Cibubur, Rasilnews – Perkembangan Islam di Selandia Baru menunjukkan pertumbuhan kehidupan komunitas Muslim yang semakin terlihat, termasuk melalui keberadaan masjid di berbagai wilayah Kota Auckland. Di tengah masyarakat yang mayoritas bukan Muslim, diaspora Indonesia terus berupaya memperkuat persatuan umat dan mengembangkan dakwah Islam melalui kegiatan keagamaan serta kebersamaan lintas perbedaan.
Hal tersebut disampaikan Abid bin Idris bin Assegaf bin Ahmad bin Hussein, warga Indonesia yang telah menetap di Selandia Baru sejak 1992. Kepada Radio Silaturahim, ia menceritakan perkembangan komunitas Muslim di Auckland, upaya menyatukan umat Islam Indonesia di perantauan, serta pengalamannya melihat nilai-nilai kehidupan bermasyarakat yang diterapkan di negara tersebut.
Abid mengatakan, ketika pertama kali menetap di Auckland pada 1992, kota tersebut baru memiliki satu masjid yang menjadi pusat kegiatan ibadah umat Islam. Setelah lebih dari tiga dekade, keberadaan masjid semakin meluas dan kini dapat dijumpai di berbagai penjuru kota.
“Bermula dengan satu masjid yang ada di Auckland, itu jadi masjid utama. Sekarang, setelah 34 tahun, di setiap penjuru kota, di setiap sudut kota, itu ada masjid,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan komunitas Muslim di Auckland dalam membangun kehidupan keagamaan. Keberadaan masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga berperan sebagai ruang berkumpul dan mempererat hubungan antarumat Islam.
Ia juga menyinggung keterbukaan masyarakat Selandia Baru terhadap komunitas Muslim. Menurut Abid, peristiwa penembakan di masjid Christchurch pada 2019 turut menjadi perhatian luas terhadap kehidupan umat Islam dan hubungan mereka dengan masyarakat setempat.
Di tengah perkembangan tersebut, ia menilai persatuan menjadi hal penting bagi komunitas Muslim, khususnya warga Indonesia yang tinggal di Auckland. Meskipun jumlahnya relatif kecil dibandingkan keseluruhan penduduk, diaspora Indonesia berupaya membangun kebersamaan melalui wadah bersama tanpa menjadikan perbedaan mazhab sebagai penghalang.
“Alhamdulillah, kita walaupun cuma sedikit, terutama umat Islam Indonesia di Auckland, mencoba bersinergi dan menyatukan umat di dalam satu wadah, tanpa ada perpecahan, tanpa ada perbedaan mazhab,” kata Abid.
Upaya tersebut, lanjutnya, menjadi bagian dari ikhtiar menjaga hubungan antarsesama Muslim sekaligus memperkuat kegiatan dakwah di lingkungan diaspora. Ia mengajak umat Islam Indonesia, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri, untuk menjaga persatuan dan tidak mudah terpecah oleh perbedaan.
Abid juga menekankan pentingnya menghidupkan masjid melalui peningkatan partisipasi umat dalam kegiatan ibadah. Salah satu harapannya adalah meningkatnya jumlah jamaah salat Subuh agar seramai pelaksanaan salat Jumat.
“Saya ingin sekali melihat, selalu berdoa kepada Allah, agar salat Subuh itu seperti salat Jumat,” tuturnya.
Menurutnya, semangat memakmurkan masjid perlu diwujudkan melalui keterlibatan nyata umat dalam kehidupan keagamaan sehari-hari. Dengan demikian, masjid dapat terus menjadi pusat ibadah, pembinaan, dan penguatan persaudaraan Muslim di perantauan.
Abid berharap Radio Silaturahim terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat Islam. Ia juga menyampaikan harapan agar siaran radio tersebut dapat menjangkau lebih banyak pendengar, termasuk masyarakat Indonesia yang tinggal di berbagai negara.
Ia mengajak umat Islam, khususnya diaspora Indonesia di Auckland dan wilayah Selandia Baru lainnya, untuk terus merapatkan barisan, menjaga persatuan, dan menghidupkan kegiatan keagamaan.
Menurutnya, dakwah tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan besar, tetapi dapat dimulai dari kemampuan masing-masing individu untuk berkontribusi bagi masyarakat dan menjaga hubungan baik dengan sesama.












