Kembali ke berita

Rasil News

Mengelola Ikhtilaf: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Admin

Bagikan

Mengelola Ikhtilaf: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

Kamis, 27 Dzulqaidah 1447 H/ 14 Mei 2026
Artikel Hidayatullah.com

Perbedaan pendapat dalam Islam bukanlah sesuatu yang asing. Sejak generasi sahabat, para ulama telah mengenal adanya ikhtilaf dalam memahami persoalan syariat. Namun, yang menjadi persoalan bukanlah keberadaan perbedaan itu sendiri, melainkan bagaimana cara mengelolanya. Di sinilah pentingnya memahami “manajemen ikhtilaf” sebagai bagian dari kedewasaan intelektual dan kematangan spiritual umat.

Dalam ilmu manajemen modern, dikenal istilah ‘Essentials of Management’, yakni prinsip-prinsip dasar untuk mengelola organisasi secara efektif dan efisien. Dalam konteks syariat Islam, prinsip serupa juga berlaku dalam mengelola perbedaan pendapat. Tujuannya bukan sekadar mencari titik temu, melainkan menjaga persatuan umat agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan dan perpecahan. Islam memandang perbedaan sebagai sunnatullah—ketetapan Allah yang memang akan selalu ada dalam kehidupan manusia. Karena itu, ikhtilaf harus dihadapi dengan ilmu, adab, dan kejernihan hati. Jika dikelola dengan benar, perbedaan justru melahirkan keluasan wawasan, keadilan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Allah Ta’ala berfirman dalam Quran Surat Ali Imran ayat 105, “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” Ayat ini menjadi pengingat bahwa dakwah terbesar bukan hanya menyeru kepada kebaikan, tetapi juga menjaga kesejukan hati sesama Muslim. Sebaik-baik ajakan adalah mengajak umat berpegang teguh kepada tali Allah—Al-Qur’an dan As-Sunnah al-Maqbulah—serta menjauhi perselisihan yang merusak ukhuwah.

Mencari Kebenaran, bukan memenangkan ego. Hakikat diskusi dalam Islam adalah tafaqquh, yakni upaya bersama mencari kebenaran berdasarkan dalil yang paling kuat. Karena itu, dialog harus dibangun di atas ilmu dan data, bukan emosi atau ambisi pribadi. Ketika ego mendominasi, diskusi berubah menjadi arena pembuktian diri. Kritik dianggap serangan pribadi, sementara lawan bicara diposisikan sebagai musuh yang harus dikalahkan. Akibatnya, tujuan mencari kebenaran hilang, digantikan keinginan memperoleh pengakuan dan pujian.

Mengelola ikhtilaf memerlukan kesabaran dan kelapangan dada. Orang yang lapang hati tidak mudah tersinggung ketika pendapatnya dibantah. Ia memahami bahwa tujuan diskusi adalah menemukan kebenaran bersama, bukan mempertahankan gengsi pribadi. Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85) Ayat ini mengajarkan kerendahan hati intelektual. Setinggi apa pun ilmu manusia, tetap hanya setetes dibanding luasnya ilmu Allah. Kesadaran inilah yang melahirkan sikap terbuka terhadap pandangan orang lain serta mencegah seseorang merasa paling benar sendiri.

Salah satu penyakit terbesar dalam perbedaan pendapat adalah ta‘ashub—fanatisme buta terhadap kelompok atau golongan sendiri. Sikap ini membuat seseorang sulit menerima kebenaran jika datang dari pihak yang berbeda. Dalam Riwayat Abu Dawud Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang ashabiyah, lalu beliau menjawab: “Engkau menolong kaummu dalam kezaliman.”

Fanatisme melahirkan kesombongan intelektual. Orang tidak lagi menilai pendapat berdasarkan dalil, melainkan berdasarkan siapa yang mengucapkannya. Akibatnya, ruang dialog tertutup dan persaudaraan menjadi rusak. Padahal, para ulama terdahulu memberikan teladan berbeda. Mereka bisa berselisih tajam dalam masalah fiqih, tetapi tetap saling menghormati dan menjaga persaudaraan. Perbedaan tidak menghalangi mereka untuk saling mendoakan, belajar, bahkan memuji keilmuan satu sama lain.

Di tengah derasnya perdebatan di media sosial dan menguatnya polarisasi umat, kemampuan mengelola ikhtilaf menjadi kebutuhan mendesak. Perbedaan tidak harus dihapuskan, tetapi harus diarahkan agar tetap berada dalam koridor ilmu, adab, dan persaudaraan. Menghormati pandangan yang berbeda—selama dibangun di atas argumentasi ilmiah—merupakan tanda kedewasaan berpikir dan kebesaran jiwa. Sebab, tujuan utama seorang Muslim bukan memenangkan perdebatan, melainkan menjaga persatuan dan mencari ridha Allah Ta’ala.

Wallahu a‘lam bishshawab

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim