Kembali ke berita

Rasil News

Korupsi di Negeri Religius

Admin

Bagikan

Korupsi di Negeri Religius

Kamis, 30 Shafar 1448 H/ 13 Agustus 2026
Oleh: Jaka Budi Santosa, dewan redaksi Media Group

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat berbagi pengalaman menarik terkait dengan agama dan korupsi. Ia kiranya tak perlu diperdebatkan, tapi jauh lebih penting untuk kita renungkan. Arief menceritakan perjalanannya di Kongres Mahkamah Konstitusi Sedunia di Madrid, Spanyol. Kisah ini memang bukan baru, namun masih sangat relevan.

Dalam diskusi di Madrid, Arief tertarik dengan kondisi negara-negara yang penduduknya banyak yang tak beragama atau ateis justru mampu menjaga pemerintahan tetap bersih. Berintegritas. Bebas dari korupsi, kolusi, nepotisme. Lepas dari pelanggaran hukum dan penyalahgunaan kekuasaan. Lantas ia mempertanyakan ke peserta lain. Jawaban peserta dari negara Skandinavia pun membekas hingga kini. Menurut Arief, peserta itu bilang masyarakatnya punya prinsip bahwa persoalan kehidupan di dunia harus diselesaikan sebaik mungkin selama mereka masih hidup. ”Mereka tidak percaya ada surga, tidak ada neraka, tapi di dunia harus diselesaikan sebaik-baiknya di dunia,” begitu dia bilang.

Arief terpukul. Terlebih ketika ia membandingkan dengan Indonesia yang KKN-nya tak mati-mati, tapi malah menjadi. Padahal, Indonesia negara religius. Survei terkini majalah Ceoworld bersama Business Policy Institute yang melibatkan lebih dari 370 ribu responden di 148 negara menempatkan Indonesia di urutan ke-7. Peringkat pertama Somalia, disusul Niger, Banglades, Etiopia, Yaman, dan Malawi. Hampir semua penduduk Indonesia beragama. Namun, kita semua tahu, praktik-praktik destruktif terhadap negara terus terjadi masif. Ironis, memang. Beragama, tapi penuh masalah yang dilarang agama. Di sisi lain, negara-negara sekuler, tak terlalu percaya pada agama, malah punya tata kelola pemerintahan yang selaras dengan ajaran agama.

Itu fakta. Tak usah bersilang sengketa. Harus kita akui korupsi kian ganas di negeri ini. Bahkan menteri agama ikut korupsi. Urusan-urusan agama jadi ajang korupsi. Pengadaan mushaf kitab suci, penyelenggaraan ibadah haji, dikorupsi. Kurang edan apa coba. Kolusi dan nepotisme juga berbiak lagi. Pelopornya elitenya elite. Kurang sontoloyo apa coba. Apa yang salah? Pertanyaan itu menggelitik. Bukan karena agama salah. Bukan pula karena ateisme benar. Kiranya kita perlu bertanya lebih dalam; apa yang sebenarnya membuat manusia berbuat baik. Apakah karena takut Tuhan? Apakah karena takut hukum? Atau karena budaya malu?

Agama mengajarkan moral, tetapi apakah moral otomatis lahir dari agama? Indonesia contohnya. Di negara ini, agama hadir di rumah ibadah, di rumah, di sekolah, kantor, ruang publik, bahkan dalam pernyataan politik. Akan tetapi, korupsi juga hadir di mana-mana. Orang yang khusyuk berdoa meminta rezeki halal bukan tak mau menggasak rezeki haram. Orang yang rajin berbicara tentang dosa bisa saja mengambil yang bukan haknya. Orang yang fasih mengutip ayat tentang kejujuran bisa saja menyusun akal-akalan untuk menggelembungkan anggaran.

Karena itu, masalahnya bukan pada agama. Permasalahannya ialah ada jarak begitu lebar antara ajaran agama dan perilaku manusia. Agama mengajarkan kejujuran, tapi tak otomatis membuat orang jujur. Seperti halnya buku resep yang tak serta-merta bisa membuat orang menjadi chef. Di negeri ini, religiositas kiranya masih berhenti pada simbol. Kita sibuk menyucikan mulut, tapi lupa membersihkan tangan. Jangan-jangan kita sedang mengalami inflasi kesalehan. Surplus simbol keagamaan, tetapi defisit kejujuran.

Lalu mengapa negara sekuler lebih baik? Jawabannya pasti bukan karena mereka ateis. Mereka yang non religiositasnya relatif tinggi seperti Denmark, Swedia, Norwegia, dan Finlandia memang terkenal dengan tata kelola negara yang berkualitas. Pasti, negara-negara tersebut bersih bukan lantaran tak percaya Tuhan. Korupsi mereka minim karena punya kombinasi faktor yang sangat kuat; institusi yang efektif, transparan, penegakan hukum, pengawasan, budaya malu, serta tingkat kepercayaan sosial yang sangat tinggi. Mereka menyerahkan pemberantasan korupsi tidak hanya kepada kesadaran moral, tetapi juga membangun sistem agar manusia sulit berbuat nakal. Mereka tak cuma berharap orang menjadi malaikat, tetapi juga membuat perangkat yang tidak memberikan ruang untuk menjadi setan.

Sistem yang baik, mulai pencegahan, pengawasan, hingga penindakan, ialah kunci untuk memerangi korups. Akan tetapi, di sini kita sering keliru. Kita terlalu kerap berseru; pejabat harus bermoral! Tentu. Pejabat harus takut kepada Tuhan! Setuju. Namun, negara tidak boleh berhenti pada seruan. Dalam pemerintahan, niat baik tanpa pengawasan dan penindakan ialah undangan bagi penyalahgunaan kekuasaan. Di mulut bilang antikorupsi, tapi sehari-hari kompromi dengan korupsi sama juga bohong. Membuka pintu istana bagi tersangka korupsi ialah contoh dari kompromi itu. Belum lagi penindakan yang masih saja seperdelapan hati, hukuman yang superduper ringan, atau pengistimewaan koruptor di ruang tahanan.

Pada akhirnya, yang kita butuhkan bukan negara yang paling banyak berdoa. Yang lebih mendesak ialah negara yang paling serius mencegah dosa. Kalau ajaran takut kepada Tuhan belum cukup membuat pejabat jujur, sudah waktunya hukum membuat mereka takut korupsi. Ada pitutur; agama menjaga hati agar tidak mencuri, hukum menjaga tangan supaya tidak bisa mencuri.

Wallahu a‘lam bishawab

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim