Kembali ke berita

Rasil News

Haji dan Hajah

Admin

Bagikan

Haji dan Hajah

Rabu, 5 Dzulhijjah 1447 H/ 22 April 2026
Oleh: Abdul Kohar, Dewan Redaksi Media Group

Mulai Rabu ini, gelombang pertama jemaah haji 1447 H, atau 2026 M, terbang ke Tanah Suci. Mereka, gelombang I, memulai perjalanan suci itu dengan menginjakkan kaki di Madinah. Di kota tempat Rasulullah Muhammad berhijrah itu jemaah haji melakukan sejumlah ibadah tambahan yang penuh keutamaan, seperti berdoa di Raudah dan salat wajib 40 waktu (arba’in) di Masjid Nabawi.

Setelah itu, mereka bergerak ke Mekah untuk menjalankan serangkaian ibadah hingga puncaknya wukuf di Arafah bersama rombongan gelombang II yang langsung ke Mekah. Lalu, dari Arafah bermalam di Muzdalifah dan Mina, melontar jumrah, kembali Mekah lagi, hingga perpisahan dengan Kabah lewat tawaf wada, sebelum bertolak kembali ke Tanah Air. Begitu tiba di Tanah Air, para kerabat dan tetangga pun menyapa para jemaah dengan panggilan ‘Haji’ dan ‘Hajah’. Ada yang memanggil ‘Pak Haji’, ‘Bang Haji’, ‘Mas Haji’, ‘Kang Haji’, ‘Bu Hajah’, ‘Neng Hajah’, ‘Mbak Hajah’, dan seterusnya. Sebagian orang menganggapnya itu sebagai ‘gelar sah’ yang menandakan orang itu sudah berhaji.

Konon, pada mulanya orang pulang dari Tanah Suci membawa oleh-oleh yang sederhana, seperti air zamzam, kurma, dan cerita. Cerita itu yang paling mahal sebab ia tidak bisa dibungkus plastik, tidak pula bisa ditimbang di bandara. Di dalam cerita itulah terselip perubahan, mulai cara berjalan yang sedikit lebih hati-hati, cara berbicara yang agak ditimbang, dan cara memandang hidup yang, setidaknya, berniat lebih lurus. Lalu, masyarakat kita yang gemar memberikan nama pada perubahan menemukan satu panggilan, yaitu haji atau hajah.

Jadi, asal usul panggilan itu barangkali bermula dari rasa hormat. Orang yang telah menempuh perjalanan jauh, bukan sekadar jauh di peta, melainkan juga jauh di niat, dianggap telah mencapai sesuatu. Karena itu, ia diberi tanda. Seperti prajurit yang pulang dari perang atau pelajar yang kembali dari rantau.

Namun, seperti banyak tanda lainnya, panggilan itu pelan-pelan mengalami nasib yang sama. Panggilan itu menjadi lebih mudah diucapkan daripada dimaknai. ‘Haji’ tidak lagi selalu menunjuk pada perjalanan batin, tapi pada status sosial yang bisa disebut di depan nama. Ia menjadi semacam awalan kehormatan yang mirip gelar, tetapi tidak pernah benar-benar diakui sebagai gelar resmi.

Menariknya, panggilan itu tidak pernah diminta, tetapi sering diharapkan. Ada yang menolak dengan halus, tetapi lebih banyak yang diam-diam memastikan orang lain tidak lupa menyebutnya. Di situlah panggilan mulai berjarak dengan asal usulnya. Padahal, kalau kita tengok sejenak, perjalanan haji itu sendiri ialah latihan menanggalkan identitas. Pakaian dibuat seragam, gelar ditinggalkan, bahkan nama seakan tidak penting di tengah jutaan manusia yang bergerak dalam irama yang sama. Namun, begitu pulang, identitas itu dipungut kembali, ditambah satu lagi di depan nama.

Terjadilah sesuatu yang agak lucu, perjalanan yang mengajarkan kesederhanaan justru melahirkan penanda baru yang bisa terasa istimewa. Tentu saja tidak ada yang salah dengan panggilan itu. Apalagi, ia lahir dari niat baik, menghormati, mengenali, dan mungkin juga mendoakan. Namun, seperti semua yang baik, ia bisa berubah arah ketika terlalu sering dipakai tanpa dipikirkan.

Ada orang yang benar-benar menjadi lebih ringan setelah berhaji. Ia ringan dalam memaafkan, ringan dalam membantu, ringan dalam tidak merasa paling benar. Kepadanya, panggilan ‘Haji’ terasa kecil jika dibandingkan dengan perubahan yang ia usahakan.

Ada pula yang justru menjadi lebih berat, yakni berat dalam menjaga citra, berat dalam menjaga sebutan, dan kadang-kadang berat menerima jika dipanggil tanpa tambahan itu. Padahal, kalau mau jujur, panggilan itu hanyalah gema dari perjalanan yang sudah selesai. Ia bukan perjalanan itu sendiri.

Karena itu, mungkin asal usul ‘haji’ dan ‘hajah’ yang paling sederhana bukanlah gelar, bukan pula status, melainkan pengingat bahwa seseorang pernah berjalan jauh untuk mendekat, dan diharapkan tetap berjalan, meski tanpa disorot. Sisanya, seperti biasa, bergantung pada kita, apakah panggilan itu akan menjadi doa yang hidup, atau sekadar tambahan kata yang lewat di depan nama.

Wallahu a’lam bisshawab

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim