Kembali ke berita

Rasil News

Islam Itu Indah: Mudah Memeluk, Teguh dalam Istiqamah

Admin

Bagikan

Islam Itu Indah: Mudah Memeluk, Teguh dalam Istiqamah

Oleh: Abdullah Hehamahua

Depok, Rasilnews — Islam dikenal sebagai agama yang indah dan penuh kemudahan. Keindahan itu tampak sejak langkah pertama seseorang memeluknya. Untuk menjadi seorang Muslim, tidak dibutuhkan biaya, tidak pula prosedur yang berbelit-belit atau birokrasi yang rumit. Seseorang cukup mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai pernyataan iman, dan sejak saat itu ia resmi menjadi bagian dari Islam.

Kalaupun terdapat seremoni sederhana di masjid atau kantor, hal tersebut hanyalah sebagai bentuk persaksian sosial terhadap keislaman seseorang. Substansinya tetap sama: keimanan lahir dari pengakuan hati dan lisan, bukan dari ritual yang memberatkan.

Kesederhanaan ini menjadi pembeda Islam dengan sejumlah agama lain. Dalam tradisi Nasrani, misalnya, seseorang yang akan dibaptis harus melalui prosesi pembenaman tubuh ke dalam air atau setidaknya pemercikan air oleh pendeta atau pastor.

Sementara itu, untuk menjadi penganut agama Yahudi, prosesnya jauh lebih kompleks. Calon harus menjalani studi intensif selama satu hingga tiga tahun, mempelajari bahasa Ibrani, memahami hukum Taurat, serta menjalani wawancara dengan dewan rabi. Bahkan, penolakan hingga tiga kali kerap dilakukan untuk menguji kesungguhan calon penganut, yang juga diwajibkan mematuhi Halakha atau hukum Yahudi.

Prosedur yang relatif panjang juga ditemui dalam proses masuk agama Hindu. Calon penganut diwajibkan membuat surat pernyataan tulus tanpa paksaan, mengajukan permohonan ke Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) atau lembaga adat, melampirkan identitas diri, menghadirkan saksi-saksi, serta mengikuti upacara Sudhi Wadani atau Pensuddhi sebagai pengukuhan resmi.

Istiqamah dalam Berislam

Keindahan Islam tidak hanya terletak pada kemudahan memeluknya, tetapi juga pada prinsip istiqamah dalam menjalani keimanan. Bahkan, seseorang yang hidup sendirian di tengah hutan, jauh dari perkampungan, ketika mendapat hidayah untuk masuk Islam, cukup mengucapkan dua kalimat syahadat:

“Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.”

Setelah mengucapkannya dan memahami maknanya, ia berkewajiban menjalani ajaran Islam secara bertahap namun konsisten. Prinsip ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Dari Sufyan bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.’ Beliau bersabda, ‘Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.’”

Sahabat yang menerima nasihat tersebut memahami bahwa iman kepada Allah harus diwujudkan secara nyata dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Inilah esensi Islam: sederhana dalam pintu masuknya, namun mendalam dalam pengamalannya.

Menjadi seorang Muslim atau Muslimah pada hakikatnya tidak rumit. Kesederhanaan inilah yang menegaskan kembali bahwa Islam adalah agama yang indah—indah dalam ajarannya, indah dalam kemudahannya, dan indah dalam tuntunan hidupnya.

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim