Indramayu, Rasilnews – Pondok Pesantren Bayt Tamyiz, Indramayu, Jawa Barat, meluncurkan Balaghah Al-Qur’an dalam rangkaian Milad Tamyiz ke-117, Ahad (9/8/2026). Pengembangan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar pesantren untuk membantu santri Indonesia memahami keindahan, ketepatan, dan kedalaman makna bahasa Al-Qur’an.
Peluncuran Balaghah Al-Qur’an disampaikan langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Bayt Tamyiz, K.H. Zaunal Fathin atau Abah Zaun, di hadapan peserta Milad Tamyiz ke-117. Menurut Abah Zaun, pengembangan Balaghah Al-Qur’an merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran ulumul Qur’an dan ilmu turats bagi santri Indonesia.
“Ini adalah ikhtiar kita untuk memperbaiki kualitas pembelajaran ulumul Qur’an dan ulumul turats bagi santri-santri Indonesia,” ujar Abah Zaun.
Balaghah Al-Qur’an sendiri merupakan kajian mengenai kesempurnaan, ketepatan, kekuatan, dan keindahan susunan bahasa Al-Qur’an. Kajian ini tidak hanya melihat arti sebuah kata atau kalimat, tetapi juga bagaimana suatu ungkapan disampaikan sesuai konteks, memiliki makna yang jelas, serta mengandung kekuatan estetika dan sastra.
Dalam ilmu balaghah dikenal tiga cabang utama, yakni ilmu ma’ani, ilmu bayan, dan ilmu badi’. Ketiganya membantu pembelajar memahami kesesuaian susunan kalimat dengan konteks, penggunaan perumpamaan dan ungkapan kiasan, serta keindahan lafal dan makna.
Abah Zaun menjelaskan, gagasan mengembangkan Balaghah Al-Qur’an berangkat dari persoalan pembelajaran bahasa Arab yang dihadapi santri Indonesia. Menurutnya, terdapat perbedaan antara mempelajari bahasa Arab bagi penutur asli dengan mempelajari bahasa Al-Qur’an bagi masyarakat Indonesia.
“Tujuan kita belajar di pesantren harus dirubah, yaitu agar kita bisa memahami bahasa Al-Qur’an,” katanya.
Ia kemudian mengembangkan pendekatan pembelajaran dengan memecah materi bahasa Arab menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana dan menyusunnya kembali secara bertahap. Pendekatan tersebut sebelumnya dikenal melalui Metode Tamyiz, yang dikembangkan untuk membantu anak-anak maupun orang dewasa mempelajari Nahwu dan Shorof, menerjemahkan Al-Qur’an, serta memahami kitab kuning secara lebih mudah.
“Struktur belajar bahasa Arab itu saya ibaratkan sebagai sebuah puzzle. Puzzlenya saya bongkar, saya susun ulang,” ungkap Abah Zaun.
Dalam pengembangan Balaghah Al-Qur’an, para santri juga dilibatkan secara langsung. Mereka diminta membaca dan mengkaji sejumlah literatur yang berkaitan dengan bahasa dan balaghah Al-Qur’an, antara lain Ijazul Qur’an, Majazul Qur’an, Mufradad fi Gharib Al-Qur’an, serta Asy-Syamil fi Balaghah Al-Qur’an.
Para santri kemudian melakukan pemetaan dengan menandai ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki keterkaitan dengan pembahasan dalam kitab-kitab tersebut. Hasil kajian selanjutnya dibandingkan untuk melihat sejauh mana materi balaghah yang tersedia dapat digunakan dalam memahami bahasa Al-Qur’an.
“Yang menulis bukan saya. Semuanya santri. Saya hanya menyuruh,” kata Abah Zaun.
Ia menjelaskan, keterlibatan santri dalam proses tersebut bukan sekadar membaca kitab, tetapi juga melakukan analisis dan pemetaan terhadap materi yang ditemukan.
“Saya hanya memberikan: ini kitabnya, baca, stabilo. Ini kitabnya, baca, stabilo,” ujarnya.
Dari kajian awal terhadap sejumlah kitab tersebut, Abah Zaun menyebut masih terdapat aspek balaghah Al-Qur’an yang belum terpetakan secara menyeluruh. Ia menyampaikan bahwa materi yang berhasil ditemukan dari empat kitab rujukan tersebut baru sebagian dari keseluruhan aspek yang ingin dikembangkan melalui pendekatan Tamyiz.
