Kembali ke berita

Dialog Topik Berita

Paradoks Ekonomi Indonesia: Angka Tumbuh Tinggi, Tapi Rakyat Masih Menahan Diri

Admin

Bagikan

Paradoks Ekonomi Indonesia: Angka Tumbuh Tinggi, Tapi Rakyat Masih Menahan Diri

Cibubur, Rasilnews – Ekonom senior Ichsanuddin Noorsy menyoroti paradoks pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai tidak sepenuhnya terasa di tengah masyarakat. Dalam Dialog Topik Berita Radio Silaturahim, ia mempertanyakan kualitas pertumbuhan ekonomi yang diklaim mencapai 5,67 persen.

Menurut Ichsanuddin, secara angka pertumbuhan tersebut memang terlihat mengesankan. Kenaikan dari 5,1 persen menjadi 5,67 persen bisa disebut sebagai capaian besar. Namun, di balik angka itu, ia melihat ada persoalan mendasar yang belum terjawab.

“Kalau dibilang Indonesia tumbuh 5,67 persen dan itu melesat jauh sampai 0,5 persen, tentu itu prestasi luar biasa. Tapi pertanyaannya, sumber pertumbuhannya dari mana?” ujarnya.

Ia menilai kondisi ekonomi masyarakat belum menunjukkan perbaikan yang benar-benar kuat, terutama di kalangan kelas menengah. Menurutnya, kelompok kelas menengah yang sebelumnya tertekan justru belum sepenuhnya bangkit.

“Kalau melihat kondisi historis dan kondisi yang ada sekarang, kita belum mampu mengangkat kembali kelas menengah yang sudah jatuh,” katanya.

Ichsanuddin juga menyinggung sikap masyarakat dan pelaku usaha yang saat ini cenderung memilih menunggu atau wait and see. Menurutnya, hal itu terlihat dari besarnya kredit perbankan yang sebenarnya sudah disetujui, tetapi belum dicairkan oleh nasabah.

“Itu menunjukkan orang masih menahan diri. Keyakinannya belum pulih,” ujarnya.

Ia menyebut nilai kredit yang belum dicairkan tersebut mencapai Rp2.534 triliun atau sekitar 25,9 persen. Angka itu, menurutnya, menjadi sinyal bahwa dunia usaha maupun masyarakat masih berhati-hati mengambil langkah ekonomi.

“Kalau orang yakin ekonomi akan kuat, biasanya kredit langsung dipakai untuk ekspansi usaha atau investasi. Tapi sekarang banyak yang memilih menunggu,” katanya.

Bagi Ichsanuddin, situasi seperti ini tidak bisa dianggap sederhana. Sebab dampaknya bisa menjalar ke banyak sektor, mulai dari konsumsi masyarakat, investasi, penciptaan lapangan kerja, hingga perputaran ekonomi secara keseluruhan.

“Nah, ini dampaknya panjang. Dampaknya ke mana-mana,” ucapnya.

Pandangan tersebut menggambarkan kondisi yang belakangan semakin sering dirasakan masyarakat: angka ekonomi terlihat baik di atas kertas, tetapi suasana ekonomi di lapangan belum sepenuhnya terasa pulih.

Di satu sisi, pemerintah berbicara tentang pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat. Namun di sisi lain, banyak masyarakat masih memilih menahan belanja, menunda investasi, bahkan cenderung lebih berhati-hati menghadapi situasi ekonomi ke depan.

Inilah yang kemudian disebut sebagai paradoks ekonomi Indonesia — ketika angka pertumbuhan naik, tetapi rasa percaya diri masyarakat belum benar-benar kembali.

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim