Kembali ke berita

Palestina

Pasca Gugurnya Sekjend Hizbullah, Ichsanudin Noorsy : Blok Barat Beri Pesan Tegas, Melawan Kami Hancurkan

Admin

Bagikan

Pasca Gugurnya Sekjend Hizbullah, Ichsanudin Noorsy : Blok Barat Beri Pesan Tegas, Melawan Kami Hancurkan

Cibubur, Rasilnews – Dalam program Topik Berita Radio Silaturahim, Selasa (1 Oktober 2024), Pengamat Ekonomi dan Politik, Ichsanudin Noorsy menggambarkan dinamika geopolitik dunia yang semakin memanas. Dirinya berpandangan perang global yang berkaitan dengan ekonomi, termasuk pengaruh dari kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Inggris, dan sekutunya. Ichsanudin menjelaskan dengan jelas bagaimana strategi dominasi ini telah berlangsung selama puluhan tahun.

“Sekjend Hizbullah Hasan Nasrullah berhasil dihajar oleh mereka sehingga meninggal. Itu hal menarik, karena mereka ingin menunjukan bahwa serangan-serangan mereka efektif. Barang siapa menyerang mereka, pasti mereka hantam,” tegas Ichsanudin.

Ia menjelaskan bahwa peristiwa ini adalah bagian dari strategi lebih besar yang sudah lama dirancang oleh negara-negara adidaya, terutama Amerika Serikat dan Inggris, yang ingin menegaskan bahwa siapa saja yang menantang mereka akan dihancurkan. Menurutnya, ini bukan hanya soal politik, tetapi pesan global bahwa siapapun yang berani melawan akan menghadapi konsekuensi serius.

Ichsanudin Noersy mengungkapkan bahwa sejak tahun 2004 dan 2008, Amerika Serikat sudah secara terbuka menyebutkan delapan musuh potensial mereka, yaitu Rusia, Cina, Suriah, Korea Utara, Iran, Brasil, dan Afrika Selatan. Kelompok-kelompok yang dianggap sebagai musuh ini, menurutnya, mewakili bangsa-bangsa yang menolak ditindas dan tidak mau menyerahkan tanah mereka begitu saja.

“Terbukti 20 tahun lalu, mereka sudah menetapkan kelompok-kelompok yang mereka anggap teroris, ternyata bisa melakukan perlawanan. Tapi sesungguhnya bukan teroris, melainkan bangsa yang tidak ingin ditindas,” tambahnya.

Ichsanudin juga menyoroti bagaimana beberapa dari kelompok ini, baik secara terbuka maupun diam-diam, mendapatkan dukungan dari delapan negara tersebut. Ini, menurutnya, adalah cerminan dari proxy war atau perang proksi yang berpotensi memicu Perang Dunia Ketiga.

“Perang ini adalah representasi dari perang dunia ketiga yang berjalan duluan. Ini dimulai dari cerita war and terror pada tahun 2001, yang kemudian berlanjut dengan serangan ke Irak,” ungkapnya.

Ichsanudin juga menekankan bahwa Amerika Serikat menggunakan strategi yang disebutnya sebagai “perang untuk ekonomi.” Ini adalah perang yang bertujuan untuk mendominasi dunia secara ekonomi, baik melalui jalur damai maupun peperangan. Menurutnya, Amerika Serikat dan sekutunya meneror dunia dengan slogan “damai untuk ekonomi,” tetapi kenyataannya, upaya mereka lebih banyak mengarah pada konflik dan ketidakstabilan ekonomi global.

“Mereka berhasil tampil sebagai adidaya global karena berhasil meneror dengan war and terror-nya. Namun, beberapa tahun kemudian mereka kalah dalam perang dagang, dan sampai sekarang, kita melihat bagaimana ekonomi menjadi fokus utama. Mereka ingin mendominasi baik dalam format damai maupun perang,” jelasnya.

Ichsanudin juga menekankan bahwa di balik segala konflik ini, sesungguhnya yang menjadi akar permasalahan adalah materialisme, keinginan untuk menguasai sumber daya ekonomi dunia. “Kenapa harus ekonomi? Karena sesungguhnya materialisme ini adalah perlawanan terhadap Tuhan,” ujarnya dengan tegas.

Menariknya, Ichsanudin mencatat bahwa beberapa negara besar, seperti Cina dan India, memilih pendekatan yang berbeda dalam menghadapi tekanan ekonomi dan politik global. Cina, menurutnya, menyadari bahwa mereka menghadapi problematik besar terkait pertumbuhan ekonomi yang cepat, dan jika terjadi perang, hal itu akan mengganggu perkembangan ekonomi yang telah mereka capai.

“India bersikap berbeda. Cina dan India, dengan jumlah penduduk yang besar, lebih memilih bermain di kancah nilai tukar saja. Itu sebabnya mereka kini ribut soal mata uang BRICS,” ujarnya, merujuk pada aliansi ekonomi antara Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan.

Menurutnya, ketegangan di BRICS ini memperlihatkan bagaimana India diiming-imingi oleh Barat untuk tidak bergabung dengan aliansi lainnya, sementara Cina bermain tarik ulur. Hal ini menunjukkan bahwa dunia lebih condong ke arah peperangan daripada perdamaian, yang pada akhirnya berdampak pada ekonomi global.

Ichsanudin juga menyayangkan bahwa banyak media di Indonesia yang tidak membahas peristiwa-peristiwa ini secara menyeluruh. Menurutnya, hanya Radio Silaturahim (Rasil) yang mampu memberikan analisis komprehensif mengenai situasi geopolitik dan ekonomi dunia.

“Tidak ada media di Indonesia yang membahas secara akumulatif, hanya Rasil yang melihat secara menyeluruh, utuh, dan parsial,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dunia sedang menuju hybrid world, sebuah dunia di mana perang ekonomi dan perang fisik berbaur menjadi satu. Menurut Ichsanudin, konsep ini seharusnya menjadi perhatian utama, tetapi sayangnya masih banyak yang memandangnya secara parsial, tidak utuh.

“Kita sedang dihadapkan pada situasi di mana perang ekonomi lebih dominan daripada perdamaian. Dan ini akan mempengaruhi perekonomian global,” tutup Ichsanudin dengan nada serius.

Dalam wawancara ini, Ichsanudin Noersy memberikan gambaran yang jelas tentang dinamika perang global yang tidak hanya bersifat fisik tetapi juga ekonomi. Dengan Amerika Serikat dan sekutunya berusaha mendominasi dunia, negara-negara besar lainnya, seperti Rusia, Cina, dan Iran, bersiap untuk menghadapi ancaman tersebut. Di tengah-tengah semua ini, perang ekonomi menjadi alat utama bagi negara-negara adidaya untuk menjaga kekuasaan mereka. Sebagai salah satu narasumber yang kerap mengangkat isu global ini, Ichsanudin menunjukkan betapa pentingnya melihat peristiwa dunia dengan perspektif yang lebih luas.

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim