Cibubur, Rasilnews – Ketegangan geopolitik internasional yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran menyoroti pentingnya diplomasi dalam mencegah konflik meluas serta menjaga stabilitas keamanan dunia. Persaingan kepentingan politik, ekonomi, dan pertahanan dinilai turut memengaruhi arah hubungan antarnegara di tengah perubahan konstelasi kekuatan global.
“Penyelesaian konflik tidak cukup hanya mengandalkan tekanan atau kekuatan militer. Dialog dan diplomasi perlu dikedepankan untuk membuka ruang penyelesaian bersama,” demikian Ichsanudin Nursi dalam dialog Topik Berita di Radio Silaturahim, Selasa (27/10/26).
Ia juga menyoroti hubungan Iran dengan Rusia dan China dalam konteks persaingan kekuatan global. Menurutnya, dinamika tersebut perlu dianalisis dengan mempertimbangkan kepentingan strategis, kondisi ekonomi, stabilitas politik, serta hubungan internasional yang dapat memengaruhi posisi suatu negara.
Ichsanudin Nursi juga menyoroti kebijakan luar negeri Amerika Serikat dalam konflik yang melibatkan Israel. Menurutnya, arah kebijakan Washington dan hubungan politik antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi salah satu aspek yang perlu dicermati dalam memahami dinamika konflik internasional.
Ia menilai, kebijakan luar negeri yang terlalu berpihak pada kepentingan tertentu berpotensi memperbesar ketegangan dan menimbulkan ketidakpastian dalam hubungan antarnegara. Pandangan tersebut, menurutnya, perlu dilihat dalam konteks persaingan kepentingan politik, ekonomi, dan keamanan yang turut memengaruhi perkembangan konflik di berbagai kawasan.
Ichsanudin juga menyinggung kritik mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama terhadap Trump sebagai gambaran adanya perbedaan pandangan di kalangan elite politik Amerika Serikat. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri dan cara menghadapi konflik internasional dapat menjadi bagian dari perdebatan politik domestik.
Lebih lanjut, ia berpandangan bahwa penyelesaian konflik tidak cukup mengandalkan tekanan politik ataupun kekuatan militer. Menurutnya, diplomasi perlu menjadi bagian utama dalam upaya meredakan ketegangan, dengan mengedepankan dialog, kesediaan mendengarkan pihak lain, serta pencarian kesepakatan yang dapat diterima bersama.
Persaingan Kekuatan Global dan Posisi Iran
Pembahasan mengenai konflik internasional tersebut kemudian dikaitkan Ichsanudin dengan perubahan konstelasi kekuatan global, khususnya posisi Iran dalam hubungan internasional. Ia menyoroti hubungan Iran dengan Rusia dan China sebagai faktor yang perlu diperhitungkan dalam menganalisis kemampuan Teheran menghadapi tekanan dari negara-negara lain.
Menurut Ichsanudin, dinamika politik dan keamanan di Timur Tengah tidak dapat dipisahkan dari persaingan kepentingan pada tingkat global. Hubungan antarnegara, kerja sama strategis, kemampuan ekonomi, serta kepentingan keamanan menjadi sejumlah faktor yang turut menentukan posisi suatu negara dalam percaturan internasional.
Dalam konteks tersebut, ia menyinggung Organisasi Kerja Sama Shanghai atau Shanghai Cooperation Organisation (SCO), kelompok negara industri maju G7, dan aliansi pertahanan NATO. Ketiga kelompok tersebut memiliki karakter dan kepentingan yang berbeda, tetapi keterkaitan hubungan mereka menjadi bagian dari dinamika politik, ekonomi, dan keamanan internasional.
Ichsanudin menilai, hubungan strategis Iran dengan Rusia dan China perlu diperhatikan untuk memahami pilihan kebijakan luar negeri Iran serta posisinya di tengah persaingan kekuatan global. Meski demikian, kemampuan suatu negara dalam menghadapi tekanan internasional tidak hanya ditentukan oleh dukungan mitra strategis, tetapi juga dipengaruhi kondisi ekonomi, stabilitas politik domestik, kapasitas pertahanan, dan perkembangan hubungan internasional.
Ia juga menyinggung proyeksi geopolitik hingga 2040. Menurutnya, perubahan hubungan antarnegara dan perkembangan kerja sama strategis akan menjadi faktor penting dalam membentuk tatanan global pada masa mendatang.
Namun, proyeksi tersebut tetap perlu mempertimbangkan berbagai kemungkinan perubahan, termasuk pergantian kepemimpinan, perkembangan ekonomi, dinamika politik dalam negeri, dan perubahan kepentingan negara-negara yang terlibat. Karena itu, arah persaingan global dalam jangka panjang tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan kondisi hubungan antarnegara saat ini.
Di luar aspek persaingan geopolitik, Ichsanudin menekankan pentingnya menempatkan kepentingan kemanusiaan sebagai salah satu pertimbangan dalam penggunaan kekuatan militer dan ekonomi. Menurutnya, kemampuan suatu negara semestinya diarahkan untuk menjaga keamanan, membangun hubungan yang saling menguntungkan, dan mengurangi risiko penderitaan masyarakat akibat konflik.
Ia berpandangan bahwa persoalan perdamaian tidak semata-mata berkaitan dengan perbandingan kekuatan antara negara yang lebih besar dan negara yang lebih kecil. Hal yang tidak kalah penting ialah bagaimana kekuatan tersebut digunakan, kepentingan apa yang mendasari kebijakan, dan sejauh mana keputusan yang diambil mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat.
Dalam konteks itu, Ichsanudin mengajak masyarakat untuk mencermati perkembangan internasional secara kritis. Berbagai pernyataan politik dan klaim mengenai keberhasilan atau kemenangan suatu pihak, menurutnya, perlu dinilai dengan mempertimbangkan fakta yang tersedia, konteks peristiwa, serta dampak kebijakan terhadap pihak-pihak yang terlibat.
Ia juga menyoroti pentingnya pemahaman masyarakat Indonesia terhadap perubahan geopolitik dunia. Pengetahuan mengenai hubungan internasional dinilai dapat membantu masyarakat memahami latar belakang suatu konflik, mengenali kepentingan yang melatarbelakangi kebijakan negara, serta membedakan fakta dari penilaian atau kepentingan politik tertentu.
Selain itu, Ichsanudin menyinggung perbedaan ideologi yang dapat memengaruhi cara seseorang memahami dan menilai persoalan internasional. Menurutnya, pemahaman terhadap perbedaan dasar pemikiran tersebut diperlukan agar masyarakat dapat melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang tanpa mengabaikan fakta dan prinsip kemanusiaan.
Pada akhirnya, ia menilai bahwa perdamaian yang berkelanjutan memerlukan lebih dari sekadar perimbangan kekuatan. Dialog, penghormatan terhadap perbedaan, pembangunan kepercayaan, dan kesediaan mencari penyelesaian bersama merupakan unsur penting dalam menjaga stabilitas hubungan internasional.
Ichsanudin menegaskan bahwa penggunaan kekuatan tidak dengan sendirinya menjamin terciptanya perdamaian jangka panjang. Sebaliknya, pendekatan diplomatik yang mengutamakan perundingan dan penghormatan terhadap pihak lain dapat membuka ruang bagi penyelesaian konflik secara lebih berkelanjutan.












