Kembali ke berita

Uncategorized

Perjuangan Pondok Pesantren El-Fata Banyuwangi: Menghafal Al-Qur’an, Menebar Manfaat bagi Masyarakat

Admin

Bagikan

Perjuangan Pondok Pesantren El-Fata Banyuwangi: Menghafal Al-Qur’an, Menebar Manfaat bagi Masyarakat

Banyuwangi, Rasilnews – Berawal dari sebuah musala sederhana dengan jumlah jamaah salat Magrib sekitar tujuh hingga 12 orang, Fahmi Bayasut (60) bersama rekan seperjuangannya merintis pendidikan Islam yang kini berkembang menjadi Pondok Pesantren El-Fata di Kampung Arab, Banyuwangi, Jawa Timur. Berbekal tekad menghidupkan masjid dan membina generasi muda, mereka membangun lembaga pendidikan yang menggratiskan biaya belajar santri, dengan penekanan pada hafalan Al-Qur’an dan pengamalan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.

Motto yang diusung pesantren ini adalah “Bersama Melahirkan Generasi Muda Cinta Qur’an”. Semangat tersebut menjadi landasan bagi pengelola untuk tidak hanya membekali santri dengan ilmu agama, tetapi juga membentuk akhlak dan kepedulian sosial melalui keterlibatan langsung dalam kehidupan warga.

Perjalanan El-Fata tidak dimulai dengan fasilitas lengkap, perencanaan kelembagaan yang mapan, atau dukungan finansial yang besar. Para perintisnya justru mengawali langkah dari kegiatan sederhana, dengan mengajarkan Al-Qur’an dan membangun kedekatan dengan anak-anak di lingkungan sekitar.

Fahmi menuturkan, musala yang menjadi titik awal kegiatan tersebut berukuran sekitar 8 x 12 meter. Pada masa awal, jumlah jamaahnya relatif sedikit. Aktivitas ibadah juga belum berlangsung ramai sepanjang waktu.

Pada 2016, Fahmi dipercaya menjadi ketua takmir musala. Namun, setahun kemudian, ia pindah ke Surabaya untuk bekerja di sebuah toko pakaian dan sarung. Pekerjaan dengan jam kerja panjang membuatnya harus mengesampingkan sementara aktivitas dakwah.

Kehidupannya berubah ketika pandemi COVID-19 melanda pada 2020. Fahmi kembali ke Banyuwangi dan mulai memikirkan kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengisi waktu sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dalam perjalanan itu, ia bertemu dengan Abu Yawahmi. Keduanya kemudian sepakat membangun kegiatan pendidikan Al-Qur’an dan bahasa Arab bagi anak-anak di Kampung Arab.

Pada awalnya, mereka tidak memiliki rencana mendirikan pondok pesantren. Tujuan mereka sederhana, yakni menghidupkan masjid dan menyediakan ruang belajar bagi anak-anak yang sebagian besar masih bersekolah.

Kegiatan dilaksanakan pada sore hari dan berkembang menjadi pembinaan semi-pesantren. Seiring bertambahnya kebutuhan anak-anak, kegiatan tersebut kemudian berlanjut menjadi pendidikan berasrama.

Menurut penuturan Fahmi, kegiatan pesantren mulai berjalan pada 2022, sementara penataan atau tahap kelembagaan yang lebih resmi disebut berlangsung pada awal 2023.

Keputusan untuk bertahan semakin kuat ketika Fahmi sempat berencana kembali ke Surabaya. Saat itu, terdapat empat anak yang tidak dapat dijemput orang tuanya karena harus bekerja di luar kota. Kondisi tersebut membuatnya mengurungkan niat untuk pergi dan melanjutkan pendampingan terhadap anak-anak itu.

Bagi Fahmi, kebutuhan anak-anak untuk mendapatkan pendidikan dan tempat tinggal menjadi alasan yang lebih penting daripada rencana pribadinya.

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim