Kembali ke berita

Rasil News

Lidah Api Kaum Elite

Admin

Bagikan

Lidah Api Kaum Elite

Tajuk Rasil
Kamis, 9 Shafar 1448 H/ 23 Juli 2026
Oleh: Jaka Budi Santosa Dewan Redaksi Media Group

Kata para bijak, peradaban sering kali tidak runtuh oleh kekuatan senjata. Ia justru mulai rapuh, retak, ketika bahasa kehilangan martabat, tatkala tutur kata menegasikan etika. Celakanya, di ruang publik kita gejala itu makin mudah ditemukan. Kata-kata kasar tak lagi diucapkan dengan rasa sungkan. Ia malah tampil percaya diri, diulang, dikutip, bahkan dipertontonkan seolah sebagai sesuatu yang lumrah. Celakanya lagi, tontonan itu datang dari kaum elite, mereka yang katanya berpendidikan, yang menggenggam kekuasaan, yang bergelimang uang.

Hari-hari ini, publik ramai menyoroti. Adalah Hotman Paris Hutapea, pengacara kondang yang mengaku bertarif supermahal, menjadi atensi lantaran kata-katanya yang dinilai tak sopan, kasar, arogan dalam jumpa pers di Kejaksaan Agung, Jumat lalu. Kala itu, ia memberikan keterangan sebagai pengacara bekas Jaksa Agung Tindak Pidana Khusus Febrie Adriansyah yang menjadi tersangka korupsi. Seperti biasa, Hotman bersuara keras. Ceplas-ceplos. Namun, kali ini ia kelewatan. Saat menanggapi pertanyaan, ia menjawab semaunya. Mari kita simak lagi. Salah satu wartawan bertanya, ”Apakah Pak Febrie merasa dikriminalisasi?” dan Hotman menjawabnya dengan kalimat ”Lu punya otak, nggak?” Padahal, pertanyaan itu normal-normal saja. Tidak mau menjawab pun boleh. Bilang tidak tahu juga tak masalah. Itu haknya.

Ada lagi jawaban lain yang dipersoalkan. ‘Tanya kakekmu’, ‘shut up’, hingga ‘kalau lu punya otak, lu tahu jawabannya’. Kenapa Hotman mesti bereaksi begitu rupa? Setelah ramai, selepas dikecam sana-sini, ia meminta maaf. Namun, ada tapinya. Ia masih berusaha membela diri. Berupaya mengklarifikasi. Kata orang bijak, meminta maaf tidak perlu diminta. Harus didasari pada kesadaran penuh bahwa memang salah.

Lupakan urusan maaf. Beberapa organisasi wartawan telah membawa perkara itu ke ranah hukum. Hotman dilaporkan ke polisi. Ia dilaporkan dengan Pasal 242 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP atas pernyataan perasaan permusuhan, kebencian, atau penghinaan. Hotman diduga merendahkan profesi jurnalis. Orang hukum dihadapi dengan hukum. Kiranya itu cara yang pas. Barangkali kata-kata kasar di berbagai medan dianggap spontan. Mungkin dimaksudkan sebagai humor atau ekspresi kemarahan. Bisa jadi pula tanda keakraban atau gaya komunikasi yang membumi. Namun, seorang tokoh tidak pernah berbicara hanya untuk dirinya sendiri. Setiap kalimat yang terucap membawa pengaruh yang jauh lebih besar ketimbang yang dibayangkan.

Tokoh publik ialah teladan, suka ataupun tidak. Ketika mereka menganggap kata-kata kasar yang menyakitkan, yang menghina, yang merendahkan, sebagai hal biasa, masyarakat perlahan ikut menganggapnya biasa. Yang semula terasa tidak pantas berubah menjadi tak masalah. Yang dulu memancing teguran kini malah mengundang tawa atau tepuk tangan. Apa yang terjadi belakangan ini layak membuat risau hati. Semakin keras ucapan seseorang, semakin besar peluang menjadi perhatian. Semakin kasar kalimatnya, semakin cepat ia menyebar di media sosial. Algoritma seakan lebih menyukai kemarahan ketimbang kebijaksanaannya. Itu berbahaya.

Bahasa akhirnya kehilangan salah satu fungsi terpentingnya, yaitu memuliakan manusia. Padahal, bangsa ini dibangun di atas fondasi kesantunan. Hampir setiap budaya di seluruh Nusantara mengenal tata krama dalam berbicara. Di Jawa, misalnya, ada pitutur bahwa “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana” (Harga diri seseorang tampak dari lisannya, kehormatan fisik terlihat dari pakaian yang dikenakan). Di Batak ada istilah “jolo nidilat bibir, asa nidok hata” (Pikirkan dulu sebelum mengucapkan kata-kata). Atau hata ni jolma patuduhon parange (perkataan menunjukkan watak dan sifat seseorang). Orang Minang mengajarkan lidah yang tajam bisa lebih melukai daripada senjata. Dalam tradisi Melayu, bahasa ialah cermin budi. Ada falsafah jaga lidah, jaga hati, jaga muruah.

Buya HAMKA pun pernah bilang, ”Kalau kita tidak bisa menjadi orang pandai, jadilah orang baik. Kalau tidak bisa menjadi orang baik, jadilah orang yang tidak menyakiti orang lain dengan lidah.” Ia juga pernah mengingatkan bahwa kejatuhan seseorang sering bukan karena tangannya, melainkan lantaran lidahnya.

Menjaga bahasa bukanlah perkara sopan santun belaka. Ia ikhtiar menjaga mutu kehidupan publik. Sebuah bangsa tidak cuma dibangun undang-undang dan bangunan fisik, tapi juga oleh bahasa yang dipelihara. Itu kewajiban para elite. Mereka wajib bertutur kata yang baik. Bukan malah sebaliknya, berlidah api. Bicara kasar, menghina, merendahkan, dengan nada tinggi hati. Tegas boleh, menghina jangan. Malu, ah, sampai dikritik dan diajari anak kecil yang merasa jengah karena pemimpinnya berkata kasar.

Wallahu a’lam bishawab

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim