Kembali ke berita

Rasil News

Nabi Ibrahim Meraih Kelulusan “Super Cum Laude” di Hadapan Allah SWT

Admin

Bagikan

Nabi Ibrahim Meraih Kelulusan “Super Cum Laude” di Hadapan Allah SWT

Oleh : Ustaz Fawaz Abi Zawiyah (Pengasuh progran Tausyiah Siang)

Rasilnews – Mengapa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mampu menjalani berbagai ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hasil yang luar biasa? Bukan sekadar lulus, tetapi meraih nilai yang melampaui standar kelulusan. Hal itu tergambar dalam firman Allah pada Surah Al-Baqarah ayat 124:

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya dengan sempurna. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.’” (QS. Al-Baqarah: 124)

Allah menguji Nabi Ibrahim dengan berbagai perintah yang sangat berat. Namun beliau mampu menunaikannya dengan sempurna. Kata “fa atammahunna” menunjukkan bahwa Ibrahim tidak hanya menjalankan ujian tersebut, tetapi menyempurnakannya. Jika diibaratkan dalam dunia pendidikan, beliau tidak sekadar lulus, melainkan memperoleh predikat super cum laude.

Sebagai balasan atas kesempurnaan ketaatannya, Allah menganugerahkan kedudukan yang sangat tinggi:

إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا

“Sesungguhnya Aku menjadikan engkau imam bagi seluruh manusia.”

Predikat ini bukan hanya menjadikan Ibrahim sebagai pemimpin bagi keluarganya atau kaumnya, tetapi sebagai teladan bagi seluruh umat manusia sepanjang zaman.

Ibrahim, Sosok Visioner yang Berpikir Jauh ke Depan

Ketika Allah mengangkatnya menjadi imam bagi manusia, Nabi Ibrahim tidak berhenti pada kebahagiaan pribadi. Dengan kecerdasan, visi, dan pandangan jauh ke depan, beliau segera memohon kepada Allah agar kemuliaan tersebut juga diberikan kepada keturunannya.

Beliau berdoa:

وَمِنْ ذُرِّيَّتِي

“Dan dari keturunanku juga (ya Allah).”

Namun Allah memberikan jawaban yang sangat penting:

لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Janji-Ku ini tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim.”

Artinya, kemuliaan kepemimpinan dan keteladanan itu tidak diberikan secara otomatis kepada seluruh keturunan Ibrahim. Hanya mereka yang menjaga keimanan dan menjauhi kezaliman yang berhak mendapatkan karunia tersebut.

Kezaliman terbesar adalah syirik, yaitu mempersekutukan Allah. Selain itu, kezaliman juga mencakup segala bentuk kemaksiatan dan pelanggaran terhadap perintah-Nya.

Akal yang Mengantarkan Ibrahim kepada Kebenaran

Salah satu sebab keberhasilan Nabi Ibrahim adalah penggunaan akal yang benar. Sejak muda, beliau dikenal sebagai sosok yang kritis dan selalu mencari kebenaran.

Akal merupakan anugerah istimewa yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Dengan akal itulah Ibrahim merenungi alam semesta, mempertanyakan kesesatan kaumnya, dan akhirnya menemukan jalan tauhid yang lurus.

Karena itu, ketika menghadapi berbagai ujian hidup, beliau mampu melihat hikmah di balik setiap perintah Allah. Akalnya tidak digunakan untuk membangkang, melainkan untuk semakin mengenal dan tunduk kepada Sang Pencipta.

Doa Nabi Ibrahim untuk Kota Makkah

Setelah membangun Ka’bah bersama putranya, Nabi Ismail, Ibrahim memanjatkan doa yang sangat agung:

رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman.” (QS. Al-Baqarah: 126)

Saat itu Makkah hanyalah lembah tandus yang tidak memiliki sumber kehidupan yang memadai. Namun Nabi Ibrahim memohon agar daerah tersebut menjadi negeri yang aman, nyaman, dan dipenuhi rezeki.

Beliau juga berdoa:

وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ

“Berilah rezeki kepada penduduknya berupa berbagai macam buah-buahan.”

Padahal secara geografis, Makkah bukanlah wilayah yang subur. Namun karena doa seorang nabi, hingga hari ini berbagai hasil bumi dari seluruh penjuru dunia mengalir ke kota suci tersebut.

Membangun Ka’bah dan Memohon Diterimanya Amal

Ketika meninggikan fondasi Ka’bah, Ibrahim dan Ismail tidak merasa bangga dengan amal yang mereka kerjakan. Sebaliknya, mereka justru khawatir jika amal itu tidak diterima oleh Allah.

Karena itu mereka berdoa:

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Ya Tuhan kami, terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)

Inilah pelajaran besar bagi setiap muslim. Semakin besar amal seseorang, semakin besar pula rasa takutnya jika amal tersebut tidak diterima oleh Allah.

Doa untuk Lahirnya Umat Islam dan Rasul Terakhir

Nabi Ibrahim tidak hanya memikirkan dirinya dan keluarganya. Beliau juga memikirkan generasi-generasi yang akan datang.

Beliau berdoa:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, dan jadikanlah dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu.” (QS. Al-Baqarah: 128)

Lebih dari itu, beliau juga memohon agar Allah mengutus seorang rasul dari kalangan keturunannya:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ

“Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri.” (QS. Al-Baqarah: 129)

Doa agung ini kemudian dikabulkan Allah dengan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keturunan Nabi Ismail ‘alaihissalam.

Jika Nabi Ibrahim mendapat predikat “imam bagi seluruh manusia”, maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendapatkan kedudukan yang lebih luas lagi sebagai:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)

Mengikuti Millah Ibrahim

Di akhir pembahasan, Allah memberikan peringatan:

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ

“Tidak ada yang membenci agama Ibrahim kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri.” (QS. Al-Baqarah: 130)

Millah Ibrahim bukan sekadar agama dalam arti formal, tetapi cara hidup yang dibangun di atas tauhid, ketaatan, kepasrahan, dan ketundukan total kepada Allah.

Karena itu, siapa saja yang menjauh dari jalan hidup Nabi Ibrahim sesungguhnya sedang merugikan dirinya sendiri. Sebaliknya, orang yang mengikuti jejak beliau akan memperoleh kemuliaan di dunia dan akhirat.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang meneladani Millah Ibrahim, menjalani hidup dengan tauhid yang murni, serta mampu menghadapi setiap ujian dengan ketaatan yang sempurna.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim