Cibubur, Rasilnews – Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk memperkuat pemanfaatan teknologi dalam menemukan sumber-sumber air baru sebagai langkah menghadapi ancaman kekeringan akibat perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan air nasional.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan arahan tersebut disampaikan Presiden dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara. Menurutnya, perubahan iklim menjadi tantangan yang harus diantisipasi melalui inovasi dan riset agar ketersediaan air tetap terjaga.
Arif menjelaskan, Presiden menempatkan ketahanan air sebagai salah satu program prioritas nasional karena memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung sektor pertanian dan ketahanan pangan.
Untuk menjalankan arahan tersebut, BRIN akan mengoptimalkan berbagai teknologi yang telah dimiliki. Di antaranya teknologi berbasis nuklir untuk mendeteksi potensi sumber air, pemanfaatan drone untuk pemetaan, hingga teknologi desalinasi yang mengolah air laut menjadi air layak guna.
Ia menambahkan, BRIN juga akan segera berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum agar hasil riset dan inovasi dapat diimplementasikan secara cepat dalam program penyediaan sumber air baru di berbagai daerah.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan hingga kini belum ada wilayah ibu kota yang mengalami kekeringan meski musim kemarau mulai berlangsung. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut kondisi ketersediaan air di Jakarta masih dalam kategori aman.
Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif apabila musim kemarau berlangsung lebih lama dan berdampak terhadap pasokan air bersih. Pemerintah daerah juga akan menggelar rapat khusus untuk mematangkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan serta bencana lain yang berkaitan dengan musim kemarau.
Selain memperkuat mitigasi, Pemprov DKI memanfaatkan periode kemarau untuk mempercepat normalisasi sejumlah sungai, termasuk Ciliwung, Cakung Lama, dan Krukut. Langkah tersebut dilakukan karena debit air yang lebih rendah dinilai mempermudah pelaksanaan pekerjaan di lapangan, terutama pada lokasi yang proses pembebasan lahannya telah selesai.