“Tidak sampai 30 persen yang terstabilo dari empat kitab itu. Masih 70 persen yang harusnya distabilo menggunakan makna balaghah menurut versi Tamyiz,” katanya.
Karena itu, Abah Zaun menegaskan launching Balaghah Al-Qur’an bukan merupakan tahap akhir, melainkan bagian awal dari proses kajian yang masih akan terus dikembangkan dan disempurnakan.
“Insyaallah akan kami teruskan dan akan sedikit demi sedikit diperbaiki,” ujarnya.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam pengembangan Balaghah Al-Qur’an adalah perbedaan pemaknaan ketika bahasa Al-Qur’an diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Menurut Abah Zaun, perubahan bahasa tersebut perlu dikaji secara lebih mendalam agar santri tidak hanya memahami terjemahan literal, tetapi juga memahami konteks dan gaya bahasa yang terkandung dalam ayat.
“Kalau maknanya berubah dari bahasa Arab ke bahasa Arab, itu makna majasi. Tetapi kalau dari bahasa Arab menjadi bahasa Indonesia, persoalannya berbeda,” jelasnya.
Bayt Tamyiz dan Metode Tamyiz
Pondok Pesantren Bayt Tamyiz merupakan lembaga pendidikan Islam yang berada di Desa Sukaperna, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Pesantren ini dikenal sebagai pusat pengembangan Metode Tamyiz, sebuah pendekatan pembelajaran yang mengusung konsep belajar bahasa Al-Qur’an dan kitab kuning secara cepat, mudah, dan menyenangkan.
Pesantren tersebut dipimpin oleh K.H. Zaunal Fathin atau Abah Zaun, sosok yang mengembangkan Metode Tamyiz sebagai pendekatan pembelajaran ilmu Nahwu dan Shorof. Metode tersebut diarahkan untuk membantu peserta didik memahami struktur bahasa Arab, menerjemahkan Al-Qur’an, serta membaca dan memahami kitab kuning.
Bayt Tamyiz juga memiliki akar tradisi pesantren yang disebut telah berkembang sejak 1909 di Sukaperna. Dengan latar sejarah tersebut, pengembangan berbagai metode pembelajaran di Bayt Tamyiz diposisikan sebagai bagian dari kesinambungan tradisi keilmuan pesantren sekaligus upaya menjawab kebutuhan pembelajaran generasi baru.
Pesantren Bayt Tamyiz beralamat di Jl. Raya Sukaperna Kongsi No. 01, Desa Sukaperna, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat 45270.
Selain Metode Tamyiz, Bayt Tamyiz mengembangkan berbagai program pendidikan dan pembelajaran, termasuk Al-Qur’an, tahfiz, kitab kuning, serta pendidikan formal dan pesantren salafiyah.
Menjadi Momentum Intelektual
Pengembangan Balaghah Al-Qur’an merupakan bagian dari rangkaian inovasi pembelajaran yang dilakukan Bayt Tamyiz. Selain balaghah, pesantren juga mengembangkan materi seperti Nahwu Al-Qur’an dan Shorof Al-Qur’an, sehingga ilmu-ilmu alat yang dipelajari santri dapat lebih langsung diterapkan dalam memahami teks Al-Qur’an.
Abah Zaun berharap Milad Tamyiz ke-117 tidak hanya menjadi momentum untuk memperingati perjalanan panjang Tamyiz, tetapi juga menjadi momentum intelektual dalam mengembangkan pembelajaran Al-Qur’an dan ilmu turats.
“Kita menjadikan hari-hari momentum intelektual untuk ikhtiar memperbaiki kualitas pembelajaran ulumul Qur’an dan ulumul turats bagi santri-santri Indonesia,” tuturnya.
Melalui launching Balaghah Al-Qur’an, Bayt Tamyiz berupaya mempertemukan khazanah keilmuan pesantren dengan kebutuhan pembelajaran santri Indonesia. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu santri tidak hanya mampu membaca dan menerjemahkan Al-Qur’an, tetapi juga memahami ketepatan, kekuatan, konteks, dan keindahan bahasa Al-Qur’an secara lebih mendalam.












