Kembali ke berita

Rasil News

Menagih Janji Kemerdekaan

Admin

Bagikan

Menagih Janji Kemerdekaan

Selasa, 5 Rabiul Awwal 1448 H/ 18 Agustus 2026
Oleh: M. Isa Ansori, Kolumnis & akademisi

Setiap 17 Agustus kita merayakan kemerdekaan. Bendera dikibarkan, upacara digelar, lagu-lagu perjuangan dinyanyikan. Tetapi ada satu pertanyaan yang sering kita hindari: setelah 81 tahun merdeka, sudahkah rakyat benar-benar merasakan kemerdekaan? Untuk menjawabnya, kita perlu kembali ke Agustus 1945.

Pada 6 Agustus, Hiroshima dibom atom. Tiga hari kemudian, 9 Agustus, Nagasaki mengalami kehancuran serupa. Jepang berada di ambang kekalahan. Kabar itu sampai kepada para pejuang Indonesia. Mereka membaca momentum tersebut sebagai kesempatan menentukan nasib sendiri. Para pemuda tidak ingin kemerdekaan Indonesia menjadi hadiah dari Jepang. Ketegangan antara kelompok pemuda dan Soekarno-Hatta mencapai puncaknya dalam Peristiwa Rengasdengklok, 16 Agustus 1945. Para pemuda mendesak agar Proklamasi segera dilakukan tanpa menunggu keputusan Jepang. Malam harinya, rumusan Proklamasi disusun. Pagi 17 Agustus 1945, Soekarno membacakan Proklamasi.

Indonesia tidak menunggu izin siapa pun untuk menjadi bangsa merdeka. Tetapi Proklamasi bukanlah akhir perjuangan. Ia adalah awal dari sebuah janji besar. Janji itu dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945: melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Bahkan kemerdekaan ditegaskan sebagai jalan untuk menghapuskan penjajahan karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.

Jadi, kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan asing. Kemerdekaan adalah janji untuk menghadirkan kehidupan yang adil, sejahtera, cerdas dan manusiawi. Karena itu, 81 tahun kemudian, kita berhak bertanya: sudah sejauh mana janji itu dipenuhi? Kegelisahan rakyat hari ini seharusnya tidak dianggap sebagai gangguan terhadap negara. Persoalan Papua, misalnya, menunjukkan bahwa keutuhan Indonesia bukan hanya persoalan mempertahankan wilayah, tetapi juga menghadirkan keadilan dan rasa memiliki. Ketegangan yang pernah terjadi di Aceh juga mengingatkan kita bahwa hubungan negara dengan rakyat tidak boleh hanya dibangun melalui pendekatan keamanan.

Menjaga Indonesia bukan sekadar menjaga batas wilayah. Menjaga Indonesia berarti menjaga agar rakyat merasa menjadi bagian dari Indonesia. Di berbagai kota, suara mahasiswa kembali terdengar. Mereka menuntut transparansi, pemerintahan yang bersih, pemberantasan korupsi, harga kebutuhan yang lebih terjangkau, serta evaluasi terhadap sejumlah program pemerintah, termasuk MBG dan Koperasi Desa Merah Putih. Kita boleh berbeda pendapat dengan tuntutan tersebut. Tetapi jangan buru-buru memusuhi mereka yang menyampaikan kritik. Sebab di balik demonstrasi sering terdapat keresahan yang sederhana: rakyat ingin didengar.

Demokrasi bukan sistem yang membuat pemerintah selalu benar. Demokrasi justru memberikan ruang agar ketika pemerintah keliru, rakyat dapat mengingatkan. Karena itu, kritik tidak selalu berarti kebencian. Kadang kritik adalah bentuk kecintaan yang paling keras kepada republik. Program pembangunan juga harus kembali kepada ukuran paling sederhana: apakah rakyat menjadi lebih sehat, lebih cerdas, lebih mandiri dan lebih sejahtera? MBG, Koperasi Desa Merah Putih dan berbagai program negara tidak cukup dinilai dari besarnya anggaran atau banyaknya proyek. Ia harus diuji oleh manfaat nyata bagi rakyat, transparansi pengelolaan, dan seberapa jauh mampu memperkecil ketimpangan.

Jika bermanfaat, lanjutkan. Jika bermasalah, evaluasi. Jika membuka ruang korupsi, tutup celahnya. Dan jika terbukti merugikan rakyat, berani memperbaikinya. Pemerintahan yang kuat bukan pemerintahan yang tidak pernah dikritik. Pemerintahan yang kuat adalah pemerintahan yang berani mendengar dan memperbaiki diri.

Hari ini, generasi muda berhak menagih janji kemerdekaan kepada negara. Bukan karena mereka membenci Indonesia. Justru karena mereka ingin Indonesia tetap menjadi rumah bersama. Maka pada HUT RI 2026 ini, kita tidak perlu hanya bertanya siapa yang paling nasionalis. Lebih penting bertanya: Sudahkah kita mencerdaskan kehidupan bangsa? Sudahkah kesejahteraan menjadi hak semua orang? Sudahkah hukum menghadirkan keadilan? Sudahkah negara melindungi seluruh rakyatnya? Jangan sampai kemerdekaan hanya terasa di atas panggung upacara, sementara di luar panggung rakyat masih berjuang melawan kemiskinan, ketidakadilan, mahalnya kebutuhan hidup dan ketidakpastian masa depan.

Bendera boleh berkibar tinggi. Tetapi keadilan harus lebih tinggi. Pembangunan boleh menjulang. Tetapi kemanusiaan harus lebih utama. Dan kekuasaan boleh besar. Tetapi kekuasaan harus selalu ingat: ia lahir dari rakyat dan harus bekerja untuk rakyat. Mari merayakan kemerdekaan bukan hanya dengan mengatakan “Indonesia sudah merdeka”, tetapi dengan keberanian untuk bertanya: “Apakah seluruh rakyat Indonesia sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?” Jika jawabannya belum, berarti pekerjaan kemerdekaan belum selesai. Dan karena itu, janji kemerdekaan harus terus kita tagih.

Wallahu a’lam bish shawab

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim