Kembali ke berita

Artikel

Kisah MUI, Wadah Ulama Tawadhu

Admin

Bagikan

Kisah MUI, Wadah Ulama Tawadhu

MAJELIS Ulama Indonesia telah memasuki usia ke 48 tahun sejak berdiri tanggal 26 Juli 1975. Dalam kurun waktu hampir lima dekade itu, MUI terus berkhidmat melakukan kerja nyata sesuai dengan perannya. Seperti, menjadi wadah para ulama sebagai pelindung umat (himayatul ummat) dan pelayan umat (khodumul ummat) sehingga terwujud penguatan umat (taqwiyatul ummah).

Melansir dari situs mui.or.id, berdirinya MUI dilatarbelakangi oleh gagasan menyatukan para ulama dalam wadah yang akan membahas perkara umat dan mengeluarkan fatwa serta praktik-prakitk ajaran Islam. MUI menjadi lembaga yang membimbing, membina, dan mengayomi umat Islam dengan anggota yang terdiri dari ulama, zuama (pemimpin organisasi), dan cendekiawan muslim. MUI membantu mencari solusi atas permasalahan yang berkaitan dengan keumatan, termasuk permasalah baru yang sifatnya kekinian. Tujuannya adalah untuk menyatukan gerak dan langkah umat Islam Indonesia demi mewujudkan cita-cita bersama.

Ada satu kisah menarik mengenai sejarah dibentuknya MUI dikaitkan dengan dua sosok penting, yaitu Buya Hamka (tokoh Muhammadiyah) dan Kiai As’ad Syamsul Arifin (tokoh NU). Ahmad Husein dalam laman resmi MUI Jawa Timur menuliskan, “Kira-kira pada tahun 1975, pemerintah menggelindingkan wacana pendirian lembaga ulama. Info itu pun beredar dengan cepat di masyarakat, hingga sampai ke Kiai As’ad Syamsul Arifin yang menerima info dari Gubernur Jawa Timur, Moh. Noer. Dan ternyata, Kiai As’ad juga diminta hadir dalam rapat awal pembentukan MUI ini.

Turut hadir dalam rapat itu, Buya Hamka, Kiai Syukri Ghazali, dan ulama-ulama lain. Ketika rapat sedang berjalan cukup alot, tiba-tiba Kiai As’ad bertanya mengenai status MUI. Adalah Mukti  Ali, Menteri Agama yang pada waktu itu memimpin rapat menjawab bahwa lembaga ini akan menjadi wadah para ulama di Indonesia. Mendengar jawaban itu, Kiai As’ad menjawab dengan nada diplomatis: “Lalu siapa di antara kita ini yang ulama? Kalau saya jelas bukan, barangkali Buya Hamka itu yang ulama ya?” Mendengar pernyataan Kiai As’ad itu, Buya Hamka menimpali: “Wah, kalau Kiai As’ad saja bukan ulama apalagi saya!”

Dari dialog pendek itu, tampak ketawadhuan Kiai As’ad dan Buya Hamka. Mereka dengan sangat tegas, mengaku bahwa dirinya bukan ulama. Khusus kiai As’ad, dalam beberapa kesempatan, memang berkali-kali menolak disebut ulama. Oleh karena itu, tidak heran setelah Muktamar NU tahun 1984, Mahbub Djunaidi dan Chalid Mawardi hendak meminta izin untuk menuliskan sejarah hidupnya, Kiai As’ad menolak. Dan beliau mengatakan dengan nada tegas, “Buat apa cerita hidup saya ditulis? Apanya yang mau ditiru dari orang seperti saya? Saya tidak ingin membaca cerita hidup saya sendiri? Kalau saya membaca riwayat hidup saya sendiri bisa-bisa telinga saya lebar dan saya bisa riya, padahal riya itu maksiat, maksiat itu haram dan haram itu dosa.”

Buya Hamka punya cerita lain, ketika berlangsung pertemuan musyawarah para ulama se-Indonesia dari tanggal 26 Juli sampai 2 Agustus 1975 itu,  dihasilkanlah “Piagam Berdirinya MUI”. Piagam deklarasi ditandatangani 53 ulama dari seluruh Indonesia. Buya Hamka, ulama asal Maninjau, Sumatra Barat terpilih sebagai Ketua Umum MUI yang pertama. Terpilihnya Buya Hamka bukan tanpa alasan. Ia dipandang sebagai ulama tersohor di Asia Tenggara. Karenanya, kapasitas Buya Hamka dinilai tepat untuk memimpin MUI.

Ketika ia menyampaikan pidato saat pelantikan dirinya, Buya Hamka menyatakan bahwa dirinya bukanlah sebaik-baiknya ulama. Ia menyadari bahwa dirinya memang populer, “Tapi kepopuleran bukanlah menunjukkan bahwa saya yang lebih patut.” Sebagai Ketua MUI, Buya Hamka meminta agar ia tidak digaji. Ia memilih menjadikan Masjid Agung Al-Azhar sebagai pusat kegiatan MUI alih-alih berkantor di Masjid Istiqlal.

Selain itu, Buya meminta agar diperbolehkan mundur, apabila nanti ternyata sudah tidak ada kesesuaian dengan dirinya dalam hal kerja sama antara pemerintah dan ulama. Meski berbagai pihak waktu itu sempat ragu apakah Buya Hamka mampu menghadapi intervensi kebijakan pemerintah, ia berhasil membangun citra MUI sebagai lembaga independen dan berwibawa untuk mewakili suara umat Islam.

Semoga MUI masa kini, terus diisi oleh para ulama yang tawadhu dan mementingkan urusan ummat. Ulama dan cendekiawan muslim yang memiliki sejumlah peran untuk meneruskan dakwah Islam dan menjadi pewaris tugas para nabi, yaitu menyebarkan dan memperjuangkan terwujudnya kehidupan sehari-hari yang diwarnai dengan ajaran Islam secara arif dan bijaksana.

Wallahu ‘Alam Bishshawwab

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim

Kisah MUI, Wadah Ulama Tawadhu · Berita · Radio Silaturahim 720 AM