Kembali ke berita

Rasil News

Merdeka 100 Persen: Ketika Kemerdekaan Harus Dirasakan Seluruh Rakyat

Admin

Bagikan

Merdeka 100 Persen: Ketika Kemerdekaan Harus Dirasakan Seluruh Rakyat

Rasilnews – Kemerdekaan Indonesia bukan sekadar terbebas dari penjajahan secara fisik atau memperoleh pengakuan sebagai negara berdaulat. Bagi Tan Malaka, kemerdekaan sejati harus berarti kebebasan yang utuh dalam bidang politik, ekonomi, dan pemikiran. Gagasan tersebut dikenal melalui konsep “Merdeka 100 %”, yang menempatkan kedaulatan rakyat sebagai bagian penting dari makna kemerdekaan.

Dalam pandangan Tan Malaka, sebuah bangsa belum dapat dikatakan benar-benar merdeka apabila masih berada dalam tekanan atau ketergantungan terhadap kekuatan asing. Kemerdekaan politik harus diikuti dengan kemampuan bangsa menentukan arah pemerintahannya sendiri, sementara kemerdekaan ekonomi menuntut pengelolaan kekayaan dan sumber daya untuk kepentingan rakyat.

Konsep tersebut juga menempatkan rakyat sebagai tujuan utama perjuangan kemerdekaan. Kemerdekaan tidak boleh berhenti pada pergantian penguasa atau lahirnya sebuah pemerintahan baru, tetapi harus memberikan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat. Apalah artinya sebuah kemerdekaan jika hanya melahirkan kaum elite baru atau pegawai (amtenar) yang hidup makmur, sementara rakyat jelata tetap menderita.

Pandangan tersebut menegaskan bahwa kemerdekaan harus membawa perubahan terhadap struktur kehidupan masyarakat. Rakyat kecil, petani, buruh, nelayan, dan kelompok masyarakat lainnya tidak boleh hanya menjadi penonton setelah perjuangan kemerdekaan berhasil. Mereka harus menjadi pihak yang merasakan manfaat dari kedaulatan yang telah diperjuangkan.

Dalam kerangka pemikiran itu, ketergantungan ekonomi dan dominasi asing dapat menjadi bentuk persoalan baru setelah penjajahan fisik berakhir. Sebuah negara secara formal mungkin telah merdeka, tetapi apabila keputusan penting mengenai ekonomi, politik, dan pengelolaan sumber daya masih sangat dipengaruhi pihak lain, maka kedaulatannya belum sepenuhnya terwujud.

Tan Malaka juga memandang pentingnya kemerdekaan berpikir. Rakyat harus memiliki keberanian untuk menggunakan akal dan pikirannya sendiri dalam memahami persoalan bangsa. Pendidikan dan pengetahuan menjadi bagian penting agar masyarakat tidak mudah dikendalikan oleh kepentingan politik maupun kekuatan ekonomi tertentu.

Gagasan “Merdeka 100 %” pada akhirnya berbicara tentang hubungan antara kemerdekaan dan kesejahteraan. Kemerdekaan akan kehilangan maknanya apabila hanya dinikmati oleh segelintir elite, sementara sebagian besar rakyat masih menghadapi kemiskinan, ketimpangan, dan keterbatasan kesempatan untuk memperbaiki kehidupan.

Karena itu, memperingati kemerdekaan tidak cukup hanya dengan mengibarkan bendera dan mengenang perjuangan para pahlawan. Peringatan kemerdekaan juga menjadi momentum untuk melihat kembali sejauh mana cita-cita kedaulatan dan kesejahteraan rakyat telah diwujudkan.

Dalam perspektif Tan Malaka, pertanyaan mengenai kemerdekaan bukan hanya apakah sebuah bangsa telah terbebas dari penjajahan, melainkan apakah bangsa tersebut mampu berdiri di atas kekuatannya sendiri dan memastikan hasil kemerdekaan dapat dinikmati seluruh rakyat.

Merdeka 100% berarti merdeka secara politik, mandiri secara ekonomi, bebas dalam berpikir, dan menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim