Kembali ke berita

Artikel

PUASA MEMBINA KESABARAN DAN KETABAHAN

Admin

Bagikan

PUASA MEMBINA KESABARAN DAN KETABAHAN

Oleh : Dr. KH. Zakky Mubarak, MA (Musta’syar PBNU dan Pengasuh Program Tausyiah Malam Radio Silaturahim)

Rasilnews – Dikisahkan, ada seorang pria melakukan perjalanan panjang dan melelah¬kan, tujuan dari perjalanan itu tiada lain bermaksud untuk men-jumpai orang yang paling dicintainya yaitu Rasulullah Muhammad s.a.w. Setelah ia berjumpa dengan Nabi, dalam perasaan haru dan bahagia, sebagai wujud dari perasaan rindunya yang sangat mendalam, ia berkata pada Nabi: “Berikan wasiat kepadaku”, yang dengan wasiat atau nasihat itu aku akan memperoleh kesuksesan di dunia dan akhirat. Perkataan pria yang sangat mencintai Nabi itu, di luar dugaan, dijawab oleh Nabi s.a.w. dengan kalimat yang sangat singkat: “La taghdhab (kamu jangan marah, jangan bersikap emosinal)”. Pria itu tampak kurang puas, ia datang dari tempat yang jauh, hanya mendapat nasihat yang sangat singkat itu.

Pria itu selanjutnya memohon kembali kepada Nabi s.a.w., agar diberikan nasihat atau fatwa yang cukup banyak, sebagai bekalnya agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Nabi Muham¬mad s.a.w. selanjutnya tetap hanya menyampaikan fatwa berupa kalimat yang sangat singkat, sebagaimana disebutkan di atas. Hal ini terus berlangsung sampai tiga kali. (Hadis Shahih, Riwayat al-Bukhari: 5651). Setelah ia memperoleh jawaban yang sama dan disampaikan berkali-kali, barulah pria itu menyadari bahwa kalimat singkat yang disampaikan Nabi tadi, sebetulnya mengandung pelajaran yang sangat tinggi dan nasihat yang sangat agung.

Bila kita memperhatikan dialog di atas, dan mencermatinya secara teliti, maka kita jumpai bahwa sabda Nabi s.a.w. yang sangat singkat itu cukup menjadi bekal setiap orang, apabila ingin sukses pada masa kini ataupun pada masa yang akan datang. Kalimat yang simpel itu memiliki jangkauan makna yang luas dan mendalam. Kalimat seperti itu diistilahkan para ahli dengan sebutan “Jawami’ul Kalim”. Salah satu kelebihan yang dimiliki Nabi Muhammad s.a.w. dan tidak dimiliki oleh Nabi-nabi lain atau manusia lainnya. Beliau berbicara amat singkat, namun jangkauan maknanya luas dan mendalam serta kalimatnya sangat menarik.

Kita bisa memperhatikan lebih jauh dari nasihat Nabi s.a.w. di atas, bahwa segala sesuatu tidak mungkin dapat diselesaikan dengan marah atau bersikap emosional. Bayangkan, pekerjaan apa yang bisa dilakukan dengan amarah?, pasti tidak ada. Segala aktifitas dan kegiatan seperti ibadah, muamalah, pekerjaan kantor, kegiatan bisnis, kegiatan ilmiah semuanya akan gagal apabila dikerjakan dengan kemarahan, bahkan bisa rusak secara total. Sukses atau gagalnya usaha seseorang tergantung pada kemampuan dari orang itu untuk mengendalikan emosi atau nafsunya. Bila ia mampu mengenda¬likan nafsu dan emosinya, maka sukses telah berada di tangannya. Sebaliknya bila ia tidak dapat mengendalikan nafsunya, maka kegagalan telah membelenggu dirinya.

Apabila manusia dapat mengendalikan nafsu dan emosinya, ia pasti menjadi manusia yang memiliki ketabahan, kesabaran dan ketenangan. Dengan sikap yang terpuji itu ia akan meraih sukses dan menggapai kebahagiaan dalam segala kehidupan. Kesuksesan demi kesuksesan yang kita raih, semuanya tanpa kecuali, harus ditempuh dengan ketabahan dan kesabaran. Hanya untuk mem¬peroleh ijazah SD saja, kita harus berjuang dengan bersungguh-sungguh selama enam tahun. Kita harus pulang pergi ke sekolah setiap hari, mengikuti ulangan dan ujian. Ijazah SD pun tidak mungkin kita raih bila tidak ditempuh dengan kesabaran dan ketabahan. Demikian juga ijazah SMP, SMA dan seterusnya.

