Kembali ke berita

Rasil News

Hariman Siregar: Korupsi Menghancurkan Negara, Demokrasi, dan Ekologi

Admin

Bagikan

Hariman Siregar: Korupsi Menghancurkan Negara, Demokrasi, dan Ekologi

Jakarta — Aktivis senior Hariman Siregar mengingatkan pentingnya kembali pada semangat Reformasi 1998 dalam menjaga demokrasi dan melawan korupsi. Hal tersebut disampaikannya dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Indemo sekaligus mengenang 52 tahun Peristiwa 15 Januari 1974 (Malari), yang digelar di Lantai 8 Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (15/1).

Acara tersebut mengusung tema “Korupsi Menghancurkan Negara, Demokrasi, dan Ekologi”, sebagai refleksi atas kondisi bangsa saat ini yang dinilai menghadapi kemunduran dalam tata kelola kekuasaan dan penegakan etika publik.

Dalam pemaparannya, Hariman menegaskan bahwa Reformasi 1998–1999 merupakan titik awal penting bagi demokrasi Indonesia, yang ditandai dengan runtuhnya rezim Orde Baru dan terpilihnya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai presiden. Namun, menurutnya, perjalanan demokrasi setelah itu masih menyisakan banyak persoalan mendasar.

“Tidak semua orang harus masuk ke politik praktis. Tapi kekuasaan tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri tanpa koreksi,” ujar Hariman. Ia menilai sejak awal, demokrasi Indonesia tetap didominasi oleh partai politik dan elite kekuasaan, sementara peran rakyat dan masyarakat sipil sering kali dipinggirkan.

Hariman menekankan bahwa demokrasi yang sehat tidak bertumpu pada figur pemimpin, melainkan pada kekuatan institusi negara. Ia mengibaratkan demokrasi seperti permainan sepak bola.

“Masalahnya bukan mengganti wasit, tapi memastikan sistem dan aturan mainnya adil,” katanya. Menurutnya, negara harus menjamin rasa aman sebagai hak yang melekat pada warga negara, bukan sebagai sesuatu yang bergantung pada kekuatan atau figur tertentu.

Lebih jauh, Hariman menyebut demokrasi bukan sekadar alat, melainkan tujuan. Karena itu, etika kekuasaan menjadi hal yang tidak bisa ditawar. “Harus ada rasa malu ketika kekuasaan digunakan secara sewenang-wenang dan zalim. Kekuasaan itu ada batasnya,” tegasnya.

Isu korupsi menjadi sorotan utama dalam pidato tersebut. Hariman mengkritik narasi antikorupsi yang kerap hanya berhenti pada slogan. Menurutnya, meski penangkapan terhadap pelaku korupsi terus terjadi, praktik korupsi justru seperti terus berulang dan menemukan bentuk baru. Kondisi ini mengingatkannya pada agenda utama Reformasi 1998, yakni pemberantasan KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), yang kini dinilai kembali menguat.

Meski demikian, Hariman optimistis masyarakat sipil belum mati. Ia menilai memori kolektif tentang Reformasi 1998 dan Peristiwa Malari 1974 masih menjadi modal penting untuk melakukan koreksi terhadap arah demokrasi saat ini. Namun, ia juga mengingatkan bahwa fragmentasi sosial dan politik menjadi tantangan besar dalam membangun gerakan bersama.

Menutup pernyataannya, Hariman menyerukan peran generasi muda untuk lebih kritis dan sadar terhadap perkembangan politik dan demokrasi belakangan ini. “Ada yang salah dalam perjalanan kita selama ini. Itu harus dipahami agar bisa diperbaiki,” pungkasnya.

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim