“Tajuk Rasil”
Rabu, 15 Shafar 1448 H/ 29 Juli 2026
Oleh: Ust Abdul Latif Khan
Di sekitar kekuasaan, sering kali tidak sulit menemukan orang-orang yang selalu membenarkan. Ketika penguasa berbicara, mereka memuji. Ketika penguasa keliru, mereka mencari alasan. Ketika rakyat terluka, mereka menutupi kenyataan. Ketika kezaliman terjadi, mereka menyebutnya kebijakan. Mereka tidak selalu bodoh. Sebagian bahkan berilmu, berpengalaman, dan memahami kebenaran.
Namun mereka memilih diam ketika seharusnya berbicara, lalu berbicara ketika pujian dapat mendatangkan keuntungan. Lalu kita bertanya: Mengapa begitu banyak penjilat tumbuh di sekitar penguasa? Karena Kekuasaan Menjanjikan Kenikmatan Kekuasaan memiliki daya tarik yang kuat. Di sana ada jabatan, proyek, fasilitas, akses, perlindungan, dan ada kesempatan untuk memperoleh sesuatu yang sulit didapatkan oleh orang biasa.
Ketika hati terlalu mencintai dunia, seseorang dapat kehilangan keberanian untuk mengatakan yang benar. Ia tidak lagi bertanya: “Apakah Allah ridha?” Ia hanya bertanya: “Apakah penguasa senang?” Inilah awal kehinaan. Ketika keridhaan manusia lebih dikejar daripada keridhaan Allah, lidah akan mudah menjual pujian dan menyembunyikan kebenaran.
Jangan mengira penjilat adalah orang yang paling setia. Ia mungkin selalu tersenyum. Ia selalu berdiri paling dekat. Ia paling cepat bertepuk tangan. Ia paling keras membela. Namun sesungguhnya, ia tidak sedang mencintai penguasa. Ia sedang mencintai keuntungan yang berada di tangan penguasa. Selama kekuasaan masih memberi manfaat, ia akan bertahan. Tetapi ketika kekuasaan melemah, ia dapat menjadi orang pertama yang pergi, bahkan mungkin menjadi orang pertama yang mencela. Ia menyerahkan kehormatan demi kedekatan, menjual kejujuran demi kedudukan, dan menggadaikan akhirat demi kenikmatan yang sebentar.
Penguasa yang suka dipuji akan dikelilingi pendusta. Tidak semua kesalahan berada pada orang-orang di sekitar penguasa. Kadang-kadang, penguasalah yang menciptakan lingkungan penjilat. Ketika kritik dianggap sebagai permusuhan, orang jujur akan menjauh. Ketika nasihat dianggap sebagai penghinaan, orang baik akan memilih diam. Ketika hanya pujian yang dihargai, para pendusta akan datang memenuhi ruangan. Akhirnya, penguasa tidak lagi mendengar suara rakyat. Ia hanya mendengar gema dari keinginannya sendiri. Semua laporan terlihat baik. Semua keadaan disebut aman. Semua kebijakan dikatakan berhasil. Padahal di luar istana kekuasaan, mungkin ada rakyat yang menangis, orang kecil yang tertindas, dan keadilan yang perlahan kehilangan nyawa.
Fir‘aun pun dahulu dikelilingi oleh orang-orang yang menguatkan kesombongannya. Allah menggambarkan bagaimana ia merendahkan kaumnya, lalu mereka menaatinya. Allah SWT berfirman, “Maka Fir‘aun memengaruhi kaumnya, lalu mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. Az-Zukhruf: 54)
Kezaliman besar jarang berdiri sendirian. Di belakangnya sering ada orang-orang yang menyediakan pembenaran. Dan penjilat membunuh kepekaan penguasa. Nasihat yang jujur mungkin terasa pahit, tetapi dapat menyelamatkan. Sebaliknya, pujian palsu terasa manis, tetapi dapat menghancurkan. Penjilat membuat penguasa merasa selalu benar. Ia menutupi kesalahan. Ia mengecilkan penderitaan rakyat. Ia memperindah kegagalan. Ia menyebut kelemahan sebagai keberhasilan. Ia mengubah kezaliman menjadi seolah-olah kebijaksanaan. Sedikit demi sedikit, hati penguasa kehilangan rasa takut kepada Allah. Ia tidak lagi mampu membedakan antara penghormatan dan kemunafikan, antara kesetiaan dan kepentingan, antara nasihat dan ancaman.
Pada akhirnya, penguasa dapat jatuh bukan karena kurangnya kekuatan, tetapi karena terlalu lama hidup di tengah kebohongan. Banyaknya penjilat di sekitar penguasa bukan hanya tanda rusaknya orang-orang yang mencari keuntungan. Ia juga dapat menjadi tanda bahwa kekuasaan tidak lagi nyaman mendengar kebenaran. Penjilat tumbuh ketika pujian dihargai lebih tinggi daripada kejujuran. Mereka berkembang ketika nasihat dibungkam, kritik dihukum, dan kepentingan dunia mengalahkan rasa takut kepada Allah.
Karena itu, selamatkanlah kekuasaan dengan kejujuran. Selamatkanlah pemimpin dengan nasihat. Selamatkanlah diri kita dengan keberanian untuk tetap benar, sekalipun kebenaran itu tidak mendatangkan tepuk tangan. Sebab di hadapan Allah, yang akan menyelamatkan kita bukan kedekatan dengan penguasa, melainkan kedekatan dengan kebenaran. Jangan menjadi orang yang berdiri paling dekat dengan penguasa di dunia, tetapi berdiri paling jauh dari rahmat Allah di akhirat.
Wallahu a’lam bishawab












