Cibubur, Rasilnews – Memasuki usia ke-17, Radio Silaturahim (Rasil) didorong untuk terus berinovasi dan memperluas jangkauan dakwah, khususnya kepada generasi muda. Perubahan zaman dan perkembangan teknologi informasi dinilai menuntut media dakwah untuk terus belajar agar pesan Islam tetap relevan dengan kebutuhan umat.
Hal itu disampaikan Geisz Chalifah, aktivis sosial, budayawan, dan politisi, dalam sambutannya pada Milad ke-17 Rasil. Selain aktif di ranah publik dan politik, Geisz juga berkecimpung dalam dunia seni dan kebudayaan, termasuk mempromosikan musik gambus.
Menurut Geisz, perjalanan 17 tahun Rasil merupakan sesuatu yang patut disyukuri dan dibanggakan. Namun, rasa syukur tersebut perlu diiringi dengan kesadaran bahwa dakwah tidak boleh berhenti pada cara-cara yang telah dilakukan.
“Di dalam dakwah itu tidak bisa stagnan, karena zaman selalu berubah dan selalu melahirkan koneksi-koneksi baru,” ujarnya dihadapan management dan crew Rasil, Rabu (09/09/26).
Geisz menilai, tantangan dakwah saat ini semakin kompleks. Salah satunya adalah era post-truth, ketika kebenaran semakin sulit dibedakan dari informasi yang menyesatkan. Perkembangan kecerdasan buatan atau AI juga menghadirkan tantangan baru, karena informasi yang tidak benar dapat dikemas seolah-olah nyata dan aktual.
Dalam menghadapi perubahan tersebut, Geisz mengingatkan agar Rasil dan para penggiat dakwah tidak bersikap alergi terhadap perkembangan teknologi. Sebaliknya, teknologi perlu dipahami dan dimanfaatkan sebagai sarana untuk menghadirkan dakwah yang lebih positif dan menjangkau umat secara lebih luas.
Ia juga menekankan pentingnya para ulama dan pengelola dakwah untuk terus belajar serta memahami situasi kekinian. Menurutnya, dakwah yang benar tetap membutuhkan strategi, metode, dan pendekatan yang tepat agar dapat diterima oleh masyarakat.
“Benar saja tidak cukup. Yang benar harus ditambah lagi dengan strategi, metode, sistematika, dan berbagai macam pendekatan,” ungkapnya.
Karena itu, momentum Milad ke-17 juga dinilai penting untuk melakukan koreksi internal secara lebih mendalam. Perjalanan panjang yang telah dilalui menjadi kesempatan bagi Rasil untuk mengevaluasi langkah-langkahnya, sekaligus melihat peluang dakwah yang semakin terbuka.
Geisz menilai, tantangan citra yang pernah dihadapi Rasil tidak lagi perlu menjadi porsi utama yang terus dipikirkan. Kondisi tersebut seharusnya menjadi kesempatan bagi Rasil untuk lebih leluasa mengembangkan dakwah.
Namun, kebebasan itu juga menghadirkan tantangan baru. Rasil perlu menentukan langkah yang lebih produktif agar ruang gerak yang semakin terbuka dapat diisi dengan inovasi dan kerja sama yang bermanfaat.
Dalam konteks tersebut, Geisz mendorong Rasil untuk membangun kolaborasi dengan radio-radio yang memiliki tradisi dan hasil kerja yang baik. Selain itu, Rasil juga perlu mendekati kalangan anak muda yang aktif menyampaikan pesan melalui TikTok, Instagram, dan berbagai platform digital lainnya.
Menurutnya, kolaborasi dengan generasi muda penting agar dakwah Rasil dapat menjangkau kalangan yang lebih luas. Anak muda dinilai memiliki kemampuan untuk menyebarkan kembali pesan-pesan positif kepada lingkungan sekitarnya.
“Kalau anak muda kan progresif. Dia menyebarkan lagi,” tuturnya.
Di tengah berbagai perkembangan tersebut, Geisz mengingatkan agar Rasil tetap mempertahankan kekuatannya sebagai media dakwah yang menghadirkan pesan-pesan Islam secara sejuk dan damai.
Dakwah yang sejuk dan damai dinilai menjadi modal penting bagi Rasil untuk terus berkembang, sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat dan bangsa.












