Cibubur, Rasilnews — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut 76,5–81,1 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada September hingga Oktober 2026. Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Sumatera bagian selatan menjadi wilayah yang paling terdampak. Sementara itu, lima wilayah di DKI Jakarta berstatus Siaga Kekeringan Meteorologis akibat minimnya curah hujan dan pengaruh El Nino.
Musim kemarau yang ditandai kekeringan dan berkurangnya ketersediaan air menjadi pengingat akan keterbatasan manusia dan besarnya kebutuhan terhadap rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kondisi tersebut mendorong umat Islam untuk tidak hanya melakukan ikhtiar secara lahiriah, tetapi juga memperkuat hubungan dengan Allah melalui doa, istighfar, dan salat istisqa. Pesan itu disampaikan Rida Gandara, S.Pd., M.Pd., Khatib Salat Istisqa yang juga Kepala Sekolah SMP IT Insan Mandiri Cibubur.
Menurut Rida, manusia boleh memiliki teknologi dan berbagai kemampuan, namun tetap memiliki keterbatasan dan membutuhkan pertolongan Allah. Salah satu ikhtiar yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ketika menghadapi kekeringan adalah melaksanakan salat istisqa, yakni salat untuk memohon turunnya hujan.
Rida menjelaskan, hujan merupakan bagian penting bagi kehidupan. Air hujan menyuburkan tanah, membantu pertumbuhan tanaman, menyediakan air bagi hewan, serta menopang kehidupan manusia. Karena itu, turunnya hujan tidak semestinya dipandang sebagai sesuatu yang biasa, melainkan sebagai salah satu bentuk rahmat Allah yang patut disyukuri.
Selain salat istisqa, Rida mengajak umat memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah. Ia mengingatkan bahwa manusia merupakan makhluk yang lemah dan memiliki banyak kekurangan. Karena itu, setiap orang perlu terus memperbaiki diri, bertobat, dan kembali kepada Allah.
Dalam khutbahnya, Rida juga menyampaikan kisah Nabi Musa Alaihissalam bersama kaumnya yang dikaitkan dengan permohonan hujan. Kisah tersebut menggambarkan bagaimana pengakuan atas dosa dan kesungguhan memohon ampun kepada Allah menjadi bagian dari upaya memperoleh rahmat-Nya.
Menurut Rida, istighfar bukan sekadar ucapan, tetapi juga bentuk kesadaran seorang hamba atas kelemahan dirinya dan kebutuhannya terhadap ampunan Allah. Ia juga mengingatkan umat agar tidak menjadikan dosa masa lalu sebagai alasan untuk berputus asa.
“Yang penting kita memperbaiki diri, memperbanyak istighfar, bertobat, dan kembali kepada Allah,” ujarnya. Namun, doa dan istighfar, menurut Rida, harus disertai ikhtiar nyata dalam menjaga lingkungan.
Manusia tidak seharusnya hanya memohon hujan, tetapi pada saat yang sama melakukan tindakan yang merusak alam. Penebangan hutan secara sembarangan, pembakaran lahan, pembabatan hutan, dan membuang sampah sembarangan merupakan perilaku yang perlu dihindari.
Rida menyebut kondisi tersebut sebagai dosa ekologis, yakni perbuatan manusia yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan berdampak pada kehidupan makhluk lainnya.
Kerusakan hutan dan pembakaran lahan, misalnya, dapat memicu asap yang mengganggu masyarakat, merusak habitat hewan, serta menurunkan kualitas lingkungan. Karena itu, ia mengajak umat menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan tanggung jawab menjaga alam.
“Kita boleh mencari rezeki, tetapi jangan dengan cara merusak. Kita boleh membangun usaha, tetapi jangan mengorbankan keselamatan manusia dan kelestarian alam,” tandasnya. Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah musim kemarau yang meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.
Rida mengajak umat menjadikan kondisi kemarau sebagai momentum untuk memperbanyak istighfar, memperbaiki diri, menjaga lingkungan, sekaligus terus melakukan ikhtiar menghadapi dampaknya. Ia juga mendoakan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa-dosa umat, menerima tobat, menurunkan hujan yang penuh berkah, serta memberikan keselamatan kepada masyarakat yang menghadapi kekeringan, kebakaran, dan berbagai bencana.