Sikap tabah, sabar, dan ketenangan merupakan sikap yang sangat terpuji. Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan suatu hadis, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda kepada salah seorang sahabatnya (bernama al-Asyajji r.a.): “Sesungguhnya pada dirimu, terdapat dua sifat yang terpuji, yang keduanya dicintai oleh Allah s.w.t. yaitu (1) Sikap penyantun dan (2) Kesabaran dan ketenangan”. (Hadis Shahih, Riwayat al-Bukhari: 4020 dan Muslim: 24. teks hadis riwayat Muslim). Dua sifat tersebut, merupakan perhiasan yang sangat indah, yang apabila orang memilikinya, ia telah meniti jalan kesuksesan lahir dan batin, di dunia maupun di akhirat. Dengan kesabaran, manusia akan memperoleh segala yang dicita-cita¬kannya, dan dengan ketenangan ia akan dapat menyelesaikan segala masalahnya dengan baik. Dengan demikian orang itu akan memperoleh way out dari segala tantangan dan kesulitan yang merintanginya. Ibadah puasa sangat berperan dalam membentuk manusia muslim agar menghiasi dirinya dengan sikap penyantun, sabar, tabah dan tenang.

Artikel

Halaman 1 dari 4 · maks. 40 artikel

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

12 Agustus 2025

Anas Al-Sharif, Suara Gaza yang Telah Dibungkam Israel

Selasa, 18 Shafar 1447 H/ 12 Agustus 2025Oleh: Ratna Puspita, Dosen Universitas Pembangunan Jaya “Jangan lupakan Gaza… Dan jangan lupakan…

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

20 Mei 2025

Hari Kebangkitan Nasional: Ketika Sejarah Islam Dihapus dari Ingatan Bangsa

Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia rutin memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Pemerintah, lembaga pendidikan, instansi negara, hingga media massa seolah…

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

19 Mei 2025

Kunjungan Trump ke Timur Tengah dan Harapan Baru Dunia

Senin, 21 Dzulqaidah 1446 H/ 19 Mei 2025Oleh: Imam Shamsi Ali, Presiden Nusantara Foundation Dalam beberapa hari ini mata dunia…

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

17 Mei 2025

Syafril Lubis: “Jadikan Sehat Sebagai Ladang Ibadah, Sakit Pun Bisa Jadi Pahala”

Cibubur, Rasilnews – Usai kegiatan Senam Terapi Sehat Ling Tien Kung yang digelar Sabtu pagi (17/5) di halaman parkir SD…

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

15 April 2025

Kita Butuh Suara Positif di Tengah Riuhnya Dunia Digital

Oleh : Syafril Lubis Setiap hari, kita disuguhi banjir informasi dari berbagai arah. Dari kanan, kiri, depan, belakang—semuanya menyodorkan berita,…

Hormati dan Hargai Guru

25 November 2024

Hormati dan Hargai Guru

PERINGATAN Hari Guru sepertinya harus menyoroti perlunya mengatasi tantangan sistemis yang dihadapi guru dan membangun dialog yang lebih inklusif tentang…

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

21 November 2024

Retorika Kosong Pemimpin Dunia Untuk Palestina

LEBIH dari sepekan, setelah para pemimpin Arab dan muslim berkumpul di Riyadh, Arab Saudi, dalam rangka KTT Liga Arab-OKI terkait…

Orang-Orang Mulia

13 November 2024

Orang-Orang Mulia

Hikmah Republika, Oleh: Aunur Rofiq IBNU al-Arabi mengatakan bahwa dia mendengar kabar kalau Sufyan Tsauri menyatakan, “Ada lima macam manusia…

Birokrasi Maling

7 November 2024

Birokrasi Maling

Oleh: Ade Alawi, Dewan Redaksi Media Group MEMENANGI peperangan, perang apa pun, termasuk perang melawan judol alias judi online, memerlukan…

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

6 November 2024

Dapatkah Indonesia Stop Berutang?

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali,” begitulah gambaran perjalanan utang negara sejak merdeka yang naik terus tak pernah bisa turun.

Siaran langsung: 720 AM · Radio Silaturahim