Kembali ke berita

Rasil News

Negara Kasir Koperasi

Admin

Bagikan

Negara Kasir Koperasi

Selasa, 28 Shafar 1448 H/ 11 Agustus 2026
Oleh: Cak AT – Ahmadie Thaha

Koperasinya di desa, utangnya di bank, pembangunnya ditugaskan negara ke Agrinas, dan cicilannya dibayar negara. Kalau begini cara kerja Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), kita patut bertanya: koperasinya sebenarnya milik siapa? Pertanyaan itu muncul setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut ia akan melunasi pokok kredit KDMP sekitar Rp240 triliun secara bertahap selama enam tahun. Pembayaran pertamanya September 2026.

Angka Rp240 triliun tak terbayangkan besarnya. Ia terlalu besar untuk disebut sekadar modal usaha desa. Tapi yang lebih mengusik justru logika di belakangnya: mengapa kewajiban sebuah kegiatan usaha bisnis pada akhirnya menjadi urusan anggaran negara? Lagi pula, ini bukan keputusan yang tiba-tiba muncul setelah koperasi kesulitan membayar utang. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 15 Tahun 2026 sejak awal menetapkan pembiayaan sampai Rp3 miliar untuk setiap gerai KDMP/KKMP dengan bunga 6 persen dan tenor 72 bulan. Di peraturan itu dengan tegas disebut: angsuran pokok dan bunga mesti dibayar melalui mekanisme DAU, DBH, atau Dana Desa.

Jadi, pemerintah tidak mendadak menjadi malaikat penolong bagi koperasi yang kehabisan uang. Jaring pengamannya memang sudah dipasang sejak koperasinya belum sempat belajar berjalan. Di sinilah persoalannya. Konstitusi dan UU dengan tegas menyebut koperasi pada dasarnya adalah badan usaha milik anggota yang berdiri untuk melakukan kegiatan ekonomi, mencari pendapatan, membayar biaya, dan menghasilkan sisa hasil usaha. Kalau koperasi meminjam uang untuk membangun gerai, dalam keadaan normal cicilan dibayar dari hasil usahanya. Maka, ada sesuatu yang terbalik dalam skema ini. Koperasi didorong berbisnis, tapi sumber pembayaran utangnya disiapkan dari anggaran publik.

Secara administrasi, mekanismenya memang kelihatan rapi. Bank mengajukan pembayaran angsuran kepada pemerintah, lalu uang mengalir melalui mekanisme yang sudah ditentukan. Pokok dibayar, bunga dibayar. Bank senang, jadwal cicilan tertib. Tapi rapi di meja administrasi belum tentu sehat di lapangan. Dana Desa, DAU, dan DBH bukan uang yang tumbuh di pohon APBN; ia adalah sumber daya negara yang ditransfer untuk kepentingan masyarakat daerah. Ketika sebagian alokasinya digunakan untuk memenuhi kewajiban kredit koperasi, tentu ada konsekuensi terhadap ruang fiskal desa dan pemerintah daerah.

Presiden Prabowo Subianto dan Menkeu Purbaya berkali-kali menyatakan harapannya agar koperasi menghasilkan keuntungan, asetnya menjadi kekayaan desa, dan masyarakat menikmati manfaatnya melalui sisa hasil usaha. Harapan itu baik. Tapi bank tidak mengenal optimisme sebagai alat pembayaran. Bank lebih mengenal pokok dan bunga. Karena itu, pertanyaan paling sederhana mestinya sudah dijawab sebelum sebuah gerai dibangun: siapa pembelinya? Apa yang akan dijual? Apakah lokasinya punya pasar? Siapa pengelolanya, dan berapa omzet yang diperlukan untuk membayar biaya operasional sekaligus cicilan?

Itu semua pertanyaan dasar dalam bisnis. Sebuah toko tidak menjadi laku hanya karena papan namanya dicat merah putih. Gedung dan gudang bisa dibangun megah dalam beberapa bulan, tapi pasar dan pembeli tak bisa dipaksa datang. Inilah yang harus diuji dari KDMP. Ukuran keberhasilan koperasi bukan jumlah bangunannya, tapi kesehatan usahanya. Negara memang boleh memberikan subsidi kepada sektor strategis yang berfungsi sosial. Tapi katakanlah terus terang itu sebagai subsidi: masukkan secara terbuka ke dalam APBN, ukur manfaatnya, lalu evaluasi. Yang menjadi persoalan adalah ketika kegiatan tampak seperti bisnis mandiri, tapi risiko kegagalannya sejak awal sudah diserahkan kepada negara.

Dalam ekonomi, keadaan seperti itu dikenal sebagai moral hazard. Bahasa sederhananya: seseorang bisa lebih berani mengambil risiko kalau tahu, ketika usahanya berantakan, ada orang lain yang akan datang membawa sapu. Dan dalam kasus KDMP, sapunya bernama APBN. Karena itu, mekanisme pembayaran cicilan negara harus disertai pengawasan yang jauh lebih keras dari sekadar memastikan transfer berjalan. Setiap rupiah yang dibayarkan harus ditelusuri: Apakah bangunannya benar-benar ada? Pekerjaannya selesai? Asetnya diterima? Koperasinya beroperasi dan menghasilkan kegiatan ekonomi yang layak?

Publik perlu melihat kinerjanya secara terbuka: berapa koperasi yang sehat, berapa yang merugi, berapa omzetnya, dan berapa manfaat ekonomi yang benar-benar kembali ke anggota? Jangan sampai yang paling sehat dari program ini justru utangnya: koperasinya megap-megap, tapi cicilannya selalu lancar karena negara datang tepat waktu. Negara harus berhati-hati agar niat memberdayakan desa tidak berubah menjadi kebiasaan memindahkan risiko pelaku usaha kepada pembayar pajak. Program Koperasi Merah Putih mungkin tak harus dihentikan hanya karena mengandung risiko. Yang tidak boleh adalah risiko yang tak jelas siapa pemiliknya. Kalau untung siapa yang menikmati, kalau rugi siapa yang menanggung, dan kalau mangkrak siapa yang bertanggung jawab? Kalau sejak awal semua kebutuhan disediakan negara dan ketika usaha gagal cicilannya pun dibayar negara, koperasi berisiko tumbuh sebagai anak manja fiskal: besar karena disuapi, bukan karena mampu mencari makan sendiri.

Negara tentu boleh membantu koperasi belajar berdiri, atau memapahnya ketika jatuh. Tapi memapah berbeda dengan menggendong selamanya. Tujuan pembangunan ekonomi desa mestinya bukan membuat desa semakin pandai menerima bantuan, melainkan semakin mampu mengelola kekayaannya sendiri. Negara boleh menjadi bidan yang membantu koperasi lahir. Tapi jangan sampai setelah dewasa koperasinya masih meminta APBN membayar uang sekolahnya. Kalau tidak, yang kita sebut sebagai kemandirian ekonomi desa mungkin hanya perpindahan utang dari kantong kiri ke kantong kanan negara. Secara administrasi, mungkin semuanya beres. Tapi secara ekonomi, kita masih harus bertanya: buat apa?

Wallahu a‘lam bishawab

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim