Kembali ke berita

Rasil News

Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi

Admin

Bagikan

Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi

Selasa, 14 Shafar 1448 H/ 28 Juli 2026
Artikel Hidayatullah.com

Di zaman digital saat ini, informasi mengalir tanpa batas. Dalam hitungan detik, seseorang dapat mengakses jutaan data, opini, video, dan berbagai bentuk pengetahuan dari seluruh penjuru dunia. Kemudahan ini membawa manfaat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan komunikasi manusia. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi juga menghadirkan tantangan serius, terutama bagi keberlangsungan otoritas keilmuan Islam dan penghormatan terhadap warisan ulama.

Fenomena yang kita saksikan hari ini adalah munculnya generasi yang memperoleh pengetahuan agama secara instan. Sebagian orang merasa cukup belajar agama melalui potongan video pendek, kutipan media sosial, atau ceramah yang beredar tanpa mengetahui latar belakang keilmuan penyampainya. Akibatnya, proses belajar yang dahulu menuntut adab, ketekunan, dan bimbingan guru mulai tergeser oleh budaya serba cepat dan serba praktis.

Padahal dalam tradisi Islam, ilmu bukan sekadar kumpulan informasi. Ilmu adalah cahaya yang diwariskan melalui proses panjang, melibatkan sanad keilmuan yang terjaga dari generasi ke generasi. Para ulama selama berabad-abad telah mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawa untuk menjaga kemurnian ajaran Islam. Mereka meneliti hadis, menafsirkan Al-Qur’an, menyusun kitab, mendidik murid, dan membangun peradaban yang menjadi fondasi umat hingga hari ini. Karena itu, warisan ulama tidak hanya berupa kitab-kitab yang tersimpan di rak perpustakaan. Warisan ulama adalah cara berpikir, metodologi memahami agama, tradisi keilmuan, adab mencari ilmu, serta keteladanan hidup yang mereka tinggalkan. Jika warisan ini hilang, maka umat berisiko kehilangan kompas (arah tujuan hidup).

Disrupsi informasi menghadirkan tantangan baru yang tidak ringan. Algoritma media sosial sering kali lebih mengutamakan popularitas dibanding kualitas ilmu. Konten yang sensasional lebih mudah viral dibanding kajian yang mendalam. Akibatnya, sebagian masyarakat lebih mengenal figur yang pandai berbicara daripada ulama yang memiliki kedalaman ilmu yang zuhud dan integritas keilmuan. Di sinilah pentingnya membedakan antara informasi dan ilmu. Tidak semua yang tersebar di internet dapat dijadikan rujukan. Tidak semua orang yang berbicara tentang agama memiliki kapasitas keilmuan yang memadai. Islam mengajarkan pentingnya tabayyun, verifikasi, dan kehati-hatian dalam menerima berita maupun pengetahuan.

Al-Qur’an memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada para ulama. Allah berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)
Ayat ini menunjukkan bahwa ulama bukan sekadar orang yang banyak mengetahui informasi agama, melainkan mereka yang ilmunya melahirkan ketakwaan dan kedekatan diri kepada Allah. Oleh sebab itu, menjaga warisan ulama berarti menjaga sumber kebijaksanaan yang lahir dari perpaduan antara ilmu dan ketakwaan.

Lebih jauh, sejarah membuktikan bahwa kejayaan peradaban Islam selalu ditopang oleh kekuatan ulama dan lembaga pendidikan. Dari Madinah, Baghdad, Damaskus, Kairo hingga Nusantara, para ulama menjadi penjaga tauhid, pembimbing masyarakat, sekaligus motor peradaban. Mereka tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga membangun budaya ilmu, etika sosial, dan semangat kemajuan Islam. Sayangnya, di era digital sebagian generasi muda lebih akrab dengan tokoh-tokoh media sosial daripada mengenal karya para ulama besar. Nama-nama seperti Imam Al-Ghazali, Imam An-Nawawi, Ibnu Katsir, atau Syekh Nawawi Al-Bantani mulai terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal pemikiran dan karya mereka tetap relevan untuk menjawab berbagai persoalan manusia sepanjang zaman.

Karena itu, menjaga warisan ulama harus menjadi agenda bersama umat Islam. Pertama, memperkuat budaya membaca kitab dan karya ulama. Kedua, menghidupkan kembali majelis ilmu yang mempertemukan murid dengan guru secara langsung. Ketiga, memanfaatkan media dan teknologi digital untuk menyebarkan khazanah keilmuan Islam yang otoritatif. Keempat, menanamkan adab terhadap ulama sejak dini dalam keluarga dan lembaga pendidikan. Teknologi bukanlah musuh. Justru teknologi dapat menjadi sarana efektif untuk memperluas akses terhadap warisan keilmuan Islam.

Masa depan umat tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga akar keilmuan. Umat yang kehilangan hubungan dengan ulama akan mudah terombang-ambing oleh opini yang berubah setiap saat. Sebaliknya, umat yang tetap terhubung dengan warisan ulama akan memiliki pijakan yang kokoh dalam menghadapi perubahan zaman. Di tengah disrupsi informasi yang terus bergerak cepat, menjaga warisan ulama adalah kebutuhan peradaban.

Wallahu a’lam bishawab

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim