Kembali ke berita

Dialog Topik Berita

Nuim Khaiyath : Imbas Perang di Timur Tengah, Islamofobia Di Amerika Kembali Meningkat

Admin

Bagikan

Nuim Khaiyath : Imbas Perang di Timur Tengah, Islamofobia Di Amerika Kembali Meningkat

Cibubur, Rasilnews – Meningkatnya kasus Islamofobia di Amerika Serikat kembali menjadi sorotan menyusul peristiwa yang terjadi di San Diego. Fenomena tersebut dinilai mencerminkan masih kuatnya ketakutan dan kebencian terhadap Islam di tengah masyarakat Amerika, termasuk munculnya suara-suara anti-Muslim dari sejumlah tokoh politik dan aktivis.

Pandangan tersebut disampaikan oleh Nuim Khaiyath, seorang penyiar senior asal Medan yang kini menetap di Melbourne, Australia dalam program Dialog Topik Berita Radio Silaturahim. Nuim diketahui memiliki pengalaman panjang di dunia jurnalistik internasional, termasuk pernah bekerja di BBC Indonesian Service di London serta memimpin Radio Australia Siaran Bahasa Indonesia (RASI) sejak 1998.

Menurut Nuim, Islamofobia di Amerika Serikat masih menjadi persoalan serius yang memengaruhi kehidupan sosial dan politik umat Muslim di negara tersebut. Bahkan, kata dia, terdapat pihak-pihak yang secara terbuka menginginkan umat Islam disingkirkan dari ruang publik Amerika.

“Ketakutan dan kebencian terhadap Islam masih menjadi persoalan serius di sana. Ada tokoh politik dan aktivis yang secara terbuka menyuarakan sikap anti-Islam,” ujarnya.

Meski demikian, ia menilai sistem hukum dan peradilan di Amerika Serikat masih memiliki kemampuan untuk menjaga keseimbangan dan mencegah tindakan diskriminatif dilakukan secara sewenang-wenang.

“Amerika masih memiliki sistem hukum dan peradilan yang relatif mampu menjaga keseimbangan. Karena itu, tindakan diskriminatif terhadap umat Islam tidak bisa dilakukan secara sembarangan,” katanya.

Nuim juga mengaitkan situasi tersebut dengan dinamika politik global, khususnya hubungan antara Iran dan Amerika Serikat yang kerap memanas dalam beberapa tahun terakhir.

Ia menyinggung pernyataan Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, pada 2020 yang menyebut Iran “tidak pernah menang perang, tetapi tidak pernah kalah dalam negosiasi.” Menurutnya, pernyataan tersebut menarik, namun tidak sepenuhnya tepat jika ditinjau dari sejarah.

Dalam penjelasannya, Nuim menyebut Persia yang kini dikenal sebagai Iran pernah mencatat kemenangan dalam peperangan melawan Byzantium atau Romawi Timur. Peristiwa tersebut juga disebut dalam Al-Qur’an melalui kabar mengenai kekalahan Romawi yang kemudian kembali meraih kemenangan beberapa tahun setelahnya.

“Dalam sejarah dunia, Persia pernah memenangkan peperangan melawan Romawi Timur. Peristiwa itu bahkan disebutkan dalam Al-Qur’an dan menjadi salah satu bukti menarik mengenai kebenaran informasi sejarah yang termuat di dalamnya,” jelasnya.

Ia menilai meningkatnya Islamofobia di Barat serta memanasnya konflik geopolitik global menjadi tantangan serius bagi umat Islam dunia. Karena itu, diperlukan penguatan pemahaman lintas budaya serta penegakan hukum yang adil agar diskriminasi berbasis agama tidak semakin meluas.

Sebelumnya, Salah satu remaja yang terlibat dalam penembakan mematikan di sebuah masjid di San Diego Amerika Serikat pekan ini pernah dilaporkan kepada aparat penegak hukum karena menunjukkan perilaku mengkhawatirkan dan mengidolakan ideologi Nazi. Informasi tersebut terungkap dalam dokumen pengadilan yang juga mencatat penyitaan puluhan senjata milik keluarganya.

Menurut catatan pengadilan, petugas yang melakukan pemeriksaan kesejahteraan di rumah Caleb Vazquez menemukan indikasi bahwa remaja tersebut “terlibat dalam perilaku mencurigakan dengan mengidolakan Nazi dan pelaku penembakan massal.” Berdasarkan laporan itu, pengadilan California pada 29 Januari 2025 mengeluarkan perintah penyitaan terhadap 26 senjata api.

Penyitaan dilakukan berdasarkan undang-undang California tahun 2014 yang memungkinkan aparat mengambil senjata dari individu yang dianggap berpotensi membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Dokumen pengadilan juga menyebut ayah Caleb, Marco Vazquez, sempat menolak permintaan polisi untuk memasuki rumah dan memeriksa penyimpanan senjata. Namun, beberapa hari sebelum penyitaan dilakukan, keluarga Vazquez dilaporkan telah memindahkan seluruh senjata tersebut ke fasilitas penyimpanan yang aman secara sukarela.

Pihak berwenang mengatakan Caleb Vazquez, 18 tahun, bertemu dengan Cain Clark, 17 tahun, melalui internet. Polisi menduga keduanya mengalami proses radikalisasi secara daring, meski hingga kini belum ada penjelasan lebih rinci mengenai hubungan mereka maupun asal senjata yang digunakan dalam penembakan.

Insiden penembakan terjadi di Pusat Islam San Diego dan menewaskan tiga orang sebelum kedua pelaku akhirnya bunuh diri, menurut keterangan polisi.

Sebelum kejadian, ibu Cain Clark dilaporkan menghubungi aparat penegak hukum pada Senin setelah menyadari adanya senjata yang hilang dari rumahnya. Laporan tersebut memicu pencarian selama beberapa jam terhadap kedua remaja itu, namun upaya tersebut tidak berhasil mencegah serangan.

Penyelidikan terkait motif, proses radikalisasi, serta akses para pelaku terhadap senjata api masih terus berlangsung.

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim

Nuim Khaiyath : Imbas Perang di Timur Tengah, Islamofobia Di Amerika Kembali Meningkat · Berita · Radio Silaturahim 720 AM