangat Berpengaruh

Indonesian National Adolescent Mental Health Survey yang menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja usia 10 hingga 17 tahun pernah mengalami gangguan mental.

Cibubur, Rasilnews – Persoalan kesehatan mental kini semakin banyak dialami masyarakat, terutama kalangan remaja. Bukan hanya stres ringan, sebagian di antaranya bahkan mengalami kecemasan berlebih hingga depresi yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Fenomena ini menjadi pembahasan dalam program Renungan Di Bawah Naungan Al-Qur’an di Radio Silaturahim bersama dr. Adhi Wibowo Nurhidayat, Sp.K.J., Subps.Ad.(K), MPH.

Dalam perbincangan tersebut, dr. Adhi menjelaskan bahwa gangguan kesehatan mental tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor yang saling berkaitan, baik dari dalam diri seseorang maupun dari lingkungan tempat ia tumbuh.

“Secara umum ada dua faktor utama, yaitu nature dan nurture,” ujar dr. Adhi.

Ia menerangkan, faktor nature berkaitan dengan bawaan atau genetik. Sekitar 30 persen gangguan jiwa dipengaruhi oleh faktor keturunan. Sementara faktor nurture berkaitan dengan pengasuhan dan lingkungan, yakni segala pengaruh eksternal yang membentuk perkembangan fisik, kepribadian, pola pikir, hingga perilaku seseorang setelah pembuahan.

Faktor tersebut mencakup pola asuh orang tua, pendidikan, lingkungan sosial, budaya, hingga berbagai pengalaman hidup yang dialami seseorang sejak kecil sampai dewasa.

Menurut dr. Adhi, kondisi selama dalam kandungan, proses persalinan, asupan gizi, pengalaman perundungan (bullying), hingga trauma masa kecil juga memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental seseorang di masa depan.

Dr. Adhi menilai, pengalaman emosional pada masa anak-anak sering kali meninggalkan luka yang tidak terlihat, namun terus terbawa hingga dewasa.

“Anak yang tumbuh dalam suasana penuh tekanan, sering dimarahi, atau menyaksikan konflik orang tua terus-menerus, lebih rentan mengalami kecemasan dan depresi ketika dewasa,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tekanan hidup remaja saat ini semakin kompleks. Tidak sedikit anak muda yang merasa terbebani oleh tuntutan akademik, ekspektasi keluarga, hingga keharusan mengikuti keinginan orang tua dalam menentukan masa depan mereka.

Kondisi tersebut, kata dia, dapat memicu stres berkepanjangan apabila tidak disertai dukungan emosional yang sehat.

Dalam kesempatan itu, dr. Adhi mengutip hasil Indonesian National Adolescent Mental Health Survey yang menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja usia 10 hingga 17 tahun pernah mengalami gangguan mental.

Beberapa gangguan yang paling sering ditemukan antara lain gangguan kecemasan, depresi, gangguan perilaku, stres pascatrauma, ADHD, hingga Autism Spectrum Disorder (ASD).

Ia menjelaskan, kecemasan sebenarnya merupakan reaksi alami tubuh saat menghadapi ancaman. Otak manusia memiliki sistem alarm bernama amigdala yang akan aktif ketika seseorang merasa terancam.

Namun, jika seseorang terus-menerus berada dalam tekanan, sistem tersebut akan bekerja berlebihan dan memicu produksi hormon stres seperti kortisol dan adrenalin secara terus-menerus.

Akibatnya, seseorang bisa mengalami jantung berdebar, sulit tidur, keringat dingin, rasa takut berlebihan, hingga depresi yang berlangsung lama.

Melalui pembahasan tersebut, dr. Adhi mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan keluarga yang hangat dan penuh empati. Menurutnya, perhatian sederhana, komunikasi yang lembut, dan rasa aman dalam keluarga dapat menjadi fondasi penting bagi kesehatan mental anak.

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim