Kembali ke berita

Dialog Topik Berita

Pemimpin Harus Lebih Terbuka dan “Gentleman” Dalam Merespons Kritik

Admin

Bagikan

Pemimpin Harus Lebih Terbuka dan “Gentleman” Dalam Merespons Kritik

Cibubur, Rasilnews — Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), Fatimah Az-Zahra Thalib, menyampaikan sejumlah kritik terhadap kebijakan pemerintah, pembatasan aksi mahasiswa, hingga arah komunikasi publik Presiden Prabowo Subianto.

Fatimah menyoroti peristiwa demonstrasi mahasiswa yang disebutnya sempat mengalami penghadangan di berbagai rute meski telah mengajukan pemberitahuan resmi kepada aparat. Menurutnya, kondisi itu membuat mahasiswa kesulitan menjalankan aksi, termasuk dalam memenuhi kewajiban ibadah Jumat di tengah perjalanan aksi.

“Kami sudah mengirimkan pemberitahuan aksi, tetapi tiba-tiba dihadang di berbagai rute. Kami sampai harus muter-muter untuk mencari tempat salat Jumat,” ujar Fatimah dalam Dialog Topik Berita Radio Silaturahim, Jumat (19/6/2026).

Selain persoalan kebebasan menyampaikan aspirasi, Fatimah juga mengkritik sejumlah program pemerintah yang dinilai belum memiliki arah yang konsisten, termasuk perdebatan mengenai efektivitas penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ia menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menurutnya mengalami perubahan orientasi dari isu stunting menjadi ekonomi, namun belum terlihat hasil yang jelas di lapangan.

“Tujuan program-program itu masih gamang, berubah-ubah, dan kami melihat ada pemborosan dalam implementasinya,” katanya.

Fatimah juga menyoroti kekhawatiran mahasiswa terhadap apa yang ia sebut sebagai meningkatnya peran militer dalam ruang sipil, yang menurutnya menjadi ironi ketika aspirasi mahasiswa justru berhadapan dengan aparat keamanan dalam aksi di lapangan.

Fatimah menekankan pentingnya komunikasi langsung antara kepala negara dan rakyat, termasuk dalam merespons kritik publik.

Ia menyebut Presiden Prabowo Subianto perlu tampil lebih terbuka dan tidak menyerahkan seluruh komunikasi publik kepada pihak lain.

“Presiden harus menjadi juru bicara rakyat juga. Ketika ada kritik, seharusnya bisa disampaikan langsung dengan sikap yang gentleman,” ujarnya.

Fatimah juga menyoroti pentingnya empati dalam komunikasi politik, agar tidak terjadi kontradiksi antara pengakuan terhadap aspirasi rakyat dan tudingan negatif terhadap kelompok pengkritik.

Selain isu politik, Fatimah yang juga mahasiswa kedokteran menyoroti kondisi layanan kesehatan nasional, terutama sistem BPJS Kesehatan yang menurutnya masih menyulitkan masyarakat.

Ia mencontohkan keterbatasan layanan bagi pasien yang membutuhkan penanganan ganda antara fisik dan mental, serta panjangnya antrean yang berdampak pada kualitas layanan dokter.

“Masyarakat sering kali harus memilih antara layanan mental atau fisik karena keterbatasan sistem. Ini sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.

Fatimah juga menanggapi perbedaan sikap di kalangan mahasiswa terkait aksi dan respons politik. Ia menegaskan bahwa perbedaan pendapat merupakan bagian dari demokrasi yang harus dihormati.

“Tidak apa-apa berbeda pendapat, yang penting ada argumen yang logis dan berbasis sains. Demokrasi itu seharusnya berisi substansi, bukan sekadar kepentingan,” katanya.

Menutup wawancara, Fatimah menyampaikan harapan agar kebijakan negara tidak hanya fokus pada program bantuan sesaat di sekolah, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga secara menyeluruh.

Ia menekankan pentingnya kondisi orang tua yang sehat dan mampu secara ekonomi sehingga anak-anak tidak hanya bergantung pada bantuan institusional. “Saya ingin bukan hanya anak-anak yang makan bergizi di sekolah, tetapi keluarganya juga bisa hidup layak dan sehat di rumah,” ujarnya.

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim